MY DIARY [023] Sally Sendiri

berita dan cerita bokep

Aku harus meninggalkan kota ini, bukan selamanya namun untuk sementara. Ini sebenarnya bukan pelarian dari Mega, namun aku menjalankan perintah Herman. Dan ini tidak merugikan, bahkan sebuah surprise buatku. Herman memberikanku tiket ke Bali, itu juga bukan pembelian Herman, namun hadiah.

Tempat usaha kami menyediakan minuman juga berupa bir hitam, mungkin agak tidak baik kalau aku sebutkan merk nya, namun bir hitam ini cukup ternama dan sangat laku di sini. Distributor bir itu memberikan hadiah untuk bos Herman berupa jalan-jalan ke Bali, semua ongkos ditanggung oleh pihak distributor itu, dan liburan kami bukan sehari, namun dua minggu.

Bagaimana tidak menggiurkan? Herman yang sibuk dengan keluarga barunya menyerahkan liburan ini kepadaku. Sebenarnya Tono juga pantas mendapatkannya, tapi Herman punya rencana lain untuk liburan Tono, sehingga ada satu merk produk lagi yang sedang Herman kejar untuk surprisenya Tono.

Hari senin tepatnya jam tujuh pagi, aku meminta bantu Tono mengantarku ke distributor bir hitam itu, karena kami harus berkumpul di sana sebelum berangkat. Tono pun meninggalkan ku di sana, aku masuk ke kantornya dan di suruh menunggu di ruangan yang cukup besar seperti ruang rapat, sudah ada beberapa orang, kulihat mereka juga ternyata mendapat hadiah liburan ini. Sekitar lima orang, termasuk aku, satunya aku kenal, dia adalah Rahmat, bos pemilik cafe remang-remang Santai Selera.

Lalu seorang bapak-bapak masuk ke ruangan dengan berpakaian seragam merk bir hitam itu. “Selamat pagi semua…”, dia mulai menyapa dan memperkenalkan diri. Namanya Victor, panitia yang akan membimbing kami dalam acara liburan sekaligus perkenalan lebih dalam mengenai produk mereka. “Sambil menunggu yang lain, mari kita saling memperkenalkan diri…”, katanya. Ternyata banyak juga yang mendapatkan hadiah liburan ini, mungkin mereka semua adalah penjual terbaik untuk bir hitamnya.

Selain Rahmat, tiga lainnya bukanlah bos, hanya perwakilan saja seperti aku ini, ada yang dari warung remang-remang, cafe, dan tempat karaoke. Mereka adalah Bambang, Gusti, dan Gayus. Tak lama dari itu pintu diketuk, beberapa orang yang kami tunggu masuk keruangan, dua pria dan satu wanita.

171

Lalu mereka pun memperkenalkan diri, dua pria itu bernama Hendra dan Rendy, mereka juga mewakilkan tempat usaha mereka, dan si wanita itu bernama Sally, ternyata ia adalah pemilik Sally Spa and Sauna. Hmm, Sally Spa dan Sauna cukup terkenal di sini, tidak disangka sang pemilik yang mengambil liburan ini, dan sangat tidak disangka lagi adalah Sally masih muda, mungkin umurnya aku prediksi baru 28-30 tahun.

Lengkap sudah, delapan seller yang diundang sudah berkumpul, kemudian Victor mulai bercerita mengenai asal mula perusahaan mereka yang cukup membosankan bagiku. Ku lihat yang lain juga tidak serius mendengarkannya. Malah aku lebih berfokus memperhatikan Sally, ia cukup cantik, parasnya yang ayu tidak termakan usia, rambutnya lurus panjang sedikit pirang, senyumnya pun memiliki lesung pipi yang manis. Tapi bagaimana ia menghandle usahanya yang juga ‘plus-plus’ itu? Sedang aku sendiri mendengar bahwa Sally belum berkeluarga, padahal usianya sudah lebih dari batas cukup untuk menikah.

Sedikit berimajinasi membayangkan tubuh seksi si Sally, membuat penisku sedikit mengeras. Aku tidak peduli lagi dengan pembicaraan sang panitia. Lalu ku perhatikan yang lainnya, ternyata mereka juga sebentar-bentar melirik ke arah Sally. Aku terdiam sesaat dan pura-pura mendengar pembicaraan panitia, agar tidak ada yang curiga aku memperhatikan Sally. Kembali ku berpikir, Sally tidak akan jablay, karena tempat usahanya yang seperti itu, aku yakin ia menikmatinya.

Jam keberangkatan kami adalah pukul 14:30 menggunakan pesawat Batavia Air dari Jakarta langsung ke Bali. Sebelum berangkat, kami masih berkumpul untuk makan-makan. Kami menjadi sedikit akrab dengan makan bersama, dan kami sudah merasakan nasib seperjuangan di mana kami bekerja di profesi yang hampir sama, yaitu ‘plus-plus’.

Tak sabar menanti tibanya di Bali, aku pun tertidur sepanjang perjalanan. Hingga aku dibangunkan oleh Victor, mengatakan kami sudah sampai di bandara Soekarno Hatta, yang lain minta diantar beli kerperluan terlebih dahulu sambil menunggu jam penerbangan Jakarta-Bali. Perwakilan bir hitam dari Jakarta menjemput kami dengan mobil APV hitam yang penuh dengan tempelan logo bir hitam itu.

Kami dipisah menjadi dua kelompok. Aku bersama Rahmat, Hendra dan Sally, sedangkan Rendy, Bambang, Gusti dan Gayus di mobil lainnya yang dipandu Victor. Aku tidak menghiraukan mereka untuk belanja apa, aku sedikit capek hingga jam keberangkatan kami ke Bali.

Sampai di sana jam sudah malam, kami di bawa ke sebuah hotel yang mana masing-masing menempati satu kamar. Aku segera istirahat karena besok kami akan sedikit disibukkan dengan presentasi dan permainan dari penyelenggara. Aku sebenarnya tidak menyukai acaranya, aku cuma butuh liburannya. Aku pun segera tertidur di kamar hotel yang cukup mewah ini.

Terbangun tepat jam tujuh pagi, segera bergegas untuk mengikuti acara hari ini. Aku sedikit bosan, dari pagi si Victor hanya membahas tentang produknya saja. Aku lihat yang lain juga tidak memperhatikannya. Setelah itu siangnya kami makan bersama, kemudian kami diberi permainan tebak-tebakan, sedikit teka-teki, namun aku malas memikirkannya. Saat itu selesai, penyelenggara baru mengijinkan kami bebas bermain di pantai. Asyik pikirku, tidak akan pusing dengan sumpalan info tak bermutu dari si Victor.

Kami awalnya berjalan bersama menuju pantai, dengan sedikit percakapan kami pun menjadi sedikit akrab. Hanya saja di pantai, kami mulai dengan kesibukan sendiri, bermain air, bermain pasir, foto-foto. Hahaha, yang aku perhatikan cuma satu, banyak gadis-gadis memakai bikini di sini, ada bule juga.

Tapi mataku tertuju pada si Sally, tububnya seksi sekali. Ia hanya duduk di tepi sambil berbincang dengan Victor, entah apa yang dibahasnya, namun mereka lalu berjalan pergi bersama-sama. Aku tidak menghiraukan mereka lagi, namun aku tidak ingin menyia-nyiakan moment mengabadikan diri dengan berfoto di pantai.

Hari mulai malam, aku dan teman-teman segera kembali ke hotel untuk beristirahat. Cukup lelah juga, aku lalu segera mandi agar lebih segar, karena malamnya kami akan makan bersama lagi.

Bertemu di restoran hotel, semua sudah lengkap dengan pakaian rapi, semua terlihat sudah segar dan siap mengisi perut sebelum tidur. Di meja bundar kami di kumpulkan dengan makanan yang penuh dan bervariasi. Victor meminta kami menikmatinya dan jangan sungkan, lalu ia meninggalkan kami. Yah, aku tidak akan sungkan, makanan enak begini mana akan aku sia-sia kan.

Sambil makan, kami masih sempat obrol-obrol dan bercanda. Kulihat yang lain juga sedang memperhatikan Sally, karena bajunya yang sedikit terbuka terlihat belahan dadanya yang montok. Wuih, sedap sekali makan sambil memandang belahan dada Sally.

Si Rahmat malah sebentar-bentar menggoda dan memuji Sally, benar juga sih yang dikatakan Rahmat, Sally memang cantik. Yang lain juga malah ikut-ikutan membicarakan Sally. Hingga Sally terlihat malu dan pipinya memerah. “Ah, kalian terlalu memuji…”, jawab Sally.

181

Sally terlihat termakan bujuk rayu mereka, “Habis ini kita nonton bareng yukz…”, ajak Rahmat. “Ayooo….”, jawab Sally. “Di kamar Sally aja…”, tambah Sally. Yang lain senyum kegirangan seperti sudah punya rencana. Makanan belum dihabiskan tapi mereka sudah bergegas meninggalkan meja. Aku yang sudah tahu akan gelagat mereka juga tidak mau ketinggalan, pesta ini tidak boleh aku sia-siakan. Kami pun segera menuju ke kamar Sally. Tujuh orang pria mengikuti seorang wanita. Sally menuntun kami hingga ke kamarnya.

Sampai di kamar, Rahmat meminta jatah pertama, ia segera melepaskan semua pakaiannya. Sedangkan Sally dibantu Rendy dan Bambang untuk melepaskan pakaian. Aku biarkan mereka bersenang-senang, kunyalakan televisi untuk melihat apa ada film bagus untuk ditonton sambil menunggu giliran. Hendra, Gusti dan Gayus juga ikut melepaskan pakaian, walaupun mereka tahu terlalu ramai, namun mereka cukup sabar menunggu sambil memainkan penis mereka.

Tubuh indah Sally merangsangku, penisku menegang langsung. Apalagi adegan mereka seperti sedikit hardcore. Hendra dan Rendy memegang tangan Sally, pakaian mereka sudah lepas semua. Dada montok Sally sangat menawan, putingnya yang hitam gosong namun kecil itu telah mancung ke depan. Susunya bulat padat, keren sekali, body nya putih muluh dan seksi, sangat terawat. Ku pandangi hingga ke bawah, bulu jembutnya sangat lebat hingga aku tidak dapat memperhatikan vaginanya.

Rahmat sudah tidak sabaran, tanpa mau ‘warming up’, dia langsung mengarahkan penisnya ke vagina Sally. Sedangkan Rendy dan Henda sedang asyik mengenyot buah dada bulatnya Sally. Rendy menikmati yang kiri, dan Hendra menikmati yang kanan.

Ku tekan remote tv mencoba mencari film yang bisa ku tonton, namun tidak ada satu pun yang menarik. Akhirnya aku buka acara musik saja, ku putar keras lagu yang sedang main ‘Party Rock Athem’ milik LMFAO. Keren banget lagu ini, hampir aku berjingkrak-jingkrak menikmati lagu ini. Si Gusti, Gayus dan Bambang malah semakin semangat menikmati lagu ini, mereka berjoget sambil memainkan penis mereka masing-masing.

Si Rahmat dengan semangat terus menggenjot Sally, “Argh…”, desahan Sally menikmati sensasi gangbang ini. Buah dada nya sedari tadi tidak dilepaskan dari sedotan Hendra dan Rendy.

Melihat yang lain sudah bugil semua, aku pun membuka pakaianku sambil berjoged, berharap giliran ku segera tiba. Penisku pun sudah mengeras, aku hanya bisa mengocoknya dengan tanganku. “Shufflin’ Shufflin’… Everybody’s shufflin’…”, aku bersama teman lainnya yang menunggu giliran berjingkrak terus.

Hingga terdengar suara ketukan pintu hingga kami semua kaget dan terdiam. Aku pelan-pelan mengambil remote tv dan mengecilkan suara tv. Yang lain terdiam sambil menatap curiga ke arah pintu. Aku kemudian berjalan mendekati pintu, pelan-pelan ku intip dari lubang pintu, “Victor…”, sebutku pelan.

Sally lalu melihat ke arahku, “Biarkan dia masuk…”, kata Sally. Aku sedikit ragu karena keadaan kami sekarang ini. Namun Sally sepertinya sangat yakin dengan keputusannya, lalu kubukakan pintu. “Wah, lagi pesta ne…”, kata Victor masuk sambil membawa sebuah dus besar. “Nih, gue bawakan kawan buat temani…”, katanya sambil meletakkan dus itu di lantai.

Gayus segera membuka dus itu karena penasaran, “Wow, ini kawan yang bagus…”, katanya sambil menarik sebotol bir hitam merk Guinness keluar dari dus. Semuanya bersorak “Yes!”, ketika mengetahui isi dus itu adalah bir hitam. Aku pun segera mengambil sebotol juga untuk menemaniku menunggu giliran.

Rahmat kemudian melanjutkan aktivitasnya memompa vagina Sally. Rendy dan Hendra sudah bosan, mereka lalu berebutan mengambil bir hitam. Bambang dan Gusti lalu menggantikan posisi Hendra dan Rendy dalam mengenyot susu Sally.

Aku kembali memutar lagu tadi, namun sudah mau habis. Victor lalu ikut melepaskan pakaiannya, sepertinya daritadi dia sudah tahu apa yang kami lakukan. Jangan-jangan tadi di pantai sudah dia planning kan bersama Sally. Lagu selanjutnya ternyata lagu lokal, ‘Di Balik Awan’ dari Peterpan, karena lagunya tidak begitu semangat, terpaksa aku memutar channel lagi, mencoba mencari channel yang lebih asyik. Namun tidak ada satu pun channel yang cocok, terpaksa aku mematikan televisi.

Aku terus menenggak bir hitam yang begitu nikmat, begitu pula dengan teman lainnya. Sally terlihat sangat menikmati genjotan Rahmat, ia mungkin sangat suka dengan gaya gangbang begini.

“Oh yessss……”, desahan Sally begitu jelas terdengar dikupingku. Percintaan mereka sungguh membuat aku meneteskan liur. Kini mereka hanya berdua, Rahmat kemudian memeluk tubuh Sally dan terus menggenjotnya. Sedangkan kami hanya bisa menikmati bir hitam sambil menunggu giliran.

Beberapa menit kemudian Rahmat pun menarik keluar penisnya, nampaknya ia akan mencapai puncak ejakulasi, ia lalu menarik rambut Sally untuk memintanya mengulum penisnya. Sally yang begitu saja mengikuti permintaan Rahmat langsung mengulum penis Rahmat, hingga Rahmat orgasme dan menyemprotkan sperma di dalam mulut Sally. Cairan sperma itu memenuhi mulut Sally, bahkan hingga menetes keluar karena mulutnya tak cukup menampung.

Melihat Rahmat kemudian menarik penisnya dari mulut Sally dan kemudian menjauhinya, pria-pria lain lalu segera bangkit dan berebutan. Seperti serigala yang kelaparan melihat seonggok daging mentah yang siap disantap.

Kali ini perebutan dimenangkan Hendra, ia tak mau didahului yang lain, ia langsung menusukkan penis besarnya ke lubang vagina Sally. Sedangkan yang lain karena kalah dalam perebutan hanya bisa menyingkir, hanya Gayus saja yang tidak mau mundur, ia memanfaatkan mulut Sally yang sedang nganggur.

9

Sally kini harus melayani dua penis sekaligus. Penis Hendra mengobok vaginanya, dan penis Gayus memompa di mulutnya. Rahmat kini bergabung dengan kami untuk menikmati bir hitam bawaan Victor. Sedangkan aku sedari tadi tak beranjak dari sini, sedikit malas untuk berebutan dengan pria-pria mesum ini. Biar nanti saja tunggu mereka sudah lelah, maka aku lebih leluasa menikmati tubuh Sally.

Kini Sally tidak terdengar desahan Sally lagi, mulutnya sudah disumpal penis besarnya Gayus. Hendra menggenjot vaginanya dengan sesekali meremas buah dadanya yang montok itu. Kaki Sally diangkat Hendra ke atas bahunya hingga Hendra lebih leluasa menarik keluar dan mendorong masuk penisnya di vagina Sally.

Victor kemudian bangkit dari tempatnya, menjauhi dari kumpulan kami, ia berjalan mendekati Sally, lalu ditariknya tangan Sally, dan diarahkan ke penisnya. Victor meminta Sally mengocokkan penisnya dengan tangan. Dasar, pria-pria ini tak mampu menahan nafsu, tingkat kesabaran mereka hanya secuil.

Kuluman maut Sally sepertinya ampuh membuat Gayus harus beristirahat segera. Kulihat Gayus menegang hingga memajukan pinggulnya, tampak ia sedang berejakulasi. Sally merem menelan sperma yang Gayus semprotkan langsung hingga ke kerongkongannya.

Penisnya masuk penuh di dalam mulut Sally, hingga Sally hampir tersedak olehnya. Kemudian Gayus menarik keluar penisnya yang sudah mulai loyo, dan menjauhi Sally.
Melihat itu, Victor lebih leluasa diservis Sally.

Penisnya dikocok bergantian dengan tangan dan mulut Sally. Sedangkan Hendra masih asyik memompa vagina Sally dengan penuh semangat. Bambang dan Rendi kemudian segera bangkit, mereka tidak mau kalah dengan Victor, berebutan untuk merasakan isapan mulut Sally. Hingga Sally harus bergantian mengulum tiga penis pria-pria itu.

Permainan cukup lama hingga Hendra pun menarik penisnya dan menyemprotkan spermanya di dada Sally. Victor segera menggantikan posisi Hendra, sedangkan Rendy dan Bambang sudah mencapai ejakulasi dan menyemprotkan sperma mereka di dalam mulut Sally hingga belepotan di sekitar bibir Sally.

Kini hanya aku dan Gusti yang belum menyalurkan nafsu kami. Aku masih sedikit bersabar untuk mendapatkan giliran. Namun Gusti sudah tidak sanggup, ia lalu meletakkan botol bir nya lalu mendekati Sally. Disodorkannya penisnya ke mulut Sally.

Tidak nampak sedikitpun rasa capek di wajah Sally, ia malah semangat mengulum penis Gusti. Sedangkan vaginanya sedaritadi sudah beberapa penis yang menjebolnya. Kakinya diangkat sebelah oleh Victor hingga Sally terbaring menyamping, Victot menggenjotnya dengan penuh semangat tinggi. Sally yang menyamping asyik menyepong penis Gusti seperti menikmati sebuah permen lolipop yang super lezat.

Aku sudah merasa sedikit mabuk, entah berapa botol bir sudah aku habiskan sambil menunggu giliran, membuat pandanganku sedikit berkunang-kunang, kubiarkan mereka bersenang-senang dahulu. Aku menenangkan sedikit pikiranku agar tidak mabuk, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

Belum sempat menenangkan pikiranku, ku lihat Rahmat kembali bangkit dan mendekati Sally lagi. Kemudian disusul oleh pria lainnya, hingga aku merasa malas menunggu dan ketiduran di lantai.

Entah berapa ronde mereka habiskan bersama Sally, ketika kubangun semuanya sudah terlelap, hanya Sally yang tertidur dikasur, sedangkan lainnya terkapar di lantai bersama botol bir yang berserakan. Kulihat ke arah jam dinding ternyata sudah menunjukkan pukul lima pagi hari. Aku pun bangkit, dan coba mendekati Sally, tubuhnya sangat indah namun bau amis.

Seluruh tubuhnya penuh dengan sperma, aku lalu mencoba menyentuh dadanya yang indah itu, bulat padat. Ku remas hingga Sally sedikit terganggu tidurnya. Ia pun terbangun dengan wajah yang masih belepotan sperma, rambutnya acak-acakan, “Hmmmm….”, ia terbangun dan mencoba memperhatikanku.

Penisku mulai mengeras melihat Sally terbangun dengan sedikit kelelahan. Kubisikkan ke telinganya, “Sorry, gue lum dapat giliran…”. Sally hanya diam, ia terlihat sangat capek, lalu aku menariknya agar bangkit, lalu ku tuntun hingga masuk ke kamar mandi.

Lalu ku putar kran shower, Sally terlihat menggigil mendapatkan hujanan air dari shower, namun ia terlihat lebih terjaga. Pandangan ia mulai lebih segar, rambutnya basah hingga tidak terlihat acak-acakan lagi, lalu ku oleskan sabun ditubuhnya untuk menghilangkan bau sperma yang menempel di tubuhnya. “Dingin…”, katanya lalu memeluk aku.

Penisku yang mengeras mengenai sekitar vaginanya, menyadari itu Sally lalu memegangnya dengan tangannya yang lentik. Tubuhnya sudah harum oleh aroma sabun, kupeluk tubuhnya lalu kulumat bibirnya, ia segera membalasnya. Masih sambil mengocok penisku dengan tangannya, Sally bermain lidah di dalam mulutku. Aku pun mengelus punggungnya dengan tanganku, lalu mengarah ke bokongnya, dan ku remas kuat.
Ku arahkan ciumanku ke lehernya setelah cukup lama melumat bibirnya yang mungil.

Kujilati lehernya yang harum sabun, lalu menurun hingga ke dadanya. Putingnya yang mengacung ke depan segera kusedot. Kugigit kecil untuk memberikan sensasi nikmat kepada Sally. Susu sebelahnya lagi ku remas dengan tanganku. Ku pelintir pula putingnya dengan jariku. “Argh… Argh…”, desahan Sally terdengar dekat di telingaku, hingga ia kenikmatan dan menggigit kecil daun telingaku.

Aku pun kemudian berjongkok untuk melihat lebih jelas vaginanya. Ku usapkan dengan sabun di sekitarnya untuk membersihan sperma yang masih tersisa. Bulu-bulu yang lebat pun ku keramasi dengan sabun, lalu ku siram dengan air hingga bersih. Saatnya aku mencium vaginanya yang sudah harum dengan aroma sabun. Ku buka sedikit dinding vaginanya dengan jariku.

Klitorisnya nampak jelas hingga aku tertarim untuk menjilatinya. Sally masih terus mendesah nikmat, kujilati klitorisnya hingga ia menggelinjang kegelian. Kugigit kecil pula klitornya itu, Sally hanya bisa merem dan mendesah, kedua tangannya meremas susanyq sendiri. Sally sangat terangsang, hingga ia merintih, “Maassukiinnnn donnggggg……..”, Sally tak sabar agar vaginanya segera disumpal.

Aku pun kemudian bangkit, ku angkat sebelah kakinya Sally agar aku lebih mudah memasukkan penisku ke vagina Sally. “Argh…”, desahannya, “Asyiikkkk….”, ketika aku berhasil menghujamkan penisku ke dalam vaginanya.

Sungguh nikmat, tubuh Sally sangat terawat, putih dan mulus, walaupun umurnya yang sudah tidak lagi muda, namun tubuhnya masih langsing layaknya anak gadis lainnya. Wajahnya pun tidak muncul kerutan, usianya tersembunyi oleh raut wajahnya yang awet muda, kalau orang tidak mengenalnya, mungkin akan menebak bahwa umur Sally hanya 23-25 tahunan saja.

7

Pelan-pelan ku genjot vagina Sally, kumasukkan dan tarik dengan penuh perasaan. Penisku sangat hangat, seperti sedang dijepit dinding vagina yang bergerak memijitnya. “Ohh… Yessss….”, desahku. Susunya yang segar kembali kuremas dengan tanganku. Tubuhnya yang basah malah terasa hangat menyentuh kulit-kulit tubuhku.

Sally kini sangat segar, ia malah bersemangat digenjot oleh ku, tar tersirat sedikitpun kalau dia baru melayani beberapa pria. Terasa bulu-bulu jembutku menyentuh dengan bulu-bulu jembutnya yang lebat ketika ku dorong masuk penisku hingga tak tersisa.

Batang penisku penuh masuk hingga ke dalam ujung vaginanya, hangat dan memberikan sensasi yang sangat berbeda. Sally menggigit bibir bawahnya menahan nikmat yang aku berikan. Kemudian terus kutarik dan kumasukkan penisku lagi di vaginanya, pelan-pelan hingga aku memepercepat iramaku.

Suara percikan air terdengar namun masih kalah dengan suara hantaman penisku di vagina Sally, ‘ceplok ceplok ceplok’ hampir seperti itu suaranya. Sally semakin lemas, sepertinya dia juga akan orgasme, kurasakan ada sensasi air yang bergejolak di dalam vaginanya, seperti ombak-ombak laut yang terus menerpa. Kurasakan hangat air mengalir keluar hingga membasahi dan menetes di selangkanganku.

Sally hanya merem dan mendesah nikmat, aku masih menggenjot vaginanya hingga Sally benar-benar lemas. Lalu kutarik penisku karena takut berorgasme di dalam vaginanya, ku tarik dan ku tekan Sally berjongkok untuk mengulum penisku. Sally pun menjilati penisku yang basah hingga ke buah jakarku, kemudian ia mengulumnya. Sebentar-bentar ia menggocoknya dengan tangannya.

Akhirnya aku tidak tahan dan segera berejakulasi, spermaku banyak sekali menyemprot keluar dari penis dan masuk ke dalam mulut Sally, ia pun segera menampungnya dengan mulutnya. Sally pun tidak membiarkan sedikitpun sperma yang tersisa, ia menjilati penisku hingga benar-benar bersih.

Beberapa saat yang nikmat bersama Sally, sangat tak terlupakan. Lalu ku matikan shower, dan kukeringkan tubuh Sally dengan handuk. Masih belum puas, sebelum keluar dari kamar mandi, aku masih sempatkan menyedot ke dua buah susu Sally.

Ketika keluar, ternyata Bambang dan Rendy sudah bangun, “Wah, sudah harum…”, kata mereka. Lalu mereka berdua menarik Sally dan membawanya ke kasur dan melanjutkan percintaan seperti semalam. Sally tak menolak, ia hanya pasrah disetubuhi kembali oleh Bambang dan Rendy.

Aku kemudian memakai kembali pakaianku, dan keluar dari kamar. Sebelum keluar, kulihat pria lain juga terbangun dengan suara gaduh percintaan Sally dengan Bambang dan Rendy. “Mana man?”, tanya Victor. “Cari angin bentar…”, jawabku. “Hari ini bebas, tak ada pertemuan…”, kata Victor melanjutkan. Lalu mereka berbondong-bondong kembali mengerumuni Sally.

Aku pun keluar dari kamar dan coba berkeliling sebentar. Sempat bertemu dengan seseorang yang rasanya aku kenal, namun kubiarkan, setelah puas melihat sekeliling, aku pun kembali ke kamar untuk melanjutkan ronde selanjutnya. Sally sudah tidak sadarkan diri, namun pria-pria masih terus menggenjotnya. Seperti semalam, aku masih menunggu giliran.

TAMAT

450x100

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s