MY DIARY [024] Dunia Yang Terlupakan

06-12

Tak terasa sudah hampir seminggu aku berada di Bali. Beberapa hari ini kami diberikan kebebasan liburan tanpa ada seminar dari panitia yang memuakkan. Tiap hari kami habiskan main bersama di pantai, makan bareng, belanja, jalan-jalan, dan berpesta. Cukup menyenangkan acara di Bali ini, membuatku sedikit melupakan kisah-kisahku di kota tempat aku mencari nafkah.

Malam tiba, aku mulai bosan dengan pesta tiap malam yang selalu aku menunggu giliran. Aku pun memutuskan untuk cari kopi dan tongkrongan. Ku berjalan ke cafe hotel, cukup ramai juga. Aku pun ambil meja paling ujung, sambil menunggu pesanan, ku hidupkan jaringan wifi hp Nokia 5800 untuk membuka Facebook. Semoga Mega tidak mencariku lagi, dan ternyata benar, inbox-ku kosong.

Asyik ber-Facebook ria, aku diganggu dengan sms dari Victor yang isinya ‘Mana? Semua uda angkat tgn…’, aku sudah tidak memikirkan apa yang sedang mereka lakukan, karena aku adalah tipe orang yang sedikit cepat bosan. Sms Victor tidak aku gubris, malah kini pikiranku memikirkan seseorang yang duduk tidak jauh dari meja ini. Wajahnya sangat tidak asing, sepertinya aku mengenalnya, seorang wanita kira-kira berumur 25 hingga 30an tahun. Wajahnya cantik, rambutnya panjang terurai, badannya langsing dan seksi.

Aku berpikir dengan keras, mencoba mengingat siapa wanita yang berada tidak jauh di depan ku itu. Ku tatap terus wajahnya, apakah aku mengenal wanita ini? Merasa diperhatikan, dia langsung menatap curiga ke arahku, segera aku memalingkan pandangan agar wanita itu tidak cugira aku memperhatikannya. Namun sekilas aku lihat dia tersenyum, manis sekali. Ia hanya duduk sendiri tanpa ada yang menemani, andai saja aku memberanikan diri dan coba bertanya, ‘Apa aku mengenalmu?’.

Semakin pusing aku memaksakan berpikir lebih keras. Oh iya, baru saja aku ingat, dia adalah artis, pikirku dalam hati. Kuperhatikan lagi ketika wanita itu sedang asyik memainkan hp Blackberry Torch nya, hmm, tapi sepertinya dia juga bukan artis seperti yang tadi aku duga. Wajahnya hampir mirip dengan chef cantik bernama Fero yang membawa acara Dapur Cantik. Namun itu bukan Fero, hanya sedikit mirip, tapi rasanya aku kenal wanita ini.

Sibuk mencoba memikirkannya, wanita itu pun kembali memandangku, mungkin dia risih karena diperhatikan. Tapi wanita itu malah tersenyum padaku, aku pun kemudian membalas senyumannya. Lalu kuberanikan diri berdiri dari tempatku, beranjak, dan mendekati wanita itu. “Hay…”, sapaku.

Wanita itu membalas dengan senyuman, “Apa aku mengenalmu?”, tanyaku sambil menjulurkan tangan bermaksud berjabat tangan. “Sepertinya aku juga mengenalmu”, balas wanita itu namun tak mau berjabat tangan denganku.

“Boleh aku duduk?”, tanyaku. Wanita itu kemudian berubah jadi sinis, sepertinya dia tidak menyukaiku di sini. “Kita kenal di mana ya?”, tanya wanita itu dengan mata yang tampak ketus. “Entah lah, namun wajahmu sangat tidak asing bagiku…”, jawabku.

“Oh, kamu nasabah saya mungkin…”, jawabnya kemudian dengan sedikit senyum yang terpaksa. Mungkin karena penampilanku yang tidak mewah, maka dianggapnya tidak layak berbicara dengannya.

“Viany…”, lalu ia menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Mendengar itu aku langsung terdiam, seperti petir menyambar di dalam kepalaku. Baru ku ingat setelah mendengar namanya, dia adalah Bu Viany, yang menolak aku bekerja di perusahaannya.

“Oh… Baru ingat aku…”, jawabku dengan senyuman yang lebar. Sinis saja kamu denganku, setelah mendengar namamu, kamu pasti akan berubah, pikirku dalam hati.
“Apa aku kenal?”, tanya wanita itu. Lalu kami berjabat tangan, “Lupa sama aku?”, tanyaku.

03-5

Wanita itu mengerutkan keningnya, ia sepertinya juga sudah lupa denganku. “Sa… Tor… Man…”, ku sebut namaku sejelas mungkin. Mendengar itu raut wajahnya lalu berubah, ia seperti melotot padaku. Aku mau melihat ekspresinya dahulu, tanpa meminta ijin aku langsung duduk di depannya satu meja. Wanita itu langsung pucat tanpa kata-kata.

“Ingat bu?”, tanyaku dengan senyum penuh kemenangan. Wanita itu seperti gemetaran, ia mungkin masih trauma denganku, karena kami sudah memberikannya pelajaran yang sangat berharga karena menolak kami berkerja di perusahaannya. Kala itu, aku bersama Herman dan teman-teman lainnya mengerjai Bu Viany hingga ia benar-benar menyesal apa yang ia lakukan kepada kami.

Diam tanpa kata, seketika ruangan terasa dingin, suasana seakan sepi, nampak Bu Viany mengucurkan keringat dinginnya. Dan akhirnya suasana sepi pecah ketika pelayan datang membawakan kopi pesananku. “Minum bu?”, aku menawarkan karena ku lihat jus pesanannya sudah hampir habis.

“Gak usah”, jawabnya sinis, ia malah bergegas dengan memasukkan hp nya ke dalam tasnya. “Kok buru-buru bu? Ga mau tahu info dari aku?”, tanya ku dengan sedikit nada mengancam.

Bu Viany terlihat kaget dengan wajahnya yang pucat, ia pun tidak jadi beranjak dari kursinya. “Tenang saja bu, gue cuma mau ngomong bentar…”, kataku. “Apa mau mu?!”, bentaknya dengan sinis. Beberapa orang yang juga sedang nongkrong lalu memandang ke arah kami, sepertinya mereka mendengar suara bentakan Bu Viany.

Sedikit kesal, lalu aku mengancamnya, “Gue masih simpan loh video yang dulu…”, padahal aku tidak mempunyainya, video itu berada di tangan Tono. Hanya saja aku tidak mau Bu Viany menginjak-injakku, maka aku akan buat dia bertekuk lutut di depanku.

“Kamu mau berapa? Aku berikan!”, katanya mencoba menyogokku dengan uang. “Oops, bukan masalah itu, gue cuma mau ngobrol-ngobrol aja kok…”, jawabku. Bu Viany kembali terdiam dengan mata judesnya melirik ke sekitar. “Santai saja bu… Gue cuma butuh teman ngobrol aja kok…”, aku pun mengajaknya bercerita.

Tidak banyak yang dijawabnya, hanya satu dua patah kata, tampak ia masih tidak mau berhubungan denganku. Namun dari beberapa jawabannya aku sudah mengetahui apa yang dialaminya setelah kejadian dulu. Ia pindah ke Samarinda bersama suaminya, ia sudah tidak bekerja di bank yang dulu aku lamar, namun sekarang dia bekerja di bank swasta lainnya. Alasannya di sini adalah karena ada meeting seluruh cabang di Indonesia.
“Mana yang lainnya?”, tanyaku penasaran ingin tahu di mana perwakilan cabang lainnya.

“Sibuk belanja..”, jawabnya sinis tanpa mau memandangku. Sedikit menahan kesal, aku coba menekannya. “Ibu lupa kenangan kita dulu?”, tanyaku. Ia hanya diam dengan mulutnya yang cemberut, lalu ia memandang sekitar. “Dunia yang indah namun terlupakan…”, sambungku. Bu Viany melotot ke arahku, “Indah bagimu!”, bentaknya. “Hahaha…”, aku tertawa karena dia sudah mulai tertekan.

Wajahnya yang kesal malah menggodaku, “Kalau aku lihat video kita dulu, membuat aku ingin kembali ke masa lalu…”, sambungku kembali menekannya. Ia pucat lalu menundukkan kepalanya, pura-pura membuka tas nya. Ia mulai gelisah dengan kata-kataku, terlihat risih, ia lalu mengeluarkan segepok uang dari tasnya. “Ambil! Dan enyah dari hadapanku!”, bentak Bu Viany yang membuat sekeliling melihat ke arah kami.

Benar-benar dibuat kesal olehnya, lalu ku ambil dan hempaskan uang itu ke wajahnya. Sungguh sangat mengesalkan, walaupun uangnya menggiurkan, namun ia membuatku sedikit emosi. “Tar malam gue kesepian… Kalo gak ada buat, mungkin gue upload video dulu aja…”; aku berbisik di telinganya lalu pergi meninggalkannya. Sebelum pergi ku sebutkan, “207…”, kamar hotel aku menginap, sekilas kulihat matanya berair, sepertinya ia sedih dan menangis.

Aku hanya menggertaknya saja, keberadaan video itu hanya Tono yang tahu, aku sengaja menekannya agar Bu Viany tidak sombong seperti itu. Semoga saja dengan begini, sifat Bu Viany yang sombong bisa berubah.

Ku meninggalkan cafe, sedikit gerah karena masalah tadi, aku pun berjalan-jalan sebentar di taman. Tiba-tiba Victor mengirim sms lagi, ‘Gak ada lu, gak rame bro’, aku membiarkan pesta mereka, beberapa malam bergiliran menikmati tubuh Sally cukup membosankan bagiku, tidak ada sensasi yang berbeda. Semoga saja nanti malam Bu Viany bisa menemaniku.

34luojie

Merasa cukup menikmati angin malam, aku pun segera kembali ke kamar. Penisku sedikit mengeras membayangkan tubuh indah Bu Viany. Beberapa lama aku menunggu, jam sudah menunjukkan pukul 00:15, sedikit ngantuk dan menghilangkan harapan datangnya Bu Viany, aku pun hampir terlelap.

Lalu aku tersadar ketika ada yang mengetuk pintu kamarku, ‘Tok tok tok’. Aku pun bangun dan coba melihat dari lubang pintu, sungguh mengejutkan, apa yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Bu Viany ternyata termakan gertakanku, segara aku membukakan pintu agar Bu Viany bisa masuk, “Silahkan…”.

“Ayo, segera kita selesaikan…”, kata Bu Viany yang dengan sedikit wajah murungnya. Sebenarnya aku sedikit prihatin, namun rasa kesalku tadi belum terobati. Setelah kututup pintu, lalu ku peluk tubuh Bu Viany yang tak berdaya melawan. “Harum…”, kataku ketika menciumi rambutnya yang panjang lurus terurai.

“Bu Viany cantik banget hari ini…”, sedikit kugoda agar ia tidak murung. Wajahnya memang seperti artis Chef Fero, cantik sekali, hanya saja usia Bu Viany sepertinya sedikit lebih tua. Kulitnya putih, matanya sedikit sipit ciri gadis oriental, tubuhnya sangat langsing, dengan berpakaian piyama ia mengunjungiku. Kain piyamanya yang tipis membuat aku merasakan kulit-kulit tubuhnya ketika ku peluk.

Bu Viany sepertinya tidak mau berlama-lama di sini, ia lalu menarikku agar segera menuju ke tempat tidur. Melihat tingkahnya yang agresif, penisku kembali mengeras, segera ku rebahkan tubuhnya ke ranjang, lalu ku ciumi bibirnya dengan penuh nafsu. Matanya terlihat berbinar karena ia sedikit menangis, aku tidak memperdulikannya, nafsu birahiku sudah tak mampu ku tahan.

Sambil memciumi bibirnya, aku berusaha membuka kancing piyamanya dengan segera. Bau harum tubuh Bu Viany sangat menggodaku, lalu ku arahkan ciumanku ke lehernya, “Harum sekali bu…”, kataku. Ku remas-remas dadanya ketika ku buka piyamanya yang ternyata Bu Viany tidak mengenakan bra. Mungkin ia sengaja demikian agar mudah ketika ia di sini. Buah dadanya yang cukup besar dan bulat itu terus ku remas. “Bolehkah aku menyedot susumu, Bu Viany yang cantik?”, godaku. Ia hanya diam dan menutup matanya.

Namun aku tidak mau tergesa-gesa, aku pun kembali menjilati leher lalu menciumi bibirnya kembali. Bu Viany yang tadi tidak mau membuka bibirnya, kini membalas ciumanku, ketika aku mendorongkan lidahku ke dalam mulutny, ia pun memainkannya, lidah kami bergeliat seperti dua ekor naga yang terbang di angkasa. Aku sedikit menggigit bibirnya, nikmat sekali, kembali aku bisa merasakan tubuh Bu Viany yang begitu indah.

Sensasi kali ini adalah menikmati tubuh seorang manager bank, bagaimana tidak membuat aku sedikit termabuk asmara. Sambil menciumi bibirnya, tanganku yang sedari tadi meremas dada Bu Viany, kini turun bergerilya ke kelamin Bu Viany. Ketika ku sodorkan masuk dari celah celana piyama Bu Viany yang karetnya renggang, kujamah, ternyata Bu Viany juga tidak menggunakan celana dalam, sehingga dengan mudah aku merasakan bulu-bulu lebat di sekitar vaginanya.

Setelah menciumi bibirnya, aku pun menjilati lehernya, hingga melumat payudaranya yang besar seakan menantang untuk dinikmati. Kusedoti putingnya, sebelahnya ku remas dengan tanganku yang satunya. Bahkan susu Bu Viany pun tercium harum, nikmat sekali malam ini, aku bisa menikmati seorang wanita tanpa harus berebutan dan menunggu giliran.

Desahan terdengar tidak begitu jelas dari mulut Bu Viany, mungkin ia menahan gejolak rangsangannya. Aku pun dengan penuh perasaan mengelus belahan vaginanya, perlahan menggesekan jariku di sana. Sangat lembut sekali terasa, beberapa kali menggesekkan jariku bukan mengundang nafsu Bu Viany, melainkan nafsuku semakin melonjak, penisku sangat tak sabar lagi untuk menerobos vagina Bu Viany.

Setelah puas menyedot susu sebelah kirinya, aku pun beralih menyedoti susu sebelah kanannya. Kulumat penuh nafsu susu putihnya itu, putingnya kugigit kecil. Sedangkan susu sebelahnya masih tidak luput dari permainanku. Tanganku meremasnya, dan sesekali mencubit puting susunya, lalu kupilin, seperti menyetel volume radio yang masih menggunakan tombol putar.

moonhug-com_2016-04-15_12-40-22

Kupilih ke kiri dan ke kanan puting susunya Bu Viany, hingga ia mendesah kegelian, membuatku makin bernafsu untuk menidurinya. Sambil memilin aku juga mencubit putingnya, dan menariknya, puting yang begitu menggoda sangatlah asyik dimainkan.

Desahan Bu Viany sudah mulai terdengar jelas, akibat kegelian yang ku berikan ketika memilin puting susunya. Setelah itu, vaginanya pun tidak luput dari sensasi nikmat yang ku berikan. Aku masih terus menggesekan jariku di belahan vaginanya, walaupun aku harus menjulurkan tangan ke dalam celana piyamanya. Pelan-pelan aku pun mencoba memasukkan jari telunjuknya ke dalam vaginanya.

Terasa hangat sekali, lubang vaginanya memang tidak begitu rapat lagi, namun masih termasuk sempit untuk ukuran seorang ibu-ibu umuran 30an. Selain Bu Viany telah mempunyai anak, vaginanya pun dulu pernah kami cicipi bersama-sama, bahkan Tono pernah memasukkan sextoy nya yang besar ke vagina Bu Viany.

Ku mainkan jari telunjukku di dalam vagina Bu Viany, ku tekan masuk lalu ku tarik keluar pelan-pelan. Ku ulangi berkali-kali sambil menikmati kedua belah susunya secara bergantian, kiri dan kanan.

Mendengar desahannya sudah semakin keras, aku pun menatap wajahnya yang sudah terangsang, matanya tertutup namun dengan mulut yang tidak hentinya menggigit bibirnya sendiri. Lalu kehentikan kenyotan di susunya, ku lumat kembali bibirnya yang indah, hingga desahannya tidal terdengar.

Jariku tidak lagi keluar masuk di vaginanya, namun ku biarkan menancap dan ku putar-putar di dalam sana. Isi vaginanya terus ku obok-obok dengan jariku, pelan lalu cepat, ku ubah iramanya beberapa kali hingga Bu Viany tak mampu menahan gejolak lalu menggigit bibir bagian bawahku.

“Argh… Argh….”, desahan Bu Viany cukup jelas terdengar. Aku pun menarik keluar jariku dari vaginanya. Segera aku bangkit dan melepaskan semua pakaianku, dengan segera aku kembali menindih tubuh Bu Viany. Penisku yang sudah mengeras sedari tadi menyentuh di selangkangannya, namun aku belum mau memasukkannya. Ku tarik celana piyama Bu Viany turun hingga ku lihat jelas vaginanya yang dipenuhi bulu-bulu di sekitarnya.

Lalu aku berbalik posisi, agar aku mudah menciumi vaginanya, kakiku ku arahkan ke kepala Bu Viany, hingga penisku menyentuh wajahnya. Ini adalah gaya enam-sembilan, Bu Viany yang sadar apa mau ku pun langsung melahap batang penisku. Penisku terasa hangat berada dalam mulut Bu Viany.

Ku rasakan Bu Viany memasukkan penisku di mulutnya, lalu sedikit disedotnya dan lalu ku bantu dengan menggunakan pinggangku, ku naik turunkan hingga penis aku keluar masuk di mulutnya Bu Viany.

Sambil diservis aku pun menyervis Bu Viany, awalnya ku buka vaginanya, dinding-dindingnya terlihat berwarna merah tua, sedikit basah. Lalu kujilati area sekitar lubang itu, kujulurkan lidahku untuk bergerilya di sana. Ku gesekakan lidahku di belahannya, lalu pelan-pelan ku mainkan di sekitar atasanya tepatnya bagian klitorisnya.

Penisku masih menjadi sebuah permen lolipop bagi Bu Viany, atau bahkan seperti es lilin yang terus ia jilat nikmat. Dikulumnya keluar masuk di mulutnya, benar-benar nikmat sekali, lalu aku pun berusaha membuat Bu Viany merasa nyaman, ku julurkan lidahku hingga ke dalam vaginanya, menerobos dinding-dinding hangat vaginanya. Ku putar lidahku di dalam sana, lalu ku tarik lagi untuk memainkan klitorisnya.

Sesekali Bu Viany berhenti mengulum penisku, pertanda ia sedang menikmati rasa geli yang kuberikan di vaginanya. Lalu ku angkat kepalaku, dengan tangan kiri ku mainkan klitorisnya, sedangkan tangan kananku ku gunakan untuk menusukkan jariku ke dalam vaginanya.

Bu Viany semakin menikmatinya, kulihat kakinya bergerak kian kemari merasa geli, jari tangan kiriku terus memainkan klitorisnya, sedangkan jari telunjuk tangan kananku mengobok-obok vaginanya.

Terus ku lakukan hingga Bu Viany tidak tahan dan menendang-nendangkan kakinya, ku rasakan jari telunjukku hangat di dalam vagina Bu Viany, dan di dalam sana seperti sedang ada badai yang bergemuru, terasa pelan-pelan ada air yang mengalir, membasahi jariku. Saat ku tarik jariku dari vaginanya, air itu pun muncrat keluar, hingga mengenai wajahku.

Tidak mau perduli, aku pun meneruskan kegiatan tadi, kutusukkan kembali jariku ke dalam vagina Bu Viany, ku obok-obok, lalu ku tarik lagi dan air tersebut masih banyak muncrat keluar. Lalu kugosok dengan cepat bagian klitorisnya, membuat semprotan air itu semakin kuat seperti menggunakan pompa air tenaga 250watt.

Bu Viany yang menahan rasa itu lalu menggigit penisku, betapa kagetnya hingga aku segera bangkit dan menarik penisku dari mulutnya. Bu Viany masih menutup matanya, ia seperti kelelahan, aku kemudian mengembalikan posisi semula, kini saatnya penisku akan menerobos vaginanya.

10-5

Ku gesekkan penisku dibelahan vaginanya yang basah, namun tiba-tiba Bu Viany membuka matanya, ia lalu bangkit dan terduduk, “Jangannn….”, teriaknya. “Aku mohon jangaannn….”, ia kemudian terlihat ingin menangis, matanya berlinang air mata. Lalu ia menggosokkan tangannya di vaginanya sendiri, ia terangsang, namun tidak mau aku memasukkan penis di vaginanya.

“Tenang bu…”, lalu aku bangkit dan berjalan menjauhinya, aku mencari lemari ku, kubongkar dan ku keluarkan sebungkus kondom, “Pasti aman bu…”, aku menunjukkan ke arahnya. Bu Viany hanya diam, namun ku lihat jarinya sedang menusuk di vaginanya sendiri, ia sudah sangat terangsang.

Segera ku pakaikan kondom itu ke penisku, lalu kembali ku dekati Bu Viany. Posisinya yang terduduk lalu ku tarik kakinya hingga ia kembali terbaring terlentang. Segera ku tindih dan kulumat bibirnya, perlahan ku tuntun penisku untuk menerobos vaginanya.

‘Bleps…’, aku berhasil memasukkan penisku di dalam lubang vaginanya Bu Viany. Hangat namun sedikit basah terasa di penisku. Ku ciumi bibirnya dan ku peluk tubuhnya. Bu Viany pun membalas ciumanku, lidah kami saling beradu, payudaranya pun terasa hangat menyentuh di dada ku, hingga dengan erat ku peluk dirinya. Lalu ku gerakkan pinggulku untuk memompa penisku di dalam vagina Bu Viany. Bulu kelaminku terasa sekali mengenai bulu-bulu kelamin Bu Viany.

Ku belai juga rambut panjangnya yang hitam mengkilat, wangi shampoo yang menandakan Bu Viany baru saja keramas. Masih beradu ciuman, pinggangku pun sudah terasa capek karena beberapa menit menggerakkan naik turun untuk memompa vaginanya Bu Viany. Lalu ku putar tubuh kami, dengan posisi pelukan, dengan mudah aku berbalik sehingga kini Bu Viany di atas dan aku di bawah. Sekarang giliran Bu Viany yang menindihku, dan sekarang gantian dia yang harus menggerakkan pinggangnya.

Sedikit capek menggerakkan pinggang, Bu Viany kemudian melepaskan ciuman dari mulutku, kini ia berjongkok seperti melompat kecil untuk mengocok penisku. Dengan posisi ini, aku lebih mudah melihat Bu Viany dengan jelas, ekspresinya sangat menawan, ia terlihat sangat terangsang, matanya meram melek, giginya terus menggigit bibir bagian bawahnya. Susunya pun bergoncang terus karena gerakannya mengocok penisku dengan vaginanya.

Aku sekarang hanya diam menikmati gaya WOT dari Bu Viany, Sekitar selangkanganku terasa basah, air kenikmatan Bu Viany masih terus bercucuran dari sela lubang vaginanya yang disumpal penisku.

Bu Viany terus bergoyang, menggerakkan pinggulnya, seperti ngebor, kiri kanan lalu maju mundur, terus berubah gerakan, kemudian naik turun. Hingga aku pun mencapai puncak dan berejakulasi. Bu Viany lalu capek dan menindihku kembali, ku peluk tubuhnya yang mulai lunglai, lalu ku balikkan agar aku mudah menarik penisku yang mulai melembut. Spermaku penuh dalam kantung kondom, kulepaskan lalu ku buang ke dalam lubang toilet.

Bu Viany masih terbaring di ranjang, ia sedikit capek, ku ambilkan sebotol minuman mineral untuknya. Ia pun menarik tubuhnya untuk duduk di ranjang, aku memeluknya, ku ucapkan, “Thanks bu… Bu Viany sungguh hebat…”.

Setelah menenggak beberapa kali air minum dari botol air mineral, ia mulai buka suara, “Jangan ceritakan ke siapa-siapa ya…”, dengan wajah tertunduk ia sepertinya sedikit malu. “Tenang saja bu…”, jawabku. Matanya bersinar lalu mulai ia meminta, “Tolong video dulu dihancurkan….”, pintanya.

Aku lalu terdiam, aku bingung harus menjawab apa, aku sendiri tidak tahu video itu apakah masih disimpan oleh Tono atau tidak. “Bu Viany percayakan sama gue saja…”, jawabku bingung harus bagaimana. “Pleaseee…”, pintanya. Aku semakin bingung, lalu dengan spontan ku jawab, “Videonya ada di rumah, pulang dari sini akan ku musnahkan…”, kata ku karena sedikit prihatin melihat wajah Bu Viany yang memelas.

“Janji?…”, tanya Bu Viany. “I… I… Iyaa…”, ragu-ragu aku menjawabnya. “Thanks…”, lalu Bu Viany memelukku dengan erat, lalu ia mulai menangis. Sepertinya video itu merupakan beban yang sangat berat baginya.

Kami mulai akrab, sifat sombongnya seakan hilang. Kami menghabiskan malam dengan saling bercerita. Ternyata sejak kejadian dulu, Bu Viany tidak tenang. Setiap berhubungan tubuh dengan suaminya, ia selalu teringat dengan masa lalunya yang diperkosa beramai-ramai oleh kami. Hubungan cinta dengan suaminya menjadi tidak harmonis, suaminya pun mulai curiga, “Dia jadi tidak suka bercinta denganku…”, kata Bu Viany.

Mungkin karena hal ini, Bu Viany menjadi ‘jablay’ sehingga sangat menikmati percintaan kami.Suaminya jadi sering suka pulang malam, bahkan mencari alasan untuk bisa berdinas keluar kota, Bu Viany pun curiga kalau suaminya mempunyai simpanan di luar kota. “Lalu bagaimana dengan putri ibu?”, tanyaku. “Ikut ayahnya, karena aku dianggap lebih mementingkan karir…”, cerita Bu Viany sedikit sedih.

Karena kelelahan, kemudian kami terlelap dan tidur bersama di satu ranjang. Paginya kami bangun, dan seolah tidak terjadi apa-apa. Bu Viany kembali ke kamarnya untuk melanjutkan aktivitasnya. Aku pun segera mandi dan melanjutkan aktivitas aku sendiri. Sejak itu kami jadi akrab, ia pun memintaku memanggilnya dengan nama saja, “Viany…”.

TAMAT

450x100

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s