Tepian Hati : Angella Christine #3

tuigirl-068-015BERITABOKEPBLOG – Aku terkaget melihat Jack yang menatap tajam padaku, sementara aku sedikit mendorong ci Vina yang tengah menciumku, apa yang aku lakukan, kenapa aku membiarkan ci Vina menciumku tadi, bodohnya aku.

Tiba-tiba ci Vina membelai wajahku lembut, “ Aku pulang dulu ya.. “ Katanya dengan penuh nada mesra, aku tak mengangguk tak juga menjawab perkataannya itu,

Aku hanya diam menatap Jack yang tak melepas pandangannya dari-ku sekarang, ya Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang ?

Ci Vina berjalan keluar, setelah mengatakan sesuatu pada Jack. Entah apa yang dikatakannya pikiranku berfikir terlalu banyak hingga tidak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh ci Vina, dan lagi aku sedang berfikir keras, apa yang harus katakan pada Jack sekarang ?

Aku meraih tongkat bantu berjalanku.

“ Kamu mau ngapain ? “ tanya Jack lembut, dia berjalan perlahan kearahku, dia masih terlihat sabar melihat apa yang aku lakukan tadi.

Sesekali dia memegang perutnya berusaha agar perutnya tidak bergerak terlalu banyak.

“ Kamu gimana kata dokter ? “ kataku dengan nada aneh, berusaha mengalihkan permasalahan

“ Hmm.. ini ? gapapa koq.. minggu depan aku lepas jahitan.. gimana kaki kamu masih sakit ? “ tanyanya lembut sambil memeriksa kakiku, “ Aku pakaiin salep dulu ya sayang.. “ Katanya sambil berusaha berjalan keluar.

“ Ga usah yang.. “ aku mencegahnya.. “ Tadi aku dah pakai kok.. “ upsss kenapa aku mengatakannya, pasti Jack tahu sekarang kalau ci Vina yang memakaikannya untukku, bagaimana kalau dia sampai cemburu dan bertanya begitu dalam. Haruskah aku menceritakan tentang diriku dan ci Vina pada Jack?

Jack menghela nafas, kembali duduk di ranjangku.

“ Kamu kenapa maksain diri keluar tadi ? “ tanyanya “ kan susah kamu pakai salep sendiri, tunggu aku sebentar ya sayang lain kali.. “ katanya sambil membelai kepalaku begitu lembut.

Aku tak tahu harus menjawab apa, dalam keadaan ini.. apa aku harus cerita kalau aku dibantu ci Vina tadi, bagaimana kalau Jack cemburu ?

“ Ga koq, aku ga sakit, tadi sekalian aja keluar.. “ kataku menjawab pertanyaan Jack, sambil memalingkan wajah tak berani menatap Jack, takut dia tahu kalau aku membohonginya

Lagi-lagi dia menghela nafas, kenapa susah sekali untuk berbohong, apa aku harus mengaku sekarang??

Aku meremas bantalku, dan membenamkan wajahku di bantal

“ Yang tadi Vina ya sayang ? “ tanyanya tiba-tiba.

Aku mengangguk.. darimana Jack tahu tentang ci Vina ?

“ Kamu tahu Vina sayang ? “ tanyaku polos..

Dia tersenyum.. mengangguk.. “ Aku tahu kok, tapi aku memilih diam selama ini.. “ jawabnya lembut..

Jadi selama ini dia tahu, dia tahu dan tetap memilih diam, masih mencintaiku dengan penuh rasa sayangnya.. aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Aku tak tahu kalau semua malah akan menjadi sepelik ini.

“ Aku tahu sayang, meski ga tahu banyak.. tapi aku pengen denger itu semua langsung dari kamu, bukan dari orang lain, dan aku akan menunggu kamu, selama apapun waktu yang kamu butuhkan.. karena mungkin semuanya hal yang bener-bener bersifat pribadi buat kamu.. “ ucapnya.

Aku menutup wajahku lagi, tak berani menatap jack yang terlihat begitu serius,

“ Aku.. “ ucapku tertahan..

“ Aku bisa cerita ke kamu.. tapi.. “ kataku masih sedikit ragu.

Jack mendekat dan langsung memeluk-ku erat..

tuigirl-068-025

logo-home

“ Kamu harus tahu sayang, apapun yang kamu lakukan, itu ga akan merubah sedikitpun rasa sayang aku ke kamu.. “ dia membisikiku, membiusku dengan kata-kata manisnya yang selama ini diucapkan olehnya, aku percaya, sedikit merasa tenang, karena selama ini dia tak pernah mengingkari ucapannya itu.

“ Sayang.. liat aku.. “ aku menarik tangan Jack.. aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku sekarang, dia tersenyum lembut seolah memberikanku keleluasaan untuk mengatakan ini semua.

“ Aku.. aku juga ga tahu,.. tapi mungkin aku biseksual… kamu tahu kan biseksual ? “ tanyaku.. aku menahan nafasku, kalimat sederhana ini berarti begitu berat untuk-ku, sebuah kejujuran yang bahkan aku pun tak yakin dengan kebenarannya.

Wajah Jack tak bisa menyembunyikan keterkejutan, meski sepertinya dia sudah menduganya.. tapi mendengar hal ini langsung dariku pasti tetap membuatnya terkejut. Dia memainkan jemarinya sama seperti kebiasaannya saat berfikir keras.

“ Maafin aku.. “ sambungku, menahan diri untuk tidak menangis.

Jack hanya diam tak menjawab..

“ Kamu marah ?? “ tanyaku.. tak tahu harus mengatakan apa lagi, aku berusaha mendekatinya, perlahan memutar kaki-ku agar dapat bergeser kesebelahnya.

Aku memeluk Jack, mencium pipinya.. dia menatapku.

“ Kamu yakin dengan ucapan kamu tadi ? “ tanyanya.. berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Aku menatap Jack dalam.. membiarkan kedua mata kami bertemu dan dalam detik ini kami terdiam, menatap penuh harap dalam arti sorot mata itu.

Dan dia mendekapku sekarang.. begitu erat dan wajahnya berada tepat di depan wajahku.. tanpa menungguku dia langsung mencium bibirku, tidak lembut seperti biasa, sedikit kasar dan lidahnya yang langsung menusuk masuk dalam bibirku, berusaha mengait lidahku dengan lidahnya.

Aku terhenyak sedikit berusaha untuk mendorongnya, namun dia berubah dia menciumku begitu lembut sekarang, menggodaku dengan sentuhan nakalnya di mulutku, sebelum mencium bibirku, mencium pipiku dan turun ke leherku.

“ Yang… “ Aku menggelinjang geli, sementara lidahnya terus mencumbuku.

Aku merengut rambutnya sedikit, lembut tidak keras hanya memintanya untuk berhenti menciumku disitu, dia kembali naik kali ini aku membalas ciumannya, dia memagutku begitu lembut dan sesekali membelai rambutku begitu hangat.

Dan entah apa yang aku pikirkan sekarang kenapa aku begitu pasrah saat kurasakan, untuk kedua kalinya tangan Jack menyentuh buah dadaku itu, tangannya menempel di dalam sana, sentuhan tangannya di kulit payudaraku, tubuhku mendesir sesaat kemudian..

Aku tak menolaknya, tak menolak tangannya yang mulai meremas lembut dadaku itu, ciumannya yang menempel turun ke bagian dadaku itu, kurasakan bagaimana sentuhan bibirnya di dadaku yang masih terbalut kaus yang kupakai.

Ya Tuhan bagaimana ini, dia tidak puas dengan sentuhan-sentuhan itu, dia masih mengejarku lebih lagi, dan lagi dia menarik kausku sekarang, belum menariknya lepas karena aku masih sempat menahannya,

“ Jangan dibuka.. “ aku berbisik meminta dia tak melepas pakaianku itu.

Namun bibirnya menempel di kulit payudaraku sekarang, aku mendesir sedikit geli merasakan sentuhan bibirnya itu, tangannya masih meremas lembut sebelum berambat ke belakang, melepas pengait braku itu.. aku tercekat namun lagi-lagi aku membiarkannya. Aku membiarkan dia menatap buah dadaku yang kini berada di depan tatapan matanya tanpa selembar benangpun .

Wajahku terasa begitu terbakar, memerah tak pasti,. Merasakan sentuhan nafasnya di kulit buah dadaku itu, dan tubuhku bergetar merasakan sebuah sensasi yang berbeda saat dia mengigit kecil puncak dadaku itu, tubuhku sedikit mengangkat dan tangannya terus meremas buah dadaku itu..

Aku tak mengerti ini semua.. kenapa aku melakukan ini semua..

Apa karena aku takut Jack marah dan meninggalkanku, atau karena aku tahu Jack begitu menginginkan ‘ini’ atau karena aku memang mencintainya.

Dan aku menarik wajahnya, menghentikannya dari menciumi buah dadaku itu..

“ Jack.. maaf.. “ kataku..

“ Aku ga bisa.. “ Aku memalingkan wajahku, tak berani menatapnya..

Dia kembali duduk.. “ Sory.. “ ucapnya..

Sementara aku kembali memeluknya.. “ Maafin aku.. “ aku menangis memeluknya..

“ Aku ga siap dengan ini semua.. “

“ Aku yang minta maaf.. aku ga akan melakukan ini lagi sampai kita menikah.. maafin aku.. “ katanya.

Aku mengangguk, entah kenapa aku mengangguk..

Dia tersenyum..

“ Aku mau ajak kamu ketemu seseorang.. ya.. “ Katanya..

tuigirl-068-023

logo-home

Aku mengikuti Jack masuk ke dalam restaurant itu, sebuah ruangan di lantai atas restaurant yang sudah dipesannya entah apa yang akan dilakukannya sekarang, aku memang tak pernah bisa menebak apa yang akan dia lakukan, dan sepanjang perjalanan dia memilih untuk terus diam tak menjawab pertanyaanku.

Satu persatu anak tangga berlantai kayu kususuri, jantungku yang berdegup kencang.. dari raut wajah Jack sepertinya dia ingin melakukan sesuatu yang penting.

Seorang pelayan membukakan pintu untuk kami, di dalam telah duduk dua orang yang tidak kuduga sebelumnya. Aku langsung menunduk memberikan senyuman termanisku pada dua orang itu, kedua orangtua Jack, dari cara mereka menatap kami sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang akan dikatakan.

“ Siang Tante.. Siang Om.. “ Aku tersenyum sementara om Andreas langsung menyalamiku dan memintaku untuk duduk. Aku duduk tepat di depan tanta Hilda, sementara Jack duduk di sebelahku tepat di depan om Andreas. Ini adalah pertemuanku yang kedua dengan mereka dalam 2 minggu ini dan kali ini aku benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Jack.

Tak lama makan siang kami datang, acara makan siang itu pun berjalan seperti biasa dengan sedikit perbincangan basa-basi. Sesaat setelah makan siang kami selesai tiba-tiba Jack menyela dan mengatakan sesuatu secara begitu terbuka, aku pun terkejut dengan apa yang dikatakan olehnya itu.

“ Mah.. Pah.. aku mau bicara sesuatu yang penting.. “ om Andreas segera meminta pelayan yang melayani kami di ruangan itu untuk keluar,

“ Iya, kenapa Jack ? “ tanya om Andreas sambil meminum air perasan jeruknya

Aku menebak apa yang akan dikatakannya ? apa dengan cara yang sama dia akan mengatakan bahwa kami akan mengakhiri hubungan kami berdua, di depan kedua orangtuanya.. padahal baru dua minggu yang lalu dia mengatakan bahwa kami berdua berpacaran, dan di depan kedua orangtuanya juga, dua minggu yang lalu dia mengakui bahwa hubungannya dengan Karen sudah berakhir sejak satu tahun yang lalu.

Dan apakah aku akan bernasib sama dengan Karen, dimana Jack mengakhiri hubungannya dengan Karen di depan kedua orangtuanya, dan kalau memang itu yang akan dikatakannya, apakah aku harus mengiyakan kalau dia ingin mengakhiri hubungan ini, setelah apa yang terjadi dua minggu lalu aku tak tahu apa yang ada dipikirannya sekarang, dia masih tetap datang memperhatikan aku, menyiapkan makanan untuk-ku bahkan dia menunda pertemuan ini sampai aku dapat berjalan lebih normal tanpa bantuan tongkat bantuku.

Tanpa sadar aku meremas tangan Jack yang berada di pahaku. Aku menatapnya bingung sementara dia tersenyum menatapku.

“ Mah.. aku tahu apa yang mama omongin ke Angel waktu itu.. “ tiba-tiba dia mengatakan itu tanpa ragu sedikitpun, raut wajah tante Hilda berubah terkejut dengan apa yang dikatakan oleh anaknya itu, tante Hilda menatapku curiga, aku menggeleng tanpa sadar menjawab tatapan matanya itu.

“ Bukan Mah aku tahu bukan dari Angel, tapi Karen… “ . “ Karen juga ga tahu apa yang mama katakan, dan Angel juga ga mau cerita.. tapi aku mau nebak apa yang mama bilang ke Angel.. “ Jack menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.

“ Mah.. mungkin mama bisa saja telah merencanakan banyak hal dengan orangtua Karen, bisa juga mungkin mama minta alasan kenapa Angel lebih baik dari Karen, atau mungkin.. “

Sesaat sebelum Jack melanjutkan kata-katanya tante Hilda menyela

“ Iya, tapi bukan dengan kata-kata seperti itu. Mungkin Angel bisa menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman disini.. “ tante Hilda sekarang memintaku menjelaskan pada Jack, sementara om Andreas masih terlihat tenang melihat tante Hilda dan Jack yang seperti mulai bersitegang.

“ Kamu tenang dulu, memang apa yang dibilang sama Mama kamu membuat aku sangat bimbang.. yang pertama seperti yang kamu bilang tadi, Mama kamu memang pernah membicarakan masalah pernikahan kamu sama Karen.. “

Jack lagi-lagi menyela.. “ Iya, bener kan.. gini Mah.. aku ga akan nikah sama Karen, dan kayaknya juga sudah cukup jelas kalau Karen pun ga mau nikah sama aku.. Kita telah membicarakan masalah ini dan Karen menolak usulan itu ke orang tuanya.. “ Jack terlihat begitu emosional

“ Kamu kira Mama akan maksa kamu untuk hal sepele kaya gitu ? “ bentak tante Hilda tak bisa lagi menahan kesabarannya.

“ Ga karena itu bukan hal sepele buat aku, aku yang jalanin mah dan aku ga mau dipaksa.. “ Jack tak mau mengalah

“ Kamu bisa diam dulu ga ? “ aku balas membentak Jack, kesal melihat caranya yang kasar seperti itu
Jack terdiam melihatku yang untuk pertama kalinya membentak dirinya.

“ Kamu denger dulu, dari tadi semua orang bicara kamu potong terus.. “ aku sampai berdiri kesal sambil memanyunkan bibirku, sementara om Andreas hanya tertawa dan memintaku melanjutkan dengan tangannya yang mempersilahkanku untuk berbicara.

“ Mama kamu memang bilang gitu, tapi dia bilang itu bukan masalah dan semuanya tergantung kamu tergantung kita, dia cuma minta satu hal, satu hal simple sebenernya.. tapi aku takut, aku takut ga bisa melakukannya.. “

Jack melunak dia tidak lagi keras, dia tersenyum dan membelai rambutku.

“ Kenapa sayang ? apa yang bikin kamu takut ? kamu ragu aku sayang sama kamu ? “

Aku menggeleng, bukan itu yang aku takutkan..

“ Kamu tahu orangtua aku bercerai, aku ga tahu bagaimana aku bisa melayani kamu dengan baik, aku takut aku ga bisa jadi tempat kamu mencurahkan semua perasaan kamu, pemikiran kamu, aku ga pernah punya contoh yang bisa menjadi gambaran buat aku. “ Jelasku.. mataku pasti memerah sekarang, masalah orangtuaku selalu menjadi masalah yang berat buatku, cenderung memberikan rasa trauma buatku.

“ Mama kamu cuma berharap kalau aku bisa menjadi yang terbaik buat kamu, mama kamu berharap aku bisa membuat kamu jadi lebih baik.. orang tua kamu sama sekali ga mengatakan kita harus berpisah, ga juga mengatakan aku ga pantas buat kamu.. aku yang gak yakin kalau aku pantas buat kamu.. “ Jelasku, menutup mataku.

“ Kamu bisa Angel.. setidaknya kamu bisa membuat Jack lebih baik sekarang.. “ tiba-tiba om Andreas mengeluarkan pendapatnya, kata-katanya terdengar begitu lembut dan berwibawa.
Aku menatap om Andreas yang memberikan sapu tangannya padaku.

“ Kamu tahu.. Jack dulu ga punya keberanian seperti ini.. demi kamu dia bisa.. dan Jack yang selalu meledak-ledak seperti tadi.. dia mau mendengar apa yang kamu bilang.. hmm mungkin kamu masih harus lebih berusaha untuk mengerti dia, tapi setidaknya modal kamu sudah cukup.. “ om Andreas tersenyum, sementara tante Hilda memeluk-ku dari belakang.

Sesuatu yang benar-benar membuatku terharu, karena baru kali ini aku merasakan sebuah kehangatan keluarga yang begitu utuh.

Aku tersenyum saat tante Hilda menciumku, sementara Jack hanya terdiam mencerna apa yang dikatakan oleh Papanya..

“ Maaf ya.. aku agak kasar tadi.. padahal kamu paling benci kalau aku kasar.. “ dia tersenyum seraya menaruh tangannya di pipiku seperti biasa.

Aku mengangguk.. “ jangan begitu lagi ya.. plizzz… “ pintaku.

Dia tersenyum sambil membentuk tanda V dengan jemari tangan kanannya.

tuigirl-068-021

logo-home“ Yang kita omongin kemarin kamu bisa lakuin sayang ? “ tanyanya

Aku terdiam, menatapnya yang tengah menganti gigi mobilnya, dia tersenyum tapi masih ada sedikit kekhawatiran di wajahnya.

“ Kasih aku waktu ya.. boleh ? “ tanyaku

“ Boleh, kamu bebas kapan aja mau melakukan itu, tapi aku harap apa yang menjadi jawaban kamu, akan menjadi komitmen kita nanti.. “ Dia kembali tersenyum

“ Darimana kamu tahu kalau Mama kamu nemuin aku waktu kamu di rumah sakit di Malang itu ? “ aku masih tak tahu dari mana dia tahu kejadian ini.

“ Hmmm.. aku tahu dari Karen, dia kasih tau aku.. memang sih aku yang tanya, karena aku lihat kamu sering banget bengong dan kayaknya mikirin sesuatu yang penting.. tetapi tiap aku tanya.. kamu ga pernah jawab juga yang.. “ jelas Jack, ternyata Karen yang memberitahunya aku sendiri tak tahu kenapa sekarang aku tidak merasakan rasa cemburu saat Jack menyebut nama Karen. Malah aku merasa seperti Karen sedang mendukung hubungan kami sekarang.

Aku menjawab penjelasan Jack dengan anggukan dan memilih untuk diam sepanjang perjalanan pulang.

Satu kekhawatiran aku hilang sekarang, masalah keluarga dan aku sadar bahwa semua akan menjadi tanggung jawab aku, tergantung diriku apakah mampu menjadi yang terbaik buat Jack, dan itu yang memberiku beban selama ini. Aku takut andai aku melakukan kesalahan apakah pengalaman itu akan terulang.. jujur itu yang paling aku khawatirkan dan aku tak tahu harus bagaimana sekarang.

Disatu sisi aku belum siap memberikan jawaban, di sisi lain aku juga tak bisa meminta Jack menunggu terlalu lama.

##

Aku melirik Jack yang terlihat begitu cemas,.. menatap matanya yang terlihat tidak tenang dan memaksakan diri untuk tersenyum, beberapa kali dia memainkan jemari seperti yang dia lakukan saat memikirkan sesuatu, aku menggenggam tangannya.

“ Aku buatin teh ya.. ada kue juga yang kemarin kita beli,, kamu mau ? “ tanyaku

“ Hmm boleh dech.. yang kamu kurang tidur ya ?? “ tanyanya memperhatikan mata ku yang berkantung padahal aku sudah mengunakan concealer untuk menutup mata pandaku itu.

Aku tersenyum sambil berjalan menuju dapur di belakang ruang tamu, memang butuh 1 malam penuh untuk membuatku mampu membuat sebuah keputusan, keputusan tentang hubunganku dengan Jack, sesuatu yang sangat diharapkannya. Apapun konsekuensinya.. termasuk kehilangan.. namun aku tak bisa menutupi perasaanku lagi.. ini jauh lebih baik daripada menyakiti perasaannya lebih lama.

“ Gapapa ya sisa kemarin nih.. tapi masih enak koq.. “ aku memotongkan rainbow cake untuk Jack, sementara dengan manja dia membuka mulutnya bersiap menerima potongan kue yang aku sendok-kan untuknya.

“ Enak kan masih ? “ tanyaku..

“ Enak kok, masih enak nih.. “ Dia mengunyah sambil memainkan cream gula di piring kuenya dan menempelkannya diwajahku.

“ Ich jorok protesku.. “ sambil memukul tangannya.. dan langsung mencubitnya kesal

“ Ampun-ampun, sini dech di bersihin.. “ katanya sambil mengambil tissue di meja..

“ Meremm.. “ pintanya, aku pun memejamkan mataku sementara kurasakan tissue itu membersihkan cream kue di keningku karena kenakalan Jack tadi.

“ Udah ?? “ tanyaku..

“ Belum, sabar.. “ Dan tiba-tiba Jack mencium bibirku.

Aku terdiam, ragu untuk membalas ciuman itu..

Kubiarkan bibirnya menyapu bibirku, lidahnya yang sesekali berusaha menyela. Aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa sekarang.

“ Tok tok tok.. “ beruntung seseorang yang aku tunggu mengetuk pintu, sementara Jack kembali menampilkan muka tegangnya, lebih dari sebelumnya, aku tahu dia pasti menyadari aku yang menghindari ciumannya itu, tapi aku tak ingin menciumnya saat ini.. aku tak tahu apa yang aku lakukan itu tepat.. tapi aku merasa harus melakukan itu saat ini.

Aku membuka pintu rumahku, dan ci Vina yang berdiri di balik pintu langsung memelukku, sepertinya dia sengaja melakukannya untuk memberikan penekanan lebih pada Jack.

“ Duduk ci.. “ kataku sambil mengandengnya duduk tepat berhadapan di depan Jack, sementara aku duduk di tengah mereka.

“ Hmm.. kayanya kalian dah tahu kan kenapa aku ajak kalian kesini.. “ tanyaku, aku tahu pasti saat ini suaraku begitu bergetar, aku sendiri tak yakin dan takut dengan apa yang aku lakukan sekarang, keduanya mengangguk.

“ Jujur aku sendiri ga tahu harus melakukan apa, ci Vina.. aku dah cerita ke Jack tentang kita, tentang hubungan kita yang lebih dari sahabat, .. Jack kamu juga sudah tahu kalau aku dan ci Vina seperti ini, aku juga sudah liat bagaimana kamu memperjuangkan aku. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu lebih lanjut tentang aku, sesuatu yang aku belum cerita ke kamu selama ini. “

“ Kamu yakin mau cerita sayang ? “ tanya ci Vina sengaja menampilkan kemesrasaanya padaku dengan menyentuhkan tangannya pada tanganku yang begitu dingin sekarang.

Aku mengangguk, sementara wajah Jack terlihat begitu tegang mendengarkan kata-kataku.

“ Seperti yang pernah aku bilang ke kamu, aku biseksual.. mungkin.. tapi aku menyadari kalau aku memiliki ketertarikan lebih pada salah satu jenis kelamin.. jujur aku mengakuinya dan kamu sudah tahu itu, tapi kamu ga tahu apa yang membuat aku seperti itu kan.. “ tanyaku memulai ceritaku.

Jack hanya menggeleng dia terlihat terlalu tegang, sedangkan aku hanya berharap dia mampu mendengarkan ceritaku tanpa marah terlebih dahulu, apa lagi bertindak kasar.

“ Kamu tahu orang tua aku bercerai, dan mereka bercerai waktu aku berusia 5 tahun.. aku mungkin masih kecil saat itu, tapi aku dapat mengerti dan mengingat apa yang terjadi di depanku.. aku dapat melihat bagaimana mereka bertengkar, Papa aku anak orang kaya dan sama sekali tidak punya kemampuan untuk mencari uang, Mama aku dari kalangan orang biasa.. sementara Mama aku bekerja keras mencari uang, Papa hanya mengharapkan uang dari kedua orang tuanya. “ aku berusaha menahan untuk tidak meneteskan air mata, setelah ini aku harus menceritakan bagian yang paling membuatku trauma.

“ Mama kerja keras untuk mencukupi kehidupannya, keluarga Papa ga memberikan uang yang banyak karena mereka tidak menyetujui pernikahan Mama dan Papa, dan disisi lain Mama memang terbiasa mandiri, dia memang bekerja sejak dulu meski tidak menghasilkan banyak uang, tapi setidaknya dia tidak pernah meminta uang sesen pun pada Papa.. “

“ Dan sampai akhirnya aku melihat, bagaimana Papa yang makin tergila-gila dengan Judi, tergila-gila dengan perempuan bahkan membawa perempuan masuk ke rumah, tidur bersama sedangkan aku dan Mama seolah terusir dari rumah kami sendiri.. sakit rasanya.. “ aku tak bisa lagi menahan air mataku.

Sementara ci Vina memeluk-ku, Jack hanya menatapku dengan penuh perhatian.

“ Kamu tahu Jack.. kamu mirip Papa aku. Kamu anak orang kaya, sampai saat ini aku belum pernah liat kamu berusaha mendapatkan sesuatu, kamu selalu bisa mendapatkan apapun yang kamu mau, kamu bisa membeli mobil semahal apapun, kamu bisa membelikan aku pakaian, perhiasan semahal apapun itu. Kamu bisa mengajak aku ketempat-tempat yang romantic, kamu bisa mengajak aku ke mana pun yang aku mau.. “

“ Aku ga menyangkal, kalau aku bahagia mungkin ini juga yang mama rasain waktu pacaran sama Papa.. tapi itu saat mereka pacaran,. Aku takut Jack aku takut mengulangi apa yang aku alamin dulu, aku ga pernah merasakan kasih sayang pria dalam hidup aku dulu, aku takut kalau rasa sayang kamu ke aku berubah nanti. Berubah menjadi kekasaran seperti apa yang Papa lakukan ke Mama dulu, dengan gampangnya memukul istrinya sendiri. “

Tak ada kata yang diucapkan oleh Jack.

Hanya mengambilkan teh yang tadi aku buatkan untuknya untuk kuminum..

Aku meminum teh itu untuk sedikit meredakan tangisanku.

tuigirl-068-019

logo-home

“ Jujur aku sangat trauma dengan apa yang aku lihat, melihat di depan mataku sendiri waktu Mama menangis, Papa yang malah menampar Mama waktu Mama menangis, sampai akhirnya mereka bercerai dan Mama mendapatkan aku. Aku melihat bagaimana dia bekerja begitu keras agar kami bisa makan, agar aku bisa sekolah dan kemudian kamu pikir darimana uang untuk masuk universitas semahal ini ?? “

Jack mengeleng tak tahu..

“ Udah ya, kamu ga harus cerita semua sekarang kan “ bujuk ci Vina berusaha menghentikanku untuk melanjutkan kata-kataku.
Aku mengatur nafasku, lagi berusaha mengatur emosiku

“ Kamu pikir aku bahagia bisa kuliah di tempat mewah ini ? tinggal di rumah ini ? “ tanyaku pada Jack

Dia mengangguk.. dia dengan yakin mengangguk.

Aku memejamkan mataku,

“ Papa dengan seenaknya memaksaku kuliah di tempat ini, dengan mudahnya dia menekan Mama agar melepaskanku, dengan alasan tanggung jawabnya sebagai orang tuaku, dia tak mau melihat aku berkuliah di tempat yang tidak elite. Kata-katanya itu seolah menghina hasil kerja Mama selama ini, dan kamu tahu aku benci itu.. “

Aku agak menekan kata-kata benci agar Jack lebih memahami maksud kata-kataku.

“ Ci Vina. ci Vina yang memberikan aku kehangatan saat aku sampai di sini, dia mencintai aku dengan begitu tulus, dan saat aku merasa sendirian dia yang menemani aku.. “

Ci Vina tersenyum dan memeluk-ku lebih erat.

“ Aku tahu, aku membuat sebuah keputusan yang menyakitkan.. bukan hanya untuk salah satu dari kalian,.. tapi juga buat aku.. aku mohon setelah ini kalian tidak mempermasalahkan masalah ini lagi, ini keputusan aku.. dan aku harap kalian bisa mengerti .. “

“ Boleh aku bicara ? “ tanya Jack tiba-tiba.. sesuatu yang aku harapkan sejak tadi.

Aku mengangguk mengiyakan..

“ Aku yakin kamu bahagia sayang,.. aku yakin kamu ga pernah menyesali keputusan Papa kamu itu.. kenapa ? karena kamu bisa ketemu Vina.. dan sekarang kamu ketemu aku.. kamu jadi milik aku dan aku rasa itu sangat berarti buat kamu.. “

Aku terdiam mendengar pembelaannya, pun juga tak menyangkal kata-katanya itu.. aku bahagia dengan keputusan Papa, karena ‘itu’.

“ Heh.. loe pikir semua cewe itu gila apa ? “ ci Vina berusaha melindungi-ku dengan kata-katanya

Sementara Jack membalasnya dengan mengacungkan telunjuk di depan mulutnya, meminta ci Vina untuk diam.

“ Cewe itu memang gila.. dan lelaki itu mahluk yang bodoh, mereka suka sekali melakukan hal-hal yang menurut sebagian orang mustahil, memaafkan sesuatu yang bodoh, atau mencintai seseorang yang mungkin.. “ dia mengangkat bahunya.

“ Tapi itu yang membuat cewe mencintai lelaki.. kenapa ? karena mereka tergila-gila pada seseorang yang melakukan hal bodoh untuk mereka.. “ Jack tersenyum.. menatapku.

Aku memalingkan wajahku..

Aku menghela nafas panjang..

“ Jack.. ci Vina..aku mau membuat keputusan.. dan tolong kalian hargai keputusanku ini..“

To Be Continued

###

300x250

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s