Tepian Hati : Jennifer Adrian #2

rosimm-635-008

Aku berlari ke pelataran parkir di depanku Jack berlari lebih cepat diikuti dengan Edison dan Vic, aku mengikuti mereka setelah salah satu pekerja-ku memberi tahu ada sesuatu yang terjadi di dekat mobilku, aku berlari sedikit panik, meninggalkan Derrick di ruang ganti. Aku panik karena aku yang meminta Angel untuk mengambil sesuatu di mobilku, dan mencari Vina yang sedang mengambil tasnya di mobilku.

Sambil mendorong kerumunan orang yang berkeliling di dekat mobilku terparkir, aku terpaku menyaksikan Ryan yang tengah berdiri dengan tangan terborgol sementara Angel terjatuh tak sadarkan diri dengan sebuah jarum suntik di sisinya, tubuhnya terlihat mengejang beberapa kali.

“ Angel !! “ Jack berteriak panik dan langsung menghampiri tubuh Angel sebelum dihentikan oleh salah satu petugas keamanan. Sementara Vic langsung mengangkat handphonenya menghubungi rumah sakit untuk menyiapkan pertolongan terbaik yang bisa dilakukan sambil membawa tubuh Angel ke dalam mobil ambulance.

Jack ikut naik ke dalam mobil ambulance, sementara Edison terlihat begitu sibuk berbicara dengan Ryan diantara para petugas keamanan. Jujur aku ingin menghampirinya sekarang, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, aku mencoba menerka apa yang terjadi disini beberapa saat yang lalu.

Yang ada hanyalah Angel yang tergeletak di lantai parkiran dengan tubuh mengejang dan sebuah jarum suntik berisi sesuatu yang nyaris habis, serta Ryan yang sekarang terborgol tanpa memberikan pembelaan apapun, dia hanya diam dan tersenyum. Meski berbicara sangat serius dengan Edison sekarang, sepertinya dia memberi tahu sesuatu pada Edison, sesuatu yang sangat penting sampai Edison merekam semua pembicaraan mereka.

Keadaan di tempat kejadian ini, seolah mengambarkan kalau Ryan menyerang Angel di pelataran parkir, tapi dengan apa sebenarnya dia menyerangnya ? dan lagi rasanya tidak mungkin, untuk apa Ryan menyerang Angel ?

Tak lama beberapa mobil polisi tiba di tempat kejadian, aku langsung berlari kearah Ryan yang lebih banyak diam, wajahnya seperti tengah berfikir keras.

“ Kenapa Ry ? ada apa ?? “ tanyaku bingung yang hanya dijawabnya dengan senyuman

“ Ga papa kamu tenang aja.. “ dia tersenyum sementara polisi membawanya masuk ke dalam mobil patroli yang bergegas pergi.

Beberapa polisi mencoba mengumpulkan barang bukti, mereka mengambil jarum suntik yang tercecer dilantai, sementara seorang polisi menghampiriku.

“ Selamat malam, anda nona Jennifer Adrian ? “ tanyanya

“ Iya, ada yang bisa saya bantu.. “

“ Kami menemukan barang ini di mobil anda.. “ ucap polisi itu mengangkat sebuah bungkusan berwarna putih, aku terkejut tak tahu siapa yang menaruh benda itu di mobilku.

“ Apa itu pak ? “ tanyaku berusaha setenang mungkin untuk tidak meninggalkan kecurigaan
Polisi itu menatapku dalam-dalam, dari pengalamanku aku tahu aku tak boleh mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya agar tak mengundang kecurigaan berlebih dari polisi itu.

“ Lebih baik, nona ikut kami untuk membuat laporan di kantor. “ ucapnya sopan, Vic mendekatiku dan tampak berbicara panjang lebar dengan polisi itu.

“ Yawda, ikut aja.. dan langsung telepon mama papa kamu ya.. “ pesan Vic sambil mengantarku ke mobil polisi itu, “ Nanti kamu ke sana kan ? “ tanyaku agak cemas

04-4

Dia mengangguk “ Iya aku segera nyusul kesana, setelah disini selesai, harus ada yang awasin supaya berita acaranya jelas. “ Jawab Vic menutup pintu mobil polisi tersebut.

Edison terlihat sedikit emosional pada beberapa polisi yang terlihat cenderung mencari-cari kesalahan apa yang bisa dilimpahkan, aku yakin benar barang-barang itu bukan milik-ku dan aku tidak tahu kenapa sampai Angel bisa tertusuk oleh jarum yang mungkin berisikan psikotropika.

Aku duduk di sebuah kursi di depan seorang polisi yang tengah sibuk mencatat keterangan dariku pada layar komputernya, di meja sebelah Ryan terlihat lebih banyak diam, dia sesekali mencuri pandang padaku, sedangkan saat aku balas menatapnya dia kembali menghindari tatapanku.

“ Jadi, anda mengatakan kalau benda ini bukan milik anda ? “ tanya polisi itu mungkin keempat kalinya, aku kembali mengelengkan kepala. Sementara polisi itu menghela nafasnya panjang.

Demikian juga Ryan yang terus menolak memberi keterangan, ataupun mengakui barang itu miliknya, aku tahu tidak mungkin Ryan terlibat dalam masalah ini, pasti ada seseorang yang sengaja menjebak kami berdua, iya aku yakin pasti ada hubungannya dengan telepon itu.

“ Pak, coba dilacak nomor ini.. “ aku mengambil ponselku, menunjuk daftar panggilan di ponselku,
“ Orang ini menelepon saya dan meminta saya datang ke parkiran untuk mengambil kunci mobil yang dititipkan oleh Vina, tapi karena saya harus menyelesaikan pekerjaan saya, saya meminta bantuan Angel.. teman saya yang dibawa kerumah sakit untuk mengambil kunci itu.. “

‘ Ya Vina.. kemana Vina sekarang ? ‘ , ‘ Tapi kecil kemungkinan Vina menyakiti Angel ‘

“ Coba saya pinjam teleponnya.. “ polisi itu coba menghubungi nomor telepon itu dengan ponselku.

Tak ada jawaban.. sesaat kemudian terdengar sebuah nada panggil dari ruangan itu, aku berbalik mencari arah suara itu dan tak percaya, saat Ryan merogoh saku jas-nya.

Dia mengangkat ponsel dari kantungnya, dan suara Ryan terdengar dari speaker teleponku.

Aku berpaling menatapnya yang merasa bingung, dia sendiri seolah terkejut..

“ Ini bukan punya saya pak … “ Ryan berusaha memberi keterangan

Tapi ponsel di tangannya bisa menjadi bukti baru, dan apa mungkin memang Ryan yang melakukan semua ini ?
Sementara polisi di depan Ryan terlihat semakin intens menanyai Ryan, dia seolah mendapatkan barang bukti baru untuk menekan Ryan.

“ Ini bukan punya saya, saya tidak pernah memiliki ponsel ini “ Ryan berusaha mempertahankan alibinya

“ Tapi kenyataannya seperti ini, lebih baik anda mengaku sehingga hukuman yang anda terima akan lebih ringan nantinya. “ bentak polisi itu tak sabar lagi

“ Saya ga salah apa-apa pak, barang itu bukan punya saya, dan ponsel ini pun bukan milik saya.. “ terang Ryan, sambil berusaha menahan emosinya, dia terlihat gusar dengan tindakan polisi itu yang selalu berusaha mencari kesalahan dari tiap kata yang diucapkan oleh Ryan.

“ Mungkin anda bisa bicara seperti itu, dan kalau itu pun benar tetap saja sangat mungkin kalau anda hanya berusaha menyerang nona Jennifer namun sayangnya yang datang adalah korban.. YA ? “ tanya polisi itu kasar.

“ Itu ga mungkin pak !! “ aku dan Ryan sontak mengucapkan pembelaan yang sama.

Aku tahu tak mungkin Ryan menyakitiku, itu sama sekali tidak mungkin, aku tahu Ryan, dan aku tahu seberapa besar rasa cintanya padaku, dan tidak mungkin dia melakukan tindakan bodoh ini, dia bukan orang seperti itu, aku yakin ini semua ada hubungannya dengan Vina, terlebih semua pikiranku meruncing pada satu orang. Peter..

Ya Peter yang berdiri di pintu masuk ruangan ini bersama Mama dan Papa, Mama yang bergegas berjalan kearahku dan memeluk-ku, sementara Pak Panjaitan memberikan sebuah berkas pada polisi itu.

“ Kamu gapapa sayang ? “ tanya Mama sambil memeluk-ku

Aku menggeleng.. “ gapapa mah, tolong Ryan ma.. “ aku membisik

Mama memandang Ryan sesaat sebelum mengangguk. Dan berbicara sesaat dengan Papa dan seperti biasa Peter menjilat kedua orangtuaku dengan kata-kata kosongnya.

Dia menghampiriku, dan kutanggapi dengan dingin, dan berbicara berputar-putar dengan polisi di depanku agak terlihat sedikit cerdas.

“ Mau loe apa sih ?? “ Peter berjalan kearah Ryan dan menarik kerah Ryan
Ryan hanya tersenyum melihat tingkah Peter

“ Ga usah aktinglah di depan gw.. “ Ryan mengucapkannya dengan santai, sepertinya dia memiliki pemikiran yang sama dengan-ku

“ Peter lepas ga ?? “ Bentakku sambil berusaha menarik lepas tangan Peter dari leher Ryan, namun reaksi kami berdua malah membuat Peter terlihat makin emosional.

“ Kenapa masih lindungin dia Jenn ?? Jelas semua bukti mengarah ke dia.. “ Peter membentakku “ Iya kan pak Polisi ? “ Dia berusaha melindungi dirinya dengan pernyataan polisi, polisi yang ada di depan Ryan hanya menganguk ragu.

03-9

Sebelum sesaat kemudian seseorang menarik Peter dari belakang.

“ Dimana Vina ?? !!!! “ Jack muncul dengan wajah emosional dan langsung menghajar wajah Peter hingga terjatuh.

Belum puas Jack berusaha membangunkan Peter dan hendak memukulnya lagi sebelum seorang polisi melerainya.

“ Tolong hormati kami. Ini kantor polisi !! “ Polisi itu membentak Jack yang masih berusaha menerjang kearah Peter, Edison yang masuk belakangan berusaha melerai dan memegangi Jack, sementara pengacaraku berbicara panjang lebar dengan para polisi itu.

Ryan kembali duduk di bangkunya memberikan keterangan pada polisi itu dan menatapku sambil tersenyum.
“ Ry.. ada Vina kan tadi disana ?? “ Jack berusaha mengajak Ryan berbicara, Ryan menatapku seolah menginginkan jawaban dariku

“ Jawab Ry, Angel selalu nyebut nama itu sekarang.. pasti ada hubungannya sama Vina kan.. “ Jack semakin gusar, dia terus memburu Ryan

Ryan sendiri terlihat bingung menjawab.

“ Saya tanya sekali lagi, anda mengakui memiliki shabu-shabu dan menaruhnya di mobil milik saudari Jennifer Adrian ? “ tanya penyidik pada Ryan,

“ Semua sudah selesai, sekarang tinggal test urine saja.. “ pak Panjaitan mengagetkanku saat aku sedang menunggu jawaban Ryan..

“ Hah Test Urine ? harus ?? “ tanyaku tak yakin

Ryan menatapku, seolah membaca kegamanganku ini

“ Maaf pak saya mengubah pengakuan saya, barang-barang itu milik saya dan saya berusaha menyembunyikannya di mobil Jenny karena dia memiliki akses langsung karena mengadakan acara, saat itu saya sedang menunggu pembeli untuk mengadakan transaksi tapi kebetulan Angel disana sehingga saya panik dan menikam Angel dengan suntikan itu.. “ Ryan mengatakannya tanpa menunduk sedikitpun tak ada rasa penyesalan, malah tersenyum setelah mengatakan itu

Dan aku tahu dia berbohong.

“ Ry.. Tololll !! “ aku memukul Ryan berkali-kali, sementara Peter langsung berbisik pada dua orang-tuaku.

“ Ok.. kalau begitu tanda tangani ini.. “ polisi itu memberikan sebuah print out untuk di tandatangani oleh Ryan, yang tanpa ragu sedikitpun menandatangni BAP sementara itu

Dua orang polisi memasangkan borgol di tangan Ryan yang kemudian dibawa keluar dari ruangan itu oleh kedua polisi itu, Jack terlihat begitu gusar, aku tak tahu apa dia percaya dengan kebohongan Ryan tadi, atau dia justru marah sama seperti aku mendengar kebohongan Ryan tadi.

Jack mengisi buku tamu untuk dirinya dan Edison sementara aku dan kedua orangtuaku bersama Peter menunggu diluar bersama pak Panjaitan pengacara keluargaku. Sementara Papa dan Mama duduk agak jauh dari sel, menunggu giliran untuk menanyai Ryan, aku bergerak mengendap mendengar pembicaraan antara Ryan dengan Jack dan Edi di dalam ruangan Sel, seorang polisi meninggalkan ruangan memberikan keleluasaan untuk Ryan dan yang lain untuk berbicara dalam sel.

“ Loe tuh stupid banget sih Ry… “ Jack menyela menendang dinding sel karena kesal.

“ Sory Jack, gw ngerti perasaan loe, tapi gw yakin loe pasti percaya gw ga mungkin ngelakuin semua ini.” Tegas Ryan, tak melepaskan pelukannya dariku.

“ Apa susahnya sih loe bawa nama Peter atau Vina, itu lebih baik.. ”

“ Emank gampang Jack, mudah, tapi itu ga menyelesaikan masalah.. ga menyelesaikan masalah.. “

“ Kenapa ?? “ tanya Jack membalas dengan keras

“ Gw ga bisa Jack, gw harus ngelindungin Jenny.. “ Jawab Ryan.. “ Sama kaya loe ngelindungin Angel “

“ Apanya ? Memang Jenny terlibat ? iya mungkin harusnya dia yang terlibat, tapi kenyataannya malah Angel kan.. “

“ Iya gw tahu Jack, tapi gw ga tahu.. gw ga tahu kalau Jenny seorang pemakai atau enggak.. gw ga mau ngambil resiko yang membahayakan dia.. “

Aku terkejut .. ‘Ryan tahu ?’ aku mengerakan tanganku di lengan kiriku menutupi lubang-lubang yang mungkin ada di lenganku itu.

‘ Ryan tahu ? ‘

Jadi lagi-lagi karena dia tahu kalau aku.. kalau aku.. aghhh jadi dia sengaja mengatakan itu untuk meniadakan test urine untuk-ku sehingga kemungkinan aku terlibat dalam kasus ini sangat kecil, bodoh sekali dia ? apa dia berfikir aku tidak mampu melindungi diriku sendiri..

Bodoh Ryan, kenapa kamu selalu berusaha menanggung semua beban seorang diri ?

Aku mengepalkan tanganku kesal, menahan diri untuk tidak menangis kesal sekarang,.. aku kesal sekaligus bahagia.. kesal karena ketololannya mengunakan dirinya lagi untuk melindungiku, juga bahagia karena ketololannya itu.

‘ Apa aku harus masuk sekarang ? memeluknya ? tidak .. Jenny tidak boleh… kamu tahu berapa besar kamu berusaha melupakannya sampai detik ini ? berapa banyak rasa sakit yang kamu alami untuk bisa lepas dari semua rasa sakit ini ? jangan sekarang Jenny.. kamu bisa membalas kebaikan Ryan dengan cara berbeda.. ingat kalian hanya teman.. ‘ aku terus bergumam

“ SHIT!!!! “ Jack terdiam sesaat kemudian, duduk diatas ranjang kayu sederhana sambil memegang kedua kepalanya.

“ Jadi, Ryan maksud loe, loe nglakuin ini untuk ngelindungin Jenny dan agar kasus ini ga merambat kemana-mana.. makanya loe ngakuin memiliki barang-barang itu. Jadi masalah selesai sampai disitu. Loe juga sengaja bilang loe nyerang Angel, supaya polisi menyelediki motif itu lebih dalam lagi.. Jadi siapa yang loe curigain Ry ?? “ Edi mengeluarkan argumentnya

“ Iya kira-kira gitu Lee.. siapa lagi kalau bukan Peter.. “ jelas Ryan

“ Okay.. berarti loe berhasil ngasih kita waktu buat nyelesain semua ini.. “ Edison menambahkan

“ GAK SESIMPLE ITU !! “ Jack berteriak kesal

“ Angel sudah sadar tadi, dia kasih keterangan ke polisi kalau dia pemilik barang itu, dia juga pemakai tapi dia kelebihan dosis untungnya Ryan nemuin dia waktu dia nyaris sekarat dan terselamatkan.. “ Jack kembali menendang kesal dinding sel

“ Kenapa jadi begini ?? “ Ryan terlihat bingung

Aku terkejut bingung, semua masalah menjadi lebih pelik lagi sepertinya dengan semua pengakuan yang berbeda-beda seperti ini, ada apa sebenarnya.. dan yang terpenting apa yang harus aku lakukan sekarang.

“ Gak.. ga masalah.. tenang aja Jack.. Ry,, Jenn… “ , “ Sisanya tergantung kita.. masih ada Vic dan Rey juga mereka pasti bisa bantu kita. Yang terpenting mungkin kita harus temuin CCTV.. gw dan yang lain coba cari cara lain, pasti ada caranya untuk buktiin kalau ini semua cuma jebakan.. “ Edison terdengar masih optimistis dengan semua ini.

Seorang polisi mengetuk pintu sel menandakan waktu bertemu yang sudah selesai.

Aku menatap Jack dan Edison yang berjalan keluar, sementara aku masih menatap Ryan yang tersenyum dari balik jeruji sel itu. Edison mendekatiku dan berbisik.

06-10

“ Jenn.. bisa minta tolong, mungkin cuma loe yang bisa cari CCTVnya. Karena loe punya kepentingan untuk mobil loe yang ditahan polisi saat ini. gw ma Jack cari bukti-bukti yang lain ya.. “ Bisik Edison padaku,.

“ Kenapa gw harus ngebantu kalian ? “ tanyaku dengan suara keras, sengaja agar Ryan mendengarnya juga, aku tak ingin dia tahu kalau aku akan membantunya, membantunya dengan segala yang aku bisa lakukan.
Edison tersenyum dan berjalan meninggalkanku mengikuti Jack yang berjalan lebih dulu kearah Peter yang berdiri tak jauh dari tempat kedua orangtuaku duduk.

“ Peter.. Loe tahu berhadapan dengan siapa !! Gw.. Edison.. Rey .. Vic.. Dan terutama gw ga akan lepasin loe.. kita pasti nemuin kebenaran dari semua ini.. “ Jack mengancam sambil menepuk pundak Peter dan berjalan berlalu.

“ Buktiin apa ?? Kenapa gw dibawa-bawa ?? “ Peter berteriak ke arah Jack dan Edison yang berjalan menjauh.

“ Kamu pulang ya sayang.. “ tanya Mamaku mendekat ke arahku yang masih berdiri menatap Ryan di dalam sel

Aku menggelengkan kepala.

“ Aku pergi dulu mah, ada yang harus aku lakuin.. “ aku memeluk mama dan berlari keluar.
Mama yang hendak mengejarku, tertahan oleh Papa yang sepertinya tahu kalau aku hendak mencari bukti untuk membebaskan Ryan.

“ Pak… ga mungkin kan ga ada rekaman CCTV.. “ Aku memprotes pada para petugas satpam yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.

“ Iya kami ga bohong.. kebetulan memang kami tidak memiliki CCTV di tempat parkir.. “ terang satpam itu.

“ Ga mungkin pak.. ga mungkin… “ Aku menangis kesal

“ Bapak liat ini di tempat parkiran kan.. “ aku menarik satpam itu sambil menunjuk CCTV yang terpasang di dekat lobi

“ Bapak ikut saya.. ikut saya.. kita naik ke atas.. “ aku menarik satpam itu memaksanya..

“ Maaf kita tetep ga bisa bantu, mungkin bisa tanya ke bagian CCTV.. “ Satpam itu berusaha menghindariku.. aku hanya bisa memandang mereka kesal.

Aku memasuki gedung itu lagi, aku lelah, sangat lelah mencari kesana-kemari, dilempar kesana kemari, tapi aku merasa harus melakukan ini semua, mengesampingkan semua rasa lelahku. Mencari sedikit kemungkinan untuk membebaskan Ryan, aku bertanya kesana kemari mencari letak ruangan pusat CCTV sebelum akhirnya aku menemukannya dan mengetuk pintu kayu bertuliskan ruangan pusat CCTV yang berada di bagian pojok kanan gedung pameran itu.

Aku kembali mengetuk pintu itu, saat seseorang membantuku mendorong pintu itu.
“ Papa ?? “ aku terkejut melihat sosok Papa yang berdiri di belakangku

“ Iya sayang, Papa akan berusaha bantu kamu ya sayang.. maafin papa dan mama yang selama ini selalu membuat kamu ngerasa sendiri.. ga pernah ada saat kamu membutuhkan kami berdua.. “ Papa tersenyum dan memeluk-ku.

“ Makasih ya pah.. “ bisik-ku..

“ Yawda kita masuk dulu, kamu tenang aja ya.. Papa akan bantu kamu.. Jangan emosional.. “ pesan Papa, aku menganguk setuju.

“ Selamat Malam Pak, saya orang tua dari Jennifer Adrian yang sampai saat ini mobil anak saya tertahan di gedung parkir ini. “ , “ Saya membutuhkan copy dari CCTV yang mungkin sebelumnya sudah di minta oleh polisi untuk mendukung kesaksiaan anak saya. “ Papa menjelaskan dengan sangat tenang dengan pola pikir yang lebih masuk akal, aku mengangguk kecil setuju dengan apa yang dikatakan Papa

“ Maaf Pak, bukan kami tidak mau membantu.. tapi kami memang tidak membantu.. kami tidak menyediakan kamera di parking lot “ jawab salah satu petugas yang sepertinya supervisor bagian itu.

“ Hmm.. ga ada ya.. benar pak ? “ tanya Papa lagi dengan nada yang agak menekan

Petugas itu terlihat sedikit kikuk sebelum menjawab dengan nada yang kurang meyakinkan.

“ Benar Pak, kamu juga tidak memberikannya pada pihak kepolisian karena memang tidak ada. “
Papa mengerutkan dahinya sepertinya tidak sependapat.

“ Ok.. kalau begitu apa kamera di tempat lain berfungsi normal ? “ tanya Papa..

“ Untuk bagian dalam gedung. Semua berfungsi normal pak, memang untuk parkinglot tidak ada peraturan yang mengharuskan semua bagian memiliki CCTV, karena pengawasannya akan sulit.. “ Terang petugas itu, Papa menjawabnya dengan senyuman

“ Kalau begitu saya minta semua copyan di ruangan pameran fashion tadi, dari seluruh CCTV selama satu hari ini.. “ Tegas Papa..

Petugas itu agak terkejut dan sedikit ragu.

“ Mungkin ini bisa buat pengganti uang lembur bapak dan teman-teman.. “ Papa mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

Petugas itu malu-malu mengambil uang itu sebelum meminta teman-temannya memindahkan semua rekaman itu untuk kami bawa pulang.

“ Untuk apa Pah ? “ . “ kayanya disitu ga ada yang aneh dech “ tanyaku bingung

“ Mungkin, tapi lebih baik daripada kita ga memiliki rekaman sama sekali kan.. “ Papa tersenyum sambil menepuk kepalaku lembut seperti yang biasa dilakukannya saat aku kecil dulu

‘ Sabar Ry.. kami pasti bisa membebaskan kamu.. ‘

Ponselku berdering sesaat setelah aku meninggalkan ruangan itu bersama Papa.

“ Edison ?? “ aku mengangkat cepat telepon itu

“ Ga bisa, kalau cuma mengandalkan ini, percuma aja semuanya “ ucap Jack mengambil kesimpulan, sambil menatap layar TV yang berisi rangkaian acara dari beberapa sudut ruangan.

Aku merengangkan tubuhku, melirik jam di dinding yang hampir pukul 6 pagi, tubuhku lelah tidak tidur semalaman, tapi itu sama dengan mereka yang ada diruangan ini, semuanya lelah namun masih tidak melunturkan semangat mereka. Beberapa kali mereka memintaku untuk tidur dan beristirahat, aku menolaknya.. aku memiliki kepentingan lebih dari mereka, semua kejadiaan ini ada sangkut pautnya denganku..

Sementara Edison dan Rey masih menatap layar dengan teliti, aku tahu ini menyangkut Angel sehingga Jack tidak dapat berfikir jernih, aku tahu karena perasaan Jack sekarang sama dengan perasaanku, kalut, bingung dan takut untuk melakukan apapun, karena itu juga aku lebih menyerahkan masalah ini pada yang lain, aku tak bisa berfikir tenang tak bisa juga membuat satu keputusan yang baik dalam kondisi ini

Banyak faktor yang harus diperhitungkan karena ada alibi Ryan dan Angel yang saling bertentangan, kami benar-benar membutuhkan sebuah alasan yang kuat untuk membebaskan keduanya, kesalahan sedikit saja justru bisa membuat mereka berdua menjadi tersangka kasus ini.

“ Kalian jangan terlalu terbebani, nanti hasilnya kurang maksimal.. “ Cheryl membawa makanan ringan dan teh manis hangat untuk kami, dia turun dari lantai atas tempat dapur di ruko Rey ini. Di belakangnya ada Jessica yang ikut membantu membawakan makanan ringan itu

Jessica duduk di sebelah Edi sambil menyuapi Edison makanan ringan itu sementara Edison masih sibuk menulis sesuatu di kertasnya.

Seseorang mengetuk pintu, aku bergegas membuka pintu itu Vic dan Mellisa berdiri di balik pintu itu, Vic memberikanku sebuah kantung obat

“ Minum buat supplement loe.. “ Pesannya dia sendiri berjalan kearah Jack yang terlihat gusar menunggunya.
“ Gimana Angel, Vic ?? “ tanya Jack cepat

“ Kondisinya sudah stabil tuh, tapi belum boleh di besuk.. “ dia memberikan sebuah map pada Jack yang mungkin berisi resume pengobatan Angel.

“ Dibelakang ada salinan BAP yang dibuat Angel.. “

Jack terlihat begitu kesal membuang map itu. Aku tahu ini bukan pertanda baik.. pasti ada lagi kepelikan yang terjadi, aku menghela nafas panjang

08-5

“ Udahlah, masukin aja Ryan dulu ke penjara.. baru nanti kita bisa urus.. apa sih yang susah.. semua bisa diatur sama uang, berapa juga gw bayar supaya Ryan keluar nanti. “ Tegas Jack setengah berteriak.

“ Gak !! “ , “ Ga bisa gitu caranya.. !! “ Aku tak mau mengalah aku tak rela kalau Ryan harus mendekam dalam penjara lebih lama lagi, semua bisa diatur dengan uang tapi itu tetap terdengar konyol. Terlebih siapa juga yang rela membiarkan orang yang kita sayang untuk mendekap dalam penjara seperti itu

“ Kenapa ga bisa ? ini masalah loe sama Peter sepertinya.. kenapa harus gw dan Angel yang menanggung masalah kalian ? “

“ Iya MAAF kalau kalian terkena masalah karena gw, dan kalau pun LOE KEBERATAN.. GW bisa urus masalah ini sendiri, terima kasih.. “ Aku kesal melihat Jack yang marah seperti itu, kesal karena seolah dia begitu egois, atau aku saat ini pun sama egoisnya dengan dirinya

“ Jenn jangan pergi.. “ Vic menghentikanku

“ Udahlah, gw juga jadi repotin loe Vic selama ini, maaf.. “ Kataku melepas pegangan tangan Vic yang menghalangi aku melangkah keluar.

“ Jangan pergi dulu.. “ Jessica menahanku.

“ Jack.. gw mau ngomong.. “ Edison menarik Jack duduk di bangku sementara dia berdiri di depan Jack yang masih terlihat begitu marah.

“ Liat gw Jack.. Liat gw.. “ Edison memaksa Jack menatapnya

“ Gw tahu loe marah sekarang, tapi gw tahu di hati loe, loe ga pernah nyalahin Ryan ataupun Jenny disini.. Gw tahu loe marah karena Vina.. Gw tahu.. karena itu kita harus selesaikan masalah ini selangkah demi selangkah.. “

“ Loe enak Lee.. tinggal ngomong loe ga terlibat secara emosional disini.. loe ga punya kepentingan lebih disini.. “ Jack membela argumentnya

“ Udahlah pakai uang semua beres “ lanjut Jack

“ Iya mungkin.. mungkin loe bener.. tapi pola berfikir loe yang bilang kita bisa beresin masalah dengan uang itu juga tolol Jack.. sejak kapan kita dididik semiskin itu untuk berfikir semua masalah selesai dengan uang.. ketololan macam apa itu.. “ Edison membentak Jack yang terus mengalihkan pembicaraan

“ Loe gampang ngomong Lee.. coba kalau loe yang ada di posisi gw.. apa loe ga akan berfikir cara yang sama dengan yang gw lakuin sekarang ? “ Jack masih menekan Edison

“ Gw tahu kemungkinan gw melakukan hal yang sama dengan loe sangat besar, gw tahu.. tapi gw juga tahu, gw punya loe Jack.. gw punya Jessica.. gw punya Ryan.. gw punya Vic.. gw punya Rey.. dan semua yang ada disini untuk membantu gw.. gw percaya mereka semua bisa bantu gw selesain masalah gw. “
Jack terdiam sesaat..

“ Loe Koko buat gw Jack.. Loe selalu ada buat gw.. karena itu gw pasti akan membantu loe apapun caranya, apapun resikonya.. dengerin gw kali ini.. “ Pinta Edison

Sesaat aku melihat sebuah gurat senyuman manis dari bibir Mellisa..

“ Loe denger gw.. Loe liat ini.. “ Edi memaksa Jack melihat beberapa cuplikan dari acaraku. Sementara dia berdiri di sebelah televisi, kita semua memandangi layar itu dengan seksama.

“ Disini.. Ryan berhenti. Dan di depannya siapa ? “ tanya Edison, aku tahu pertanyaan itu untukku.
Aku mengamati pakaian yang dipakai oleh gadis yang bergerak di layar dan sepertinya tengah diikuti oleh Ryan.

“ Vina ? “ aku tak yakin sesaat.. “ iya itu Vina.. “ aku ingat jaket yang dikenakan olehnya saat keluar dari ruang ganti

“ Ok berarti bener Vina kan.. “ sekarang yang penting kita kejar Vina

“ Loe Jack.. loe mau ikut atau diem disini sampai besok ? “ tanya Edi lagi

“ Iya lebih baik loe ke rumah sakit aja Jack, besok gw minta Angel dipindahin ke ruangan biasa.. gw ga mau loe emosional dan bikin rusak semua. “

Jack mengangguk, dia tahu dia saat ini tidak mampu melakukan pekerjaan sulit, sama seperti aku.. dan yang terpenting jelas Angel membutuhkannya sekarang.

“ Terus apa yang bisa gw lakuin ? “ tanyaku, sementara mereka larut dalam pemikiran mereka lagi

“ Mungkin loe bisa nemenin Ryan. Jenn ? “ Tanya Rey sambil tertawa

Aku meliriknya tajamnya..

“ Ga becanda.. “ dia langsung kembali memakan makanan ringannya.

“ Gw temenin loe besok Jack. Boleh ? Gw ngerasa bersalah jadi melibatkan kalian.. “ tanyaku pada Jack
Dia tersenyum, “ Sory Jenn, tadi gw nyalahin loe.. padahal harusnya ga begitu.. gw agak emosional dan.. bingung.. “ jawabnya

Aku mengangguk.. “ Ga kok,. Gw tetep ga enak sama kalian.. “

“ Jenn.. kalau loe ga minta tolong untuk ngambilin kunci mobil loe di parkiran pun, mungkin Angel akan kesana karena dia ngikutin Vina.. kenyataan itu yang ga bisa gw terima.. loe juga tahu tentang Angel dan Vina kan ? “ tanyanya

Aku mengangguk.. aku tahu bahkan mungkin aku tahu lebih dulu dari Jack untuk masalah ini.

“ Mungkin gw yang ga bisa terima, kenapa Angel ngelakuin semua ini.. seolah dia melindungi Vina lebih dari dirinya sendiri, gw ga nuntut Angel untuk melakukan hal yang sama buat gw, tapi gw berharap dia ga pernah melakukan hal itu untuk siapapun selain gw.. egois ? memang cinta itu harus egois.. iya kan? “ dia tersenyum renyah seolah mengatakan itu untuk diriku juga.

Aku mengangguk, memang benar.. aku hanya berharap Ryan sedikit egois selama ini, dia selalu melakukan sesuatu untuk diriku, bukan dengan egois menginginkan semua untuk dirinya, aku lebih membutuhkan rasa egois itu, aku butuh rasa egois itu, dengan rasa egois itu mungkin dia akan menghiraukan tentang sesuatu yang dia anggap ‘kebahagiaanku’ dulu, dan sekarang kalau dia lebih egois mungkin dia tetap dengan pernyataannya bahwa bukan dia pemilik psikotropika itu.. semua mungkin saja menjadi lebih mudah untuk kami.

“ Loe yakin Jenn.. kita ga perlu ngasih tau Ryan tentang semua yang loe lakuin ini ? “ tanya Vic tiba-tiba
Aku mengangguk berusaha tersenyum.

“ Masih dengan kebohongan itu ? udah saatnya Jenn loe bahagia.. Ryan bisa ngasih kebahagiaan itu.. “ ucap Vic

Aku menggeleng sekarang

“ Terlambat Vic.. gw yang sekarang ga bisa lagi.. “ Jawabku.. sebelum Vic kemudian diam dan menatapku datar..

Dia tahu banyak hal, dan dengan tetap menutup mulutnya.. aku tahu dia telah begitu banyak membantuku, membantuku sampai semua berakhir.. sampai nafas itu berhenti dan aku.. dan aku ga bisa, aku ga mau dia menunggu seperti aku dulu.. aku tahu betapa sakitnya menunggu.. aku tahu betapa lelahnya menunggu sesuatu yang.. ya menunggu sesuatu yang mungkin akan sia-sia belaka.

“ Sayang.. “ Angel terbangun dari tidurnya mendapati Jack yang tertidur di sebelahnya, sementara aku yang baru datang membawa bunga untuk Angel dan menaruhnya dalam pot di meja tepat sebelah ranjang Angel

To Be Continued
###

450x100

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s