Tepian Hati : Angella Christine #2

chukim69-28Angin malam yang berhembus kencang, bunyi derik pepohonan yang membelah kesunyiaan malam, debur ombak menggulung melepas keheningan, aku menutup mataku, berusaha melupakan kejadian beberapa saat lalu saat Jack yang entah kenapa bisa melakukan itu semua.

Kurasakan pelukan Karen yang membawaku ke kemah ini tadi, dia membungkusku dengan kantung tidur untuk kami berdua, terasa begitu hangat, pelukan dan bagaimana dia membelai kepalaku terasa begitu hangat, berbeda dengan bagaimana dia menatapku selama ini, aku bisa merasakan bagaimana kehangatan dan kelembutan dalam pelukannya, dia memeluk-ku begitu erat penuh dengan rasa sayang.

Hampir sama dengan bagaimana ci Vina memeluk-ku selama ini, apakah dengan nada yang sama Karen memeluk Jack selama ini, mampukah Jack memeluk-ku sehangat pelukan ini. Aku tahu dia bisa memeluk-ku hangat, tapi belum pernah sehangat ini, dan… yang terpenting mampukah aku memeluk Jack sehangat Karen memelukku saat ini. Setelah kejadian ini.

Ya terlalu banyak tanya dalam pikiran-ku sekarang, apakah dia pernah ‘melakukannya’ dengan Karen, karena bila pernah tentu semuanya akan berbeda sekarang. Dari yang kutahu ‘itu’ akan menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk lelaki. Dan bila dia pun begitu pasti dia akan melakukan itu lagi dan lagi. Aku takut.. aku takut sebesar apapun rasa cintaku padanya, aku tak siap kalau harus melakukan ‘itu’ dengannya.

Dan yang terpenting itu membuktikan apa yang dikatakan oleh ci Vina kalau semua lelaki hanya menginginkan tubuh wanitanya. Tuhan jangan sampai Jack pun seperti itu. Aku tak mampu lagi untuk belajar Percaya kalau dia pun seperti itu.

Entah kenapa semua menjadi begitu berat, aku mencobanya.. mencoba untuk tidak menangis, aku tak mau untuk menangis di depan Karen, tapi aku takut, sangat takut kalau ternyata Jack akan memilih Karen nanti, Karen.. iya Karen aku yakin tak ada lelaki yang mampu menolak bila ada kesempatan ‘melakukan’ dengannya. Cantik, tubuh yang indah dan berisi. Dan terlebih Karen terlihat begitu mencintai Jack.. benar juga 99,5% persen pasti mereka pernah.

Pasti mereka pernah melakukannya, dan berarti Jack pasti mengharapkan aku melakukannya dengannya, kalau tidak dia pasti akan meninggalkanku, dan berarti cinta yang selama ini diucapkannya hanya sebuah kebohongan.

Ya Tapi.

Tapi aku tak rela kalau harus kehilangan Jack, terlebih kehilangannya sekarang, untuk seorang gadis lain,.. meski gadis itu adalah Karen, aku tak mau mengalah, tak boleh mengalah.. hati dan pikiranku, bahkan tiap kata yang terucap dari mulutku selalu menyebut nama Jack, aku tergila-gila karena cintanya dan kalau memang dia menginginkanku, haruskah ?

Haruskah aku merelakannya?

“ Angel, ikut yuk naik perahu ke pulau seberang.. anak-anak cowo mau lomba renang loh kesana.. “ ci Jessica mengajak-ku sambil menarik-ku ke pinggir lautan.

“ Ga Jess, jangan dia temenin gw aja disini.. “ Jack menahan dan menarik-ku ke pelukannya.

moonhug.com_2016-05-22_10-31-56

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

Aku menghindarinya sepanjang pagi hingga siang hari ini, dan kini dia kehilangan kesabaran, jadi dia ingin kami hanya berdua di tempat ini sekarang, apa dia kembali ingin melakukan kejadian yang sama dengan yang semalam dilakukannya.

Aku menggigit bibirku, tak siap

“ Aku ikut ci.. “ aku berusaha melarikan diri.

Jack menahanku.. “ Give me a minutes, i won’t touch you anymore. “ bisiknya

Harus bagaimana aku sekarang, haruskah aku percaya dan memberikannya waktu..

Jack memberikan tanda kecil pada ci Jessica, “ Yawda kalian disini aja dech.. “ ci Jessica mengalah dan meninggalkan kami disini.

Aku mengambil satu langkah menjauh, sementara Karen dan yang lainnya berada di bibir pantai, sepertinya Karen tidak ikut naik ke atas sampan, dan hanya menjadi orang yang memberikan aba-aba dimulainya lomba renang itu.

“ Duduk ya.. aku mau bicara sama kamu “ Ucap Jack memintaku duduk tak jauh darinya, menghadap ke arah lautan sesaat setelah yang lain memulai perlombaan renang itu.

Aku mengangguk duduk tak jauh darinya,

Kami diam beberapa saat, sementara Karen terlihat berenang-renang kecil sepanjang pinggiran pantai.
“ Aku mau minta maaf.. “ ucap Jack, sambil menatapku.

Aku mengangguk, tak tahu harus memaafkannya atau tidak.

“ Aku janji, aku ga akan melakukan itu lagi ke kamu, aku sedikit bingung semalam, bingung harus melakukan apa.. aku ga mau berbohong dengan menyalahkan mabuk.. aku masih cukup sadar melakukan itu semua. “

“ Kamu.. kamu sadar tapi bisa melakukan itu ? “ Tanyaku tak percaya, satu tanda minus besar muncul di kepalaku

“ Iya aku cukup sadar, dan itu memang kesalahanku.. “

Aku diam tak menjawab.. tak tahu harus menjawab apa.

“ Jadi, kamu pernah melakukan hal yang sama dengan Karen ? “ tanyaku, aku harus tahu tentang hal itu,
Berganti Jack yang terdiam sesaat, sebelum dia mengangguk.. ia mengangguk mengiyakan perbuatannya itu.

Aku menarik nafas panjang, tak percaya. Berusaha berdiri.. aku tak tahu apa harus mengakhiri hubungan ini sekarang, ingin menangis sekeras-kerasnya.

“ Mau kemana Ngel ?? “ Jack menahanku, aku tak menatap wajahnya, bersembunyi tak ingin lelaki ini melihat tangisanku.

Aku menggeleng tanpa berbalik menghadapnya.

“ Aku janji, aku bersumpah ga akan melakukan ini sama kamu, sebelum kita nikah nanti.. “ Ucapnya, kalimat seorang lelaki yang selalu dikatakan saat menginginkan sesuatu dari wanitanya, aku tak percaya dengan kata-kata itu.

Aku diam tak menjawab, Jack berjalan ke depanku, menyentuh pipiku seperti yang biasa dilakukannya, kali ini aku menghindarinya.. tak ingin dia menyentuhku terlebih melihat aku menangis di depannya.

“ Kamu tahu kan, aku pernah kasih tahu kamu, aku ga akan pernah melakukan itu sebelum nikah, tapi ternyata kamu pernah melakukannya sama gadis lain, dan gadis itu Karen, mungkin kesalahan aku yang mempercayai kata-kata kamu selama ini. “ aku mengucapkannya sambil membelakanginya lagi.

“ Iya seperti yang aku bilang tadi, aku ga akan lagi menyentuh kamu, kita jalanin hubungan yang normal, sesuai dengan yang kamu mau, aku bener-bener sayang sama kamu, kamu harus percaya sama aku “

“ Kamu tahu, ucapan kamu ga merubah apapun.. “ jawabku pendek

“ Ga merubah apapun, masa lalu ga bisa berubah, aku ga bisa bilang tidak kalau aku pernah tidur sama Karen, tapi bukan berarti aku harus melakukan hal yang sama ke kamu kan.. “ Jack membela dirinya, berusaha berjalan di depan-ku lagi, aku kembali berbalik menghindarinya.

“ Kamu, selalu seks seks dan seks, di kepala kamu cuma ada seks, apa kamu berfikir ga ada hal lain yang aku takutin ?? “ aku membentak kesal, dia hanya berfikir kalau dengan tidak menyentuhku sudah cukup, ada yang berbeda bukan sekedar pernah dan tidak pernah, menyentuh atau tidak menyentuh.

“ Kamu tahu, apa yang ditakutkan wanita.. aku.. aku bener-bener tergila-gila sama kamu Jack,tampan, baik, romantis, tegas, kaya.. ga ada gadis mana pun yang akan menolak kamu, tapi kamu harusnya juga sadar, bukan sekedar itu yang aku butuhkan, dan itu ga menjamin apapun untuk hubungan kita. “ Jelas ku panjang lebar, “ Mungkin aku bisa merelakannya buat kamu, jujur andai ga ada Karen, andai bukan karena kamu mabuk semalam mungkin kita akan melakukannya semalam, “

Jack hanya diam. Mencerna kata-kataku.

moonhug.com_2016-05-22_10-40-47

300x250

“ Tapi ada sesuatu yang lain, perbedaan antara kamu pernah melakukannya dengan wanita lain atau tidak, terlebih wanita itu ada di sekitar kamu, pada saatnya kamu akan membandingkan aku, aku dengan Karen, dan kamu tahu saat aku tak mampu melebihinya, saat dimata kamu aku ga sebanding lagi dengan dirinya.. kamu pasti akan meninggalkan aku. “

Jack masih diam tak menjawab kata-kataku itu.

“ Aku ga akan tinggalin kamu buat dia.. “ Dia menjawabnya dengan sedikit sekali keyakinan dalam kata-katanya.

Aku menghela nafas, sulit untuk percaya.

“ Darimana aku bisa percaya, bagaimana aku bisa percaya, kalau kamu.. saat tahu dia membutuhkan kamu, kamu ga akan berlari kearahnya, berlari dengan semua yang kamu punya untuk membantu dia, meninggalkan aku disini. “

Jack diam, aku tahu dia pasti diam, dia bukan lelaki bermulut manis, yang suka menyelesaikan masalah sesaat hanya dengan kata-kata manisnya, saat dia berucap dia akan melakukan sesuai dengan kata-katanya.

“ Mungkin aku akan pergi, tapi bukan berarti meninggalkan kamu… “ Bisiknya begitu pelan nyaris tak terdengar olehku.

“ Dan aku harus jadi korban kamu, aku harus jadi korban hubungan kalian.. aku harus lagi-lagi menunggu ? “ tanyaku

“ Ya.. mungkin tapi ga akan lama.. “ Jawabnya. “ Kamu mau kan ? sampai aku mampu mematikan perasaanku buat dia ? “

“ Mematikan perasaan kamu ke dia ? Kamu bisa ? “ tanyaku, kata-kata itu bertanduk dengan kata lain dia masih memiliki rasa untuk Karen.

“ Ya kaya yang aku bilang kemarin, aku akan menikahi kamu, bukan karena aku mencintai kamu, tapi karena hanya kamu satu-satunya orang yang aku cintai, aku berjalan kesana, berjuang kearah sana, kamu tahu ga ada seorang wanitapun yang sebanding dengan kamu di hati aku. “

Aku tak mendengar kata-kata terakhirnya. Aku menunjuk kearah lautan, Karen yang terlihat kesakitan, sedikit berteriak nyaris tenggelam, tangannya yang melambai, aku menunjuk kearah lautan, sementara Jack telah berlari kearah laut, melompat berenang kearah Karen yang nyaris tengelam, sementara aku ikut berlari ke bibir pantai, sesaat kemudian Jack berhasil membawa Karen yang telah tak sadarkan diri ke pinggir pantai.

Wajahnya yang terlihat begitu panic dan kawatir. Sementara sesaat kemudia dia menekan-nekan perut Karen dan mencium Karen, memberikannya nafas buatan.

Iya benar dia mencium Karen berulang kali sambil menekan perut Karen berusaha menyelamatkannya, berulang-ulang, OK bagaimana aku bisa percaya dengan apa yang dikatakannya sekarang, sementara begitu cepatnya dia berlari menyelamatkan Karen, wajahnya yang begitu panic saat ini, dan bagaimana dia mencium Karen tanpa ragu sedikitpun. Aku aku ini aku yang melihatnya melakukan itu semua.

Tak lama Vic dan lainnya sampai dengan perahu mereka, Vic langsung mendorong Jack melihat bagaimana kesalahan Jack melakukan pernafasan buatan, dengan tepat Vic mengantikan Jack memberikan nafas buatan untuk Karen, tak lama air keluar dari mulut Karen, terbatuk dan mulai siuman.

Mungkin aku terlalu posesif, ya mungkin.. ci Mellisa sama sekali tidak marah bahkan terlihat senang melihat ko Vic berhasil menyelamatkan Karen, tapi tidak buatku, tindakan Jack tadi mungkin jawaban bahwa lelaki itu tak akan pernah bisa melepaskan Karen, dan itu berarti aku, aku yang harus mundur.
Aku berjalan menuju kapal, tak perduli lagi.

Jack menyadarinya dan mengejarku.

“ Kamu jangan marah, aku cuma spontan aja tadi.. “ Pintanya

“ Iya, kamu spontan aja, aku tahu koq.. “ Jawabku sambil tersenyum

“ Kamu marah ? “ wajahku pasti terlihat sangat kesal sekarang,

“ Enggak, apa aku keliatan marah sekarang ? “ Aku masih berbohong

“ Aku akan bilang, bilang ke Karen untuk pergi dari kehidupan aku dan kamu, hari ini juga. “

“ Terserahlah, hidup kamu.. “ aku tertawa kecil sambil melangkah menjauh, kali ini Jack tak mengejarku lagi.

moonhug.com_2016-05-22_10-31-42160x600

Aku melihatnya tadi, saat Jack mengajak Karen berjalan menuju hutan, apa yang akan dilakukannya, apakah dia akan benar-benar meminta Karen untuk melepaskan dirinya? Mungkinkah dia rela kehilangan gadis secantik Karen.

Apakah aku harus mengikutinya? Tapi rasanya kurang etis,

Tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku, aku berjalan mengikuti keduanya meski sedikit menjaga jarak, jalur itu cukup terjal, banyak lubang-lubang cukup dalam yang tak terlihat karena tertutup oleh rerumputan, atau kelokan yang tidak terduga menuju tebing yang sangat membahayakan kalau sampai terjatuh kedalamnya, Jack dan Karen berjalan cukup jauh, hingga keduanya berhenti di mulut tebing, dari tempat ini kami bisa melihat kapal dan perkemahan kami.

Keduanya terlibat pembicaraan serius, apa aku harus lebih mendekat, tapi aku takut ketahuan.
Dari raut wajahnya terlihat Jack begitu serius berbicara, apa dia benar-benar akan melepaskan Karen, tapi wajah Karen terlihat tersenyum lebar.

Jack menunduk mengambil sebuah ranting dan membantu Karen menyanggul rambutnya..

Cukup!!!!!!!

Bukan begitu caranya memutuskan sebuah hubungan, air mataku langsung mengalir deras, jujur salahku yang telah mempercayai kata-katanya tadi.. bodohnya aku yang masih mengharapkan Jack benar-benar meninggalkan Karen.

“ Krakkkk “ Aku menginjak sebuah ranting, dan langsung berlari saat itu juga, aku tak mau tertangkap oleh keduanya yang kemudian akan mentertawakanku yang tengah menangis sekarang.

Aku berlari menuruni bukit ini, berlari sambil menangis meski aku tak tahu arah jalan turun dan kemudian.. “ Arrrgggghhhhhhhhhhh “ aku pasti berteriak cukup kencang, kaki-ku terasa begitu sakit dan aku terperosok ke sebuah lubang sekarang. Begitu dalam aku menangis, bukan karena rasa sakit di kaki-ku, bukan karena aku terperosok ke dalam lubang, aku menangis karena rasa sakit di hatiku, tak percaya dengan rasa sakit yang akan diberikan oleh lelaki yang aku cintai.

Aku menangis menatap langit yang mulai mengelap, mungkin saat ini keduanya tengah berpelukan, berciuman, dan berjalan berdua menyelusuri bukit, melupakan aku yang tengah hilang di tengah hutan ini.

Dan yang terpenting, saat keduanya menemukanku nanti, mereka akan memintaku untuk mengerti hubungan cinta mereka, dan merelakan kebahagiaan mereka. Mungkin saja kan. Tapi aku tak rela.. sungguh tak bisa merelakannya.

“ Angelllll “ Suara Jack berteriak.. aku mengenali suaranya, dia terus berteriak berkali-kali, apa aku harus menjawabnya, memohon dia menyelamatkanku?

“ Angell, kamu dimana ?? “ dia tak menyerah terus berteriak berulang-ulang.

Tak ada suara lainnya, dia sendirian dan tak bersama Karen, baru beberapa menit sejak aku meninggalkan mereka, apa aku ketahuan saat menguping pembicaraan mereka tadi?

Sesosok tubuh tiba-tiba berguling-guling terjatuh di sebelahku, sedikit jauh.. aku tahu itu Jack, aku berusaha mendekatinya dengan kakiku yang diseret, sakit sekali karena terkilir saat jatuh tadi, tapi dari cara jatuhnya sepertinya Jack terjatuh lebih parah dariku.

“ Kamu gapapa ?? “ Tanyaku begitu kawatir, dia bergetar menahan rasa sakit. Berbalik dan tersenyum.

“ Kamu gapapa ?? Kamu kenapa ga menjawab ? “ tanya Jack begitu kawatir dan langsung memeluk-ku.
Aku tak menjawab kata-katanya..

“ Kamu jangan marah lagi ya, aku dah selesain semuanya, “ Dia mengucapkan sedikit terbata.

Masih tak menjawab apa yang dikatakannya, aku menatap langit yang mulai menghitam, sesaat kemudian gerimis mulai turun, tanah yang kami duduki mulai basah, sementara aku membantu Jack untuk menyenderkannya di tebing itu dia memeluk-ku begitu erat, mau tak mau aku memeluknya juga.

Aku melirik tebing tempatku terjatuh memang cukup membahayakan, bahkan ada sedikit karang tertanam di dekat tempatnya terjatuh tadi, karang.. ya ada karang..

Aku melirik tanganku yang hangat membasah, kulihat ada darah merah yang mengalir cukup banyak,.
“ Jackkkk “ Ucapku panik, melihat pakaian di dekat pinggang kanannya yang terus mengalirkan darah, suara petir yang menyertai hujan yang turun deras.

“ Aku harus gimana ? aku harus bagaimana ?? “ Otak-ku berfikir kalut, pikiranku berusaha mencari solusi untuk bisa menutup luka Jack, luka yang terus mengalirkan darah segar, apa lukanya cukup dalam, sementara hujan yang turun kian deras.

Tak ada yang bisa kulakukan, kubuka bajuku dan membebatnya kencang-kencang di perut Jack, menutup lukanya dengan bajuku, mungkin tidak akan bisa menutup lukanya terlalu lama, aku tak perduli dengan hujan yang turun kian deras, malam yang menjemput dan angin yang bertiup dengan kencang, aku yakin pasti yang lain akan menemukan kami tak lama lagi, aku punya keyakinan itu

 

moonhug.com_2016-05-22_10-41-02

450x100

Dan semua terasa dingin, sesaat aku memeluknya mencoba mencari sebuah kehangatan, bukan untuk melawan rasa dingin yang terus meniup diriku tapi sebuah kehangatan lain, kehangatan sebuah rasa dimana semua rasa ini menjadi satu, aku menatapnya yang terlihat begitu lemah, aku menciumnya, aku menciumnya seakan takkan ada lagi kata nanti dalam hidup kami. Menumpahkan semua rasa ini, rasa yang membawa semua haru ini.

Bibirnya yang mulai pucat, meski tetap memeluk-ku dengan begitu eratnya, aku pun begitu memeluk Jack dengan begitu erat, tak perduli dengan tubuhku yang hanya terbalut oleh bra menyentuh tepat wajahnya, tak ada rasa malu sedikitpun, aku hanya berusaha membuatnya tetap merasa hangat, menjaga kesadarannya, berusaha membuatnya terus berbicara, tersenyum kecil, dan berusaha tertawa lepas agar dia tak mengkawatirkanku.

Meski sesekali dia meringis kesakitan, saat lukanya kembali mengeluarkan darah segar, tapi aku berusaha tegar, sambil terus mencoba mencari cara agar yang lain lebih mudah mencari kamu, hingga sebuah sinar lampu menyorot kami, aku menaruh Jack sesaat di atas tanah basah itu, berusaha berdiri semampuku, berteriak sekencangnya sambil sedikit melompat merentangkan tanganku lebar-lebar. Sakit memang.. sakit sekali saat kakiku yang kupaksakan untuk melompat menjejak keatas tanah, tapi lebih dari itu aku harus melindungi Jack, menyelamatkannya dibanding kehilangan Jack untuk Karen, kehilangan dia untuk selamanya jelas lebih menakutkan.

Hingga akhirnya yang lain berhasil menyelamatkan kami, dengan tali ko Edison dan ko Vic mengangkat Jack secara perlahan sebelum kemudian kembali turun dan membantuku naik, ko Edison sendiri terlihat begitu panic, melihat luka-luka di keningku, keningku yang berdarah cukup banyak, sakit yang sama sekali tak kurasakan sejak tadi, pening dikepalaku yang tadi tak pernah ada sesaat kemudian begitu kuat kurasakan, hingga kemudian aku tak sadarkan diri.

Kepalaku terasa begitu pening, sesaat setelah aku sadarkan diri, dimana aku sekarang ? Ruangan serba putih dengan ranjang yang cukup lebar, sebuah vas bunga dengan sebucket bunga matahari didalamnya sebuah infusan yang menempel di lenganku, di rumah sakit ?

“ Kamu dah siuman Ngel ?? “ Ko Edi dan ci Jess yang ternyata tertidur di sofa di dekat tempat tidurku tersadar, aku mengangguk kecil masih merasa sedikit kebingungan.

“ Aku dimana ?? “ Tanyaku bingung

“ Tenang aja, kita udah di Malang koq, di rumah sakitnya.. “ Ko Edison tersenyum sambil mendekat ke tempat tidurku bersama ci Jessica

“ Syukur ya Tuhan, kamu seharian ga sadarkan diri.. “ ci Jessica langsung memeluk-ku sambil mencium keningku, aku merasakan keningku yang dibalut oleh perban

“ Tenang aja, ga ada jaitan koq, ga akan mengurangi kecantikan kamu “ Ci Jessica mengodaku, bukan itu yang aku maksud saat menyentuh perban di kepalaku itu, “Jack !! “ Aku teringat bagaimana dengan keadaan Jack.

“ Ko Edi, Jack dimana ? “ Tanyaku panic.

“ Jack, tenang aja dia ada di kamar sebelah koq, keadaanya juga stabil. “ ucap ko Edi sambil mengambilkan segelas air putih untuk-ku.

“ Sory ya Ngel, liburannya jadi kacau gini “ sambungnya sambil membantuku meminum air di gelas.

“ Gapapa ko, aku mau ke Jack sekarang.. “ Aku berusaha melompat dari atas ranjang, tapi sakit sekali kaki-ku hingga nyaris terjatuh, beruntung ko Edi langsung menangkapku.

“ Iya sebentar, kita temenin kamu. Naik kursi roda ya.. “ ci Jessica menarik kursi roda sementara ko Edison memapahku agar dapat duduk di atas kursi itu.

Dia mengetuk pelan pintu kamar Jack, jantungku berdegup kencang, bagaimana keadaanya, apakah semua baik-baik saja ??

Pintu itu terbuka, seorang wanita cantik paruh baya membuka pintu sambil tersenyum, sementara ko Edison membantu mendorong kursi rodaku, siapa mereka? Sementara di sebelah Jack ada seorang lelaki yang sedang berbicara serius dengannya.

Sebuah ketukan pintu terdengar, sesaat kemudian aku masih belum dapat menguasai keadaan, siapa lagi yang datang, aku melirik Karen masuk dan terlihat begitu akrab dengan kedua orang ini. Dia memeluk tante itu sebelum bersalaman dengan lelaki di sebelah Jack

Karen menatap Jack dengan begitu dalam, sesaat kemudian dia tersenyum kecil,

“ Tante, Om, kenalin ini Angel.. “ Karen tiba-tiba memperkenalkanku pada keduanya,

“ Angel ini Om Andreas, dan Tante Hilda, “

“ Ada yang aku dan Jack mau omongin sama tante, mungkin agak mengejutkan, tapi kami berdua harus jujur sama Om dan Tante tentang hubungan kami. “ Karen terlihat begitu yakin dengan kata-katanya, aku melirik Jack yang tak berusaha menghentikan Karen, aku tak dapat menebak apa yang akan dikatakannya nanti, apa mungkin Jack dan Karen malah akan mengungkapkan rencana pertunangan mereka, semalam mereka begitu serius dengan percakapan mereka, tapi kejadian semalam juga aku menyadari satu hal, bahwa aku begitu mencintai Jack dan merelakan Jack dengan Karen, selama itu membuatnya bahagia, aku pasti sanggup merelakannya.

“ Ada apa Karen, koq serius banget.. “ Tante Hilda langsung memeluk Karen yang tengah berusaha tersenyum.

“ Tante, Om.. maafin kita, aku dan Jack yang ga jujur tentang hubungan kami, tante gadis ini pacar Jack sekarang, waktu tante ke Jakarta sebenarnya aku dan Jack udah putus hampir setahun, mungkin Jack takud kedekatan aku sama Tante dan Om membuat Tante dan Om ga bisa berfikir objektif tentang berakhirnya hubungan kami. Aku dan Jack putus baik-baik, memang kita menyadari ketidak cocokan kita, jadi.. “ tubuh Karen yang terlihat gemetaran, sementara Tante Hilda dan Om Andreas terlihat mendengarkan dengan begitu seksama, aku sendiri tak percaya Karen melakukan ini semua.

“ Jadi, tolong terima Angel, seperti Tante dan Om nerima aku dulu, dia gadis yang baik, benar-benar baik dan pasti bisa menjaga Jack lebih dari aku dulu, “ Karen berusaha tersenyum sebisanya, meski air matanya mengalir begitu deras, dia memeluk-ku dan membisik.

“ Tolong Jaga Jack ya, dia bener-bener sayang sama kamu.. “ Dia berdiri dan menunduk..

“ Maaf Tante, Om.. aku keluar dulu.. “ Karen berjalan keluar, aku melihat langkahnya yang terlihat begitu tidak nyaman, sementara Tante dan Om Andreas terlihat sedikit bingung, meski tersenyum begitu ramah padaku.

moonhug.com_2016-05-22_10-44-00150x300

Ci Jessica mengikuti Karen keluar, sepertinya ia ingin menghibur Karen, sesaat aku merasakan betapa hubungan aku dan Jack telah menyakiti orang-orang di sekitar kami, sementara kutatap Jack dalam-dalam, dia tersenyum sambil memintaku mendekat.

Dia menggengam tanganku erat-erat,

“ GImana luka kamu.. “ tanyaku..

“ Gapapa koq, sekarang ada yang lebih penting,. “ Jack terlihat menahan rasa sakit yang begitu hebat, wajahnya terlihat kesakitan di tiap kata yang terucap dari mulutnya.

“ Kamu jangan ngomong dulu.. “ Pintaku.

Dia menggelengkan kepalanya.

“ Pah, Mah.. maafin aku yang dah bohong sama kalian.. tapi Angel, aku ga main-main sama dia, aku serius, dan aku berharap Papa dan Mama ga akan pernah membandingkan dia sama Karen, dia cantik ga kalah sama Karen, dari keluarga baik-baik dan juga punya masa depan yang bagus, aku yakin dengan pilihanku, aku merasakan rasa sayang yang sama dengan yang Mama berikan ke aku sejak aku kecil dulu dari dia, aku bener-bener sayang sama dia. “ Jack mengucapkannya dengan begitu tulus, meski aku tahu dia sedang menahan rasa sakit yang amat sangat.

“ Iya, Mama sama Papa pasti menghargai keputusan kamu, yang penting sekarang kamu minum obat dan istirahat dulu, nanti kita bicarain lagi ya,.. “ Tante Hilda membantu Jack mengambilkan obatnya, Jack terlihat begitu penurut di depan kedua orang tuanya.

“ Angel, Tante mau bicara sama kamu, boleh kan ? “ Tanya Tante Hilda sesaat Jack tertidur karena obat yang diminumnya, aku mengangguk meski jantungku berdegup kencang, tentu ada rasa grogi berbicara dengan orangtua Jack

“ Iya boleh Tante.. “ Aku mengangguk dan berusaha menjawab sesopan mungkin
“ Yawda kita bicara di kamar kamu aja ya, supaya ga ganggu Jack istirahat. “ Katanya sambil membantu mendorong kursi rodaku,

Di lorong depan aku melihat Karen yang tengah berbicara serius dengan ko Ryan, sambil memberikannya sebuah notes berwarna Kuning dengan tulisan tebal di depannya bertuliskan ‘Tepian Hati’, melihat aku dan Tante Hilda yang keluar dari kamar Jack, Karen langsung berjalan mendekat.

“ Mau kemana Tante ?? “ Tanyanya sambil tersenyum, dia terlihat telah bisa menguasai perasaanya.

“ Gpp koq, mau anterin Angel ke sebelah, dia juga kan butuh istirahat. “ Tante Hilda tersenyum sambil menjawab pertanyaan Karen

“ Owh, ya sudah kalau gitu, Aku pergi dulu ya Tante, besok aku ada pekerjaan, sebentar aku juga pamit sama Om,.. “ Karen memeluk Tante Hilda, sementara Tante Hilda mencium dan pipi Karen, sebelum kemudian Karen tersenyum kearahku dan berucap.

“ semangat ya “ Dia tersenyum begitu tulus sebelum masuk ke dalam kamar Jack, sementara Tante Hilda membawaku masuk, membantuku naik ke atas tempat tidur, membantu menyelimutiku, sebelum kemudian duduk di sebelahku, dia menatapku dalam-dalam seolah ada hal yang begitu penting yang ingin diucapkannya padaku.

To Be Continued
###

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s