MY DIARY [025] Malam Terakhir di Bali

7luojie

Besok adalah hari terakhir di Bali, rasanya kangen juga dengan tempatku merantau. Sedikit bosan juga di sini, karena setiap hari hanya main di pantai, jalan-jalan, makan bersama, lalu malamnya pun membosankan. Teman-teman hanya sibuk dengan pestanya dengan Sally, aku hanya menghabiskan malam dengan menonton tv.

Beberapa malam ini aku sendirian di kamar, bosan berebutan dengan mereka yang menikmati Sally. Sedangkan Bu Viany tidak terlihat batang hidungnya, aku tidak mengetahui berapa nomor kamarnya. Seandainya tahu, setidaknya aku bisa mengunjunginya. Mungkin dia sudah pulang, atau pun masih sibuk dengan meeting mereka.

Pagi sekali sekitar jam delapan pagi, aku memutuskan berkeliling sendiri mencari oleh-oleh untuk teman-temanku. Teman-teman lain sedang malas, mereka mungkin masih capek karena pesta semalam. Aku pun berjalan keluar dari kamar hotel, saat akan meninggalkan hotel, ternyata seseorang yang kurindukan pun muncul.

“Viany…”, aku pun menyapanya. Senyumnya manis membalas sapaanku, “Satorman… Mau kemana?”, tanya Viany. “Mau keliling bentar, cari oleh-oleh…”, jawabku. “Wah, kebetulan… Yuk ikut saya saja…”, Viany menawarkan.

Aku pun tidak menolaknya, karena sedikit rindu dengannya, ia pun mengajakku ke parkiran, “Saya juga mau cari oleh-oleh, besok harus pulang ke Samarinda…”, katanya. Ketika ia menekan remote mobilnya, sebuah Kijang Innova hitam pun berbunyi. Ia membawaku berkeliling dengan mobilnya, aku duduk di depan untuk menemaninya.

Hari ini kulewati dengan berbelanja bersama Viany, bukan hanya ditemani Viany, tapi ia juga membayarkan belanjaanku. Sebenarnya aku menolaknya, tapi ia terus memaksa, mau tidak mau aku harus menerima kebaikannya.

Setelah itu kami pun makan bersama di sebuah restoran yang cukup mewah, sekali lagi ia mentraktirku, aku menjadi sangat tidak enak hati. Sampai di hotel barulah ku tahu maksud Viany, sekali lagi ia mengingatkan, “Pulang sampai kampung halaman, tolong ya video dulu dihapus…”.

Hahaha, ku kira Viany ada hati denganku, ternyata ia hanya khawatir dengan video pemerkosaan dulu. “Malam terakhir ne, singgah ya…”, ajakku agar Viany bisa menemaniku malam ini, malam terakhir merasakan cinta di pulau Bali. Ia tersenyum lalu pergi menjauhiku untuk kembali ke kamarnya.

Sambil menunggu malam, aku merapikan belanjaanku, agar aku mudah membawanya dan membaginya ke teman-teman saat tiba di kota ku, tempat mencari nafkah. Tak terasa waktu berjalan cepat, aku sedikit kelelahan, jam menunjukkan pukul 22:35. Akhirnya Viany memenuhi permintaanku, ia kembali singgah ke kamarku.

08-3

Kali ini Bu Viany mengenakan pakaian kantor, lengkap dengan jas dan sepatu hak tingginya, hmm, tahu benar dengan seleraku. “Hadiah buat Satorman… Menikmati seorang manager bank…”, kata Viany dengan cosplay yang menggodaku. “Hahaha, tau banget seleraku…”, sahutku.

Viany adalah seorang manager di sebuah bank swasta di Samarinda, dulunya ia bekerja di bank swasta di kota ku merantau, karena takut aib pemerkosaan terbongkar, Viany rela mengundurkan diri dan mengikuti suaminya untuk bekerja di Samarinda.

Karena pengalamannya yang cukup baik, ia pun diterima menjadi manager di bank swasta lainnya di Samarinda. Sangat di luar dugaan, aku bisa bertemu dengannya di Bali, Viany sedang mengadakan rapat antar cabang se-Indonesia. Dengan beberapa strategi kelicikanku, Viany pun jatuh ke genggamanku.

“Tapi malam ini, aku mau merasakan sensasi seperti dulu lagi bu…”, sambungku lalu mencari sesuatu di lemari. “Maksudnya?”, kemudian menutup pintu dan mendekatiku. “Bondage…”, jawabku sambil mengeluarkan seutas tali plastik yang cukup panjang. Viany sedikit kaget, tapi aku yang sudah lama tidak merasakan sensasi pemerkosaan, sangat merindukannya. Ku dorong Viany jatuh ke ranjang, dengan sigap aku lalu mengikat ke dua tangan Viany di atas ranjang, ku ikat dengan kuat agar terlihat lebih nyata. “Sorry ya…”, aku berbisik di telinganya.

“Kok begini sih…”, Viany sedikit protes. Lalu ku ambil sapu tanganku dan ku tutup mulutnya agar lebih dramatis, “Biar lebih menyenangkan, Viany berontak ya…”; kata ku. “Hmmm….”, Viany tidak bisa berbicara lagi karena mulutnya tertutup sapu tanganku, kepalanya menggeleng-geleng mengisyaratkan bahwa ia tidak setuju dengan gaya seperti ini. “Ikuti saja say…”, kataku sambil menepuk kecil pipinya.

Kakinya kemudian ditendang-tendangkan, entah ia mengikuti perintahku untuk pura-pura berontak, atau memang ia tidak menyukai diperlakukan begini. Aku tidak mau tahu, kuciumi aroma tubuhnya, dimulai dari rambutnya, wajahnya, lalu lehernya. Penisku sudah ngaceng tak karuan, segera kulepaskan semua pakaianku agar penisku yang mengeras bisa leluasa tanpa terbungkus celana jeans ku yang keras.

Ku lepaskan kancing jas Viany dengan perlahan, lalu kemeja putih dalamnya. Satu per satu kancingnya ku buka, dan terlihatlah onggokan daging putih berbungkus bra hitam. Kuciumi aroma harum buah dadanya, mantap sekali. Pakaiannya ku biarkan terbuka begitu saja tanpa mau aku lepas, agar lebih meningkatkan sensasi perkosaan.

Lalu ku tarik naik bra hitamnya, sehingga mencuat keluar susu bulat Viany yang menantang. Saking putihnya, nampak bekas kemerahan yang diakibatkan tekanan bra nya. Lalu kuciumi kembali aroma khas payudara nya, hmm, lalu ku jilati sekitar puting susunya, nikmat sekali.

Viany masih menggeleng-gelengkan kepalanya, dan juga menendang-nendangkan kakinya. Lalu ku tinding kakinya agar tidak bergerak lagi, dan ku kenyot susunya dengan bringas. Walaupun usianya yang sudah tidak muda lagi, namun tubuh Viany yang terawat masih sangat enak dipandang, lekuk tubuhnya seksi, buah dada nya pun cukup bulat, tidak terlalu besar dan tidak begitu kecil, namun padat berisi. Kulitnya yang putih curi khas gadis oriental membuat aku semakin menyukai kenikmatan ini.

Putingnya yang sedikit kecil dan berwarna coklat itu ku pilin dengan jari tanganku. Kuputar-putar, kujepit, ku tekan, lalu ku tarik. Sebelah susunya terus ku sedoti bagaikan bayi yang sedang netek dengan ibunya. Sekali-kali aku memainkan lidahku di putingnya. Namun ketika jariku capek, aku bergantian posisi, menyedot sebelah susunya lagi, lalu dengan tangan sebelah lagi memainkan putingnya Viany.

Wajah Viany yang cantik dan harum terus kujilati, dari kening, pipi, hidung, telinga hingga lehernya. Matanya tertutup seolah tidak menerima perlakuan seperti ini. Aku bangkit untuk melihat seluruh tubuh Viany yang terikat, sungguh menakjubkan. Tangannya terikat ke atas, mulutnya tertutup sapu tangan, buah dadanya terlihat jelas karena bra hitamnya tertarik ke atas, tubuh atasnya benar-benar putih, semakin menggoda karena jas hitam dan kemeja putihnya masih menempel di tubuhnya.

Sedangkan bagian bawahnya, ia masih mengenakan rok hitam sedikit mini, aku coba mengintip ke dalamnya, nampak samar-samar warna pink. Kaki jenjangnya juga mulus, aku mencoba meraba pahanya hingga ke ujung kaki nya, hingga sepatu hitam hak tingginya ku lepaskan.

10-3

Kembali aku meraba kakinya kini hingga ke atas. Ku raba masuk ke dalam roknya, sampai di pangkal pahanya itu, ku coba menemukan belahan vaginanya yang tertutup celana dalam. Ku elus-elus belahannya itu dengan pelan-pelan, terus menerus hingga Viany terlihat mengejang kegelian.

Ku tarik tangan ku keluar lalu, menyodorkannya ke belakang pinggang Viany, berusaha menemukan resleting roknya. Setelah ku temukan, segera kubuka dan ku tarik turun rok hitamnya itu. Ku biarkan rok hitamnya nyangkut di ujung kaki kanannya. Nampak celana dalam pink sudah sangat jelas. Sedikit basah di tengahnya akibat ku mainkan tadi belahan vagina Viany.

Kali ini, kutarik turun celana dalam Viany hingga nampak vaginanya yang lebat ditumbuhi jembut. Kuraba benda itu, ku sisir pula bulu-bulunya dengan jariku. Lalu ku dekatkan wajahku untuk menjilati vaginanya. Awalnya kujilati belahannya saja, namun perlahan-lahan aku coba memasukkan lidahku hingga ke dalam vaginanya. Ku jilati terus dinding-dinding vagina Viany, hingga cukup lama lalu kujilati klitorisnya, jari telunjuk kananku kini yang kugunakan untuk menyusuri lubang vagina Viany.

Viany terlihat kegelian, ia membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, karena sensasi yang kuberikan dari memainkan klitorisnya dengan lidahku dan mengocok vaginanya dengan jariku. Kutarik dan kusodok lagi jariku ke dalam vagina Viany, kuputar lalu ku obok-obok bagian dalamnya.

Satu jari tak cukup, hingga aku masukkan lagi jari tengahku untuk mengobok vagina Viany yang sudah mulai basah. Masih sambil menjilati klitorisnya, ku mainkan lidahku di sana, lalu ku putar-putarkan lidahku, dan kini Viany tidak bisa menahanya, cairan sedikit hangat mengalir keluar.

Lalu aku menarik wajahku agar bisa lebih fokus mengobok vaginanya, jari tanganku yang satunya ku gunakan untuk menggantikan posisi lidah ku tadi. Sambil memainkan klitorisnya dengan jari telunjuk tangan kiriku, aku terus memompa dua jari tangan kananku di vagina Viany, hingga air itu terus menyemprot keluar.

Seperti lahar panas gunung berapi, air itu berhamburan keluar tiada henti, belepotan di tanganku hingga di sprey kamar hotel ini. Ku sodok terus jariku hingga Viany terlihat ke capekan dan berhenti meronta-ronta.

Kemudian aku bangkit dan mengambil kondom di lemariku, lalu kupakaiankan. Tanpa sabar, aku langsung menindih Viany, ku sedoti susunya sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Tidak susah menerobos vagina Viany, lubangnya yang sudah basah membuat aku mudah menjebloskan penisku di dalamnya. Kugigit kecil puting susu vagina sambil memompa pelan penisku di vaginanya. Susunya sebelah yang luput dari sedotanku, menjadi bahan bagi tanganku untuk meremasnya.

Hasratku makin tinggi, aku pun mempercepat iramaku, ku peluk erat tubuh Viany dan ku ciumi lehernya yang harum. Pinggangku terus bermain memompa vaginanya, sungguh nikmat merasakan sensasi seperti ini. Rambut Viany yang tadinya lurus panjang dan rapi, kini sudah berantakan, acak-acakan, matanya masih tertutup, memberikan aku imajinasi pemerkosaan yang lebih dramatis.

Lalu aku mengangkat kaki Viany agar lebih mudah memompanya. Ku percepat gerakanku, hingga hangat terasa karena gesekan kedua alat kelamin kami. ‘Bleps bleps blepsss…’, suara yang ditimbulkan dari cipratan air dan kelamin kami yang saling beradu.

Kali ini tidak terdengar suara rintihan Viany, mulutnya yang ku tutup dengan sapu tangan, membuat ia hanya bisa menahan gejolak dengan menggigitkan sapu tangan tersebut. Kedua tangan ku terus meremas buah dada Viany, memainkan putingnya, kutarik lalu kembali kurebahkan tubuhku turun untuk menyedoti susunya. Tak lupa kuberikan cupangan sekitar susunya, mengelilingi putingnya. Nampak bekas memerah di sekitar susunya yang putih.

Genjotanku semakin kuat dan sebentar lagi aku merasakan aku akan berejakulasi. Sensasi pemerkosaan memang membuatku lebih bernafsu, dan lebih cepat mencapai klimaks. Kurasakan aku memuncratkan sperma dari penisku di dalam vagina Viany, untungnya aku mengenakan kondom sehingga lebih aman bagi Viany. Ku tarik pelan penis ku dari vagina Viany, sedikit air dari vagina Viany masih menetes keluar, sedangkan kondomku terlihat penuh.

Segera ku buka kondom itu dan ku buang. Aku mengenakan kembali pakaianku, lalu mendekati Viany, ia terlihat sudah lelah, ia tertidur pulas dengan kondisi terikat. “Thanks…”, bisikku di telinganya. Sedikit merasa lapar, aku tidak berani menelpon ke restoran, tidak enak jika pelayan datang mengantarkan makanan, jadi kuputuskan untuk turun ke bawah mencari makanan, semoga saja restoran masih buka.

Tidak enak mengganggu tidurnya Viany, jadi kubiarkan ia tertidur dengan posisi terikat seperti itu. Sepi sekali, lorong-lorong hotel tidak menampakan aktivitas, aku berjalan turun hingga ke restoran, untungnya masih buka, dan beberapa pelanggan nampak menikmati pesanannya.

Bingung mau makan apa, namun untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan ini, aku pun menjatuhkan pilihan pada nasi goreng seafood ditambah es jeruk peras untuk menyegarkanku. Sambil menunggu aku masih memikirkan apa yang telah kuperbuat dulu, memperkosa Viany secara beramai-ramai bersama teman-temanku. Kalau dipikirkan baik-baik, kami ini sangat jahat, hanya karena sakit hati tidak diterima bekerja saja sudah buat kami mengambil langkah yang salah begitu.

Kucoba sms ke Tono, ‘Ton, dah tidur?’ tanyaku. Tidak lama dari itu ia membalas sms ku, ‘Iya man, baru aja pesta, capek ne…’, jawaban sms darinya. ‘Wah, tiap malam pesta, asik donk’, balasku. ‘Ada personil baru’, jawabnya dengan sms cukup pendek. Mungkin dia sudah terlalu capek. ‘Siapa ton?’, tanyaku. ‘Rahasia’, ia menjawab pendek lagi. ‘Gue juga ada ketemu Bu Viany, tau ga apa yg kami lakuin?’, aku memancingnya. ‘Lu garap man?’, tanya Tono. Aku lalu tidak membalasnya, aku biarkan ia penasaran, tunggu pulang barulah kuceritakan.

10-4

Pesananku akhirnya sampai, tak sabar lagi mengisi perutku yang kosong ditengah malam ini. Setelah mengisi perutku, aku masih malas naik, kuputuskan untuk nongkrong sebentar dan memesan kopi hitam untuk menemaniku. Beberapa orang berlalu lalang, ada yang sendirian, ada pula yang berpasangan. Kunikmati malam terakhir di Bali ini dengan menenggak kopi hitam yang harum ini, suasana santai seperti ini susah aku dapatkan jika pulang dari sini.

Kopi sudah habis, saatnya balik ke kamar untuk beristirahat. Berjalan pelan aku menuju kamarku, dalam perjalanan, firasatku sangat tidak menyenangkan. Aku baru ingat, aku meninggalkan Viany dengan keadaan terikat, segera sampai di depan kamar, lalu ku buka pintu. Aku kaget sekali dengan apa yang kulihat, beberapa pria sedang mengerumuni Viany. Apa yang terjadi, bagaimana mereka bisa masuk ke kamar ku, dengan gopoh aku mendorong pria-pria yang sudah telanjang bulat itu menjauh dari Viany.

“Wah… Wah… Wah… Pelit amat lu Man…”, celutuk seorang pria, suaranya sepertinya ku kenal. Setelah ku perhatikan, ternyata mereka semua aku kenal. Seperti petir menyambar di kepalaku, di kamarku ada semua pria yang berliburan bersama denganku, Rahmat, Rendy, Gayus, Bambang, Gusti, Hendra, dan Victor. “Hey! Apa yang kalian lakukan di sini?”, tanyaku pada mereka. “Pantesan aja uda gak mau gabung dengan kita, rupanya ada yang temenin…”, nyerocos si Rendy.

Ku pandangi arah Viany, ia masih dalam keadaan terikat, rambutnya berantakan, matanya pun berlinang air mata. Ku perhatikan bagian vaginanya ada sisa sperma, masih basah, sepertinya baru saja ada yang menyetubuhinya. “Siapa suruh kalian masuk?!”, tanyaku. “Tak sengaja Man, gue kirain lu mati di dalam, gue panggil ga ada jawaban, jadi terpaksa gue buka pakai kunci duplikat…”, kata Victor. Iya, dia yang berkuasa di sini, semua kamar kami diboking menggunakan namanya, ia mudah saja memasuki kamar kami.

“Sekarang keluar!!”, teriakku kesal. “Tapi man…”, balas Gayus. “Oke, gue keluar…”, kata Victor yang kelihatannya dia sudah puas meniduri Viany. Namun yang lainnya tidak mau beranjak, malah memandangiku dengan serius. “Tampaknya, kawan berkhianat ne, enak sendiri aja…”, sindir Gayus.

Tiba-tiba Bambang menyerangku, lalu disusul Rendy, mereka mengeluarkan tali, lalu mengikatku. “Sorry man, terpaksa ne, uda kebelet…”, kata Gayus. Tanganku diikat ke belakang, kaki ku pun terikat menjadi satu, tidak bisa berkutik, lalu Gayus mengambil pakaian yang berserakan di lantai untuk membungkam mulutku. Aku sungguh tidak bisa bergerak, ku lihat Rahmat yang pertama naik ke ranjang untuk menikmati Viany yang sedang terikat.

Sialan sekali pikirku, orang-orang ini ternyata bejat sekali. Kulihat Viany sangat merasakan tersiksa, ia disetubuhi Rahmat dengan keadaan terikat tak berkutik, pakaiannya masih melekat di ujung tangannya, bahkan yang lebih parah, Rahmat memperkosanya tanpa mengenakan kondom.

Beban yang berat bagi Viany, apalagi bila sampai Rahmat menyemprotkan spermanya di dalam. “Berapa bayaran perek ini Man?”, tanya Rahmat. Aku tidak bisa berkutik, teman-teman yang lain yang sedang menunggu giliran lalu mencari pakaian mereka yang berserakan, lalu mereka merogoh kocek pakaian mereka, ada yang mencari dompet da mengeluarkan uang mereka, “Yuk patungan, bantu Satorman bayar nih perek…”, kata Gayus sambil mengumpulkan uang. “Iya, biar sama-sama senang…”, balas yang lain.
“Bayar mahal pun ga rugi kok… Masih lezatttt…..”, kata Rahmat yang terus menggenjot Viany.

Uang mereka kumpul cukuo banyak, rata-rata adalah lembaran seratus ribu, lalu mereka sodorkan ke saku bajuku. Aku mencoba menolak, ku gerakkan tubuhku yang terikat, namun mereka tidak mau mengerti. Pikiran mereka sudah tidak jernih, hanya seks saja yang ada di otak mereka, mungkin mereka pikir Viany adalah seorang wanita bayaran.

‘Tok tok tok’, terdengar suara ketukan pintu, Rendy lalu beranjak untuk membukakan pintu. “Aku kembaliiiii………..”, seru Victor yang muncul dari balik pintu dengan membawa satu dus minuman keras. Inilah kehidupan kami di malam sebelum-sebelumnya, berpesta miras dan seks. Hanya kali ini berbeda sekali, mereka salah paham, Viany yang malang pun menjadi korban.

“Ah….”, desahan Rahmat yang terlihat mengejang, ia sepertinya sudah berejakulasi. Lalu ditarik penisnya dari vagina Viany, dan bercucuran lah sisa-sisa sperma yang Rahmat semprotkan di dalamnya. Viany menangis dengan keadaan ini, kepalanya terus menggeleng tidak menerima, namun ia hanya bisa pasrah dengan keadaannya yang terikat.

“Pak panitia duluan deh…”, seru Bambang meminta Victor menggantikan posisi Rahmat. “Iya, itung-itung ucapan terima kasih atas Guinness nya…”, sambung Gayus. Victor pun dengan penuh semangat naik ke atas ranjang. “Asyik… Putih bener ne perek…”, kata Victor setelah menindih Viany.

Lalu ia mencoba mencium pipi Viany, “Hmmm, harum….”, katanya, walalupun Viany terus menggerakkan kepalanya. Victor pun lalu membuka pakaiannya, tanpa aba-aba ia pun langsung melesapkan penisnya yang besar seperti rudal ke lubang vagina Viany.

Tubuh Viany diputar sedikit miring agar Victor mudah memompa penisnya. Kulihat air mata Viany masih terus bercucuran tiada henti. Sungguh malang nasibnya, padahal baru saja aku dekat dengannya, dan ia pun mulai tidak dendam padaku.

15xdy

Lalu Gayus naik juga ke ranjang, “Numpang netek…”, ia lalu melumat susu Viany yang bebas. Viany dikerumuni dua pria sekaligus, ia nampak lebih terbebani, pemerkosaan sadis kembali ia alami. Aku juga kembali teringat masa lalu yang juga telah memperlakukan Viany dengab kasar, aku dan kawan-kawan lebih sadis memperkosanya beramai-ramai, bahkan juga terhadap anak perempuannya.

Victor masih menggenjotnya, sedangkan Gayus sudah bosan menyedoti susunya, kini gantian Gusti yang menikmati susu Viany. Kulihat susunya diremas dengan kasar oleh Gusti, dicubiti putingnya dengan kuat, dan ditamparnya hingga susu Viany yang tadinya putih menjadi merah. Kembali liang vaginanya harus menampung sperma, kali ini sperma Victor yang memenuhi vaginanya. Victor mengejang dan kemudian menarik penisnya setelah berhasil menyemprotkan spermanya di dalam.

Gusti yang tadinya melumat susu Viany langsung segera mengambil posisi Victor. Teman yang lain tidak sempat mendekat, karena jarak Gusti lebih dekat. Gusti yang sudah tak sabar mengasari Viany lalu menampar-nampar pipi Viany hingga ia terus menangis. Lalu disodoknya vagina Viany dengan penisnya, tak mau tahu dengan vagina Viany yang penuh dengan tampungan sperma Victor dan Rahmat.

“Cantik banget…”, puji Gusti yang sedang menggenjot Viany. “Mau nyicipi rasa perek Bali…”, kata Gusti yang mengira Viany adalah orang dari daerah sini. Susu Viany pun diremas dengan kuat, lalu ditampar-tamparnya. Goyangan Gusti pun kian makin cepat, disodoknya kuat hingga penisnya masuk penuh dalam vagina Viany.

Hendra mendekati mereka, seolah dia tidak mau orang lain lebih cepat merebut posisi Gusti. ‘Blep blep blep…’, bunyi hantaman yang terjadi di selangkangan Gusti dan Viany, dengab kasar menyodok seperti itu, aku rasa Viany akan kesakitan.

Sama seperti sebelumnya, Viany kembali harus menampung sperma, Gusti sudah berejakulasi, dan spermanya pun tersemprot ke dalam vagina Viany. Hendra yang sedari tadi menunggu langsung menggantikan posisi Gusti. Yang lain kesal merasa didahului lalu segera mendekati Viany. Rendy menyedoti susu Viany yang sebelah kiri dan yang sebelah kanannya menjadi maianan Gusti.

Secara beramai-ramai mereka kembali mengerumuni Viany, sudah tidak jelas apa yang kulihat karena mereka mengerumuni nya. Rahmat yang tadinya baru saja menyetubuhi Viany pun nampak sudah segar kembali dan ikut mengerumuni Viany. Berjam-jam mereka menyetubuhi Viany secara bergantian, dan tentu saja, mereka masih terus menyemprotkan sperma mereka di dalam vagina Viany.

Aku tak mampu membayangkan apa yang dipikirkan Viany, mungkin hatinya sangat sakit sekali, seorang manajer bank diperkosa oleh orang yang tidak dikenal secara brutal. Aku hanya bisa menunggu selesainya permainan mereka.

“Lain kali mesti ke Bali lagi ne nampaknya…”, kata Victor yang sudah puas lalu kembali berpakaian dan meninggalkan ruangan. Begitu pula yang lainnya, mereka meninggalkan Viany yang terkapar tiada bertenaga. Hendra membantuku membukakan ikatan, “Berapa sih lu bayar perek ini man?”, katanya. Aku melototinya lalu berkata, “Dia bukan perek!!!”, teriakku.

“Ah, gak perlu disembunyiin kok…”, ia lalu keluar dari ruangan tanpa mau dengar penjelasanku. Aku mendekati Viany lalu melepaskan ikatannya, ia masih terus menangis, dengan tatapan kosong ia pun mengenakan kembali pakaiannya dan keluar dari kamarku tanpa mau berbicara sepatah kata pun denganku.

Aku pun tidak berani mengganggunya, aku biarkan ia berjalan lunglai kembali ke kamarnya seorang diri. Sudah subuh, aku harus segera tidur untuk beristirahat, karena hari ini terakhir aku di sini. Liburan yang sebentar namun dengan tambahan pengalaman yang cukup warna-warni.

TAMAT

450x100

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s