METAMORFOSIS DAN POHON PALEM #2

08Apakah saudara-saudara sekalian penasaran tentang kelanjutan cerita ini?

Kenapa kok penasaran?

Emang mau apa kalo penasaran ?

Mau lanjut…..????

YUKKK MARII….

PRAKKK…BUKK..BUKK!!!
Tiga bogem mentah Lintang melayang tanpa permisi ke rahang dan perut mahasiswa teman Citra. Setelah pukulan itu berhenti, Citra dan Lintang menjadi saling pandang. Begitu juga dengan si mahasiswa korban Lintang, ia memandang heran ke arah Lintang kemudian berganti memandang Citra dengan penuh tanda tanya. Lintang sendiri bingung dengan keadaan dirinya, dengan apa yang sudah dilakukannya, dan dengan kekalutannya. Ia seperti sedang bermimpi, namun semua ini nyata adanya. Dan sekarang, seorang korban telah berdiri tegak di depan Lintang untuk bersiap menuntut balas.

“Apa-apaan sih lu Pak? Main pukul aja tanpa alasan !!!” Bentak si mahasiswa bernama Sonny dengan berang sekaligus tengsin karena beberapa mahasiswa lain memperhatikan kejadian itu dari jauh.

Lintang hanya terdiam tanpa ada sepatah katapun terucap. Lidahnya seperti kelu, mulutnya terkunci. Hanya binar matanya yang masih menyiratkan sebuah amarah yang terbelenggu dalam ruang hampa dan terletak nun jauh di kotak berkelambu dalam dada Lintang, sebuah kotak tempat berkeluhnya. Sebuah kotak berkelambu yang disebut dengan sebongkah daging bernama hati.

“Hei…!!! ngomong….!!!” Bentak Sonny lagi dengan gusar dan penuh kekecewaan.

“Mas Lintang…ada apa mas??? kenapa mas???” Imbuh Citra dengan lembut namun sungguh menggetarkan hati sanubari Lintang yang dikala itu sedang kelam. Sekelam awan yang berarak mendung diatas sana.

Hati Lintang kembali pilu tatkala suara Citra kembali menyeruak dan mengalir di lubang telinganya. Menghempas keras menumbuk gendang telinganya. Lalu kemudian merasuk jauh…jauh hingga dasar samudera hati yang gelap tanpa cahaya.

“Pak…maunya apa? Hahh!!!” PRAKKK !!!!, satu hadiah bogem mentah Sonny mengarah tepat di tulang hidung Lintang akibat kegusaran Sonny yang sudah di ubun-ubun. Lintang terdorong tiga langkah kebelakang. Darah segar mengalir pelan menyusuri lubang hidungnya dan menjalar pelan hingga menyentuh bibir atas Lintang.

Citra terpekik. Ia begitu kaget dengan kejadian mendadak tersebut. Tanpa ada alasan dan juga tanpa ada ucapan sepatah katapun dari Lintang, namun begitu membuat takut Citra yang berhati lembut. Seketika Citra menangis demi menghadapi pertengkaran tanpa nama tersebut. Sonny hanya terdiam ditempatnya berdiri tanpa mengucapkan kata apa-apa. Terlintas dari sorot matanya menyiratkan kepuasan karena telah melakukan pembalasan atas perbuatan ‘gila’ Lintang.

“Sudah…!!!!…hikk..hiiiik” Citra berteriak dan menangis.

Dengan tatapan kosong, Lintang berusaha memperbaiki posisinya berdiri. Sedetik kemudian terlihat ia berjalan menjauh dan pergi tanpa mengucapkan apapun. Citra dan Sonny saling berpandangan penuh tanda tanya. Sepasang mata dibalik gedung kampus memandang dengan iba pada kejadian itu.

12039328_1035516346482515_1109285002610431914_n

450x100

Satu minggu setelah kejadian. Jam pembelajaran komputer kembali berjalan. Hingga hari itu, tak ada satupun obrolan antara Lintang dan Citra. Meski Citra berusaha mendekat dan mengajak berbicara Lintang, tetap tak ada tanggapan. Tetap saja mata Lintang kini telah berubah. Tatapan mata tanpa cinta, kosong, penuh kebencian…

Dalam hati Citra bertanya-tanya, apakah ada kesalahan Citra yang begitu membuat Lintang gelap mata?. Namun Citra seperti tak menemukan titik terang. Citra dibuat bingung sendiri oleh tingkah aneh Lintang.

Hari itu Lintang pulang dengan wajah kuyu dan lesu. Tak ada gairah dan api semangat di matanya. Semuanya terlihat hampa. Setelah menyalakan mobil Katana kesayangannya, Lintang segera meluncur meninggalkan kampus ungu. Tiba di kosannya, Lintang lantas menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tanpa melepas sepatu maupun berganti pakaian. Tak terasa airmatanya mengalir. Bukan airmata cengeng, melainkan airmata duka yang begitu dalam dan berat tak terhingga.

……………………..
Apa dan apa…
Pikiran dan hatiku berkutat pada kata ‘apa’,
Apa yang kujalani?
Apa yang kurindui?
Apa dan apa ku tak tahu lagi.

Gelisah menggelepar di sisi tiang pancang gantungan,
Rinduku meradang,
kisahku malang,
binarku gersang.

Bisik nuraniku sudah tak bekerja lagi,
Teriakan hatiku telah mati,
jiwa bengisku lahir kini,
mengikis perih menjadi pilu,
menghunus kasih menjadi sendu,

Jiwaku kosong,
Berjalang sempoyong,
memapah keranda cinta,
mengubur rasa…
…………………………………………….

Bunyi tuts keypad HP Lintang bersahutan, berbait-bait puisi luka ia torehkan di notepad HP nya. Kepedihan yang dirasakannya seperti telah menguap dan pergi seiring dengan tertulisnya bait demi bait puisi curahan jerit hati. Lama matanya nanar memandang kesekeliling ruangan kamarnya tanpa ada gairah. Perut lapar yang sedari pagi belum terisi tak diacuhkan pula oleh Lintang. Nyala api jiwanya seperti telah padam, sirna, dan tenggelam di dasar laut terdalam yang gelap, kelam, dan nista.

TOKK..TOK.TOOKK !!!
Suara Pintu kamar Lintang diketuk seseorang dari luar sana. Lintang berdiri, dengan langkah gontai ia putar gagang pintu.

“Mas Lintang…mas….perbolehkan aku masuk..!!!” Suara lembut seorang cewek yang pernah menggetarkan jiwa Lintang tiba-tiba menyeruak di ruangan kamar Lintang. Citra telah berdiri dengan cemas dihadapan Lintang, di ambang pintu kamar Lintang.

Lintang hanya berdiri tanpa suara. Langkahnya berputar dan kembali ia menuju tempat tidur tanpa memperdulikan kehadiran Citra. Citra segera menyusul Lintang dan menutup pintu kamar Lintang. Sesaat kemudian terlihat Citra duduk di tempat tidur, sekitar satu meter disamping Lintang yang juga duduk dengan tertunduk. Mata Lintang masih kosong menatap silang silih garis ubin yang sedari dulu memang sudah bergaris seperti itu.

“Mas…mas…Mas Lintang ada apa sih…??? cerita ke Citra dong..!!” Ucap Citra membuka pembicaraan. Namun Lintang tetap saja diam, diam dan diam tanpa suara.

“Mas…ngomongg dong !!!”

“Mas…!!!”

“Uhh Mas Lintang kok gitu sih…”

“Citra sudah capek-capek naik taksi ngejar mobil mas sampai kesini…eh disuguhin sama DIEM doang !!”

“Ayo dong mas…”

“Mas…Mas Lintangg !!!”

“Ma……..”

Suara Citra yang terakhir tak berlanjut karena dengan cepat tiba-tiba Lintang merengkuh tubuh Citra dan dengan kasar memaksa Citra untuk rebah di tempat tidur. Citra panik, namun keadaan telah membelenggu Citra dengan ketidak berdayaan. Dengan mudah Lintang merebahkan Citra dan sekejab kemudian Lintang telah berada di atas tubuh Citra.

Citra terus saja meronta dan mencoba melepaskan diri dari terkaman Lintang namun semakin ia meronta, semakin erat pula himpitan yang diberikan Lintang. Dengan kasar, Lintang memaksa mencium bibir Citra. Citra tak bergeming, mulutnya terkatup rapat. Namun tangan kiri Lintang beranjak membantu dan memaksa menekan rahang Citra untuk membuka. Akhirnya dengan kaku Lintang berhasil mengulum dan melumat wanita cantik yang sedang ada dalam kekuasaannya.

11071525_1041157645918385_5101277754689941992_n

dc3dd0c0e669229c7e7f23d3cd5d87ac

“Ehmm Mas…jangan…!!!” Citra berteriak demikian panik diantara ronjokan lidah Lintang yang berusaha terus menyodok relung bibir Citra. Citra semakin gelagapan dan hilang nafas akibat perbuatan paksa Lintang.

“Ufhh…jang…ngan..” Terus saja Citra meminta Lintang untuk menghentikan aksi gilanya. Namun Lintang seperti sudah gelap mata.

Pada satu kesempatan, kaki Citra berhasil menekan mundur perut Lintang yang sedang menindihnya. Kesempatan itu dimanfaatkan Citra untuk segera bangun dan beringsut menghindar. Tapi kekuatan Lintang lebih cepat, kembali ia menindih dan menghimpit sehingga Citra yang sudah hampir bangun menjadi terhempas kembali ke tempat tidur dengan keras.

“Aduuhh Mas kok begini sih hiikks hikk” Citra mengaduh kesakitan saat kepalanya berasa seperti terpelanting ke kasur. Tangisan mulai terdengar lirih di sela bibir Citra yang mungil.

Dengan kasar Lintang memaksa membuka kaos yang dipakai Citra. Tak berhenti di situ saja, celana jeans yang melekat seksi di kaki jenjang Citra ditarik paksa oleh Lintang agar terlepas. Kini Citra hanya terlihat mengenakan Bra dan CD yang sangat minim dan tak cukup sempurna menutupi bagian-bagian menarik di tubuh indah Citra.

Buah dada yang mancung terbungkus Bra warna coklat tua sungguh terlihat menggemaskan dan pantang untuk tidak dicoba kekenyalannya. CD mini berwarna putih dibagian bawah tubuh Citra yang membungkus ketat bagian Vegs intimnya terlihat sangat kurang bisa menutupi bagian mahkota kewanitaan Citra. Beberapa bulu pubis tipis menyembul nakal di sisi samping kanan dan kiri CD nya. Tubuh yang putih dan bulatan buah pantat yang menggoda menambah keindahan tubuh semi bugil Citra.

Citra berusaha menutup kedua pakaian terakhirnya dengan tangan dan lengan. Namun tentu saja tak membuahkan hasil, bahkan hanya membuat Lintang semakin kalap karena ketidak patuhan Citra padanya.

“Jangan mas…jangan diteruskan…ampuunnn !!! hikkss huaaa” Citra berteriak dan menangis memohon agar Lintang melepaskannya. Lintang hanya menoleh sesaat dan kemudian kembali melanjutkan serangan demi serangan brutalnya.

Tak bertahan lama, akhirnya terlepaslah penutup buah dada Citra dengan satu tarikan pada kaitan bra Citra yang terletak di depan dadanya. Dengan satu tarikan panjang pula Lintang mampu menarik paksa CD Citra hingga terbetot lepas dengan cepat dan tanpa sopan dari kaki Citra yang mulus.

Demi melihat tubuh molek Citra, Lintang bergidik menggila. Dengan posisi masih menindih tubuh Citra, Lintang melepaskan satu persatu pakaiannya sendiri. Sekejab Lintang telah bugil dengan sempurna. Batang Pens nya yang sudah berdiri mengeras terihat berkilat bagian kepalanya akibat lelehan pelumas yang sepertinya sudah beberapa kali mengucur keluar karena begitu tergiurnya mata Lintang pada lekuk indah dan seksi dari tubuh Citra.

Posisi Lintang yang sedikit condong kedepan dalam menghimpit tubuh Citra membuat Pens Lintang menekan bagian perut Citra. Citra begitu terkaget dibuatnya. Ia sangat kalut. Ia tak tahu lagi apakah yang akan dilakukannya setelah ini. Apakah ia harus terus meronta tanpa daya?. Ataukah ia pasrah saja menerima ini semua?, toh ini juga permainan nikmat yang disukai orang dewasa manapun. Dan lagi Citra juga sudah tidak perawan lagi akibat persetubuhannya dengan mantan pacar kala SMA dahulu. Pikiran Citra terus berkecamuk antara berlaku menolak perbuatan Lintang dan menerima kenikmatan yang diberikan Lintang. Pikiran Citra sudah demikian kusut untuk bisa menentukan pilihan. Ia hanya bisa terombang-ambing terhempas dalam ketidak kuasaan diri.

Lintang dengan kasar dan keras meremas bagian buah dada Citra. Citra hanya mengaduh menerima perlakuan kasar Lintang. Perlakuan yang sama sekali jauh dari kata lembut, mesra, dan geli. Semuanya begitu terasa menyiksa bagi Citra. Meski dari dalam lubuk hatinya terasa sebuah getaran aneh yang seakan meluluskan setiap tindakan kasar Lintang kepadanya. Ia merasakan sebuah sensasi langka, unik, berdesir, namun juga menyakitkan.

Lintang sudah seperti harimau lapar yang siap menerkam mangsanya yang tak berdaya. Ia telah lupa pada cita-cita dan lamunannya untuk memperistri dan menggauli Citra dengan lembut. Angan-angan untuk memiliki rumah tangga dan anak bersama Citra seperti telah ditelan gulungan ombak keruh dan sirna tanpa bekas.

“Jangannnn !!!” Citra meronta tiada henti meski upaya apapun tak akan membantunya terselamatkan dari terkaman harimau bernama Lintang Timur.

16 - 1

150x300

Meski Citra kini telah ‘sedikit’ terbiasa dan ‘sedikit’ pula menikmati perlakuan aneh Lintang kepadanya, namun akal sehat Citra lebih berkuasa menumbuhkan hasrat untuk membela harkatnya sebagai wanita. Ia juga sangat tidak menginginkan Lintang berubah seperti ini. Lintang yang sekarang bukan seperti Lintang smart dan lembut yang dikenal Citra. Lintang yang sekarang adalah Lintang yang seperti kerasukan Jin harimau dari gunung merapi yang dijaga mak lampir. Begitu gahar, beringas, dan tak mengenal kebaikan sedikitpun.

Perlahan terlihat Lintang beringsut maju. Nampak Lintang menyodorkan batang Pens nya ke arah mulut Citra seakan sedang menyuapi seorang bayi dengan sebuah pisang raja yang besar mengenyangkan. Citra mendelik super kaget dibuatnya. Namun sisa-sisa kesadarannya mampu menumbuk otak dan pemikirannya untuk melakukan sebuah rencana jitu demi untuk melumpuhkan kebuasan sang harimau dari merapi.

Dengan patuh Citra membuka mulutnya seakan siap sedia menerima persetubuhan antara batang Pens Lintang dan rongga mulutnya. Perlahan namun pasti batang Pens Lintang yang kekar berurat menerobos menyusuri milimeter demi milimeter rongga mulut Citra. Nafas Citra tertahan, jantungnya berdegup dengan kencang. Perasaan takutnya demikian besar meyeruak dan berulang kali seperti sedang menekan-nekan tombol sirine tanda bahaya. Namun hati Citra berusaha sekuat mungkin untuk tidak goyah. Dengan berani dan penuh semangat ia terima ronjokan batang Pens Lintang.

Satu…Dua…Tiga tusukan Pens ke mulut Citra berhasil berjalan dengan mulus dibalik empotan bibir dan lidah Citra. Jujur sebenarnya Citra mulai menyukai tugas barunya itu. Namun Rencana besar tengah ia siapkan demi untuk menyadarkan seorang Lintang. Rencana apaan sih ???.

Masuk pada tusukan ke 4, Dengan cepat Citra MENGGIGIT sekuat-kuatnya batang nikmat Lintang. Meski diakui Citra tak menggigit terlalu keras seperti hendak memutuskan batang tersebut. Namun tindakan cepat dan meyakitkan itu sontak membuat Lintang kaget dan menjerit bukan kepalang.

“Addduhhh !!!!” Lintang melengking dengan keras dan kencang merasakan siksaan pada bagian tengah batang jantannya. Ini adalah ucapan pertama yang keluar dari mulut Lintang terhadap Citra setelah terakhir Citra ngobrol dengan Lintang sekitar seminggu yang lalu sebelum terjadi peristiwa pemukulan itu.

Seketika terlihat Lintang melompat turun dari tempat tidur dan beringsut ke pojok kamar. Sejurus kemudian terlihat ia berjongkok dan memegangi batangnya yang dirasa sangat sakit. Awalnya Citra merasakan takut yang luar biasa, ia takut jika Lintang semakin marah dan tak terkontrol yang kemudian berlaku sadis kepadanya akibat perlakuan ‘menggigit’ Citra.

Suasana menjadi hening seketika. Sesekali hanya terdengar suara lirih Lintang yang mengaduh menahan rasa sakit yang sepertinya belum juga hilang.

“Mas…sadarlah mass…Mas Lintanggg !!!” Citra berteriak galau kepada Lintang dengan mengerahkan sisa-sisa keberaniannya.

Lintang mengangkat mukanya dengan lemah. Ia pandang wajah Citra lekat-lekat. Citra diam menunggu reaksi yang dilakukan Lintang. Beberapa detik kemudian, Lintang terlihat tersedu. Bukan karena rasa sakit amat sangat yang menderanya, namun lebih pada bentuk bukti penyesalan yang dalam karena perbuatan bejatnya. Isak tangisnya begitu membuat hati Citra teriris. Isak tangis penuh kepiluan dan kedukaan yang sangat mendalam.

“Kenapa mas berlaku seperti ini mas??…Kenapa???” Sambung Citra mengisi diam diantara mereka.

Suasana kembali hening kembali tanpa ada ucapan jawaban dari Lintang. Senyap, hanya terdengar dengus dan isak Lintang yang seperti ditahannya. Suara kipas angin yang terus berputar dan telah menjadi saksi bisu kejadian itu mengiringi isak Lintang.

Semuanya diam dan saling menunggu. Lintang masih berjongkok di sudut ruangan. Citra juga masih terpekur membisu di atas ranjang Lintang. Ia telah lupa bahwa ia masih dalam keadaan bugil. Namun gejolak perubahan Lintang yang di inginkan Citra mengalahkan rasa malu akan ketelanjangan Citra.

“Aku….aa..aku…Cinta sama kamu…!!!” Ucapan Lintang terbata memecahkan keheningan dan mengagetkan Citra.

“Aku cemburu dengan….Sonny yang kupukul itu…Maaf…!!!” Lanjut Lintang lagi dan semakin membuat kaget Citra yang menampakkan wajah heran plus bingung tujuh turunan.

Seorang lelaki yang sedang dirundung cinta kadangkala berubah menjadi irasional dan lebih meningkat sensitifitas dalam jiwanya. Kadangkala sensitifitas itu akan semakin berlipat ganda jika dilumuri oleh duka dan sakit hati yang mendalam. Tak terkecuali pada apa yang telah dirasakan Lintang. Bukan ia gila, bukan pula ia posesif atau pencemburu akut, tapi ini adalah murni bersitan reflek jiwa yang terkadang hadir membawa kalut tak berujung tanpa bisa menemukan jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya. Ini bisa saja terjadi pada siapapun meski dalam kadar dan prosentase sensitifitas yang berbeda-beda.

1420-2

300x250

“Citra, Lihatlah aku disini…melawan getirnya takdirku sendiri…tanpamu…aku lemah dan tiada berarti…!!!” Lanjut Lintang dengan menirukan potongan syair lagu Naff yang sangat dalam dan menyentuh.

“Mas Lintang…dengerin aku mas…tatap mataku !! aku tak ada hubungan cinta dengan Sonny, malahan dia itu adalah anak tanteku mas…tapi….sebenarnya jujur…aku sudah punya tunangan di kotaku sana yang kata Rika disebut ndeso atau udik itu !!….sebentar mas jangan kaget dulu….sebenarnya aku juga menaruh simpatik pada sosok mas Lintang…terus terang aku ga bisa menjanjikan ikatan hubungan apa-apa sama mas untuk saat ini, Meski begitu…aku mau kok mas jalan bareng sama mas di sini !!…toh tunanganku juga jauh disana…tapi sekali lagi plisss…jangan menganggap aku memanfaatkan mas atau menduakan mas…aku hanya ingin murni bisa menjalani kisah bersama mas meski tanpa ikatan…roda itu bulat dan bisa berputar mas…mas mau kan???” Ungkap Citra dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling.

Lintang hanya diam dan memandang wajah cantik Citra lekat-lekat. Tak ada lagi ucapan yang keluar dari bibirnya. Anggukan kepalanya mewakili semua perkataan yang tak mampu lagi terlontar dari bibirnya. Matanya masih berkaca-kaca. Kisah cintanya telah menemukan labuhan meski tak sepenuhnya memuaskan kejiwaannya. Namun yang pasti, hal itu sedikit banyak telah menyelamatkan keterpurukan dan kekelaman hati Lintang yang awalnya sudah tak berpayungkan keteduhan.

Perlahan Citra bangkit, ia kenakan kembali pakaiannya. Tak lupa, onggokan pakaian Lintang yang tergeletak di lantai ia angsurkan ke arah Lintang untuk juga dikenakan. Beberapa saat mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing dalam berbenah pakaian. Kesakitan yang diderita Lintang sepertinya telah berangsur-angsur membaik. Untunglah tak ada luka disana. Sekilas Citra melihat guratan bekas giginya membentuk alur cekung di pertengahan batang Pens Lintang.

Citra beringsut maju ke arah Lintang. Dengan penuh perasaan ia rengkuh tubuh kekar dihadapannya. Mereka saling berpelukan hangat. Isak tangis Citra kembali berderai membunuh keheningan di ruangan kamar Lintang. Sedangkan Lintang, ia masih sulit berkata-kata. Kenyataan yang baru saja ia dapatkan dan ia hadapi begitu cepat melintas dan membuatnya begitu shock. Namun keadaan Lintang sudah jauh lebih baik sekarang. Ketenangan wajah Lintang yang seminggu ini telah hilang, kini telah kembali. Senyum tipis menghiasi bibirnya meski guratan keletihan dan kesedihan masih belum sepenuhnya sirna dari keningnya. Berkali-kali ia lepas dan pakai kembali kacamata minusnya hanya untuk menyeka lelehan airmata yang sudah hampir surut.

“Terimakasih banyak Citra…aku tak tahu lagi harus ngomong apa…setelah ini tolong kamu pulang dulu ya…aku butuh waktu sebentar untuk sendiri !!!” Ucap Lintang dengan pelan.

Citra Memeluk Lintang dengan erat. Sebentar kemudian ia kecup pipi lelaki gagah itu dengan cepat dan kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar Lintang dengan sebelumnya melambaikan tangan halusnya kearah Lintang. Tubuh indah Citra hilang dibalik pintu kamar Lintang diiringi tatapan mata Lintang yang terus mengikuti langkah Citra.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
……………………………………..
Waktu terus berlalu
Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan
Masih teringat jelas
Senyum terakhir yang kau beri untukku
Tak pernah ku mencoba
Dan tak ingin ku mengisi hati ku dengan cinta yang lain
Kan kubiarkan ruang hampa didalam hidupku

Bila aku harus mencintai dan berbagi hati itu hanya denganmu,
Namun bila kuharus tanpamu,
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta

Hanya dirimu yang pernah tenangkanku
Dalam pelukmu saat ku menangis
…………………………………….

Lintang menyalakan tape componya dan memutar sebuah lagu berjudul : Rahasia Hati yang dipopulerkan oleh grup band Element. Bait demi bait syair pada lagu itu ia resapi dalam keheningan jiwa. Sayup laksana burung-burung mulai bernyanyi kembali dalam lubuk hati Lintang yang gersang dan kosong. Dedaunan hijau yang rindang mulai kembali bersemi di pematang jiwanya. Angin sepoi sejuk membelah puing-puing keretakan jiwa dan mengeras disana membentuk tebing dinding kelambu jiwa baru yang bersih dan bercahaya.

TOKK TOKK TOK !!!

Pintu kamar Lintang kembali terdengar diketuk dari luar. Dengan berat hati kembali Lintang berjalan menuju pintu.

“Aden….!!!” Seorang kakek-kakek sekitar berumur 73,5 tahun muncul diambang pintu kamar Lintang.

“Oh kakek…silahkan kek masuk…maaf berantakan…” Ucap Lintang begitu tahu siapa yang menjadi tamunya kali itu. Sang kakek adalah induk semang atau istilah lainnya adalah bapak kos Lintang. Bapak tua itu adalah pemilik tunggal rumah kos Lintang. Ketiga anaknya telah berkeluarga dan tinggal diluar kota. Hari-hari sang kakek hanya di isi dengan kesibukan mengurus kosan miliknya.

“Aden…tadi saya lihat teman cewekmu itu kok pulang sambil menangis…ada apa aden ??? cerita sama kakek saja….kamu sudah kakek anggap seperti cucu kakek sendiri !!!” Lanjut sang kakek bernama Kakek Seno itu setelah duduk di kursi yang berada di depan meja belajar Lintang.

“Hehehe…iya kek…Lintang sedang menghadapi masalah percintaan…biasalah kek…sedang sibuk-sibuknya mencari pendamping hidup…” Jawab Lintang dengan senyum ramahnya.

“Ceritanya begini kek….Lintang jatuh cinta pada salah satu mahasiswi di Kampus tempat Lintang bekerja part time…..” Lanjut Lintang namun segera dipotong oleh sang kakek dengan tiba-tiba.

“Sik…sik..sik….prat apa itu tadi…prat tem kuwi opooo???…itu apa den…??? kakek orang kuno…jangan diajak bicara pakai bahasa planet macam itu tohh!!!” Cerocos kakek Seno dengan menggaruk-garuk kepala.

“Hehe…iya kek maaf…jadi begini kek…Lintang jatuh cinta sama seorang mahasiswi di kampus tempat Lintang bekerja sambilan….Nah cewek itu ternyata sudah memiliki tunangan kek…tapi dia sebenarnya juga menaruh simpatik ke saya…jadi akhirnya tadi kita sepakat untuk…ya katakanlah pacaran…meski tanpa ada simbol ikatan cinta….bisa dibilang kalau si cewek yang Lintang taksir ini mendua bersama Lintang kek…!!…terus terang lintang cemburu dan iri bila melihat cewek yang Lintang cintai dekat atau bahkan milik orang lain kek…ya…namanya cinta buta kek…!!!” Ungkap Lintang dengan runtut dan tanpa menggunakan istilah kebarat-baratan lagi.

1420-7160x600

“Oalah begitu…!! Aden, coba dengarkan cerita kakek tentang kisah cinta dalam pewayangan ini…..Kamu tahu Arjuna kan den??? Dia memang ganteng, gagah, ehhhmm…istilah anak jaman sekarang itu keren dan fangki lah…..tapi kelemahan seorang Arjuna adalah memiliki sifat iri. Pada suatu cerita, dikisahkan bahwa Arjuna iri terhadap kemampuan memanah Ekalaya. Bahkan juga iri terhadap Ekalaya yang beristri cantik jelita dan setia bernama Dewi Anggraeni. Namun keiriannya ini berakibat fatal den…Ibu jari Ekalaya menjadi putus dan tak bisa digunakan untuk memanah lagi gara-gara pertikaian dengan Arjuna….Selain itu, Arjuna juga dikenal sebagai lelaki Thukmis…tahu apa itu thukmis???….bukan gethuk manis lho ya…!!! Thukmis itu sifat suka lirak-lirik dan PDKT….setiap melihat ada cewek cling sedikit langsung saja disambar…Sok ganteng…sok gagah….!!!. Jadi den, pesan kakek….janganlah kamu tiru tabiat buruk Arjuna…bolehlah kamu sama nggantengnya seperti Arjuna…tapi biarkanlah kekasih barumu itu dekat sama lelaki mana saja termasuk dengan tunangannya…jangan kau iri melihatnya….wanita sejagad erat ini masih buanyuak denn !!!….Mau model apa saja aden bisa pilih sesuka hati…belajarlah untuk memiliki jiwa besar!!” Kakek Seno berpetuah dengan bijak. Suaranya terdengar telah renta, namun tarikan nafas dan tekanan suara yang berat sungguh membuat Lintang tertunduk seperti kerbau ditusuk hidungnya.

Lintang sadar. Semua yang telah dilakukannya semata hanyalah ulah nurani dan pikiran Lintang yang terkungkung dalam sebuah kerajaan Egosentris. Tak memiliki empati, simpati, atau juga tepo sliro. Lintang hanya mengejar keinginannya tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Baginya, apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan. Sifat iri dan cemburu yang mengharu biru telah membutakan mata hati dan jiwa Lintang. Namun dalam hati Lintang masih cukup berat untuk meninggalkan Citra. Baru saja ia hendak merangkai kisah indah bersama Citra. Apakah harus ia gugurkan niatan itu?.

“Terimakasih kek….Lintang menjadi paham…” Sambut Lintang setelah kakek Seno mengakhiri ceritanya.

“Tapi….saya belum siap untuk meninggalkan Citra kek…saya akan tetap menjalani ini sambil terus berpikir untuk menemukan jalan keluar yang tercipta dari alam pikir dan jiwa saya sendiri…bukan karena dorongan dari orang lain…!!!” Lanjut Lintang namun hanya membatin dalam hati tanpa mengucapkannya secara verbal kepada kakek Seno.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Satu bulan telah berlalu. Kedekatan antara Lintang dan Citra tetap terjalin hangat-hangat kuku. Keceriaan Lintang telah kembali pulih seperti sedia kala. Tak ada lagi noda derita yang mengotori lubuk hatinya. Bunga-bunga dimana -mana…

Siang hari ketika pembelajaran komputer telah selesai, Lintang segera melakukan kontrol pada setiap komputer. Setelah dirasa semuanya beres, Lintang segera men-shut down setiap komputer dan bersiap untuk segera pulang. Suasana sudah lengang saat Lintang melangkahkan kaki menuju tempat parkir mobilnya. Saat melewati ruang klinik kesehatan sempat ia sapa nona Sonya si penjaga gawang klinik. Nampak ia sedang sendirian mengisi shift dua siang itu. Lambaian tangan dan senyum manis nona Sonya mengiringi langkah ringan Lintang yang terus berlalu menuju mobilnya. Sebagian besar mahasiswa telah pulang. Di kejauhan hanya terlihat kelompok Mapala (Mahasiswa pecinta alam) yang sedang asyik berlatih panjat tebing dan bermain flying fox.

Tiba disamping pintu mobil, Lintang dikejutkan dengan tarikan sebuah tangan kekar di bahu kanannya. Saat Lintang berbalik, terlihat empat orang berbadan gelap kekar dan berpakaian lusuh berdiri bengis memandang Lintang dengan jarak tak kurang dari dua meter.

“Ada apa ya mas???” tanya Lintang sopan pada ke empat pria sangar tersebut. Seorang sangar terlihat tengah memukul-mukulkan sebilah kayu berukuran sedang ke telapak tangannya yang lain. Satu orang lainnya sibuk memutar-mutar sebuah rantai besar seukuran ikat pinggang.

Tanpa mengucapkan satu katapun, ke empat pria aneh tersebut menghambur ke arah Lintang dengan ganas. Demi melihat gelagat kurang baik, Lintang segera memasang kuda-kuda. Salah satu dari ke empat pria tersebut melesakkan satu pukulan keras ke arah rahang Lintang, dengan gesit Lintang menghindar dan beringsut kesamping kanan. Disamping kanannya telah menunggu satu orang lagi yang dengan cepat menyabetkan kayu yang dipegangnya ke arah Lintang. Dengan gerakan martial art yang pernah ia pelajari sejak SD hingga SMP, Lintang sekali lagi menghindar. Satu hentakan kakinya segera melayang mematahkan serangan kibas kayu. Kayu tersebut pun terpelanting ke tanah dengan keras. Tanpa membuang waktu, Lintang secepat kilat menendang jauh kayu tersebut. Namun malang bagi Lintang, meski ia cukup berpengalaman dan berbakat dalam kemampuan beladiri, tetap saja ia bukanlah Iko Uwais sang maestro martial art atau di Indonesia di sebut dengan silat. Saat Lintang sibuk mengurus kegiatan si tukang kayu, dari arah belakangnya terlontar sebuah pukulan rantai yang secara telak menghantam pelipisnya hingga lebam dan memar. Lintang tersungkur, sekonyong-konyong ke empat pria tak berprikemanusiaan itu mengerubuti Lintang dan menghujamkan belasan tendangan ke sekujur badan Lintang. Na’as dialami Lintang, sebuah sepatu bertepian tajam milik salah satu pria biadab itu menggores lengan dan pahanya. Darah bercucuran membasahi baju dan celana Lintang.

“Heiii…apa yang kalian lakukan ???!!! Saya panggilkan security kalian !!!” Sebuah suara cewek yang lembut terlontar dari kejauhan. Nampak nona Sonya berlari-lari kecil kearah Lintang. Sontak pria-pria jahanam tersebut bubar dan lari tak tentu arah. Lintang hanya bisa meringis dalam posisi masih tersungkur di atas tanah. Sekelebat terlihat wajah Sonny di ujung tempat parkir tersenyum sinis dan mengisyaratkan jari tengahnya ke arah Lintang sebelum kemudian pergi menghilang dibalik rerimbunan gedung kampus ungu yang menjulang dan saling berhimpit satu sama lain.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Lalu bagaimana ?

Apakah begini ?

Ataukah begitu ?

Silahkan ditunggu…

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s