MY DIARY [011] Pelecehan Artis

25 (1)Malam ini, aku dan Tono terpaksa meninggalkan ‘markas’ kami untuk menjemput Herman di bandara. Sementara usaha yang didirikan Herman itu kami percayakan ke teman-teman lain untuk menjaganya malam ini. Sudah beberapa hari Herman liburan ke Singapura.

“Bawa oleh-oleh ga ya boss kita? Hahaha…”, Tono mengajakku bicara saat kami menuju bandara. Suasana sudah gelap, jalanan terlihat sepi, Tono yang berkacamata sebentar-bentar mengedipkan matanya dan memajukan wajahnya ke depan kaca mobil, mungkin dia sedikit kesusahan membawa mobil di malam hari. “Siapa tahu bawain amoy dari Singapore..”, ledekku biar Tono lebih semangat membawa mobil. “Hahahaha…”, dia tertawa ceria. Aku sebenarnya tidak begitu berani ikut dia di malam hari, pandangannya yang sudah sedikit kabur sering hampir menimbulkan kecelakaan.

Sesampai di bandara, kami masih menunggu kepulangan Herman. “Man, ada cewek tuh…”, bisik Tono pelan ke arah telingaku sambil memberi tanda ke arah sebelah kanan. “Cewek mulu pikiranmu…”, ledekku. Tono adalah seorang yang mempunyai kelainan seks, penyakit hyperseks-nya sudah tidak bisa diobati lagi.

Teman kami yang satu ini memang sudah begini sejak kecil, di kamarnya saja kami sering menemukan barang-barang berhubungan seks, seperti kondom, obat kuat, majalah dewasa, komik hentai, bahkan sextoy baik berupa penis mainan maupun boneka perempuan yang terbuat dari karet.

“Cantik man…”, kata Tono. Namaku Satorman, teman-teman cuma memanggil ‘man’ saat berbicara denganku. “Hahaha, tar lampiaskan di markas saja…”, kataku padanya. Usaha yang kami kelola adalah usaha panti pijat ‘plus-plus’ yang didirikan Herman untuk membantu perekonomian kami. Ada beberapa teman cewek yang bergabung dalam usaha kami, jadi kalau sedang dalam keadaan sangek, mereka lah tempat pelampiasan kami. “Gak tahan man…”, Tono membalas dengan senyuman yang menyindir. Cewek yang tadi dia tunjuk memang cantik, tapi apa Tono bisa menaklukkan hatinya?

Tak sempat beraksi, Herman pun tiba. Saat keluar dari pintu, aku dan Tono langsung segera menyambutnya. Ia terlihat capek, aku dan Tono segera membawa tasnya ke arah parkiran mobil kami. “Sudah nunggu lama bro?”, tanya Herman ketika kami berjalan menuju parkiran. “Gak juga boss…”, jawabku. “Gimana keadaan sana boss? Banyak cewek cantik?”, sambung Tono yang selalu saja arah pembicaraannya mengenai perempuan. “Hahaha… Nanti gue ceritaiin…”, jawab Herman.

Sampai di mobil, semua bawaan Herman segera kami masukkan ke bagasi mobil. “Kita singgah di cafe dulu ya… Lama gak nge-bir…”, kata Herman mengajak kami nyantai. “Oke boss!”, jawab Tono yang kemudian segera menyalakan mobil dan membawa kami meninggalkan bandara. “Gimana bisnis kita?”, tanya Herman dalam perjalanan. “Kita nambah anggota baru boss, namanya Fenny, cewek oriental…”, jawab Tono sambil nyetir mobil. Sepanjang perjalanan, kami banyak bercerita, tak lain dan tak jauh masih mengenai perempuan, maklumlah, Tono selalu mengkaitkannya.

001116

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

Sampai di cafe yang biasa menjadi tempat kami ngumpul, Herman langsung menuju arah kasir dan meminta sebungkus Marlboro. Aku dan Tono hanya mengekor dari belakang, maklum, Herman lah yang menjadi boss kami, tanpa dia mungkin hidupku tidak akan begini, mungkin akan menjadi pengangguran yang terkatung-katung nasibnya.

“Pesan apa mas?”, tanya pelayan cafe sambil menyodorkan daftar menu saat kami baru saja duduk di meja paling ujung. “Guinnesse, lima botol…”, jawab Herman langsung mengembalikan daftar menu. “Oya, Marlboronya dua bungkus lagi…”, tambah Herman. Apa yang terjadi dengab Herman, sedang senang atau sedih nih? “Pesta ne boss? Perlu calling yang lain ga?”, tanya Tono. “Lain kali saja, kapan-kapan baru kumpulkan semua…”, jawab Herman.

Tumben sekali dia tidak mau mengajak yang lain, sepertinya dia ada sedikit masalah sehingga tak mau diketahui banyak orang. Dan memang sejak dulu dia lebih percaya sama Tono untuk bertanya pendapat. Maklum, keluarga Tono sudah mengabdi pada keluarga Herman berpuluh-puluh tahun. Cuma karena pendidikanku lebih tinggi dibanding teman-teman, ia lebih mengandalkan aku dan Tono untuk mengurus usahanya, yah, walaupun usaha ini usaha yang ‘haram’, namun apa bisa diperbuat, dari pada aku harus menyandang gelar sarjana pengangguran.

Dua botol sudah kami habiskan, jam pun sudah menunjukkan waktu pas tengah malam, pembahasan kami hanya mengenai usaha Herman. Sesekali Tono hanya menyisipkan lelucon pornonya agar kami ketawa. Herman minum paling banyak, sepertinya dia ada masalah, aku pun mencoba menghiburnya. “Gimana di sana boss? Masa gak bawa oleh-oleh?”, tanyaku dengan nada mengolok. Herman tersenyum, lalu meneguk segelas bir hitam lagi, lima botol sudah hampir habis. “Pelayan… Guinesse dua botol lagi…”, teriak Herman ke arah kasir.

Mukanya sudah memerah, nampak sudah mulai mabuk, dia pun mulai bercerita, “Sorry bro… Gue ke sana bukan buat liburan…” katanya dengan muka sedikit murung. Lalu Tono mengambil bir yang dibawa pelayan untuk menuangkan ke gelas Herman. “Gue sebenarnya cuma mau ketemu Agnes…”, kata Herman yang kemudian mulai meneteskan air matanya. Owh, aku pernah dengar cerita dari Tono, kalau dulu Herman pernah jatuh cinta sama seorang gadis bernama Agnes.

Aku saja binggung mendengar cerita Tono dulu, katanya karena salah paham, Herman mengajak teman-teman memperkosa Agnes beramai-ramai, padahal saat itu mereka masih di bangku SMP. “Dia sudah menikah Ton…”, Herman bercerita pada Tono. “Anaknya cantik, namanya Chelsea… Mirip denganku…”, cerita Herman sambil menangis dan terus meneguk bir hitam dalam gelasnya. Sepertinya Herman sangat menyesal dengan kejadian yang sudah terjadi.

Rokok Marlboro pun ditambah hingga delapan bungkus. Demi menghibur Herman, kami pun terus menambah minuman dan rokok. “Ton, nanti mampu nyetir ga?”, tanyaku pada Tono, karena aku sedikit khawatir dengan kondisi Tono yang sudah di pengaruhi alkohol itu. “Tenang saja…”, jawabnya sambil tersenyum, namun liurnya sedikit menetes dari mulut. Aku yakin dia sudah mabuk dan tak mampu lagi mengendalikan diri. Satu, dua, tiga… Hmmm, sudah dua belas botol kami habiskan cuma bertiga, aku sendiri saja kaget setelah menghitung jumlah botol bir kosong di depan kami. “Ngapa man? Takut tar terkencing-kencing?”, olok Herman melihatku menghitung jumlah botol.

Kulihat sekitar sudah sangat sepi, kondisi di luar pun gelap, kami tidak mungkin bertahan hingga pagi hari, karena hari sudah subuh, Tono dan Herman sudah teler. “Yukz istirahat di rumah…”, ajakku. Tono dan Herman pun berdiri dengan sedikit sempoyongan, “Yok…”, jawab Herman. Ketika Herman menyelesaikan billing, aku minta ke Tono, “biar gue yang nyupir saja Ton”… Aku sedikit khawatir dengan kondisi Tono yang begitu mabuk. Kemudia. Tono menyerahkan kuncinya padaku, setidaknya aku sedikit lebih sadar dibanding mereka.

Jalan sangat sepi, Herman memintaku memutar-mutar dulu. Hanya dipayungi lampu kota, kami berkeliling di subuh yang masih gelap dan dingin ini. Kaca jendela mobil kami biarkan terbuka untuk menikmati sejuknya udara, serta dapat menikmati setiap batang rokok yang kami nyalakan. “Man, ada cewek tuh…”, kata Tono melihat ke arah depan sebelah kiri jalan. Nampak seorang gadis sedang asyik bermain hp. “Pinggirin man…”, pinta Tono yang nampak masih mabuk.

Aku pun menghentikan mobil pas di depan gadis itu. “Cewek… Kok sendirian? Mau dianterin?…”, rayu Tono mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. “Terima kasih… Saya lagi nunggu kawan…”, jawab gadis itu dengan tersenyum. “Gak takut sendirian? Dari pada nunggu lama?…”, Tono kembali bertanya. “Nich bentar lagi teman nyampe kok…”, jawab gadis tersebut dengan kembali tersenyum. “Ya uda, hati-hati ya…”, kata Tono, aku pun kembali memacu mobil.

“Dasar perek… Jual mahal…”, kata Tono sedikit kesal. “Hahaha… Kok perek?”, tanya Herman memancing emosi Tono. “Ya iya lah… Jam segini mana ada cewek baik-baik yang keluyuran?”, jawab Tono yang terus bergumam. “Lu jelek kali Ton… Takut lu ga bayar…”, ku tambah api untuk memanaskan Tono. Mukanya hanya cemberut, tampaknya ia kesal sekali. Gadis tadi sekilas kulihat sangat manis, kalau memang perek, mau aku membayarnya.

000716

300x250

Tak jauh perjalanan kami tiba-tiba Tono kembali bersuara, “Man, muter balik…”, ia meminta aku kembali ke arah gadis tadi. Sepertinya ia punya rencana lain, aku pun menurutinya, apalagi Herman pun sependapat. “Perek kayak bidadari gitu masa dibiarin nganggur?”, kata Tono. Aku pun memutar kemudi ke arah kanan, jalanan masih sepi dan remang-remang, berharap gadis tadi juga masih di tempat. “Itu man… Dia jalan sendirian…”, kata Tono. Gadis itu nampak sedang asyik memainkan ponselnya sambil berjalan. “Jangan-jangan lagi tunggu pelanggan…”, kata Tono.

Berbalik arah untuk mendekati gadis itu, Tono sudah siap-siap untuk membuka pintu. Ketika pas di samping gadis itu, Tono segera keluar dari mobil untuk menariknya masuk ke dalam mobil. “Argh…”, tak sempat berteriak, gadis itu sudah didorong masuk ke mobil. “Jalan man…”, kata Tono. Ku lihat dari kaca mobil terlihat gadis itu sangat cantik, seperti ku kenal. Terutama senyumnya, sangat manis. Ia terlihat tenang-tenang saja diculik oleh kami. “Tenang saja mbak, tar kita antar pulang…”, kata Tono yang masih memegangi tangannya agar tidak berontak. “Ga usah mas… Turunin di depan saja, temanku uda nunggu…”, jawab gadis itu dengan penuh senyuman. Entah karena hal ini tidak heran baginya, atau ia hanya berusaha tenang karena dihimpit Tono dan Herman.

“Hp gw jatuh tuh gara-gara kalian! Turunin dong, gw mau ambil hp gw…”, gadis itu sudah mulai kesal karena tidak diturunkan. Ketika ia berusaha berontak ingin keluar, Tono menjadi emosi. Tono memeganginya lebih kuat dan malah mengancam. Sedangkan Herman hanya tersenyum cengar-cengir sambil berkata, “Tenang aja mbak, tar kami belikan hp baru…”. “Iya, asal mbak temani kami ya…”, sambung Tono yang aku yakin sudah sangek.

Gadis itu kemudian mulai pucat dan gemetaran, “Kalian mau apa?… Uang?… Nanti gue kasih, asal lepasin gue dulu…”, kata gadis itu mencoba mengajukan penawaran. Tono tidak mendengarkannya, malah ia langsung mencoba menciumi bibirnya. Gadis itu terlihat berontak, namun apadaya, Herman bantu menangkapnya. Aku hanya bisa sesekali memandangi aksi mereka dari cermin depan.

Herman dan Tono terus menciumi wajah gadis itu secara bergantian, dari pipi, bibir, hingga leher. “Hmmm… Harum banget….”, bisik Tono. Aku lihat gadis itu kemudian seperti menangis, matanya bersinar-sinar, aku sedikit bingung apakah dia gadis baik-baik atau perek yang seperti dikatakan Tono. Wajahnya cantik dan manis, umurnya masih ABG, mungkin sekitar tujuh belasan tahun, tubuhnya terlihat putih terawat, sepertinya sih gadis baik-baik.

Namun melihat aksi mereka, penisku menjadi keras, aku sedikit tidak konsen membawa mobil karena aku terus menoleh ke arah mereka. Tono sudah memasukkan tangannya ke dalam baju gadis itu, ia meraba-raba susu gadis itu dan meremas-remasnya, sedangkan Herman membuka resleting celana jeans gadis itu, berusaha membuka celananya. Samar-samar kulihat sedikit bulu di bagian vagina gadis itu setelah celana dalam nya ikut diplorotkan Herman. Susunya pun sudah terlihat, masih tidak begitu besar, dengan puting yang masih sedikit kemerahan, ketika Tono menyibakkan baju kaos gadis itu ke atas beserta bra nya. Pemandangan yang luar biasa, sayangnya aku yang membawa mobil, bener-bener nyesal kenapa bukan aku yang duduk di belakang.

Gadis malang itu terus berontak, namun tak ada gunanya, kedua susu nya dikenyot terus oleh Herman dan Tono, dan tangan mereka terus menjamah vagina gadis itu. “Tolong lepasin gue…”, pinta gadis itu memohon dengan wajah yang sedih. Namun nafsu Herman dan Tono sudah tak dapat dibendung lagi, mereka pun membuka resleting celana mereka dan mengeluarkan penis mereka.

Herman lalu menarik rambut gadis itu, ia menekan kepala gadis itu ke arah penisnya, ia berusaha meminta gadis itu menulum penisnya, sedangkan Tono menangkap tangan gadis itu untuk mengocok penisnya. Ruangan yang sempit membuat mereka tidak bisa berbuat banyak, gadis itu dengan sangat terpaksa melayani Tono dan Herman. Aku juga sudah tidak tahan, aku berputar-putar mencari tempat aman untuk memarkirkan mobil.

Gadis itu memainkan penis Herman dan Tono bergantian, sesekali ia disuruh mengulumnya. “Argh, nikmat…”, kata Tono. “Boss, bagi donk…”, kataku. “Cari tempat sepi aja biar kita kentot nih perek…”, jawab Herman. Mendengar itu gadis tersebut itu langsung menghentikan tugasnya, ia terlihat kaget dan pucat, “Tolong jangan mas…”, ia memohon. “Nanti teman-teman gue cari…”, kata gadis itu. Namun Tono kembali memegangi tangan gadis itu untuk meneruskan kocokannya. “Gue ini artis mas… Bisa-bisa mereka sudah telpon polisi…”, kata gadis itu.

Herman dan Tono kemudian memandangi wajah gadis itu dengan seksama. “Hmmm…”, gumam Tono. Iya, sepertinya gadis ini pernah aku lihat di televisi. Namun Tono dan Herman masih seperti kebingungan. “Ya udah, selesaikan ini dulu… Uda gak tahan…”, kata Herman meminta gadis yang mengaku artis itu menyelesaikan tugasnya. Gadis itu kemudian dengan gerakan yang cepat mengocok penis Tono dan Herman, ia pasti berharap sekali untuk segera menyelesaikan penderitaan ini.

000816

150x300

Beberapa menit kemudian Tono dan Herman pun menyemburkan spermanya. “Nikmat sekali…”, kata Tono. Aku sangat iri sekali tak sempat menjamah gadis itu. Setelah menyelesaikan tugas nya, gadis itu merapikan pakaiannya dan kami turun kan di tepi jalan. Aku sedikit kecewa, tapi memang bukan jodohku, tak apa-apalah yang penting boss Herman bisa kembali ceria.

“Kayaknya aku kenal gadis itu…”, kata ku. “Ia, kayaknya dia benaran artis deh…”, sambung Tono. “Kalian ini katrok banget… Itu kan si Mikha Tombayonggg…”, kata Herman. Entah mata kami salah atau karena pengaruh alkhohol, pandangan kami menjadi tidak begitu baik, sampai susah mengenalinya. Apa dia artis atau bukan kami pun tidak tahu.

Namun di esok harinya kami mendapat berita kalau Widi Viera mengalami penculikan dan pelecehan seksual, apakah dia gadis yang semalam kami culik? Yang jelas polisi sedang mengusut kasus tersebut, dan Herman mendapat informasi kalau tersangkanya sudah tertangkap, yah, jelaslah kalau gadis semalam bukan Widi. Kalau gadis itu Widi, berarti seharusnya kami yang sudah ditangkap, atau semua ini sudah diatur Herman? Tak ada yang mengetahuinya, aku pun tak mau pusing karena aku tidak mendapat jatah sekalipun.

TAMAT

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s