MY DIARY [010] Om Aseng, Sanusi, Kosashi, dan Diriku

1-1202091F215Merantau ke negeri orang tidak selalu bernasib baik. Niat ingin memperbaiki nasib, malah bisa memperburuknya. Semua ini sudah ku alami di negara matahari terbit ini. Sudah hampir dua minggu aku menjalani hidup di negara ini. Sekedar melanjutkan sekolah dan memulai hidup baru, aku pergi dari negara asalku. Namun aku yang masih bisa dikatakan bau kencur ini telah banyak mengalami hal memilukan di sini. Aku dan mama ku harus menumpang di rumah tante Olive, karena kami tidak punya cukup uang untuk menyewa kontrakan. Tante Olive dan keluarganya sangat baik dengan kami, selain menanggung biaya sekolahku, tante Olive pun telah membantu mama mendapatkan pekerjaan. Jasa tante Olive tidak akan aku lupakan seumur hidupku.

Sejak hari ketiga di sini, aku ditemani Kosashi untuk berangkat ke sekolah, karena sebelumnya aku mengalami hal buruk. Hari kedua di sini, aku berusaha mandiri untuk berangkat sekolah dengan sendirian, tapi nasib buruk telah menimpaku, aku diperkosa oleh pria-pria yang disinyalir adalah yakuza, oleh sebab itulah hari selanjutnya aku ditemani Kosashi hingga sampai di sekolah ku. Aku sangat tenang bila ditemani Kosashi yang umurnya setara denganku, sekitar lima belas tahunan, ia juga telah menganggap aku seperti saudarinya sendiri. Kosashi adalah anak bungsu dari tante Olive, mereka semua baik padaku. Putra sulung tante Olive juga begitu, namanya Sanusi, umurnya kira-kira dua tahun lebih tua dariku, ia juga perhatian sekali padaku. Apalagi suami tante Olive, om Aseng, ia malah membelikan aku hp keluaran terbaru agar aku bisa berkomunikasi di sini. Memang semua jasa mereka sangat banyak padaku, hingga aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa selain berterima kasih.

Aku pun kembali ke sekolah dengan seperti biasanya, tidak ada yang tahu dengan masalahku di hari sebelumnya. Teman-teman pun masih dekat denganku, kami tetap beraktivitas seperti biasanya. Setidaknya perih di hatiku sedikit terobati karena kebaikan-kebaikan teman-teman dan keluargaku. Hari terlewat begitu cepat dan tanpa beban bila kita lalui dengan enjoy. Hingga jam pulang sekolah pun tiba, aku segera berjalan keluar karena takut Kosashi sudah menunggu lama di luar sana. Seperti biasa, Kosashi menemaniku pergi dan pulang sekolah, aku sebenarnya tidak mau merepotkannya, tapi aku masih sedikit trauma dengan apa yang terjadi padaku sebelumnya.
Sampai di apartemen, semua terlihat sepi, ternyata mama dan tante Olive harus bekerja lembur malam ini hingga besok subuh, om Aseng baru saja mendapat telepon dari tante Olive, pabrik mereka sedang mengejar target produksi. Aku dengar kata om Aseng, buruh pabrik sangat senang kalau disuruh lembur, ini dikarenakan upah lembur mereka lumayan gede. Ya, aku turut bersyukur kalau mama dan tante Olive bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik.

Sambil menunggu malam, aku duduk di ruang keluarga dan menonton tv. Kemudian tiba-tiba Kosashi memanggilku untuk membantunya. Aku pun segera memberikan bantuanku, ternyata Kosashi minta dipijitkan. Dia memintaku untuk ke kamarnya, karena aku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri, aku pun menurutinya. Sampai di kamar nya, dia langsung baring telungkup, sepertinya ia kecapekan.

Aku pun sadar sudah merepotkannya, Kosashi sudah banyak berjasa padaku, ia telah menemaniku berangkat dan pulang sekolah. Oleh sebab itu lah, aku tidak sungkan untuk bantu memijitnya. Mungkin ini satu-satunya yang bisa aku berikan sebagai ganti ucapan terima kasihku.

Sambil memijat punggung Kosashi, aku melihat sekeliling kamarnya, hmm, cukup rapi untuk ukuran kamar cowok. Padahal kamar ini tinggal dua cowok, Kosashi dan abangnya, Sanusi. Semua barang tersusun rapi, tampak sifat mereka yang baik dan lembut. Pijatan pun aku alihkan ke betisnya, walaupun aku tidak mahir tapi aku berusahq semampuku untuk memberikan yang terbaik. “Tunggu…” tiba-tiba Kosashi minta aku menghentikan pijatanku. Apa dia merasa tidak nyaman dengan pijatanku? “Aku mau ke toilet…”, lanjut Kosashi sambil memegangi perutnya. “Hahaha, awal tar mencret di celana…”, olokku. Kosashi pun segera berlari ke sudut ruangan, toilet mereka terletak dalam kamar, jadi dia tidak perlu susah berlari keluar kamar lagi.

Cukup lama aku menunggu Kosashi keluar dari toilet, karena sedikit bosan, aku pun coba lihat-lihat fotonya di meja belajarnya. Foto Kosashi dan Sanusi berdua, kemudian ada foto keluarga mereka, serta foto Kosashi dengan teman-temannya. Ada sebuah buku di atas meja belajar, aku sedikit penasaran, buku itu seperti buku harian. Iseng-iseng ku coba buka buku itu, tapi pas mau buka, ada beberapa lembar kertas terjatuh dari dalam buku itu. Aku pun memungut kertas yang sudah terjatuh ke lantai tersebut. Sungguh kaget dan shock bagiku, seperti halilintar yang langsung menyambar pikiranku, apa yang tidak pernah aku pikirkan.

Ku pungut lembaran yang rupanya adalah beberapa foto, itu adalah foto-foto ku sedang mandi di kamar mandi. Apa Kosashi meletakkan kamera di kamar mandi? Kenapa aku tidak sadar? Kenapa ia mengambil fotoku? Semua foto itu tercetak dengab jelas aku yang sedang mandi bugil. Aku tak menyadari apa yang ada dipikirannya, segera ku masukkan kembali foto-foto itu ke dalam buku dan ku letakkan kembali ke semula dengan tangan yang bergetar. Untung aku cepat mengembalikannya, karena Kosashi pun keluar dari toilet. “Kok pucat Nes?” tanya Kosashi yang keluar dari toilet, tapi kini ia tidak berpakaian, ia hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya.

1-1202091F153

300x250

“Kamu sakit Nes?” tanya Kosashi yang kian mendekat ke arahku. Aku sangat tegang dan ketakutan, sepertinya Kosashi bermaksud lain denganku, “Gaaakk apaa a appa koq…” aku pun menjawab dengan sedikit terbata-bata. “Beneran Nes?” Kosashi kembali bertanya.
“Lanjutin Nes…” Kosashi lalu kembali telungkup dan memintaku melanjutkan pijatan. Aku menjadi canggung, takut nanti Sanusi masuk dan mengira yang tidak-tidak, apalagi kini Kosashi tanpa pakaian penutup bagian atas. Tapi aku tak bisa menolak, aku sudah terlanjur menawarkan bantuanku, semoga saja om Aseng dan Sanusi sibuk dengan urusan mereka.

Belum selesai memijit, Kosashi kemudian berbalik, hingga kini badannya terentang menghadap ke atas, ku lihat handuknya sedikit naik, sepertinya penisnya mengeras. “Pijitin paha dong Nes…” pinta Kosashi. Perintahnya seolah langsung mendikte ku untuk bertindak, aku pun dengan cekatan layaknya pemijat profesional langsung memijat paha nya. “Naik lagi Nes…” Kosashi kembali meminta sambil menarik lepas handuknya. Astaga, seperti dugaanku, Kosashi tidak menggunakan celana dalam, penisnya sudah mengeras dan berdiri tegak tepat di hadapanku. “Apa maksudnya ini?” aku segera berdiri dan menjauh dari Kosashi.

“Aku minta dipijit saja kok…” kata Kosashi sambil menarik tanganku agar aku mendekat. “Jangan… Aku sudah anggap kamu seperti saudaraku…” jawabku. “Justru itu… Lu harus tahu cara berterima kasih Nes…”, jawab Kosashi dengan senyumannya yang terlihat sedikit mesum. “Jangan…” aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkramannya. Aku cepat-cepat lari ke arah pintu agar keluar dari kamar ini. Tapi belum sempat aku membuka pintu, tiba-tiba dari arah luar ada yang membuka pintu.

“Kak Sanusi?”, aku melihat Sanusi membuka pintu. Ia terlihat sedikit kaget dengan Kosashi yang sudah telanjang bulat. “Tolong aku kak…”, aku meminta bantuan pada Sanusi. Tapi bukannya menolongku, ia malah mendorongku kembali masuk ke ruangan. “Oh, begini ya? Service Kosashi secara diam-diam?” Sanusi malah berpikir yang tidak-tidak. “Lu tak adil Nes…”, kata Sanusi.

Aku tak tahu harus berkata apa lagi, percuma aku menjelaskan, karena sudah tak dipercaya. Kosashi tersenyum, kemudian ia menarikku kembali ke ranjang. Sanusi pun kemudian mengunci pintu dan segera membuka pakaiannya. “Jangan coba-coba melawan, atau nanti kami minta papa dan mama mengusir kalian keluar dari apartemen ini…”, ancam Kosashi. Aku sangat kaget dengan perlakuan mereka kali ini, sungguh berbanding terbalik dengan perlakuan mereka sebelumnya.

“Sekarang cepat buka…”, perintah Sanusi yang sudah telanjang bulat. Aku tidak bisa menolak perintah mereka, aku terpikir nasibku dan mama ku yang masih berstatus numpang di sini. Ternyata kebaikan dua bersaudara ini ada maksudnya. Aku pun dengan sangat terpaksa melepaskan semua pakaianku hingga tidak tersisa sehelai benang pun menutupi kulit tubuhku yang putih mulus ini. Sanusi pun mendekat kemudian memelukku, “Sungguh indah tubuhmu Nes…” puji Sanusi, batang kejantanannya terasa keras dan hangat menempel dekat dengan vaginaku. “Harum sekali tubuhmu…”, rayu Sanusi. Aku sudah tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin nasib memang sedang mempermainkanku, hingga aku selalu mengalami nasib buruk seperti ini.

“Yakuza aja pernah menikmatinya, masa kita yang sudah berjasa malah belum mencicipinya?…” kata Kosashi yang mengadu Sanusi. Semakin berapi-api karena dipancing Kosashi, Sanusi langsung melumat bibirku, ia menciumi dan menggigit bibirku. Lidahnya terus bermain di dalam mulutku, sedangkan Kosashi memegangi tanganku walaupun aku tidak berontak. Ciuman Sanusi beralih dari bibir ke leher hingga ke payudara ku. Aku merasa sangat geli ketika ia menyedot susu sebelah kanan ku, dan memilin puting susu sebelah kiri ku dengan jarinya. Kosashi yang berada di atas kepalaku hanya menciumi keningku, ia sangat terangsang dengan aroma tubuhku. Aku yang bernasib buruk ini sudah tak heran dengan perlakuan sepertu ini. Perkosaan telah ku alami berkali-kali, hingga sering aku berpikir inilah resiko mempunyai paras dan tubuh yang indah.

Aksi mereka sudah berlangsung cukup lama, aku tidak bisa melawan, hanya mampu menangis sambil memohon iba. Sanusi kini sudah mencicipi memekku, ia menjilati dinding-dinding luar vaginaku serta menggigit klitorisku, sungguh sangat menggelikan. Apalagi diikuti perlakuan Kosashi terhadapku, ia menyedot-nyedot susuku dan mencubit kecil di puting susu ku hingga aku tak mampu mengendalikan sensasi kegelian ini.
“Gadis manis yang sungguh mempesona…”, bisik Sanusi yang sedang sibuk menjilati memekku. Kemudian ia pun mulai memasukkan jarinya ke lubang vaginaku. Aku kembali merasakan sensasi kejamnya diperkosa. Tusukkan jarinya sangat kasar membuatku melonjak kesakitan, jarinya dengan kasar mengobok-obok liang kewanitaan ku itu. Aku hanya terus menangis sambil menggigit bibirku. Payudara ku pun terasa sakit, Kosashi menggigit puting susu ku dan menyedotnya dengan kuat. Aku tak menyangka orang yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri ternyata kesetanan dengan kemolekanku. Tubuhku seakan hanya boneka yang bisa dimainkan seperti apa saja. Bibir, leher, dan susu ku terus diciumi oleh Kosashi, sedangkan memekku masih terus ditusuk oleh jari jemari Sanusi yang keluar masuk dengan cepat.

Kedua bersaudara tersebut kelihatan sudah mulai bosan dengan aksi aktivitas mereka yang sudah berlangsung hampir satu jam. Aku melihat Sanusi sudah mencoba menerobos liang vaginaku dengan penisnya yang sudah mengeras. Sedangkan Kosashi menggosok-gosokkan penisnya di wajahku. Aku sangat malu, aku coba bangkit dan melawan, aku coba untuk kembali menyadarkan mereka. Tapi apa daya, kekuatan dua pria tersebut tidak mampu aku lawan. Aku didorong jatuh kembali ke kasur. Wajahku ditampar hingga memerah, aku terus menangis dan memohon ampun. Bahkan Kosashi menampar pipiku dengan penisnya yang besar, dan menusukkannya ke mulut ku. Dengan sangat terpaksa aku pun harus mengulum penis Kosashi. Sedangkan aksi Sanusi sudah seperti yang ia inginkan, penisnya sudah terasa masuk hingga ke liang vaginaku, cukup hangat terasa, namun sedikit sakit akibat jarinya tadi yang merobek dinding vagina ku. Aku terus digenjot maju mundur, payudaraku pun diremas terus, mulutku pun terus disumpal penis Kosashi.

Aku sangat berharap mama atau tante Olive bisa pulang dan menolongku, namu mereka harus kerja lembur, sehingga harapanku hanya pada om Aseng. Sambil terus digenjot, aku pun berdoa agar semua ini segera berakhir. Ternyata apa yang aku harapkan pun terwujud. Aku mendengar suara pagar dibuka, suara mobil milik om Aseng masuk hingga ke garasi. Mendengar suara itu, Sanusi dan Kosashi terlihat kaget dan pucat. Cepat-cepat mereka menjauh dariku dan mencari pakaian mereka. Aku sangat senang, setidaknya aku tidak mendapat pelecehan yang lebih lagi. “Agness….” terdengar teriakan om Aseng yang mencariku. “Sialan, ga boleh liat orang senang aja…” gerutu Kosashi. “Iya ne, belum juga selesai…” sambung gerutu Sanusi yang terlihat kesal karena harus segera mencabut penisnya dari vaginaku. “Cepat, pakai bajumu…” kata dua saudara itu yang sedang sibuk memakai pakaian mereka.

“BRAAKKKK!!!!………..” tiba-tiba suara pintu terbuka dengan paksa. Kami bertiga terdiam dengan kebingungan memandang ke arah pintu. Om Aseng berdiri di depan pintu sambil memelototi kami. Sedangakan Kosashi dan Sanusi baru mengenakan pakaian bagian atas. Mereka terdiam sesaat saat menarik celana dalam ke atas, namun belum sempat menutup penis mereka, mereka sudah spontan terdiam akibat dikagetkan seperti ini. Aku juga masih bugil di atas kasur, om Aseng sangat cepat sekali sampai ke kamar ini.

Aku segera mengambil selimut untuk menutupi tubuhku, dan sambil menangis aku segera berlari ke arah om Aseng. “Tolong om, Agnes diperkosa….” aku meminta bantuan om Aseng. Om Aseng terlihat kesal dan melotot ke arah mereka. Kemudian om Aseng memegang tanganku lalu meneriaki mereka, “Papi sudah curiga dengan apa yang kalian lakukan!”. Dua saudara itu hanya tertunduk malu dan segera merapikan pakaian mereka. “Kerjakan PR kalian!” perintah om Aseng dan kemudian menutup pintu serta segera menarik ku menjauh dari kamar dua bersaudara itu.

“Terima kasih om… Om sudah banyak membantu Agnes…” aku berterima kasih atas apa yang telah om Aseng lakukan. Setidaknya jasanya tidak akan aku lupakan. “Makanya, Agnes harus baik sama om…” jawab om Aseng yang kemudian menyengir kegirangan. Ia kemudian menarikku dengan cepat hingga selimut yang menutupi tubuhku terlepas. Aku yang sudah bugil ditarik dengan paksa hingga ke kamar om Aseng dan tante Olive. “Lepasin Agnes om… Agnes mohon…” aku memelas agar tidak diapa-apakan.

1-1202091F151

450x100

Begitu pintu terbuka, ia langsung mendorongku hingga jatuh ke kasurnya, kasur om Aseng dan tante Olive. “Om… Agnes sudah anggap om seperti papa Agnes sendiri…”, aku makin ketakutan melihat mukanya yang seperti harimau melihat daging segar. “Tenang saja, besok om beliin laptop biar Agnes bisa buat tugas sekolah…”, kata om Aseng yang menutup pintu kemudian mendekatiku. Mukanya benar-benar seperti ingin menyantapku, sangat berbeda dengan kemarin yang baik dan lembut terhadapku. Apa ini yang disebut serigala berbulu domba? “Om sudah keluarin banyak uang… Agnes harus tahu dong…”, kata om Aseng sambil melepas semua pakaiannya. “Apa makkssuud ooomm?…” aku menangis ketakutan.

“Kamu pikir semua gratis???” om Aseng terlihat melotot ke arahku. Pandangannya sangat menakutkan, badanku langsung terasa lunglai. Om Aseng mendekatiku dan membelai rambutku. “Makan, tidur, sekolah, bahkan hp… Semua apa tidak perlu pakai uang??…” om Aseng berbisik, wajahnya mendekatiku sambil mencium aroma ku, aku sangat ketakutan. “Jangan om…” pintaku. Om Aseng yang sudah ku anggap seperti papa sendiri itu langsung melumat bibirku, ia menimpak tubuhku, tubuh ku yang sudah bugil bersentuhan dengan tubuh bugilnya yang sedikit renta. Aku coba berontak, tapi ia mendekapku dengan erat sambil menciumi bibir ku penuh nafsu. Aku juga merasakan penisnya yang hangat dan keras menyentuh selangkanganku.

Saat ciumannya beralih ke leherku, aku masih mencoba berontak dan menyadarkannya, “Ingat tante Olive om…”. Tapi kata-kata ku tersebut malah membuatnya geram dan langsung menampar pipi kanan dan kiriku. Malang sekali nasibku, pipiku terasa pedas sekali, padahal baru tidak lama aku ditampar oleh anaknya, kini malah giliran papanya. Aku terus menangis, karena sebentar lagi aku pasti akan disetubuhi oleh lelaki tua bangka ini. Tubuhnya yang sudah menjalani kepala empat cukup keriput, mungkin karena stress dengan beban pekerjaan. Setelah puas menciumi leherku, ia beralih hingga ke dada ku. “Susu mu segar banget Nes… Masih kecil dan kencang… Gak kayak tante mu yang sudah kendor…” kata pria bejad itu. Ia kemudian meremas-remas dan menyedot susuku. Tidak seperti anak bayi yang menetek susu ibu nya, ini perlakuan yang sangat menghina, om Aseng menyedotnya dengan keras dan kasar. Aku merasa payudara ku sakit sekali, remasan-remasan kasarnya seperti mau menarik lepas susu ku.

“Sakiiittttt….” desahku. Om Aseng pun sepertinya mengerti, ia menghentikan remasannya, namun tangannya telah beralih ke vagina ku. Jarinya mencari klitoris ku dan berusaha memainkannya. Tiba-tiba aksinya berhenti, “Om sudah tidak sabar Nes…” kemudian om Aseng bangkit dan mencari sesuatu di meja dekat lemari. Aku melihat ia membongkar laci meja yang ada fotonya dengan tante Olive. Om Aseng tersenyum ketika ia menemukan sesuatu yang ia cari. Benda itu ternyata adalah kondom. Aku melihatnya dengan jelas, om Aseng memasangnya sendiri, kondom dot yang ada butiran seperti kelereng kecil di sekitarnya. Aku sangat ketakutan sekali karena benda itu pasti akan menyakiti aku.

Om Aseng yang baru ku tahu adalah seorang hypersex itu kemudian mendekatiku. Tanpa segan-segan, ia langsung membuka kedua kakiku. Tak mau ditunggu lagi ia langsung menancapkan penis berkondom dot nya itu ke dalam lubang vaginaku. “Argh….”, teriakku merasakan sakitnya di vaginaku. Kelereng-kelereng kecil itu seperti mengoyak-ngoyak dinding vaginaku. “Sakit om…”, aku merintih kesakitan. Air mataku mengalir dengan deras tanpa dihiraukan om Aseng. Ia terus menggenjotku sambil menyedot susu ku. Aku sudah tidak tahu seperti apalagi keadaan vaginaku yang sudah pernah dijebol oleh lebih dari sepuluh penis pria. Nasib malang yang sudah kualami sejak aku di negeri sendiri, bahkan hingga di negeri orang begini.

Aku sudah tak mungkin melawan, sudah hampir satu jam om Aseng menggenjotku, ternyata tua bangka ini kuat juga. “Tubuhmu nikmat sekali Nes…”, bisik om Aseng di telinga ku. “Bentar lagi Nes… Tenang saja, kondom impor gak bakal bocor…”, olok om Aseng. Kemudian ia mempercepat gerakannya, aku yakin sebentar lagi om Aseng akan menyemprotkan spermanya. Ia langsung terkulai lemas di atas ku. Wajahnya tersenyum seolah bahagia telah berhasil tidur dengan ku. Aku merasa jijik diperlakukan begini, walaupun capek tapi aku berusaha menyingkirkan tubuhnya dari ku. Om Aseng terlihat kecapekan dan ingin istirahat, aku segera bangkit dan ingin keluar dari kamar ini. Tapi tiba-tiba tanganku ditangkap om Aseng seperti menahanku keluar. Dengan mata tertutup ia berkata, “Tiap mama dan tante mu lembur, Agnes temani om di sini ya…” katanya lalu melepaskan tanganku.

Dengan sambil meneteskan air mata, aku segera menuju pintu keluar. Astaga, apa yang kutemukan di balik pintu. “Hehehe, lanjut Nes…”, kata Sanusi sambil nyengir. Ternyata sedari tadi Sanusi dan Kosashi mengintip kami dari lubang kunci. Keadaan mereka pun bugil, sepertinya sudah tahu apa yang terjadi. Kembali aku ketakutan dan kakiku gemetaran, “Akuuu cappeekkk….”, aku coba memohon belas kasihan, setidaknya mereka harus tahu keadaanku. “Ga pa pa, bentar saja kok…”, kata Sanusi yang langsung memelukku lalu menggendongku. “Tangkapan besar ne…”, ejek Kosashi melihat aku digendong Sanusi. Entah apalagi yang akan terjadi padaku, aku cuma bisa pasrah mengalami keadaan seperti ini.

Ternyata mereka membopongku hingga ke kamar mandi. “Ayo mandi bersama…”, kata Sanusi yang terus memelukku. Kemudian Kosashi pun menyalakan shower. Aku tak mampu berdiri, sehingga Sanusi dan Kosashi memelukku dan menciumi ku. Kami sudah basah disirami air dari shower terus menerus. Kemudian Sanusi menuangkan sabun cair ke tangangnya lalu mengoleskannya ke tubuh ku hingga berbusa. Kosashi juga tidak mau ketinggalan, ia juga membantu menggosokkan sabun ke tubuh ku, sengaja sambil meremas-remas susu ku. Mereka juga menggosokkan ke sekitar vaginaku, bulu memek ku yang masih jarang digosok hingga penuh busa sabun.

“Wangi banget Nes…”, kata Sanusi. Ia lalu menarik tanganku hingga menggenggam penisnya. Ia ingin aku mengocok penisnya. Sedangkan Kosashi sedang asik melumat bibirku, kemudian beralih ke susu ku.

Aku sudah merasa kedinginan, sedari tadi aku diguyur air dari shower. Kedua tangan ku sudah sibuk mengocok penis mereka, dan mereka juga sibuk menyedot kedua buah susu ku. Tenaga ku sudah habis, rasanya akan terkulai lemas, aku tak sanggup lagi berdiri apalagi melayani nafsu birahi mereka. Kosashi lalu membuka kran air agar bathtube penuh, lalu mereka berdua memapahku ke bathtube untuk memperkosa ku di air yang cukup penuh. “Pokoknya setelah papa selesai make Agnes, giliran kita…” kata Sanusi. Mendengar katanya begitu aku benar-benar kaget, hingga pandanganku berkunang-kunang. Yang aku pikirkan betapa malangnya nasibku, karena setiap mama dan tante Olive bekerja lembur, maka aku harus melayani mereka bertiga.

1-1202091F157

160x600

Aku langsung jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Ketika aku bangun aku sudah berada di kamarku, pakaianku pun lengkap, tapi dalam ku tidak terpakai, entah bagaimana mereka memakaikannya padaku.

Badanku terasa sangat sakit terutama di bagian vagina dan payudara, entah berapa lama aku semalam diperkosa kedua bersaudara itu. Aku kemudian coba menenangkan diri dan kembali tidur agar bisa sejenak melupakan masalah ku ini.

Seperti permintaan mereka, setiap mama dan tante Olive bekerja lembur, maka aku dipaksa untuk melayani nafsu birahi mereka; om Aseng, Sanusi dan Kosashi. Penderitaan ini terpaksa aku jalani sekitar tiga bulan. Kemudian karena mama sakit keras, maka aku dan mama pergi ke Singapura untuk menyusul papa, sekalian mama berobat di sana.

Namun penderitaan ku belum usai, tak lama dari itu aku mengetahui aku telah hamil, perutku membesar dan akhirnya aku melahirkan seorang anak perempuan, pas hari itu pula penyakit mama yang semakin lama semakin parah, membuatnya tak bertahan dan kemudian mama meninggal dunia. Dan papa pun sedikit stress, pekerjaan papa jadi terbengkalai sehingga aku harus mencari pekerjaan.

Aku harus menghidupi diriku, anakku, bahkan papa. Untungnya berselang setahun kemudian aku menemukan seorang pria yang melamarku, ia seorang warga keturunan, namanya John. Ia sangat ganteng dan gagah, yang terutama lagi, ia tidak memperdulikan status atau keadaanku.

TAMAT

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s