^^Auf Wiedersehen, Natasha Devi^^ #2

16 (7)Tepat sekali.. Hari itu kami memang keluar hotel sendiri-sendiri dengan urusan masing-masing. Setelah ber-cipika-cipiki, kekasihku yang cantik itu segera memasuki mobil jemputan rekanan bisnisnya, pun demikian juga denganku yang dijemput orang dari kantor cabang yang mengendarai mobil Innova inventaris kantor.

Hari sabtu ini aku bener-bener sibuk. Hari yang seharusnya menjadi weekend yang santai pun tinggal harapan. Aku masih bergelut dengan bejibun berkas pekerjaan yang harus segera diselesaikan kemudian melaporkan kekantor pusat. Memang sengaja aku menyelesaikannya cepat-cepat, sehingga aku bisa melewatkan jalan-jalan di Kota Solo bersama Natasha. Tak terasa jam 17.30 aku baru sampai dikamar hotel.

“Hmm.. Natasha sudah pulang..” pikirku karena aku melihat baju tadi pagi yang ia kenakan sudah digantung didalam lemari kaca.

“Nat.. Natashaa!” ucapku sedikit berteriak.

“Iyaa sayang, ini lagi mandi sekalian ganti baju!” sahutnya dari dalam kamar mandi.

“Pasti lama, dasar cewek..” aku menggerutu kemudian merebahkan tubuh untuk berusaha relax setelah seharian dihantam kepenatan.

Selang beberapa saat..

“Rey, ngantuk ya? Sori lama, hehehee..” terucap suara yang lembut diiringi kekehan lucu. Ternyata Natasha.

“Belum sih, cuma ketiduran aja. Tadi banyak banget yang harus aku kerjain di kantor cabang.”

“Mau kemana sih, Nat? Suiit-suiittt! Duilee cantik banget.” imbuhku sambil memandang Bidadari cantik yang malam ini tampak seksi.

“So pasti laah, hehee.. Rey, laper nih. Ayo makan malem dulu. Nat pengen nyicipin ikan bakar mumpung ada barbeque nih di resto hotel. Percuma dong kalau kamu ga mau, padahal Nat udah dandan cakep kayak gini. Hihihiii..”

Aku hanya bisa terpana dan baru menyadari pada saat mengetahui penampilannya yang begitu eye catching. Natasha Devi, kekasihku tersebut dengan pEdE mengenakan rok jeans belel mini sedikit diatas lutut dipermanis dengan belahan dipaha kanan sebelah samping yang cukup tinggi, setengah paha lebih.

Untuk atasan, cukup dengan t-shirt ketat yang membungkus erat lekuk sensual ditubuhnya dengan bahu terbuka, Hmm.. Model Sabrina? Tapi sungguh, sebuah pemandangan yang memikat dan menyekat tenggorokan telah berhasil disuguhkan Natasha dengan sempurna.

“Hehehee.. Baik tuan Puteri. Tunggu yaa, aku mandi dulu..” ujarku sembari menggeliatkan badan untuk meregangkan otot-otot yang kaku.

Aku pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dengan keramas. Setelah selesai mandi, aku cukup mengenakan t-shirt Polo, celana jeans, dan sedikit semprotan parfum dibeberapa sudut bagian tubuhku.

08 (2)

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

“Duuch gantengnyaa.. Suit-suiit!! Hehee.. Eh jam tangannya dipake dong, biar makin perfect..” bilang Natasha seraya menggamit lenganku berjalan beriringan untuk menikmati acara makan malam.

“Ga pengen nyobain Nasi Liwet atau Cabuk Rambak, Nat?” tanyaku memberikan suggest menu makanan tradisional Kota Solo.

“Ga ahh! Malem ini Nat pengen bakar ikan, Rey..”

“Oke lah. Ikan bakar pasti juga, mammamiaa!!”

Bagian belakang hotel bintang lima ini memang sangat luas, masih ada juga hamparan sawah milik pihak hotel yang dikelola bersama dengan warga masyarakat sekitar. Atmosphere yang ditawarkan di Kampoeng Ikan Restauran memang sangat memukau. Open air dengan gazebo-gazebo yang luas dan sedikit saling berjauhan letaknya, sehingga memberikan kesan yang romantis bagi pasangan yang akan menghabiskan malam disini.

Kerdip api dari obor yang mengelilingi tempat barbeque menambah suasana benar-benar alami seperti di sebuah desa pelosok yang belum ada listrik.

“Seperti hidup di zaman-zaman kerajaan ya Rey, pake obor segala. Kaya di film Saur Sepuh Brahma Kumbara. Hihihiii..”

“Haha!! Bisa aja kamu, Nat..” aku geli mendengar pernyataan Natasha.

Kerlip jutaan bintang dan sinar rembulan pun leluasa menerpa makhluk-makhluk-Nya yang sedang melewatkan malam di Kampoeng Ikan. Suara dendang irama musik sombrero dari Mexico yang rancak dan dimainkan oleh Home Band Hotel sungguh benar-benar membuat para pengunjung dipaksa untuk turut bergoyang meliukkan tubuh.

Natasha memilih menu Grill Octopus, Grill Cakalang, sama Shrimp Teriyaki sedang aku memesan Kepiting Bamboo dan Baby Sniper Stroganoff. Untuk sayurnya cukup Kangkung Plecing dan Trancam. Fresh Mineral Water dan Avocado Float kami pilih untuk melancarkan tenggorokan dari rasa seret. Sembari menunggu pesanan makanan datang, kami berdua asyik berbincang dan ngobrol.

“Love you Nat..”

“Love you toO..”

“Gimana urusan kantor? Beres?” tanyaku seraya menatap lekat wajah bulat telur itu.

“Beres sih, cuma ada beberapa hal lagi yang butuh kata sepakat dari kedua belah pihak..”

“Hmm.. Baguslah kalau begitu, Nat. Btw, emang pengen jadi Sales Executive Marketing sampai kapan?” tanyaku kalem dengan senyum dikulum.

“Secepatnya Nat pengen segera berhenti kerja..”

“Hah!!” sahutku kaget.

“Kenapa memangnya?” tanyaku penasaran.

“Karena Nat pengen jadi Presiden Komisaris di perusahaan sendiri. Punya perusahaan property sendiri, udah gitu pengen membahagiakan ortu, baru kemudian menikah, dan menjadi Mama yang baik dari anak-anak kita yang lucu. Yaah.. Istilahnya punya impian untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia dunia akhirat gitu lah, Rey. Amieen. Hihihiii.. Alangkah indahnya jika semua itu menjadi kenyataan yaa? Duuh jadi malu..” jawab Natasha tentang mimpi, cita-cita, dan harapannya.

“Amieen.. Pasti bisa terwujud asal dengan tekad yang kuat..” tukasku cepat.

“Semoga aja..” ucapnya lirih.

“Iyaa Nat..”

“Ngg.. Kalau kamu gimana, Rey?”

“Sedang bersaing nih sama kolega kantor..”

“Bersaing? Maksudnya?” kening Natasha berkerut.

“Ada peluang promosi kenaikan jabatan dikantor, Nat. Ada 2 kandidat yang akan memperoleh promosi itu dan akan dikirim ke kantor pusat di Jerman. Tapi dilihat dulu bagaimana kinerja calon yang akan di promosiin itu biar ga malu-maluin ntar. Kedua kandidat itu, aku dan Adrian. Impian ku sih bisa memenangkan promosi itu, terus kerja lebih giat, dapat duit banyak, dan pada akhirnya nanti juga akan menikah, dan menjadi Papa yang baik dari anak-anak kita yang lucu. Amieen!”

“Amieen!!”

“Nat harap semoga impian kita bisa terwujud dan menjadi kenyataan ya Rey. Amien..” tukas Natasha seraya memegangi kening. Pusing.

“Amien. Eh.. Pusing? Obat diminum aja, sayang..” saranku padanya.

Natasha mengangguk.

“Maaf, ini makanannya sudah siap Pak, Bu.” ujar petugas restauran sambil memberikan dan menatakan pesanan makanan kami diatas meja.

“Makasih, Mas..”

“Iya, sama-sama. Selamat makan and have a nice dinner..” balas Waiter hotel yang begitu ramah seraya tersenyum.

Kami mengangguk dan membalas senyumnya.

10 (2)

450x100

“Ayo Rey kita hajaar bleehhh!!” Natasha berbinar demi melihat makanan yang masih hangat dan beraroma harum menggugah selera.

“Siaaap!!” jeritku mengimbangi semangat Natasha.

Kami berdua benar-benar seperti orang yang kelaparan. Ngg.. Dibilang rakus juga gapapa deh hehee.. Dalam sekejap dan tak berapa lama kemudian, hidangan itu sudah berpindah tempat ke perut kami berdua. Kenyaang.. Santai-santai sebentar, sebelum aku menawarkan minum kepada Natasha.

“Mau Chivas, Smirnoff, atau Tia Maria? Abis itu goyang yuuk..”

“Hmm.. Boleh juga tuh Rey biar rada hangat. Lagian udah mulai dingin dan musiknya enak banget buat joget.. ” Natasha meng-amini pendapatku.

“Aku mau pesen Blue Margareta on the rock. Kamu apa Nat?”

“Ngg.. Smirnoff double mix aja deh..” aku beranjak menuju PollBar untuk memesan minuman penghangat badan.

Suara irama musik Meksiko yang cepat dan rancak itu membuat Natasha turun untuk bergoyang meliukkan tubuh mengikuti irama lagu. Smirnoff double mix itu telah menyuntikkan keberanian yang membaur bersama aliran darahnya.

Pemandangan yang memukau langsung ditawarkan kekasihku. Gerakan pundak telanjangnya yang ber-sabrina begitu lincah, kedua tangannya sesekali dinaikkan keatas untuk mengusap-usap kepalanya sendiri yang ia tengak-tengokkan kekanan kiri sehinga rambutnya ikut berkibas, juga goyang pinggulnya yang kemana-mana. Begitu sensual dan terlihat erotis namun tetap elegan tidak memberikan kesan vulgar ataupun kampungan.

Aku beranjak untuk menemaninya bergoyang setelah lambaian tangannya mengarah kepadaku. Tapi aku mengajaknya berjoget didekat gazebo aja sedikit menjauh dari tamu hotel yang lain. Sesekali berpelukan mesra dan dengan sedikit gerakan, buah dadanya sesekali menyentuh tubuhku. Aku merasakan getaran halus dan hangat menjalar diseluruh tubuhku ditambah lagi harum parfumnya semakin membuatku ‘naik”.

Entah dari mana keberanian itu datang, mungkin dari Blue Margareta, aku nekat untuk mengecup lembut leher jenjangnya. Natasha sedikit kaget dengan ulahku namun kemudian tersenyum dan itu semakin membuatku berani untuk memeluknya lebih erat lagi dan lagi. Respon gadis cantik itu juga sangat bagus, kecupan kecil nan hangat dari Natasha juga segera mem-bombardir bibirku.

Natasha menyandarkan kepalanya di dadaku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, kuangkat dagunya yang bagai sarang lebah menggantung itu. Bibir tipisnya tampak bergetar. Pada saat kekasihku memejamkan kedua bola matanya, segera saja aku lumatkankan bibirku untuk menangkup bibirnya, pagutan yang pada awalnya lembut, semakin lama pun semakin panas berganti dengan lumatan penuh birahi.

Natasha bergairah, aku pun bergairah. Lidah kami berdua pun ikut berdansa, saling membelit dan menghisap, menghangatkan satu sama lain. Sementara itu tanganku meraba-raba dadanya dengan lembut. Kenyal. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke kamar hotel saja.

Natasha menarik cepat tanganku ke dalam kamar. Begitu pintu kamar ditutup gadis cantik itu langsung memegang kedua pipi dan menarik kepalaku untuk melumat bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya yang hangat dan basah itu kembali menggeliat dengan erotis di dalam mulutku.

Jangan membangunkan Singa jantan yang lagi tidur, berbahaya! Dan saat ini Singa jantan itu sudah terlanjur menggeliat bangun dalam keadaan lapar.

Aku pepetkan tubuh langsing yang tinggi semampai dan beraroma wangi itu dengan punggung menempel erat didinding kamar. Dengan mulut masih saling melumat, tangan kananku segera memeluk pinggulnya yang berlekuk sementara itu tugas dan kewajiban tangan kiri adalah mulai meremas-remas buah payudaranya yang terasa begitu kenyal, padat, dan begitu mengacung kencang.

Batang kelelakianku perlahan mengeras, ingin rasanya segera aku keluarkan dari kungkungan celana dalam biar lega tapi berusaha aku tahan, karena aku ingin menikmati semua ini perlahan-lahan. Slow but sure. Kutarik pinggul ramping Natasha sambil menekan pinggulku sehingga membuat alat kelamin kami saling menempel satu dengan yang lainnya, walaupun masih berada dibalik celana panjang dan rok jeans mini.

Akan tetapi semua itu tetap saja membuat darah muda kami menggelegak dan menggelora. Semakin terasa hot sewaktu Natasha ikut menggoyangkan pinggul agar vagina miliknya bersentuhan dengan penisku.

“Ooughh Rey.. Sshhh!” desah Natasha terdengar merdu.

Aku bisa merasakan lidahnya yang hangat basah berwarna merah melata di telingaku dengan gerakan yang sensual melingkar di leherku.

“Hmmpff!! Uughh!” giliran aku yang mendesah merasakan permainan lidahnya yang nakal. Tubuhku sedikit menggial.

Lidahnya semakin turun kebawah. Merayap perlahan kearah dadaku sementara jemarinya yang lentik berkulit putih mulai membuka kancing t-shirtku satu per satu. Meski cuma ada 2 kancing disana. Jemari yang satunya dengan nakal mengangkat t-shirt Polo yang aku kenakan. Lidahnya begitu genit memainkan puting dadaku yang kecokelatan.

Mengulasnya pelan, membelit, dan berputar melingkar penuh perasaan. Kadang bibirnya yang berbalut lipstik merah itu menghisap, sesekali juga menggigit kecil. Seperti terkena arus listrik yang menyengat walau tidak begitu kuat.

“Ummphff!! Ter..rushhh Nat!! ougghh..” suaraku bergetar menahan nikmat sekaligus memintanya untuk tetap meneruskan ulah mulutnya itu.

Natasha Devi semakin panas dalam memainkan mulut berbibir tipisnya. Semakin menggairahkan dalam memimpin orkestra birahi yang tersaji dimalam ini. Setiap gerak yang dilakukannya sungguh membikin dada ini berdegub semakin kencang. Natasha berlutut saat lidahnya meliuk dan mengulik di pusar sembari tangannya dengan lincah membuka sabuk, kancing celana, dan restluiting celanaku.

Bidadari malam, Bidadari haus belaian segera meremas pelan, mengecup dan menggigit-gigit lembut penis jantanku yang masih terbungkus celana dalam. Setelah itu tanpa ragu dia memasukan tangannya kedalam celana dalam, dan mengeluarkan penisku yang sudah mengacung keras seperti batang kayu.

Natasha menggenggam dan menggosokkan jempolnya tepat di ujung kepala kejantananku yang sudah basah oleh cairan pre-cum sehingga menimbulkan rasa ngilu yang nikmat. Aku menggelinjang pelan. Aku merintih lirih. Wajah cantiknya mendekat. Lidahnya yang merah basah mulai membalur kepala panisku dengan mesra. Dikorek-koreknya juga lubang kemaluanku keatas bawah dengan ujung lidah.

“Aaaghh, Natt!! Shhh!!” desahku tak tertahan manakala lidahnya semakin lincah bergerak menguas leher dibawah kepala kemaluanku, diteruskan keseluruh batang yang berurat, dan berakhir di buah zakar. Dikelomoh dan dikelamutinya satu per satu dengan rakus sepasang bola kecil penghasil sperma itu.

“Ngilu.uu Nat!! Uughh yeshhh!!.. Aa..aaghh! Kamu pinter bahh..ngetshhh!! hisap sa.sayaangghh.. Hisaphh!!” aku meracau semakin gila merasakan service oralnya yang begitu expert.

11 (3)

300x250

Natasha memang smart girl, sehingga dia tahu dan mengerti betul apa yang harus dilakukannya. Wajahnya yang merona merah memandangku seraya memasukkan batang penis itu perlahan kedalam kehangatan mulutnya yang tak terkira. Setengah dari kemaluanku sudah terjebak didalam mulutnya yang menawarkan berjuta kenikmatan.

Dia mulai menghisap-hisap sambil tetap lidahnya membelit erat. Kadang dikempotkannya pipi kanan dan kiri seakan ingin memipihkan batang yang berbentuk lonjong itu. Setelah puas membuat aku berkelojotan, dia mulai menelan semuanya, menelan seutuhnya batang penis itu sampai mentok kedalam tenggorokanya yang bergerinjal.

Gerakan kepalanya mulai berayun mengeluar masukkan penis tegangku. Hangat dan nikmat. Aku memegang kepalanya, mencoba mengatur tusukan-tusukan kedalam mulut berbibir tipisnya, namun semakin lama genggamanku dikepala yang bermahkotakan rambut lurus itu tidak lagi berguna, karena ritme gerakan memompa dari kepalanya semakin cepat dan bertambah cepat dalam mengkocok kemaluanku.

Apa yang kurasa sangat luar biasa dan membuat tubuhku serasa melayang terbang tinggi di luasnya cakrawala. Gesekan ringan penisku dengan gigi putihnya membuat mulutku membentuk huruf O. Natasha sangat pandai menaik turunkan birahiku. Semakin aku mengerang penuh nikmat, semakin cepat pula kekasihku itu memompakan mulutnya melahap kelelakianku.

“Nikmat seh..sehkaliii Nat!! Gila.aa.. Aakhh!! Lebih cepat sa.sayangghh.. Ooughh shittt!!” aku menggeram, aku menceracau dihajar ganasnya nafsu Natasha.

Setelah aku rasakan gunung api ini hampir meledak, segera aku tahan gerakannya, dan aku tarik kepalanya pelan. Sungguh aku tidak ingin menyelesaikan foreplay ini dengan meledak di dalam mulutnya.

“Enak, Rey? Hmm? Suka ga dengan oralnya Nat?” ujarnya dengan mimik wajah yang nakal. Disapukan lidah lancip itu untuk membasahi bibirnya.

“Gila apa ga suka?? Sumpah enak banget deh..” tukasku cepat dengan nafas yang memburu.

“Hehe.. Aaghh! Auww! Uughhh Rey!!..” erang Natasha manja seraya menggial.

Bentuk leher yang memanjang indah itu aku lumat penuh hasrat, pundaknya yang telanjang juga tak luput dari jarahan lidahku. Semakin menggelora birahi yang ada maka aku lantas membuka kaos ketat sekaligus bra ber-size 34b. Ouughh!! Indah bangeeet.. Sepasang buah dada yang bulat putih dan mengacung kencang itu pun menyembul dengan puting mungil imut berwarna merah segar. Tak berlama-lama, langsung saja lidahku menjilat, menyentil, dan mengelomoh membasahi puting yang sangat menggemaskan itu.

“Sshhh Rey!!.. Auww umphhfff!!” lenguh Natasha sembari membusungkan buah dadanya untuk menggali kenikmatan yang lebih melalui mulutku.

“Oughh yeshhh Rey!! Ji.jilaat sa.sayaanghh!! Shitt enyaa.aak bangeetsshhh!!” erangannya semakin membuncah karena hisapanku semakin liar. Puting merah segar dan sebagian buah dadanya yang berkulit putih mulus pun telah aku telan mentah-mentah kedalam hangat mulutku.

“Aaaghh Rey!!.. Aauuhh.. Aakhh! Aaakhhh!!” jeritnya seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sebagian rambutnya menutupi kening. Lengket dikulit yang telah berpeluh. Sungguh sangatlah erotis dilihatnya.

Puas melumat buah dadanya yang kenyal dan mengkel, sekarang giliran aku yang berlutut didepannya untuk melolosi rok jeans mini yang dikenakannya. Celana dalam mini putih dengan gambar mawar segera tampak membungkus erat vaginanya. Ku usap perlahan tepat dibagian tengah yang terhimpit sepasang paha jenjang dengan jari jemariku. Hmm.. Sudah terasa lembab. Aku pun mencoba merayapkan jari menyusup memasuki dari sisi celana dalamnya sehingga langsung bisa menyentuh daging lembut yang basah sedikit lengket dan berasa hangat.

“Rey.. Ougghh.. Shhh!!” kembali erangan penuh nikmat birahi keluar dari mulutnya yang mungil pada saat ujung jariku mulai mengusap pelan di celah bibir vaginanya sementara itu mulutku juga ikut memanjakan Natasha dengan mengulas dan melatakan lidah untuk merasakan kehalusan kulit pahanya yang lembut.

Natasha sedikit mengatupkan sepasang pahanya yang putih tatkala secarik kain segitiga penutup alat vitalnya aku lucuti. Bulu kemaluannya yang tipis tampak membentuk segitiga tepat diatas celah vaginanya yang berkulit lebih putih. Clitorisnya tampak malu-malu menampakkan diri.

“Mulus banget sayaaang. Hmmm.. Wangi lagi..” pujiku tulus setelah mencicipi sedikit bagian intimnya yang menggoda.

Agar lebih leluasa untuk melahapnya, maka dengan cekatan aku angkat tungkai batang kakinya yang panjang yang sebelah kanan dan aku daratkan dibahuku. Ooh God!! Vagina Natasha sangat menggairahkan untuk dijajah kenikmatannya. Sempit, merah, dan sudah basah mengkilat oleh nafsunya sendiri.Tak perlu meminta izin darinya, aku pun mulai menjilat bibir vagina itu dari bawah keatas dengan telak.

“Leephhh!!” dan sesekali menghisap dan mengulum daging mungil miliknya kedalam mulutku.

“Aaghhh shitt!!.. Ooughh Rey, gilaa!!.. EnakK bang.ngeetshhh!!” ceracau Natasha seraya mendongakkan kepala dengan mata terpejam. Kedua tangannya mengacak-acak kepalaku yang terus memompakan rasa nikmat keseluruh syaraf-syaraf yang ada ditubuh kekasihku.

Lidahku bergerak cepat mengaduk, menjilat, dan juga menyusuri setiap inci celah vaginanya yang semakin basah kuyup juga licin. Sedang jariku dengan atraktif melakukan manuver dengan gerakan melingkar didalam kemaluannya untuk merasakan gerinjalan lembut dan denyutannya yang intens meremasi jari tanganku.

“Sshhh!!.. Ummphhfff!!” desis Nat merasakan hisapanku yang terus menyeruput lubang kenikmatannya.

Natasha Devi semakin bergelora sewaktu aku membuka celah bibir vaginanya dengan jempol kanan kiriku untuk menguak sumber kenikmatan yang sangat merangsang itu lebih lebar lagi. Bener-bener vagina kelas wahid. Bener-bener vagina madu. Lubang vaginanya begitu kecil saat lidahku menyusup lebih dalam lagi seakan mencari dasarnya. Natasha sangat kooperatif, disaat aku melahap kemaluannya dia pun menyorongkan kue apem itu lebih lekat di mulutku.

“Eat it all, Rey!! Uughhh!!” pinta Natasha. Akan tetapi sejurus kemudian,

“Rey.. Shhh!! Mmphh!! Stopp duu.luu.. Aaakhh!!.. Nat udah gat a.taa..haan lagii.iihhh!!” rengeknya dengan nafas tersengal.

Emang enak yaa Nat? kalau ditahan-tahan gitu? Udah tuntasin aja gapapa kok…

“Pleasee, Reeyyy!!.. Berhentii.iihhh duluu.. Uughhh!!” pinta Natasha seraya menggerakkan pinggulnya kebelakang dan mendorong kepalaku untuk menjauh dari vaginanya.

“Hehehee..” aku terkekeh sambil berdiri.

“Dasar bandel!” Natasha cemberut manja. Kemudian tersenyum. Maniiiis banget.

content_010

logo

Aku memapah tubuhnya kearah ranjang dan segera merebahkannya. Pemandangan yang begitu erotis disaat kami bergumul, bercumbu liar, saling memagut, dan saling memanjakan alat kelamin kami.

“Sekarang Rey. Hit me deeply.. Hmmpfff!” pintanya diantara erangan yang keluar dari bibirnya yang seksi.

Aku tersenyum dan mengangguk demi melihat Bidadariku yang sudah siap untuk digagahi. Perlahan, aku pun langsung mendaki keatas tubuhnya yang polos. Sekali lagi, Natasha sangat kooperatif saat akan melakukan persenggamaan. Dia membuka lebar kedua batang pahanya yang berkulit putih mulus itu saat aku menempatkan diri diantaranya. Sebentar kemudian Natasha menggial sensual pada saat kepala penisku yang memerah itu perlahan menyusup dan memasuki celah kelopak vaginanya yang semakin memerah dan basah.

Aku berhenti sejenak. Kepala dan leher penisku terjepit begitu erat. Denyutannya sungguh terasa mencekik leher penisku. Natasha mendongakkan kepala ketika aku mulai mendayung sampan birahi bersamanya. Natasha memejamkan mata sewaktu aku mulai memompakan batang penis keluar masuk untuk mengail kenikmatan yang disajikan oleh vagina Natasha.

“Oughhh yeshhh!!.. En.anaakk, Reyyy!! Shhh!! Ummphhfff!!” Natasha mengerang. Natasha menceracau. Desahannya sungguh membikin gejolakku semakin menggelegak kuat.

Dia pun mulai mengayunkan pinggulnya untuk meng-counter tusukan penisku dengan menserasikan gerakan yang tercipta. Buah dadanya bergoyang keatas kebawah seiring tubuh telanjangnya yang tersentak oleh pompaanku. Aku mendekatkan mulut untuk menelan payudara yang juga mengkilat basah terkena peluh yang keluar melalui pori-pori kulitnya.

“Aagghh!.. Ter.russhhh, Rey!! Uughh!! Deeplyy beib!! Deeplyyy!! Aaghhh!!!” rengek dan kicauan Natasha semakin jalang saat aku tekan batang penisku semakin dalam.

“Ssshh.. Nikmaat bah.ngettshhh, Natt!! Uughhh yeshhh!! Sempitt dan perr.reetsshhh!!” desah dan desisku bergantian sewaktu merasakan kenikmatan rongga vaginanya yang sempit dan mengempot-empot ketat disekujur batang kemaluanku.

“Aaghhh!!.. Oughh Rey!!.. Nikmat se.sekalii.iiihhhh!! Sshh..” lenguh kekasihku lepas ketika merasakan gesekan batang kejantananku yang berurat menggerus dinding kemaluannya yang bergerinjal lembut.

Saat kami berdua terbius oleh rasa nikmat yang disajikan oleh kemaluan masing-masing, tak henti juga kami saling menghisap, melumat, dan mengelomoh setiap bagian tubuh yang ada.

“Ugghh Rey!! Shhh!!.. Fuck me harder!! Harderr Rey, Harder!!.. Ouughhh shiittt!! Shiitt!! I’m cumingg!! Aaghhh!! I’m cummingggg!!! Aaaaakkhhh!!!” tubuh telanjang Natasha yang sedang aku gumuli mengejang hebat. Punggungnya melengkung dan berkelojotan disaat badai orgasme menghantam telak dirinya. Tangannya mencakari punggungku, sedang tungkai kakinya yang jenjang berkulit putih melingkari pinggangku dengan erat.

“Ougghh!!.. Aaghhhh!!.. Nat dapet, Rey.. Oughh ena.aak bangeetsshhh..” Natasha yang cantik telah lemas namun begitu denyutan dari vaginanya terus-terusan meremas dan menyedot batang penisku.

“Sorii yaa, Nat duluan. Abis enak banget, Rey. Hehehee..” celoteh kekasihku dengan malu-malu. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku masih menunggangi tubuh wanginya yang basah oleh keringat dengan batang penis yang masih terbenam didalam vaginanya.

“No problemo, Nat. Malah ntar bisa capet lagi kok. Hehe..” godaku seraya memberikan sun sayang dikeningnnya.

“Memangnya ‘ini’ masih tahan lama?” tanya Natasha seraya mencengkeramkan vaginanya ke penisku pada saat dia mengucapkan kata ‘ini’

“Ouughh Nat!!” aku melenguh merasakan jepitan dari otot kamaluannya.

“Mau bukti? Hmm..??” aku menantangnya.

“Siapa takut. Buktikan!” seru Natasha manja sambil mengusap pipiku dengan lembut.

“Mulai yaah..” pintaku. Natasha mengangguk.

Aku melumat lehernya. Mencecap keringatnya yang bercampur antara aroma wangi parfum dan keringat. Sementara itu pinggulku mulai bergerak. Mulai memompa dengan tusukan perlahan.

“Uumphfff!!” Natasha meliukkan pinggulnya yang berlekuk menyambut hunjaman penisku.

Birahi kekasihku kembali membara, tekanan pinggulku dibalasnya, dicounternya dengan pinggul yang bergerak memutar dan bergoyang. Penisku seperti diaduk-aduk. Kemaluanku seakan dipelintir dengan sangat erat. Putaran pinggulnya membuatku terbang melayang menggapai khayangan menemui Dewa Langit.

“Mphfff Nat! Sshhh!!” desahan pun tak tertahan lagi keluar keluar dari mulutku.

“I wanna ride yours, beib..”

“Oke Nat..”

Kami merubah posisi bercinta. Aku telentang dibawah, dia diatas. Natasha Devi mulai mendorong vaginanya kebawah. Gadis cantik itu menekan dalam-dalam sehingga batang penisku pun terasa terhimpit ketat sampai menyentuh ujung terdalam kewanitaannya.

Setelah semua berhasil ditelannya, Natasha pun beraksi dengan mengayunkan pinggulnya mundur maju. Cepat dan penuh gairah. Semakin lama aku merasakan goyang pinggulnya bertambah cepat. Sepertinya aku tak kuasa untuk menahan hentakan rasa nikmat yang mendera seluruh urat syaraf dan semua titik-titik persendian tubuhku.

“Oughh yeaahhh!! Teruss Nat.. Shhh!!.. Goyang lah.gii.iihhh!! Uughh sem.pitt se.sekalii.iihhh!!” erangku keenakan. Tubuhku menggelinjang.

“Enak yaah sayang? Hmm?”

Natasha menempatkan kedua telapak tangannya dikedua sisi kepalaku. Tubuhnya yang polos merunduk sedang pinggulnya terus tiada henti menggoyang batang penisku. Cepat. Ayunan yang diselingi goyang erotis itu semakin cepat. Buah dada yang berukuran 34b nya dengan jelas berayun menggemaskan tepat diatas wajahku sehingga dengan sedikit menegakkan kepala aku berhasil untuk melumat dan melahap sepasang buah dada mengkel yang putingnya mengacung keras.

“Oughhh, Rey!!.. Nikmatt bang.ngetshh!!.. Lumat Rey! Telan semuanyaa.aaghhh!!.. Shhh!!” Natasha menggeram dan mendesah keras sambil merendahkan tubuhnya, membekap wajahku dengan buah dadanya yang licin terkena keringat.

Ayunan pinggulnya yang berlekuk semakin kurang ajar dan semakin menjadi tidak terkendali. Karena rongrongan nafsu birahinya sudah memenuhi setiap aliran darahnya, maka tidak berapa lama kemudian tubuhnya yang telanjang bulat kembali mengejat, dan berkelojotan hebat.

“Heeghhh!!” Natasha menekan sedalam mungkin vagina peretnya untuk menelan seutuhnya batang penisku yang berurat itu.

“Rey.. Ooughh yeshhh!! Nat dap.dapetsshhh lagii.iihh!! Aaakhhh!!!” teriak Natasha menggila.

Tubuhnya yang tadi begitu asyik menyetubuhi aku sekarang lemas, dan roboh menindihku. Cairan madu birahinya meleleh menyelimuti sekujur batang kemaluanku. Hangaat.

“Punya kamu kuat banget sih Rey? Belum dapet yaah?”

Aku tersenyum.

16 (1)

160x600

“Nat, aku ga mau kenikmatan ini cepat berlalu. Milikmu terlalu nikmat untuk disudahi. Hihihii..” bisikku seraya terkikik.

“Nakal..” Natasha bergumam manja.

Kamar hotel bintang ***** itupun kembali dipenuhi oleh suara dan desahan mesum yang membangkitkan gairah bagi siapa saja yang mendengarkannya. Penisku masih menancap didalam vaginanya yang sekarang semakin bertambah licin setelah Natasha mendapat dua kali orgasme.

Pelan-pelan aku bangun untuk mengatur posisi. Kini kami berada dalam posisi berpangkuan. Uughh!! Sungguh sensual berpangkuan tanpa mengenakan selembar benangpun ditambah posisi kedua alat kelamin kami saling memberikan kehangatan.

Tangan kiriku memeluk mesra punggungnya sedang satunya meremas gemas bongkahan pantatnya yang bahenol membulat padat dan terasa kenyal. Gerakan otot vaginanya membuat seakan meremas dan menyedot seluruh batang penisku untuk menyusup lebih dalam lagi.

“Aaghh!.. Sshh.. Reyy!! Uughhh!!..” lenguhan manja yang terucap membuat birahiku semakin menggelegak.

Kubalas gerakannya yang nakal itu dengan menggoyangkan pinggulku, sesekali aku kocokkan keatas dan juga kebawah sembari melumat rakus puting kemerahannya yang mungil itu.

“Reyy!!.. Nikmat se.sekalii.iiihhhhh!! fasterr honneyy!! Fasteerrr!! Aaghhh!!”

Gerakan tubuh Natasha semakin menggila. Meliuk dan berdansa erotis diatas kemaluanku yang masih menancap didalam vaginanya yang terasa peret. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan menahan gelombang kenikmatan yang terus menerus dihadirkan oleh jepitan ketat vagina Natasha. Untuk mengail kenikmatan yang lebih sebelum meledak, maka segera aku rebahkan tubuh lencirnya, dan menindih untuk tetap menggaulinya.

Kakinya yang jenjang pun langsung melingkar erat di pinggangku. Kami berdua yang sudah sama-sama trance pun kembali mencoba untuk mendaki puncak kenikmatan bersama. Batang penisku tak bisa berhenti. Terus-terusan menikam lubang peret Natasha yang juga tetap mengempot.

Gadis seksi seorang sales executive marketing yang sekarang menjadi binal itu tidak mau hanya berdiam diri. Dia masih saja membalas setiap serangan yang aku lakukan. Diputar dan di goyangnya pinggul berpantat bohay itu seirama dengan pompaanku.

“Auughh Natt!!.. Heeghh!.. Sshh.. Umphhffftt!! Gilaa.aahh, nikmat se.sekalii.iihhh!! Ter.rushhh put.putarrr!! i.iyaahhh gituu.uughhh!!” kicauan pertanda keenakan terus keluar dari mulutku.

“Oughhh Rey!!.. Tusuuk yang dah.dahleemmm!! Aaghhh yeshhh!!!” kami berdua telah tenggelam didalam lautan birahi.

“Nat.. A.. Aku.uuhh mau ke.kelua.aarr!” ucapku tertahan. Penisku membesar didalam belitan rongga vaginanya.

“Oughhh yesshhh!!.. Oughh yeshhh!!.. I’m cumming Reyy!! Aaaakhhhh!!!!”

Kami berpelukan dengan kuat, dan pada akhirnya secara bersamaan pula kami menggelinjang hebat saat sesuatu yang sangat nikmat itu meledak!

“AAAGHHH NAAATT!!! UUGHHH YESHHH!! AAKHHH.. AAKHHH!!!” jeritku keras seraya tetap aku kocokkan dalam-dalam penisku kedalam kehangatan vagina Natasha. Bagai gunung api yang meletus memuntahkan lahar yang panas.

Cairan sperma yang putih, kental, dan hangat itu menyembur keluar melalui lubang pada kepala penis. Begitu banyak semburannya sehingga membanjiri alat kelamin Natasha. Sebagian sperma yang tak tertampung terlihat meleleh dari sela-sela pertautan alat kelamin kami.

“Oughhh Rey!!..Nikmatt..See.sekalii.iiihhhh!!.. AAAGGHHH!!”

Kami berdua sukses terkapar bersamaan. Terkulai lemas seakan tanpa tulang belulang. Nafas kami menderu laiknya traktor tua milik Pak Tani yang masih saja dipaksa untuk membajak sawah. Setelah beberapa saat beristirahat..

B E R S A M B U N G . . . . .

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s