Tepian Hati : Awal Dari Sebuah Akhir 3#

09lv“ Lee serius, kayaknya ada yang salah sama ide loe ini.. “ Tegas Jack sambil membawa sebuah buket bunga yang terikat dengan tali panjang sesaat sebelum keluar dari mobil mengikuti Edison.

“ Tenang Jack, ga inget waktu Rey ngasih hadiah ke Cheryl ulang tahun waktu itu ? “ tegas Edison dengan bersemangat

“ Iya juga sih, tapi kayaknya ada yang salah dengan ide loe ini.. “ Jack menutup wajahnya dengan kaus hitam, terlebih pakaiannya yang serba hitam benar-benar membuatnya seperti seorang perampok.

Edison menepuk pundak Jack, tersenyum yakin “ Tenang Jack, semua udah gw perhitungin “ katanya sambil mengeluarkan sebuah speaker dari dalam mobilnya, dan mencoloknya pada gitar akustiknya.

“ Yawda bener ya, gw ga mau ada masalah apa-apa.. “ Jack benar-benar terlihat tidak yakin.

“ Jack.. “ Ucap Edison, dia menepuk pundak Jacksen dan memeluknya.. “ Trust me my brother.. “ bisiknya.

“ Yawda.. Jack pun merangkak naik, memanjat satu persatu dinding bata di pinggiran rumah mewah itu, menghindari pandangan satpam dan pembantu rumah itu yang lebih asyik dengan pertandingan bola yang tengah mereka saksikan.

Bergerak naik keatas atap tepat diatas pintu masuk rumah itu, dia melemparkan tanda ok pada Edison yang segera memencet tuts ponselnya dan mulai memainkan gitarnya.

Seseorang berjalan keluar dari pintu itu dan kemudian sebuah buket bunga mawar tergantung tepat di depannya.

Ponsel itu bergetar diatas meja belajar, bercahaya dan bergetar cukup lama sebelum kemudian berhenti menandakan panggilan itu sudah selesai, sebelum kemudian beberapa saat kemudian kembali bergetar, Ryan mengangkat tangannya meraba meja itu sebelum sebuah tangan lain lembut menghalangi Ryan mengambil ponsel itu, menarik Ryan dan menindihnya sambil tersenyum.

“ Jangan angkat ya Ry.. “ Pinta suara itu manja, memandang Ryan yang berada tepat di bawahnya.

07lv

300x250

Ryan tak bisa menolak permintaan itu, terlebih Cheryl yang menunduk sambil mencium bibirnya.

Ryan membalas ciuman itu, membiarkan bagaimana Cheryl menciumi dirinya, wajahnya hingga ke lehernya, sambil menarik tangan Ryan meremas bagian dadanya yang masih tertutup oleh kaus yang dikenakannya..

Tangan Ryan yang berada di dada Cheryl tak memberikan reaksi apapun, tak ada remasan di dadanya, sementara Cheryl terus menciumi Ryan, berusaha memberikan rangsangan pada lelaki itu, Ryan yang masih terlihat bingung, terlihat ragu dengan semua yang mereka lakukan.

Ryan tetap seorang lelaki normal, sementara Cheryl yang terus membuat Ryan merasakan kenyamanan yang luar biasa dengan apa yang diberikannya, Cheryl yang terlihat begitu mampu menguasai keadaan dalam situasi itu, memberikan semua yang dia biasa lakukan pada Rey, menciuminya memeluknya dan menyentuhkan tubuhnya pada Ryan, akhirnya membuat Ryan mulai meresponse sesuai yang diinginkan oleh Cheryl. Memeluknya dan balas menciumi Cheryl.

Perlahan dia berada di depan Cheryl, memasukan tangannya ke dalam kaus Cheryl, menyentuh buah dadanya itu sementara wajah Cheryl sedikit memerah merasakan sentuhan tangan Ryan yang menyentuh dadanya itu, Ryan yang menarik kaus Cheryl mencium perut gadis itu, lidahnya yang menyentuh pusar gadis itu membuat tubuh mungil Cheryl tersentak seketika, bergerak lucu merasakan bagaimana lidah Ryan menyentuh pusarnya itu.

“ Ryy… “ Bisiknya sambil menarik wajah Ryan mencium bibirnya lagi.

Cheryl meminta Ryan membuka kausnya, menciumi dada Ryan yang begitu bidang, memeluk Ryan dengan begitu erat, tangan Ryan pun tak pernah berhenti menyentuh dada Cheryl, tangannya yang kemudian nakal melepas kait bra gadis itu hingga buah dadanya itu tergantung bebas, Ryan menyelusup mengunakan lidahnya untuk merangsang bagian puting payudara Cheryl, sementara Cheryl terus mendesah merasakan bagaimana Ryan mulai merangsang tubuhnya.

Kembali dia mencium Ryan menarik Ryan kembali dalam pelukannya berbalik dan menciumi tubuh Ryan terus turun, hingga terhenti sesaat tepat di pinggangnya, Cheryl tersenyum menatap mata Ryan memberikan ciuman tepat di kemaluan Ryan yang masih tertutup oleh celana pendeknya.

“ Cakep ya Lee.. gila cakep banget.. “ ucap Jack dengan nada menyindir malas

Sementara Edison sibuk menelepon sambil memandang Jack yang semenjak tadi menggerutu, sementara di depan sana Jessica sedang berbicara dengan seseorang yang tengah sibuk mencatat ucapannya, sementara Mellisa dan Vic membawakan makanan untuk Jack dan Edison yang tengah ditahan di dalam sel penjara.

“ Koq bisa sih? Kalian punya ide gitu ?? “ Tanya Mellisa heran membukakan sebuah teh manis hangat dalam gelas kertas,

Jack mengambil minuman itu dan meneguknya dengan cepat “ Tuh yang punya ide.. “ sindir Jack

“ Udah ah, jangan dibahas lagi kenapa ?? sory Jack.. “ Ucap Edison malas sambil menutup teleponnya
“ Makanya kan ada yang salah gw bilang, loe mau ikutin Rey dulu, tapi inget mereka sengaja janjian di tempat kita, siapa yang mau nangkep.. nah dirumah orang dalem komplek gitu, yang ada dikira maling gw.. “ Ucap Jack kesal

“ Loe dah tau ada yang salah malah ga ngash tau, gimana sih.. “ Edison tak mau disalahkan..

“ Udahlah, yang bisa keluar.. “ Jack malas berdebat..

“ Kalian tuh aneh-aneh aja tau ga ?? Ulangtahun aku malah harus urus kalian keluar dari penjara, bisa ga sih kasih surprise yang agak normal.. “ Jessica menggerutu membawa sebuah kertas dan memberikannya pada salah satu petugas untuk ditandatangani, sementara petugas itu menstampel dan mentandatangani berkas itu sebelum membuka sel penjara itu.

“ Ya ampun sayang, kalau surprise yang normal bukan surprise namanya.. “ Kata Edison sambil berjalan keluar dari sel itu,

“ Ya tapi ga gini juga, bikin orang repot tau ga.. “ Jessica terlihat begitu kesal.

“ Ya ampun, maap sayang janji ga gini lagi.. “ Edison merayu Jessica sambil mencium lengan gadis itu..

08lv

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

“ Biasa dech, kalau dah gini ngerayu.. “ Jessica menatap Edison yang tengah menatapnya manja, memandangnya dengan tatapan yang begitu jutek sebelum kemudian tersenyum sendiri.

“ Kamu tuh, ngapain masih pakai ginian ?? “ Jack mendekati Angel, melepas jepit rambut yang menjepit pony gadis manis itu.

“ Hah ?? aku daritadi pakai ginian ?? “ Angel terkejut melihat jepit rambutnya yang masih menempel daritadi sejak terbangun di tengah malam saat mengetahui Polisi membawa Jack dan Edison kedalam pos polisi karena dicurigai tengah merampok rumah atas laporan tetangga rumah Jessica dan Mellisa.

“ Makanya jangan buru-buru, aku gapapa koq.. “ Jack tertawa melihat wajah polos kebingungan Angel yang merona merah karena malu.

“ Ahhhh aku kan panic, kawatir tauu.. “ Angel merajuk..

“ Iya kawatir sih kawatir, tapi jangan ke kantor polisi pakai daster juga.. “ Jack tertawa dan memeluk Angel.

“ Hmmmm sekarang ketawa, peluk-pelukan tadi marah-marah terus sama gw.. “ Sindir Edison melihat Jack yang tengah asyik bermesraan dengan Angel, sementara dia masih berusaha merayu Jessica agar tidak lagi marah setelah dia melakukan lagi aksi konyolnya.

“ Bawel ah.. pulang dech,. Ngantuk banget ini.. “ Celetuk Jack melirik jam yang sudah menunjukan pukul setengah 4 pagi..

“ Iya pulang yukk.. aku ngantukk.. “ Kata Mell sambil menyender ke pelukan Vic..

“ Yawda, aku anter pulang dulu ya.. “ Vic memeluk Mell sambil tersenyum, “ Jess mau ikut ? apa bareng Lee ?? “ Tanya Vic sambil tertawa

“ Gw ikut loe aja Vic, males nih ama dia.. “ Jawab Jess sambil menggerutu

“ Yangggg… yangggggggg “ Edison merayu manja pada Jessica..

“ Gw pulang dulu dech.. yang aku ikut kamu aja.. “ Kata Jack pada Angel sambil berjalan keluar, hendak membuka pintu ruangan itu.

“ Ci Karen ?? “ Angel terkejut saat Jack membuka pintu itu dan Karen berdiri tepat di muka pintu itu.

“ Hai Ngel.. “ Karen terlihat begitu cantik, meski berpakaian sopan berbeda dengan kebiasaaanya mengenakan pakaian yang seksi sedikit terbuka, namun tetap dia terlihat begitu cantik dengan baltuan baju lengan panjang dan riasan yang cukup tebal menunjang kecantikannya.

Sama dengan Angel yang tengah terkejut, Jack segera berbalik dan menatap curiga pada Edison, Edison langsung menggoyangkan tangannya, membentuk tanda tidak tahu karena kehadiran Angel.

“ Udah bebas ya ?? sampai khawatir banget aku.. “ Karen menaruh tangannya di dadanya bersyukur melihat Jack dan Edison yang sudah bebas.

“ Iya ci, loh koq tau mereka berdua ada disini ?? “ Angel bertanya bingung.

“ Oh iya, aku ga pernah cerita ya.. aku teman mereka dari SMA dulu.. “ Ucap Karen dengan sengaja, dia seolah ingin menunjukan kedekatannya dengan Edison dan Jack.

“ Ah, yang bener ci.. koq cici ga pernah cerita.. “ Angel terlihat binggung, dia menatap Jack yang juga tak pernah menceritakan masalah ini pada dirinya.

Jack hanya membuang pandangannya.

“ Makasih ya ci, dah perhatian sama Jack dan Edison “ Meski sedikit curiga dia berusaha bersikap sesopan mungkin pada Karen.

“ Iya, gapapa koq wajar kan perhatian sama mereka,.. “ Karen tersenyum sambil memeluk Angel

Jack menarik Angel dengan sengaja, dia seolah kawatir dengan sikap Karen yang berusaha mengakrabkan diri dengan Angel, “ Yawda ya, cape mau pulang dulu.. “ Celetuk Jack menarik Angel berjalan keluar.

“ Permisi ya ci.. “ Angel menunduk sambil mengikuti Jack yang menariknya keluar..

Mereka masuk ke dalam mobil, menyalakan mobil itu dan bergegas pergi dari tempat itu, Karen hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Jack yang selalu berusaha menghindari dirinya, dia tahu wajar kalau Jack melakukan itu semua, tapi dia pun sungguh tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan kembali Jack dalam pelukannya.

“ Ren, koq bisa sih sampe kesini, kan gw dah bilang ga ada apa-apa.. “ Edison mendekati Karen yang terdiam menyaksikan bagaimana Jack berubah menjadi begitu dingin pada dirinya, padahal dia percaya bahwa Jack belum mengatakan apapun tentang hubungan mereka yang telah berakhir pada orangtuanya sendiri. Karen percaya bahwa Jack masih memiliki rasa cinta pada dirinya, tapi melihat bagaimana Jack memperlakukan dirinya, dia sedikit bimbang sedikit kecewa.

“ Lee.. gw harus gimana ?? Salah kalau gw perhatian sama dia.. “ Tanya Karen membela diri, dia memang mendapat kabar dari Edison, tapi Edison sudah menasehatinya untuk tidak datang kesana.

“ Ga koq, ga salah kalau loe perhatian ma Jack, satu-satunya yang salah adalah loe perhatian LAGI sama dia.. “ Edison memeluk Karen yang terlihat begitu bimbang, dia sengaja menekankan kata LAGI dalam kalimatnya.

“ Memang apa yang salah dengan kata LAGI ? gw ma Jack belum bener-bener berakhir kan.. “ Karen berusaha mencari pembenaran dirinya.

“ Iya mungkin buat loe belum Ren, tapi gw tau Jack gw tau apa yang ada dipikirannya.. “ Tegas Edison, “ Yawda loe mau gw anter pulang ?? “ Tanya Edison begitu perhatiannya..

“ Ehemmmm “ Jessica yang tidak suka melihat kedekatan Edison langsung bereaksi..

Edison tergagap melepas pelukannya pada Karen, berbalik dan menunduk-nunduk sambil meminta maaf pada Jessica.. berusaha memeluk kekasihnya itu sayangnya kali ini pelukannya tidak mendarat dengan tepat pada Jessica yang malah menghindari dirinya.

10lv

450x100

“ Ampun yang ampunn…. “ Edison kembali berusaha merayu Jessica

“ Ayo silahkan anterin pulang dulu temennya, silahkan.. “ Jessica terlihat begitu kesal kali ini.

“ Ga koq, dia bawa mobil sendiri, bisa pulang sendiri ya.. iya kan Ren.. “ Edison memberi kode agar Karen membantunya membujuk Jessica yang memang pencemburu berat. Dia juga memandang Vic dan Mellisa memohon bantuan, sementara Mellisa hanya tertawa kecil berusaha tak perduli pada permintaan Edison itu.

“ Lee loe harus bantuin gw, harus bantuin gw.. “ Pinta Karen dengan wajah yang begitu serius.

Edison menggeleng,, kali ini dia berusaha tegas. “ Gw ga bisa bantuin loe Ren, gw mungkin hanya bisa kasih loe satu kesempatan, sisanya loe harus jalanin sendiri. “

“ Iya, ga apa-apa.. tolong.. “ Karen semakin mendesak.

“ Iya, nanti gw hubungin loe dech.. gw pulang duluan ya.. Loe bisa pulang sendiri kan ?? “ jawab Edison sambil melirik jam sedikit kawatir.

“ Ok, gw tunggu ya, gw berharap banyak sama u Lee.. sekali lagi tolong.. “ Pinta Karen

Edison mengangguk sambil menarik Jessica keluar, Jessica sendiri terlihat begitu dingin terhadap Karen, dia melewati Karen tanpa sepatah katapun.

Mobil Edison berhenti tepat di depann rumahnya, sementara Edison melirik kearah rumah Jack yang masih gelap, mobilnya terparkir di depan rumah, tapi terlihat sepertinya pemilik rumah itu belum ada di dalamnya.

“ Kamu koq bawa aku kesini, aku mau pulang ngantuk tauu.. “ ucap Jessica sambil mengulas matanya mengantuk.

“ Hmm, sebentar ya ada yang mau aku ambil.. “ Jawab Edison, sambil membuka pintu mobilnya
“ Aku tunggu disini aja ?? “ Tanya Jessica lagi

Edison menggelengkan kepalanya “ Turun dulu ya sayang sebentar, oh iya kado kamu udah dikasih sama Mell ? suka ?? “ tanyanya

“ Oh iya udah, suka banget.. makasih ya sayang.. “ Jessica tersenyum, teringat dengan hadiah yang diberikan oleh Mellisa tadi tepat jam 12 malam.

“ Yawda, turun dulu ya.. Bagus dech kalau kamu suka “ Kata Edison sambil membukakan pintu mobilnya untuk Jessica.

Jessica pun keluar, masih dengan wajah yang begitu mengantuk. “ Jangan lama-lama ya, aku ngantuk.. “

“ Iya, sebentar aja koq.. “ Edison membuka pintu rumahnya sebelum kembali menarik Jessica masuk sambil menutup kedua mata Jessica dengan telapak tangannya, membawanya memasuki kamar Edison.

“ Apaan sih.. dasar dech pake tutup-tutup mata segala.. “

“ Iya boleh koq buka matanya sekarang.. “ Edison melepaskan tangannya yang tadi menutup mata Jessica..
Jessica membuka matanya, menatap begitu banyak cahaya lilin yang menyala di dalam kamar itu, hamparan bunga mawar diatas ranjang dan sebuah bucket bunga, sementara Edison mengambil sebuah kue dari atas meja kamarnya, menyalakan lilinnya dan memberikannya tepat di hadapan Jessica..

“ Selamat ulang tahun sayang.. “ Edison tersenyum sambil meminta Jessica meminta Edison meniup lilin itu. Jessica menyambutnya dan bersiap meniup lilin itu..

“ Eitss bentar dulu, berdoa dulu.. “ Tahan Edison, Jessica tersenyum menutup matanya sejenak sebelum kemudian meniup kedua lilin itu.

Edison berbalik menaruh kue itu diatas mejanya sebelum Jessica memeluknya dari belakang, sambil membenamkan wajahnya ke punggung Edison yang kemudian berbalik dan mencium hangat bibir Jessica, Edison memeluk Jessica begitu erat, mencium bibir itu dan membawa keduanya keatas ranjang yang penuh dengan kelopak bunga mawar.

Bibir mereka yang terus bertaut, lidah yang bermain di rongga mulut mereka dan pelukan-pelukan hangat. Tangan mereka yang saling menyentuh wajah pasangannya senyuman sebelum pelukan dan ciuman yang kembali hadir dalam kehangatan itu.

Ryan berjalan memasuki gymnasium basket kampusnya, mengendong sebuah tas olahraga berisi peralatan basketnya, sementara satu tangannya lagi menjinjing sepatu basketnya.

11lv

160x600

“ Oi Ry, kemana aja ?? seminggu ga ikut latihan.. “ Sapa salah satu temannya yang sedang mengikat sepatu basketnya

“ Hahaha, iya nih udah ga masuk tim juga gw, jadi ga perlu sering-sering ikut latihan dech.. “ alasan Ryan, sambil duduk di sebelah temannya itu.

Dia kemudian mengganti bajunya dengan kaus basket dan mengambil kaus kaki dari dalam tas olahraganya..

“ Gw duluan ya Ry, nanti si Rey ngoceh-ngoceh lagi kalau lama-lama disini.. “ Kata temannya itu

“ Ok Bert, bentar gw nyusul “ Jawab Ryan yang mulai memasang tali sepatu basketnya itu.

Mata Ryan mengintip pada Rey yang tengah berlari mengelilingi lapangan basket itu, Rey yang terlihat seolah tak nyaman dengan kehadiran Ryan di lapangan itu, tapi sebenarnya ini juga yang menjadi alasan Ryan datang ke latihan tim hari ini.

Tak lama Ryan pun ikut kedalam latihan tim itu, ikut berlari mengikuti pemanasan sesuai perintah pelatih, berbeda dengan beberapa anggota tim yang terlihat begitu antusias melihat Ryan yang mengatakan akan kembali aktif didalam tim, Rey yang biasanya menjadi sahabat utama Ryan terlihat dingin dan malas mendengar pernyataan Ryan tadi.

Latihan berlanjut menjadi permainan latihan, kali ini Ryan dan Rey terpisah dalam tim yang berbeda, Rey bermain bagus dengan melakukan banyak Rebound dan tak mau kalah dengan cepat Ryan membalas dengan lemparan 3 angka dan passing yang menjadi andalannya. Ada yang berbeda dengan cara bermain Ryan, cara bermainnya yang seolah sengaja memprovokasi Rey terus menerus, bagaimana tangannya yang sering sengaja menarik kaus Rey, bagaimana gerakannya yang terkadang terlihat cukup kasar pada Rey.

Berulang kali mereka berbenturan, hingga akhirnya Rey kehabisan kesabarannya, ia menarik kaus Ryan dan membenturkan kepalanya ke wajah Ryan.

Teman-teman mereka segera melerai keduanya yang terlihat begitu emosional dan begitu bernafsu untuk kembali terlibat dalam baku hantam, Ryan yang sedikit lebih tenang mengalah dan membiarkan teman-teman mereka melerai keduanya.

“ Loe kebiasaan emank, semua masalah di beresin dengan marah-marah dan tinju loe doank.. “ Ledek Ryan, sementara beberapa temannya memintanya untuk diam dan tidak dengan sengaja memprovokasi Rey lagi.

“ Anjing.. ngmonk apa loe..!! “ Bentak Rey sambil berusaha melepaskan diri dari hadangan teman-temannya.

“ Yang loe tau cuma marah-marah dan marah.. pengecut tau ga.. “ Lanjut Ryan sementara yang lain berusaha membawa Ryan keluar dari lapangan.

“ Loe yang pengecut, apa yang loe lakuin tuh pengecut!! Banci loe.!! Temen loe sendiri aja loe kerjain gitu !! “ Rey terus mencaci Ryan dengan suara keras dan kasar.

“ Gw ?? Gw yang pengecut ?? Ngaca Loe.. “ Bentak Ryan tak kalah keras.

“ Eh !! Bangsat loe ya !! “ Rey hampir berhasil melepaskan dirinya, dengan terburu dia berlari berusaha mengejar Ryan yang tengah mengambil tasnya dan berjalan keluar, tapi teman-teman setimnya kembali menghentikan langkah Rey tersebut.

“ Kalau loe ga pengecut, loe ga akan cancel jadwal kita minggu depan “ Tegas Ryan sambil melangkah keluar dari ruangan itu.

##

“ Wah mudah-mudahan ga delay dech.. “ Edison menggerutu sambil melirik jam tangannya pukul 1 lewat 20 siang.

“ Sabar aja dech.. hujan juga kan, bahaya kalau kita berangkat sekarang.. “ Jessica bertumpu pada pundak Edison sambil mencium pipinya ringan, “ Yang lain juga belum datang kan.. “

“ Iya nich.. ga pesawatnya, penumpangnya ikut-ikutan delayed, padahal tinggal berapa menit lagi ini harusnya kita naik ke pesawat.. “

“ Udah ga usah bawel, dah bagus jadi kita berangkat hampir aja batal liburan ini.. “ Jack yang berbaring memakan tempat di kursi tunggu bandara tepat di seberang Edison dan Jessica yang tengah menggerutu. Dia tiduran di paha Angel yang hanya bisa tersenyum melihat Jack yang begitu seenaknya memakan tempat duduk orang lain..

“ Iya sih, tapi kalau gini bisa-bisa kita liburan cuma berempat Jack “

“ Bagus kan, jadi lebih romantis gitu.. “ Jack bangun dari tidurannya dan memeluk Angel nakal

“ Ich apaan sih, malu banyak orang.. “ Protes Angel sambil mencubit pinggang Jack

“ Aduh sakit yang.. tega banget.. “ Jack protes karena Angel mencubitnya kecil dan sakit..
Sementara Edison tak mau kalah dan memandang genit pada Jessica..

“ Eh enak aja, mending pulang daripada cuma berempat, bahaya tahu.. “ Jessica terlihat tidak setuju dengan ide itu..

“ Bahaya kenapa sayang ?? Ada aku gitu loh.. “ Edison memamerkan otot tangannya yang benar-benar rata.

“ Justru ada kamu bahaya, disana katanya banyak ular tahu.. “ Jessica memberi alasan.

“ Banyak ular ?? ah enggak cuma satu koq sumpah dech, masa takut.. “ Edison tertawa genit..

“ Aduhh ngaco dech, ngmonkin apaan sih kamu.. “ Protes Jessica

“ Penerbangan Garuda Airlines menuju Bandara Abdul Rahman Saleh Malang, dengan kode penerbangan GA-5532 akan segera berangkat, bagi penumpang dapat menuju pintu keberangkatan “ Suara dari speaker bandara terdengar.

“ Tuh mau berangkat ga ?? bisa-bisa cuma berempat ini.. “ Tanya Edison sambil tertawa
Jessica menjawabnya dengan berdiri mengambil tas tangannya dan berjalan menuju pintu keberangkatan, Edison mengejar sambil membawa tas gendongnya dan memeluk manja pada Jessica, sambil berjalan mendekati Vic dan Mellisa yang justru telah berada di depan pintu keberangkatan.

“ Widih.. bajunya sama gini.. “ Tanya Edison pada Jessica dan Mellisa yang menggunakan baju seragam, “ Darimana aja kirain ga jadi ikut jalan-jalan.. “

“ Itu.. “ Vic menunjuk VIP Lounge sambil tertawa..

“ Wah, ada disitu tapi ga bilang-bilang, enak-enakan ga ngajak-ngajak.. “ protes Edison

“ Salah sendiri nyariin enggak, nanya juga enggak.. “ Jawab Vic sambil menyerahkan boarding passnya pada pramugari yang berdiri di depan pintu keberangkatan.

“ Sory-sory telatttt “ Ryan setengah berlari sambil menggandeng Cheryl di sebelahnya mengeluarkan boarding pass dari tasnya.

12lv

150x300

“ Gila… sekarang maen gandeng aja.. “ Jack menyindir Ryan yang datang terlambat, memang diantara yang lain Jack yang paling vocal menentang hubungan Ryan dengan Cheryl yang malah semakin terlihat begitu dekat. Meski keduanya sama-sama menolak bila ditanyakan tentang status pacaran mereka, hanya teman selalu menjadi alasan keduanya.

“ Gpp donk, sirik aja.. tuh peluk aja si Angel.. “ Jawab Cheryl sambil tertawa berusaha mengalihkan pembicaraan, sementara Ryan memberikan boarding pass keduanya pada pramugari di depan pintu itu.

“ Ya ya ya.. “ Jack menjawab malas..

Sementara dari kejauhan berjalan mendekat sambil membawa tas mereka, yang satu lelaki tampan dengan tubuh tinggi tegap, membawa sebuah tas gendong dan membantu gadis cantik berkaca mata hitam dengan membawakan sebuah tas milik sang gadis.

“ Maaf ya telat.. “ Tegur Karen pada rombongan itu sambil tersenyum

Wajah Cheryl berubah sesaat melihat Rey yang berdiri di samping Karen, senada dengan wajah Jack yang seolah tak percaya sambil langsung memalingkan wajahnya menatap Edison yang kali ini menunduk mengiyakan kalau dia yang menjadi biang onar kehadiran Karen di acara liburan mereka kali ini. Dan Angel yang biasa begitu ramah terhadap Karen kali ini tak menunjukan reaksi apapun, hanya diam.
Sementara Ryan tersenyum kecil, sambil menarik Cheryl memasuki pintu keberangkatan, seolah sengaja dengan menggengam erat-erat tangan Cheryl di depan Rey.

“ Yawda-yawda.. kita berangkat sekarang sebelum langsung lanjut ke pulau Sempu okay.. “ Edison berinisiatif memecah keheningan yang sesaat muncul sambil menarik Jack dan Angel masuk ke dalam pintu keberangkatan, sementara Rey dan Karen berinisiatif mengikuti keempat orang itu.

To Be Continued
###

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s