METAMORFOSIS DAN POHON PALEM #8

15 (1)Apakah yang hendak terjadi selanjutnya? Tetaplah setia di cerita METAMORFOFIS DAN POHON PALEM. 

Mari kita saksikan bersama….

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

“Akangg ! Apa yang sudah Akang lakukan ?” Rika berucap nyaring penuh gejolak rasa cemburu dalam dada.

“Adekk…sebentar, dengarlah dulu penjelasanku !” Sambut Lintang gugup.

“Tak ada lagi yang perlu didengarkan, Kecewa aku kang..kecewa !” Lanjut Rika lagi dengan suara bergetar menahan tangis.

“Adek…”

“Cukup..!!” Ucapan Lintang yang memanggil Rika dipotong saja oleh Rika dengan lantang. Sekejab kemudian Rika telah berlari keluar dari area kosan Lintang.

“Adek…tunggu..!” Lintang berlari mengejar Rika namun langkah kaki Rika telah sampai pada sisi pintu taksi yang tadi membawanya ke sana. Segera taksi meluncur pergi meninggalkan pekarangan rumah kos Lintang.

Tiba-tiba…

KRINGG…KRING

Lintang terkaget dan terbangun dari tidurnya. Dilihatnya layar HP yang masih menyala lampunya, tertulis nama Citra disana.

“Halo..” Lintang berucap malas.

“Mas…Rika sudah sembuh, dia sudah sadar Mas…segera datang ke rumah sakit ya..!” Citra berkata dengan begitu riang penuh kebahagiaan dan langsung menutup teleponnya. Mata Lintang melotot kaget, ia baru sadar bahwa peristiwa pertengkaran dengan Rika barusan hanyalah sebuah mimpi. Lintang menarik nafasnya dalam-dalam. Hatinya begitu senang ketika menerima kabar tentang sembuhnya Rika. Namun sisi hatinya yang lain serasa masih tertinggal dalam harapan baru terhadap Shinta.

Segera Lintang bergegas memacu mobilnya. Bukan kearah rumah sakit, melainkan menuju kantor Shinta untuk menjemput Shinta yang hendak pulang kerja. Pikiran Lintang masih tegang dan cukup bimbang. Hati Lintang berhenti di sebuah persimpangan jalan dan ia tak tahu kemana ia harus melangkah.

“Mas…sori bikin lama nenunggu, ayo deh kita pulang.” Ucap Shinta begitu ia menjatuhkan buah pantat seksinya di atas jok mobil Lintang.

“Iya..gak papa” Balas Lintang datar. Shinta menjadi tertegun, dahinya mengernyit.

“Lho kenapa Mas? Kok murung begono ?” Tanya Shinta penasaran pada roman muka Lintang yang terlihat masam.

Lintang tak menjawab. Mobil mulai melaju menyusuri jalanan menuju rumah Shinta. Tak ada pembicaraan sepanjang perjalanan itu. Masing-masing hanya diam tanpa kata.

“Mas…gue turun sini aja deh…males juga kalau harus dianterin orang yang ga ikhlas !” Ucap Shinta membuka pembicaraan di tengah perjalanan.

“Kok begitu sih..siapa juga yang gak ikhlas !” Bentak Lintang emosi sembari memandang tajam ke arah mata Shinta.

“Nah trus ngapain Mas cemberut begitu dari tadi?” Balas Shinta tak kalah sengit.

13007328_1060555554019846_5325579095315320753_n

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

Lintang tertegun. Ia baru sadar bahwa kebimbangannya telah membuat ia terlihat aneh. Perlahan ia tepikan kendaraannya di sisi luar bahu jalan. Jalan di tengah areal persawahan itu cukup sepi, Lintang merasa cukup leluasa untuk membicarakan sesuatu yang penting di tepi jalan itu tanpa harus terganggu bising deru kendaraan lain.

“Shin…aku minta maaf karena telah membuatmu bingung dengan tingkah laku ku hari ini. Sebenarnya aku lagi bimbang Shin. Terus terang aku mulai jatuh hati pada sosokmu akhir-akhir ini. Aku merasa telah menemukan orang yang mampu membuatku tersenyum selain kekasihku Ratih Namun hari ini aku kembali bingung. Barusan aku dapat telepon bahwa Ratih telah sadar. Sedangkan hatiku terlanjur berkubang pada dua tempat yang berbeda. Aku harus bagaimana sekarang Shin..?” Ucap Lintang sendu setelah mematikan mesin mobilnya.

“Mas..tatap gue Mas…tatap mata gue !. Tak ada yang perlu Mas kejar dari seorang Shinta seperti gue. Mungkin Mas pernah merasakan nikmatnya bercumbu dengan gue. Tapi itu bukan cinta Mas. Mas hanya mengatas namakan nafsu sebagai cinta. Gue dapat melihat dari mata Mas Lintang bahwa ketulusan cinta tak nampak disana. Itu wajar Mas, sebagai pria yang depresi karena tiba-tiba ‘jauh’ dari pacarnya.” Terang Shinta menyambut ucapan Lintang.

Lintang hanya terdiam dan sepertinya sibuk memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan ucapan Shinta. Dalam hati Lintang mencoba memilah-milah tentang arti cinta sesungguhnya yang dimaksud oleh Shinta. Demikian kalutnya pikiran Lintang dan pedihnya hati Lintang selama ini telah membuat Lintang lupa pada esensi yang tersembunyi dari pemahaman kata CINTA. Meski seakan-akan hatinya telah terbagi dua perasaan cinta, namun sebenarnya cinta itu sendiri masih 100% melekat dalam hatinya dan tertulis nama Rika Ratih disana. Cara pandang terhadap keindahan terkadang memiliki muatan berbeda. Namun si empunya hati bahkan tak menyadari jika sebenarnya ia telah menilai keindahan dengan sudut pandang berbeda. Keindahan dapat dinilai dari sudut pandang cinta dan akan berbuah kasih sayang. Keindahan juga dapat dinilai dengan penginderaan dan akhirnya berujung pada nafsu kenikmatan.

“Mas juga perlu tahu, gue gak pernah mau menerima Mas jadi kekasih gue selama ini bukan karena apa-apa Mas. Pertama, Gue tahu bahwa cinta Mas tidak tulus atau bisa dikatakan sekedar pencapaian gairah nafsu. Kedua, gue orang psikolog Mas, jadi gue tahu bahwa Ratih bakal sembuh…meski terus terang secara manusiawi gue juga menikmati percumbuan kita..!” Lanjur Shinta menambahkan argumentasi panjang yang semakin membuat Lintang terbengong-bengong. Ia seperti sedang berbicara dengan sebuah manusia dengan penalaran super tinggi. Lintang telah terhanyut lupa bahwa selama ini ia sedang berhadapan dengan seorang ibu HRD dan ahli psikologis.

Lintang kembali hanyut dalam alam pikirnya dan mengimbas kisah lalu yang pernah ia alami dan jalani. Dalam hati ia seperti mengamini semua pernyataan Shinta. Lintang seperti telah menemukan jawaban tentang alunan sayap-sayap cinta dan perasaannya yang tak menentu akhir-akhir ini. Ia kembali menerawang mengingat peristiwa masa lalu saat hendak menggagahi Citra. Ia kini mampu menarik kesimpulan bahwa perasaan cintanya terhadap Citra saat itu sebenarnya sama seperti yang ia lakukan terhadap Shinta saat ini, mengatas namakan nafsu sebagai cinta. Menilai keindahan dari sudut pandang gairah nafsu. Perlahan ia tersenyum, sebuah senyum kelegaan, senyum keteduhan jiwa yang menemukan kembali arah tujuan dimana dan kemana hatinya akan berlabuh.

“Sungguh beruntung aku bertemu dan kenal denganmu Shinta. Disaat hatiku gundah, pikiranku kacau, kau muncul di saat yang tepat. Kau mampu memapah hatiku yang sarat dengan derita psikologis yang mencekam, kemudian menyeretku ‘melek’ memandang ke dalam kubah kesadaran sepenuhnya…Terimakasih Shinta !” Lintang kembali angkat bicara setelah beberapa menit ia terdiam. Shinta hanya tersenyum manis semanis wajahnya.

“Dan juga having fun nuansa sensualitas yang berkesan tentunya…” Lanjut Lintang namun hanya membathin dalam hati.

“Shin…kalau begitu, temenin aku ke rumah sakit yukk…ke tempat Ratih..!” Sambung Lintang dengan mata berbinar penuh energi semangat dan kehidupan. Kembali Shinta hanya tersenyum manis.

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&&

Hari telah beranjak petang. Sisa-sisa sulur sinar matahari yang berubah jingga masih sesekali menjilat lembaran daun-daun di pepohonan tinggi. Burung camar nampak terbang membumbung di langit setelah ia puas bermain-main di lautan lepas. Rembulan menguning pucat, siap menyembulkan dirinya di hamparan malam yang sesaat lagi akan bergulir dalam kepekatan.

Rika, Citra, Sonya, Bima, dan Ibunda Rika nampak asyik bersenda gurau di kamar inap Rika ketika mereka dikejutkan dengan kehadiran sesosok Lintang di temani seorang dara atau tepatnya wanita cantik di sisinya.

Mata Rika dan Lintang saling berpandangan dengan jarak tak lebih dari 2 meter. Semua terdiam menunggu reaksi sepasang kekasih yang telah ‘terpisah’ lama tersebut. Dengan cepat Rika meloncat turun dari ranjang, begitu pula Lintang terlihat menghambur ke arah Rika. Di pertengahan ruangan itu mereka saling berpelukan. Keduanya terisak dan larut dalam tangis penuh kerinduan. Citra dan semua yang ada disana begitu terharu melihat pertemuan dua insan itu. Terlihat sang Ibunda sibuk menyeka airmatanya yang meleleh turun menyusuri pipinya yang mulai keriput dimakan usia. Citra dan Sonya pun demikian juga adanya. Mereka nampak sesenggukan menahan derasnya tangis yang kian mendesak dan merebak.

13062179_1060555517353183_597703473165253401_n

450x100

“Aku rindu sekali padamu dek..” Lintang mengawali sembari berusaha mengendalikan suaranya yang bergetar akibat tangis yang belum juga mereda.

“A…aa..ku juga Kang..hikks..hiks” Balas Ratih mengharukan.

“Maafkan aku ya dek…kamu menderita begitu pedih namun aku tak bisa memperjuangkan keselamatanmu…” Lanjut Lintang masih dengan isaknya yang bergulung-gulung.

“Perjuanganmu hingga tanganmu patah apa belum cukup sebagai bukti kang? Justru aku bersyukur…semuanya sudah terlewatkan kini..” Sergah Ratih masih dengan memeluk erat kekasihnya.

“Mari kita semai kembali ladang cinta kita sayang…hari ini, ladang telah dibuka kembali…untuk selamanya !” Ucap Lintang mantap.

“Hiks…hik…iya sayang…hiks” Ratih menimpali sambil mulai mengendurkan pelukannya kemudian perlahan mundur kembali ke arah ranjang.

“Oh iya..perkenalkan, ini Mbak Shinta teman ku. Beliau ini adalah seorang HRD dan psikolog jempolan. Beliau yang senantiasa mensupport dan mendukung hatiku selama aku terpuruk pasca sakitnya Adek Ratih. “ Lanjut Lintang sembari mengarahkan tangannya kearah Shinta yang sedari tadi terdiam bersandar di dinding kamar. Baik Rika maupun Ibundanya bergantian mengucapkan terimakasih kepada Shinta yang telah rela membantu memberikan motivasi dan semangat bagi Lintang.

“Lintang…gue juga mau ngucapin terimakasih…setelah berjuang cukup lama menyesuaikan diri dengan Bima, akhirnya dengan senang hati mulai hari ini gue nyatain bahwa gue menerima sepenuh hati lelaki hasil rekomendasi Lintang yaitu Bima. Gue selama ini bodoh dan menganggap Bima tak ada artinya…ternyata…ganteng juga ya…hihihi !” Sonya terssenyum sambil menggamitkan tangan ke pinggang Bima. Serempak seisi kamar tertawa lepas tatkala mendengarkan ungkapan Sonya yang terkesan polos namun menggelikan tersebut.

“Kata dokter, Rika butuh sekitar seminggu hingga dua minggu lagi di sini untuk men-stabilkan kondisi. Setelah itu baru boleh pulang..” Ucap Ibunda Rika setelah tawa di ruangan itu mereda.

Semua terlihat ceria menyambut pertemuan kembali Rika Ratih dan Lintang Timur. Tak terkecuali, beberapa perawat yang selama berbulan-bulan ini tekun merawat Rika. Terlihat mereka mengintip di samping jendela kamar sambil sesekali menghapus tetesan airmata haru yang menetes dari sudut mata mereka.

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&

Sesuai kesepakatan antara keluarga Rika dan juga Lintang. Dalam kurun waktu 2 minggu berjalan, mereka berencana menyiapkan sebuah kejutan spesial bagi kepulangan Rika nanti.

Waktu 2 minggu sangatlah pendek untuk menyiapkan sebuah kejutan spesial yang besar. Namun semua telah bertekad untuuk menyiapkan semaksimal mungkin kejutan tersebut. Lintang juga terlihat sibuk mendukung persiapan acara. Ia nampak begitu antusias membantu demi terlaksananya rencana.

Segerombolan sahabat Lintang Ratih yang baru terbentuk juga ikut mendukung dengan semangat. Mereka adalah Sonya, Bima, Citra, dan juga Shinta. Kisah lama yang pernah terjadi diantara mereka seperti telah terhapuskan pasca sadarnya Rika dari tekanan psikis.

Hati Lintang begitu berbunga gembira mendapati kisahnya yang dulu terpuruk hancur menjadi bersinar kembali. Lirih ia lantunkan sebuah puisi gubahannya sendiri sembari tetap membantu persiapan keluarga Rika.

……………………………………………. …….
Ranah Cinta
dipenuhi surga dalam genggaman
dipadati kasih sayang berhamburan
tak lagi diam..
tak lagi kelam..

Ladang Cinta
kusemai bersama bidadari jiwa
tumbuhkan harapan baru pada gelora
suburkan benih rindu menjadi setia
tak hendak nestapa..
tiada duka lara..

Himpitan telah pudar
hempasan tak membuat terkapar
hanya sinaran kian indah berpendar
tak jua nanar..
tak pula surut kobar..

Jemari ini bertahta
merengkuh cerita
menggapai kisah
menyusun soneta
merangkai kata cinta..

……………………………………

578027a3813c3b3fbca951f7ce658e7f

300x250

Meski terucap lirih, tak terasa ke empat sahabat Lintang turut pula menyimak lantunan tersebut. Decak kagum pada olah kata puitis Lintang terucap dari pada penonton dadakan tersebut. Intisari makna puisipun mereka resapi seakan mereka hanyut dalam aliran sungai cinta yang menggetarkan jiwa.

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&&&

Hari yang dinantipun tiba. Rika pulang kembali ke rumah yang telah lama ditinggalkannya. Jam 8 Pagi persiapan kejutan telah disiapkan. Di rumah sakit sana, Citra bersama Sonya dan Shinta juga sibuk mendadani Rika secantik mungkin. Banyak tamu akan hadir dalam acara syukuran nanti sehingga Rika perlu di rias maksimal.

Mobil Katana milik Lintang yang dikemudikan oleh Bima merapat di tepi jalan rumah Rika. Sesaat kemudian Rika turut dari mobil disambut iringan keluarga yang menjemputnya di depan pintu mobil. Keluarga Rika lantas mengarahkan Rika berjalan ke arah ruang tamu yang telah di dekorasi sedemikian rupa sehingga nampak megah dan menarik. Begitu Rika tiba diambang pintu tamu, terlihat Lintang tengah duduk bersila bersama beberapa orang bapak-bapak. Paman Rika melambaikan tangannya ke arah Rika dan meminta Rika duduk di samping Lintang yang pagi itu terlihat tampan dengan setelan jas berwarna Gelap dipadu dengan dasi batik dan peci seperti bung karno. Kening Rika mengkerut, ia seperti merasa janggal dengan semua itu. Namun ia tetap saja menuruti panggilan pamannya untuk duduk di samping Lintang.

“Baiklah, acara sudah bisa kita mulai…hadirin sekalian..”

“Ananda Lintang Timur bin Sunaryo, saya nikahkan anda dengan Rika Ratih binti Ruslan Hadi dengan Maskawin uang sebesar satu juta dua lima belas ribu rupiah dibayar tunai….”

Rangkaian akad nikah yang sangat-sangat membuat Rika terkejut sekaligus terharu berjalan lancar hingga terucap kata ‘SAH’ dari para saksi dan tamu yang hadir. Rika seperti tak percaya dengan semua itu. Namun semuanya begitu nyata adanya. Ia hanya bisa tersenyum dan menangis bahagia. Hatinya berdegup begitu kencang menerima kejutan spektakuler tersebut.

Dua hingga tiga jam berjalan dihabiskan kedua mempelai untuk bersanding di depan para tamu sekaligus menerima ucapan selamat dari seluruh tamu yang hadir. Di sudut ruangan nampak Kakek Seno juga tersenyum bangga pada sosok Lintang yang sudah seperti cucunya sendiri. Sebelum acara, Kakek Seno juga meminta Lintang dan Ratih untuk menempati rumahnya sekaligus menjalankan bisnis kos-kosan yang selama ini sudah berjalan. Kakek Seno berencana untuk tinggal di rumah anaknya diluar kota karena mengingat usianya sudah semakin renta dan butuh waktu yang cukup setiap harinya untuk istirahat. Lintang dibebaskan dari biaya kos-kosan, Kakek Seno menjanjikan bagi hasil sebagai ganti dari bantuan Lintang mengoperasikan kos tersebut.

Sebagai kejutan berikutnya, sore itu juga Lintang mengajak Rika Ratih menggunakan tiket pesawat yang sudah dipesan Lintang dan bertolak menuju ke kota budaya Jogjakarta untuk berbulan madu.

“Aduh…ejutannya gak habis-habis Kang…!” Ucap Ratih bahagia.

“Demi cintaku padamu sayang…” Balas Lintang mesra dibarengi senyuman menggoda.

“Ihh..malu dong didengar orang…” Ratih merajuk manja sembari mencubit gemas lengan suaminya yang baru saja diresmikan beberapa jam yang lalu.

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&

malam belum terlalu larut saat Lintang dan istrinya sampai di lobi hotel tempat mereka menginap di Jogjakarta. Mereka terlihat bergandengan mesra mengikuti Mas Room Boy yang memandu mereka ke arah kamar yang dipesan.

“Terimakasih Mas, Sudah tasnya taruh saja di depan kamar, biar saya yang masukin…ini sedikit tips buat beli rokok Mas…” Ucap Lintang berterimakasih kepada Mas-Mas yang mengantar.

“Aduh….sembah nuwun lho Mas Ganteng dan Mbak Ayu…silahkan menikmati fasilitas yang ada. Jika butuh sesuatu bisa nimbali kulo melalui ext. 110. Panggil saja saya, nama saya Giman…njih sampun…pareng” Balas Mas tadi dengan dialeg kromo inggil jawa yang sopan dan kental.

Lintang dan Ratih memasuki kamar hotel dengan penuh suka cita. Kamar pun dikunci dari dalam. Mereka tak lantas bergumul seperti manusia yang kehausan nafsu. Terlebih dahulu mereka membongkar koper pakaian, menata pakaian mereka untuk seminggu ke dalam lemari, kemudian bergantian ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menyegarkan tubuh mereka yang telah letih seharian beraktifitas.

“Dek…nanti pakai ini ya habis mandi..” Ucap Lintang sambil mengeluarkan sebuah lingerie dari tas ranselnya. Ratih yang melihat model dan bentuk dari lingerie itu spontan menjadi merah mukanya. Entah karna malu atau karena api birahi yang mulai menjalari tubuhnya.

Jam menunjukkan pukul 23.10 malam waktu setempat setelah Ratih keluar dari kamar mandi. Lintang nampak menunggu dengan tak sabar di atas ranjang double bed. Ia hanya bertelanjang dada dan memakai sarung dibawahnya.

Ratih muncul di depan ranjang dengan mengenakan lingeire pemberian Lintang. Badan seksi menawan Ratih nampak terekspos sempurna dengan bantuan lingerie itu.

Lingerie itu berbahan dasar kain terawang jaring-jaring berwarna merah menyala. Modelnya cukup simpel, hanya berupa atasan sebangsa tangtop dengan tali tipis di pundak namun tangtop itu terus menjuntai turun membentuk sebuah rok tepat beberapa centimeter dibawah pangkal paha Ratih. Tepi bawah tersebut tidak cukup sempurna menutup g-string setelan lingerie berwarna senada dan hanya berupa lilitan tali dengan secarik kain ditengahnya selebar sekitar 4-5 centimeter persegi. Semakin kebawah, g-string itu mengait pada sebuah kaitan karet yang mencencang sepasang stocking setelan yang membungkus sepasang paha montok Ratih hingga ke ujung jari kakinya.

Ratih membiarkan rambut panjang sunsilk nya tergerai indah sehingga menambah kesan wah pada penampilannya. Mungkin karena masih malu, ratih melapisi lingerie itu dengan sebuah lingerie lebar seperti jubah berbahan katun tipis warna pink. Untuk kain jubah pink ini ia membawanya sendiri dari rumah. Ratih malam itu terlihat begitu menawan dan anggun bagai bidadari. Kaitan jubah pink yang tidak ia ikatkan di pinggang membuat bagian depan tubuhnya yang tertutup lingerie merah mengintip malu-malu dan mengesankan sebuah pemandangan nan seksi namun bersahaja.

Ratih melangkah maju mendekati bibir ranjang dengan wajah memerah dan sedikit tertunduk. Belum sampai pada tepian ranjang, Lintang sudah berdiri dan menyambut bidadari jelita itu dengan membuka kedua tangannya lebar-lebar dan siap menerima Ratih dalam pelukan hangat.

Keduua insan dimabuk kepayang ini saling berpelukan erat seakan tiada mau terpisahkan. Sejenak mereka terdiam meresapi setiap detik kehangatan yang tercipta diantara mereka. Belaian lembut jemari Lintang mulai merayap di rambut dan tengkuk Ratih dengan penuh rasa kasih. Sebentar kemudian jemari itu sedikit menjalar turun mengelus punggung Ratih seperti seorang ayah yang membelai punggung anaknya dengan sepenuhnya kasih agar tertidur.

Perlahan Ratih sedikit mendongak dan melirik pangeran yang sedang memeluk tubuh indahnya. Melihat hal itu, Lintang tak tinggal diam. Ia angkat perlahan dagu kekasih sejatinya dan ia tempatkan dengan perlahan bibir sang dewi di depan bibirnya. Lintang dengan lembut mengecup bibir indah mungil yang tersaji.

“Hehhm..” Hanya kata itu yang terucap dari bibir Ratih saat menerima kecupan demi kecupan yang terus menanjak menjadi sebuah perciuman panas dan menggelora.

Lintang mulai menaikkan tempo perciuman dan merangkai bersama sedotan ke bagian lidah Ratih. Sang dewi cinta hanya menurut, ia dengan rela menyodorkan lidahnya seakan ingin memberikan sepenuh jiwanya bagi suami tercinta.

d6896b8a46baf7b1b0c3e628a46723b1

150x300

Tangan-tangan Lintang mulai nakal dan meluncur turun meremas-remas dua bongkahan buah pantat Ratih yang sekal dan berisi. Ratih tetap saja mengikuti permainan itu sembari tangannya melingkar kuat pada bahu Lintang. Sejenak Lintang menghentikan ciuman dan berinisiatif untuk membuka jubah kebesaran Ratih yang sedikit banyak mengganggu kegiatan. Dengan sekali tarik, tubuh Ratih sudah teronggok seksi dengan balutan lingerie merah menyala. Buah pantat Ratih terlihat membulat bohay diantara tali g-string yang melintasi bagian tengah bongkahan tersebut. Bulu-bulu pubis meremang lembut di balik kain g-string. Dua buah dada aduhai berukuran sekitar 34an dan putih nampak menerawang juga dibalik tangtop jaring-jaring. Puting yang sudah tegak memerah nampak menyembul malu-malu dan menyeruak seakan ingin menerobos lubang jaring yang tak sebegitu besar.

Ratih juga mulai melakuakan kenakalan terhadap suaminya. Dengan cekatan ia buka gulungan pengikat sarung suaminya. Sekian detik meluncurlah turun kain sarung donggala Lintang dan secepat itu pula terpampang sebatang besar tombak unik bertopi mengkilat. Ratih sedikit terhenyak dan mnutup bibirnya. Namun kuluman bibir kembali diluncurkan Lintang untuk meredam kekagetan Ratih.

“Ehhmm…” Kembali terdengar seutas kalimat pendek dari bibir Ratih saat berciuman bibir. Namun kali ini terdengar lebih panjang daripada yang pertama tadi.

Perlahan tapi pasti Lintang menarik keatas tangtop semi Ratih. Ratih membantunya dengan mengangkat kedua lengan tinggi-tinggi. Dua buah bukit mulus menggemaskan segera terlontar bergetar seketika saat tangtop sudah terlepas seluruhnya. Lintang pun merangsek kearah buah indah Ratih dan menyucupnya. Tak lupa tangannya juga ikut berkreasi meremas dan memilin buah yang disebelahnya.

Sesekali terlihat tubuh Ratih bergetar meresapi setiap kuluman dan jilatan serta remasan di bukit mumpluknya. Matanya sedikit terkatup dan hanya menyisakan sekian milimeter warna putih bola mata.

Melihat reaksi cepat dari rangsangan ditubuh Ratih, Lintang segera berupaya untuk mendudukkan Ratih di bibir ranjang. Kemudian dengan lembut ia buka lebar kedua paha seksi Ratih. Tahap berikutnya, Lintang menarik kain penutup Meymey Ratih dan menempatkannya agak kesamping. Sekarang nampaklah dengan jelas sebuah kawah legit berbibir lembab. Lintang mencoba mendekatkan wajahnya ke barang berharga Ratih tersebut, namun Ratih melarangnya. Dengan satu isyarat ternyata Ratih meminta posisi saling mengulum barang pasangan masing-masing atau lebih dikenal sebagai posisi enam-sembilan. Dengan senang hati Lintang menuruti permintaan itu. Di bopongnya tubuh Ratih lebih ketengah ranjang kemudian ia minta Ratih menaiki tubuhnya dengan posisi berbalik sehingga masing-masing kepala saling berhadapan dengan Konkon serta Meymey.

Dengan sedikit ragu Ratih mulai memasukkan batang kekar Lintang kemulutnya. Begitu juga Lintang juga mulai menjelajah di setiap relung di kawah Ratih.

“Uhmm…” Suara Ratih yang melenguh tertahan sumpalan Konkon di mulutnya. Bibir Meymey Ratih dirasa Lintang berdenyut-denyut seperti tengah menikmati oral service pasangannya.

Merasa sudah cukup melakukan foreplay pada pertemuan perdana itu, Lintang meminta Ratih untuk telentang dan bersiap melakukan ‘sesuatu’ dalam posisi konvensional. Lintang pun memposisikan diri sejjar dengan tubuh Ratih. Dibantu oleh Ratih, Lintang mengarahkan Batang perkasanya ke arah lubang denyut Ratih. Beberapa kali mencoba, batang itu tetep tak dapat masuk ke dalam anunya Ratih. Terlihat wajah Ratih cukup tegang menjalani tahap intercourse ini. Barangkali ia masih cukup trauma dengan yang namanya persetubuhan. Otot-otot pendukung liang surga Ratih seperti mengetat dan menegang kaku. Karena reaksi kejut otot itulah yang membuat liang libido Ratih tak mampu mengembang fleksibel.

Dengan lembut Lintang membelai wajah Ratih dengan penuh cinta dan perasaan. Lintang berusaha memberikan perasaan aman dan nyaman bagi Ratih agar tidak lagi tegang. Setelah kernyitan di kening Ratih mulai mengendur, Lintang kembali mencoba melesakkan senjatanya. Kali ini ia menggulung kaki Ratih tinggi sehingga Ratih seperti hendak mencium kakinya sendiri. Dengan cara ini Lintang berharap otot tegang Ratih dapat meregang dan lebih lentur. Dalam posisi berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya, Lintang mengarahkan kembali batangnya ke Meymey Ratih yang merekah. Satu dua tiga dan tusukan keempat akhirnya membuahkan hasil. Hampir 1/3 batang Lintang ditelan lubang empot Ratih.

Dengan satu dorongan kuat, melesaklah seluruh batang Konkon Lintang menghujam dinding terdalam Ratih. Perlahan Lintang menggoyang dalam tempo lambat, semakin lama tempo dipercepat oleh Lintang untuk membangkitkan sensasi nikmat yang lebih bagi Ratih.

“Uhh…sayy..” Benar saja, Ratih mulai melenguh dalam keadaan mata separuh terpejam seperti tadi.

Dengan cepat Lintang menggenjot kembali area nikmat Ratih berkali-kali tusukan. Ratih mengejang seperti tersengat listrik. Kepalanya terdongak-dongak menahan rasa geli yang membuncah dari dalam Meymeynya yang mulai sensitif rangsang.

Merasa lelah dalam posisi itu, Lintang meminta Ratih untuk duduk dipangkuannya dengan posisi berhadapan. Batang pejal kembalu mengaduk lubang peka rangsang milik Ratih. Kuluman bibir bertemu bibir kembali terjadi. Kali ini kuluman terlihat begitu panas dan dahsyat. Sedotan, kuluman, jilatan dan gigitan silih berganti mereka lakukan pada bibir pasangannya masing-masing.

Nun jauh dibawah sana, si otong sedang bekerja keras mengebor kilang minyak milik Ratih yang terjal dan berlendir. Ratih menarik bibirnya dari perciuman karena tak kuasa untuk terus mendesah dan merancau hebat.

“kang…auhh..kangg…” Desah Ratih tanpa kendali.

“Mama sayang…mau minn..ta anak berapa…” Tanya Lintang disela genjotan cepatnya.

“Terserah Kang…aku pasrah sama Akang…uhhh” Balas Ratih berikut rintihan yang tiada henti.

“Tiga?..Lima? Sepuluh?…” Tanya Lintang lagi sambil terengah.

“Berapa aja sayang…aku mauu ehmm..” Jawab Ratih penuh gairah menggelora.

“Kangg aduhh mau mauu inii arhhh sstt” Tiba-tiba ratih menjerit lepas. Dibatang Lintang seerti sedang tersiram cairan hangat yang lumayan banyak.

“Aku juga mau kelu arr….aaahhhh sayanngg” Menerima siraman cairan yang memabukkan membuat Lintang tak mampu bertahan lebih lama. Setengah lusin lebih semprotan-dot-com ia semburkan ke dalam rahim istrinya terkasih.

Jam dinding menunjukkan waktu tengah malam buta saat Lintang dan Ratih masih terkapar meresapi sisa-sisa capaian klimaks yang baru saja hadir menyapa sepasang kekasih yang penuh kemesraan. Selepas itu mereka bergantian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

1454

160x600

Satu jam berjalan, mereka masih terlihat telanjang di atas tempat tidur. Senda gurau dan tawa lepas menghiasi kemesraan mereka yang seakan tiada pernah usai. Perlahan tangan lentik Ratih menjalar menyusuri paha suaminya dan menemukan batang kokok yang sudah ½ tegak. Diremasnya gemas batang itu.

“Ihii..kayaknya bisa nambah lagi nih..” Kerling genit Ratih sembari terus meremas dan mengocok batang Konkon Lintang yang semakin lama semakin membesar gagah.

“Idihh…mulai genit ya sekarang !” Ledek Lintang sembari mencubit gemas pipi Ratih yang menyemu merah.

“Biarin…sama suami sendiri ini…” Kelit Ratih meski dengan rona sedikit tersipu.

“Besok kita ke borobudur atau ke parangtritis dulu sayang?” Tanya Lintang sembari menikmati pijitan mesum di batangnya.

“Di kamar aja Kang…Ratih masih mau….” Rajuk Ratih kembali dengan tersipu malu.

“Aduh…istriku yang cantik, seksi, dan juga ganjen…ehmm…gimana ya…ok lah hahaha…” Lintang mencibir sambil terbahak penuh kegembiraan yang meletup-letup.

Pertempuran demi pertempuran mereka lakukan hingga pagi menjelang. Begitu juga esok hari. Mereka laksana pangeran dan bidadari yang sedang dimabuk cinta…dimabuk asmara..

……………………………………………
Indah pendar cahaya
menjuntai turun menebarkan cercah
menumbuhkan rasa yang melambung
takpun merenung…

Indah mengejar asa
merengkuhnya dalam genggaman jiwa
hadirkan rindu yang tak pula usang
biarpun petang…

Singgah di bilik kalbu
membunuh jerat, memupuk syahdu
hati ini tak lagi mendung
kisah ini tak akan meraung
langkah pun tak jua terbendung

Kau ku jelang…
hari ini, esok malam, ataupun lusa tetap kau kujelang…
………………………………………..

(Puisi karya : Lintang Timur, 12 Mei 2012, sebagai penutup akhir cerita Metamorfosis dan Pohon Palem).

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&&&&&&&&&

T.A.M.A.T

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s