Tepian Hati Fin : Akhir dari Sebuah Awal

%db%b1%db%b1-%d9%87-%d8%b4-1

Cinta sejati adalah cinta yang memberi sayap sayap pada pasangannya

Sesosok orang yang tengah memandangi pantulan wajahnya di cermin kamar mandi, wajahnya yang terlihat begitu kacau dan tak terawat, sementara dia memandang kosong bayangan di cermin itu, tak ada senyuman, tak ada kesedihan di wajahnya hanya ada pandangan polos, pandangan yang memiliki sejuta arti di dalamnya. Sebuah buku diary tergeletak di sisi nya.. sebuah diary yang terlihat begitu kusam, diary yang mengandung berjuta cerita, berjuta kenangan tergurat di dalamnya.

Ada kata yang tak terucap dari bibir lelaki itu, bibir yang telah begitu kering, tubuhnya yang berisi terlihat begitu kosong, kakinya seolah lelah menopang tubuhnya yang telah lemah, entah berapa lama lelaki ini tengah menyiksa dirinya, duduk tertunduk diatas kloset, dia menyentuh bekas luka di dadanya. Sebuah bekas jahitan, sebuah jahitan yang menyelamatkan hidupnya selama ini. Sebuah siksaan yang harus dijalaninya sepanjang hidupnya, rasa bersalah yang tak kunjung padam..

Sebuah rasa bersalah yang mencabut seluruh sayap yang ada di tubuhnya dulu, siksaan yang membawanya termenung tepat di tepian hati.

================================================

Vina tersenyum kearah Ryan, dia mengangguk sementara Ryan memandang dengan tatapan penuh rasa terima kasih, Vina hanya tersenyum kecil sebelum kembali berbicara dengan Derrick yang berdiri di belakang Vina bersama seorang perawat yang merawat Derrick.

Vonis pengadilan yang menjatuhkan sangsi rehabilitasi untuk Vina selama 8 bulan tampaknya dapat diterima oleh keduanya, terlebih tidak ada larangan untuk Vina mendapat kunjungan dari siapapun dan mungkin saja dengan sedikit birokrasi, akan lebih mudah untuk Vina dapat keluar lebih cepat dari pusat rehabilitasi itu.

Derrick memandang Ryan dan meminta Ryan untuk pergi, dia menunjuk Jennifer yang beranjak keluar dari ruang gedung pengadilan, Ryan mengangguk berjalan keluar menuju teman-temannya yang langsung menyalami dan memeluknya.

“ Rey udah loe beliin kan ? “ tanya Ryan cepat sambil menegadahkan tangannya pada Rey

Rey tersenyum, mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya dan memberikannya pada Ryan..

“ Loe yakin ? “ tanya Rey dengan nada bercanda,. Ryan tertawa dan mengangguk meninggalkan ruangan pengadilan itu meninggalkan teman-temannya di lobi pengadilan.

“ Ry.. “ panggil Vic lagi..

Ryan berhenti memandang Vic yang melemparkan sebuah kunci motor untuk Ryan, kunci motor lamanya yang terparkir di halaman depan pengadilan itu.

Ryan tertawa.. “ Thanks Vic.. “ ucap Ryan dan langsung melompat ke motornya. Sementara yang lain mengikuti Ryan berdiri di depan lobi pengadilan itu, saat Karen berjalan mendekat.

“ Jack.. Jennifer pergi nih.. mobilnya gimana ya ? “ Karen menyela sambil mengeluarkan kunci mobil Jennifer dari tasnya.

“ Waduh.. “ kata Jack, “ Siapa yang mau anterin mobil nih.. “ tanya Jack dengan cepat berusaha melimpahkan pekerjaan itu pada yang lain,.

“ Ich.. dia selalu gitu.. “ Angel kesal karena tahu kebiasaan Jack yang pemalas. “ Sory ci.. “

“ Yawda sini gw aja yang anterin.. “ Edison menawarkan diri dan mengambil kunci itu dari tangan Karen

“ Thanks ya Lee, jadi repotin hmmm enaknya dianterin kemana ya ? “

“ Ya paling juga dianterin ke kost Ryan.. kemana lagi ? “ ucap Edison menebak.

“ Iya udah, apa gw aja yang anterin ? “ tanya Rey menyela ikut menawarkan bantuan,

“ Udah gpp, ga usah gw aja.. yang gpp kan aku anterin mobil Jenny dulu ke Ryan ? “

“ Yawda, aku bawa mobil kamu ya. Emank kamu aja yang ga mau anterin aku ke Lala kan.. “ canda Jessica, padahal dari semalam mereka sudah sepakat, kalau Edison tidak perlu menemani jam perawatan Jessica dan Lala yang bisa memakan waktu berjam-jam lamanya.

“ Kan kemarin kamu bilang, mau pergi sama Mell aja.. “ Edison bertanya bingung, sementara di belakang Vic tampak berbicara dengan Mellisa sambil bercanda, gurat tawa terpancar dari keduanya.

“ Hahaha, bercanda sayang, Mell ga jadi ikut, kecapean katanya, udah aku sendiri aja gapapa, tapi kamu langsung pulang ya.. “ ingat Jessica lagi.

“ Iya mau kemana lagi.. dasar “ Edison mengeluarkan kunci mobilnya dari kantung celananya dan memberikannya pada Jessica, “ Kamu hati-hati ya.. nanti aku jemput dech.. “

“ Udah ga usah, nanti aku ke kamu, Mell kamu ikut Edi aja ya.. kan ke kost Ryan lewat apotik tuh.. “ Tanya Jessica

“ Iya, aku ikut ya boleh kan ? “ tanya Mell pada Edison

“ Ya boleh sih, Vic kemana ? “ tanya Edison agar tidak ada kesalahpahaman..

“ Iya Di, nitip ya.. gw harus pergi nih.. ditelepon bokap soalnya gara-gara banyak malsuin surat-surat.. “ Ucap Vic cemas, tapi masih sambil tertawa..

“ Yawda kamu pergi sekarang, nanti Papa marah lagi, bener ga mau aku temenin ? “ tanya Mellisa lagi

“ Udah gpp, kamu ke Edi aja, maaf ya aku ga bisa jemput kamu kayanya hari ini.. “ jawab Vic lagi,

“ Iya gpp, kan aku sama cici nanti pulangnya.. “ Ucap Mellisa sambil memeluk Jessica manja,

“ Ich.. sana pulang naik taksi.. “ Jessica menggoda Mellisa yang manja..

05-4

“ Jahat.. cici jahatt huaaaa “ Mellisa berpura-pura menangis, sementara Edison hanya tertawa kecil melihat Jessica yang bercanda lepas dengan adiknya,

“ Yawda kamu jalan dulu sana .. “ Ucap Jessica sambil menyuruh Mellisa mengikuti Edison yang sudah masuk ke dalam mobil Jennifer.

“ Aku pergi dulu ya ci “ ucap Mellisa, mencium Jessica sebelum ikut masuk ke dalam mobil Jennifer dan duduk di sebelah Edison yang berada bangku pengemudi.

Edison melambaikan tangan pada Jessica yang kemudian masuk ke dalam mobil Edison, sementara Vic, Rey dan Cheryl sudah pergi lebih dahulu. Jessica melihat jam tangannya melihat waktu yang hampir menunjukkan pukul setengah 4 sore dia sudah terlambat setengah jam dari janjinya.

Jessica memacu cepat mobil Edison, tanpa menyadari bahwa hari itu akan menjadi hari terakhirnya melihat senyuman di wajah Edison Lee.

Mobil Jennifer yang dikendarai oleh Edison berhenti di depan sebuah lampu merah di depan flyover.. waktu yang tertera masih menunjukan lebih dari satu menit, saat dia melirik Mellisa yang kesulitan memasangkan sabuk pengaman di kursinya.

“ Ah payah nich… masa gitu aja ga bisa “ canda Edison..

“ Ich jahat.. sini pakein donk huhuhuuu… “ Mellisa merajuk manja, persis dengan Jessica, kemanjaan yang membuatnya jatuh cinta pada Jessica

Dia sangat menyukai saat Jessica tersenyum manja, merayunya manja, menciumnya manja, meski terkadang sosok Jessica berubah menjadi sosok yang tegas dan membuat Edison tak dapat melakukan apapun kecuali menuruti apa kemauan kekasihnya itu.

Edison membuka sabuk pengamannya, sementara membantu Mellisa memakai sabuk pengaman sambil merajuk manja.

“ Tuh bisa kan.. “ , “ Gampang begini juga.. bodoh dasar.. “ Edison menepuk-nepuk kepala Mellisa yang langsung meleletkan lidahnya..

“ Gitu doank, aku juga bisa dikirain ada cara lain buat masangnya.. “ balas Mellisa tak mau kalah.

“ Ah alesan aja.. dari jaman dulu sampai 100 tahun lagi juga tetep begitu cara masangnya “ Edison balas mencibir

Sementara mobil dibelakang mulai membunyikan klaksonnya karena lampu sudah menunjukan warna hijau, dan mobil-mobil di depan mobilnya sudah berjalan lebih dulu, tanpa pikir panjang Edison langsung menjalankan mobilnya menuju jembatan flyover di depannya.

Dia memacu kendaraan itu kencang, saat menyadari ada yang tidak beres dengan mobil itu, dia menekan pedal rem mobil berkali-kali namun justru membuat mobil itu berjalan lolos..

Edison berusaha tetap tenang, berusaha menghindari mobil-mobil yang berjalan cepat di kanan-kirinya, namun ada sebuah mobil yang sengaja mengikutinya dan dengan sengaja.. Braaammmmm !!! mobil itu menabrak kencang mobil Edison, mobil itu terbalik, sementara Mellisa kehilangan kesadaran di dalam mobil, tubuh Edison terpental jauh ke jalanan

##

Jessica berlari sepanjang lorong rumah sakit, ia menangis sekuat yang dia bisa, sementara kedua orangtuanya ikut berlari di belakangnya.. kepanikan terpancar dari wajah keduanya mendengar putri bungsu mereka mengalami kecelakaan..

Vic berdiri di depan ruang operasi bersama Jack dan Angel, wajah mereka terlihat pucat dan cemas.

“ Om.. Tante.. “ Vic menyapa kedua orangtua Mellisa.

“ Gimana Vic ? Gimana keadaan Mellisa “ tanya mama Mellisa dengan penuh kecemasan.

Vic berusaha setenang mungkin menjawab. “ Saat ini Mellisa sedang dioperasi tante, maaf karena ini operasi darurat akhirnya saya yang menandatangani surat izin operasi.. “ terang Vic nada suaranya tidak dapat menyembunyikan kecemasan

“ Kalau kita liat kondisi fisik secara kasat mata, seharusnya kondisi Mellisa baik-baik saja, mungkin ada pendarahan di dalam tapi minor dan dokter-dokter disini pasti mengusahakan yang terbaik om tante.. jangan cemas.. “

“ Gapapa soal itu semua, kami yakin kamu lebih banyak tahu daripada kami masalah teknis seperti itu. “ Papa Mellisa berusaha setenang mungkin, meski raut wajahnya mengatakan sebaliknya.

“ Edison,..Vic.. Edi gimana ?? “ tanya Jessica tergesa.

Vic diam tak menjawab

“ Jawab Vic… Jawab… “ Jessica memaksa Vic menjawab sambil mengucang-guncangkan tubuh Vic dengan kedua tangannya

“ Gw ga berani ngmonk Jess.. sory.. “ Jawab Vic setelah diam beberapa saat

Sementara Jessica diam tak percaya, seorang dokter hampir seusia Papanya keluar dari ruang operasi. Dia menyalami kedua orangtua Jessica.

“ Ini Papa saya om, tante.. “ Vic memperkenalkan

“ Maaf.. kita pertama kali bertemu dalam keadaan seperti ini, tapi saya bisa memastikan kondisi Mellisa baik-baik saja.. dia dalam keadaan stabil walau belum sadarkan diri.. tapi soal Edison.. “ Papa Vic terdiam sesaat..

“ Edison kenapa Om.. kenapa ?? “ tanya Jessica panic, melihat raut wajah dokter itu

“ Dia dalam kondisi darurat, tulang rusuknya menusuk ke jantung, selain itu terjadi memar di jantungnya dan posisi lukanya berada di belakang, kita sudah berusaha menjahitnya.. tapi itu hanya untuk mempertahankan hidupnya, setiap saat pembengkakan di jantungnya bisa menyebabkan terjadinya bleeding lanjutan.. “ , “ Maaf saya harus mengatakan yang sejujurnya pada kalian. “

“ Tolong Om.. Tolong… Tolong dia.. “ Jessica menangis sambil memohon, sementara kedua orangtuanya berusaha menenangkan Jessica yang menangis meraung.

“ Iya.. saya janji kami pasti melakukan yang terbaik, dan pasti akan terus mencari cara yang terbaik yang mungkin bisa dilakukan untuk mengobatinya.. “ Papa Vic melanjutkan.

Jack terdiam, dia mengenggam erat handphonenya.. dia terlihat emosional meski tak tahu harus melampiaskan kemarahannya itu pada siapa.

“ Saat ini operasinya masih berjalan, semoga setelah operasi ini berjalan dengan sukses kita bisa melakukan evaluasi tentang apa yang bisa kita lakukan selanjutnya.. “ katanya berusaha menenangkan Jessica yang terus menangis,.

“ Vic bisa keruangan Papa sebentar, ada yang Papa mau omongin.. “ , “ Maaf saya tinggal dulu ya.. Mellisa sudah direcovery room, mungkin sekitar setengah jam lagi kita pindahkan ke ruangan rawat.. kita pantau dulu kondisinya “ Papa Vic tersenyum sambil menyalami kedua orangtua Mellisa

“ Terima kasih dokter.. “ Ucap Mama Mellisa terlonjak senang yang terpancar dari wajahnya, dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mendengar kondisi anaknya baik-baik saja, meski juga tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran melihat kondisi putri sulungnya yang masih menangis hebat.

Dia memeluk Jessica, “ Tenang aja sayang, semua pasti baik-baik saja. Ya sayang.. “

“ Semoga mah.. semoga.. “ Jawab Jessica sesengukan..

14xdy

Jessica duduk di sebuah kursi di sebelah Edison, pengobatan yang dilakukan di Indonesia dianggap tidak memberikan hasil terbaik untuk Edison oleh kedua orangtuanya, Jessica mengenggam erat tangan Edison, luka-luka fisik di tubuhnya sudah terobati dengan baik, tapi tidak dengan kondisi jantungnya yang masih berada dalam kondisi yang rumit, tiap saat bisa terjadi pendarahan di jantungnya.

Hari ini kedua orangtua Edison berniat memindahkannya ke sebuah rumah sakit di Singapura, Jessica terdiam duduk di samping orang yang disayanginya itu, Selang-selang dan kabel-kabel di sekujur tubuhnya yang terhubung dengan sebuah layar dengan garis-garis yang bergerak menunjukan seberapa besar tingkat denyut jantung Edison yang lemah, memang detak jantungnya sengaja dibuat agak lemah mengurangi kemungkinan terjadinya pendarahan dari jantungnya yang tidak bisa dijahit sempurna.

Hanya ada dua cara untuk mempertahankan hidup Edison, yang pertama adalah berharap pada keajaiban dimana memar itu dapat segera sembuh sehingga bisa dilakukan operasi untuk rekonstruksi jantungnya, yang kedua mengganti jantungnya dengan jantung yang baru. Jessica terdiam..dia tahu ke dua pilihan itu sama mustahilnya tidak mudah untuk mendapatkan jantung pengganti, tak mudah juga mengharapkan keajaiban untuk memulihkan jantung yang memar itu. Sebelum terjadi bleeding lanjutan yang akan sangat membahayakan jiwa Edison.Air matanya kembali mengalir, menyadari betapa tidak berdaya dirinya menghadapi situasi ini.

Dia tersenyum, berusaha tersenyum karena tahu.. Edison pasti tak ingin dia menangis, detak jantungnya menunjukan itu.. jantungnya berdegup kencang tiap saat ada seseorang yang menangis di sampingnya, Jessica tak mau membahayakan jiwa Edison dengan menangis disampingnya, dia tak boleh menangis, tidak boleh.

“ Kamu belum pulang Jessica ? “ Mama Edison masuk ke dalam kamar dan memeluk Edison, dia terlihat jauh lebih tegar dalam 2 bulan ini, meski dia jarang bertemu anak sulungnya ini dalam beberapa tahun terakhir karena perceraiannya, tapi saat mendengar kecelakaan yang menimpa Edison saat itu, dia terus ada di samping Edison sampai hari ini, tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding 2 bulan lalu, tidak mudah untuk menemani seseorang dalam jangka waktu panjang di rumah sakit, nyaris setiap detik terjaga melirik kearah monitor detak jantung, terbangun dalam keterkejutan tiap mendengar sesuatu yang berbeda selalu ketakutan terjadi hal yang tidak diinginkan tiap detiknya.

Wajahnya terlihat tirus, sama dengan Jessica dengan mata yang berkantung, tubuh keduanya lelah.. terus berada disini dengan hanya mampu berdoa berharap pada sebuah keajaiban, namun keduanya sadar keajaiban tak akan terjadi selama mereka tidak melakukan sesuatu. Oleh karena itu saat ada kesempatan menunggu donor jantung untuk Edison di Singapura, kedua orangtua Edison dan Jessica langsung mengiyakan tawaran itu, ini jauh lebih baik dibanding pasrah hanya menunggu sebuah keajaiban.

“ Iya sebentar lagi aku pulang, aku nunggu Edi jalan aja Mah.. “ jawab Jessica, iya dirinya memang sudah dibiasakan untuk menyebut kedua orangtua Edison dengan sebutan Mama dan Papa.

“ Yawda gapapa yang penting kamu jangan kecapean ya, Papa lagi menyelesaikan surat-suratnya mungkin sejam lagi sudah bisa jalan, pesawatnya kan jam 11 nanti.. kamu harus pulang dan istirahat, inget loh istirahat ya sayang.. lusa kan kamu pergi ke singapure menyusul sama yang lain kan.. kamu harus jaga kondisi kamu “

Jessica tersenyum mengangguk.

Mama Edison memeluk Jessica erat-erat, keduanya duduk berdampingan sambil banyak bercerita pada Edison tentang hari ini, seperti yang biasa mereka lakukan tiap harinya, sementara sesaat kemudian Alice yang tertidur di sofa terbangun, melihat kearah layar monitor memastikan semua baik-baik saja, sebelum menyentuh dadanya dengan tangannya saat merasa tenang melihat kondisi Edison yang baik-baik saja dan kembali tertidur, ya sama seperti yang dilakukan oleh Jessica dan Mama Edison, selalu tersadar dan mengigau untuk memastikan semua baik-baik saja.

Keduanya tersenyum melihat apa yang dilakukan Alice yang sekarang sudah kembali terlelap dalam tidurnya.
Papa Edison masuk bersama beberapa perawat dan seorang suster, sementara Mama Edison membangunkan Alice, untuk bersiap pergi, Jessica terpaku menatap para suster dan dokter yang bersiap memindahkan tubuh Edison, Papa Edison terlihat lebih tegar meski tidak mudah untuknya membagi waktu untuk mengurus usahanya sekaligus mengawasi keadaan anaknya hampir selama 24jam tiap harinya.

“ Kamu pulang dulu ya.. “ ucap Mama Edison dan Papa Edison, sementara Alice sudah naik ke atas mobil mobil dan kembali tertidur sambil memeluk boneka teddy kecil.

Jessica mengangguk, dia naik ke atas mobil ambulance itu sesaat, dia menatap wajah Edison dan tersenyum, dia yakin,.. dia yakin akan ada keajaiban itu.dia membisik ketelinga Edison dan menciumnya, sebelum kembali turun,.

“ Udah sayang ? “ tanya mama Edison

Jessica mengangguk tersenyum,

“ Aku yakin Mah, Pah.. Edi akan baik-baik saja.. aku yakin.. “ dia memeluk ke dua orangtua Edison itu

“ Makasih ya sayang, sekarang kamu pulang.. ya ? “ , “ Kita berangkat dulu, kamu berdoa aja semoga semuanya baik-baik saja.. “ ya berdoa karena bahkan untuk memindahkan tubuh Edison ke luar negri ini pun memiliki resiko yang fatal, namun dengan berbagai pertimbangan mereka merasa pilihan itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan usaha apapun, semua sudah disiapkan jauh-jauh hari dan berharap semua bisa berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

15xdy

Jessica berdiri di depan pintu rumahnya, dia terdiam sesaat berusaha mengatur wajahnya agar tidak terus murung, dia berusaha tersenyum, sekali dua kali sambil melihat pantulan wajahnya di jendela rumahnya. Dia terus berusaha hingga menemukan warna wajah yang tepat sebelum kemudian masuk, berlari masuk ke arah ruang tamu dan langsung memeluk Mama Papanya..

Dia tertawa memeluknya keduanya dengan erat, mencium dan bercanda dengan seluruh kemanjaa-nya, tangannya tak pernah lepas dari tangan keduanya, dia berulang kali mengucapkan terima kasih pada kedua orangtuanya, mungkin tak ada satu orangpun yang menyadari raut wajah Jessica yang berbeda, tak ada yang menyadari, seluruh kata dan gerak tubuhnya seolah mengatakan selamat tinggal.

Sebelum ketiganya larut dalam canda tawa, ketiganya merasakan sebuah kehangatan yang jarang mereka rasakan sebagai sebuah keluarga, kesibukan masing-masing sering menjadi sebuah kambing hitam dari sangat kurangnya komunikasi diantara mereka, sebelum Jessica mengakhiri pembicaraan malam itu dengan sebuah ciuman di kening ke dua orangtuanya, dia naik ke atas menuju kamar saudarinya.

Tak menyalakan lampu, hanya sebuah lampu tidur yang menyala di pojok ruangan. Dia memandang wajah kembarannya itu, dia menciumnya dan berbicara panjang lebar tanpa suara, perlahan dia menangis meski tetap menahan agar tak terdengar oleh lelap tidur saudarinya itu, dia berusaha tersenyum berbicara dalam sunyi. Memandang wajah lelah saudarinya itu sebelum kemudian keluar dari kamar itu menuju kamarnya, dia menunggu beberapa jam hingga semua yang ada di rumah itu terlelap, dia mengeluarkan sebuah map berisi catatan medis miliknya, ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Edison, setidaknya dia mempercayai kalau ini adalah satu-satunya jalan yang bisa dilakukan olehnya.

##

Hanya ada kesunyiaan disana.semua berwarna putih dengan kabut pekat hampir di seluruh dunia itu, warna kabut yang seolah menjadi sebuah warna yang berbeda disini, sebuah dunia penuh dengan kesendirian, tak ada cahaya, tak ada matahari, tak ada bulan, tak ada juga gelap.. Edison berlari sendirian, dia telah kehilangan untuk menghitung waktu, dia tak tahu berapa lama dia berada disini, 1 hari, 1 bulan, 1 tahun. Dia tak dapat menjawabnya.. seolah hilang dalam waktu.

Edison berlari, bukan sekedar berlari dalam keputusasaan, dia tahu dia sedang mengejar seseorang, mengejar sosok Jessica yang kembali menghilang di balik kabut, dia terus berlari mencari.. dan memanggil nama Jessica berulang-ulang, tanda kepanikan mulai terlintas dalam wajahnya, dia nyaris lelah mencari di dalam kabut yang bahkan nyaris membuatnya tak mampu melihat apapun.

“ Jesss… Jessica… “ Panggil Edison berteriak kencang..entah berapa lama dia telah berlari.. nyaris kehilangan harapan..dan setiap dia hendak menyerah, saat itu juga sosok Jessica kembali terlintas di depannya.

Dengan sisa kekuatan yang ada dia kembali berlari, berusaha mengejar Jessica, hanya untuk melihat guratan senyuman di wajah Jessica yang terus memancar dari wajah cantiknya.

Namun akhirnya kekuatan itu pun sirna, tubuh itu melemah terjatuh dengan nafas yang terengah dan penuh ketidakberdayaan. Perlahan dirinya berjalan dengan sisa kekuatannya yang ada, sampai dia menemukan sebuah kursi panjang, dia duduk diatasnya berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal.

“ Lee… “ suara itu memanggilnya, sebuah senyuman yang kini begitu dekat dalam dekapannya.

Suara yang membuat Edison terlompat berdiri, dia berputar kearah suara itu, memandang senyuman yang terkembang dihadapannya.

Sosok itu berjalan ke dekatnya sebelum kemudian duduk tepat di sebelahnya.

“ Jess.. “ Edison tampak berusaha memeluk sosok itu.

Sosok itu tersenyum membalas pelukan Edison.. memeluknya begitu erat.

“ Jangan pergi lagi ya.. aku takut aku sendirian disini.. “ pinta Edison lirih nyaris menumpahkan air matanya.

“ Ga koq, ga akan pernah lagi.. “ Ia mengecup kening Edison.

Mereka berpelukan dalam diam, tak ada suara, hanya keheningan.. tak ada bunyi tiupan angin bahkan tak ada juga suara derik pepohonan, dunia itu begitu sunyi, hanya ada kesendirian dalam putih senyap, Edison telah merasakannya selama ini, betapa menakutkannya sebuah kesendirian, keberadaan Jessica benar-benar memberikannya sebuah harapan, dia memeluk erat gadis yang dicintainya itu, gadis yang berjanji untuk menemaninya disini.

45

Dan dia tahu, hanya sosok ini yang mampu memberikannya ketenangan sekarang.

“ Pasti semuanya berat buat kamu.. “ Jessica mengucapkannya tersenyum lebar pada Edison meski air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya.

Edison mengurai air mata di mata Jessica, sebelum mengangguk..

“ Sekarang ga lagi.. ada kamu disini.. “ jawab Edison memaksakan diri untuk tersenyum

“ Maafin aku ya.. maafin aku.. “ Pinta Jessica lagi

Edison terdiam, memeluk gadis itu “ Kamu minta maaf kenapa sayang ? “ , “ Ada kamu disini, buat aku itu semua sudah lebih cukup.. “

Jessica menggelengkan kepalanya, seolah ingin mengucapkan sesuatu, namun ada sesuatu yang menganjal tenggorokannya

Sebelum keduanya kembali larut dalam keheningan.

“ Kamu bisa disini ? “ tanya Edison lagi

Jessica hanya membalasnya dengan tersenyum, “ Karena aku akan ada untuk kamu.. selamanya.. “ jawabnya mantab

“ Tolong jawab aku, harusnya aku kan.. “

“ Kamu kenapa ?? “

“ Harusnya aku , mungkin aku sudah mati.. “ Jawab Edison tergagap.

Dia hanya menganguk menjawab pertanyaan Edison itu.

“ Kamu belum meninggal koq, makanya aku ada disini.. untuk kamu.. “ Jawabnya

“ Gimana kamu bisa disini, kamu ga melakukan hal bodoh kan ? “

Dia menggeleng kali ini menjawab pertanyaan itu.

“ Tenang ya.. sayang.. semua akan baik-baik saja.. “

Edison tertawa..

“ Hmm jangan-jangan kita jadi zombie di alam sana.. ga jelek juga sih.. seengaknya ada kamu disini nemenin aku.. “ bisik Edison masih berusaha untuk melucu.

Jessica tak menjawab, ia tak mampu menjawab, ia hanya berusaha untuk tidak menangis, berusaha untuk tidak menangis di depan Edison, ada yang disembunyikannya dari lelaki itu, dia tak mau Edison tahu, tahu apa yang dia lakukan.

“ Aku ga akan biarin kamu, selamanya disini.. aku janji.. “ ucapnya setengah berbisik

“ Kamu pasti pulang.. “ Lanjutnya

“ Pulang ?? hmmm.. tapi disini juga enak koq.. “ jawab Edison, dia tahu itu kebohongan dan lagi untuk pulang kembali ke dunia nyata akan sulit, ditambah lagi ada sesuatu yang mengganjal, dia merasa Jessica menyembunyikan sesuatu darinya.

“ Kamu kenapa sayang ? “ tanya Edison

Jessica menggelengkan kepalanya, tak menjawab

“ Aku harus pergi.. “ ucapnya setengah terbata..

“ Pergi ?? kamu bilang kamu ga akan ninggalin aku.. “ Edison menarik tangan Jessica, tubuh gadis itu masuk dalam dekapannya.

Dia mendekapnya erat-erat seolah tak mau ditinggalkan..

“ Jangan tinggalin aku.. “
“ Jangan tinggalin aku.. aku mohon.. “
“ Jangan tinggalin aku, aku takut disini sendirian.. “

Jessica menghapus air mata di mata Edison, menghiraukan air matanya yang terus mengalir, dia menatap mata Edison begitu dalam, penuh kehangatan, penuh dengan seluruh rasa sayangnya..

“ Aku ga akan ninggalin kamu sayang.. aku sudah janji kan.. “ Ia menangis meski memaksakan diri untuk tersenyum

“ Iya kamu dah janji, kamu dah janji… “ Edison masih tak mau melepaskan Jessica, dia tahu ada yang tidak beres dengan semua ini.

Jessica menyentuhkan tangannya pada Edison..

Menyentuh tepat di dadanya.. sementara tangannya yang satu lagi menyentuh dadanya sendiri, dia tersenyum.

“ Aku akan selalu bersama kamu sayang.. aku akan selalu ada disini.. “ Jessica menunjuk dada Edison, sebelum menciumnya.

“ Kamu ?? “ tanya Edison ragu

Jessica mengangguk.

“ Aku akan ada untuk kamu, selamanya.. aku akan bahagia selama kamu bahagia.. sesederhana itu “ Jessica tersenyum dalam tangisnya, mencium bibir Edison begitu mesranya, mereka berciuman dengan penuh kemesraan meski berbalur air mata yang mengalir membasahi garis wajah keduanya.

38lv

“ Koko…. “ Alice melompat memeluk Edison erat-erat..

Edison yang perlahan siuman dari keadaan komanya. Dia memegang kepalanya sakit dalam kebingungan, terbangun di sebuah ruangan yang terasa begitu asing baginya, dia melihat Papa dan Mamanya, bersama Alice serta Jack di ruangan itu. Dia berusaha bangun dari tempat tidurnya,. Saat Mama nya melarang dia melakukan itu semua.

“ Pelan-pelan sayang.. “ Ucap Mamanya dengan tergesa, menahan dia bangun dari tempat tidurnya secara tiba-tiba.

Edison memegang kepalanya yang terasa berputar, sebelum menatap Mamanya..

“ Aku dimana Mom ?? “ tanya Edison lagi mengikuti aksen Alice memanggil Mamanya

“ Kamu di Mount Alvernia.. kamu koma sayang hampir 4 tahun.. Mama bersyukur kamu akhirnya siuman.. “ akhirnya orangtua itu tak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaan melihat anaknya yang akhirnya bangun dari komanya selama hampir 4 tahun ini.

“ Aku ? Koma ?? “ Edison berusaha mengingat semua kejadian.. dia mengingat bagaimana dia masuk ke dalam mobil bersama Mellisa di depan pengadilan hari itu, kecelakaan itu dan.. JESSICA !!

“ Jessica dimana Mom ?? “ tanya Edison cepat.

Tak ada seorangpun di ruangan itu yang menjawab.

“ Aku tanya sekali lagi.. Jessica kemana ?? “ tanya Edison kali ini dengan suara agak tinggi, dia tak bisa lagi bersabar, dia menatap wajah Alice yang tampak murung, demikian juga

Dia berusaha melompat dari ranjangnya saat menyadari tak ada seorangpun diruangan itu yang mau memberikannya jawaban, sebelum tertahan karena rasa sakit di dadanya yang begitu luar biasa, dia meraba dadanya menemukan sebuah jahitan yang menguncang semua kesadarannya saat ini, dia menjerit kencang.. sebelum kemudian berdiri sambil mencabut jarum infuse yang ada ada di tangannya.

Dia berusaha berjalan keluar, hanya Alice yang bereaksi mengenggam erat tangan Edison berusaha menahannya untuk tidak berjalan keluar.

“ Jangan ko.. jangan kemana-kemana.. “ pinta Alice memeluk lengan Edison, harusnya Edison saat ini masih merasa begitu lemah, namun entah kekuatan dari mana yang membuatnya bisa berjalan meski tangannya dipegangi oleh Alice, sesaat dia hendak membuka pintu itu.

Sosok Jessica berdiri di depan pintu, dia menatap Edison, tersenyum dalam derai air matanya.
Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Edison langsung mendekap tubuh itu, memeluknya.. memeluknya dengan begitu erat..

“ Jangan pergi.. aku mohon.. “ Dia mendekap membisik pada Jessica..

Gadis itu mengangguk, menangis bahagia melihat Edison yang berdiri memeluknya dengan erat sekarang.
“ Ga .. ga akan pernah pergi.. “ bisiknya

Edison memeluk erat Jessica, lebih erat lagi sementara Alice memandangi mereka dengan penuh derai air mata, dia tahu.. dia tahu orang yang dipeluk oleh Kakaknya itu bukan Jessica, tapi Mellisa..

Vic masuk dalam ruangan itu, dia tersenyum lirih menatap Edison yang tengah memeluk Mellisa erat-erat. Dia tersenyum pada Mellisa sesaat.

“ Lee.. kamu sayang sama aku ? “ tanya Mellisa sesaat kemudian

“ Iya sayang.. aku bener-bener sayang sama kamu.. “ ucap Edison terburu.

Mellisa tersenyum.. “ Please sayangin cici aku ya.. aku mohon.. “ Mellisa melanjutkan kata-katanya..

“ Cici ?? kamu Mellisa ?? Jessica kemana ?? “ Air mata Edison kembali mengalir deras, dia mendekap pundak Mellisa dengan kedua tangannya..dia mengucapkannya dengan nada keputus asaan..

“ Ci Jessica disini.. “ Mellisa menunjuk dada Edison, menunjuknya dengan berderai air mata..

Dada Edison terasa sakit seketika, jauh lebih sakit dari sesaat tadi, dadanya seolah ingin meledak, seluruh tubuhnya merinding, tak ada air mata lagi yang mengalir di matanya, hanya sebuah kekosongan, tubuhnya limbung sesaat sebelum Alice menopangnya dari belakang.

1454

Tangannya mengenggam erat dadanya.. meremasnya kencang.. dia menangis tanpa air mata.. air mata tak lagi menjadi jawaban semua jeritan lirihnya itu.

Nafasnya memburu,..

“ Ci Jessica disini, dia memberikan ini ke kamu.. dia memberikan semua cintanya untuk kamu.. kamu harus menjaga dia.. haruss…. “ Pinta Mellisa dengan bersungguh-sungguh.

Perlahan tubuh Edison melorot, dia hanya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, menutup wajah dengan kedua tangannya itu, terduduk di atas lantai rumah sakit yang dingin.

“ Aku mohon.. jangan sia-siain pengorbanan cici aku.. aku mohonn.. “ bisik Mellisa lagi.

Edison menggeleng, itu adalah sebuah jawaban yang ambigu.

“ Jangan melakukan hal yang bodoh, jangan sia-siain cici aku.. “ pinta Mellisa lagi

Edison masih menjawabnya dengan menggelengkan wajahnya.

“ Edi.. denger gw.. denger gw.. “ Vic menarik Edison, membantunya duduk di atas sofa dibantu dengan Mellisa dan Alice.

“ Ini data Jessica.. “ Vic memberikan sebuah map untuk Edison

Edison tak menghiraukannya tak mengambil map itu dari tangan Vic, Vic terdiam sesaat..

“ Jessica mengidap Anti Immuno Disease.. dalam kondisi dia, virus sekecil apapun bisa mengakibatkan kematian buat dia, dan dia untuk bisa bertahan sejauh ini, sampai saat itu adalah sebuah kemukjizatan buat dia.. “ Edison terdiam mendengar penjelasan Vic.

“ Ini adalah sebuah penyakit langka dan mungkin sebuah kelainan genetika, hampir seluruh organ tubuhnya rusak.. dan ajaibnya hanya satu yang berfungsi baik, berfungsi normal bahkan lebih, Jantungnya.. Jantungnya yang selama ini menopang hidupnya, menopang seluruh organ tubuhnya yang ga bisa berfungsi normal untuk tetap bekerja dengan baik.. mempertahankan nyawanya selama ini. “

“ Jantung yang sekarang ada di dada loe itu.. “

Edison mendekap mulut dan hidungnya dengan kedua tangan, dia terisak menyalakan dirinya selama ini, menyalakan semua kebodohannya.. kenapa ? kenapa dia bahkan tidak tahu tentang hal ini.. Tolol !!

“ Aku mohon Di.. aku mohon jaga cici aku.. “ Pinta Mellisa, duduk dilantai di sebelah Edison mengenggam tangan Edison.

Edison menyentuh dadanya.. merasakan degupan jantungnya.. jantung Jessica yang berdegup seirama. Memberikan sebuah ketenangan untuknya. Sesaat dia melihat sosok Jessica yang duduk di depannya.. tersenyum dan mengangguk. Dia tahu itu khayalannya..

Jessica membisik kemudian.. “ aku akan bahagia, selama kamu bahagia.. sesederhana itu.. “ Dia tersenyum sebelum bayangan itu perlahan memudar.

Edison terisak, andai dia dapat mengeluarkan air mata, mungkin semuanya akan lebih mudah untuknya.

Andai dia dapat menangis sekarang.

Perlahan dia mengangguk.

“ Aku bahagia.. sesederhana itu.. “ dia membisik, dan akhirnya air mata itu dapat mengalir dari pelupuk matanya.

##

Jack menepuk pundak Edison yang duduk termenung di depan sebuah nisan makam.

Sebuah nisan besar dengan sebuah foto dan bertuliskan Jessica Irina, Edison tidak menangis dia berusaha tersenyum sebaik mungkin, berusaha tersenyum sebisa yang dia lakukan, ia ingat janjinya untuk tidak lagi menangis.

Menangis mungkin membuat semuanya menjadi lebih berat untuk Jessica, dan Edison tidak menginginkan itu, untuknya kebahagiaan Jessica jauh lebih penting sekarang, setidaknya dia ingin bisa tersenyum secepat mungkin, dia percaya apa yang dikatakan oleh Jessica,

‘ aku bahagia, selama kamu bahagia.. sesederhana itu ‘

Edi melirik Alice, Jack dan Angel yang menemaninya, ia tetap tak bisa membohongi hatinya sendiri, semuanya terasa begitu berat untuknya, senyum di wajahnya adalah senyuman keterpaksaan, sementara Alice masih berdoa di depan makam Jessica, Edi berjalan keluar dari makam itu, memandangi deretan nisan yang ada disana, makam Jessica memang berbeda, terlihat mewah dengan granit dan sebagian yang menyerupai rumah, sementara letaknya berada di posisi teratas bukit pemakaman itu.

Matanya seolah ingin berkata, bahwa mungkin tempat ini akan menjadi tempat favoritenya.. mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuknya kembali hidup seperti dulu, tapi dengan jantung ini dia yakin dia akan bisa melewati semua ini.

“ Udah ? “ tanya Jack pada Alice yang kemudian berdiri setelah menyelesaikan doanya.

Alice mengangguk lucu, 3 tahun ini membuat Alice terlihat begitu berbeda setelah dia duduk di bangku SMU kelas 3nya, cara berdandan dan caranya berkomunikasi, dia bukan lagi gadis yang takut dengan tinggi badannya yang jauh berbeda dibanding dengan anak seusianya dulu, justru tinggi badan dan kecantikannya menjelma menjadi sebuah senjata yang mematikan untuk para lelaki yang berjuang untuk mendapatkan cintanya.

Satu-satunya yang masih tidak disukainya hanya matanya yang biru bulat, itu sebabnya dia selalu mengenakan softlens coklat untuk menyembunyikan mata birunya itu, namun itu malah membuatnya lebih cantik lagi, mungkin dia dapat menyembunyikan keindahan mata birunya, namun kecantikan indo yang dimilikinya malah semakin terlihat manis dengan bola matanya yang berwarna coklat.

“ Kamu berdoa apa tadi De ? “ tanya Angel yang sudah sangat akrab dengan Alice

“ Aku berdoa supaya ci Jessica selalu nemenin ko Edi.. dan supaya ci Jessica tenang disana.. aku yakin ci Jessica juga selalu berharap agar ko Edi bisa secepatnya move on dari semua ini.. “ Alice menjawab sambil mengangguk-angguk lucu.

“ Iya, makanya kamu jadi kan kuliah disini ? ko Edi pasti butuh kamu buat nemenin dia, semuanya ga akan mudah buat dia.. “ Angel menjawab sambil mengikat bapau rambutnya.

“ Iya ci, 6 bulan lagi, sementara ko Jack ma cici yang jagain dia ya ? “ pinta Alice.

sexasian18_015-5

Angel memeluk erat Alice, “ Yawda sekarang jadi kan kita makan dan nonton ?? “ ajak Angel mencairkan suasana.

Alice kembali menganguk lucu, sementara Jack mendekati Edi dan mengajaknya beranjak dari tempat itu.

“ Udah kan Lee ? “ tanya Jack berdiri di samping sahabatnya itu

“ Hmmm.. mungkin.. “ jawabnya tak bersemangat

“ Udah saatnya loe move on, Jessica juga ga akan mau loe sedih terus kaya gini, Liat yang lain, Rey dan Cheryl.. mereka dah serius dalam hubungan mereka lebih dari dulu, Ryan dan Jenny.. malah nikah bulan depan, Mellisa yang kehilangan cicinya.. juga udah move on.. dia tetap stick on the plan nikah sama Vic awal tahun depan.. loe ga punya alasan untuk tertekan lebih dari ini.. “

Edison menggerakan bibirnya sesaat sebelum kemudian berjalan kearah Angel dan Alice yang telah menunggu keduanya,..

“ Mau makan sama nonton ga ko ? “ tanya Alice di bangku belakang mobil tepat di sebelah Edison, Edison terdiam sesaat sebelum kemudian menggeleng.

“ Ga dech, mau istirahat dulu.. udah lama ga pulang.. nanti pulang jangan malem-malem ya “ ucap Edison, sebelum kembali larut dalam lamunannya.

“ Yawda kita anterin dulu aja ya.. “ Angel memberi usulan, yang diiyakan oleh Jack meski harus memutar jalan.

Tak terlalu jauh memang, hingga akhirnya mereka sampai ke rumah Edison, Jack ikut turun bersama Alice membantu Edison turun masuk ke dalam rumahnya.

“ Koko beneran gapapa aku tinggal ? “ tanya Alice, sesaat Edison duduk di sofa ruang tamu.

Dia mengangguk, “ Udah gapapa.. “ ucap Edison

“ Kamar udah aku minta mbak bersihin koq, nanti kalau koko mau tidur~tidur dulu aja ya.. “ Alice mendekati Edison dan mengecup keningnya.

“ Iya, jangan pulang malem-malem ya.. kamu kan besok pulang.. “ Ingat Edison lagi

“ Ga dech, aku dah bilang mama 2 hari lagi aku baru pulang.. “ Jawab Alice

Edison mengangguk, sebelum tersenyum

Sementara Alice melompat keluar kembali masuk dalam mobil Jack, Jack berjalan keluar sesaat terhenti tepat di depan pintu rumahnya.

Dia terdiam seolah ingin mengatakan sesuatu.

“ Kenapa Jack ? “ tanya Edison

“ Enggak.. sebelum hari-hari terakhirnya. Sebelum loe berangkat ke Singapura. Jessica sering kesini.. “ Ucap Jack

“ Dia sering menulis sesuatu disitu.. “ , “ Membaca sesuatu disitu.. “ Jack menunjuk sebuah sudut ruangan dengan sebuah kursi baca dan deretan buku-buku dalam rak susun yang ada di pojok ruangan, tempat biasanya Edison menghabiskan waktu senggangnya untuk membaca buku.

Edison hanya mengangguk.

“ Yawda gw jalan dulu ya.. “

Sementara Edison tersenyum dan mengunci pintu, dadanya masih terasa sakit sebelum kemudian dia berjalan menuju rak buku itu, perlahan dia mulai melihat buku ditumpukan rak itu satu persatu, sepertinya tahu apa yang harus dicarinya, dia membuka satu persatu buku itu dengan teliti.

Dia berhenti setelah menemukan apa yang dicarinya, sebuah diary tepian hati berwarna biru ditangannya, perlahan dia duduk di kursi bacanya, membaca satu persatu halaman di buku itu, guratan tulisan dibuku itu.
Air matanya kembali mengalir, seolah tak percaya dengan apa yang dibacanya..

Dadanya tak pernah sesakit ini..

Menyadari kesalahan yang dibuatnya selama ini, menyadari sebuah kenyataan yang terjadi selama ini..

##

Cinta sejati adalah cinta yang memberi sayap sayap pada pasangannya

Sesosok orang yang tengah memandangi pantulan wajahnya di cermin kamar mandi, wajahnya yang terlihat begitu kacau dan tak terawat, sementara dia memandang kosong bayangan di cermin itu, tak ada senyuman, tak ada kesedihan di wajahnya hanya ada pandangan polos, pandangan yang memiliki sejuta arti di dalamnya. Sebuah buku diary tergeletak di sisi nya.. sebuah diary yang terlihat begitu kusam, diary yang mengandung berjuta cerita, berjuta kenangan tergurat di dalamnya.

Ada kata yang tak terucap dari bibir lelaki itu, bibir yang telah begitu kering, tubuhnya yang berisi terlihat begitu kosong, kakinya seolah lelah menopang tubuhnya yang telah lemah, entah berapa lama lelaki ini tengah menyiksa dirinya, duduk tertunduk diatas kloset, dia menyentuh bekas luka di dadanya. Sebuah bekas jahitan, sebuah jahitan yang menyelamatkan hidupnya selama ini. Sebuah siksaan yang harus dijalaninya sepanjang hidupnya, rasa bersalah yang tak kunjung padam..

Sebuah rasa bersalah yang mencabut seluruh sayap yang ada di tubuhnya dulu, siksaan yang membawanya termenung tepat di tepian hati.
Kini dia memilih dirinya untuk terkurung disini, terkurung dalam rasa bersalahnya selama ini, dia menyadari bahwa dia merasakan cinta yang begitu besar, mencintai seseorang dengan begitu besarnya, cinta mereka ada dan nyata hanya takdir mempermainkan mereka.

### Tepian Hati ~ The End ###
450x100
Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Tepian Hati Fin : Akhir dari Sebuah Awal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s