Tepian Hati : Angella Christine #1

14 (1)Dan semua terasa dingin, sesaat aku memeluknya mencoba lagi merasakan kehangatan, kehangatan sebuah rasa dimana semua rasa ini menjadi satu, aku menatapnya yang terlihat begitu lemah, aku menciumnya, aku menciumnya seakan takkan ada lagi kata nanti dalam hidup kami. Menumpahkan semua rasa ini, rasa yang membawa semua haru ini.

##

Aku melirik pada gadis itu, Karenina Prayogo seorang model, bintang video klip dan juga mantan pacar dari Jacksen Andres, aku tahu meski aku berharap Jack mengatakannya sendiri padaku, mengatakan kejujuran hubungan mereka dahulu padaku, selama ini dia selalu menghindarinya, seolah tak ada hubungan apapun diantara mereka, membuatku berfikir kalau dirinya hanyalah salah seorang fans dari Karen, sama seperti lelaki lain yang menggilai kecantikannya.

Aku melihat bagaimana Karen tersenyum, tertawa dan berusaha seakrab mungkin dengan Edison, Vic, Ryan dan juga Rey, semenjak turun dari pesawat tadi dia terus menebarkan pesonanya pada para lelaki itu, hanya Jack yang berusaha menampilkan wajah sedingin mungkin.

Jujur aku tak percaya. Aku tak percaya dia bisa melepaskan gadis secantik Karen untuk diriku, cemburu ? mungkin iya.. aku seorang gadis biasa tak bisa dibandingkan dengan seorang Karen, dan jujur aku takut, aku takut kalau harus bersaing dengan gadis ini, aku tak punya kepercayaan diri untuk bersaing dengannya.
Aku meremas lengan baju Jack yang semenjak tadi diam duduk di sebelahku dalam perjalanan menuju pelabuhan sebelum kami melanjutkan perjalanan ke pulau Sempu. Dia sedikit kaget sesaat aku menarik bajunya. Dia tersenyum berusaha tersenyum sewajarnya padaku.

“ Kenapa sayang ?? “ bisiknya.

Aku menggeleng, tak menjawab pertanyannya, aku tak mampu mengatakan kegusaran hatiku.. jujur aku benar-benar merasa kawatir sekarang, terlebih peringatan yang dikatakan oleh ci Vina tadi malam, informasi yang diberikannya tentang hubungan masa lalu Jack dengan Karen. Kecewa ? memang aku kecewa sekarang, selama ini dia berusaha menutupi hubungannya itu. Apa alasannya ?? kenapa ??

Jujur aku takud kalau suatu saat nanti, dia akan berlari kembali mengejar mantan kekasihnya itu.

“ Turun yuk.. “ Jack meraih tanganku mengenggamnya erat sambil membawa tasnya, kami berjalan keluar dari dalam bus kecil yang kami sewa sesampainya di pelabuhan.

Ko Edison dan Jack sesaat berjalan menghampiri salah seorang lelaki yang berusia sekitar 50an tahun, menyalaminya dan berbicara dengan begitu akrab, aku tak tahu dia punya kenalan di malang, padahal dia biasanya menceritakan segala hal padaku, kecuali yang satu itu, atau memang banyak yang tidak diceritakan olehnya padaku.. ah otakku sekarang benar-benar penuh dengan kecurigaan.

“ Yang kesini.. “ Jack menghampiriku, aku menarik koper ku sambil berjalan mendekatinya, tapi bukan hanya aku seorang yang berjalan mendekat, Karen ikut berjalan mendekat dan langsung menyalami lelaki tua itu. Dia terlihat langsung akrab dengan mereka. Sesaat aku tertahan, menyadari mungkin gadis itu memang jauh lebih baik dariku.

“ Sini ah.. kamu tuh buat apa bawa-bawa tas koper, nanti juga ada yang bawain.. “ Jack yang melihatku berhenti sesaat, mendekatiku dan menarik-ku mendekat.

“ Pak Wildan, kenalin Angel.. Pacar aku.. “ Kenal Jack pada lelaki bernama Wildan itu, “ Dia ini dah kerja lama banget sama papa Edison, dah dikasih kepercayaan buat ngawasin pengiriman batu bara perusahaan dia selama ini. Kapal ini juga punya Edison, enak kan kamu kalau ga bisa tidur bisa tidur disini, lebih bersih dan nyaman, aku mau berkemah soalnya.. hehehe , boleh kan pak ?? “ tanya Jack pada Pak Wildan

Pak Wildan tertawa, menyalamiku “ Cantik banget Den pacarnya, bapa kira masih awet aja sama non Karen, “ Pak Wildan hanya mengucapkan pendapatnya tanpa maksud apapun, tapi jawaban itu sungguh membuat ku sedikit binggung, ada perasaan senang karena masih ada orang yang menganggap aku cantik, tapi dalam ucapannya itu juga menegaskan bahwa memang Jack dan Karen berpacaran, tadinya aku berharap bahwa ci Vina hanya membohongiku, tapi ternyata semua itu benar adanya.

Jack sendiri hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Pak Wildan, tak berkomentar dan menatapku seolah berusaha membaca reaksiku.

04 (6)

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

“ Aku ikut kamu aja, kalau berkemah ya aku berkemah juga. “ aku sengaja menjawab, memecah perhatiannya agar keadaan tak menjadi kaku, aku harus membuatnya senyaman mungkin agar dia mau mengatakan yang sebenarnya padaku.

“ Pak, aku boleh naik dulu ga ?? Kebelet nih.. “ Ucap Karen dengan nada yang seolah dibuat semanja mungkin..

Ko Edison sendiri dengan sengaja mengajak Karen naik, sambil membantu membawakan tas ci Jessica, membawa Karen segera meninggalkan aku Jack dan pak Wildan.

“ Gimana pak ? sehat ?? “ Tanya Jack pada pak Wildan setelah pak Wildan membantu ci Jessica dan Karen naik keatas kapal.

“ Sehat Den, ga nyangka sekarang udah besar gini, padahal dulu bapa yang ajarin mancing ya den Jack sama Den Edi ke laut. Udah lama ya ga ketemu.. “ Pak Wildan terlihat memang telah cukup lama mengenal dua sahabat ini.

“ Ya bapak, waktu pertama mancing kan saya masih SD pak, iya ya pak.. udah lama juga ga ketemu hampir 5 tahun kayaknya, anaknya gimana pak ?? udah masuk SMP ? “

“ Iya den, hampir 5 tahun ya.. oh si Rudy den, udah dia sekarang kelas 3 SMP, sebentar ya den.. “ Pak Wildan meninggalkan kami berdua, dia setengah berlari membantu ko Ryan, ci Cheryl, ko Vic dan ci Mellisa yang akan naik ke kapal setelah dipanggil oleh ko Edi tadi.

“ Kamu kenapa sayang ?? “ tanya Jack, menyadari perubahan sikapku sejak dikenalkan dengan Pak Wildan tadi, aku berusaha sewajar mungkin tapi raut wajahku tetap tak bisa berbohong mengenai kegusaran hatiku saat ini.

“ Ah enggak, ga papa.. “ Aku berbohong sekarang..

Dia menarik tanganku, mengenggamnya erat sebelum kemudian berbisik.. “ aku cerita, aku pasti cerita..”
“ Den, ada lagi yang mau dibawa ?? “ Pak Wildan menyela kami,

“ Ga koq pak, udah semua ya ?? Tolong kasih tau supir busnya aja tinggalin kita.. “ Kata Jack sambil menarik-ku naik ke atas kapal itu.

##

“ Gila panas banget.. “ Keluh Karen sambil mengusap wajahnya dengan tissue, aku tak bisa melepaskan tatapan mataku dari orang itu, entah aku hanya merasa patut untuk merasa waspada akan kehadirannya, berkali dia terlihat begitu sengaja memberikan perhatian pada Jack, atau tingkahnya yang dibuat semanja mungkin untuk menarik perhatian semua yang berada di kapal ini.

“ Kamu ngantuk ga sayang ?? “ Tanya Jack membukakan sebuah coca~cola kaleng untuk-ku dan menempelkan coca~cola dingin ke wajahku.

Aku terkejut dan langsung memukul kecil Jack yang begitu jahil sebelum kemudian dia berjalan keluar, ke anjungan kapal asyik melanjutkan obrolannya dengan ko Edi dan ko Vic..

Sesaat aku melihat ci Jessica dan ci Mellisa yang terlibat dalam obrolan serius, sebelum kemudian keduanya masuk ke kamar, sepertinya mereka membicarakan hal yang begitu pribadi, aku juga melirik ko Ryan yang mengambil sesuatu dari tas ci Cheryl, sebuah buku kecil berwarna biru, sebelum kemudian dia membacanya dan menaruhnya kembali sambil tersenyum.

“ Lapar ga Ngel ? Mau Mie instant ?? “ Tanya Ko Vic sambil membawakanku sebuah popmie.. “ Liat Mell ?? “ tanyanya

“ Ga ah koq makasih, ci Mell tadi ke kamar sama ci Jess.. “ jawabku

“ Ngel sini sini.. “ ko Edison memanggilku, dan aku pun bergegas menuju anjungan kapal, lautan yang biru bersih, pohon-pohon kelapa yang tertiup angin, hutan hijau yang terlihat begitu lebat, dan pelabuhan kecil dengan beberapa perahu nelayan kecil yang bersender di sampingnya..

“ Dah sampe koq ?? Bagus bangettt !! “ Aku begitu antusias menyaksikan keindahan pulau itu, masih begitu indah karena katanya belum banyak terjamah manusia.. “ Kita berlabuh disana ?? “ Tanyaku menunjuk pelabuhan itu.

“ Hmmm.. enggak kita ke belakang pulau ini, ada satu pantai lagi yang lebih bersih dan bagus daripada ini.. “ Jack memelukku dari belakang sambil menciumku.. aku mengangguk.. terkesima dengan keindahan pulau ini.

05 (3)

300x250

Ko Rey dan Ko Ryan terlihat berbeda hari ini, sambil bermain sepak bola pantai mereka terlihat lebih sibuk dengan permainan mereka sendiri, malah terlihat sedikit kasar, beberapa kali mereka terjatuh karena berbenturan, apa mereka memang selalu seperti itu ? berbeda dengan Jack, Edi dan Vic yang terlihat menikmati permainan itu sambil tertawa-tawa melihat kami para cewe yang selalu menghindari bola-bola yang ditendang ke arah kami.
Beberapa kali bola mengenai kepalaku.. Sakit memang.. tapi ga perlu selebay Karen yang baru saja terkena bola dan langsung berusaha menarik perhatian semua yang ada disitu,.. sebagian memang berusaha memberi perhatian seminimal mungkin karena ada pacar mereka disitu, tapi yang sungguh membuat jengkel adalah bagaimana beberapa kali Jack berusaha membantu Karen berdiri atau beberapa kali juga dia menerima air minum dari Karen dan meminumnya dari botol yang sama.

‘cemburu’ enggak koq, siapa yang cemburu tapi pertanyaanya apa itu wajar ?? dia ‘cuma’ mantannya kali. Jadi kayaknya yang seperti itu harusnya ga perlu dilakuin dech.

“ Udahan yuk.. “ pinta ci Cheryl, mungkin dia sedikit tidak nyaman melihat bagaimana ko Ryan dan ko Rey bergumul dalam permainan ini, jelas sih pasti ada rasa tak enak dari yang aku tahu, beberapa hari yang lalu ci Cheryl dan ko Rey putus, dan ada indikasi kalau ci Cheryl selingkuh sama ko Ryan, hemm hemm.. kalau bener gitu ga nyangka banget, sahabatan yang bisa makan sahabatnya sendiri, Jack sendiri beberapa kali menyindir ko Ryan, tapi jujur aku ga percaya kalau ko Ryan ngerebut ci Cheryl dari ko Rey. Agghhhh mungkin ga seharusnya aku kawatirin mereka, lebih baik aku kawatir sama keberadaan Karen di liburan kali ini, keliatan banget dia berusaha sok akrab sama semuanya.. huaaaaaaaa!!!!

Kesel kesel… aku mengobrak abrik rambut Jack yang sedang duduk membelakangiku di pasir pantai ini, oh iya pantai ini benar-benar bagus, lautan yang tenang dengan air yang begitu bening, dengan mudah aku bisa melihat ikan-ikan yang berenang di dalam air, belum lagi bukit-bukit kecil dengan travel track yang pasti seru, tapi sungguh dech sekarang ada yang lebih penting dari itu semua.

“ Kenapa sih yang ?? “ Protes Jack sambil membetulkan rambutnya yang tadi aku acak-acak

“ Ga tau, bodo ah… “ Aku tak mau menjawab,

“ Ngel, sini dech.. “ aku bangkit berdiri berjalan dan menghampiri ci Jessica dan ci Mellisa yang mengajak-ku mendekat kearah bibir pantai.

“ Kenapa ci ?? “ tanyaku

Dan byurrrrrr… mereka malah menguyurku dengan air laut hingga membuatku basah, aku menutupi dadaku takut pakaian dalamku terlihat kemana-mana karena baju yang kupakai ini sangat tipis.

“ Ci,.. aduhhh apa-apaan sih.. “ protesku kesal, sambil menendang air kearah mereka..

Keduanya tertawa.. “ Abis kamu yang lain keringetan, masih kering-kering aj.. “ Jawab entah itu ci Jessica atau ci Mellisa, aku tak bisa membedakan keduanya.

“ Ahhh cici dasar dech.. “ Aku mengejar keduanya yang kemudian naik ke atas kapal..

“ Udah-udah nyerah.. “ kata mereka berdua terpojok “ Mending mandi dech.. “ Kata mereka.

Aku mengambil pakaianku dari dalam tas dan masuk ke dalam kamar mandi, sesaat aku keluar karena tahu seperti apa isengnya ci Jessica.. “ Ci awas ya nanti iseng iseng lagi.. “ Dia melirik menjauh, sambil tertawa.

“ Iya siapa yang iseng dasar… nanti cici yang jagain.. “ ci Mellisa membela ku dan menarik ci Jessica keluar dari ruangan itu.

Dan setelah aku selesai membersihkan diri dan mengganti pakaianku yang basah, aku keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Karen yang sedang merias diri, ok aku berjalan melewatinya berusaha tak sedikitpun menarik perhatiannya, aku malas berbasa-basi dengannya.

“ Eh Angel.. “ Akhirnya dia memanggilku juga, ok Ngel berusaha sesopan mungkin ya.. sabar.. orang sabar disayang Tuhan

Aku berbalik, berusaha tersenyum semanis mungkin “ Iya ci, kenapa ?? “

“ Sory ya, aku ga pernah cerita kalau aku kenal dekat sama mereka.. “ Katanya sambil bersender.

“ Oh, enggak koq, gpp aku sih baru aja deket sama mereka, sejak PACARAN aja sama ko Jack.. “ Kataku sambil sengaja menekan kata pacaran.

Karen tersenyum kecil. “ oh bagus dech, hmm dah lama pacaran sama Jack ?? “

“ Baru tiga bulan koq kita.. “ jawabku, tak berbohong

“ Oh tiga bulan, lama juga ya.. hmmm berarti dah hapal ya kebiasaan dia, ya kebiasaan-kebiasaan dia yang aneh-aneh. “ Karen seolah sengaja memancing perdebatan.

“ Oh, ya lumayan lah kalau soal itu.. “ jawabku

“ Iya kebiasaan dia kayak jalan selalu kaki kiri duluan, kebiasaan dia yang makan harus pakai garpu kalau ga bisa marah-marah dech, atau kebiasaan dia yang selalu memisahkan baju berdasarkan warna kalau bepergian, oh iya pasti tau donk, kan kemarin pasti bantuin dia packing.. “ urainya panjang lebar.
Ok ok.. aku ga tau, aku ga tau kebiasaanya pakai garpu, aku ga tau kebiasaanya misah-misahin baju kaya gitu..

“ Oh iya, makasih ya informasinya.. “ jawabku.

“ Oh iya sama-sama.. , “ dia terlihat tidak suka dengan caraku menjawab, ya peduli amat mungkin dia kesal karena pancingannya tidak berhasil.

“ Yang.. “ Jack mengintip dari balik pintu menatap kami berdua.

“ Ya ?? “ jawab kami berdua, aku memandang Karen yang tersenyum kecil seolah sengaja melakukan itu.

“ Sory gw manggil Angel, bukan loe.. “ Jawab Jack tegas, sambil mengulurkan tangannya memanggilku, aku segera berjalan mendekat, tersenyum karena Jack dengan tegas membelaku.

“ owh, sory kebiasaan.. “ jawab Karen dengan santainya

12 (5)

450x100

Jack membawaku menyelusuri pinggir pantai, langit yang mulai menguning menuju terbenamnya matahari, deburan ombak lembut yang menyentuh telapak kami yang berjalan sepanjang bibir pantai, dia tak memeluk-ku, apa aku harus memeluknya lebih dulu ? tapi aku malu melakukannya.

“ Soal Karen.. “ katanya memecah kesunyiaan

“ Hmm.. iya kenapa ?? “ tanyaku meski jantungku langsung berdebar tak karuan..

“ Dia, dia mantan aku.. sory aku ga pernah kasih tau ke kamu.. “ dia berhenti sesaat menaruh tangannya di pipiku seperti biasa..

Aku tahu aku tahu… tapi mendengar kejujurannya itu tetap terasa berbeda.

“ Ohh,, iya aku tahu koq.. “ aku berusaha tenang, setenang mungkin aku ingin tahu lebih banyak tentang hubungan mereka.

“ Kamu tahu dari pak Wildan tadi ya ? “ tanyanya

“ Ga koq, aku tahu kemarin dari ci Vina.. “ jawabku..

“ Hmmm.. Vina ya.. “ wajahnya seolah menyembunyikan sesuatu.

“ Kamu, kamu udah putus kan sama dia ?? “ tanyaku.. aku butuh ketegasan.. “ Udah ga ada lagi kan rasa sayang buat dia ? “

Jack diam sesaat tak langsung menjawab

“ Harusnya aku udah putus koq, kamu tenang aja ya.. soal rasa sayang ?? “ dia terlihat ragu saat menyentuh kata sayang itu.

“ Jujur aku masih ada rasa sayang buat dia, aku .. kita jalin hubungan cukup lama.. tapi.. “ Jack terhenti sambil mengejarku yang langsung melepaskan diri mendengarkan kata-katanya tadi.

Dia menarik tanganku sekarang berusaha menahanku yang berjalan menjauhinya.

“ Kamu jangan marah sayang, aku jujur aku cuma berusaha jujur sama kamu.. “ Jack membela dirinya.

Aku berusaha menahan untuk tidak menangis, perasaanku campur aduk.. dan salahkah aku mencintainya, saat aku berusaha percaya kalau cinta itu ada.

“ Aku ga marah.. aku ga marah.. “ jawabku dengan kesall berusaha melepaskan tanganku dari cengkramannya

“ Kalau ga marah bukan begini.. “ Pinta Jack

“ Aku kaget, ga nyangka kamu bisa nyatain cinta kamu ke aku, kamu bisa ngelakuin hal-hal romantic, segitu baiknya sama aku.. tapi kamu masih sayang sama orang lain. “ jawabku dengan suara tertahan.

“ Sayang.. sayang liat aku.. “ dia memintaku menatap matanya.

“ Kamu liat ke belakang ?? liat jejak kaki kita.. “ katanya lagi, aku melihat jejak kaki kami yang berjalan beriringan sepanjang bibir pantai.

“ Kamu liat, anggep aja jejak langkah itu sama kaya rasa sayang aku ke Karen, kamu liat kan.. pelan-pelan mulai menghilang karena terkena ombak, liat diujung sana yang sudah terhapus ombak.. kaya gitu perasaan sayang aku ke Karen, butuh waktu dan proses… tapi… kamu liat jejak langkah aku dan kamu sekarang.. “ dia memintaku melihat kebawah..

“ Disini kita berdiri, ga bergerak, terkena ombak atau apapun jejak ini akan tetap ada dan malah semakin dalam.. kenapa ?? karena aku tetap setia disini.. bersama kamu.. dan aku tahu satu hal.. sedalam apapun rasa sayang aku sama Karen dulu, aku ga pernah mencintai seseorang sedalam ini sebelumnya. “ Dia menciumku, memeluk-ku erat..

Dan aku.. aku berusaha percaya dengan semua kata-katanya.. bolehkah?? Bolehkah aku percaya.
Aku menatap matanya yang bening seolah tak menyimpan kebohongan sekecil apapun, kucium bibirnya tepat saat matahari terbenam..

“ Jack.. ini garpu kamu.. “ Karen memberikan garpu pada Jack, tak enak hati dia pun menerima garpu itu, aku lagi-lagi lupa, ahhh aku benar-benar pelupa.. jangan sampai dia merasa aku kurang perhatian padanya. Hmm aku harus melakukan sesuatu sekarang.

Kami membuat sebuah api unggun membakar ikan dan ayam bakar sambil bernyanyi, suasananya begitu akrab dan menyenangkan, ko Ryan yang bermain gitar bernyanyi bergantian dengan ko Rey yang terlihat tak pernah mau kalah selangkahpun dari ko Ryan.

Sementara beberapa kemah terbentang di pinggiran pantai, untuk para cowo yang akan tidur di tenda, sementara para cewe akan tidur di kamar dalam kapal, jauh sekali perbedaan hawanya antara siang dan malam, malam hari angin yang cukup kencang dibarengi dengan hawa dingin yang menusuk..

Soal Jack, aku tahu tadi dia sempat berbicara panjang lebar pada Karen, tapi aku tak menguping pembicaraan mereka, walau bagaimanapun rasanya tidak sopan, belum lagi dia yang begitu berusaha meyakinkanku tentang cintanya itu padaku tadi.. rasanya keterlaluan kalau aku tidak berusaha mempercayai kata-katanya, setidaknya cinta harus berdasarkan rasa saling percaya kan?

Hmmm ok ok aku menguping, menguping sedikit saja.. tapi jujur aku tak tahu apa yang mereka bicarakan.
“ Nah… udah kenyang kan.. sekarang kita lanjut babak berikutnya.. “ Vic mengeluarkan beberapa botol minuman yang disimpannya dalam kotak khusus, iya benar minuman keras.. ci Jessica sendiri tampak memprotesnya dan memilih untuk pergi setelah berdebat sesaat dengan ko Vic.

“ Yang jangan minum ya? Nanti kebiasaan.. “ pintaku pada Jack yang sedang mengambil gelas kosong menunggu jatah minumannya

“ Udah, aku gpp koq, biasa aja lagi kan aku nanti tidur di luar jadi supaya ga masuk angin memang harus minum.. “ katanya memberi alasan

“ Tapi.. “ Aku masih tak rela melihat dia minum minuman keras seperti itu.

“ Aku janji, ga akan banyak minum koq.. kamu tidur ya.. cape kan main seharian.. “ Katanya.. sepertinya mereka hendak melanjutkan pesta para lelaki, ci Cheryl, ci Mellisa, si Karen sekarang mengikuti ci Jessica yang telah lebih dulu masuk ke dalam kapal.

05 (8)

150x300

Aku pun naik ke atas kapal, menuju kamarku.. aku mau membereskan pakaian Jack, aku harus menyusunnya sesuai dengan warna, sesuai kebiasaanya setidaknya itu yang bisa aku lakukan untuk memberikan perhatian padanya.

Sementara yang lain sibuk dengan obrolan mereka, aku larut dalam keasyikan tersendiri. Menyusun pakaian Jack satu persatu, dimulai dengan mengeluarkan semua pakaiannya sebelum menatanya satu persatu, dan dia memang selalu lelaki paling ribet di dunia soal pakaiannya, 2 buah koper yang jumlahnya lebih banyak dari yang kubawa, jadi urusan membereskan pakaiannya ini cukup memakan banyak waktu.
Seseorang mengetuk pintu kamar..

“ Iyaa ?? “ Tanyaku “ Ga dikunci koq.. “

Orang itu membuka pintu, dan tersenyum padaku..

“ Yang.. kenapa ?? “ tanyaku, melihat Jack yang terlihat sedikit aneh.. dia membantuku berdiri, dan langsung memeluk-ku.

Tubuhnya sedikit berkeringat, dan bau ini.. dari mulutnya tercium bau alcohol..

“ Yang.. kamu mabuk ?? “ tanyaku

Dia menggeleng, dan menutup pintu kamar.. “ Kenapa dikunci ?? “ Tanyaku, sedikit panic dan bingung

“ Aku ga mabuk koq.. hehehe “ tertawanya terdengar aneh, dia menciumku sekarang dan aku.. aku tak tahu apa aku harus membalas ciuman itu.

Perlahan aku malah membalas ciuman itu, meski rasanya agak sedikit berbeda.. ada rasa pahit dari alcohol yang diminumnya.

“ Yanggggg !!! “ Protesku saat tangan Jack mulai menyentuh bagian dadaku.

Dia tak perduli, masih tetap mencium bibirku, berusaha mencium bagian-bagian lain dari wajahku, sebelum kemudian berhenti sesaat mencium telingaku.. tubuhku bergetar sesaat merasakan ciuman di telingaku itu. Rasanya begitu membuat merinding dan aku malah membiarkan tangan itu sekarang. Kubiarkan tangan itu menyentuh bagian dadaku.

Perlahan dia menyingkap baju yang kukenakan, aku mendesis kecil saat merasakan bagaimana dia mulai mencium bagian atas payudaraku, sentuhan itu, sentuhan itu terasa berbeda meski ci Vina sering melakukannya, tapi sentuhan lelaki benar-benar terasa berbeda.

Aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan, dan aku mulai membiarkan Jack yang tengah mabuk mulai menyentuh bagian dadaku itu, menyingkap sedikit bra yang kukenakan, dia mencium bagian dadaku, rasanya.. rasanya benar-benar berbeda.. kurasakan lidahnya yang memainkan payudaraku itu, mengigitnya kecil.

“ Yang… “ aku mendesah kecil merasakan ciumannya itu. Aku berusaha menarik wajahnya dari dadaku.
Dia menarik wajahnya, dan langsung mencium bibirku. Aku tak melawan sedikitpun, aku berusaha menutup kembali kausku, namun tangannya menahanku menutup bajuku.

Aku mulai bergerak, Jack belum pernah seperti ini sebelumnya, terlihat begitu bernafsu untuk mencium dan menggumuliku, ya tuhan aku harus bagaimana.. apa aku harus menuruti keinginannya ??

Sambil berusaha mendorongnya aku mulai meloloskan tubuhku dari pelukannya itu, tapi tak berhasil aku merasakan bagaimana tangannya mencengkramku kian kuat..

“ Yang.. kamu mau kan ?? kamu sayang kan sama aku ?? “ bisiknya lembut.

Aku tak menjawab.. ‘haruskah ?’

Teringat dengan kata-kata ci Angel bagaimana lelaki selalu menginginkan tubuh wanitanya, dan kemudian akan mencampkannya begitu saja. Apa Jack orang yang seperti itu.
Tapi …

Apakah dia akan meninggalkanku kalau aku mau memberikan semuanya untuk dia? Kehormatanku?

Dia memeluk-ku erat, menciumku dengan begitu hangat sebelum kemudian tangannya mulai menarik lepas bajuku, pasti wajahku memerah sekarang.. aku membiarkan dia melepas kait bra-ku, sementara dia menarik baju nya, menciumku dan membuatku tertidur di bawah pelukannya.

Bibirnya yang mulai menciumi payudaraku, meremasnya pelan sesaat..memainkannya dengan lidahnya dan mengigitnya kecil

Bibirku mendesah merasakan tiap sentuhannya itu, tak puas tangannya mulai masuk dalam celana pendek-ku.
Bagaimana ini ?? aku merasakan tangan itu mulai menyentuh bagian kewanitaanku..

Kuremas tangannya, berusaha menghentikannya. Namun tak berhasil iya menyentuh kewanitaanku itu

Kupejamkan mataku merasakan tiap sentuhan jemarinya.

Kuremas selimut dibawahku.. aku.. aku..

To Be Continued
###

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s