Tepian hati : Febryant chester #2

moonhug.com_2016-07-25_10-16-45

Dear Diary,
Hari ini, lagi lagi aku menyakiti diriku sendiri,
Lagi-lagi aku melakukan kebodohan itu,
Terbangun di suatu tempat yang asing, untungnya masih ada Anne disana.
Aku masih mampu melindungi diriku, masih tidak membiarkan diriku terjatuh dalam seks bebas seperti dulu, tapi sampai kapan..sampai kapan aku menyakiti diriku seperti ini lagi

Dear Diary,
Hari ini hujan, sejak pagi.. dan entah kenapa aku masih kembali ke tempat itu
Menunggu .. entah apa yang kutunggu..
Butiran air yang menetes, bulir-bulir hujan yang sesekali menyentuh tubuhku karena tiupan angin,.
Ah aku masih menangis sekarang..

Dear Diary,
Andai kamu bisa membisik untuk-ku untuk tegar, untuk tegar lebih dari ini semua
Rasanya terlalu sakit, aku melihat nya hari ini, berpegangan tangan begitu mesra dengan wanita itu..
Ahhh dan lagi-lagi aku melakukan kebodohan itu.

Dear Diary,
Aku tak tahu, betapa bodohnya aku
Kali ini aku terbangun dengan seorang Pria tidur di sebelahku,
Dia tertidur sambil memeluk-ku, dan kami sama sekali tak berbusana
Ya Tuhan apa yang aku lakukan sekarang !!

=====================================================

Aku melihat sebuah bekas kertas yang mengering di sepanjang halaman itu, jejak air mata.. aku tahu Jenny menangis saat menulis kalimat demi kalimat ini.

Kututup buku itu, sebuah buku diary kecil yang diberikan oleh Karen, sebuah buku diary berwarna kuning bertuliskan ‘Tepian Hati’ sejenis hanya dengan corak yang berbeda dengan milik Cheryl. Buku Cheryl berwarna biru, sedangkan yang ini berwarna kuning. Warna kesukaan Jenny..

Kupeluk erat-erat buku itu, aku menangis sekarang.. menangis sendirian di kamar kostku yang entah kenapa menjadi begitu sunyi sekarang, aku teringat.. aku begitu merindukan senyuman Jenny, begitu merindukan suara tawanya, begitu merindukan pelukan hangat yang selalu mengantung di leherku dulu.

Seluruh tubuhku merindukannya.

Aku mengeluarkan dompetku, melihat sebuah foto didalamnya.. tak ada lagi foto ku dengan Cheryl disana, yang ada hanya foto Jenny yang tengah mencium kecil keningku.

rosi-1326-003

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

Aku berhitung, berfikir keras, atau lebih tepatnya bertanya pada diriku sendiri, apakah aku punya keberanian untuk melangkahkan kakiku mengejar Jenny sekarang, dan apa yang aku lakukan bukan lagi sebuah kesalahan perhitungan, bukan lagi sebuah kebodohan seperti yang aku lakukan saat itu. Aku yang membuat Jenny terjebak sekarang, aku orang yang paling patut disalahkan kalau saat ini dia terus menyakiti dirinya, lagi dan lagi..

Bodohnya aku.. aku memukul mukul meja belajarku hingga berderit kencang..

Aku bodoh, memang bodoh tapi tidak buta. Selama ini aku tahu, aku mendengar, aku melihat bagaimana Jenny menyakiti dirinya, tapi seolah tak perduli dengannya, aku bertingkah seolah aku adalah orang lain baginya, membiarkan dia menyakiti dirinya.

Aku membuang keperdulianku, bukan hanya mencoba membuang rasa sayangku padanya, namun aku membuang semua rasa perduliku, bertingkah angkuh, berfikir bahwa aku bisa mencintai Cheryl, walau kenyataanya aku membohongi diriku, sama dengan bagaimana Cheryl membohongi dirinya sendiri.

Aku yang berfikir kalau aku lebih baik dari Rey ? Cheryl yang berfikir bahwa aku lebih baik dari Rey, sejujurnya aku hanya seorang pengecut, aku adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kepercayaan pada diriku sendiri, karena itu aku memilih lari, aku yang tidak memiliki rasa percaya bahwa aku mampu memberikan kebahagiaan buat Jenny.. aku yang tak pernah berjuang untuk menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan untuk Jenny, aku yang dengan begitu pengecut mencoba memberikan Jennifer kebahagiaan dengan cara melepaskannya mencari kebahagiaan lain.

Aku jauh lebih lemah daripada Rey, meskipun dia menggunakan ototnya untuk menyelesaikan masalah, setidaknya dia berjuang menyelesaikan masalah dengan dirinya sendiri, bukan dengan melarikan diri seperti yang aku lakukan.

Aku yang membuat sebuah khayalan bahwa yang aku lakukan adalah untuk kebahagiaan Jenny, karena tak ada yang bisa aku lakukan saat itu selain melepaskannya.. no.. itu hanya sebuah pembenaran dari rasa takut..

Dan semua ini hanya aku.. aku.. dan aku.. semua karena aku.

Aku yang bahkan terlalu takut, setiap saat aku menyalakan ponsel tuaku.. yang berisikan nomor lamaku, ada harapku untuk melihat apakah Jenny masih merindukan, ada harapku untuk tahu apakah Jenny mengirimkan pesanku. Namun saat ponsel itu berdering.. aku selalu takut kalau Jenny menghubungiku. Aku takut untuk mendengar suaranya dari ponsel itu

Dan itulah aku yang begitu pengecut.

Aku menarik nafas panjang, bertanya pada diriku kesiapan diriku untuk esok hari, mungkin meski sangat kecil kemungkinannya aku akan bertemu Jenny di pemakaman Om Frans, Papa Rey besok, tapi lagi-lagi sisi pengecut diriku muncul. Aku merindukannya, namun aku begitu takut dengan kemungkinan bertemu dengan Jenny besok.

##

Jantungku berdegup begitu kencang, aku tahu tubuhku begitu tegang sekarang, lantunan doa dan nyanyian yang mampu memberikan ketenangan untuk arwah om Frans, ternyata tidak mampu memberikan ketenangan untuk jiwaku, orang-orang yang menangis mengelilingi peti mati om Frans, memberikan sebuah penghormatan terakhir untuk om Frans, banyaknya orang yang menaburkan bunga, menangis untuk om Frans menandakan betapa dirinya dicintai.

Sementara sambil memegang foto om Frans, Rey berusaha terlihat begitu tenang, sebelah tangannya memeluk tante Rosa sementara di sebelah Rey Cheryl terlihat menangis menyaksikan bagaimana peti yang membawa jenasah om Frans mulai diturunkan ke dalam.

Vic, Mellisa, Edison, Jessica, Jack serta Angel juga ikut larut dalam suasana haru, mereka berada cukup dekat dengan makam, begitu juga dengan Karen dan Jennifer, ya Jennifer yang akhirnya datang bersama Karen, itu juga yang membuat jantungku berdegup kencang sejak tadi.

Aku yang akhirnya dapat menatap wajah nya lagi, begitu cantik.. meski dia memakai kacamata hitam lebar, namun itu tak cukup menutup kecantikannya, aku tahu dia menyadariku berada di tempat ini, namun dia memilih acuh.. dia lebih banyak berbicara dengan Karen ataupun larut dalam doa hingga acara pemakaman ini selesai.

Kulihat dirinya dan Karen yang berjalan menuju Rey dan keluarganya, memberikan ucapan belasungkawa pada Rey dan keluarganya. Sementara kulihat Cheryl yang memberikan bahasa isyarat padaku, memintaku mengejar Jenny yang berjalan menuju pelataran parkir.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi tubuhku bergerak dengan sendirinya mengejar mendekati Jenny. Memotong jalan dan berdiri di depan Jenny yang berjalan bersama Karen sekarang.
Dia terdiam sesaat, sebelum tersenyum menatapku.

Dia tersenyum menatapku, dan menunduk.. sebuah senyuman hangat sama seperti dulu.

Senyuman yang telah begitu lama kurindukan.. bibirku dengan sendirinya berucap. “ Jenn.. apa kabar ? “ tanyaku bodoh, entah kenapa kata itu yang terucap dari bibirku sekarang, begitu kaku dan sama sekali tidak ada kesan akrab.

“ Oh.. iya baik.. “ Dia tersenyum lagi, dan kembali berucap.. “ Makasih ya.. permisi.. “

Dia berjalan dengan begitu dinginnya melewatiku, bersama Karen..

“ Jenn.. “ aku mengejarnya menarik tangannya

Sementara dia tak mengubrisku sedikitpun, perlahan dia mengunakan tangan kirinya yang bebas untuk melepas tangan kanannya dari cengkramanku, dia berpaling menatapku dan tersenyum, senyuman yang begitu dingin.

“ Maaf ya.. sakit.. “ Ucapnya dengan dingin.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, selain melepas cengkraman tanganku itu, kulihat Karen yang mengelengkan kepalanya, dia memberitahuku bahwa ini bukan saat yang tepat untuk berbicara panjang lebar.
Dan aku hanya bisa terpaku, menyaksikan Jenny yang berjalan menjauhiku..

rosi-1326-004

logo

Aku mengintip dari jendela mobilku, menatap seseorang yang duduk, menatap hujan di sebuah balkon rumah sederhana itu, aku tersenyum melihatnya duduk disitu, masih.. ya seperti mengatakan kalau dia masih menungguku.

Dia masih mengunakan pakaian bekas pemakaman tadi.. entah berapa lama dia telah berada disini, mungkin sejak hujan tadi, atau malah sejak pemakaman selesai tadi pagi ?

Wajahnya yang begitu cantik, kecantikan sendu yang selalu tergambar sempurna dari wajahnya.. kecantikan yang selalu menemani hari-hari lalu-ku. Senyuman yang melepas bebanku. Senyuman yang membuatku berjuang selama ini, berjuang mengejar semua yang aku milikin sekarang, sebuah senyuman yang menjadi semangat di hari-hariku yang keras.

Sebuah senyuman yang aku tuju, senyuman yang ingin aku simpan selamanya setelah air mata yang berderai di wajah kami berdua begitu banyaknya.. dan sekarang hanya tinggal satu langkah lagi perjuanganku, dan aku tak mau menyerah sekarang.

Kukumpulkan keberanianku, mengambil payung di bangku belakang mobil dan berjalan mendekatinya, aku berdiri di tepat dihadapannya yang menoleh melihatku berdiri dengan payung melindunginya dari hujan di belakangku, matanya memerah.. tak ada senyuman di wajahnya

Beberapa detik kami terpaku dalam keadaan ini, tak ada reaksi darinya, pun aku yang tak mampu mengerakan bibirku sedikitpun.

Dia hanya menolehku sesaat sebelum menutup matanya.

Aku melihatnya meniup nafas panjang sebelum berdiri berjalan meninggalkanku dengan dinginnya..

“ Jenn.. “ Panggilku dengan suara pelan, namun aku yakin dia dapat mendengarnya. Dia berhenti sesaat..
“ Kita harus bicara.. “ lanjutku

Dia diam.. aku berbalik menatap sosoknya dari belakang..

Tubuhnya seolah bergetar mungkin menahan tangisan.

“ Terlambat.. “ Jawabnya.

Dia berjalan menuju mobilnya yang bergegas meninggalkanku, meninggalkanku di tempat ini sendirian. Aku duduk di kursi Jenny tadi, melihat dari tempatnya tadi termenung, menyaksikan pemandangan butiran air hujan yang jatuh dari langit, pepohonan yang tertiup oleh angin, jalan dari tanah yang basah oleh air hujan.
Aku menyenderkan tubuhku ke bangku itu, membiarkan payung yang kubawa disampingku, kunikmati angin yang membawa air hujan memercik tipis ke wajahku.

Aku menghela nafasku, aku masih punya kemampuan untuk mengejarnya sekarang, aku tahu itu dan aku tahu dia berada dimana sekarang.

Aku mengambil payungku dan menuju masuk dalam mobilku.

##

Dan benar apa yang kupikirkan tadi. Dia menunggu disana menatap kosong langit yang menjemput senja.
Aku membuka pintu itu, sebelum Cheryl menahanku.

Ia menatapku sesaat sebelum tersenyum, “ Tunggu disini aja ya Ry.. biar aku sama Rey yang nemuin Jenny.. “ ucapnya.

Aku mengangguk.. membiarkan Cheryl dan Rey yang mendekat ke kursi Jenny.. Cheryl berjalan lebih dulu sementara Rey memesan minuman untuk dirinya dan Cheryl di counter sebelum duduk di bangku yang sama dengan Jenny.

Jenny pun banyak menyebar senyuman, dia mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Cheryl.. entah apa yang dikatakan Cheryl, tapi mungkin lebih banyak tentang cerita dirinya dengan Rey, mungkin juga tentang kedekatan aku dengan Cheryl selama ini, dan mungkin juga ketololan apa saja yang kami lakukan berdua.

Cheryl memang menyanggupi permintaanku untuk membantunya menjelaskan semua ini pada Jenny, menjelaskan tentang kesalahan-ku pada Jenny dulu, dan dia juga ingin meluruskan segala permasalahan yang lalu dengan Rey, sehingga didepan Jenny dan Rey dia bisa berbicara lepas menceritakan semuanya secara jujur dan jelas.

Dan aku lagi-lagi hanya seseorang yang selalu berfikir bahwa aku dapat menyelesaikan semua masalah orang lain, padahal kenyataanya aku membutuhkan bantuan orang lain untuk membantuku menyelesaikan masalah yang kubuat sendiri. Bodohnya aku..

Aku melirik ponselku yang bergetar, sebuah SMS dari Rey yang mengatakan semua masalah sudah dijelaskan, namun sepertinya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk-ku menyela pembicaraan mereka, aku tersenyum sedikit tenang dengan kemajuan yang terjadi.

Senyuman Jenny pun terlihat lebih lebar sekarang, sementara aku memainkan tuts ponselku, mengirimkan pesan pada Karen, saat ini mungkin Karen dapat membantuku memulai kembali hubunganku dengan Jenny.
Agak sulit menyesuaikan waktu dengan kesibukan karen hingga akhirnya dia memberikan waktu 2 hari dari hari ini, untuk membantuku dan Jenny memulai kembali hubungan kami, aku langsung mengiyakan, penantian 2 hari bukanlah sesuatu yang sulit dibandingkan semua yang telah kulakukan selama ini.

Aku berfikir keras, berfikir apa yang bisa aku lakukan untuk Jenny dua hari lagi, sesuatu yang harus melambangkan ketulusanku padanya, sesuatu yang romantic seperti yang disukainya selama ini,.. hmm aku tahu harus menemui siapa sekarang.

##

Aku memarkir mobilku di depan rumah Edison, turun dan melangkah masuk menuju pintu rumahnya itu, dan seperti biasa dia tak pernah mengunci rumahnya, berfikir kalau semua orang di dunia ini adalah malaikat yang ga akan mengambil barang milik orang lain.

Tapi ternyata aku masuk ke dalam rumahnya di saat yang kurang tepat. Kulihat bagaimana lelaki itu bergumul, begitu mesranya

Mencium bibir wanita itu, sementara tangannya meremas buah dadanya itu, tangannya memainkan puncak dari sepasang buah dada wanita itu.

Dengan begitu bernafsu juga, sang wanita turun ke daerah kemaluannya, memainkan kejantanan pria itu, sebelum menelan kemaluan lelaki itu. Tanpa ragu dia menelan seluruh kejantanan pria itu, tak ada rasa jijik sedikitpun dari sorot mata gadis cantik itu.

Aku menelan ludah, menyaksikan pemandangan itu, sebelum berjalan mendekat.

Sementara keduanya masih begitu asyik bergumul, pria itu bergantian, melumat kegadisan wanita itu, tangannya bergerak keluar masuk dalam lubang intim sang wanita, lidahnya yang bergerak melumat daerah sensitive sang wanita.

Aku pun duduk di sebelah Edison yang terlihat begitu serius dengan aktifitasnya itu,hingga tak menyadari kehadiranku.

Dengan seksama kuperhatikan gerakan kedua orang itu, mulai bergerak naik turun begitu seirama, suara desahan yang begitu kencang terdengar, aku heran apa Edison sama sekali tidak takut kalau ada tetangga mendengar apa yang tengah dilakukannya.

Sementara sang wanita bergerak naik, memasukan kejantanan pria itu dalam tubuhnya sebelum mulai bergerak naik turun, tangan lelaki itu pun tak tinggal diam, melumat buah dada gadis itu. Wajah penuh kepuasan terpancar dari keduanya, sementara bibirku tak lagi mampu untuk bertahan untuk tidak mengomentari apa yang sedang kusaksikan sekarang.

“ Di.. download dimana film ini ? “ tanyaku, masih memperhatikan dengan seksama layar yang sedang menampilkan pergumulan sepasang pria dan wanita yang tengah bersetubuh itu.

“ Waduhhhhhh !! “ Edison melompat kaget, tak menyadari kedatanganku..

Dia menepuk-nepuk dadanya berusaha melepas keterkejutannya itu.

“ Kapan masuk loe ? gila.. ngagetin aja.. “ Dia mengambil air minum dan mematikan layar TVnya

“ Kenapa dimatiin, dari tadi juga gw duduk di sebelah u.. loe serius banget sih.. “ aku mengambil remote dan kembali menyalakan film itu, kali ini dengan volume suara yang lebih rendah.

“ Ngapain Ry, malem-malem gini.. malah nonton ginian.. “ Ucapnya sambil mengambil bantal kecil dan naik ke atas sofa panjang membaringkan dirinya di sofa itu.

rosi-1326-013

logo

Aku baru ingat apa maksud tujuanku datang ke rumah Edison tadi.

“ Oh iya.. “ aku mematikan TV itu dan duduk di sebelah Edison, yang langsung melirik padaku,.

“ Loe bukan mau merkosa gw kan ? “ candanya sambil menutup dadanya dengan bantal.

“ Najisss… homo aja gw ga mau sama loe.. “ Memang Edi selalu bisa menjadi tempat orang melepaskan rasa stressnya, dia pandai mencairkan suasana dan terkadang konyol

Sementara dia tertawa, aku hanya mengelengkan kepalaku sambil melirik foto Edison dan Jessica diantara tumpukan buku-buku di lemari ruang tamunya, banyak sekali buku yang dimilikinya karena kesukaannya juga membaca buku baik fiksi maupun nonfiksi.

“ Mau minjem buku ? “ tanyanya.. “ ambil aja mau yang mana.. “ Katanya sambil membenamkan wajahnya ke bantal.

“ Bukan. Gw butuh bantuan loe nih.. “ Aku mengambil bantak yang menutup wajahnya itu, sementara Edison langsung bangun mendengar aku membutuhkan bantuan.

“ Ok.. ok butuh bantuan apa ? “ tanyanya dengan nada serius..

##

Karen menepati janjinya, membawa Jennifer ke tempat perjanjian dulu, dari tempatku mengintip aku dapat melihat raut wajah Jenny yang tengah tersenyum pada Karen, dia sepertinya sama sekali tak menyadari rencana yang kubuat bersama Karen.

Dia duduk di sebuah kursi yang begitu dekat dengan panggung live music, meja yang kupesan tadi atas nama Karen, sementara mereka berdua memesan makanan, perlahan aku keluar dari tempat aku bersembunyi, mengantikan posisi pemain gitar di tempat itu. Aku menaruh buku diary ‘Tepian Hati’ milik Jenny di meja chord dan melirik kearah Karen.

Karen menganguk tahu apa yang harus dilakukannya, sambil tersenyum dia meminta Jenny yang duduk membelakangi panggung untuk melirik ke arahku di atas panggung.

Lirik wajahnya berubah seketika melihatku berdiri di atas panggung, aku sengaja melakukan ini, dalam situasi yang sama aku berpisah dengan Jenny meski di tempat berbeda, dan aku ingin dalam situasi yang sama juga aku melarik kisah cinta kami lagi.

Dia menutup matanya, sementara aku memainkan gitarku. Sebuah lagu sebuah lagu yang dibuat oleh Jenny untuk-ku, tertulis di buku itu dengan untaian air mata yang terkenang di halaman buku itu.

Aku merubah sebagian lirik lagunya, merubah arransementnya sesuai dengan kunci nada suaraku.

One man loves you
That man loves you wholeheartedly
He follows you around like a shadow everyday
That man is laughing and crying
Just how much…how much more do I have
To gaze at you alone like this
This love that came like the wind this beggar-like love
If I continue this way, will you love me?
Just come a little nearer…a little more
If I take one step closer to you, then you take two steps back
I who love you am next to you now
That man is crying.
That man is timid
So he learned how to laugh
That man has many stories that he can’t even tell his best friend
So his heart is full of tears
That’s why, That man
You, he loved you
Because you are just same as him
Yet another fool, yet another fool
Can’t you hug me before you go?
I want to receive love, baby
Everyday in my heart, Just in my heart,
I shout and
That man is next to her even today.
Do you know That man is me?
You’re not pretending that you don’t know, right?
You really don’t know cause you’re a fool.
How much more How much more
Must I gaze at you like this alone
This foolish love, this miserable love
Must I continue for you to love me
Come closer a little bit more
When I take a step closer, you run away with both feet
I who loves you, even now I’m at your side
That man is crying

Jenny menahan air matanya.. dia berlari keluar.. tanpa pikir panjang aku mengejarnya diikuti oleh Karen, Jenny berlari kearah mobilnya terparkir.

“ Jenn .. tunggu .. “ Kali ini aku menarik tangannya menghentikannya untuk berlari menghindariku lagi.. aku memeluknya begitu erat.

“ Please maafin aku.. kita mulai semua dari awal lagi.. aku mohon.. “ aku memeluknya sementara air mataku nyaris menetes..

Jenny diam, hanya tangisan yang terdengar, sementara aku mencoba menahan air mataku yang menetes..
Dia diam hanya membenamkan wajahnya lebih dalam lagi dalam pelukanku, menangis dalam pelukanku beberapa saat, Karen hanya terdiam menyaksikan kami dari jarak yang agak jauh.

Jenny mengatur nafasnya, mencoba menguatkan dirinya untuk tidak lagi menangis.. sebelum bergerak keluar dari pelukanku. Dia berdiri tepat di depanku sekarang, entah berapa lama sampai akhirnya mata kami dapat bertemu, kulihat sepasang matanya yang memerah karena air mata, menatapku begitu dalam.

rosi-1326-014

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

Bibirnya tertahan sebelum akhirnya dia mengucapkan sepatah kalimat.

“ Sory Ry.. kamu terlambat.. “ ucapnya dengan nada suara bergetar..

Terlambat ? apa yang membuat semua ini terlambat ?

“ Terlambat kenapa Jenn ? “ Aku memaksanya

Dia mengelengkan kepalanya..

“ Kamu terlambat Ry.. kamu tahu berapa lama aku menunggu kamu ?? “ ucapnya lagi

Aku hanya menganguk, aku tahu begitu banyak kesalahan yang telah aku lakukan selama ini membiarkannya menungguku begitu lama.

“ 700 hari.. selama 700 hari aku menangis.. selama 700 hari aku terus berdoa agar kamu punya keberanian untuk mengejarku seperti ini.. selama 700 hari aku bertingkah bodoh.. bertingkah sangat bodoh menyakiti diriku sendiri.. “ dia menangis keras sekarang, suaranya bergetar setengah berteriak.

Aku mengangkat tanganku, berusaha memeluknya lagi namun kini dia mendorongku, tak ingin aku memeluknya.

“ Maafin aku Jenn.. “ Kataku lagi, aku mengeluarkan buku diary milik Jenny dan menunjukan padanya.. “ aku tahu semuanya Jenn.. maafin aku.. “ Pintaku lagi.. memohon ia memaafkanku.

Dia mengelengkan kepala..

“ Terlambat Ry.. kamu harusnya tahu kenapa buku ini ada di tangan Karen.. aku sudah melepas kamu.. aku sudah melupakan kamu.. “ dia menutup wajahnya, tak ingin aku menyaksikannya menangis di depanku, sementara tubuhnya lemah dia berlutut di depan mobilnya menangis.

Aku menunduk berjongkok di depannya.. berusaha membelai rambutnya yang terlihat berantakan.. hatiku ingin menangis sekarang, tapi tidak untuk menyerah.

“ Kita mulai dari awal ya.. bener-bener dari awal.. semuanya.. “ Pintaku

Dia mengeleng..

“ Terlambat Ry.. aku sudah milih orang lain mengantikan kamu sekarang.. “ dia menatapku.. menatapku begitu dalam, mengucapkan kata itu tanpa keraguan sedikitpun.

Sementara sekarang saatnya aku bertanya..

Apa yang harus aku lakukan ?

Melepaskannya ?

To Be Continued
###

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s