Tepian Hati : Reynaldo Wijaya

single_077-6900737450712Kucium bibir gadis itu, sebelum membiarkan dia menciumku turun, meraih kemaluanku dan melakukan oral pada kemaluanku itu, tanpa jijik sedikitpun memasukan kemaluanku itu ke mulutnya

Tubuhku sedikit bergetar merasakan sentuhan lidahnya itu, sebelum kepalanya itu mulai bergerak naik turun di kejantananku itu, sentuhan lidahnya dan tangannya yang bergerak naik turun, memberikan rasa tersendiri bagiku, kenikmatan yang luar biasa.

Aku membaliknya, menariknya dan meremas payudara yang tidak terlalu besar itu..

Kutatap wajahnya dengan lembut, aku tahu gadis ini tidaklah secantik Cheryl, Cheryl masih jauh lebih cantik, lebih lembut dan lebih hangat, namun sekali lagi ada sensasi yang berbeda untuk tidur dengan wanita lain selain kekasih kita, dan itu kadang membuat kita begitu kecanduan untuk melakukannya.

Kusentuhkan jemariku di kewanitaannya, dia mendesis kecil aku tahu desisan itu palsu, namun tetap memberikan rasa yang berbeda.

Bagaimana lekuk tubuhnya membohongiku, membohongi bagaimana aku mampu mendominasi permainan ini, aku tahu dari matanya yang berbohong, tapi lagi-lagi, sisi laki-laki di diriku memberikan kepuasan yang seolah mampu merajai tubuh itu.

Kucium bibirnya sementara kemaluanku itu mulai menembus tubuhnya, tidak terlalu sulit namun dia berteriak tak jelas, seolah begitu tak siap dengan ukuran penisku.

Aku hanya tertawa kecil, tertawa puas melihat ekspresi wajahnya yang seolah merintih kesakitan. Ingin menertawakan diriku sendiri yang begitu bahagia mengetahui seseorang tengah membohongi diriku sekarang, aku menggerakkan tubuhku perlahan sebelum mulai bertambah cepat.

Entah berapa menit, terlalu cepat rasanya tubuhnya sedikit gemetar sambil mendesah panjang.. dia menatapku seolah begitu terpuaskan, dan sekali lagi aku tahu kalau dia membohongiku.

Dia bergerak naik, tanganku yang meremas payudaranya sementara tubuhnya naik turun, aku ikut membantu menopang bokongnya yang bulat. Membantunya bergerak naik turun beberapa lama. Sebelum lagi-lagi dia mengelinjang sambil mendesah hebat, terjatuh dalam pelukanku memintaku kembali mengerakan tubuhku keluar masuk dalam tubuhnya.

Entah beberapa menit kami bermain seperti itu, hingga akhirnya kami berdua menyelesaikannya dengan membersihkan tubuh kami di kamar mandi, aku tersenyum menatap gadis itu yang berlari keluar dengan hanya mengenakan handuk.

Aku berjalan keluar, sementara dia duduk di kursi, menunggu sesuatu dariku.

Aku mengeluarkan amplop dari laci meja berisi uang dua juta rupiah.. aku tersenyum melihatnya yang mulai menghitung uang itu.

08 (1)

450x100

“ Tipsnya mana ?? “ Tanyanya dengan manja..

Aku tertawa sambil memintanya menciumku, dia melompat menciumku dan memelukku dengan mesra.

Kukeluarkan beberapa lembar uang merah sebelum dibalasnya dengan ciuman di bibirku yang begitu mesra.

“ Boleh liat anting yang itu mbak ? “ tanya Rey menunjung sepasang anting yang ada di display toko perhiasan itu, sebuah kalung cantik dengan sebuah mata Swarovski, tubuh anting itu berbentuk bunga dengan lekukan-lekukan yang begitu detail terbuat dari emas putih. Kuperhatikan dengan seksama anting itu sambil membayangkan Cheryl memakai perhiasan itu, kuambil satu lagi kalung berbentuk bintang untuk kubandingkan.

“ Yang ini aja mbak.. “ Tanyaku sambil memberikan kalung berbentuk bunga yang rasanya lebih cantik dipakai oleh Cheryl nanti, “ Di wrap ya mbak sekalian, hmm card ?? “ Tanyaku sambil mengeluarkan kartu kredit dari dompetku, untuk membayar hadiah ulangtahun hubunganku dengan Cheryl minggu depan.

“ Bisa mas, boleh minta tanda tangannya “ Pinta pelayan itu sopan sambil meminta tandatanganku pada layar mesin edisi, aku memberikan goresan tanda tangan ku ke mesin itu sebelum tanda approve menyala di layar mesin edisi itu,

Tak berapa lama aku masuk ke dalam mobilku, menuju showroom ku, sudah 4 jam aku menghilang dan sebelum Cheryl curiga aku harus segera sampai kesana, tak berapa jauh aku sampai di depan showroomku, dan aku segera naik ke ruang kantor ku diatas.. sejak kejadian Cheryl yang tiba-tiba datang ke showroomku, aku menjadi lebih berhati-hati untuk melakukan hobiku.

“ Dah lama Ry ?? “ tanyaku sambil membuka pintu melihat Ryan yang sedang duduk di kursiku sambil memainkan laptopku.

“ Belum “ Jawabnya singkat seperti biasa.

“ Masih main ginian aja loe.. “ Lanjutnya..

“ Hahaha.. ya baca-baca aja cari referensi.. “ Jawabku sambil tertawa melihat polis-polis asuransi yang dibawa oleh Ryan,

“ Udah semua ya ini ?? “ Tanyaku sambil memeriksa list mobil yang terjual bulan lalu sampai minggu lalu.

“ Udah cek lagi aja.. “ Jawabnya santai, menutup laptopku.

“ Ok dech.. dah semua nih.. “ Ucapku selesai memeriksa kembali semua polis untuk diantar nanti ke pembeli-pembeli.

“ Komisinya udah gw transfer ya Rey, kayak biasa aja dikali 26 polis kan itu. “ Kata Ryan duduk di depanku dan memberikan rincian permobilnya.

“ Udah gw percaya sama loe.. “ Jawabku sambil menaruh kertas itu sebelum diambilnya lagi dan diberikan padaku lagi.

“ Cek dulu, “ Paksanya seperti biasa.

“ Iya, iya… nih gw periksa.. “ aku mengambil kalkulator memeriksanya dengan seksama sebelum memeriksa rekeningku lewat ponsel.

“ Udah nih.. pas dan ga pernah dilebihin sepeserpun.. “ Candaku sambil menaruh berkas itu di meja.

“ Nih lebihnya.. “ Ryan mengeluarkan sekotak martabak telur dari samping tas yang dibawanya.

“ Hahahaaa tau aja loe.. “ Aku memanggil salah satu pegawaiku untuk membawakan piring dan garpu untuk kami berdua.

“ Jadi Rey, loe masih sering aja kayaknya liat yang gitu-gitu.. “ ucap Ryan sambil mengunyah martabak telurnya.

“ Hmm ah itu kan iseng aja Ry, lumayan lah refreshing tau sendiri bosen disini sendirian.. “ aku berasalan

“ Ya mudah-mudahan aja begitu ya.. “ Jawabnya dengan nada yang kurang nyaman.

“ Udah-udah.. eh gw ada mobil nih,, beneran bagus dech kilometer masih rendah gw kasih murah dech.. “ Tawarku, ingat sebuah Toyota Rush yang baru kemarin aku beli untuk stock barang showroom.

“ Ah, belum mampu gw.. “ Jawab Ryan

“ Udah liat dulu.. Rapi deh, ada sound systemnya juga.. beli harga modal aja loe.. “ Tawarku sambil mengajaknya melihat barang di bawah.

“ Bagus sih.. “ Katanya sambil mengamati Rush warna hitam, dia melihat dengan seksama memeriksa beberapa bagian. Wajahnya terlihat tertarik.

“ Gimana bagus kan, loe ada uang 50 ribu ga Ry ?? “ Tanyaku sambil memanggil salah satu pegawaiku

“ Ada nih, buat apa ?? “ tanyanya sambil mengeluarkan uang 50ribu dari dompetnya.

“ Ok.. thanks Ry.. “ , “ Din buatin kwitansi tanda jadi ya.. “ Kataku sambil memberikan pegawaiku uang 50ribu itu

“ Ahh yang bener aja Rey.. koq jadi begini.. “ Wajahnya terlihat terkejut sementara aku berusaha menahan untuk tidak tertawa.

“ Udah tenang aja.. gw tau loe hampir deal kan sama tempat hiburan di puncak itu.. kalau itu Deal kan.. ga ada masalah buat bayar cicilan, gw kasih murah semurah-murahnya. “ Tegasku sambil meninju tangannya pelan

“ Ya.. ga begini juga mendadak banget.. “ Ryan sendiri terlihat enggan menolak, aku tahu dengan penghasilannya sekarang pasti dia ada keinginan untuk memiliki mobil pribadi sendiri, dan lagi dia mengincar mobil tipe ini sejak lama.

“ Tapi loe harus tetep untung ya Rey.. “ Tegasnya, memang dia berprinsip seperti itu, bisnis harus tetap sama-sama untung.. dan kalau aku cuma mengambil untung 10ribu pun tetap untung kan namanya.

“ Iya tenang aja.. “ Kataku sambil tertawa.

“ Oh iya, gw tinggal ya.. masih harus ke tempat lain kasih polis nih.. “ jawabnya sambil mengambil tasnya di dalam ruanganku.

“ OK dech, Deal ya.. “ Kataku sambil memberikan tanganku berjabatan tangan dengannya.

“ Belom.. apanya yang deal.. “ Dia tertawa sendiri, “ Oh iya.. loe harus berhenti lah Rey.. buat apa bohongin diri sendiri gitu.. “ Katanya penuh arti sambil berjalan keluar.

15

300x250

Aku hanya tersenyum, tak mengiyakan tak juga menolak.

Aku kembali ke ruanganku, duduk di ruanganku sambil menyalakan laptop-ku.

Jemariku mulai bergerak di keyboard, sesekali aku berhenti.. berfikir apalagi yang harus aku tulis untuk menambah bumbu dalam petualanganku hari ini.

Sesuatu yang berbeda dengan yang biasa kulakukan di FR-FR ku sebelumnya. Aku tersenyum sendiri membayangkan kebohongan yang kulakukan dari tulisanku itu, ya kurasa wajar, karena yang lain pun selalu memberikan bumbu-bumbu dalam ceritanya, sebelum kumasukan kabel data ponselku mengambil beberapa gambar sambil menghapus bagian wajahku di foto tersebut, berharap orang-orang tak ada yang mengenaliku.

Dan sekarang aku menatap Ryan, ada begitu banyak kemarahan yang ingin aku ungkapkan padanya, tapi aku berusaha menahan diri, aku harus menahan diriku untuk tidak marah, tidak juga menggunakan otot untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan Ryan yang terlihat begitu cuek seolah lupa dengan apa yang pernah kami lalui berdua.

Dia terlihat begitu dingin, baik tatapan dan caranya berbicara, seolah begitu meremehkanku. Dan cukup saatnya untuk berbicara sebagai sesama lelaki sekarang, kami telah berjalan menjauh dari yang lainnya.
Ryan menepuk pundakku sebelum bertanya

“ Ry.. “ ucapku

“ Loe tau ? Loe tau kan gimana gw ke Cheryl ?? “ Tanyaku penuh harap, agar Ryan tak meminta rewardnya kali ini.

“ Gw ga tau Rey, dengan kelakuan loe yang kaya gitu, gw ga tau apa-apa tentang perasaan loe ke Cheryl“
kelakuan.. kelakuan yang mana ?? Pikirku.

“ Apanya Ry, loe yang harusnya paling tau perasaan gw ke Cheryl.. “ Aku cukup emosi dengan cara Ryan menjawabku yang seolah begitu acuh tak acuh. Aku menarik kerah kausnya kesal agar dia menatapku saat berbicara denganku.

“ Ga koq, Cheryl yang paling tau perasaan lo ke dia.. dan “ Ryan menjawab terputus

“ Apa Ry, apa yang diceritain Cheryl ke loe.. “ Aku bertambah marah dan membentaknya.

“ Kenapa loe harus marah ? dia ga pernah cerita apa-apa, dan dengan reaksi loe.. berarti loe nunjukin kalau gw emank ga tau apa aja kelakuan loe di belakang Cheryl.. “ Nada suaranya terdengar benar-benar meremehkanku.

“ Terserah elo Ry, terserah.. toh gw akan tepatin janji gw buat lepasin Cheryl karena gw kalah tadi. “ aku menendang pasir melampiaskan kekesalanku

“ Jadi loe nyerah cuma karena kalah dalam taruhan tadi ? “ ucapnya.. entahlah aku malas menjawabnya, lebih tepatnya aku masih tak mau melepaskan Cheryl meski aku kalah dalam taruhan tadi.

“ Jadi loe maunya apa? Gw harus kasih selamat ke loe kalau nanti loe jadian sama Cheryl gitu ? “ Bentak-ku.. melihat tingkahnya yang benar-benar menyebalkan.

“ Mungkin loe harus begitu, karena loe yang ga pernah menghargai perasaan loe sendiri ke Cheryl ? loe kira dengan loe bertaruh dan kalah loe harus lepasin dia ? enggak “ , “ Seorang lelaki bukan orang yang melepaskan atau mempertaruhkan cintanya kaya gitu.. loe mengulang kesalahan gw sama Jenny bahkan loe lebih parah lagi.. “ Kata-kata yang aneh yang diucapkan oleh Ryan, aku menerka apa maksud kata-katanya namun semua terdengar terlalu absurd

“ Loe pikir Cheryl akan bangga, karena menjadi taruhan kita berdua ? apa Cheryl ngerasa loe luar biasa dengan terus bersaing kekanak-kanakan kaya gitu sama gw ?? “ , “ Enggak akan !! “ dia masih melanjutkan caciannya padaku.

“ Pikir Rey Pikir.. !! “ , “ Kita udah dewasa, kelakuan loe .. loe sendiri yang tau, dan loe tau dengan cara apa loe nyakitin Cheryl, lalu kalau dia berpaling ke gw ? dia kegatelan ?? Enggak.. “

“ Apa loe pikir dia ga sedih dengan cara kekanak-kanakan loe yang bercerita jelek ke orang kalau Cheryl selingkuh sama gw, dan bagaimana gw menghianati sahabat gw sendiri.. Jangan kaya anak kecil Rey.. “

Dia terlihat begitu puas mencaciku, mungkin ini ungkapan dari seorang lelaki yang tak rela gadis yang dicintainya disakiti oleh lelaki lain. Aku terdiam, mengakui semua kata-katanya, kubiarkan dia tertawa menertawakan kekalahanku kali ini

“ Loe yang paling tau, apa aja yang loe lakuin selama ini, dan loe pikir Cheryl buta dan ga tau apa yang loe lakuin di belakang dia ? “

“ Rey, loe harusnya udah tau sekarang, dan gw rasa Cheryl pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik “ dia menegaskan kalau dia memang lebih baik dariku, aku tak mengiyakan, juga tak mengatakan tidak, aku tahu aku masih bisa lebih baik dari Ryan.

Aku termenung sendirian, sementara Ryan meninggalkanku di tempat ini, berfikir keras apakah Ryan memang lebih baik dariku ?

Apakah dia memang dapat melindungi Cheryl lebih dari aku..

Akankah dia mencintai Cheryl lebih dari aku..

Apa Cheryl akan tersenyum lebih banyak saat bersama Ryan, dan Ryan adalah lelaki yang tepat untuk melindungi Cheryl. Tak membiarkan air mata kembali jatuh di pelupuk matanya lagi

Tapi aku.. aku tak rela

Cintaku egois, sungguh egois, cintaku harus memiliki Cheryl

Aku tak mampu membiarkan Cheryl berlari bergandengan tangan dengan orang lain

Tak rela.

Kami diam sepanjang jalan menuju bandara, sementara yang lain menuju rumah sakit terlihat Ryan yang memaksa Cheryl mengikutiku menuju bandara, entah apa yang ingin dilakukannya, dia hanya berkata untuk menyelesaikan semua masalah hari ini.

Seolah dia ingin sengaja menyiksaku, apa tidak cukup dengan kematian Ayahku, dia masih ingin menyiksaku lebih lagi, aku menahan amarah melihat apa yang mereka lakukan di bangku belakang, berbisik begitu dekat seolah begitu tak menghargai perasaanku.

Aku menarik nafas panjang sebelum menghelanya, mengintip dari kaca spion Cheryl yang terlihat begitu tegang, sementara Ryan yang dengan begitu sengaja menampakan kedekatannya dengan Cheryl. Aku tahu Ryan.. aku tahu bagaimana dia menganggap Cheryl selama ini, selama ini juga aku selalu menutup mataku seolah tak perduli dengan kedekatan mereka.

Aku tahu Ryan hanya bisa begitu terbuka, melepas semua topeng dinginnya di depan Cheryl, di depan Cheryl dia bisa menjadi lebih ekspresif. Ok kalau itu mau kalian, silahkan kalau memang ingin menjalani hubungan kalian sekarang, aku yang akan memberikan selamat untuk hubungan kalian yang semoga bisa lancar sampai ke pernikahan nanti.

14

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

“ Udah cukup kan, mau sampai mana ikutin gw ? “ Tanyaku dengan nada menahan amarah. setelah kulihat jadwal penerbangan ke Jakarta yang masih sekitar 3 jam lagi.

Ryan berjalan bersama Cheryl membelakangiku, entah apa maksudnya seolah dia mengantarku kesini hanya untuk memastikan aku pergi sehingga mereka berdua bisa bebas berdua, menikmati liburan mereka.

Tak lagi bisa menahan kesabaranku, aku berlari mengejar Ryan dan melayangkan tinjuku yang membuatnya terjatuh.

Dia tertawa dan bangun dari jatuhnya itu, sambil memegang pipinya yang memar karena pukulanku itu, sementara Cheryl menolong Ryan berdiri, menatapku begitu kesal.

“ Masih aja pakai tinju loe buat selesaiin masalah.. “ Ryan terlihat tenang sambil terus berjalan, aku tahu dia ingin aku mengikutinya ke sudut bandara yang lebih sepi.

Ryan duduk di bangku bandara, membiarkan aku dan Cheryl berdiri di hadapannya. Sesekali dia menyentuh pipinya yang memar.

“ Aku beliin minum ya.. “ Tanya Cheryl sambil berjalan pergi, sebelum Ryan menangkap tangannya dengan erat, seolah keduanya sengaja mempertunjukan kemesraan mereka.

“ Ga usah, disini aja.. gapapa koq… “ Ucap Ryan

Kami diam sejenak.

“ Rey.. kita selesaiin aja sekarang ya.. sebagai sesama lelaki bukan dengan taruhan atau tinju.. “ Jawab Ryan dengan ucapan yang terdengar begitu meremehkan-ku

Cheryl sendiri terdiam, wajahnya tampak begitu bingung, sementara matanya tetap menghindariku saat tatapan kami bertemu.

“ Cher.. kamu tahu kan keadaan Rey sekarang.. gimana perasaan kamu ? “ Tanya Ryan

“ Aku ? Kenapa aku ?? “ Tanya Cher seolah tak mau menjawab pertanyaan itu.

“ Iya perasaan kamu.. “ Paksa Ryan

“ Ya perasaan aku, ya biasa aja.. emank kenapa ya adalah turut berduka citanya.. “ Jawab Cheryl dengan wajah malas tak perduli.

“ Okay.. kalau loe Rey ?? “ Tanya Ryan padaku

“ Mau loe apa sih Ry ? “ Bentakku

“ Gw mau loe jawab pertanyaan gw.. “ Jawabnya santai

“ Persetan sama loe Ry.. “ jawabku sambil mengambil tasku berjalan pergi

“ Pergi aja terus Rey, pergi.. loe emank pengecut.. “ Ryan berucap dengan nada tinggi

“ Mau loe apa sih ?? “ aku berbalik dan mencengkram kerah kausnya.

Dia hanya menunjuk tanganku dengan telunjuknya, dan aku segera melepas cengkramanku itu, aku harus menahan kekesalanku ini lagi, di depan Cheryl setidaknya aku tidak boleh bertindak kasar lagi.

“ Gw tanya Rey sama loe.. gw nanya sama loe.. loe rela lepasin Cheryl ? “ tanyanya

“ Enggak Ryan.. Ga akan gw serahin dia ke siapapun.. “ aku menjawabnya tegas

“ Kalau loe harus lepasin dia gimana ? “ tanya Ryan lagi

“ Gw ga akan pernah lepasin dia, gw ga akan rela Ryan.. Puas loe ? “ Dia menjawabku dengan tawanya.

“ Cher.. loe masih mau balikan sama Rey ?? “ tanya Ryan

Cheryl menggelengkan kepalanya, sungguh itu jawaban yang sangat tak ingin kuketahui

“ Kenapa Cher ? “ Tanya Ryan lagi sengaja. “ Coba kamu jelasin ke Rey, jadi dia ga penasaran dan ganggu kita lagi.. “

Cheryl terdiam sesaat, dia menatapku namun masih memalingkan wajahnya saat mata kami bertemu.

“ Rey.. loe sayang sama gw ?? “ Tanya Cheryl

“ Kurang apa lagi Cher.. kurang apalagi gw buat nunjukin rasa sayang gw ke loe.. “ Jawabku dengan nada lirih. Aku menahan kekesalanku, ingin menangis namun kutahan untuk tidak menangis di depan Ryan dan Cheryl

“ Kurang Rey.. sangat kurang.. “ Jawab Cheryl begitu entengnya

“ Kenapa Cher.. kurang apanya .. “ Aku menaruh tanganku di pundaknya mencengkramnya..

“ Sakit tau.. “ Cheryl membentakku, sambil berontak berusaha melepas cengkramanku

“ Ok kasih tau gw, apa salah gw sampai loe putusin gw.. “ Jawabku mengangkat tanganku dari bahunya itu.

“ Loe tau Rey, loe yang paling tahu.. “ , “ Loe yang paling tau sama kebiasaan loe main perempuan.. “ bentak Cheryl, wajahnya memerah mungkin menahan emosinya

09

logo

Aku melirik kearah Ryan yang terlihat begitu acuh.

“ Bukan dari Ryan, gw ga buta Rey sampai ga bisa liat berapa lama loe bohongin gw kaya gini. “

“ Gw tahu Rey, gw bisa baca petualangan loe dengan cewe-cewe dari forum apalah itu, gw bisa baca gw ga buta Rey, belum lagi SMS loe sama cewe-cewe itu yang bener-bener.. udahlah… “ Cheryl seolah habis kata-kata untuk memakiku, sementara aku sendiri kehabisan kata-kata untuk membela diriku.

“ Loe pikir loe bener-bener bisa melakukan apa yang loe lakuin di forum itu ? ngerasa hebat dan terkenal dengan cerita-cerita yang loe bikin, seolah cewe itu tergila-gila sama loe, bisa loe bikin puas sampai gimana.. bangga loe dengan itu semua ?? Bangga ?? “ dia menutup matanya, duduk di bangku sebelah Ryan, menutup wajahnya dengan kedua matanya..

“ Sorryy.. “ Ryan memberikan sapu tangannya pada Cheryl, dari suaranya aku tahu Cheryl menangis sekarang, kata-katanya terdengar ringan, namun memberikan ku tekanan yang berat.
Apa yang aku cari, apa yang aku lakukan selama ini, mencari ketenaran hampa..

Meniduri wanita lain untuk dibilang hebat ?

Mendapatkan banyak teman baru, yang menganggap aku luar biasa ?

Terlihat hebat dengan tahu mana wanita-wanita cantik yang bisa dibayar dengan rupiah ?

“ Loe tuh pengecut Rey.. Pengecut.. “ , “ Loe pengecut dengan selalu takut kalau orang-orang disekeliling loe tau kelakuan loe, loe selalu takut kalau ada yang membocorkan perbuatan loe. Tapi loe selalu bangga dengan perbuatan loe saat berbicara dengan orang-orang di lingkungan itu. “

Cheryl menarik nafas panjang, aku sendiri hanya bisa menatapnya dengan penuh rasa bersalah, tak membantah satu kalimat pun dari kata-katanya.

“ Manly Stuff “ Ucapku perlahan.

“ Iya gw tahu, itu urusan lelaki.. dan hak lelaki untuk tidur dengan siapapun sambil berusaha untuk ga merusak hidup mereka, benar juga pola berfikir gitu.. “ jawabnya sedikit meringankanku saat itu

“ Tapi itu untuk laki-laki tanpa komitmen.. “ , “ Kamu segitu gampangnya ngelupain komitmen kita.. “

Aku tak menjawab, hanya merasakan penyesalan yang sangat luar biasa

Komitmen, kata-kata yang selalu aku ungkapkan.. kata-kata yang pernah aku ucapkan saat pertama kali Cheryl menangis di depanku, air mata yang mengalir dari wajahnya yang cantik, air mata penyesalan yang luar biasa, aku memeluknya tubuh kami yang tak terbalut busana, merasakan sentuhan tubuhnya di tubuhku.
Kata komitmen yang kuucapkan dengan penuh janji saat itu, komitmen untuk menjaga dan melindungi dirinya meski dia ingin meninggalkanku karena dirinya yang tidak suci lagi, komitmen untuk menerima dirinya apa adanya, komitmen untuk menghargai hubungan dengan tulus.

Aku mencintainya, aku sungguh mencintai Cheryl Esperanza seperti apapun dirinya, mencintainya dengan tulus..

Namun aku sendiri hanya mengungkapkan dan merasakannya, aku tak pernah memberikan rasa sayang itu dengan seharusnya.

Menunjukkan rasa sayang itu? Tidak yang aku lakukan hanya mengegoiskan diriku pada kebanggaan semu.
Aku tersadar, bukan apa yang aku rasakan, tapi pada cinta, pada apa yang aku lakukan untuk menunjukkan rasa sayang itu, rasa cinta itu, bukan sekedar kata-kata yang terucap indah, tapi bagaimana aku membuat Cheryl merasakan rasa cinta itu dengan seluruh inderanya.. merasakan utuh rasa cinta yang dapat kuberikan padanya.

Aku memang pengecut, seseorang yang takut untuk menerima apa yang aku lakukan, berusaha memisahkan kehidupan nyata dengan maya. Takut saat orang menilaiku salah.. aku takut dan bersembunyi dalam topeng, bersembunyi dalam topeng untuk memperlihatkan betapa hebatnya diriku.

Aku takut, aku hanya takut karena aku tahu apa yang aku lakukan salah, aku takut karena tak bisa menjaga komitmen yang aku ucapkan sendiri.

“ Kamu tahu Rey ? “ tanya Cheryl

“ Pernahkah kamu berjuang mempertahankan hubungan kita ? “ kata-katanya terdengar begitu bergetar
Aku menggeleng..

“ Enggak kan, loe ga pernah memperjuangkan gw, loe ga pernah berusaha merebut gw lagi, yang loe lakukan cuma marah, marah dan pukul.. “

“ Please Cher.. kasih gw kesempatan terakhir.. “ Pintaku, menarik tangannya dalam gengamanku, menatapnya yang tengah menangis..

“ Sory Rey.. percuma semua udah terlambat.. “ Cheryl memalingkan wajahnya, aku menahan tangannya yang berusaha lepas dari tanganku.

“ Tolong, aku akan berubah.. benar-benar berubah.. “ Pintaku lagi.. air mataku mengalir kali ini, tak rela kehilangannya

Cheryl lagi-lagi menggelengkan kepalanya.

“ Aku mohon.. benar-benar tulus,, aku akan menjaga komitmen kita.. “ mohonku lagi

“ Ga Rey.. ga bisa.. gw cape.. cape untuk terus disakitin.. “ Kali ini dia menarik tangannya kuat-kuat.. lepas dari tanganku.

“ Cheryl… “ aku mengucap itu kosong

“ Loe lelaki Rey.. lelaki.. loe harus bisa terima keputusan dia.. “ Ryan menahanku untuk mengejar Cheryl lagi, wajahnya terlihat serius seolah tak membiarkanku menyentuh Cheryl lagi.

Aku menatapnya.. menatap penuh harap pada Ryan untuk membiarkanku mengejar Cheryl lagi.

Dia menggelengkan kepalanya seolah tahu apa yang kupikirkan.

Aku menunduk, menghapus air mataku..

Menarik nafas panjang, pikiranku melayang jauh..semua terasa begitu berat sekarang kehilangan ayah dan juga seseorang yang begitu aku sayangi di hari yang sama.

Aku berusaha menahan emosiku, mengambil tasku dan berjalan kearah loket pembelian tiket.

“ Gw belom beres Rey.. “ Cegah Ryan

“ Masih ada yang belum diomongin.. masalah Sandra.. “ lanjutnya lagi.

Aku tertegun.. okay mungkin Ryan benar-benar mau mengulitiku sekarang.

To Be Continued
###

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s