METAMORFOSIS DAN POHON PALEM #1

EZ0A9841-kiicBRUAKK…(Suara meja di pukul keras)

“Apa-apaan sih Rika ??, mau kamu tuh apa?…ini permen karet pasti kamu yang pasang!!!” Suara Citra melengking dan begitu terdengar panas ditelinga. Suara 7 oktaf di atas nada dasar itu sangat melengking mirip vokalis stillheart saat menyanyikan lagu she’s gone.

“Ih kamseupay…biasa aja kalee Citt…heboh amat sih lu udikk…lu orang mikir sana dulu di WC baru ngomong !!..ngapain juga gue ngejahilin lu…najis ahh !!” Jawab lawan bicara Citra yang bernama Rika dengan nada sombong, congkak, dan penuh keangkuhan yang tiada tara.

Memang teriakan Citra itu bukan tiada alasan. Baru 5 menit yang lalu kursi duduknya ditempelin ranjau permen karet oleh Rika. Dan berita buruknya, Citra dengan sukses terkena ranjau itu sehingga membuat celana katun warna creamnya lengket. Nyata sekali nampaknya noda itu menghinggapi bagian pantat celana Citra, menodai keseksian pantat Citra yang sebelumnya terlihat padat menggoda apalagi dengan dipadu kain katun warna cream yang membuat bagian bumpernya itu terlihat bersih menggiurkan.

Rika and the gank memang terbiasa memanggil nama Citra bukan seperti yang tercetak di KTP Citra, tapi mereka lebih senang memanggil Citra dengan sebutan CITT. Mereka memberikan julukan itu dengan mengartikan bahwa CIT adalah CITRA dan T yang terakhir adalah TENGIK sehingga jika digabungkan menjadi CITRA TENGIK. Sungguh julukan yang sangat tidak manusiawi.

Di kampus, Rika and the gank terkenal sebagai biang onar dan murni kaum jahiliyah (suka jahil). Kemana dan dimanapun Rika berada, pasti keributan akan timbul disana. Nama Rika sudah cukup terkenal di seputar kampus. Kecantikannya dan ‘Kebrengsekan’ nya membuat ia laksana bintang di setiap obrolan warga kampus. Dua Lusin Kaum Adam yang pernah naksir kecantikannya, satu persatu mundur teratur setelah akhirnya merasakan mual dan berbagai efek samping lainnya saat melihat kejahilan, keusilan, keributan, keonaran, dan keangkuhan Rika.

EZ0A9840kiic

150x300

“Hei…cewek usil…jelas-jelas lu yang tukang bikin jebakan…masih nyangkal juga !” Teriak seorang cowok kepada Rika setelah melihat pertikaian mulut antara Citra dan Rika.

“Yee…penggemar Citt ngebelain tuh…hihihi…iihh ganteng-ganteng kok mau ya sama Citt yang ndeso itu hihihihi…” Sambut Rika dengan tertawa geli.

“Hehh…kalo ngomong dijaga dong…kamu sukanya bikin gosip murahan tau ga ??!!!” Bentak Citra dengan tangan terkepal dan penuh amarah.

“Upss…maaf tuan putri udik…maaf….hahahaha…!!!” Jawab Rika dengan menghina dan kemudian ngacir pergi meninggalkan Citra dan Si Cowok “pembela’ yang masih dirundung kekesalan akibat ulah Rika.

>>>>>>>>>>>
Bingung ?
Dibaca lagi aja yukk…

Seorang laki-laki bernama Lintang Timur adalah seorang dosen serabutan alias honorer di Kampus Ungu. Ia mengajar pelajaran tambahan komputer secara part time. Pelajaran komputer memang tidak menjadi mata kuliah di kampus ungu, UTS ataupun UAS juga tidak ada di pelajaran komputer. Namun, pihak kampus memberikan keleluasaan sebesar-besarnya pada para mahasiswa dan mahasiswinya untuk belajar komputer meski tak ada satupun jurusan tentang komputer disana. Perkembangan teknologi yang semakin maju menuntut setiap manusia di bumi ini untuk mengenal komputer. Oleh karena itulah, setiap siapa saja di kampus ungu tersebut diperbolehkan mempelajari komputer dengan terlebih dahulu mendaftar sebagai peserta pelajaran agar jadwal pembelajaran bisa disusun dengan rapi.

Kembali pada sosok Lintang Timur. Usianya belum tua, baru memasuki usia 26 tahun pada Februari 2012 kemarin. Orangnya smart dan telaten. Meski demikian, dandanannya tidak lantas kucel dan tidak pula berwajah wajah kutu buku banget. Ahli komputer ini terlihat sangat fleksibel dan santai. Wajah yang lumayan membuat cewek terkiwir-kiwir, pakaian yang selalu terlihat santai namun sopan, dilengkapi dengan potongan rambut cepak dan sebuah kacamata minus yang nangkring di hidungnya yang mancung membuat cowok yang satu ini terlihat begitu bersinar di usianya yang cukup dewasa. Cowok inilah yang telah menjadi ‘pembela’ Citra.

“Udah…biarin aja…cewek aneh macam itu ga perlu dipikirin…yang waras yang mengalah ya…” Ucap Lintang pada Citra yang masih saja memanyunkan bibirnya yang mungil imut hingga tujuh kilometer.

“Nyebelin banget tuh anak…huhh..!” Balas Citra dengan kesal.

“Tenanglah Citra…aku akan selalu menjagamu..” Batin Lintang dengan memandang lekat-lekat wajah cantik putih yang ada dihadapannya.

Sejak tiga bulan yang lalu saat pertama kali Lintang menginjakkan kaki di kampus ungu, wajah Citra Ida Harun sudah demikian menyita perhatiannya. Wajah cantik, kulit putih mulus, hidung mancung, rambut hitam panjang laksana gadis sunsilk, bentuk dada yang menarik meski tidak terlalu besar, dan bongkahan buah pantat yang seksi saat sesekali terlihat waktu Citra memakai celana panjang ketat sungguh benar-benar membuat Lintang ‘kemecer’.

Lain sekali dengan Rika Ratih si tukang onar. Wajah jutek bin ngeselin selalu berpadu dengan tingkah laku yang cenderung negatif. Selalu saja ada keributan akibat tingkah laku Rika yang kelewat menyebalkan. Wajah Rika sebenarnya tak kalah cantik dibanding Citra. Namun sikap dan kelakuannya selalu saja ‘memaksa’ berbagai pejantan yang menyukainya menjadi berpindah haluan dan pergi.

EZ0A9858kiic
450x100Suatu hari di suatu siang. Udara segar menyeruak dan berhembus menyejukkan. Udara sejuk dan segar tersebut terus berputar-putar di sekeliling kampus ungu dan siap membius setiap tubuh yang rela menyumbangkan matanya untuk mengikuti kegiatan mengantuk ber-regu.

Tak terkecuali, kelas pembelajaran komputer yang siang itu sedang berlangsung dibawah asuhan lintang juga menerima serangan udara sejuk. Beberapa mata mahasiswa sudah mulai terlihat sayu dan siap terlelap.

JEPRETTT…
“Waduuhh…!!!” Teriak seorang mahasiswi bernama Dina. Awalnya ia sudah demikian terkantuk-kantuk di kursinya. Namun sebuah karet gelang yang menumbuk pipinya dengan keras membuatnya menjadi terkaget-kaget setengah mati.

“Hihihi…rasain lu tukang tidur…!!!” Ucap si pelaku penjepretan karet dengan pelan karena takut ketahuan Lintang yang sedang berdiri di muka kelas.

“Heiii…lagi-lagi kamu yah bikin onar…ga bisa diem apa?” Teriak seorang cewek yang ternyata adalah Citra dengan lantang karena merasa tidak terima atas perlakuan Rika terhadap Dina, sahabatnya.

“Aduhh Putri udik…ndeso…udah deh…ikut-ikutan nyamber kayak kompor aja lu ! Kampungan banget !!” Balas Rika dengan lantang pula.

“Apa kamu bilang ???” Citra terpancing dan berdiri karena marah.

“Ehh…apa-apaan ya kalian…ini jam belajar…!!!” Bentak Lintang setelah tahu keributan yang terjadi di kursi belakang.

“Pak Lintang yang terhormat…bagaimanakah menurut anda jika ada mahasiswi anda yang tidur saat pelajaran anda berlangsung???” Ucap Rika dengan mencibir.

“Sudah !!!….saya tidak mau tahu siapa yang salah dan siapa yang benar !! Rika…Kamu saya minta…DIAMM !! buat yang lain…silahkan cuci muka kalian bila mengantuk dan segera kembali kesini lagi !!” Hardik Lintang dengan emosi.

Pelajaran kembali berlangsung. Waktu pelajaran yang kurang 30 menit dirasakan Lintang sungguh begitu lama. Ia sudah tak terkonsentrasi lagi pada penyampaian materi. Penguasaan emosi bagi seorang Lintang Timur yang masih muda dalam dunia mengajar sungguh begitu sulit. Perasaan marah terhadap kelakuan Rika yang tidak menghargai jam pembelajarannya Lintang dan juga perasaan perhatian terhadap Citra sungguh sangat mengusik konsentrasi mengajarnya. Untuk menjadi pengajar yang baik memerlukan jam terbang yang tak sedikit.

>>>>>>>>>>>>>>>

Denting Piano
kala-jemari menari
nada merambat pelan
di kesunyian malam
saat datang rintik hujan
bersama sebuah bayang
yang pernah terlupakan

hati kecil berbisik
untuk kembali padanya
s’ribu kata menggoda
s’ribu sesal di depan mata
seperti menjelma
saat aku tertawa
kala memberimu dosa

ooo…maafkanlah
ooo…maafkanlah

reff: rasa sesal di dasar hati
diam tak mau pergi
haruskah aku lari dari
kenyataan ini
pernah kumencoba tuk sembunyi
namun senyummu
tetap mengikuti*

Alunan lagu Iwan Fals berjudul Denting Piano sayup terdengar dari tape compo Lintang yangg tergeletak di atas meja belajarnya. Lintang belum tidur, pikirannya melayang mencari jawaban dan cara merengkuh hati Citra yang sudah menyesakkan jiwanya. Semakin lama ia berpikir, semakin jauh khayalannya melayang tak tentu arah. Bahkan hingga ia berandai-andai jika Citra menjadi istrinya, melahirkan anak-anak mereka, dan setumpuk khayalan tingkat tinggi yang terus saja membumbung hingga serasa memenuhi seluruh ruangan kamarnya.

EZ0A9909kiic

450x100“Citra, kubuka seluruh pakaianmu ya…” Ucap Lintang lirih disamping telinga Citra sehingga terasa sangat menggelikan dan membuat bulu remang Citra berdiri.

“Lakukan mas…lakukan untukku…semuanya buat kamu mas…ahh” Bisik Citra dengan lembut diiringi desahan tertahan akibat nafsu yang kian meninggi.

Dengan lembut, Lintang melepas satu persatu penutup tubuh Citra yang masih tersisa. Sejurus kemudian telah terlihat tubuh polos Citra tanpa terbungkus apapun. Wajah Citra yang dihiasi senyuman penuh godaan membuat mata Lintang seakan melompat. Tubuhnya terlihat begitu indah menawan. Rambut panjangnya tergerai indah terbelah leher jenjang nan mulus. Rambut itu terus menjuntai menyusuri tepi kanan dan kiri leher Citra dan menggantung bebas didepan dada Citra seakan rambut itu mencumbui dan menikmati sendiri keindahan buad dada mancung dengan hiasan puting bulat mungil.

Perut rata dan langsing milik seorang pesenam aerobik terpampang di depan Lintang. Pinggul yang ramping terus beralur menurun dan kemudian menanjak membentuk belokan curam dan melekuk indah menjadi sepasang buah pantat yang sungguh membuat jantung berdebar. Tepat dibalik buah pantat yang menggetarkan jiwa tersebut, bertengger serumpun rerumputan perdu yang tertata rapi dan menarik. Rerumputan itu terus berjajar kebawah dan berpisah di sebuah ceruk yang menjorok kedalam. Disamping kanan dan kiri ceruk itu tersusun manis beberapa bongkahan kecil seperti daging yang seakan menari-nari dan memanggil Lintang untuk mendekat dan mendekat.

Lintang sudah tak sabar lagi. Dengan tergesa ia tanggalkan sendiri pakaian yang menutupi tubuhnya. Kini Lintang dan Citra sudah sama-sama bugil dan saling berhadapan satu sama lain. Dengan tergesa pula ia rengkuh tubuh mulus indah dihadapannya. Dikecupnya bibir mungil Citra dengan penuh nafsu meraja lela. Citra dibuat kelabakan dibuatnya. Nafas Citra memburu seakan berpacu dengan dengus nafas Lintang yang sekian waktu terus menghembus menembus kerongkongan Citra. Lidah saling bertaut, daun bibir saling memagut, kecipak air mulut yang saling berebut menghisap dan mengulum terdengar bagai irama lagu tanpa nada.

Kedua tangan dalam sokongan dua lengan kekar Lintang yang semula tergantung bebas kini mulai ‘berulah’ dibawah perintah sang otak. Kedua telapaknya menengadah. Kembang kempis kumpulan jemarinya mencari gugusan gunung mancung yang tidak terlalu besar itu namun sangat menarik dan indah dipandang mata. Tak lama berselang, kini kedua telapak tangan berikut kesepuluh jemari Lintang telah asyik bermain dengan dua barang kenyal yang lembut halus laksana puding yang sangat menggiurkan untuk di kunyah dan ditelan.

“Uhhhm…” Citra mendesah lirih dalam keadaan menikmati perlakuan manja pada bibir dan buah dadanya. Lintang semakin giat dan penuh ‘kerelaan’ mengumbar hasratnya merengkuh gayung demi gayung mutira kenikmatan bercinta yang semakin deras tercurah dari liuk tubuh, desahan, dan pelukan Citra yang semakin lama semakin panas.

Tak tahan merasakan semua rasa yang kian menyesak memenuhi alam pikirnya, Lintang segera membawa Citra pada sebuah kursi. Didudukkannya Citra dengan berhadapan di pangkuannya. Dimintanya Citra agak berdiri sejenak, diarahkannya sang batang Pens kelubang yang sudah siap dam menganga diatasnya. Suasana hening sejenak. Desahan Citra yang tadinya menyeruak sesaat sirna. Masing-masing sedaang sibuk saling membantu terlesakkannya si Pens ke sarang barunya. Setelah berusaha beberapa saat lamanya, akhirnya dengan sukses si Pens dapat tertelan sepenuhnya ke Vegs Citra.

“Uhh…hkk” Teriak Citra tercekat dikerongkongan saat merasakan Vegs nya berhasil menelan penuh batang Pens Lintang. Sesaat mereka terdiam sejenak meresapi suasana baru dan penuh perkenalan.

Lintang seketika mengangkat buah pantat Citra dan melepaskannya kembali berulang kali. Otomatis terjadilah peristiwa tusuk tarik yang menggetarkan jiwa.

“auhh auh..” Citra hanya menjerit tertahan setiap kali batang Lintang habis ditelan Vegs nya. Citra mendongak-dongakkan kepala semakin kebelakang setiap kali merasakan kenikmatan. Mendongaknya Citra membuat buah dadanya semain terlihat membusung menggoda tepat di depan hidung Lintang. Dengan buas Lintang menyambut buah dada itu dan mengenyotnya dengan penuh nafsu.

Tangan Citra meremas rambut dikepala Lintang dengan gemas. Ia acak-acak rambut Lintang sambil terus saja mulutnya mendesis dan merancau tak jelas. Terkadang terdengar suara Citra seperti menyebut nama Lintang namun kemudian hilang kembali ditelan raungan nikmat yang terlontar dari bibirnya yang mungil imut.

“Mass..Lin..tang…auhh sshh” Begitulag suara Citra setiap kali ia merasakan kenikmatan tak berujung yang terus dan terus saja menderanya tiada henti. Lintang pun tak tahu apakah Citra sudah mencapai orgasm nya atau belum. Atau bahkan sudah berulang kali mencapai orgasm, Lintang juga tak menyadarinya. Mereka berdua merasakan kenimtana yang amat sangat pada ‘perkenalan” perdana ini. Orgasm Citra belum menjadi perhatian yang serius bagi mereka. Bagi mereka, yang penting mereka terus saja mereguk dan mereguk apapun kenikmatan yang ada seakan tiada mau berhenti.

Kelelahan dan cucuran peluh tak menyurutkan nafsu mereka. Gerak tubuh dan ayunan pinggul seakan kompak seirama demi menggapai puncak yang sangat tinggi. Semakin di daki, puncak itu semakin meninggi dan terus meninggi. Seperti puncak yang tiada berujung. Kepuasan yang seakan tak pernah mau berhenti mencari titik balik.

EZ0A9912-2kiic

dc3dd0c0e669229c7e7f23d3cd5d87ac

Tiba-tiba Lintang merasakan kedutan dahsyat yang bergulung kian mendekat. Semakin Lintang menghindar, gulungan denyut itu semakin mengejar. Hingga akhirnya Lintang pun menyerah, tenaganya serasa telah habis untuk terus menghindar. Gulungan denyut itu menggempur tubuh Lintang dengan keras. Deras semburan terlontar dari sela Pens nya. Laksana lahar hangat bergulung datang dan meleleh memenuhi lubang Vegs Citra. Sebagian lagi mengalir di paha Lintang.

Lelehan itu terus saja mengalir membentuk anak sungai di paha Lintang dan semakin lama terasa seperti celana pendek Lintang basah…

Dan Lintang pun terbangun…

Huffhh…Ternyata yang dialami Lintang hanyalah mimpi. Lintang baru saja merasakan mimpi basah yang luar biasa. Khayalan dalam mimpi itu timbul setelah semalaman Lintang melamunkan Citra dengan segala keinginan yang belum bisa terpenuhi.

>>>>>>>>>>>>>>>>

Hari ini Lintang sudah bertekat untuk memberikan perhatian yang lebih pada Citra. Langkah kakinya dengan mantap dan yakin menyusuri lorong kampus ungu menuju lab komputer yang terletak diujung lorong.

“Rika…tahu Citra dimana gak?” Tanya Lintang pada Rika setelah tiba di tempat yang ia tuju namun tak menemukan sosok seorang Citra disana. Hanya ada Rika yang sibuk browsing dan membuka sebuah toko online di internet.

“Tau…!! Pulang kampung ke ndeso kalii…!!” Jawab Rika dengan asal.

“Ih kamu ya…ditanyai juga…huhh..!!!” Balas Lintang dengan cemberut kemudian segera berlalu keluar untuk melanjutkan mencari Citra.

Langkah yakin Lintang terhenti. Sekitar 10 meter dihadapannya tengah duduk seorang Citra bersama dengan seorang mahasiswa. Mereka terlihat begitu akrab. Sendau gurau mereka terdengar sangat asyik dan seru sekali. Sesekali nampak si cowok mencolek pinggang Citra seperti hendak menggelitik. Tangan Citra kemudian terlihat membalas perlakuan si cowok dengan memberikan hadiah cubitan di lengan.

Lintang tertegun. Matanya begitu tajam memandang kedua insan tersebut. Tatapan mata dingin sedingin es tergambar di balik kelopak mata Lintang. Hatinya berdesir-desir menyuarakan teriakan kepedihan yang tak cukup kuat untuk ia lontarkan melalui mulutnya yang masih terlihat terkunci dengan rapat tanpa mampu berucap. Sekejap pandangan dan rona muka Lintang berubah menjadi dingin dan datar. Tatapan mata tanpa cinta, kosong, penuh kebencian…

Lalu bagaimana ?

Apakah begini ?

Ataukah begitu ?

Silahkan ditunggu…

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s