^^Auf Wiedersehen, Natasha Devi^^ #1

12 (3)Uufhhh!!… Brrrr!!!Udara pagi hari ini terasa lebih dingin daripada biasanya. Mungkin disebabkan semalam hujan yang turun begitu deras. Mendung juga terlihat masih saja setia menggelanyut mesra diatas langit kelabu. Sisa air hujan tadi malam yang menempel di daunan dan ranting pohon sesekali terjatuh menimbulkan suara gemericik saat terkena terpaan angin pagi yang dingin.

Aku sedikit minggir di tepi jalan pada saat dari arah belakang melaju sepeda motor 2tak yang suaranya lebih mirip seperti dengung ribuan lebah, yang terlihat kepayahan sedang membawa beronjong penuh berisi sayuran sehingga aku agak melompat untuk menghindar dari genangan air yang membentuk seperti danau dijalan yang tengah aku lewati.

Pagi yang masih sepi karena memang sekarang masih jam 05.30 ditambah bahwa saat ini adalah hari minggu dan malam tadi juga hujan turun dengan begitu deras, sehingga aku yakin lengkaplah sudah alasan bahwasanya untuk saat ini orang-orang masih asyik bercengkerama dengan selimut yang mereka katupkan diatas tubuh masing-masing.

Aku baru saja membeli rokok di warung kelontong Pak Binah yang berjarak 125m dari tempat kostku, didaerah Taman Siswa. Sebenarnya sih tepat didepan rumah kost ada warung makan yang juga menjual rokok baik per bungkus ataupun ketengan, tapi hari ini kok tumben belum buka? Padahal biasanya setiap jam 05.00 sudah siap melayani pelanggan.

Pemilik warung makan itu sangat baik orangnya. Bahkan saking baiknya hampir semua anak kost pada dibolehin ngutang ketika tanggal tua mulai menghampiri. Didalam hati, aku sebenarnya kasihan juga sama Pak Sronto pemilik warung, karena anak-anak kost yang kebanyakan masih mahasiswa itu sering kali ngutang meski masih tanggal muda.

Disebelah warung makan ada kios tambal ban yang juga menjual bensin eceran punya Mas Kuriman yang berperawakan tinggi rada kerempeng. Dia orangnya juga seru dan baik. Intinya, beliau-beliau adalah orang yang menyenangkan dan jauh dari kata membosankan.

Diantara kami –kost’ers dan warung’ers- memang terjalin keakraban yang luar biasa sehingga Pak Sronto itu sudah dianggap sebagai Bapak, bisa dianggap sebagai teman, sahabat, bahkan tak jarang ada juga yang suka curhat. Ada salah satu anak kost sini panggilannya Jambul, dia terkenal kocak dan paling akrab dengan Pak Sronto maupun Mas Kuriman.

???????????????

pokervovo.net

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

Pernah ada kejadian lucu sewaktu diantara mereka berdua dan kebetulan aku tahu sendiri peristiwa yang sampai sekarang bisa bikin aku ketawa-ketiwi sendiri. Waktu itu siang hari ditengah bulan Ramadhan. Aku yang lagi asyik ngisi TTS diteras lantai II kamar kost, tiba-tiba dikejutkan suara cempreng Jambul…

“Assalamu’alaikum, Pak Srontoo!! Assalamu’alaikuuum!” ucapan Jambul yang bernada sedikit rada keras menarik perhatianku untuk melihatnya dari lantai II kost-an.

Tampak warung makan Pak Sronto memang buka pada saat bulan Ramadhan.

“Ooh kamu thow, Mbul. Kenapa?” sahut Pak Sronto kalem.

“Pak, ini kan lagi bulan puasa, warungnya sedikit ditutupin selambu atau ditutup pake tirai gitu kek biar ada toleransi dong. Gimana sih?! Masak dibiarkan kebuka kaya gini? Kalau gini caranya ganggu yang lagi puasa, jadi pada ga khusyuk!!” cerocos Jambul sok didepan warung belagak marah.

Huuh!! Gaya si Jambul udah kaya Pak Ustadz aja . . .

“Ooh iya. Sori deh, Mbul. Lali durung tak pasang. Sik dilut..” Pak Sronto pun segera tergopoh-gopoh mengambil kain bekas spanduk, dan tak lama kemudian sudah sibuk merentangkan kain untuk sedikit menutup warung makan sebagai bentuk rasa bertoleransi bagi orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Setelah beberapa saat, akhirnya Pak Sronto selesai memasang kain. Dan tak lama berselang, Jambul pun memasuki warung seraya berujar,

“Naah, kalau gini kan enaaak. Es teh manis satu yaa, Pak!” ucap Jambul yang sempet aku dengar. Katsau dah! Hahahaa..

“Wee ladhalaah, sontoloyo!! La kok malah.. Biar ga ketahuan sama temen-temenmu kalau lagi ngesteh gitu? Woo, pokil lee!! koe ra poso ngopo (kamu ga puasa kenapa)??” seru Pak Sronto yang kaget ternyata Jambul sendiri yang malah ga puasa.

“Hahahaa!! Libur dulu Pak. Tadi ga dibangunin temen-temen pas saur..” tukas Jambul enteng dalam berdalih.

Aku yang mendengar celoteh Jambul pada mulanya hanya tersenyum simpul tapi akhirnya tergelak juga.. Hahahaa!!

#######

Aku berhenti berjalan didepan gerbang rumah kost. Menyulut rokok sebentar sebelum akhirnya terdengar suara seseorang yang menyapa hangat,

“Pagi Mas Rey, tumben sudah jalan-jalan..”

“Ooh!! Pagi juga Pak Sronto. Iyaa ini Pak, sekalian cari rokok. Eh kok baru buka sih warungnya?” ujarku dan kemudian menghembuskan asap rokok.

“Tadi belanja dulu di Beringharjo diantar Kuriman naik motor jadi yaa rada telat bukaknya Mas..” jawab Pak Sronto seraya menampilkan senyum. Senyum yang melindungi dari seseorang yang di Bapakkan oleh anak-anak kost disini.

“Ooo gitu yaa, Pak. Ya udah tak kedalam dulu. Ooh iyaa, sekalian bikinin kopi hitam, Pak ..”

“Iya, Mas Rey. Siap! Ntar tak anter ke kamar..”

Ryan Kertagama, itulah tulisan nama seorang bayi laki-laki imut yang tertera di secarik kertas yang menutupi nasi putih yang dicetak, se-plastik gule kambing, acar+cabe, buah jeruk, dan kerupuk udang didalam sebuah box nasi kotak Aqiqahan disaat aku terlahir di dunia yang katanya indah ini. Tapi aku lebih akrab dipanggil, Rey.

Disini aku kost bersama temen-temen yang kebanyakan diantara mereka masih berkutat dengan bangku kuliah dan berpusing-pusing ria dengan banyaknya tugas membikin makalah, papper, kuis, dan melakukan berbagai penelitian.

Aku sendiri sudah ngawulo disebuah perusahaan multinasional yang mempunyai kantor pusat berkedudukan di negara yang pernah dipimpin Hitler, dan beruntungnya aku, perusahaan anak cabang yang sekarang ini tengah mempromosikan aku untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi dengan mengirimkan aku ke negaranya Mesut Oezil, Jerman.

Besok senin aku sudah harus berangkat untuk menggapai impian dan cita-cita tinggi seperti yang selama ini sering aku dan mantanku bicarakan. Eh, mantan? Ngg.. Bukannya sebutan mantan itu adalah kalau misal kita sudah putus hubungan jalinan asmara dengan kekasih, terus kemudian dia melanjutkan hidupnya sendiri dan kita pun juga melanjutkan kehidupan kita sendiri? The Life’s must go on. Iyaa kan? Mmm.. Tapi, kalau penyebab putusnya itu dikarena kekasih kita……….

ltv9fpa8k99f

300x250

Aku memandangi tembok kamar kost yang warna cat dindingnya sudah tampak buram. Jarum jam dinding pun juga sudah enggan untuk bergerak lagi seiring dengan sesuatu yang telah menghilang dari dalam hatiku. Foto-foto yang terbingkai indah masih tertata rapi. Hasil cetak bentuk bibir berlipstik merah pun setia menempel di cermin rias. Coretan usil temen-temen kost juga bertebaran di balik pintu kamar dan disudut tembok dalam kamar, yang mana sebentar lagi dalam hitungan jam akan menjadi sebuah kenangan bagiku.

Aku tersenyum kecil saat membaca beberapa coretan dinding.. ‘Malam ini telah kau ambil perjakaku dengan paksa by -Jambul-‘ ada lagi ‘Panas cintamu tak sepanas knalpotku’terus juga ada ‘Utamakan klayapan’ udah gitu ada juga Mangan ra mangan tetep kumpul, yo moddaar lee!!’ dan masih ada beberapa coretan lucu lainnya entah siapa yang menulis aku sendiri pun tidak tahu.

Travelbag gede yang sudah aku siapkan teronggok manis disudut kamar didekat lemari pakaian. Pada saat aku akan menggeser lemari pakaian karena salah satu srempang dari travelbag ku terjepit oleh kaki lemari, mata ku menangkap sebuah benda berbentuk kotak berwarna hitam.

Nggg.. Seperti wadah kepingan CD..” gumamku seraya menggapai benda tersebut. Tampak kotor berselimut debu.

“CD apa yaa? Kok bisa ada dibawah lemari pakaian? Perasaan semua CD udah aku kasih tempat khusus..” pikir ku heran sambil menimang-nimang CD yang barusan aku dapatkan dari kolong lemari.

Aku berusaha keras untuk mengingat dari manakah CD ini berasal? Keningku berkerut beberapa saat sampai pada akhirnya aku tahu bahwa CD ini adalah pemberian dari Pak Danu yang diutus oleh seseorang di masa lalu ku, dimana dulu saat memberikan kepingan CD ini, Pak Danu menaruhnya didalam plastik bercampur dengan pakaianku. Wajah tuanya masih menyiratkan sisa kesedihan kala itu.

“Mas Rey, ini bajunya yang kemarin ketinggalan dirumah. Sama ada CD juga, tempo hari Ndoro Puteri –Mama seseorang dimasa laluku- pesan untuk dikasihkan ke Mas Rey.” Begitulah kalimat Pak Danu pada saat memberikannya padaku.

“Hmm.. Ga ada salahnya kalau aku setel..” gumamku lirih sembari memasukkan kepingan CD itu untuk memutarnya.

PLAY ON.. Dan keping CD pun mulai berputar. Aku tercekat begitu tahu apa yang tertampilkan di layar monitor. Samar-samar bidikan object dari lensa sebuah handycam itu masih gelap dan tampak bergoyang sesaat sebelum akhirnya fokus…

“Natashaa!” pekikku tertahan. Kaget. Bergetar suaraku saat mengucapkan namanya. Perasaan hangat menyebar keseluruh tubuhku tatkala wajah cantiknya yang segar dan lucu itu tengah tersenyum.

Melihat wajah ceria Natasha Devi yang ada dilayar monitor komputer pada saat dia berada disebuah gerai waralaba itu membuatku teringat akan moment-moment indah ketika menikmati perjalanan hidup bersamanya. Dan gambar film dari handycam itu telah menjejakkan sebuah ingatan yang sangat dalam dan ga mungkin aku lupa. Hmm..Jejak impian dan harapan yang telah terkubur seiring berjalannya waktu. Secara tidak sadar, aku pun menggali kembali kenangan itu dengan sebuah sekop. Yaah.. Aku sadar walau dengan sekop itu pula hatiku pernah terkubur.

#######

“Halo sayaaang.. Thanks yaa udah mau dateng aku ajakin makan siang. Pasti ngerepotin. Hehee..” sapa hangat Natasha, kekasihku, seraya ber-cipika-cipiki.

“Hai juga Nat! Buat kamu apa sih yang enggak? Hehehee. Lagian juga ga repot kok..” sahutku kalem seraya membalas cipika-cipikinya. Aku sempat melirik kearah meja dimana ada obat sakit kepala seperti yang biasa Natasha minum.

“Iiih.. Bisa aja kamu. Oh iya, mau pesen apa?”

“Kopi hitam aja..”

“Minum doang? Kamu ga makan, sayang?”

“Minum aja deh Nat, perut lagi ga bisa diajak kompromi nih. Kalau kamu laper makan aja, aku temenin gapapa..”

“Masih sering pusing?” imbuhku.

“Iya sayang. Tapi ga papa kok kan udah sedia obat, hehe. Oke deh, kalau begitu, aku pesen Vegetables Lasagna aja sama Lemon Squash..” bilang Natasha seraya memanggil Waiter untuk menyerahkan orderan.

“Eh.. Ntar malem jadi ke pasar malam kan, Rey?” ujar kekasihku mulai membuka percakapan. Sementara jemari lentiknya melepas kancing blazer yang dikenakannya.

www.mfc2.net

pokervovo.net

450x100

Natasha Devi, seorang cewek dewasa yang di anugerahi paras cantik dan bentuk tubuh yang bagus. Termasuk tinggi untuk ukuran cewek indonesia. Tubuhnya yang sangat proporsional itu disempurnakan dengan kilau rambutnya yang indah. Dia berkarier dibidang property level premium atau high class, dan kariernya pun terus melejit tajam sampai sekarang. Hmm.. Bener-bener The Rising Star. Dia berasal dari keluarga yang cukup mampu dan sekarang pun dengan kariernya yang cemerlang itu, dia semakin mengukuhkan predikat ‘The Haves-nya.’

Perkenalanku dengan Natasha pun boleh dibilang tidak sengaja. Ada saudaraku dari Batam yang kepengen membeli sebuah Apartement yang harganya mungkin berkisar ratusan juta rupiah yang ga akan mampu aku membelinya walau bekerja seumur hidup.. Haha!!

Dan dari situlah aku mengenalnya. Bertemu dengan seorang Sales Executive Marketing untuk membahas pembelian sebuah apartemen. Elegant dan smart kesan pertama saat aku berjumpa dan ngobrol dengannya. Aku yang selama ini sangat-sangat tidak percaya dengan yang namanya Cinta Pada Pandangan Pertama, akhirnya harus terkena kutukan cinta yang paling indah dan membuatku bahagia. Aku jatuh cinta, dia jatuh cinta. Aku tawarkan secawan cinta, dia menyambutnya. Baru kali ini aku bisa merasakan cinta yang sesungguhnya. Klop dan semuanya tampak mudah bagiku.

Natasha juga seseorang yang sangat unik. Dia selalu membawa handycam kemana saja dia pergi. “Aku ingin membuat hidupku menjadi seperti sebuah film dokumenter..” begitu alasannya saat aku menanyakan akan hal itu.

“Ini kopi hitamnya Mas, silahkan diminum..” ucap Waiter ramah.

“Ini kopi hitamnya Mas, silahkan diminum..” ucap Pak Sronto ramah.

Aku mengalihkan pandangan dari layar monitor komputer untuk menghampiri Pak Sronto yang tengah membawakan kopi hitam pesananku tadi.

“Makasih Pak Sronto. Berapa Pak, kopinya?” sembari ku hirup kepulan harum aroma kopi.

“Udah ga usah Mas. Tinggalan uang kemarin masih cukup kok.”

“Bener nih, Pak??”

“Bener, Mas..”

“Iya deh kalau gitu. Makasih banyak yaa Pak..”

“Sami-sami Mas Rey. Hehee..”

Pada saat aku kembali melihat kearah layar monitor, disitu terlihat suasana pasar malam yang meriah ramai penuh dengan pengunjung. Tua, muda, cowok, cewek, remaja, dewasa, anak-anak, dari yang bersandal jepit sampai yang bersepatu berbaur dengan keasyikan masing-masing. Kalau di kota Solo atau Djokdja, pasar malam itu lebih terkenal dengan sebutan Sekaten.

Berbagai macam mainan sederhana terlihat dijubeli para pegunjung. Aneka mainan dan cinderamata khas pasar malam seperti hiasan dari gerabah, gasing, kodok-kodokan, dan kapal api yang berbahan bakar minyak klentik/ goreng pun ada. Martabak populair, dodol kelapa, es dawet Pak Mbolon, kembang gula-gula atau arum manis pun juga tersedia saling melengkapi dan tak mau kalah untuk menyemarakkan hangatnya suasana pasar malam.

Hmm.. Benar-benar tradisional. Seorang gadis cantik bertubuh lencir itu juga tak mau ketinggalan untuk meleburkan diri bersama atmosphere yang ada. Natasha membeli berondong warna warni yang dibungkus dengan plastik es lilin panjang, yang dibentuk seperti sepeda balap. Hihihii lucu…

Natasha Devi pun tetap terlihat cantik dan modern diantara semua yang berbau tradisional tersebut. Dengan mengenakan sweater warna biru muda dipadu dengan celana jeans pensil, kekasihku tampil casual. Handycam kesayangannya pun tak pernah lepas dia shoot-kan ke berbagai penjuru arah arena Sekaten.

“Gimana, Nat? Asyik ga suasana dan pertunjukannya?” tanyaku setelah kami berdua melihat atraksi Tong Setan.

“Wah gila, Rey! Ternyata seru juga yaah. Baru kali ini semenjak masa kecil Nat main-main ke arena pasar malam lagi. Walau tradisional, tapi ga kalah sama permainan modern macam Kora-Kora..” ucap Natasha dengan mimik wajah gembira.

“Pertunjukan Tong Setannya juga serem. Bener-bener memacu adrenalin..” imbuh kekasihku kagum.

Tong Setan adalah sebuah aksi akrobat motor didalam sebuah tong raksasa yang mempertontonkan kelihaian para jokie pengendara motor pada saat mengelilingi bagian dalam tong dengan manuver melingkar untuk melawan tarikan gaya grafitasi bumi.

“Ya iyalah. Kora-Kora, Halilintar, dan yang lain itu kan berasal dari permainan tradisional yang telah di-modernisasi..” tukasku cepat.

“Kalau yang itu apa, sayang? Kok bau kemenyan? Bikin merinding aja, mana kedengeran suara-suara serem lagi..” lajut Nat sembari menunjuk kesebuah tempat yang di dekorasi seperti Kastil tua penuh aura horor.

Tentunya Kastil yang hanya terbuat dari tumpukan kayu dan batang bambu sederhana yang ditata sedemikian rupa membentuk sebuah bangunan kemudian ditutupi triplex dan digambari berbagai macam bentuk makhluk gaib dengan cat warna gelap biar terlihat semakin serem.

“Ooh itu namanya Gua Mangleng, Nat. Tempat uji nyali kalau kepengin ketemu sama hantu. Mau coba?” tanyaku dengan tersenyum geli.

“Ogah ah!! Ngapain juga. Hantunya beneran?” Natasha masih penasaran dengan Gua Mangleng.

“Ya enggak lah. Cuma orang yang didandani mirip kaya hantu gitu. Tapi tetep aja serem, aku aja takut kok. Hiiii..”

“Yee! Dasar penakut..” sahut Natasha seraya berusaha mencubit kedua pipiku dengan gemas.

www.mfc2.net

pokervovo.net

logo

Aku cuma tergelak dengan ulahnya. Sungguh semua ini membuat kami merasakan benar-benar menjadi rakyat kecil. Sungguh semua kesederhanaan yang disajikan di pasar malam ini membuat kebahagian tersendiri. Aku bisa tahu kalau Natasha sangat bahagia dan dia pun juga paham kalau aku lebih bahagia. Bersamanya semua terasa berwarna.

“I love you, Nat..” bisikku lirih didekat telinganya saat kami berdua duduk lesehan menikmati sedapnya Wedang Dongo dan lezatnya jagung bakar.

Natasha Devi tersenyum kecil, kemudian meneguk tegukan terakhir dari Wedang Dongo-nya.

“I love you too, Rey..”

“Eh, Rey. Minta rokoknya dong..” pintanya tanpa permisi mengambil sebatang rokok mild kegemaranku. Wajahnya ceria dengan senyum yang senantiasa mengembang sedang tangannya memegang dompet.

“Eh Rey. Minta rokoknya dong!” pinta Jambul yang tiba-tiba nongol dikamarku dan mengambil sebatang rokok mild kegemaranku. Wajahnya masih kusut setelah bangun tidur, tangannya memegang secangkir teh atau kopi, aku ga tahu.

“Ambil aja Nat, gratis kok. Hehehe..”

“ Ambil aja Mbul, gratis kok. Hehee..-“

“Thanks yaa Rey. Kamu emang baik deh.” Jawab Nat seraya ngeloyor pergi untuk membayar dua mangkuk Wedang Dongo.

“Thanks yaa Rey. Lu emang baik deh.” Jawab Jambul seraya ngeloyor pergi untuk kembali kekamarnya.

Aku segera beranjak untuk mengunci pintu. Membakar rokok untuk sekedar mengotori paru-paru ku sendiri. Hembusan panjang asap rokok itu mewakilkan isi hati dan perasaan bahwa semua kebahagian yang selama ini aku rasakan bersama Natasha, semua cita-cita yang aku bangun bersama kekasihku telah lenyap begitu saja. Seperti halnya asap rokok yang langsung lenyap begitu keluar dari bibirku tersapu oleh angin.

Dengan sorot mata redup tanpa semangat aku kembali melanjutkan film dokumenter Natasha Devi. Handycam itu men-shoot teras rumah Natasha disebuah sabtu pagi yang cerah. Aku ingat bahwa hari itu aku mendapatkan tugas dari kantor untuk memeriksa kesehatan kancab di kota Solo.

Entah kebetulan atau tidak, Natasha pun sedang dikirim perusahaannya untuk meng-approve lahan atau tempat yang akan didirikan sebuah Kondotel. Sebenarnya berbeda beberapa hari, tapi Natasha meminta kepada Perusahaan tempat dia bekerja untuk berangkat ke Solo lebih cepat beberapa hari dari jadwal yang ada agar supaya bisa berangkat bareng aku.

Disela-sela aku menunggu kekasihku yang sedang berkemas-kemas, aku pun sedikit berbincang-bincang dengan Ibunda Natasha.

“Nak Rey, tolong jaga Nat baik-baik yaa. Kalau bisa buat dia selalu senang, riang, bahagia, dan jangan sampai dia bersedih.. Soalnya.. Ngg.. Ehh.. Gapapa. Gapapa..” pesan perempuan setengah baya yang tak lain dan tak bukan adalah Mama Natasha, dengan sedikit terbata diakhir kalimat.

Wajah yang keibuan penuh dengan kelembutan itu tampak getir walau pun seuntai senyum manis berusaha men-samarkannya. Bening matanya sedikit berkaca walaupun beliau berusaha tegar. Aku yakin ada sesuatu yang berat. Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan dari akhir ucapannya.

“Iyaa Tante, Rey bakal jaga Natasha kok. Tante jangan khawatir, Nat akan selalu riang bersama Rey..” jawabku mantap sehingga aku berharap wajah perempuan paruh baya itu sedikit lebih cerah dan tenang.

“Terima kasih. Terima kasih Nak Rey kalau begitu.”

“Sama-sama Tante..”

#######

Dengan Kereta Api Prameks, aku dan kekasihku menuju Kota Bengawan untuk melaksanakan tugas kewajiban dari perusahaan kami masing-masing. Naik kereta api tut.. Tuut.. Tuuut.. Siapaa hendak turuuun…

Di Solo kami berdua menginap disebuah Hotel dengan konsep resort and spa yang berada disebelah bagian barat kota Solo. Hotel yang asri dimana banyak ditumbuhi pohon-pohon tropis. Di bagian Front Office hotel, ada sekelompok Bapak-Bapak tua lengkap dengan blangkon dan beskap pakaian adat yang dikelilingi gamelan, kenong, dan gong untuk memainkan gending jawa. Hmm.. Cara yang cerdik untuk membuat para wisatawan asing semakin betah untuk tinggal di hotel ini.

Bener-bener Hotel yang enak untuk melewatkan masa liburan karena dibagian belakang hotel yang luas itu juga dilengkapi dengan Restauran Kampoeng Ikan. Kemudian ada Restauran Sasono Budjono yang bersebelahan dengan Pipas Bar, ada Poll lengkap dengan Poll Bar-nya juga, Fitness centre, tempat Outbond, dan masih banyak fasilitas yang tersedia.

Aku dan Natasha sepakat membuka satu kamar saja karena selain menghemat budget juga bisa menambah kemesraan dan keromantisan kami berdua. Cihuuyy!!

Setelah ceck-in kami berdua segera beranjak menuju kamar diantar oleh petugas House Keeping.

“Ini Mas, buat beli rokok..” ucapku seraya memberikan uang 10.000,- sebagai uang tips kepada petugas hotel.

“Terima kasih Mas. Selamat beristirahat..” dan segera berlalu lah petugas hotel itu dari dalam kamar kami setelah menerangkan berbagai fasilitas yang ada dan yang bisa digunakan.

Natasha tampak sibuk mengeluarkan setelan baju dari dalam kopornya sedang aku dengan cuek segera merebahkan badan dan menggeliat keenakan merasakan empuknya kasur hotel bintang lima ini.

“Kok malah males-malesan sih? Emang belum dijemput ya, say?” Tanya kekasihku sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

“Bentar lagi Nat..” sahutku cepat. Tangan kananku menggapai remote televisi untuk menyetelnya, dan segera tampak seorang chef perempuan berdada besar tengah asyik meramu bumbu masakan Ayam Taliwang.

“Yeew malah liat tivi lagi. Dah buruan sana siap-siap ntar keluarnya barengan..” omel Natasha.

“Oke beib!!”

B E R S A M B U N G . . . . . 

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s