Tepian Hati : Ervina Natalie #1

tuigirl-068-016

Aku terbangun dengan tubuh yang penuh peluh, ingatan masa laluku bermain dalam mimpi. Tubuhku yang basah oleh keringat, kulirik jam meja yang berada di sebelahku, pukul 4 pagi diluar sana langit masih begitu gelapnya, aku menuju kamar mandi ruang kamar kostku, melirik bayanganku yang terpantul dari cermin di depanku,

Aku membasuh wajahku dengan air dari kran wastafel, aku memandangi pantulan diriku di cermin itu dalam-dalam, tubuh ku yang hanya terbalut kaus basket tanpa bra didalamnya, lekukan buah dadaku yang tergantung indah disana dengan sebuah tattoo tulisan di belahan kanan dadaku, aku tersenyum melihat betapa cantiknya diriku, mata yang bulat indah, bulu mata yang lentik, bibir yang merekah sensual, dan tubuh yang begitu indahnya, aku memiliki semua yang diinginkan oleh wanita lain, tapi aku tidak seberuntung mereka, setidaknya aku tidak pernah merasakan cinta seperti mereka.

Aku lelah dengan semua pria yang mendekatiku, lelah dengan semua bualan dan omong kosong mereka, lelah dengan semua kata-kata gombal mereka. Derrick ya Derrick yang membuatku membenci semua ini, ditambah lagi apa yang Peter lakukan padaku, semua menambah rasa mualku pada sosok pria.

tuigirl-068-002

logo-homeBagiku sekarang mereka hanyalah sekumpulan pecundang yang harus kumanfaatkan sebisaku, sebelum kemudian aku membuang mereka, seperti bagaimana Derrick membuangku dulu.

Derrick .. Derrick dan sosok itu yang akan terus menghantuiku, seseorang yang begitu mudahnya menghempaskanku, tak pernah perduli bagaimana aku memintanya untuk kembali, memintanya untuk tetap memeluk-ku erat.

Aku menangis tanpa sadar aku merasakan bagaimana dia memeluk-ku lagi, aku merasakan kehadirannya sekarang, merasakan bagaimana dia merangkulku di ruangan ini dulu, memeluk-ku menciumku, membawaku naik ke atas kasurku, sentuhan tangannya, sentuhan bibirnya di bibirku. Ah aku yang selama ini begitu membencinya.. apakah aku hanya seseorang yang berpura-pura membencinya?

Aku merengut rambutku sendiri sekarang, sebelum kembali membasuh wajahku dengan air.. aku berjalan gontai menuju ranjangku, ranjang yang merengut segala kehormatanku atas nama cinta. Aku masih teringat saat aku melakukannya, rasa sakit itu, namun penuh keharuan sebuah rasa yang sulit diucapkan hanya sebuah kebahagiaan saat memberikannya pada orang yang begitu aku sayangi saat itu, cinta pertama-ku, seseorang yang menundukkan segala egoku, membuatku berhenti memainkan perasaan seorang lelaki, tapi juga seseorang yang membuatku lebih jahat lagi nanti.

Pelukannya saat menyentuhku, kata-kata manis yang memanjakan hatiku, ciumannya saat menghentikan air mata yang mengalir dari pelupuk mataku saat itu, kata-kata manisnya yang meredakan semua rasa bersalah dan penyesalanku.

Aku menarik selimut, mimpi buruk tadi membawaku tenggelam hingga ke titik ini..

Mataku melirik, tak ada yang dapat kupastikan dari guratan abstrak langit-langit kamarku, pikiranku yang melayang terbang menuju masa lalu yang begitu memberikan rasa trauma untuk-ku, hanya sebuah getaran dari ponselku yang membawaku kembali, aku melirik kearah ponselku mengambilnya dengan tanganku dan melihat sebuah miscall tercetak dilayarnya.

Angel.. kenapa dia menghubungiku ? si polos itu pasti tengah bimbang saat ini, dia tidak siap seperti yang aku katakan, semua lelaki itu berengsek apalagi jenis seperti Jacksen Andres itu, buatnya semua wanita itu hanya mainan, dan untuk melindungi diri kita dari lelaki semacam itu, adalah memperlakukan mereka sama seperti mereka memperlakukan kita.

Dan mungkin seperti yang pernah aku katakan, saat ini pasti Jack telah mencampakkannya.
Aku mematikan lampu tidurku, menarik selimutku hanya berharap agar Angel bersabar hingga aku datang besok, aku harus merebutnya kembali dari tangan bajingan itu.

##

Aku berdiri di depan pintu rumahnya sekarang, Angel si gadis polos yang begitu lugunya saat kami pertama kali bertemu, saat dia dengan kacamata tebalnya mendaftar di universitas ini, dengan lugunya dia bercerita banyak hal tentang keluarganya, bercerita banyak hal tentang dirinya, tentang rasa trauma nya dengan sosok lelaki,

Kata-kata yang menyadarkan bahwa kami berdua sama, memiliki rasa trauma yang begitu besar pada sosok seorang lelaki.

Aku mengetuk pintu rumahnya, suara manjanya itu terdengar dari dalam rumah..

“ Sebentar.. “

Perlahan pintu itu terbuka, aku melihatnya berdiri di depanku.. wajah lugunya yang sama seperti dulu, hanya sekarang telah menjelma menjadi begitu cantik, dia sangat cantik aku tahu itu dari pertama kali kami bertemu, senyumannya begitu suci, dan garis matanya yang menunjukan kepolosan, hanya memerlukan beberapa polesan untuk berkembang dengan sempurna.

“ Ci Vina.. “ Katanya seolah tak percaya melihatku.

Aku tersenyum menatapnya, dan langsung memeluknya melepaskan semua kerinduanku tentang dirinya.

Dia pun memeluk-ku begitu erat.

tuigirl-068-011logo-home“ Masuk ci.. “ Ajaknya menarik tanganku, sementara kulihat dia berjalan pincang dengan tongkat penyangga..

“ Kamu kenapa Ngel ? “ tanyaku panik langsung memapahnya kearah kursi

“ Eh iya gpp koq ci, aku jatuh.. “ jawabnya, lirik matanya seperti ini bercerita lebih banyak, aku tahu harus perlahan menghadapinya seperti dulu, sebelum dengan polosnya dia akan bercerita.

“ Kamu kenapa sayang, koq bisa begini sih.. “ aku melihat kakinya yang ternyata masih di balut perban, “ Kemana Jack ?? koq ga temenin kamu ? “ lanjutku..

“ Hmm, ada koq ci, dia lagi ke rumah sakit.. “ , “ Maaf ya ci, bisa tolong ambilin salep aku ga ? “ pintanya

“ Ke rumah sakit ? “,” kalian kecelakaan ?? “ tanyaku lagi lebih kawatir sambil mengambilkan salep untuknya di lemari dekat meja makan.

“ Kenapa dia ga jagain kamu sih ? “ gerutuku

“ Hmm.. gapapa koq ci. Kemarin aku jatuh aja.. “ Dia tersenyum, dengan wajah polosnya sangat mudah untuk tahu kalau Angel sedang membohongiku sekarang.

“ Yawda sini, biar aku aja yang olesin ya.. “ aku menunduk membantu mengoleskan salep itu untuk Angel, “ Ga ada yang patah kan sayang ?? “ tanyaku lagi

“ Ga koq, cuma keseleo biasa aja Ci.. “ Dia tersenyum, sedikit menggigit bibirnya saat aku mengusap lembut kakinya, mungkin menahan rasa sakit padahal aku sudah berusaha selembut mungkin, sepertinya cederanya cukup parah.

“ Kamu tuh aneh-aneh aja.. koq bisa sih.. “ kataku setelah selesai mencuci tanganku..

“ Tiduran aja dech di kamar ya.. “ aku khawatir melihatnya yang memaksakan diri untuk duduk, dari wajahnya yang terlihat kurang nyaman dalam posisi itu, perlahan aku memapahnya untuk berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Membantunya berdiri sambil menuntunnya berjalan selangkah demi selangkah, membukakan pintu kamarnya dan membantunya merebahkan diri di atas ranjang.

“ Maaf ya ci, aku jadi ngerepotin.. “ aku memperhatikan bagaimana dia tidak memanggil sayang padaku dengan manja sepertiku, dia seolah berusaha menghindari kata itu, terlihat dari bibirnya yang bergerak sesekali menahan mulutnya berucap kata itu.

“ Kemarin kenapa kamu nelepon pagi-pagi.. miscall aja malah.. “ tanyaku sambil mengupas jeruk kesukaanya yang aku bawa tadi.

“ Ah.. iya ci.. maaf ya.. aku takut ganggu.. “ katanya menunduk sambil memanyunkan bibirnya manja.

“ Dasar kamu tuh sayang.. sini aaaaa dulu.. “ kataku menyuapi jeruk itu untuknya, dia langsung membuka mulutnya dan mengunyahnya dengan begitu manja.

“ Kamu lain kali, kalau mau telepon ya telepon aja.. kayak ma siapa aja dech.. “

“ Ya abis dah pagi banget kan ci.. “, “ aku ga enak.. “ lanjutnya lagi sambil membuka mulutnya lagi manja.
Aku menyuapi satu jeruk lagi untuknya, sementara aku kembali memancingnya.

“ Aku belum tidur sayang, dasar kamu tuh.. kenapa kamu lagi banyak pikiran ya ? “ tanyaku

“ Ah enggak koq, “ dia mengelengkan kepalanya beberapa kali., “ Ga papa cuma kangen aja.. “ dia tersenyum bohong.

“ Kamu tuh.. kan aku dah bilang.. kamu tuh ga bisa bohong tau ga.. “

“ Sini cerita.. apa aku tebak aja say ? “ aku tersenyum mengodanya

“ ahhhh.. beneran ci.. ga ada apa-apa.. “ ucapnya panik.

“ Yawda.. yawda.. “ Aku menyuapinya sepotong jeruk lagi

“ Jack sering pergi malam ? “ tanyaku memancing..

“ Enggak koq.. ga pernah malah kayanya, kalau pergi pasti jemput aku.. “ Jawabnya sambil mengelengkan kepala.

“ Hmm.. Jack baik kan sama kamu ? “ tanyaku lagi.

“ Iya dia baik, perhatian meski emank agak cuek.. tapi dia romantic ci.. cici tau kan aku paling suka hal-hal yang romantic gitu.. “ dia mulai bersemangat, dan aku tahu si polos ini hanya perlu sedikit pancingan sebelum kemudian akan bercerita lebih banyak hal lagi padaku.

“ Oh gitu ya.. cerita donk.. kamu aja ga pernah cerita waktu dia nembak kamu gimana.. “ pancingku

“ Oh itu, aku sebenernya pengen cerita dari lama, cuma waktu itu cici dah marah sama aku.. maafin aku ya ci. Ga pernah jujur tentang perasaan aku ke Jack selama ini.. “ , dia terputus menatap mataku, wajahnya dipenuhi rasa bersalah..

Aku tersenyum menjawab tatapan matanya itu, “ Gapapa kok sayang, maaf ya aku juga marah waktu itu “ aku mencium kening Angel.

“ Iya ci, mau denger cerita aku ga ?? “ jawabnya bersemangat. “ Jadi cici tau ga gimana dia nembak aku, dia pura-pura tabrakan, bikin aku panik dan akhirnya di rumah sakit dia berdiri dan nembak aku, gimana coba perasaan aku, disitu aku sadar kalau aku sayang sama dia.. “

“ Dan itu juga yang membuat aku mengiyakan permintaan dia untuk jadi pacarnya.. maafin aku ya ci, aku ga minta izin dulu sama cici.. “ Jelasnya.

Aku menganguk mengiyakan

Dalam situasi itu, gadis mana yang tidak dalam euphoria merasakan betapa dia mencintai seseorang, pintar memang, dan jelas Jack adalah seseorang yang pandai dalam mempermainkan hati wanita, dan aku harus melindungi Angel dari dirinya sekarang.

tuigirl-068-021

logo-home

“ Wajar kok Ngel.. kamu tuh.. jangan minta maaf terus.. nah cerita lagi donk.. “ pintaku.
“ Hmm.. cerita apa lagi ya ci.. “ wajahnya berfikir apa yang ingin diceritakannya.

“ Kamu tahu soal Karen ? “ Pancingku

“ Karen… “ Dia berfikir sesaat sebelum tersenyum.. “ Iya ci aku tahu soal Karen, dia mantan Jack.. ga nyangka ya pacar aku itu pernah pacaran sama artis idolaku.. tapi.. “ bibirnya bergerak lucu seperti tengah berfikir.

“ Dia ngeduain kamu sayang ? “ tanyaku sedikit straight to the point

“ Enggak enggak ci.. “ Dia terlihat panik, “ Ga gitu ci, justru meski pertama dia nutupin, tapi dia punya alasan, katanya dia takut aku minder.. hmm bener sih siapa yang ga takut kalau dibandingin sama Karen kan.. “

“ Angel angel.. kamu tuh polos banget sih.. “ aku tertawa mendengar kepolosannya… “ Kamu tuh lebih cantik daripada Karen, mana mungkin coba Jack milih Karen di banding kamu.. “

“ Ich.. cici sih ngeledekin aku.. hufttt “ Ucapnya manja sambil mengembungkan pipinya lucu.

“ Udah ah, jelek begitu.. ayo lanjutin lagi ceritanya.. “ pintaku mendengarkan dengan seksama..

“ Iya, jadi intinya.. Jack dengan tegas milih aku.. malah ci Karen yang bilang ke orang tua Jack, kalau aku pacar Jack sekarang.. “ dia tertahan sesaat seperti ragu-ragu dengan ceritanya..

“ Jadi orang tua Jack merestui hubungan Karen sama Jack ya ? “ aku berinisiatif bertanya

Angel mengangguk menjawab pertanyaanku itu

“ Hmm.. susah juga ya.. jadi kamu ada masalah sama orang tua Jack ? “ tanyaku lagi

Dia terdiam sesaat sebelum kemudian menjawabnya dengan mengangkat bahunya tinggi-tinggi

“ Yawda gapapa.. emank sih agak susah ya, kalau keluarga sudah mulai ikut campur.. “

“ Mama Jack ngomong sesuatu ke kamu ?? “ Tanyaku asal menebak..

Angel terdiam.. dia diam beberapa saat.. seperti ragu untuk bercerita.

Aku tersenyum tak mau memaksanya, Angel bukan tipe orang yang bisa dipaksa bicara.

“ Hmmm.. jangan cerita ke siapa-siapa lagi ya ci.. “ Dia menjawab dengan suara yang begitu lemah.
Aku mengangguk memeluknya, sepertinya dia memiliki beban yang begitu berat.

Aku duduk disampingnya lebih rapat, mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh orangtua Jack, atau lebih tepatnya, Tante Hilda mama Jack saat berada di rumah sakit, perkataannya lembut namun memberikan beban yang begitu berat untuk Angel tampaknya, tidak mudah untuknya, pertama kali memiliki pacar dan harus dihadapkan dalam situasi seperti ini.

Aku memeluknya, melihat Angel yang berusaha menahan tangisan, tidak ada kata kasar, tidak ada juga kata-kata marah dari ucapan tante Hilda, namun memberikan sebuah beban yang begitu berat untuk Angel, dia terlalu jujur, terlalu baik untuk bertingkah munafik sesuai permintaan tante Hilda.

Mungkin dia bisa dengan mudah mengatakan Ya, bukan tidak menjawab pertanyaan tante Hilda, namun si lugu ini memilih untuk menjawab dengan seluruh hatinya, menjawab jujur pertanyaan itu dengan sebuah permintaan lain untuk memberikan waktu untuknya berfikir. Padahal dia bisa dengan mudah menjawab ‘ya’ dan kemudian melimpahkan semua masalah pada Jack bila segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan olehnya.

“ Kamu tahu ?? “ Tanyaku

Dia menggeleng, membenamkan wajahnya di dadaku.

“ Mungkin jalan kamu akan sama terjalnya dengan orang tua kamu sayang.. “ aku mengeluarkan pendapat jujur bukan berusaha mempengaruhi Angel dengan kata-kataku.

Dia mengangguk sepertinya dia sadar dengan apa yang mungkin akan terjadi,

Aku menatap wajahnya setelah melepas pelukanku itu,

“ Jangan nangis ya sayang.. “ aku menyeka sebulir air matanya yang menetes di pipinya
Dia berusaha tersenyum..

“ Kamu tahu, seperti yang aku bilang, seorang wanita harus bisa melindungi dirinya, hampir semua cowo itu berengsek, dan permintaan itu tentu sangat memberatkan buat kamu, tapi kamu juga harus sadar sayang, ada aku,. Ada aku yang akan selalu sayang sama kamu.. “ aku mengucap itu dengan tulus
Rasa cintaku pada Angel masih begitu kuat.

Angel menganguk menatap mataku, dan lagi aku memeluknya dengan begitu erat.

“ Saat semuanya terlalu berat buat kamu, kamu bisa melepaskan Jack dan kembali ke aku ya sayang.. “ Aku membisik.. Angel diam tak menjawab, sebelum dengan berat dia mengangguk..

Aku tersenyum melihat anggukannya itu, sebuah jawaban yang tak aku duga sebelumnya, dia lemah seperti gelas kaca yang bisa hancur kapanpun dengan tekanan dari luar.

Dan aku yakin tak ada seorang pria pun yang bisa memahaminya lebih dari aku, tidak juga Jacksen yang sekarang entah dimana.

Kutatap dalam-dalam wajah Angel, menatap matanya yang begitu cantik, kudekatkan bibirku di mulutnya, perlahan menyentuh bibirnya dan melumatnya begitu lembut, dia tak membalas ciumanku, namun aku memancingnya lagi dengan sentuhan lidahku membasahi bibirnya.. berusaha menusuk masuk dalam bibirnya itu, perlahan bibirnya membuka..

Membuka membiarkan lidahku mulai masuk dalam mulutnya, mencium bibirnya dengan lebih mesra lagi, berkali aku terus mencoba menciumnya dengan lebih mesra lagi, beberapa menit aku mencoba lagi dan lagi, hingga akhirnya aku dapat meruntuhkan dirinya, perlahan lidahnya menyambut bibirku.

Menari dalam ciuman yang begitu hangat, bibir kami yang basah bertemu dan saling berciuman, ciuman yang telah begitu lama hilang dari hidupku. Aku mendesis merasakan sentuhan bibirnya itu. Tak percaya aku akan merasakan lagi ciuman dari orang yang begitu aku sayangi ini.
Sayang itu tak bertahan lama.

tuigirl-068-019

logo-home

Suara deheman seseorang menghentikan kami, di depan pintu kamar itu berdiri seorang lelaki, sepertinya dialah yang bernama Jacksen Andres karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan nya secara langsung.

“ Sory, ada apa ya ? “ tanyanya tegas.

Aku hanya tersenyum, sambil membelai lembut rambut Angel..

“ Aku pulang dulu ya.. “ Jawabku, sambil mengambil tasku dan berjalan melewati Jack yang masih berdiri di depan pintu kamar.

“ Sory ya, kalau udah ganggu.. “ kataku sengaja memancing..

Dia tak menjawab, sepertinya menangkap apa arti dari kalimat yang kukatakan itu.
Sebelum aku berjalan keluar, pergi dari rumah itu membiarkan Angel dan Jack menyelesaikan masalahnya sekarang.

To Be Continued
###

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s