METAMORFOSIS DAN POHON PALEM #6

13087548_1063831760358892_1863313689399718753_nMendung bergelayut di atas sana. Gelap telah menelan ceria sinaran matahari. Awan kelam berkuasa dan berderet panjang membentuk kumpulan kapas gelap raksasa. Beban air yang di tanggung sang awan begitu menggelayut dan siap ter-semprot ke bumi persada dengan deras.

Begitu juga dengan suasana hati Lintang yang siang itu tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit jiwa tempat Ratih menjalani rehabilitasi. Hati Lintang yang kelam dan muram telah mempengaruhi keceriaan wajahnya. Tak ada lagi kini tawa di bibirnya, wajahnya begitu kusut dan kalut bagai segerombol buah salak yang berwarna gelap, kasar, dan kecut.

“Nak Lintang, bagaimana keadaan kesehatanmu ??” Tanya Ibunda Ratih saat Lintang muncul di teras kamar inap Ratih.

“Jauh lebih baik Bu. Beberapa luka sudah kering, Memar juga sudah hilang, tapi tangan yang patah ini masih belum bisa digunakan…!!” Ucap Lintang sambil menunjuk tangan kirinya yang di perban dan digendongnya di depan dada.

“Ratih di dalam Bu??? bagaimana perkembangannya??? sejak kejadian itu, saya belum ketemu dia sama sekali !!!” Lintang bertanya kepada Ibunda Ratih yang nampak letih dan murung. Wajahnya semakin terlihat ‘sepuh’ jika dalam keadaan murung seperti itu.

“Iya Nak Lintang, tolonglah dia Nak…hingga hari ini dia masih saja seperti itu…diam tanpa berkata apa-apa…pandangannya kosong…tapi untunglah ia masih mau makan..!!” Balas sang Ibunda dengan mulai dibarengi tetesan airmata kesedihan.

Lintang memasuki ruangan tempat Ratih dirawat. Nampak Ratih yang agak kurus duduk di pojok ranjang tanpa ada reaksi pada kedatangan Lintang. Hati Lintang semakin remuk redam menyaksikan kondisi kekasihnya yang memprihatinkan itu. Wajah Ratih yang terlihat pucat dan kurus sebagian tertutupi rambut panjangnya yang lumayan awut-awutan. Sungguh memprihatinkan.

“Adek…!!”

“Adek Ratih…!!!”

“Jawab Dek…jangan diam saja !!”

“Adek….dekk..!!”

Suara Lintang seperti sedang berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara. Ratih hanya diam tanpa memandang Lintang sedikitpun.

“Dek…aku Lintang dik…kamu inget aku kan ???

“Kok masih diem Dek…!!”

“Kamu sudah lupa pada cinta kita ???”

“Kamu sudah lupa pada kisah kita !!??”

Tiba-tiba Ratih melotot ke arah Lintang setelah Lintang menyebutkan kata ‘Kisah’. Sepertinya Ratih cukup sensitif dengan kata tersebut. Sejurus kemudian Ratih terlihat menangis dan menunjuk-nunjuk Lintang dengan penuh amarah.

“Pergi kau…jangan mendekat….jangan perkosa aku !!! Pergi…pergi…!!!” Ucap Ratih dan sontak membuat Lintang kaget. Namun Tarikan tangan perawat di bahu Lintang membuat Lintang terpaksa mengikuti ajakan si perawat untuk meninggalkan ruangan itu.

“Mas yang sabar ya…Ratih masih dalam kondisi labil…ia begitu sensitif dengan yang namanya lelaki…kemarin dia juga sempat marah-marah saat paman dan sepupu laki-lakinya datang…mungkin dia butuh waktu Mas !!!” Ungkap si perawat saat beriring dengan Lintang keluar dari Ruangan Ratih.

Tiba di depan kamar Ratih, Lintang bertemu kembali dengan Ibunda Ratih yang saat itu sedang ditemani oleh paman Ratih yang tadi dibcarakan oleh perawat.

“Nak…bagaimana Rika tadi Nak ??? apa reaksi dia saat bertemu kamu ??” Tanya Ibunda Ratih terlihat cemas.

“Heffhh…Nasib Mas ini sama dengan para tamu pria lainnya Bu…” Ucap si perawat sambil menghela nafas panjang.

“Nak Lintang…tolong bantu Ibu ya…jangan tinggalkan Rika Nak…Ibu mohon…tolongggg banget Nak…Jangan kamu mundur gara-gara Rika sakit seperti ini…mari kita usahakan bersama untuk kesembuhan Rika..!!! Hanya Nak Lintang yang mampu merubah tabiat buruk Rika selama ini…!!” Ibunda Ratih memohon dengan sangat kepada Lintang.

“Iya Ibu….saya memahami itu…dan kejadian ini kan musibah kami berdua…semoga kami sanggup menghadapi cobaan ini..!!!” Balas Lintang serius meski sebenarnya dari dalam lubuk hatinya mulai bersemayam kepedihan yang membeku dan mengeras. Harapan apa lagi yang harus ia dambakan?. Hanyalah kepasrahan tanpa ujung. Disudut hatinya yang lain terbesit sebuah keinginan untuk tetap meraih kebahagiaan bagi jiwa mudanya tanpa harus menanti sesuatu yang tak pasti.

1219

tumblr_nmhw1lOqFK1usuy9to1_500

Lintang kini sedang diliputi kegundahan yang menjelma menjadi momok menakutkan dan membayangi setiap langkah kaki Lintang. Dalam hati ia sangat-sangat merasa kehilangan atas sakitnya Ratih. Namun di sisi lain, sebagai jiwa dan pribadi yang normal, ia juga menginginkan sebuah kepastian atas hubungan yang telah hilang ujungnya itu.

Penderitaan Ratih memang memiliki keterkaitan yang erat dengan Lintang sebagai aktor utama dalam kejadian menyedihkan yang ia alami. Rasa sedih Lintang selalu muncul setiap kali ia teringat akan keadaan Ratih. Namung gamang dan mamang turut menyembul memperkeruh suasana hati Lintang yang tengah mendung. Ia mencoba untuk berpikir lebih logis pada pengejawantahan keadaan Ratih. Jika seandainya Ratih selamaya seperti itu, berarti selama itu pula Lintang akan menjalani hari-harinya dengan kesendirian dan kesedihan yang tak berujung.

Lintang masih termenung di dalam kamarnya ketika terdengar suara ketukan pintu kamarnya dari luar sana.

CEKLEKK…

“Owhh Kakek Seno…ada apa Kek ???” Sambut Lintang ramah saat mengetahui bahwa tamu yang sedang berada di ambang pintu kamarnya itu adalah induk semang kosan Lintang sendiri.

“Boleh kakek masuk Den???” Tanya Kakek Seno sopan.

“Silahkan…silahkan Kek…!!!” Jawab Lintang antusias.

“Kakek dengar dari teman Aden si Bimo itu, bahwa pacarmu sedang mengalami gangguan kejiwaan ya???” Ucap Kek Seno setelah duduk di bibir ranjang Lintang dengan gerakan super pelan karena pinggang tuanya yang sering kambuh reumatik susah diajak berkompromi.

“Benar sekali Kek…tapi nama teman Lintang itu Bima…bukan Bimo !!” Lanjut Lintang berusaha menjelaskan sekaligus mengiyakan pertanyaan Kek Seno barusan.

“Halah Den…podo wae…sama saja…Bima Bimo – Bimo Bima !!!…wong artinya juga sama kok!!!” Serobot Kek Seno dengan memonyongkan bibirnya. Dengan usia beliau yang sudah berkepala 7 adakalanya tumbuh kembali sikap kekanakan dan seenaknya sendiri. Maklumlah, namanya juga orang tua.

“Iya deh…’sak kerso’ Kakek saja…!!!. Mungkin Kakek ada saran untuk musibah yang saya alami ini Kek ??” Jawab Lintang dilanjutkan dengan pertanyaan to de point pada topik pembicaraan.

“Aden setuju tidak dengan istilah CINTA MATI…???” Tanya Kakek menyelidik.

“Setuju sih Kek…meski kelihatannya berat !!!” Jawab Lintang sambil mengerutkan dahi.

“Lha kok pakai ‘sih’ segala to…!!! kayaknya kok susah banget bilang IYA…!!. Den…Kalau Kakek… kurang setuju dengan istilah itu. Kakek lebih tertarik untuk menyebutnya sebagai CINTA YANG PENUH KESETIAAN….jadi….cinta itu bukan ‘kebodohan’ yang mauuuu… aja diajak mati bareng berdua…itu namanya blo’on!!!. Tapi kalau setia itu pengertiannya lain lagi…Aden bisa membayangkan jika Aden merokok merek A, meski diganti dan dipaksa merek apa aja tetep akan lebih enak merek A. Itulah setia. Di dalam hal kesetiaan berkaitan dengan hubungan sesama manusia, setia itu ada pengorbanan, perhatian, kasih sayang, pemberian, dan juga kebersamaan!!!”.

“Nah…Kakek berharap Aden bisa seperti itu…!!! Tanggalkanlah seribu kekhawatiran yang selalu datang. Fokuslah pada kesembuhan gadis itu. Jiwa pesimis, khawatir, ragu-ragu, dan dangkal hanyalah milik manusia-manusia berjiwa rapuh. Kekhawatiran yang terus menerus akan menumbuhkan jiwa pecundang bagi pemiliknya. Bahasa inggris kata anak muda jaman sekarang kalo ga salah NDELOSOR !!” Ucap sang Kakek dengan mimik muka serius.

“The Looser maksudnya Kek ??” Tanya Lintang membenarkan istilah inggrisan Kakek Seno yang amburadul.

“Hehe…iya..iya..bener…itu..apa tadi..eee..NDELOSOR !!!” Balas Kakek tetap dengan ejaan yang salah. Akhirnya Lintang hanya bisa mengiyakan di iringi senyum simpul tanda maklum.

“Jadi Den…berjuanglah menuntun jiwa dalam kadar kesetiaan yang tinggi!!!”

Lintang hanya bisa bengong sambil dagunya terlihat turun naik mengangguk-angguk setiap kali Kakek Seno menyelesaikan kalimatnya.

“Jika seandainya keadaan masih seperti ini terus, sampai kapan saya harus menunggu Kek??” Tanya Lintang datar.

“Sampai semampu kamu Den !!! Jangan paksakan untuk terus setia jika hatimu tak kuasa. Kesetiaan itu keikhlasan Den…!!, jadi jika kamu sanggup untuk setia maka tak ada ujung waktu yang akan mengakhirinya. Namun jika kamu memilih untuk tak menunggu, maka batasan itu hanya Aden sendiri yang bisa menentukan.” Lanjut sang Kakek tetap dengan suara manulanya yang berat.

1122

300x250

Sekian bulan berjalan…

Malam minggu yang sepi. Kesepian itu hanya bersemayam di hati Lintang yang senantiasa kacau merasakan keindahan yang tercekat. Sayap-sayap cinta yang telah terkembang, kini layu dan tak mampu lagi terbangkan dirinya keatas menggapai rembulan. Burung-burung malam suarakan nadanya yang ganjil dan aneh seakan mengejek dan menghina Lintang yang sedari tadi hanya terpekur sendiri di depan meja belajarnya. Dalam diam, jemarinya seperti biasa berusaha merangkai jalinan puisi gundah gulana sebagai curahan rasa.

……………………………………………. …….
Rasa Cinta….rasa luka,
Rasa Rindu…sendu,
Kasih sayang…kisah malang,
Harapan…impian.

Biru Hati…kegetiran nurani,
Hasrat jiwa…duka lara..

Hanya duduk dalam keresahan,
menanti belit berujung sakit,
Matahati sirna,
Sinaran jiwa pergi,

Dendang ini tersekat,
Irama melambat,
Suka menjadi sekarat,

Aku lapar pada hidangan cinta,
Jiwaku gersang, meranggas, dan terbang,
Ku tak ingin meradang…

……………………………………………. ………….

Jemari tangan Lintang sesaat berhenti mengetikkan kata demi kata di notepad HP nya. Ia baca sekali lagi rangkaian kata-kata puisi yang baru saja dirampungkannya. Matanya terlihat sayu tanpa gairah.

Merasa suntuk dengan semua itu, Lintang berniat untuk pergi ke salah satu pusat layanan karaoke. Ia berharap dengan bernyanyi dapat sedikit melepaskan beban pikirannya. Dengan gontai Lintang pun melangkah untuk berbenah diri dan segera memacu mobil kesayangannya menuju sebuah tempat karaoke yang cukup ternama. Tangannya yang patah sudah membaik dan bisa digunakan meski harus dengan berhati-hati.

“Sendirian Mas??? mo konser tunggal nih ceritanya???…sewa berapa jam Mas?” Tanya resepsionis karaoke ramah saat Lintang muncul di meja reservasi kamar karaoke.

“Dua Jam dulu deh Mbak…nanti kalau kurang, bisa nambah kan???” Jawab Lintang sambil bertanya balik. Mata Lintang agak nakal memandang baju seragam mbak-mbak itu yang kancing atasnya terbuka dan mempertontonkan belahan tengah dadanya yang ehem suit suit. Bisa jadi tak sengaja kancing itu terbuka, tapi ada kemungkinan juga jika memang kancing itu sengaja dibuka untuk menarik perhatian pengunjung karaoke.

“Boleh Mas…boleh…silahkan menuju kamar 201, disana staf kami telah menunggu!!!” Jawab Mbak resepsionis lagi dengan agak centil menggemaskan.

“Ditunggu sebentar Mas…semenit lagi penyewa sebelumnya akan selesai” Ucap Mas penjaga kamar 201 ramah.

CEKLEKK..Suara pintu kamar terbuka.

“Mas…boleh nambah ga Mas ???” Tanya seorang cewek yang baru saja membuka pintu kamar 201.

“Maaf Mbak…ruangan ini sudah dipesan antrian berikutnya…kalau Mbak mau, bisa dioper ke kamar lain untuk tambahan jam nya !!!” Jawab Mas yang tadi dengan tetap ramah dan penuh senyum.

“Wah nanggung Mas…lagu kesukaan gue sudah mo muter sebentar lagi…apalagi nih ruangan sangat nyaman Mas…gue comfort di ruangan ini…gue kan udah langganan disini lama Mas…nomer kamar yang gue minta pasti 201…ga mau yang laen !!!” Ucap Mbak itu agak cemberut.

“Maaf Mbak…ini saya yang mau sewa…lha nasib saya bagaimana dong kalau Mbak ga mau pindah kamar !!!” Sambut Lintang sambil berusaha tersenyum semanis Mas penjaga yang tadi.

“Lho…Mas mo karaoke sendiri aja ???” Tanya si Mbak lugas.

“Emmm..iya Mbak..!!” Jawab Lintang ikut-ikutan lugas.

“Gue gabung Mas aja deh…boleh kan??? Daripada bengong sendirian Mas…mending kita bareng…mo duet juga ayukkk !!!” si Mbak mencoba merayu Lintang agar dibolehkan ikut gabung di ruangan karaoke yang sudah dipesan Lintang.

“Lho…Mbak juga sendiri???…boleh deh Mbak…!” Jawab Lintang kalem. Ia berpikir tidak ada salahnya juga menerima Mbak itu daripada ga ada teman ngobrol.

281

160x600

Degup jantung terasa begitu nyaring terdengar seiring suara musik grup band kotak yang sedang diputar menghentak. Si Mbak suka nge-rock juga ternyata. Lagu yang dia tunggu tadi adalah lagu ‘beraksi’ nya kotak yang nge-beat dan hingar bingar. Gahar banget bokkk.

Lintang mencoba menikmati suasana refreshing itu. Sejenak ia ingin lupakan apa yang sedang membebani pikiran dan perasaannya.

“Mbak…belum kenalan…namaku Lintang…” Ucap Lintang berinisiatif saat lagu kotak telah selesai diputar.

“Oh iya…nama gue Shinta…gue kerja di salah satu pabrik snack…!” Balas si cewek bernama Shinta dengan dihiasi senyuman dibibirnya.

“Pinter bikin snack dong…!!!” Ucap Lintang melanjutkan.

“Ga juga…gue di bagian HRD nya..!!!” Sambung Shinta tetap dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya yang cukup cantik.

“Menakutkan…!!” Sahut Lintang pendek.

“Emang kenapa Mas???” Shinta bertanya balik karena merasa janggal dengan pernyataan Lintang.

“Biasanya orang HRD itu galak hehehe !!!” Cerocos Lintang asal.

Lamat-lamat Lintang memandang sosok cantik di depannya. Cukup cantik rupanya. Wajahnya khas keturunan Pakistan atau India. Hidungnya mancung, wajahnya ramping disempurnakan oleh bentuk kelopak mata yang lebar mirip tokoh-tokoh kartun di tivi. Tubuhnya sangat tinggi, kurang lebih 175 centimeter. Buah dadanya mendesak ketat dan besar dibalik kaos kuning pressbody yang dipadu dengan sebuah rok jeans sedikit diatas lutut berwarna biru gelap. Paha dan buah pantatnya yang terkesan penuh terbentuk indah sekali di bawah roknya.

“Mbak kok sendiri aja???” Tanya Lintang penasaran.

“Iya nih…gue lagi suntuk banget masalah kerjaan…HRD kan emang tukang bikin disiplin orang…tukang ngebentak….ahh…jadi kebawa emosi gue!!!…mumpung lagi libur, ya gue bawa refreshing aja deh..!!” Jawab Shinta ringan sambil mengemil kacang kulit yang sudah ia pesan dari tadi.

“Emang ga kencan Mbak malem minggu begini ???” Tanya Lintang lagi terkesan ceriwis yo wis.

“Jomblis Mas…alias Jomblo Abis hihihi…Mas kenapa juga ga ngapel sono hayooo ??!!!” Jawab Shinta sekaligus bertanya balik dengan nada genit membuat hati Lintang Sir…sirr..sirr.

“Nah itu dia…lagi suntuk ama pacar nih…galau bin gundah Mbak..!!!” Sambung Lintang bernada resah.

“Dibikin santai aja Mas…kita bareng-bareng lepasin sumpek di sini…!!!” Ucap Shinta memngaruhi.

“Ok deh!!!…Mbak lagu Judika yang baru dong…!!!” Sambut Lintang dengan wajah yang terlihat lebih fresh dari pada sebelum masuk ke ruang karaoke tadi.

Pernahkah kau merasa jarak antara kita
Kini semakin terasa setelah kau kenal dia
Aku tiada percaya teganya kau putuskan
Indahnya cinta kita yang tak ingin ku akhiri
Kau pergi tinggalkanku

Tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti
Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari
Oh tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia wala tak bersama dia
Memang takkan mudah bagiku tuk lupakan segalanya
Aku pergi untuk dia

Tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti
Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari

Oh tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia
(walau tak bersama dia)

Oh tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia

Silih berganti mereka bergoyang, berdendang, dan berjoget. Selama itu pula mereka mencoba untuk saling lebih akrab satu sama lain. Senda gurau dan seloroh jahil mewarnai keakraban mereka yang baru tercipta dalam kurun waktu 2 jam itu. Tak terasa waktu telah mengakhiri, dengan berat hati mereka berangsur meninggalkan ruangan karaoke.

“ Naik apa tadi Shin ??” Tanya Lintang begitu mereka keluar dari tempat karaoke.

“Taxi Mas…!!” Balas Shinta singkat.

“Bareng aja sama aku…diantar sampai tujuan kok !!!” Ucap Lintang berusaha memberikan tawaran.

“Boleh deh kalo ga ngrepotin !!” Jawab Shinta lagi.

Perjalanan menuju tempat tinggal Shinta hanya di isi dengan saling membisu hingga 20 menit kemudian mobil Lintang berhenti di depan halaman sebuah rumah. Shinta bukan anak kos-kosan, ia menyewa rumah tipe 36 di sebuah perumahan. Pertimbangannya, cost sewa rumah 1 tahun akan lebih murah dibanding hidup di kos-kosan yang hanya satu kamar dan tentunya total cost untuk pertahunnya akan lebih mahal.

“Aku langsung balik aja ya Shin…udah malem…!!!” Ucap Lintang sesaat setelah mobil berhenti sempurna di depan rumah Shinta.

“Lho kok langsung??!…duduk lah sebentar Mas di rumahku…ya sekedar minum kopi atau teh sebagai ucapan terima kasih karena udah diantar Mas kesini !!!” Kata Shinta dengan wajah memelas.

“Ok deh…apa gak di grebek Pak RT ntar kalau ketahuan kamu terima tamu malem-malem ??” Jawab Lintang sambil bertanya balik.

“Ini kan perumahan Mas…orang di sini pada cuek…Ketua RT nya juga belum dibentuk…santai aja Mas !!” Sambut Shinta mantap.

Shnta mengeluarkan sekumpulan kunci dari dalam tas nya dan memasukkan satu kunci ber berkepala segi lima ke lubang kunci rumahnya. Begitu Lintang masuk, ia dibuat terpana oleh tatanan interior Shinta yang sungguh unik dan etnik. Ruang tamu itu hanya beralaskan lampit bambu dengan ornamen bambu pula sebagai meja. Di atas meja itu ada sebuah hiasan dari bambu yang membentuk semacam lampion dan memancarkan berkas lampu berwarna hijau dari dalamnya. Dibagian dinding, tergantung sebuah rak besar dan lagi-lagi dari bahan bambu. Di dalam rak tersebut terpajang beberapa pigura foto dan pernik-pernik lainnya. Dibawah rak besar ada sebuah televisi yang diletakkan dalam sebuah kotak berbahan bambu. Sungguh tatanan rumah yang apik dan menarik.

“Silahkan duduk dulu Mas, gue mau ke kamar mandi dulu…!!” Ucap Shinta begitu mereka telah memasuki rumah Shinta.

“Shin, orang tua tinggal dimana??” Teriak Lintang kearah Shinta yang masih ada di dalam kamar mandi.

“Semua keluarga gue ada di Malang Mas…gue tinggal sendiri di sini sambil kerja !!” Teriak Shinta membalas teriakan Lintang.

Beberapa saat Lintang menunggu, Shinta muncul dengan membawa secangkir kopi panas di tangan kanannya. Ditangan kiri ia membawa satu toples kue kering. Kedua tangan yang terbuka itu membuat bagian dada Shinta yang masih tertutup menjadi lebih kentara tonjolannya. Darah perjaka Lintang dibuat berdesir karenanya.

tumblr_inline_ntr1feaBIl1t5eqkv_500

450x100

“Mas ngopi dulu…ini kopi mantep lho Mas !!…campuran tongkat ali dan purwaceng…rasanya sedap rempah…efeknya bikin melek dan grenggg..!!!” Ucap Shinta sambil meletakkan kopi itu diatas meja. Posisi Shinta yang membungkuk membuat bagian leher kaosnya sedikit melonggar. Mata Lintang dibuat tak bisa berkedip, bagian leher yang terbuka itu mempertontonkan buah dada sekal Shinta yang bergelayut dalam bra warna hitamnya. Bagian leher dan atas dada yang terbuka membuktikan kualitas kebersihan kulit Shinta. Kulit itu demikian putih bersih dan mulus.

“Lho kamu koleksi kopi begituan ngapain ???” Tanya Lintang penasaran.

“Ini kopi kiriman dari saudara di Malang…rencana sih mo Shinta tawarin buat trial di warkop-warkop…siapa tahu laku keras!!!…kan lumayan buat bisnis sampingan Mas..!!!” Jawab Shinta sambil beralih duduk di sisi kanan Lintang. Kaki Shinta yang dilipat untuk bisa duduk lesehan membuat kain rok jean’s di pahanya tertarik keatas. Dua pasang paha putih mulus dan tembem seksi terbuka dengan cepat hingga hampir mendekati pangkalnya, namun Shinta dengan cepat pula menarik kembali roknya ke bawah dengan wajah tersipu malu. Dua, tiga sruputan di bibir cangkir kopi dilakukan Lintang dengan hati-hati. Suhu panas air cukup mempengaruhi ke hati-hatiannya.

“Hemmm…sedap Shin..!!” Ucap Lintang sambil tersenyum kearah Shinta.

“Ya harus dihabisin kalau gitu Mas…!!” Lanjut Shinta dengan cepat.

“Waduhh…ga muat perutku Shin…tadi aja udah minum 2 botol air mineral pas nyanyi karaoke..bantuin ya…50:50 deh…hehehe” Seloroh Lintang sambil terkekeh.

Tanpa menunggu persetujuan dari Shinta, Lintang langsung saja mengarahkan cangkir ke bibir Shinta. Mau tidak mau Shinta harus membuka mulutnya untuk menerima suapan kopi dari Lintang. Jarak wajah Lintang tak kurang dari 20 centimeter saat menyuapkan kopi ke Shinta. Sesaat setelah cangkir kopi telah kembali ke meja, wajah mereka yang saling berdekatan menjadi saling pandang. Tak tahu siapa yang memulai, tahu-tahu bibir Lintang sudah menyatu dengan bibir Shinta. Kecipak suara perciuman mulai menyebar memenuhi ruangan.

Silih berganti bibir mereka saling melumat dan mengulum tiada henti. Kepala Shinta sedikit terdongak demi menerima serbuan bibir Lintang yang terus menyerang dan menyerang. Kehausan jiwa Lintang pada kasih telah menghantarkannya merengkuh perciuman mesra bersama Shinta. Sejenak ia terlupa pada Ratih yang masih termenung memandang dinding-dinding putih ruang inap RSJ.

Sekian menit berlangsung, Shinta seperti tersadar. Ia tarik bibirnya dari perciuman itu. Lintang dan Shinta saling berpandangan. Bibir Shinta menyunggingkan senyum malu-malu. Pipinya memerah, entah karena malu ataukah telah terbakar bara api nafsu.

Lama saling berpandangan, dengan tatapan sayu Shinta merengkuh pundak Lintang dan merangkulnya. Sejurus kemudian mereka terlihat kembali berciuman penuh gairah. Telapak tangan Lintang mulai mengelus punggung dan pundak Shinta dengan lembut. Jemari tangan Shinta membalas elusan itu dengan remasan lemah di bahu Lintang.

Lidah Lintang melesak jauh menerobos gugusan gigi bersih Shinta dan berusaha meraih lidah Shinta. Lidah mereka pun bertemu. Pipi Shinta terlihat kempong karena begitu kuatnya menyedot lidah Lintang yang terjulur. Daun bibir Shinta yang atau maupun yang bawah juga menjadi bulan-bulanan sedotan dan jilatan Lintang. Sesekali Lintang menggigit bibir Shinta lembut membuat si empunya merajuk manja dengan mencubit perut Lintang.

Beberapa saat kemudian terlihat Lintang mendorong Shinta untuk telentang di lantai yang beralaskan lampit bambu. Shinta menurut, namun Shinta menahan tangan Lintang saat Lintang hendak membuka kaos ketat Shinta. Lintang terkaget dan berhenti saat itu juga. Nafasnya terdengar memburu.

“Sttt…jangan disini…kita ke kamar aja yukk…!!!” Ucap Shinta sambil berbisik manja di telinga Lintang.

Serta merta Lintang membopong tubuh Shinta dan mengikuti instruksi Shinta menuju kamarnya. Lintang meletakkan tubuh sintal Shinta diatas spring bed. Namun Shinta bangun kembali. Ia maju kearah Lintang dan berjongkok. Dengan pelan ia lepaskan ikat pinggang Lintang dan membuka resleutingnya. Celana Lintang langsung meluncur turun hingga mata kaki saat resleutingnya terbuka. Kemudian dengan agak terburu-buru Shinta membuka CD Lintang dan mendapati tonjolan batang keras Lintang dibalik CD itu.

Shinta memandang takjub pada batang berurat Lintang dan kemudian mengarahkan batang keren itu ke mulutnya sendiri. Satu dua sedotan ringan di barengi jilatan di bagian kepala Konkon dan ditutup dengan satu sedotan kuat. Tehnik itu dilakukan Shinta berulang-ulang membuat Lintang merem melek tak tertahankan. Sesekali kuluman itu beralih ke bagian skrotum Lintang yang bergelayut di bawah pangkal Konkonnya. Lintang semakin melayang dibuatnya.

“hkk…kulumanmu…jj..jago banget Shin…mmantapp bangett…ehh!!!” Ucap Lintang terbata demi menerima perlakuan menggetarkan di sekujur batang saktinya.

“Mmmhm…!!” Jawab Shinta tak jelas.

Lintang membuka sendiri pakaian atasnya sambil berdiri dan menerima service onderdil. Kini tubuh tegap Lintang telah benar-benar polos tanpa penutup apapun. Tak lama kemudian, Lintang menuntun Shinta untuk berdiri. Dibantunya Shinta melepaskan kaos ketat yang membungkus tubuh seksi itu. Menyembullah sepasang bukit ranum bergizi tinggi yang masih tertutup bra warna hitam. Lintang merengkuh tubuh semi Shinta dan dicobanya membuka kaitan bra yang ada di punggung Shinta. Seketika itu terlontarlah dua buah gunung milik Shinta dengan bebasnya. Wajah yang cantik penuh aura sensualitas, dipadu dengan bentuk tubuh dan buah dada yang membusung menggoda. Sungguh pengalaman yang indah bagi Lintang.

Lintang mengajak Shinta menaiki Ranjang sembari tangannya sibuk melepas rok beserta CD Shinta. Belahan Meymey yang montok dan berbulu lebat terpampang sedemikian jelasnya di depan mata Lintang. Berkali-kali Lintang tertegun memandangi buah dada dan Meymey bergantian tiada henti. Meski cukup banyak mengenal cewek, namun pengalaman berhubungan badan baru kali ini dialami Lintang.

Lintang memposisikan tubuhnya telentang. Ia isyaratnya kepada Shinta untuk melanjutkan pekerjaan kulum-mengulumnya terhadap batang Lintang. Lintang menarik tubuh Shinta sejajar dengan tubuhnya sehingga menyerupai bentukan angka 69. Dengan ganas, Lintang membalas kuluman di batangnya dengan memberikan terkaman harimau ke arah Meymey legit Shinta.

“Emmhh…!!!” Shinta menggelinjang saat lidah Lintang menggesek bagian klit-nya.

Mendengar desahan tertahan Shinta, Lintang semakin tertarik untuk mengobrak-abrik lubang buaya Shinta. Semakin lama semakin intensif dan meningkat frekuensi terkaman dan jilatan ke bibir Meymey Shinta itu. Tak ayal Shinta dibuat semakin menggelinjang dan menegang. Berbagai gumaman tak jelas terdengar di sela Konkon yang di kulum Shinta.

Sekian menit berkutat dengan kesibukan masing-masing ‘menggarap’ senjata sakti, akhirnya Lintang berinisiatif untuk mengakhiri kuluman itu. Diputanya tubuh Shinta dan diminta olehnya untuk telentang. Dengan cepat Lintang menyambar bukit di dada Shinta sebelah kanan. Tangan Lintang sibuk memainkan buah dada Shinta sebelah kiri. Lidah Lintang menggetar-getar puting Shinta dengan cepat membuat Shinta terpekik geli.

“Uhh Mass…aduhh gelii..auww!!” Ucap Shinta sembari punggungnya terlihat melengkung keatas menahan gejolak rasa nikmat yang menjalari seputar puting dan dadanya.

Melihat itu Lintang semakin berani, ia emut dengan gemas semua bagian di dada Shinta. Sesekali ia tinggalkan cupang maut di kulit putih Shinta. Shinta hanya mampu mengerang dan mendesah menerimanya.

Tangan kanan Lintang menjalar turun. Ia gapai belanttara montok di pangkal paha Shinta dan mengoboknya perlahan. Sambil terus mengulum buah dada Shinta bergantian kanan dan kiri, tangan Lintang semakin sibuk menusuk dan menggosok semua bagian di Meymey Shinta. Begitu menemukan tonjolan kecil di ujung bagian atas Meymey Shinta, Lintang semakin menggosoknya. Bagian klit itu ia perlakukan dengan pelayanan eksklusif.

“Auww…auww..sstt Mass…hhh!!” Shinta mendesah dan mendesik menerima perlakuan nikmat di Meymeynya itu.

Semakin lama tempo gosokan dan tusukan di Meymey Shinta semakin cepat. Shinta dibuat semakin melonjak-lonjak oleh jari Lintang yang ‘nakal’. Kuluman dan emutan di Buah dada sekal Shinta juga belum berhenti. Shinta menjadi melayang merasakan double attack di tubuhnya.

1102

150x300

“Mass…ahh…sstt…mhhmhh…!!” Shinta semakin mendesah tanpa kontrol. Kakinya menjejak-jejak kasur sehingga membuat sprei nya menjadi awut-awutan.

“Ahh Mass auwwhh..mhh” Shinta semakin menggila dan meraung.

“Ahhummm…ssshh”

“hhkk….aahh…”

“Aiihh…ssshhh..Mass aduhh”

“Mas…Mass.. aduhh …Shin…Shintaa…keluarr…ahhwwhh” Mata Shinta mendelik lebar. Mulutnya merancau kacau. Kedua tangannya meremas kuat lengan Lintang hingga meninggalkan belas kuku disana. Shinta mendapatkan orgasm-nya yang pertama bersama pria yang baru beberapa jam lalu dikenalnya.

Melihat reaksi panas Shinta, Lintang menjadi semakin bersemangat. Ia segera beralih posisi dan mendekatkan Konkonnya ke Meymey Shinta secara konvensional. Tubuh Lintang merangkak diatas tubuh Shinta yang masih menikmati sisa-sisa orgasm yang belum surut.

Lintang mulai menciumi lagi bibir Shinta. Perlahan Lintang mengarahkan kepala Konkon nya ke bibir Meymey Shinta. Shinta menggenggam batang Lintang yang semakin mendekati lubang itu dan ia arahkan agar lebih pas menyusuri lorong cinta. Dorongan lembut 3 kali telah mampu menenggelamkan hampir separuh batang Lintang di lorong itu. 2 dorongan keras mengakhiri perjuangan Lintang merogoh Meymey Shinta.

“Ufhhh…” Shinta mendesah tertahan.

“Hekkh…ahh ahh” Desah Shinta ketika Lintang mulai memompa batangnya dengan kecepatan rendah.

“Ehmm…ketat sekali cengkraman punya kamu Shin…enak sekali…!!!” Bisik Lintang di telinga Shinta dan membuat Shinta tersenyum bangga.

“Uhhkkh…uhh..hukkh” Desah Shinta semakin menjadi-jadi kala Lintang menaikkan kecepatan pompaan pada kecepatan sedang. Batang gagah Lintang mengaduk-aduk dengan mantap jaya.

Melihat Shinta yang semakin menggelepar, Lintang berusaha menaikkan kecepatan pompaannya menjadi full speed. Suara kecipak air kenikmatan yang tergesek Konkon bersatu dengan suara skrotum Lintan yang membentur bagian buah pantat Shinta menjadikan suasana terkesan lebih membara. Shinta terlihat semakin tak kuasa untuk hanya bertahan dengan diam. Mulutnya merancau tak jelas. Matanya hampir terkatup, hanya sebagian putih bola matanya yang terlihat. Kedua paha sekal Shinta menggamit erat dan melingkar di seputar pinggul Lintang.

“Huukkhh..Mas…ehmmhh” Rancau Shinta dalam buaian kenikmatan surgawi yang menggelora.

“Ehmm…huuhh ahh ahh” Mulut Lintang mengiringi rancauan Shinta dengan desahan-desahan sejenis yang alami terlontar akibat ledakan api nafsu yang menggelegak.

Keringat bercucuran di tubuh kedua insan yang sedang dimabuk nafsu itu. Detak detik jam dinding berjalan seirama dengan tusukan Lintang yang sedikit menurun kecepatannya akibat rasa lelah yang menghampirinya.

Lintang mengangkat kedua paha mulus Shinta dan meletakkaan barang mulus itu di kedua bahunya. Lintang kembai menyodok Meymey Shinta yang terbuka. Dengan penuh nafsu, Lintang juga menjilati jemari kaki Shinta yang putih mulus dan sedang ada di pundaknya.

“Mas…ahh Mass..” Shinta kembali merintih dan merintih.

Bermenit—menit telah berlalu dan Lintang terlihat sudah mulai mengkerutkan keningnya pertanda puncak klimaks yang ia buru sudah semakin dekat. Speed semakin ditingkatkan oleh Lintang dan dilesakkan sedalam mungkin.

“Mas…auhh enn..nnak Mas…gue…ufhh..nyampai lagiiii ahhh” Shinta mendesah panjang dan menuntaskan capaian orgasm-nya yang kedua itu dengan erangan nikmat.

“Shin…akkku…juga mo keluarr…di mana nih Shin keluarinnya..??” Tanya Lintang terbata karena gelombang denyut yang semakin tak tertahankan di batang saktinya.

“Di dalem aja Mas…lagi masa tidak subur kok!!!…awhhh” Teriak Shinta di sela desahan orgasm.

“Auhh..ahhh.ahhrrgghh” Lintang mengaum panjang laksana harimau. Batangnya menyemburkan sekitar 7 kali sembur cairan hangat yang langsung menggenangi lubang Meymey Shinta. Perlahan Lintang telentang di samping tubuh seksi bugil Shinta. Wajah mereka saling berhadapan. Shinta tersenyum manis dan mencium manja bibir Lintang. Ciuman lembut pun terjadi. Bibir dan lidah yang saling melumat lambat menjadi hidangan penutup.

“Kita hanya having fun ya Mas…gue gak mau melangkah lebih serius!!!…gue gak mau kalau kita pacaran…karena….gue udah punya pacar…!!!” Shinta menarik sejenak bibirnya dan berucap lembut.

“Ehh..eee..tapi..ap..” Ucapan Lintang terpotong oleh bibir Shinta yang mulai kembali menciumnya. Sejurus kemudian mereka kembali berciuman mesra, lembut, dan dalam.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

Cerita ini belum berakhir….

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s