METAMORFOSIS DAN POHON PALEM #3

13043513_1060555497353185_8823262548260904509_nSelamat datang di Gadies World…
……………………………………………. ………………………………..
……………………………………………. …………………………………………
……………………………………………. ………………………………………….. ………
……………………………………………. ………………………………………….. …………………
……………………………………………. ………………………………………….. …………………………….

—- I —-

“Aduh non…pelann…sakitt…!!!” Teriak tertahan Lintang saat nona Sonya menyeka bekas luka di lengan dan paha Lintang dengan menggunakan Revanol. Lintang telah dituntun nona Sonya ke klinik untuk mendapatkan pertolongan pertama setelah mengalami luka-luka dan memar akibat perkelahian dengan gank lusuh yang ditengarai Lintang adalah gerombolan suruhan dari Sonny yang bisa jadi masih sakit hati.

“Tahan dikit dong…cowok harus kuat !!!” Bentak nona Sonya sambil melangkah membelakangi tempat duduk Lintang menuju sebuah lemari obat.

Lenggak-lenggok buah pantat Sonya yang sedang berjalan tertangkap kamera pengintai Lintang. Memang sungguh molek dan seksi wanita yang satu ini. Usianya sekitar 27 tahun, sedikit lebih tua dari Lintang. Namun Sonya masih lajang. Orangnya putih dan cantik, rambutnya bergelombang sebahu. Begitu putihnya wajah Sonya mengingatkan Lintang pada wajah seorang penyanyi korea terkenal di televisi.

“Lintang…rebahan sana di kasur periksa…agak susah nih bersihkan luka kamu di bagian paha jika dalam posisi duduk !!” Teriak Sonya dari depan lemari obat.

Lintang menurut saja dan segera beranjak dengan tertatih menuju tempat tidur pasien yang terletak di dalam ruangan sebelah. Pikirannya melayang memikirkan Sonny. Memang tak salah jika Sonny marah kepadanya. Lintang sudah menghajar Sonny dengan seenak udelnya kala itu. Dan kini adalah masa bagi Lintang untuk menerima kiriman balik dari Sonny. Lintang berusaha untuk lapang dada atas apa yang dialaminya siang itu.

—- II —-

Sonya telah selesai merawat dan membalutkan kain kasa di lengan dan paha Lintang. Namun entah mengapa Sonya masih terlihat berdiri di samping pembaringan Lintang. Sonya hanya diam, hanya matanya yang terlihat menjalar nakal menyusuri tubuh tegap Lintang. Tak henti-hentinya Sonya melemparkan senyuman kepada Lintang.

“Lintang….kamu ada masalah apa sih dengan preman-preman itu?? aku jadi ikutan khawatir lho..!!!” Ucap Sonya sambil melirik kearah wajah Lintang yang masih tidur telentang disampingnya.

“Ga tau non…biarin aja lah…itung-itung amal !” Jawab Lintang kalem.

“Yee…amal gimana !!! badan kok dibuat amal gebuk-gebukan…!!!” Balas Sonya dengan mimik tidak suka.

“Aduhh gerah banget sih udaranya…!!!” Ucap Sonya lagi sambil membuka jas putih khas klin miliknya. Kini Sonya hanya mengenakan semacam kemben berwarna biru tua dipadu dengan rok pendek warna putih.

13087394_1060555537353181_7621082290801238017_n

300x250

Lintang dibuat melotot melihat penampakan buah dada Sonya yang masih tertutup kemben. Sonya tahu bahwa Lintang sedang memandangi bagian dadanya.

“Lintang…lihat apa hayo??” Tegor Sonya kepada Lintang dengan mengerlikan matanya dengan genit.

“Owhh…tidak kok tidak…” jawab Lintang gugup.

“Kalau suka ga usah jaim gitu ah…!!! Sini nih dipegang aja…atau mau dibuka aja…???” Sonya dengan genit menarik tangan Lintang dan membawanya menempel diatas tonjolan kemben yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Lintang. Bahkan tanpa permisi, Sonya menarik kebawah kembennya hingga nyata mencolok terlihat dua buah daging besar terlompat keluar dengan bebas.

Lintang terbelalak tanpa bisa berucap. Ia tak menyangka bahwa dibalik kemben itu ternyata Sonya tak mengenakan bra. Berani dan nekat sekali nampaknya si Sonya ini. Kini tangan Lintang sudah menempel erat langsung di buah daging kenyal milik Sonya dengan dituntun oleh Sonya.

Sebenarnya Lintang sangat takut akan keberanian Sonya ini. Apalagi pintu klinik sedang terbuka dengan lebarnya. Meski mahasiswa telah banyak yang pulang, bisa jadi ada satu dua orang yang belum pulang. Lintang semakin khawatir dengan perbuatan pemaksaan Sonya terhadap tangannya. Lintang memang lelaki tulen yang akan tergiur bila melihat hal semacam itu. Namun Lintang memiliki pendirian berbeda. Ia sangat suka pada hal yang menyangkut tentang keindahan tubuh wanita, namun ia sangat takut dan merasa tidak nyaman bila bertemu wanita yang terlalu agresif dalam mengumbar kebinalannya. Justru Sonya membuat Lintang lebih bergidik ketimbang menikmati buah dada yang menggantung itu.

“Mas…mas Lintang !!!” Benar saja, sebuah suara muncul dari arah pintu depan klinik. Sebuah suara lembut yang sangat dikenal Lintang. Suara cewek itu segera tenggelam diiringi langkah kakinya yang berlari menjauh dengan menutup mulutnya.

“Citra !!!” Lintang terbangun dan segera berlari mengejar Citra.

Langkah kaki Citra berhenti di kursi tempat ia bersama Sonny bercengkrama kala itu. Lintang dengan tertatih menahan perih di pahanya terus saja berjalan menghampiri Citra.

“Jangan…jangan kesini…aku kecewa sama mas Lintang….!!! Buat apa kemarin mas sampai lesu dan menangis dalam mengharapkan Citra jika ternyata pada akhirnya begini !!??!…Jadi selama ini mas hanya mengejar tubuh-tubuh gadis?? mencari kepuasan nafsu saja mas !!!” Teriak Citra dalam iring tangisnya yang semakin meledak.

“Ini hanya salah paham Citra !!! yang kamu lihat tak mewakili penjelasanku ini !!!….” Jawab Lintang menggebu.

“Semua lelaki memang pembohong !!!…aku tak percaya mas…!!” Teriak Citra lagi.

“Dengarkan aku dulu !!! Pliss…” Sergah Lintang dengan penuh kecemasan melanda.

13007328_1060555554019846_5325579095315320753_n

450x100

“Mendengarkan apa? Mendengarkan bualan dan karangan cerita buah karya pengarang bernama Lintang Timur ??!!….Aku tadi bertengkar dengan Sonny mas…ia bercerita tentang penganiayaan terhadap mas…serta merta aku meluncur ke kampus demi melihat keadaan mas…tapi…yang kulihat sungguh berbeda…aku terluka…tiada gunanya kita dekat jika semua ini hanya aksi sandiwara mas untuk mendapatkan tubuh-tubuh wanita mas…!!” Lanjut Citra dengan suara parau.

“Citra…sekarang kita ke ruang klinik…biar si Sonya yang akan menjelaskan perbuatannya…aku merasa dijebak sekarang Citra !!! ini sungguh sulit bagiku !!!” Ucap Lintang dengan sedih dan kecewa.

Permintaan Lintang agar Sonya jujur terpaksa dituruti Sonya demi menghindari luap amuk Lintang. Sonya merasa ini sungguh berat baginya. Dalam hatinya tumbuh kebencian yang bersatu bersama perasaan cintanya terhadap Lintang meski selama ini Lintang tak pernha menyadarinya. Sebaliknya Citra, emosinya mereda. Prasangka buruk terhadap kelakuan Lintang perlahan sirna. Ia mulai percaya kembali pada Lintang. Namun nun jauh di dalam hatinya, tersimpan sebuah kecurigaan tersendiri terhadap Lintang. Sesekali ia berpikir bahwa bisa jadi ini adalah akal-akalan Lintang dengan pastinya mengontrol Sonya terlebih dahulu untuk mengatakan dan mendukung alibi seolah Lintang tak bersalah. Semuanya membuat Citra mamang.

—- III —-

Satu minggu kemudian…
Hari yang mendung. Gelap dan kelam menyelimuti bumi pertiwi. Lintang sedang duduk termenung di teras rumah kosannya. Sesekali terdengar suara kaleng pengukur arah angin buatan Kakek Seno yang terikat di ujung pohon palem. Suara kaleng itu semakin rapat terdengar seiring suara gemuruh angin yang menghantarkan titik air hujan. Lintang masih saja terdiam dan memandang kosong.

Lintang sedang berpikir keras tentang hubungannya dengan Citra. Meski Citra telah dekat dengannya, bukan berarti perasaan Lintang telah tenang. Ia membayangkan jika seandainya ia mempunyai tunangan, namun di lain pihak tunangannya itu tengah menjalin cinta diam-diam dengan orang lain, tentu ia akan terluka. Begitu juga dengan yang akan dirasakan tunangan Citra bila mengetahui hal tersebut. Lintang tak ingin jika hal itu akan menimpanya di masa yang akan datang.

Akhirnya dengan tekat bulat Lintang memutuskan untuk mendatangi Citra untuk menyelesaikan semua itu. Ia tak ingin hubungan pacaran back street bersama Citra ini berkepanjangan.

“Memang benar apa yang dikatakan Kakek Seno, buat apa aku terus menerus menginginkan dan iri pada tunangan orang lain…sedangkan cewek lain masih banyak tersebar diluar sana…kini tiba saatnya aku harus belajar untuk berjiwa besar…tanpa Citra…aku masih bisa hidup dan menjadi Lintang Timur yang seutuhnya….!!!” Gumam Lintang dalam hati dengan membulat tekat.

Dengan penuh kebulatan tekat, hari itu juga Lintang berangkat menemui Citra dirumahnya. Baginya, tak ada gunanya lagi menunda penentuan hubungannya. Hari ini atau lusa, atau bahkan nanti akan sama saja hasilnya. Namun semakin cepat ia melangkah, semakin cepat pula ia memiliki kesempatan lebih untuk meraih harapan-harapan yang lain. Yaitu harapan baru yang akan membuat hatinya tetap bersinar meski tanpa ada kecintan yang mendalam pada sosok Citra Ida harun yang sudah sekian masa telah menguras perasaan dan pikirannya.

“Citra…aku ingin ngomong..!”

“Mas Lintang…Citra ingin ngomong…!”

Tak sengaja, secara bersamaan Lintang dan Citra ingin saling terlebih dahulu menyampaikan apa yang hendak dibicarakan.

“Owhh…Citra dulu deh silahkan…!!” Ucap Lintang memberikan kesempatan kepada sang dara untuk berbicara terlebih dahulu. Bagi Lintang, dalam hal kecilpun ia wajib memberikan hak terlebih dahulu kepada kaum wanita dan mengutamakannya dimanapun ia temui. Sungguh sebuah pekerti yang layak diacungi jempol.

13062179_1060555517353183_597703473165253401_n

150x300

“Mas Lintang…sebelumnya mohon maf jika nantinya ini akan membuat mas tersinggung atau juga marah. Tapi ini sengaja dan harus Citra sampaikan agar tak berlarut-larut….Mas Lintang…Kemarin sore keluarga Mas Gangga tunangan Citra, datang ke orang tua Citra. Mereka meminta agar rencana pernikahanku dengan Mas Gangga dipercepat. Ini berkaitan dengan rencana kenaikan jabatan Mas Gangga yang nantinya akan ditempatkan di luar negeri pada jabatan barunya tersebut. Maff mas Lintang…terus terang…sebagai seorang wanita dewasa…aku berpikir secara realistis…Aku punya banyak kebutuhan yang harus dimiliki seorang wanita…belum lagi kebutuhan belanja jika nantinya aku telah menikah…Aku juga seorang wanita yang pastinya mengharap sebuah kenyamanan rumah tangga jika telah bersuami….aku ingin tersedianya rumah bagi naungan kami…dan kesemuanya itu secara jujur, Mas Gangga lebih unggul dibanding Mas Lintang. Kehidupan Mas Gangga lebih mapan dan lebih punya harapan untuk Citra….Sekali lagi maaf mas, mungkin hari ini adalah akhir dari hubungan kita..!!” Citra mengungkapkan perasaannya dengan penuh debaran ketakutan pada amarah Lintang.

“Iya Citra aku mencoba untuk memahami itu…kamu tak perlu takut akan kekecewaanku maupun amarahku. Perlu kamu ketahui, bahwa kedatanganku kesini hari ini juga sebenarnya ingin menyelesaikan hubungan kita. Dalam sudut pandangku, aku tak ingin berkepanjangan mengusik kehidupan pertunanganmu…tapi satu yang ingin aku sangkal dari semua ucapanmu tadi…Kebahagiaan tidak akan bisa jika kamu ukur dengan besarnya materi. Bukan ku tak suka jika tunanganmu mapan, tapi aku tak suka pada sikap fanatisme kamu yang seakan merendahkan kaum pria yang kurang mapan. Tapi…ya sudahlah Citra, mungkin dengan percakapan ini membuatku menemukan hikmah atas keputusanku dan keputusanmu…baiklah Citra…aku mohon diri…esok hari dan seterusnya kita adalah tetap menjadi teman…namun hanya dalam batas itu…!!” Sambut Lintang pada ucapan Citra yang sebelumnya sempat membuat Lintang sedikit mengkerutkan dahinya.

Intermezo : [ Berbicaralah dengan bijak pada hatimu sendiri. Berdamailah dengan kesedihan, amarah, dan kegundahan. Tanyakan pada hatimu dengan sepenuh-penuhnya kejujuran, apa yang hendak kau cari dari cinta ?. Kemudian tanyakan pada hatimu tentang kejernihan dan kesucian cinta, apakah ia telah berjalan tanpa mengusung ego nya?, temukan bersih hati, jernih jiwa dalam dekapan ketulusan dibalik tabir fatamorgana yang sering membuatmu sendiri lupa akan cinta yang sebenarnya. ]

—- IV —-

Hari belum terlalu sore saat Lintang melintas di depan klinik kesehatan kampus. Sayup terdengar suara seperti orang merintih. Langkah Lintang terhenti, ia mencoba mencari asal suara tersebut yang ternyata bersumber dari dalam klinik. Dengan waspada Lintang melangkah memasuki klinik tersebut. Ia terus melangkah hingga sampai di ambang pintu kamar periksa. Secara tiba-tiba dan cepat, sebuah bayangan menarik tangan Lintang hingga terseret ke dalam ruangan kamar. Dengan cepat pula tiba-tiba sosok itu memeluk dan merangkul Lintang di iringi tangisan meronta. Pakaian kerja klik yang digunakannya sudah sobek -sobek dibagian dada dan roknya. Nampak ia begitu terlihat compang-camping dengan pakaian itu. Keseksian menyembul diantara celah sobekan di dada dan bagian buah pantatnya. Masih dalam meraung-raung dan menangis ia memeluk tubuh Lintang yang sedari tadi masih berdiri mematung tanpa bisa berucap.

“Tolong…tolong…saya mau diperkosa !!! tolonggg !!!” Tiba-tiba wanita compang-camping yang ternyata adalah Sonya itu berteriak histeris dan mengagetkan Lintang. Apalagi Lintang dibuat sangat terbelalak dengan tuduhan Sonya yang mengatakan bahwa Lintang hendak memperkosanya.

“Hei kamu…kepar*at kamu ya !!! hentikan ulah bejat mu…!!!” Seseorang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar klinik dan menghardik Lintang. Seseorang itu adalah Pak Eko pegawai tata usaha di kampus.

Lintang menjadi celingukan tak percaya pada tuduhan yang dilemparkan kepadanya. Iia merasa ini adalah jeratan fitnah yang telah direncanakan Sonya. Namun sekuat apapun ia menyangkal, bukti pakaian Sonya yang sobek-sobek dan juga teriakan histeris Sonya tentu akan lebih memberatkan posisi Lintang sebagai tertuduh. Tak lama berselang, beberapa mahasiswa muncul dan menyaksikan kejadian itu. Lintang semakin bingung akan apa yang sedang mengalaminya.

13012690_1060555480686520_2587628960747427852_n

160x600

Serta merta Pak Eko dan beberapa mahasiswa menggiring Lintang ke ruang pertemuan dosen. Sonya juga dibawa ikut serta setelah dipersilahkan berganti pakaian, tentunya bertindak sebagai saksi sekaligus korban dalam kejadian pemerkosaan itu.

Berbagai hujatan dan cacian disuarakan beberapa mahasiswa ke arah Lintang. Namun untungnya hari sudah beranjak sore sehingga tak banyak mahasiswa yang tersisa di kampus ungu.

“Tidak !!! aku tidak melakukan apapun padanya !!!” Teriak Lintang nyaring sambil menunjuk ke arah Sonya ketika mereka tiba di ruang pertemuan dewan dosen. Sekitar sepuluh dosen telah duduk berjajar sambil memandang kecut ke arah Lintang.

(((( Salam GADIES manies ))))

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: