^^Auf Wiedersehen, Natasha Devi^^ #3

moonhug.com_2016-07-25_10-10-40“Rey, hujan..” ujar Natasha Devi lirih saat melihat kearah jendela kamar yang menampakkan butiran air hujan tengah mengguyur hotel.

“Rey, hujan!!” teriak Sayuti salah seorang anak kost dengan keras. Aku tersentak kaget dari bayang-bayang Natasha setelah mendengar suara gandang dari mulut Sayuti yang demikian keras.

Aku melongok kearah jendela kamar kost dan melihat butiran air hujan yang kembali mengguyur rumah kost. Deras.

“Iyaa tahuu! Emang kenapa sih pake acara teriak segala?” semburku juga dengan nada keras sambil membuka pintu kamar untuk memasukkan keset biar ga basah terkena tampu air hujan.

“Hehee!! Emang lu ga punya jemuran?” tanya Sayuti seraya mengeringkan kakinya dengan handuk.

“Ga! udah ahh, aku mau tidur dulu. Jangan berisik. Lu main air hujan aja sama Jambul atau nongkrong di tempat Mas Kuriman..” tukasku jengkel sembari menutup pintu kamar dan kembali melihat film dokumenter Natasha Devi.

Terlihat dilayar monitor komputer fade out. Kemudian gambar bergoyang-goyang karena handycam kesayangan Natasha sepertinya sedang di-sett biar bisa untuk merekam secara tepat. Aku menghela nafas dalam-dalam. Meneguk sisa kopi yang pahit, sepahit kumparan takdirku.

Sungguh pilu rasanya hati ini saat aku melihat wajah Natasha yang biasanya cantik, segar, dan ceria itu tiba-tiba terlihat begitu pucat. Kantung bola matanya menghitam. Sorot mata yang biasanya bening dan tajam itu kini telah redup seakan mengisyaratkan bahwa semangatnya untuk hidup pun mungkin sebentar lagi akan padam. Rambut yang biasanya selalu menjadi kebanggaan sekarang menipis. Tampak rontok.

Lensa handycam tepat mengarah ke wajah Natasha yang pucat dan kuyu. Dia mencoba tersenyum. Getir? Sepertinya dia akan berpesan.Terakhir?

“Hai Rey.. Gimana kabarmu disana? Nat harap kamu baik-baik saja. Hmm.. Pekerjaan lancar kan? –Natasha menghela nafas- Jaga kesehatan selalu ya sayang –sewaktu Nat bilang jaga kesehatan, tampak dia mulai sedikit terisak- dan jangan capek-capek. Eeh.. Tahu ga, Rey? Setiap malam tuh Nat selalu kangenin kamu, selalu mikirin kamu, dan teringat semua waktu yang telah kita habiskan berdua. Kemudian juga tentang semua impian dan cita-cita yang kita ingin gapai bersama. Nat pengeeen banget rasanya mewujudkan semuanya bersama kamu, tapiii.. Nat sekarang sakit Rey. Nat sakit!! Nat sekarang sakitt, Rey!!! Hiks.. Hiks.. Hikss.. –tangis Nat akhirnya meledak, histeris! tangannya perlahan menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan keras- Rey, mungkin semuanya tak akan terlukis dengan indah. Hiks.. Hiks.. Semuanya ga akan seperti yang kita bayangkan, Rey. Semuanya sia-sia, tinggal harapan. Hiks.. Hiks.. Selama ini Nat mencoba untuk tetap tegar dalam menghadapi kenyataan. –Natasha berusaha menghapus air mata dengan punggung telapak tangannya dan mencoba tersenyum- Tanpa bosan Nat ga pernah lelah untuk terus berdoa dan berharap kembali sehat, namun andaikan cobaan ini datang pada Nat, maka, Nat hanya bisa berdo’a, Ya Tuhan kabulkan lah doaku yang lain, jaga dan bahagiakanlah Ryan Kertagama. Kabulkanlah semua impiannya. Hiks.. Hiks.. Hiks.. –tangis Nat kembali meledak- Say.yang, Ka.kangenin Nat, yaa!!-suara Natasha terbata-bata-

Gelap. Layar monitor komputer tiba-tiba gelap. Setelah aku diberitahu kalau Natasha kritis dan di opname di ICU, aku yang saat itu sedang tugas di Wakatobi langsung bergegas pulang untuk menjenguk bagaimana keadaan Natasha tercinta. PERSETAN!! dengan promosi ke Jerman!.. PERSETAN!!! Kalau Adrian yang terpilih ke Jerman!.. Aku bener-bener stress saat ini, perasaanku kacau!! AAARRGGGHHHH!!! Semua rekan kerjaku disana paham dengan apa yang tengah menimpa kekasihku.

#######

Setibanya di Rumah Sakit, aku bertemu dengan keluarga Natasha. Mereka semua terlihat sedih dan lemas tanpa gairah, terlebih Mama Natasha. Kakak tertua Natasha, Mas Kevin, tampak yang paling tegar dan tabah. Dia langsung memeluk seraya menepuk-nepuk bahuku pada saat aku yang tampak kucel ini telah berada diantara mereka. Dia menyuruhku untuk mandi dan berganti pakaian.

“Sebenernya Natasha sakit apa, Mas? Kenapa telat ga di periksa sejak dari dulu?” tanyaku dengan mata sembab.

“Kamu sering lihat Natasha mengeluh pusing, Rey? Kamu sering lihat dia bawa obat sakit kepala?”

Aku mengangguk, Mas Kevin menghela nafas. Hening..

“Menurut dokter, Natasha terkena Multiple Sclerosis, Rey. Hmm.. Multiple Sclerosis adalah salah satu gangguan autoimun, dimana sistem kekebalan salah sasaran karena melihat sel-sel tubuh sendiri sebagai benda asing, dan menyerangnya. Pada MS, tubuh menyerang mielin yaitu selubung yang melindungi serabut saraf pada sistem saraf pusat. Hasilnya adalah beberapa (multiple) cedera yang menimbulkan bekas luka (sclerosis = pengerasan). Mielin berfungsi mempercepat transfer informasi. Tanpa selubung ini, transmisi informasi saraf dari otak ke seluruh tubuh secara bertahap melambat atau terhambat. Hal ini menyebabkan gangguan saraf motorik dan saraf sensorik. Dan kami semua terkejut saat mendengar analisis dari dokter, karena penyakit itu belum diketemukan obatnya. Natasha juga tahu sewaktu medical ceck-up untuk yang pertama kalinya, dia shock berat. Tapi yang membuat kami bener-bener bangga terhadapnya adalah Natasha pantang menyerah dalam menghadapi penyakitnya, dia selalu optimis, optimis, dan optimis kalau segala macam penyakit pasti bisa disembuhkan!! Natasha sengaja menyembunyikan penyakitnya dari kamu 1tahun terakhir ini dengan tujuan agar kamu tidak ikut bersedih, agar suatu saat dia bisa tersenyum saat memberikan surprise ke kamu kalau selama ini dia telah berhasil sembuh dari penyakit maut yang belum ditemukan obatnya. Huuftt!! Tapi takdir berkata lain Rey!” terang Mas Kevin yang membuatku begidik merinding mengetahui perjuangan maha berat yang dihadapi Natasha, kekasihku itu selama ini.

8

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

“PRAAA.. AAANGGG!!!” gelas berisi kopi hitam Pak Sronto jatuh dari atas meja, tersenggol tanganku. Jatuh berkeping-keping seperti kepingan hatiku yang sekarang tak mungkin bisa utuh lagi, walau disatukan kembali.

Aku langsung bangkit untuk membersihkan gelas kopi tersebut agar pecahan dari kaca gelas tidak melukai siapa saja yang memasuki kamar ini kelak. Karena pasti akan terasa perih, seperih hatiku. Untung kopinya sudah habis dan hanya menyisakan ampasnya saja.

“Ada-ada aja nih..” gerutuku setelah semuanya kelar aku bersihin.

“Natasha Devii..” gumamku lirih saat mataku melihat scence lanjutan bahwasanya dilayar monitor komputer itu terlihat Natasha yang tergolek berbaring lemah tanpa daya. Wajahnya pucat. Sangat pucat.

Tubuhnya kurus. Terdapat banyak macam selang yang terpasang disekujur tubuhnya. Selang oksigen untuk pernafasan, selang infus, alat untuk mengukur detak jantung, alat yang ditempelkan dikedua kening Natasha, selang untuk urinoir, dan masih banyak lagi selang-selang yang lain, yang aku ga tahu. Hatiku tersayat, aku begitu miris melihatnya.

“Natasha Devii..” gumamku lirih saat Mas Kevin mengajakku melihat keadaan Natasha yang sangat-sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat. Sangat pucat.

Kekasihku terbaring pasrah disebuah ruang steril layaknya sebuah ruang penghakiman. Tubuhnya kurus. Terdapat banyak macam selang yang terpasang disekujur tubuhnya. Selang oksigen untuk pernafasan, selang infus, alat untuk mengukur detak jantung, alat yang ditempelkan dikedua kening Natasha, selang untuk urinoir, dan masih banyak lagi selang-selang yang lain, yang aku ga tahu. Hatiku tersayat, aku begitu miris melihatnya.

“Seperti yang kamu liat sekarang, inilah keadaan adikku yang sebenarnya, Rey. Sudah ga ada lagi Natasha yang ceria, Natasha yang lucu, Natasha yang selalu merajuk manja ke Mama dan Kakak-kakaknya, dan Natasha yang selalu cemberut ngambek saat dikerjain disuruh masak. Yang ada, sekarang ini adalah Natasha yang bak seorang pesakitan yang tengah menanti keputusan vonis dari hakim agung yang seagung-agungnya, Tuhan. Apakah akan disembuhkan, ataukah akan diambil nyawanya..”

Mas Kevin tak kuasa untuk tidak menangis. Tangisku pun pecah. Aku menyadarinya, boleh dibilang kalau sekarang adalah saat-saat terakhir yang sangat krusial. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi melainkan cuma terdiam dalam gelisah. Berdoa, dan menunggu keajaiban hanya itu yang aku mampu. Ternyata begitu sulit kalau harus menerima kenyataan bahwa hubungan kami akan berakhir.

Ya Tuhan.. Kenapa jalan yang Engkau pilihkan untuk kami berdua harus se-tragis ini?? Engkau yang Maha Adil, ternyata tidak adil!!! Katanya Engkau juga yang Maha Penyayang, tapi manaa???

Firasatku benar adanya. Tak lama beberapa hari setelahnya, tim dokter yang menangani Natasha Devi mendatangi pihak keluarga dan ikut menyampaikan rasa duka, rasa belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya Natasha Devi. Tim dokter sudah berusaha melakukan yang terbaik, akan tetapi Tuhan mempunyai rencana lain, Tuhan lebih memilih untuk memanggil hamba-Nya, Natasha Devi.

Mama Natasha langsung pingsan begitu mendengarnya. Air mataku terus menetes saat mendapati kenyataan yang memang benar seperti apa yang telah dipesankan terakhir Natasha kepadaku, bahwa tak semua impian dan cita-cita akan terlukis dengan indah. Sekarang tak kan ada lagi Natasha di sampingku, dan tak akan pernah ada lagi. Aku seperti tersesat didalam planet kosong. Hampa. Pandanganku tiba-tiba menjadi gelap. Cahaya-cahaya lampu yang tadinya bergerak berputar dan menyala terang sekarang telah meredup dengan cepat, dan pada akhirnya padam. Aku pingsan.

#######

Aku terbangun. Saat aku terbangun keadaan masih dan tetap gelap. Lampu kamar belum menyala dan sekarang sudah menginjak jam 7 malam. Sayup-sayup suara adzan isya’ terdengar. Saat aku sadar ternyata aku masih dikamar kost, tidak berada di rumah sakit seperti beberapa saat yang lalu ketika mendampingi kepergian kekasihku tercinta dengan berjuta keharuan. Bagaimana aku tidak terharu? Kalau ternyata disaat Natasha tengah berjuang mati-matian melawan maut, dia masih sempat mendoakan aku dengan tulus agar Tuhan mengabulkan semua impian dan harapanku. Hiks.. Hiks.. Hikss..

Layar monitor komputer sudah mati. Sekarang pikiranku begitu kusut setelah menggali jejak impian dan harapan yang selama ini telah terkubur didalam keabadian bersama Natasha. Hmm.. Ada baiknya aku mandi saja untuk menyegarkan badan dan pikiran, setelah sebelumnya aku menghidupkan Winamp, dan perlahan lagu dari group band yang digawangi alm. Galang Rambu Anarki menggema di kamarku yang sepi.

Wajahmu selalu terbayang..

Dalam setiap angan..

Yang tak pernah bisa hilang..

Walau sekejap..

Ingin selalu dekat denganmu..

Enggan hati berpisah..

Larut dalam dekapanmu..

Setiap saat, setiap saat..

Ooh kasih, janganlah pergi..

Tetaplah kau selalu di sini..

Jangan biarkan diriku sendiri..

Larut di dalam sepi..

Kasih, janganlah pergi..

Tetaplah kau selalu di sini..

jangan biarkan diriku sendiri..

Larut di dalam sepi..

Larut di dalam sepi..

Terlelap dalam belaianmu..

Takkan pernah kulepas..

Dalam hidupku kau ada..

Dalam pelukan..

Gemulai setiap gerakanmu..

Membuatku selalu rindu..

Kukecup lembut bibirmu..

Kusayang padamu, kusayang padamu..

7

logo

Malam harinya disaat para penghuni kost ngumpul, aku berpamitan kepada mereka. Kepada Jambul, Sayuti, Bambang, Ferdi, Agus, Joko, Toni, dan tentunya Sang empunya kost. Ada rasa sesak yang mengalir di rongga dada saat harus menyalami dan memeluk mereka satu per satu untuk berpisah sebelum berangkat ke Bandara. Pak Sronto dan Mas Kuriman juga tampak kaget dan bersedih saat aku pamitan kepadanya.

“Jerman?? Wadoh men thow Mas, leh mu nyambut gawe..” kata Pak Sronto dan Mas Kuriman polos.

“Hehee.. Deket kok Pak, Mas..” jawabku seraya tersenyum.

“Pak kost, bekas kamar Rey tak tempatin yaa..” Agus usul.

“Yeew, penak loh kowe pindah kamar. Aku aja Pak yang nempati kamar Rey. Biar ketularan bisa dapat pacar cantik seperti Mbak Natasha dan cepet dapet gawe setelah lulus kuliah..” Jambul tak kalah ngotot.

SHIIINGGG . . . Aku merinding mendengar Jambul bilang seperti itu. Ahh!! Seandainya engkau tahu apa yang sesungguhnya terjadi, sobat . . .

“Demi stabilitas dan keamanan kost biar aku saja kalau begitu, gimana?” kali ini Sayuti yang urun rembug.

“Gimana gundulmu kuwi, Lee!!” Jambul langsung protes keras.

Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Tersenyum geli saat celoteh lucu terdengar. Tersenyum sedih saat harus berpisah dengan mereka, dan tersenyum pahit saat mendengar Jambul mengucapkan nama seseorang yang dulu pernah merencanakan membangun mimpi dan cita-cita bersamaku.

#######

Seminggu yang lalu aku juga baru saja berkunjung ke kost sobat karibku, Mahardika Jaya, didaerah Selokan Mataram. Yang menegarkan aku semenjak kepergian Natasha Devi sebenarnya adalah Jay. Aku bersyukur, karena aku belum separah dirinya yang sempat linglung pada saat harus berpisah dengan Liz. Cerita cintanya Jay dan aku memang hampir mirip. Namun kisahku dengan Natasha memang lebih Tragis.Dia telah terkubur di lorong keabadian.

“Lagi ngapain, Jay?” tanyaku seraya berjalan kearahnya yang tengah asyik membaca komik Naruto.

“Halo Rey!! Wah tumben ente kemari. Gimana-gimana? Sehat-sehat aja kan? Wah.. Waahh..” cerocos Jay tak karuan.

“Yuhuu, Jay.” Sahutku cool.

“Udah waras kan ente?” Jay tetep aja seperti dulu ga berubah.

“Asem!! dasar kampret!”

“Hahahaa!!” Jay terbahak merasa senang mempunyai sobat karib yang nasibnya ga beda jauh dengannya.

“Ada apa gerangan ente kemari, Rey?” tanya Jay sambil menyulut rokok

“Rokok, Rey..” tawarnya.

“Udah ada kok..” aku pun ikut membakar rokok dan menghembuskan asap kuat-kuat.

“Masih jadi Layouter, Jay?

“Iyaa Rey. Pengen yang lebih sih sebenernya. Hehee..”

“Hehee.. Disyukurin aja dulu..”

“Iya kok. Selalu berusaha bersyukur atas semua nikmat-Nya..”

Ngg.. Gimana Liz?” godaku seraya tersenyum meledek.

“Aduuh! Udah deh, ga usah dibahas lagi, napa?” sahutnya sewot.

“Becanda.. Becanda, Jay. Hehe..”

“Iyaa. Btw ada berita apa nih, ente kemari?” tanya Jay berusaha menetralkan air mukanya setelah aku singgung soal Liz.

“Aku cuma mau pamit aja sama kamu, Jay.”

“Hah! Pamit?? Maksudnya?”

“Senin depan aku udah berangkat ke Jerman. Ngg.. Doa Natasha bener-bener dikabulkan sama Tuhan, Jay.” Aku terdiam. Mataku menerawang.

“HAH!! APA!!” Jay terdiam sesaat. Kemudian,

“Disaat Natasha berperang melawan maut, dia masih sempet-sempetnya doain buat kebahagiaan ente. Dan senengnya, doanya itu didengar olehNya.. Ckckckckck.. Gila!! Merinding ane, Rey. Ternyata, kisah ente begitu dramatis. Hmm.. Ane juga turut seneng kalau ente berhasil dapat promosi ke Jerman..” imbuh Jay seraya menepuk pundakku.

“Hehee.. Makasih juga Jay udah bantu nyembuhin aku dari luka yang sangat perih kala itu.” Aku teringat Jay yang susah payah menghiburku dengan berbagai macam cara.

“Itulah arti sahabat, prend! Eh, senin depan ane ikut nganter ente ke Bandara, Rey..” tukasnya kemudian.

Setelah ngobrol ngalor ngidul di teras kost-annya, kami beranjak cabut untuk berkeliling kota. Jay tahu persis bahwa sesungguhnya aku masih suka trauma berat saat mendengar nama, dan melihat bangunan rumah sakit yang berdiri disalah satu sudut kota ini. Sebuah rumah sakit tempat dimana Natasha menghembuskan nafasnya yang terakhir untuk menuju ke alam yang kekal. Tempat dimana Natasha harus mengakui bahwa Multiple Sclerosis memang sangat jahat.

“Udah, jangan sedih Rey! Percaya deh, Natasha udah tenang disana. Dan pasti dia bahagia banget tahu impian dan cita-cita ente ke Jerman terkabul. Iya kan?” Jay menenangkanku.

“Iya, Jay. Thanks..” aku menghela nafas dalam-dalam. Bayang Natasha begitu lekat saat ini.

6

logoAdi Sutjipto, International Airport..

Aku diantar Jambul, Sayuti, Pak Sronto, dan Mas Kuriman naik mobil pick-up Pak Sronto yang biasa buat kulakan ke pasar. Tak lupa pula Jay ada disana.

“Jaga dan bawa diri baik-baik ya Rey!” ucap Jambul langsung memelukku.

“Beres! Lu juga kuliah yang rajin biar cepet lulus..”

“Jangan lupa sama kami-kami, Rey!” Sayuti menimpali.

“Enggak lah Yuut. Kita tetep bisa komunikasi kok..”

“Mas Rey, ati-ati yaa di Jerman. Salam untuk Arjen Robben kalau ketemu. Hehee..” Pak Sronto memang polos dan apa adanya.

“Iyaa, Pak Sronto beres. Ntar sekalian sama Franck Ribbery yaa. Hehee!” sahutku seraya terkekeh.

“Mas Rey pokoke ati-ati di negeri orang yaa. Jaga nama baik bangsa Indonesia..” Mas Kuriman pun tak ketinggalan untuk berpesan. Pesan yang sangat berbobot.

“Hahahaa!! Mas Kuriman bisa aja. Beres Mas. Akan aku buat bangga orang Jerman dengan bangsa Indonesia..” sahutku mantap. Tapi gimana caranya??

Aku melihat wajah terakhir yang turut mengantarku ke Bandara. Sobat karibku, Jay, yang sedang tersenyum. Prihatin? Aku ga tahu.

“Jay.. Hehe. Makasih yaa atas semuanya.”

“Iya, sama-sama, Rey.” Jay memelukku. Aku sedikit terisak.

“Semoga bisa menemukan Natasha yang baru disana..” bisik Jay lirih di telingaku.

Aku mengangguk mantap. Memang benar kata Jay. Natasha adalah kenangan yang terindah buatku dan mungkin butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan seseorang yang seperti dia. Tapi aku yakin kalau Tuhan pasti akan memberikan ganti yang lebih baik untukku.

“Ya sudah kawan semua, aku berangkat. Terima kasih banget udah bela-belain nganter sampai disini..” Mereka mengangguk dan membalas lambaian tanganku sebagai salam perpisahan.

Aku melangkah pasti menuju kearah pesawat. Semangatku menggelora. Aku melihat ke langit angkasa biru yang luas dengan wajah penuh optimis sesaat sebelum memasuki cabin pesawat yang dikawal oleh seorang Pramugari cantik. Dari alam sana, bibir Natasha menyunggingkan senyum tulus kepadaku.

Natasha.. Meskipun engkau telah tiada, namun semua ketulusan doa dan semangat juang yang kau tunjukkan telah memberi arti yang begitu dalam, dan semua itu akan selalu hidup abadi didada ini seperti halnya Edelweis..

Auf Wiedersehen meine Liebe, Natasha Devi…

Hoffentlich bist du noch da…

Obwohl sie sind weg…

Aber der Schatten von deinem Lacheln und dein Gesicht wird immer da sein…

das Ende

THE END COMPLETED . . . .

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s