Tepian Hati : Febryant Chester #3

img_0322Perlahan aku menaruhnya di atas kasurnya, sementara pembantu-pembantu wanita yang terbangun segera membantunya menganti pakaian, aku berdiri di balik pintu kamarnya sementara tante Merry memanggilku untuk duduk di sofa di depan kamar Jenny.

“ Makasih ya Ryan kamu dah bawa Jenny pulang.. “ ucapnya sambil memintaku meminum teh manis hangat yang dibuatkan olehnya tadi

“ Ga tante, maaf saya terlambat untuk bisa kesana.. masih ada pekerjaan yang ga bisa saya tinggal dan ternyata keadaan sudah seperti ini.. “ aku menyesali diriku sendiri yang terlambat. Terlebih aku sulit menghubungi Vic tadi

Aku tahu Jenny berada di tempat itu setelah tante Merry, Mama Jenny meneleponku dan memintaku untuk membawa Jenny pulang, dia juga mengisyaratkan kalau Vic tahu dimana Jenny berada.

“ Maaf ya Ryan, saat kamu kembali menepati janji kamu dulu ke tante, tapi tante ternyata ga bisa nepatin janji tante. “

Aku hanya tersenyum, bisa saja aku menyalahkan tante Merry, tapi itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah, terlebih tidak sopan kalau aku menyalahkan orang lain pada sebuah masalah yang berakar pada diriku.

“ Sudah bu.. “ Kata salah satu pembantu yang membawa pakaian kotor milik Jenny

“ Yawda makasih ya, kalian tidur lagi saja.. “ tante Merry menyuruh kedua pembantunya itu untuk kembali ke kamar mereka.

“ Kamu mau nunggu Jenny ?? “ tanya tante Merry, dari kata-katanya dia ingin aku tetap disini menunggu Jenny

Aku menggeleng.. “ Ga tante ada yang belum saya selesaikan, saya belum bisa untuk ketemu Jenny disini sekarang “ aku tersenyum “ Tapi kalau boleh, saya melihat dia sebentar.. “ tanyaku

1p8a1985

Tante Merry mengangguk dan mempersilahkanku masuk ke kamar Jenny.

Sebuah kamar yang di dominasi warna kuning muda, warna kesukaanya dengan beberapa hiasan bergantung seperti pita berwarna pink di beberapa sudut ruangan, ini pertama kalinya aku berada dikamarnya

Aku mengambil sebuah kursi, duduk di sampi Jenny yang tertidur lelap, sementara di hadapanku sebuah bingkai foto berisi fotoku dengan Jenny, ternyata benar.. Jenny tak pernah bisa melupakanku, melepaskanku seperti diriku yang tak bisa melepaskannya, tak akan pernah bisa.

Dan aku semakin yakin kalau cincin yang melingkar di tangannya itu hanya kebohongannya saja, aku yakin hatinya tak mampu menerima lelaki lain selain diriku, aku yakin itu, aku tahu dari guratan tangannya di diary ‘tepian hati’ miliknya itu dia masih dan akan tetap mencintai diriku.

“ Ry.. “ dia mengigau, menangis dalam mimpi lelapnya.

Aku membelai lembut rambutnya, mencium keningnya menahan sebutir air mata yang menetes dari mataku.
Kutatap wajahnya, mengagumi kecantikan Jenny, mata dan sudut bibirnya yang begitu indah untuk-ku, kecantikan yang tak pernah berlalu dari ingatanku, kecantikan yang malah semakin indah saat indah, dengan semakin matang dirinya dan semakin membuatku begitu jatuh cinta padanya

Aku tahu betapa dia menderita selama ini, betapa dia tak mampu menentukan arah karena ketololanku, karena aku menganggap hebat diriku, yang berusaha merubah Jenny melalui rasa sakit, bukan rasa sayang, padahal…. Aghhhh padahal hal itu malah membuat Jenny terperosok lebih dalam, dan aku atas nama harga diri atas sebuah janji tolol yang kubuat aku tetap menutup mata atas keadaan Jenny.

Aku mengamati sekujur tubuhnya, sesaat aku terhenti tak percaya melihat sesuatu di lengannya.
Kulihat sebuah lubang kecil di beberapa titik tangannya, aku terdiam membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi padanya. Hal-hal yang benar-benar entah aku harus berkata apa, aku berdiri melihat lengan lain miliknya.. ada… ada lubang-lubang jarum lainnya di tangannya.

‘ Ya Tuhan kenapa aku baru menyadarinya ?? ‘

Tubuhku lemas seketika melihat ini semua, tak tahu harus berkata apa..

Jadi dia mabuk bukan karena alcohol ? tapi karena obat-obatan ??

Ya Tuhan,.. Ya Tuhannn

Aku beranjak keluar dari kamarnya, tante Merry masih duduk di kursi itu setengah tertidur.

“ Kamu sudah mau pulang Ryan ? “ tante Merry terkejut karena mengira aku akan menunggu sedikit lebih lama.

Aku tersenyum, mengiyakan sambil berusaha menampakan mimic muka sewajar mungkin, karena mungkin saja tante Merry sendiri belum tau tentang hal ini.

“ Kamu diantar supir aja ya, ambil mobil kamu di tempat tadi.. “ usul tante Merry, aku memang harus kembali mengambil mobilku.

“ Ga usah tante, ngerepotin.. “ jawabku

“ Udah kamu ga usah bantah, dengerin tante sekali-sekali tante dah suru panasin mobil tuh di bawah. “ , “ Hmm Ryan, boleh minta waktu sebentar ? “ tanyanya

Aku menganguk, ada sesuatu yang penting ? soal luka-luka itu ?

“ Tante cuma mau kasih info ke kamu,.. “ Dia memberikan sebuah foto lelaki, sepertinya Peter meski aku tidak yakin..

“ Peter tante ? “ tanyaku memastikan

Tante Merry menganguk..

1p8a1987

“ Iya, Jenny curiga kalau ada permainan dalam kerjasama tante sama orangtuanya.. dan tante takut kalau Jenny melakukan hal bodoh untuk membuktikan itu, karena dia sering bertindak konyol.. “ , “ Tolong tante untuk jaga dia ya Ryan.. bisa ? “ aku menganguk tidak yakin

“ Tante tahu kamu sibuk, dan mungkin akan sulit kamu menjaga Jenny selama kamu menjaga jarak seperti ini.. tante akan bantu kamu dengan info-info yang tante dapat. “

Dan lagi aku hanya dapat menganguk mendengar permintaan itu.

“ Dah denger tentang Peter ? “ tanya Vic menyela lamunan-ku yang terduduk di depan laptopku sambil mengerjakan pekerjaanku.

Aku menyenderkan punggungku,.. sambil menatap Vic.. “ Kenapa ? “ tanyaku bingung

“ Kayanya bisnis judi online-nya terbongkar dech,. “ dia meminum Americano kesukaannya sambil mengaduk dengan sedikit brown sugar

Aku menganguk..

“ Ya kemungkinan besar pasti ada Jenny di belakangnya, dan ga mungkin Peter ga tahu kalau jenny yang melakukan ini semua.. “ terangnya lagi, aku sependapat dengan Vic. Yang pasti aku kecolongan tak menyangka justru Jenny yang akan memulai ini semua.

“ Ada kabar dari Jenny ? “ tanyaku pada Vic, yang masih sibuk mengaduk dan menambah gulanya, mungkin americanonya terlalu pahit

Dia mengangkat bahunya, “ ga ada sih, ga ketemu juga akhir-akhir ini “ jawab Vic mantab

Aku beberapa kali mengikutinya dan terlihat begitu dia sibuk mempersiapkan pameran dan penandatanganan merek fashion yang baru saja dia dapatkan lisensi penjualannya di Indonesia, karena itu aku benar-benar merasa kecolongan saat tahu Jenny sudah melakukan serangan frontal terhadap Peter, dan aku yakin sebentar lagi Peter akan menyiapkan pembalasannya.

“ Vic loe serius mau tunangan ? “ tanyaku tak percaya, sementara di meja kasir terlihat Jack dan Edi yang tengah sibuk berdebat tentang minuman yang akan mereka pesan, keduanya selalu terlihat seperti anak kecil.

Vic tersenyum.. “ Ya gitu, lagi kalian sudah bikin persiapan juga kan ? “ tanyanya

Aku menganguk meski aku membeli jas kemarin lebih disebabkan agar aku memiliki alasan yang cukup untuk bertemu Jenny.

“ Loe tahu tentang tunangan Jenny Vic ? “ tanyaku lagi, penasaran

Vic terdiam sesaat berfikir..

“ Pernah cerita, tapi gw juga ga terlalu jelas masalah itu .. “ Sesaat aku mendengar keraguan dari jawabannya itu

“ Yang paling penting, kita harus waspada di hari pameran Jenny.. “

Aku menganguk setuju

“ Bener, kita harus bener-bener waspada.. waspada sama terkurasnya dompet dan tabungan “ Edi menyela sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dan duduk di bangku sebelahku.

~ On The X days ~

1p8a1976

Aku memasuki ruangan ballroom tempat perhelatan itu di gelar, Edison dan Jessica yang datang bersamaku telah lebih dahulu menghilang, Jessica yang termasuk shopaholic langsung menyerbu koleksi terbaru yang terpajang di etalase. Aku tahu hari ini Jessica akan menguras habis uang Edison. Sementara Jack berjalan ke belakang menuju ruang tunggu menemui Karen yang menjadi bintang utama malam ini, bersama Angel tentunya agar tidak terjadi perang lanjutan.

Aku memasuki ruangan utama, barisan orang-orang dari berbagai umur mengerumun di dekat catwalk sementara yang lain menikmati peganan ringan yang ada di sudut-sudut ruangan, Vic melambai kecil, aku segera berjalan mendekati dirinya bersama Mell yang sedang menikmati zuppa Soup semangkuk berdua.

“ Mau ga Ry ? “ tanya Mell dengan logatnya yang lucu. “ Enak lohh “

Aku mengangguk dan mengambil sebuah zuppa Soup dari atas meja dan meminta pelayan menghangatkannya sebentar sebelum kunikmati.

Sementara Mellisa berbincang dengan Cheryl, Vic mendekatiku sambil mengunyah chesse cakenya.

“ Ada Peter.. “ dia mengingatkanku dan menepuk pundakku, memeper tangannya yang kotor pada kemeja yang kukenakan.

“ Sial loe.. “ ucapku sambil membersihkan jasku.

“ Ga dateng gw ke pertunangan loe.. jas mahal-mahal baru beli dirusak.. “ gerutuku

“ Haha.. becanda.. bersih tuh ga ada apa-apa.. “ katanya sambil membantu membersihkan jasku dengan sapu tangannya.

“ Ngapain kalian ? jangan homoan disini donk.. “ celetuk Mellisa.

Sementara aku dan Vic segera melupakan kemesraan kami dan kembali merapikan jas yang kami pakai.

“ Selamat Malam saya ucapkan untuk para hadirin yang telah berkenan pada peragaan busana malam hari ini, sungguh kehormatan untuk saya Jennifer Adrian untuk menyambut anda semuanya pada malam hari yang begitu indah ini.. “ Jenny berdiri di atas panggung, dalam balutan gaun putih panjang menutup kedua kakinya, sebuah tiara bermata permata dengan anting panjang, riasan make up seperti yang biasa dilakukannya saat menghadiri pesta dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai indah, dia mengenakan sarung tangan putih panjang, yang mungkin untuk menutupi luka-luka di tangannya.

Aku tertegun sesaat menikmati keindahannya yang sempurna malam ini, sebelum dia memulai peragaan busananya, aku tersenyum tersadar dari lamunanku dan beranjak keluar, menuju samping panggung,
Di samping panggung itu terdengar riuh rendah tepuk tangan dari para tamu undangan, suara gumaman orang serta music yang mengantar para peragawati berjalan diatas catwalk. Kulihat bagaimana Jenny dan para asistennya terlihat cukup tegang membantu para pramugari memakaikan pakaian mereka, para pramugari yang berjalan di atas catwalk dan langsung berlari saat tertutup tirai, berlari tergesa mengenakan pakaian yang disiapkan oleh mereka, tempat yang steril dari para lelaki kecuali para banci make up. Aku sendiri hanya bisa mengintip sambil berpura tak tahu saat orang-orang menyapaku.

Hampir satu jam aku memperhatikan Jenny dengan seksama hingga pakaian terakhir yang ditampilkan selesai dan masih belum ada tanda-tanda kehadiran Peter, sementara Jenny duduk diatas kursi rias dengan seseorang yang membantu merias wajahnya untuk dia kembali ke atas panggung memberikan kata penutup pada para tamu yang hadir.

Dia berjalan keluar melewati tirai, sementara aku melihat wajah orang yang kucari berbincang dengan Vina.. itu Peter dia terlihat berbicara serius dengan Vina, sementara Vina kembali ke ruang rias dan menganti pakaiannya dengan yang lebih sederhana, dia berjalan keluar sesaat kemudian, merasakan ada sesuatu yang tak beres, tanpa pikir panjang aku langsung mengikuti Vina ke luar.

Mengendap saat Vina berhenti sesaat menatap kearah panggung, Jenny berdiri diatas panggung, dengan seorang lelaki yang berlutut di depannya memberikan sebuah bunga sebelum kemudian berdiri dan memberikan kecupan pada Jenny, wajah Jenny yang terlihat tersenyum bahagia saat ciuman itu mendarat di pipinya.

Siapa lelaki itu ? aku tak mengenalnya. Tidak mengenalnya sama sekali..

Vina tampak memandang kesal ke panggung itu, sama dengan aku saat ini. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat, jadi apa benar yang dikatakan Jenny, dia sudah memiliki tunangan, yang mungkin saja tante Merry pun tidak mengetahuinya ? sangat mungkin mengingat hubungan mereka yang sebenarnya kurang akrab.

1p8a1984

Jadi sekarang aku harus bagaimana ? melepaskannya ? aku tidak rela.. sungguh.

Selarik kemudian nyaris saja aku kehilangan Vina yang berjalan keluar, kulihat dia yang memasuki pelataran parkir dan membuka pintu mobil Jenny, dia membuka bagasi belakang dan mengambil sebuah tas dari bagian belakang mobil Jenny. Aku masih mengamatinya dengan seksama dari kejauhan.

Sementara tak lama kemudian berjalan kearah depan mobilnya sesaat dia mengenakan sebuah sarung tangan, aku langsung bergegas keluar menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Aku mengengam tangan Vina keras-keras, mencegahnya menaruh sebuah bungkusan berwarna putih didalam box tepat dibawah kursi sebelah pengemudi.

Aku menatap tajam, mata Vina yang terlihat begitu terkejut melihat kehadiranku.

“ Ryan.. “ Dia terlihat begitu terkejut melihatku

Matanya seolah melirik ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu, aku menariknya keluar dengan kasar.

“ Awwww… “ dia berteriak kesakitan saat aku sedikit mendorongnya

Dia bangun setelah sempat terjatuh.

“ Ga perlu kasar gitu juga kali.. “ bentaknya kasar

“ Loe yang ngapain !! mana tadi ? “ aku berbalik mencari benda yang tadi hendak dimasukan oleh Vina.
Aku tak menyadari saat seseorang menolongku dari belakang, aku berbalik saat mendengar seseorang yang terjatuh di belakangku, Angel menindih Vina sementara tangan mereka memperebutkan sebuah jarum suntik dari tangan Vina.

Aku berbalik, berusaha membantu Angel, namun sedikit ragu melihat bagaimana Jarum itu berada begitu dekat dengan tangannya, terlihat jelas kalau Angel kalah kuat dibandingkan dengan Vina, tak berfikir panjang lagi, aku menarik Angel sekuatnya, sementara itu justru membuat jarum itu terlempar diantara kami.
Detik itu juga, gerombolan orang mulai berdatangan.

“ Ci pergi ci… Pergi sekarang.. “ Angel tak menghiraukan tangannya yang terluka, sementara aku menatap bingung keduanya, aku tahu ada jebakan dibalik ini semua tapi apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan diriku dan Angel sekarang, sedangkan Angel malah melepaskan Vina begitu saja yang bisa menjadi kambing hitam ini semua.

Vina bangkit dan berlari di belakang mobil, aku hendak mengejar Vina, namun Angel menahanku..
“ Sory ko Ryan soryy.. “ Dia menangis dan menunduk berkali-kali, sementara kulihat tangannya mengengam jarum suntik itu dan

Dia menusuk dirinya sendiri dengan jarum itu.

“ Angel !!!!!! “ aku terkejut melihatnya melakukan hal sebodoh ini.

Hal yang benar-benar bodoh, aku tak mengerti apa yang dilakukannya sementara tubuhnya terjatuh sesaat kemudian, saat orang-orang itu berdiri di belakang kami.

Aku terjebak sekarang..

To Be Continued
###

450x100

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s