Tepian Hati : Cheryl Esperanza #1

0009sqqxAku hanya bisa tersipu malu, sementara jantungku berdegub kencang saat lelaki ini berdiri di depanku, tersenyum dan memberikan tangannya untuk menjabatku mengajakku untuk berkenalan dengannya, sementara gadis-gadis di kelasku malah ikut heboh menyoraki-ku, dia datang bersama temannya yang sekarang berdiri di depan pintu kelas, beberapa teman-temanku malah terlihat overacting menyapa lelaki yang berdiri di depan pintu kelasku itu.

Aku tak tahu harus bagaimana, seluruh sekolah tahu dua lelaki ini, terutama para gadis-gadis di sekolah ini, siapa yang tidak kenal dua orang pemain basket di sekolah ini, yang dibelakangnya dengan wajah Blasteran tinggi dengan tubuh agak ramping, bernama Febryant Chester dia bernomor punggung 7 dan bisa dibilang cowok paling terkenal di kalangan cewe-cewe di sekolah ini. Sedangkan satunya lagi yang sekarang sedang mengajakku berkenalan bernama Reynaldo Wijaya, dia sedikit lebih pendek dari Ryan tapi tubuhnya lebih kekar, wajahnya pun khas oriental dengan tindikan di telinga sebelah kirinya, dan jujur aku lebih menyukai Rey seperti biasa dia dipanggil dibandingkan dengan Ryan dan kalau sekarang Rey berdiri di depanku, dan mengajak-ku berkenalan dengannya, rasanya ini benar-benar sulit untuk bisa kupercaya.

Dan tentu tak ada alasan untuk-ku menolak ajakan perkenalannya itu, dan sejak perkenalan itu semuanya berjalan begitu lancar, entah mungkin sekitar satu bulan kemudian Rey menyatakan cintanya padaku, dan lagi-lagi tak ada alasan buatku untuk menolak pernyataan cintanya itu, aku mengiyakan dan sejak itu pula tangannya selalu menggengam erat tanganku.

Dan andai juga, segalanya bisa berjalan seindah itu selamanya.

Hampir satu tahun, aku menjalin hubungan dengannya, perhatian dan rasa sayangnya padaku memang nyata kurasakan, meski kicauan-kicauan tentang kelakuan Rey diluaran yang kudengar dari teman-temanku terkadang cukup menganggu hubungan kami, tapi Rey masih bisa membuktikan kalau kicauan itu tidak benar, dia selalu menggunakan istilah ‘sudah berlalu’, dan (mungkin) dengan bodohnya aku percaya apa yang dikatakannya, tapi tidak dengan apa yang terjadi beberapa minggu kebelakang ini.

Ada sesuatu yang salah, aku tahu ada yang salah dengan sikap Rey akhir-akhir padaku, bukan melalui kata-kata atau tindakan, mungkin hanya sebuah naluri yang dimiliki oleh wanita, saat dia merasakan ada kejanggalan dari orang yang dicintainya, ada sedikit rasa dimana perhatian Rey padaku menjadi terlalu berlebihan,dan itu justru terasa aneh karena perhatiannya itu malah lebih mirip memata-matai keberadaanku.

Contohnya seperti memastikan aku berada dirumah, maka setiap setengah jam dia akan bertanya padaku, tentang dimana aku berada, dan kebiasaanya itu terus berulang selama satu bulan kebelakang, seperti yang akan dilakukannya sebentar lagi, aku yakin sesaat lagi dia akan mengirimkan pesan yang sama.

Kamu lagi apa sayang ??
Nanti jadi pergi sore ?
Aku ga bisa antar ya, Maaf… Hmm kamu masih di rumah ??

Benar kan? seperti itu bunyi pesan dari Rey, entah berapa kali dia mengirimkan pesan seperti itu dalam satu hari, meski jarak dia membalas SMS itu pun tetap normal seperti biasa. Tidak tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Tapi tetap ada perasaan bahwa aku sedang dibohonginya saat ini,.

Kubalas SMS darinya itu.
Kamu dimana ?
Kamu udah berapa kali tanya gitu ?
Iya Rey, aku bisa sendiri pergi nanti sore.

Dan aku tahu butuh sekitar 15 menit lagi untuk mendapat jawaban itu, tak sabar aku beranjak pergi, mengambil kunci mobilku dan berpamitan pada Mama.

moonhug.com_2016-02-05_10-30-52

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

“ Mah aku pergi sekarang ya, kalau nanti Santi ke sini bilang aja aku pergi sendiri soalnya ada yang mau aku beli.. “ Ucap-ku pada Mama yang sedang sibuk menyiapkan potongan sayur dan daging untuk makan malamnya dengan Papa.

“ Yawda dech, ati-ati ya kamu, tadinya mama mau minta bantuan kamu buat bantuin mama siapin buat makan malam nanti. Kamu makan diluar ya jadinya ? “

Aku mengangguk mengiyakan, masuk ke pintu di sebelah dapur yang menyambung dengan garasi rumahku, pembantu rumahku pun dengan sigap membukakan pintu garasi dan pagar rumahku, aku dengan sedikit cepat memacu mobilku menuju sebuah show room mobil milik Rey.

Di perjalanan dia membalas pesanku dengan permintaan maaf, dan mengatakan kalau dia berada di showroomnya yang biasa.

Aku bergegas masuk, sementara beberapa pegawainya yang sudah mengenalku langsung menyapaku dan memberitahuku kalau Rey berada di lantai atas, aku pun naik ke lantai atas rukonya ke ruang kantor dan administrasi dan ruangan biasa Rey berada.

Aku membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk, dan kulihat Rey yang tengah duduk di dalam ruangan bersama beberapa orang temannya, meski aku tak mengenal satupun dari mereka sebelumnya aku masih tersenyum sopan, dan yang yang kupikirkan olehku saat ini adalah ‘apakah aku yang hanya terlalu curiga’. Sementara Rey menatapku kaget yang tengah berdiri di depan pintu.

“ Yang, kenapa ?? tumben banget kesini. “ tanya Rey sambil berjalan ke arahku. Di ruangan itu ada 4 lelaki selain Rey yang tengah asyik merokok.

“ Gpp koq yang. aku sekalian pergi aja nih dititipin belanjaan sama mama tadi, jadi sekalian aja aku mampir kangen sama kamu “ aku beralasan membohonginya.

“ Yawda, kamu udah belanja belum ? aku temenin ya.. “ ucapnya.

“ Ga usah, aku kangen aja sama kamu jadi sekalian jalan, kamu lagi ada tamu juga ya. “ , “ Aku pergi dulu ya, kan harus ke Santi juga, soalnya jadi aku yang jemput dia.. “

“ Yawda, ati-ati ya kamu, maaf ya aku ga bisa nemenin kamu hari ini. “ Jawabnya, aku mengangguk mengiyakan dan berpamitan pada teman-temannya, kulihat teman-temannya yang sepertinya berusia cukup jauh dibanding kami, dan lagi aku berusaha untuk tidak berprasangka buruk seperti tadi lagi.

“ Kamu dari tadi disini yang ? sama temen-temen kamu itu ? “ Tanyaku saat Rey mengantarku turun

“ Iyalah, kan hari sabtu sekarang kebetulan Papa lagi pergi jadi aku bantu nunggu disini dech seharian “ , “ Tadinya aku juga mau ajak kamu pergi malam, tapi kamu dah ada janji sama yang lain, jadi aku mungkin mau ke tempat Ryan malam ya. “ jawabnya membukakan pintu mobil untuk-ku.

“ Yawda, sory ya, lagian aku kan dah bilang ada ultah sweet17 temen SMP aku, kamu yang ga bisa ikut.. nanti kamu kasih tau aja ya kalau udah di tempat Ryan. Kalau aku pulang cepet aku kesana ya.. “ Kataku sambil menghela nafas, aku tahu ada kemungkinan Rey berbohong sekarang tapi aku memilih diam.

“ Ok sayang, tapi inget have fun ya, aku ga mau gara-gara kita pacaran kita sama sekali kehilangan privacy buat main sama teman-teman kita ya. “ , “ Ati-ati kamu ya sayang.. “

Aku mengangguk, terkadang kata-kata yang telah diucapkannya berulang-ulang itu terdengar sedikit klise, sesekali aku bisa merasakan Rey yang begitu over protective padaku, sementara dia selalu menggunakan kata-kata itu saat ingin bermain dengan teman-temannya yang bahkan aku ga tau siapa mereka.

Oh iya, darimana aku tahu kalau Rey membohongiku ?

Aku rasa konyol kalau ada 4 orang perokok di ruangan itu, tapi asbak di ruangan itu masih bersih tanpa satu pun puntung rokok. Aku mungkin bukan orang yang teliti seperti itu, tapi Papa yang perokok jelas menjadi contoh buatku berapa banyak batang yang bisa dihabiskan oleh seorang perokok dalam 1 jam.

moonhug.com_2016-02-05_10-30-14

300x250

Rey mencium bibirku, kulirik jam yang telah menunjukan lebih dari jam 12 malam, aku dan Rey berada dalam sebuah ruangan hotel, dia yang menjemputku dengan kendaraan umum sehingga tak perlu bingung dengan dua mobil yang harus kami bawa, dia memberikan aku sebuah hadiah kecil yang begitu indah, bukan masalah harganya yang mungkin mahal atau murah, tapi ada satu perhatian darinya yang kurasakan dan itu yang terpenting.

Hingga aku mengiyakan permintaannya untuk berbohong, dengan memberitahu Mama kalau aku akan menginap di rumah Santi, juga mengiyakan permintaannya untuk bermalam di ruang kamar hotel ini, seks mungkin sesuatu hal yang biasa kami lakukan dalam hubungan kami, tak ada sedikitpun penyesalan melakukannya, juga aku yang dengan sadar melakukan hubungan ini, dan terlebih yang membuatku yakin untuk melakukannya adalah karena aku melakukannya dengan seseorang yang aku sayangi.

Bukan, dia memang bukan lelaki pertama yang menyentuhku, bukan juga lelaki pertama yang kuberikan cintaku, dia lelaki kedua untuk-ku tapi selalu menjadi yang terindah buatku dan untuknya lah kuberikan semua rasa cintaku, aku masih ingat uraian tangis-ku saat aku untuk pertama kalinya mengatakan kejujuran ini, sesuatu yang rasanya sangat sulit untuk aku katakan, namun aku tahu aku memang harus mengatakannya…aku tak bisa terus membohonginya tentang hal ini, dan satu yang membuatku mampu mengatakannya adalah.. tatapan matanya yang tulus, senyuman lembutnya dan pelukannya yang hangat, sampai akhirnya aku luluh dan mampu mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semua padanya.

Dia tak marah, sedikitpun tak marah, dia memeluk-ku dengan begitu erat saat aku mengatakan bahwa aku tak mampu lagi menjadi yang terbaik buatnya. Aku tak pantas lagi berada dalam pelukannya, dia tak melepas pelukannya itu, dia menciumku dengan begitu hangat, ciuman yang sama yang diberikannya padaku saat ini, ciuman yang melambangkan sejuta cintanya untukku.

Kubiarkan tangannya yang mulai menyela menyentuh perutku lembut, sebelum kemudian naik menyentuh dadaku, menyentuhnya perlahan sementara ciumannya itu tak lepas dari bibirku, sekali dia mengurai rambutku, menatapku dengan penuh tatapan cintanya.

Aku memintanya untuk membuka pakaiannya, tubuhnya yang besar berotot memelukku dengan begitu hangat, perlahan aku menyentuhkan tanganku pada kemaluannya itu, mencoba memberikan rangsangan pada kejantanannya yang telah berdiri tegang.

Aku tersenyum menatapnya, yang sekarang menatapku dengan pandangan yang begitu bernafsu aku tahu apa yang diinginkannya. Kusentuhkan jemariku di kemaluannya itu, perlahan aku membuka pakaianku dengan sedikit gerakan yang membuat Rey menahan nafas, tubuhku yang kugerakkan perlahan kekanan kekiri, setengah bergoyang sambil perlahan melepas kaus yang kukenakan.

Hanya tersenyum kecil saat kulihat Rey tak mengedipkan matanya sedikitpun,

“ Kenapa sayang ?? “ Godaku sambil tersenyum lebar.

Dan Rey langsung mendekapku begitu erat.

Namun akhirnya perlahan kebohongan Rey mulai terurai satu persatu, di mulai dari dia yang ternyata memiliki satu ponsel lain yang digunakan untuk menyimpan SMS dari entah siapalah itu. Ternyata apa yang kudengar tentang kelakuan Rey diluaran mulai terbukti. Aku menemukan ponsel itu dari tas basketnya, saat ingin menyiapkan botol air untuk dia minum saat menunggunya berlatih basket seperti biasa.

Tapi aku masih kekurangan bukti kuat untuk membuktikan semua perbuatannya itu, SMS di ponselnya itu masih terlalu biasa-biasa saja, bukan mengindikasikan sebuah penyelewengan meski tetap membuat hatiku panas saat membacanya.

“ Kamu apa-apaan sih.. “ Tanya Rey sambil mengambil cepat ponselnya dari gengamanku.

“ Kamu yang apa-apaan.. SMS dari siapa itu ?? “ Tanyaku membalas reaksinya yang terlihat begitu aneh.

Dia terdiam sesaat, aku sudah bisa menebak apa yang akan dikatakannya selanjutnya, soal privacy atau ketidak percayaanku padanya.

“ Bisa ga yang, kamu sedikit aja percaya sama aku.. “ dan cukup kali ini aku mendengar alasan itu, aku langsung mengambil tasku, dan berjalan pergi meninggalkannya, dan aku rasa dia juga tidak akan punya keberanian untuk mengejarku, dia belum punya alasan kebohongan yang cukup kuat untuk membuatku percaya pada kebohongannya itu.

Dan tempat ini selalu menjadi tempat pelampiasan semua kekesalanku. Sebuah café Starbuck tempat Ryan bekerja. Dari kejauhan terlihat Ryan membukakan pintu untuk seorang gadis, sepertinya cukup cantik meski aku tidak jelas melihat wajahnya dengan mata minus-ku ini. Gadis itu sepertinya dijemput oleh seseorang, dan entah sejak kapan Ryan menjadi Babysitter bukan lagi sebagai bartender hehehe.

“ Wah sekarang jadi babysitter nih.. “ ucapku sambil berdiri di depan meja kasir, sementara Ryan bersiap melayani pesananku.

“ Dasar loe Cher, sendirian ?? “ tanya Ryan melihatku yang datang hanya sendirian, “ Oh iya ya, masih jam latihan sekarang.. “ Jawabnya sendiri setelah melihat jam di tangannya.

“ Minum apa ya Ry ?? “ tanyaku binggung, bosan dengan minuman yang itu-itu saja.

“ Sekarang kan habis hujan, gimana kalau hot chocolate aja ? “ usul Ryan sambil memasukkan pesanan tanpa memberi aku kesempatan untuk menolaknya.

“ Kebiasaan loe tuh, ga pernah gw yang pesan, selalu main masukin aja “ Kesalku, padahal aku ingin mencoba minuman favorite Ryan. Iced Caramel Macchiato, tapi dia tidak pernah membiarkanku memesannya.

“ Bengong terus lu Cher, Rey ga kesini jemput ? “ Tanya Ryan, dia telah mengganti pakaiannya, sepertinya jam kerjanya sudah selesai dan sekarang dia duduk di depanku sambil membawakan brownies hazelnut kesukaanku.

“ Enggak, dah dech ga usah omongin dia dulu. “ Jawabku malas membicarakan tentang Rey.

“ Ya dech.. mau beli minuman lagi ga ?? “ Tanyanya melihat minuman di gelasku yang tinggal sedikit,

“ Traktir ya ?? “ jawabku, Ryan menjawabnya dengan mengacungkan selembar voucher minuman gratis.

“ Hmm… gw mau Iced Caramel Macchiato key ?? “ paksaku.

“ Ok dech, thai iced tea berarti.. “ Dia berjalan kearah counter dan meminta pada temannya untuk memesan minuman itu seenaknya.

“ Jahat banget sih Ry,.. Yawda dech gw pesen di tempat lain aja.. “ Protesku saat dia benar-benar membawa nampan dengan Thai Iced Teadiatasnya.

“ Iya gpp pesen aja di tempat lain, yang penting loe ga boleh minum disini, soalnya ada ramuan khusus gw takut loe jatuh cinta sama gw kalau minum minuman itu disini. “ Jawabnya asal.

“ Hahahaaaa gw udah jatuh cinta sama loe Ry, loe maunya gw ngmong gitu kan.. “ candaku padanya yang dibalas dengan tatapan sinis darinya.

“ Eh Ry, tadi cewe itu siapa ? gw aja ga pernah dibukain pintu sama loe.. “ Candaku sementara Ryan malah meminum habis hot chocolateku yang sudah dingin itu.

“ Hmm yang mana ? oh yang tadi.. loe tau ga Cher tadi cewe itu kecopetan di jalan, ilang semua.. “ Jawabnya bersemangat

“ Oh, terus sekarang loe jadi tempat penampungan orang kecopetan gitu ? “ jawabku

“ Denger dulu, dia main loncat aja ke motor gw, kan tadi hujan tuh di halte depan Global Jaya gw berteduh sebentar.. tiba-tiba dia kecopetan gitu jadi dech gw ngejar motor pakai motor butut gw itu. “

“ Dapet ga ?? “ Tanyaku sambil mengaduk susu di teh dinginku.

“ Ga mungkin lah.. ilang dech copetnya.. “ Katanya sambil tertawa sendiri.

“ Ya terus kasihan gitu kan, gw bawa aja dia kesini, “

“ Pasti cantik makanya loe mau bantuin.. “ Sergapku sambil tertawa

“ Ya Cher, masa gw disamain sama Rey, bantuin kalau cewenya cantik aja.. “ dia sengaja menyindirku, “ Tapi emank sih cantik, namanya siapa ya Jennifer Adrian kalau ga salah.. “ Wajah Ryan benar-benar terlihat bersemangat menyebutkan nama itu.

“ Cieee tumben Ryan bisa segitunya sama cewe.. “ aku tertawa melihat tingkahnya yang seperti orang baru pertama kali jatuh cinta

“ Ahh.. udahlah cape ngomong sama loe.. eh tuh Rey dah dateng.. “ katanya sambil memotong brownies dan memakannya dengan cepat sebelum aku bisa memprotesnya yang sejak tadi terus memakan brownies yang dibawakannya tadi.

Aku mengacuhkannya yang berjalan mendekat ke meja tempat aku dan Ryan duduk.

“ Kamu liat bunga ini ?? “ aku tak mengacuhkan kata-kata Rey itu, kutatap Ryan yang hanya tersenyum kecil.

“ Yang, kamu liat bunga ini.. ini aku tanpa kamu, cuma separuh.. dan aku tahu kamu tanpa aku pun hanya akan seperti bunga ini.. separuh tidak utuh. “

Sementara Ryan tersenyum, menepuk pundak Rey dan berjalan pergi, dia memberikan kami kesempatan untuk berbicara berdua.

“ Aku janji Cher.. ga akan pernah aku balas SMS dari cewe lain lagi.. aku juga ga mau kalau kamu balas SMS dari cowo lain juga.. yaaa.. “ Pintanya sambil tersenyum

Entah betapa bodohnya aku yang mengangguk dan mengiyakan permintaan maafnya.

moonhug.com_2016-02-05_10-30-33

450x100

Dan selanjutnya perjalananku bersama Rey justru berjalan monoton, memang ada sedikit perubahan darinya yang tidak lagi sibuk dengan kegiatannya sendiri, dia lebih banyak bersamaku sekarang, bahkan lebih overprotective lagi. Terkadang dia yang memintaku untuk bertukar nomor handphone, sesekali dia juga mengenalkanku pada teman-teman barunya dari hobi-hobi yang dia sukai, dan terkadang juga aku menemaninya bermain air soft gun, atau pesawat remote control.

Yang berbeda adalah Ryan yang sejak masuk ke universitas ini, dia makin sibuk dengan kegiatannya mulai dari kegiatan ekstrakurikuler yang memberikan beasiswa penuh untuknya, sampai dengan hubungannya dengan Jenny. Tapi dia masih menjadi satu tempat menumpahkan keluh kesahku, meski aku tak pernah bercerita banyak, aku orang yang tertutup aku tahu itu, tapi melihat dia tersenyum terkadang membuatku mampu mengangkat sedikit masalah yang sedang kurasakan.

Sedangkan Rey, dia lebih banyak bergelut dengan hobinya, bergaul dengan beberapa orang yang makin aneh, pergaulan yang membawanya kesebuah perangkap dalam hubungan kami.

Aku diam, terus diam meski sudah mulai curiga dengan kelakuannya itu, menghilang di tengah hari, mengeluarkan uang dalam jumlah besar yang aku tak tahu untuk apa, ya kami memang menggunakan rekening bersama sehingga semua pengeluaran bisa kami bicarakan bersama. Tapi dia selalu punya sejuta alasan tak masuk akal untuk menerangkan pengeluarannya itu.

Hingga akhirnya aku tahu kemana uang itu digunakan olehnya, dan jujur aku mungkin tak mampu lagi memaafkannya kali ini. Bahkan aku merasa jijik dengan semua hadiahnya selama ini,.

Aku mengetuk pintu kamar kost Ryan, sepanjang perjalananku yang kosong hingga berakhir di kamar kost ini, kuketuk pelan kamar kost barunya sebuah bangunan baru berlantai 6 , dia tinggal di lantai 3 kamar nomor 12.

“ Cher.. cepet banget.. “ tanyanya.. aku menatap letih matanya yang juga memancarkan rona kesedihan yang sama denganku, aku tahu dia pun sama menderitanya denganku saat ini.

“ Masuk dulu.. “ Katanya sambil mempersilahkanku masuk, dia sedang menyiapkan jas hitamnya sementara dia mengenakan kemeja putih dengan celana panjang. Aku belum pernah melihatnya serapi ini sebelumnya.
“ Tumben banget Ry.. rapi banget.. “ tanyaku sambil duduk di atas tempat tidurnya.

“ Hmmm, ya gini dech.. gimana gw OK ga ?? “ tanyanya berusaha melucu, aku tahu hatinya pasti sangat perih saat ini.

“ Ya boleh dech.. “ jawabku asal, sambil melihat gitar yang sudah disiapkan olehnya.

“ Loe yakin Ry? Ini yang terbaik ?? “ Tanyaku lagi..

Dia mengangguk.. “ Cuma ini yang bisa gw lakuin Cher, gw yang sekarang ga bisa buat dia bahagia, dan selama dia seperti ini,.. dia juga ga akan bahagia.. terkadang kita harus membuang semuanya untuk bisa bahagia.. iya kan ?? “ dia menjawab ragu.

Aku tahu dia sendiri tidak yakin dengan apa yang di lakukannya, dia hanya bergerak berdasarkan apa yang ada di pikirannya saat itu, melakukan satu tindakan bodoh yang mungkin bisa berhasil.

“ Ya asal loe yakin aja.. loe bisa aja malah bikin Jenny lebih jatuh lagi Ry.. “ Ingatku.

Dia tersenyum.. “ Gw yakin, gw hanya yakin Jenny ga selemah itu Cher.. “

Aku mengangkat bahuku tak mengerti.. “ I hope soo.. “ Jawabku “ Terkadang orang yang berusaha terlihat kuat sebenernya ga sekuat itu Ry.. “

“ Hmm apalagi yang gw punya selain harus percaya.. loe tau seberapa besar cinta gw buat dia Cher..”

“ Ini bukan masalah seberapa besar cinta loe Ry, tapi masalah cinta loe sama dia yang mau loe korbanin.. “
Ryan hanya tersenyum.. wajahnya terlihat sayu lembut penuh kesedihan

“ Cewe itu ga selalu pengen liat cowo berkorban buat dia, dibandingkan berkorban untuk dirinya, cewe terkadang ingin selalu bersama orang yang dia sayang lebih dibandingkan ngeliat orang yang dia sayang berkorban demi dia. “

“ Gw hanya bertaruh Cher.. bertaruh untuk kebahagiaan Jenny.. “

“ Bohong Ry.. itu Bohong.. ga ada cewe yang suka jadi taruhan.. walaupun atas nama kebahagiaan dia.. “

“ Mungkin Cher, yang loe bilang itu bener, dan andai Jenny itu loe.. mungkin kita akan lebih bahagia sekarang.. “ Jawabnya.. dia seolah menahan air matanya mengalir dari pelupuk matanya, aku terdiam.. berusaha tersenyum sambil mencerna kata-katanya, aku harus tersenyum agar Ryan tidak semakin tertekan.

“ Sory Ry.. “ , “ Gw cuma ucapin apa yang ingin gw ucapin.. sory kalau loe tersinggung “ Kataku lagi.

“ Loe yakin kan dengan yang loe lakuin, loe yang paling tahu Jenny, dan semua yang loe lakuin buat kebahagiaan dia kan ? “ Tanyaku

Dia mengangguk kecil.

“ Nah yawda semangat ya.. “ Aku membantu Ryan memakai Jas nya itu sambil merapikan sedikit tatanan rambutnya.

“ Thanks ya Cher.. “ Dia tersenyum sambil memeluk-ku, aku tahu dalam pelukan itu aku adalah seorang Jennifer bukan Cheryl.

2763555

logo

Aku menangis sekarang, bukan hanya menangis untuk Ryan yang mencoba menghentikan rasa cintanya, tapi juga menangisi diriku, andai aku dapat bercerita aku ingin dia tahu apa yang dilakukan Rey selama ini, bagaimana Rey terus menyakiti perasaanku.

Kata demi kata yang tak dapat kuucapkan..

Andai aku bisa menceritakan semua keluh kesahku, semua rasa sakitku sekarang, tapi aku hanya diam hanya berharap keheningan akan memberikanku jawaban, ya.. sebuah rasa yang memberikanku ketidak puasaan dengan apa yang aku miliki sekarang.

Dan cukup.. andai aku cukup beruntung untuk mendapatkan cinta lelaki ini. Seperti yang dikatakannya, andai Jenny adalah aku, mungkin kami bisa lebih bahagia.

Dan apakah aku juga salah kalau aku bisa mencintai Ryan?

Aku memeluknya, mencium kening Ryan yang tengah menangis, aku melihat seorang lelaki yang kehilangan sayapnya, meraung kesakitan mencoba bertanya apakah dia dengan hanya satu sayapnya ini bisa kembali ke surga yang indah, atau malah akan membawanya ke jurang yang dalam.

Entah aku tak tahu, yang bisa kulakukan hanya membawanya tetap menjejak di atas tanah ini, memberikannya keberanian untuk menapak satu langkah demi satu langkah di dunia ini, mungkin Jenny adalah malaikat yang mampu membawanya terbang di langit, mengajarkannya untuk menembus lapisan awan satu persatu membawanya ke dunia yang belum pernah dijamahnya sebelumnya, tapi aku hanya manusia biasa, yang bisa kulakukan hanyalah mengajarinya keberanian untuk menapaki dunia ini selangkah demi selangkah.

To Be Continued
###

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s