MY DIARY [003] Herman dan Cintanya

12043045_589483467874897_6624129759713983522_nPenolakan cinta telah mengecewakanku, dan sudah merusak hidupku bahkan teman- temanku. Aku yang menjadi seorang perokok, peminum minuman keras, serta pecandu seks, juga telah menjerumuskan teman-teman ku ke jurang yang sama. Walaupun hidupku hanya hepi-hepi, tapi dalam lubuk hatiku masih tersimpan rasa marah, dengki, dendam, dan kesal. “Bos, tugas sudah diselesaikan, bayarannya besok saya tunggu di terminal”, aku menerima telepon dari preman yang ku bayar untuk mengerjai Alex, pesaing berat ku, juga orang yang telah berhasil merampas cintaku. Pikiranku sudah tidak panjang, aku hanya kepengen menghancurkan semua yang menghalangiku. Tapi aku tahu aku sudah terjerumus dalam dosa, dan hati ku terasa semakin tidak menyenangkan.

Aku masuk sekolah seperti biasanya, setelah kemarin bolos untuk berpesta di rumah teman demi berhepi-hepi melupakan beban ku. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah bersama Tono, teman baikku. Di sekolah, aku lihat Agnes, gadis yang kucintai masih tidak merasakan perubahanku. Aku memang telah mencintainya sejak kelas 1 smp, hingga kini sudah akhir semester di kelas 3, aku memupuskan harapan cinta ku. Aku hanya bisa kembali memandanginya dari jauh. Dia duduk di depan sedang berkonsentrasi mendengarkan pelajaran, sedangkan aku dari belakang memandangi cewek yang dulu pernah ku cintai ini, tetapi kini rasa cinta ku lebih kecil dibanding rasa kesal ku.

Pada jam istirahat tiba, aku belum sempat mengajaknya ke kantin seperti biasanya, melainkan dia yang menghampiriku. ‘PLAKKK’ tiba-tiba Agnes menampar pipi ku, aku kaget dan mendadak bangkit dari kursi ku. Belum sempat aku bertanya mengapa, Agnes langsung bertanya, “Herman! Kamu kan yang menyuruh orang memukuli Alex? Kenapa kamu tega begitu? Kamu tahu, Alex mengalami patah tulang rusuk? Dia harus diopname entah sampai berapa lama di rumah sakit…”, Agnes terus saja menyalahiku, matanya kemudian berlinang air mata, aku benar-benar disudutkan dan disalahkan. “Kamu ini bajingan, man!”, teriak Agnes yang sontak membuat seisi ruangan menjadi sepi tanpa suara. Dibentak seperti itu dihadapan teman-temanku membuatku malu, aku hanya menundukkan kepala, dan memegang pipi kiriku yang panas akibat tamparan tadi. Agnes pun mundur dan kembali ke bangku nya, ia menangis kencang sekali.

Aku sudah tidak tahu harus bagaimana, sepertinya Agnes sangat mencintai Alex, dan dia benar-benar marah padaku. Jantungku berdegup kencang, perasaan marah, kesal, semua hilang, kini hanya rasa malu yang menyelimutiku. Bagaimana tidak, aku ditampar di depan banyak orang, bahkan orang tua aku sendiri tidak pernah memperlakukanku begitu. Ku ambil tas dan berlari keluar dari ruangan kelas. Ku nyalakan ninja 150RR ku dan meninggalkan sekolah ini. Aku bingung dengan apa yang telah terjadi, hatiku sangat kacau, penuh dengan amarah dan rasa malu. Ingin sekali rasanya ku bunuh Alex dengan tanganku sendiri.

12790922_589482117875032_1037899732669418783_n

450x100

Tiba-tiba di belakang seperti ada yang membuntutiku, mereka ngebut dan mengejarku. Aku kira mereka adalah anak brandal yang sering ngajak ngebut-ngebutan, ternyata mereka adalah teman-temanku, Tono, Iskandar, Marwan, Budi dan Eko. Mereka mengerti keadaanku dan merasa khawatir melihatku pergi sendirian. Melihat mereka perhatian, hatiku sedikit terobati, setidaknya aku mempunyai teman yang setia kawan. Akhirnya aku mengajak mereka berkumpul di ‘markas’, cafe yang lebih layak dibilang pondok, tempat biasa kami berkumpul. Seperti biasa, pesanan kami selalu rokok LA dan bir Guinness, selera baru yang kami pelajari 2 hari lalu.

Awalnya aku ingin mengajak teman-teman ku mengerjai Alex dengan tangan kami sendiri, tapi setelah berbincang-bincang, kami malah mempunyai ide yang lain. Kamipun menyusunnya dengan matang-matang, dan akan kami laksanakan segera. Aku minta teman-teman ikut ke rumahku, karena kami akan ganti kendaraan. Mobil kijang krista yang menganggur di rumah menjadi alat transportasi kami melakukan ide jahat kami. Aku, Tono, Budi dan Eko sudah siap berangkat, sedangkan Iskandar dan Marwan sudah menunggu di tempat yang kami tentukan. Tono mengetahui dengan pasti kondisi Agnes, karena dia pernah membuntutinya.

Agnes selalu berjalan kaki pulang ke rumahnya, jadi sebelum jam pulang sekolah, kami sudah menunggu di jalan yang cukup sepi, di mana kami merasa tempat yang cocok melakukan penculikan. Kijang krista ku parkir di tepi jalan, di bawah sebuah pohon yang rindang. Sambil menunggu, kami berbincang- bincang dan menghabiskan beberapa batang rokok.

Jalan ini benar-benar sepi, daritadi cuma lewat beberapa unit sepeda motor. Kiri kanan jalan hanya terlihat sawah, walau jalan cukup lebar, tapi jarang di lewati, karena bukan daerah strategis yang di tengah keramaian. Kulihat arloji, sudah menunjukkan pukul 13.10, seharusnya Agnes sudah berjalan pulang. Kami hanya menunggu di dalam mobil, agar jika Agnes lewat, dia tidak akan curiga. Aku yang sudah tak sabar terus memandang kaca spion mobilku, berharap Agnes segera tiba.

Tak lama kemudian kulihat sosok seorang cewek berpakaian smp berjalan menuju arah sini. Benar, itu target kami, Agnes yang telah mebuatku kecewa dan mempermalukan ku. Aku sudah siap-siap, jika dia mendekat, teman-teman ku akan menariknya masuk ke mobil. Aku dan Tono duduk di barisan depan, jadi tugas penyergapan ku berikan pada Budi dan Eko yang duduk di barisan belakang kami. Agnes yang terlihat sangat menawan, sepertinya tidak mencurigai keberadaan kami. Agnes tersentak kaget melihat Budi dan Eko tiba-tiba keluar dari mobil, dan menariknya ke dalam mobil. Belum sempat berteriak minta tolong, mulutnya sudah disekap oleh tangan Budi. Ku segera nyalakan mobilku dan segera menuju target kami, tempat Iskandar dan Marwan menunggu kami. Agnes terus berontak, tapi apa daya, dia diapit oleh Budi dan Eko. “Apa yang kalian lakukan?!”, teriak Agnes. “Man, kamu sudah gila??”, tanya Agnes kepada ku. Aku hanya diam, biarkan saja, nanti dia juga tahu apa yang akan aku perbuat.

Penis ku terasa mengeras ketika ku lihat ke belakang, Budi dan Eko sedang meraba tubuh Agnes yang mulus. Terdengar tangisan Agnes yang minta tolong. Sepanjang jalan yang sepi ini, Agnes terus digerayangi, kiri kanan hanya sawah dan pepohonan. Tangan-tangan Budi dan Eko menyusup ke dalam balik seragam smp nya, berusaha meraba payudaranya, dan terus menyingkap rok biru yang dipakainya.

Agnes kelihatan gemetaran, dia tahu dia sedang dalam keadaan bahaya, dan dia terus mencoba berontak, menyingkirkan tangan-tangan jahil yang terus meraba tubuhnya. Merasa dihalangi, Eko kelihatan risih, dan ia melayangkan bogem mentah ke perut Agnes. “Akhh…”, Agnes pun akhirnya pingsan. Mereka pun dengan leluasa meraba tubuh putih mulus Agnes dengan leluasa. Tujuan kami sudah dekat, Marwan dan Iskandar menunggu kami di gubuk tua tak terpakai yang ada di tengah banyaknya sawah.

Akhirnya kami pun sampai di tujuan, mobil ku parkir di tepi sawah, dan kamipun membopong Agnes melewati pematang sawah menuju gubuk itu. Di sini sangat sepi, seperti sawah tidak terurus, karena petani sudah pulang dari ladang. Gubuk ini cukup reot, maklum, sudah lama tidak pernah digunakan. Kami pun segera membopong Agnes masuk dan mengikatnya ke sebuah meja yang ada di dalam gubuk.

“Ambilkan air…”, perintahku kepada Tono. Tono pun segera mengambil botol minum yang dia bawa di dalam tasnya. Langsung ku siramkan air dalam botol minum Tono itu ke wajah dan tubuh Agnes. Seragam smp nya basah dan samar-samar terlihat bra nya di balik pakaian putihnya yang basah. Agnes pun mulai membuka matanya, ia terlihat kaget ketika mengetahui dirinya sedang terikat. Kami hanya mengikatkan tangannya ke ujung meja, sedangkan kakinya kami biarkan menjuntai ke bawah. “Man, lepasin aku! Bajingan kamu man!!!”, teriak Agnes. Tanpa basa-basi aku langsung maju dan menampar pipinya dengan keras sampai bertubi-tubi. Pipinya memerah dan dia mulai meneteskan air mata. “Lepasin aku man… Aku mohon…”, pinta Agnes yang kelihatan gemetaran.

Teman-teman ku yang lain mundur dan duduk di kayu-kayu yang berantakan di dalam gubuk, “Bos senang-senang dulu, nanti kalau sudah bosan baru kami gantikan…”, kata Tono. Aku segera melepaskan semua pakaianku, melihat itu Agnes lebih ketakutan lagi. Penisku sudah ngaceng banget, sudah tak tahan ingin melesapkan ke lubang vagina Agnes. Ku dekati tubuh Agnes, kuciumi bibirnya, ia berusaha menolak, tapi aku terus mencium dan menjilati bibirnya. Sampai di lehernya kucium wangi tubuh Agnes yang kian menggoda nafsuku. Bau tubuhnya harum, kuciumi leher dan kucupang sampai gairahku benar-benar membara. Akhirnya ku buka paksa bajunya, kutarik hingga kancing bajunya lepas semua. “Jangan man, aku mohon…”, pinta Agnes yang kian kencang tangisannya. Aku tidak peduli, badannya sudah tanpa balutan baju smp nya, payudaranya berbalut bra warna cream bergoyang-goyang ketika Agnes terus meronta. Ku tarik bra nya hingga lepas, sungguh pemandangan yang sangat indah, payudaranya putih sekali, sangat mulus, walau sedikit kecil, tapi sangat merangsangku, payudaranya yang ranum dengan puting kecil berwarna merah muda seperti menggodaku. Ku kulum puting susunya dengan bringas. Kusedot dengan kuat dan sedikit kugigit putingnya.

Agnes hanya bisa merintih kesakitan, pipinya yang merah akibat tamparanku sudah basah oleh air matanya yang tidak berhenti mengalir. Kakinya mencoba menendangku untuk menjauh. Dengan kesal lalu kutarik roknya sampai lepas dari kakinya. Rok warna biru itu ku lemparkan ke lantai, dan kemudian ku tarik paksa celana dalamnya yang berwarna pink hingga melorot ke bawah. Vaginanya terlihat segar, sepertinya belum pernah terjamah, bulu-bulu nya pun masih jarang-jarang. Tanpa memikirkan masalah ke depan, aku langsung menancapkan penisku yang sudah mengeras ke dalam vagina Agnes. Sempit sekali, aku benar-benar kesulitan untuk menusukkan penisku.

yui

150x300

“Jaangannn… Aakkuuuu moohhooonnn……”, Agnes mencoba memelas. Kegigihanku akhirnya berbuah hasil, penisku akhirnya berhasil masuk ke dalam vagina Agnes. Matanya langsung melotot kaget ketika ku tancapkan penisku sampai habis ke dalam lubang vagina Agnes yang belum pernah tersentuh pria. Aku sudah seperti kesetanan, ku genjot Agnes dengan brutal sambil menyedot-nyedot puting susunya. Teman-temanku yang sedang nonton aksi ku sudah melepaskan pakaian mereka masing-masing, penis mereka semua sudah berdiri tegak. Aku mempercepat irama ku, agar aku segera menyalurkan buah cintaku melalui sperma ke dalam rahim Agnes, dan agar aku segera menyudahinya sehingga aku bisa berbagi dengan teman-teman baikku yang aku yakin sudah tidak sabar menunggu giliran.

Kurasakan ada cairan yang membasahi penisku, sambil terus menggenjot, aku melihat ke arah penisku, ada sedikit cairan merah keluar dari sekitar lubang vagina Agnes. Aku yakin itu adalah darah, aku tidak peduli, aku terus menggenjot dengan perasaan puas telah berhasil merengut keperawanan Agnes.
Penisku terasa akan memuntahkan sperma, sedangkan Agnes sudah tak mampu meronta, nafasnya ngos-ngosan, dan aku berhasil menyemprotkan cairan sperma ke dalam vagina hangat milik cewek yang pernah aku menolak cintaku ini. Aku pun kemudian menarik penisku, mundur dan duduk di tumpukan kayu-kayu bekas di sudut ruangan. Teman-teman ku segera berlarian ke arah Agnes, mereka berebutan untuk menggagahi Agnes. Seperti serigala lapar yang melihat domba tak berdaya, mereka sangat brutal, memanfaatkan segala lubang yang ada.
Ada yang menusukkan penis ke mulut Agnes, ada yang di vagina, bahkan ada yang di lubang anusnya. Aku tidak memperhatikan kejadian selanjutnya lagi, karena aku ketiduran di atas tumpukan kayu ini. Aku tidak tahu mereka telah melakukan berapa ronde terhadap Agnes, tahu-tahu hari sudah pagi, dan aku dibangunin oleh Tono. Aku lihat Agnes masih terikat di meja, sepertinya dia sudah tertidur. Sedangkan teman- teman ku sedang sibuk untuk kembali berpakaian.

“Sudah jam 5 man, yuk kita pulang…”, ajak Tono. “Kalian pulang saja dulu, aku mau temani Agnes di sini dulu, biarkan dia istirahat sebentar…”, jawabku. “Tapi man…”, balas Tono. “Kunci mobil ada di saku celana ku, ambil saja, nanti kalau aku perlu, aku akan telepon kamu untuk menjemputku…”, aku perintahkan Tono karena aku tahu mereka pasti ingin pulang dan beristirahat. “Oke lah, nanti telpon saja kalau sudah perlu”, jawab Tono sambil mencari kunci di celana ku yang tergeletak di lantai. Aku tahu Tono belum mempunyai sim A, tapi dia sudah mahir membawa mobil. Mereka pun cabut dan meninggalkan kami berdua di gubuk reot ini.
Aku masih terbaring sambil menatap ke arah Agnes, cewek yang pernah kucintai. Andai saja dulu dia menerima cintaku, maka semua hal buruk tidaklah perlu terjadi. Terdengar rintik- rintik hujan yang mengenai seng di atas gubuk, sepertinya akan hujan lebat. Ternyata dugaanku benar, rintik- rintik semakin deras. Tiba-tiba aku mendengar suara dari arah luar, “Ayo berteduh…”, suaranya seperti menuju ke arah gubuk ini. Suaranya kian dekat dan aku kerepotan untuk bersembunyi di balik tumpukan kayu bekas ini. ‘Brakk…’ suara pintu dibuka dengan keras. Aku lihat 3 orang pria tua berbadan gelap tanpa menggenakan baju masuk ke dalam gubuk. Hanya mngenakan celana pendek dan membawa cangkul, aku yakin mereka adalah petani.

Aku tak sempat menyembunyikan Agnes, dan aku melihat betapa terkejutnya bapak-bapak itu menemukan seorang gadis tanpa busana di gubuk ini. Aku hanya bisa mengintip dari persembunyianku di balik kayu-kayu bekas, untung saja aku sempat menarik pakaian ku, sehingga mereka tidak akan curiga aku ada di sini, karena hanya ada baju Agnes yang berserakan di lantai. Aku tidak tahu apa yang akan pak petani itu lakukan setelah ini, aku tidak berani keluar, bisa-bisa aku dihakimi mereka dan dilaporkan ke polisi.

Ketiga bapak-bapak itu sekitar umuran 40-an, dengan kulit hitam akibat sering berjemur di bawah terik matahari, dan sedikit terlihat otot-otot di tubuh mereka. “Apa kita lagi bermimpi?” “Mimpi apa kita nih?” “Ada bidadari yang kesasar” “Hadiah buat kita kali ya?” mereka saling berkomentar melihat tubuh Agnes yang terikat dengan kaki terjuntai ke bawah. Salah satu bapak itu melepaskan ikatan Agnes. Aku kira mereka akan menolong Agnes, nyatanya tidak demikian, mereka membutuhkan kehangatan karena suasana yang dingin akibat hujan deras yang terus berlangsung ini.

Ketiga bapak tersebut segera melepaskan pakaian mereka. “Dapat perek cantik, masih muda, eh, gratis lagi…”, sahut bapak yang membuka tali pengikat tangan Agnes. “Namanya Agnes Monica..”, seru salah satu bapak yang mengumpulkan seragam smp Agnes yang berceceran di lantai. “Gak kalah-kalah artis aja, hahahahaha…”, olok bapak lain yang sedang meraba tubuh Agnes. Kemudian bapak tersebut meletakkan baju Agnes di tumpukan ranting-ranting kering yang tadinya berserakan juga di lantai, bapak itu kemudian menyalakan api, mambakar pakaian Agnes sekalian menjadikan api unggun.

Suara mereka semakin kabur dan tidak kedengaran akibat derasnya hujan yang sangat lebat. Agnes masih belum sadar, aku tak tahu apa dia tertidur atau telah pingsan. Ketiga bapak-bapak itu mengerayangi Agnes. Susunya disedot-sedot, bibirnya dicium-cium, bahkan vaginanya yang penuh dengan sperma yang telah mengeringpun terus dicium oleh mereka. Melihat kejadian itu, penisku kembali mengeras, tapi aku hanya bisa mengintip sambil mengelus-elus penisku.
Kemudian sepertinya Agnes tersadar, tapi dia sudah tak bisa melawan, mau berteriak pun tak bisa, mulutnya sudah tersumbat batang penis bapak petani itu, payudaranya sedang disedot pak petani yang satunya lagi, sedangkan yang satu lagi sudah menusukkan penisnya ke lubang vagina Agnes. Sungguh malang nasib Agnes, aku sedikit merasa iba melihatnya, aku sudah sangat bersalah. Tapi posisi sekarang sudah sulit, aku hanya bisa mengocok-ngocok penisku yang sudah mengeras sambil mengintip acara seks secara live ini. Ini pertama kali aku melihat adegan seks 3 bapak-bapak umuran 40-an tahun melawan seorang cewek smp yang tak berdaya umur belasan tahun.

Agnes terlihat ketakutan, ia menangis lagi, dan mungkin dia sudah pasrah dengan nasibnya. Badannya lemas, entah berapa ronde teman-temanku telah menggagahinya. Aksi mereka berlangsung lama, apa meraka ada mengkonsumsi jamu kuat? Berbagai gaya mereka praktekkan sambil bergantian posisi. Sampai hujan sudah reda pun mereka masih tidak mau menghentikan aksi mereka. Agnes diangkat oleh bapak lain agar Agnes beradegan gaya WOT, tapi Agnes sudah tak mampu menggerakkan tubuhnya, terpaksa dua bapak itu mengangkat tubuh Agnes dan menggoyangkannya untuk memberikan service kepada bapak-bapak satunya lagi yang baringan di lantai sambil meremas-remas buah dada Agnes. Aku sendiri saja yang mengintip sudah capek sekali, mungkin menurutku sudah jam 5 sore, tapi mereka masih semangat terus menggenjot Agnes yang rambutnya sudah berantakan bagai orang gila. Aku sendiri pun sudah 2 kali berejakulasi di tangan sendiri. Kulihat Agnes sudah kembali tak sadarkan diri, sudah 9 orang yang menyetubuhinya, dia pasti sudah tidak akan kuat lagi.

Setelah puas menidurinya, ketiga bapak-bapak itu pun bangkit dan mengenakan celana mereka kembali. “Hujan gak bisa ngerjain sawah, tapi lumayan bisa ngerjain perek gratis…” sebelum meninggalkan gubuk, mereka masih sempat mengencingi tubuh Agnes yang tak berdaya tergeletak di lantai. Benar-benar nasib yang sangat malang. Aku masih belum berani keluar dari persembunyianku, aku takut bapak-bapak itu kembali lagi, aku hanya mengenakan kembali pakaianku. Agnes masih terbaring lemas di lantai, sedangkan ku intip dari sela lubang gubuk, langit sudah mulai gelap, prediksi ku benar, ku lihat arloji ku sudah menunjukkan pukul 18.35 . Aku bingung harus bagaimana, kalau aku telpon teman-temanku, nanti aku malah takut kepergok. Di sini memang sepi, tapi sial-sial, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi, tadi saja aku tak nyangka akan datangnya tamu tak diundang. Satu-satunya jalan, aku mesti mengendap-ngendap keluar dari sini. Tapi aku juga sedikit iba dengan kondisi Agnes, badannya penuh dengan bekas cupangan, pipinya yang basah dengan air mata masih merah akibat tamparanku, bercak sperma ada di sekujur tubuhnya yang putih dan mulus itu, rambutnya sudah acak-acakan karena dijambak oleh pria-pria kesetanan. Aku hanya bisa menyalahkan diriku, tetapi ketika aku flashback kembali, andai saja Agnes menerima cintaku, atau setidaknya dia lebih jujur di jauh hari bahwa dia sudah punya pacar, mungkin aku tidak akan terjerumus di dalam kegelapan seperti ini.

Jam arloji ku sudah menunjukkan pukul 20.00, mungkin aku sudah tidak boleh bersembunyi lagi. Aku berharap situasi sudah sepi, jadi aku bisa keluar dari gubuk ini. Tapi ku lihat Agnes sudah mulai sadar, ia bangkit dan kemudian mulai menangis lagi, dia sudah tersakiti baik secara mental maupun jiwa, sungguh perbuatan kami sangat tak terpuji. Dalam pikiranku aku malah ingin memukul diriku sendiri. Aku melihat Agnes mencari sesuatu di lantai, dalam kegelapan aku yakin dia mencari seragamnya, kemudian dia hanya menemukan sisa-sisa seragam yang tak terbakar, tapi itu sudah tidak bisa digunakan lagi. Agnes kembali menangis, tubuhnya tidak akan dibaluti pelindung tubuh lagi. Aku lihat dia sempoyongan berjalan ke arah pintu gubuk, dia pastinya ingin segera keluar dari tempat laknat ini, tempat yang akan terus dia ingat seumur hidupnya.

Tanpa berpakaian, Agnes sempoyongan keluar dari gubuk, di luar pun sangat gelap, aku pun kemudian mengendap-ngendap keluar dari gubuk, mencoba mengikuti Agnes. Jalanan setapak ini cukup licin karena tadi tersiram hujan, kiri-kanan adalah sawah, aku takut Agnes terjatuh ke sawah saja, tubuh nya kan masih capek, apalagi dengan suasana gelap begini. Aku terus mengawasinya dari jauh, kakinya sudah mulai kotor dengan lumpur basah. Jalannya masih sempoyongan seperti tanpa tujuan. Sudah beberapa petak sawah kami lewati, sebentar lagi kami pasti ketemu jalan besar. Agnes pun sudah terjatuh sampai berkali-kali, tapi dia tetap bangkit, badannya juga sudah penuh dengan lumpur.

Aku melihat ada cahaya, cepat-cepat aku kembali bersembunyi di balik pohon. Agnes segera berteriak, “Tolong… tolong…”. Agnes meminta bantuan ke arah cahaya itu. Cahaya itu semakin dekat, semakin aku melihat jelas, itu adalah cahaya lampu senter, ada dua senter yang menuju kemari. “Pak, tolong saya pak…” Agnes berlari dengan sempoyongan ke arah mereka. Aku lihat 2 orang pria dengan menggunakan senter menyoroti tubuh Agnes. Entah mereka berjaga malam atau pencari kodok. Muka mereka tidak kelihatan jelas, karena gelap dan sedikit silau akibat cahaya senter.

12821513_589483014541609_8262019610141503423_n

415x55-1

Samar-samar ku mendengar percakapan mereka, bukannya membantu mereka malah mengerjai Agnes, astaga, malangnya nasib Agnes. Mereka pun segera membuka pakaian mereka, Agnes kaget dan coba berlari berbalik arah. Larinya sempoyongan, semakin dekat ke arahku, sedangkan dua orang tersebut sudah telanjang bulat dan segera mengejarnya. Agnes yang sempoyongan pun terjatuh di tanah yang becek, badannya sudah bermandikan lumpur. Kedua pria itu sudah dekat, senter akhirnya mereka matikan agar tidak dicurigai warga. Agnes kemudian ditendang salah satu pria pas di perutnya, hingga Agnes tersungkur dan muntah-muntah. Melihat itu, hati ku langsung tergerak, walaupun aku masih kesal dengan Agnes, dan pernah dikecewakan, tetapi aku juga pernah mencintainya. Segera ku ambil hp yang ada dalam saku ku. Ku cari nomor Tono dengan tangan yang gemetaran, aku tidak bisa lihat Agnes lebih tersakiti lagi. Sialan, kenapa tidak diangkat, gumamku dalam hati. Sedangkan 2 pria itu sudah memeluk tubuh Agnes yang lebih kecil dibandingkan mereka. Sudah 3x aku telpon, Tono masih tidak mengangkat telponku, sialan, mati kali tuh anak, gumamku. Ku cari nomor Iskandar, Marwan, Budi dan Eko, ku telpon satu-satu, tapi juga tidak ada yang angkat. Hatiku semakin kacau, akhirnya ku sms ke Tono dan ku forward ke teman-teman, ‘keadaan bahaya, segera ke tkp!’ Aku pun kemudian memberanikan diri untuk menolong Agnes, ku lihat mereka sedang mengerayangi Agnes, aku sudah tak mampu lagi menambah beban Agnes. “Woi, hentikan! Dasar bajingan!” aku berlari ke arah mereka. Mereka yang lagi asyik menciumi tubuh Agnes yang penuh lumpur, ku tendang. Mereka tersungkur dan kaget. Ku buka baju ku dan ku lemparkan ke arah Agnes, bermaksud agar dia menutupi tubuhnya. “Wah, ada yang mau jadi pahlawan…” “Jangan-jangan malah dia yang tadi memperkosa nih cewek”, seru mereka.

Agnes tak bergerak lagi, mungkin dia stress dengan keadaan ini. Aku semakin iba, rasa kecewa ku pun menghilang, sekarang yang kurasakan hanya dosa-dosa ku. Aku berlari ke arah pria telanjang itu, dan ku pukuli, aku melawan 2 pria yang berbadan lebih besar dariku. Aku kesulitan menghadapi mereka, aku yang sudah capek dan kewalahan melawan 2 pria yang lebih berotot dariku. Satu sudah berhasil menngkapku dari belakang, dan satunya lagi memberikan tinjuan bertubi-tubi ke arah perutku. “Akhh…” sepertinya aku muntah darah.
Tubuhku lemas dan kemudian aku dilemparkan mereka ke sawah. Badan ku sudah lemas, aksi kepahlawananku telah tak membuahkan hasil. Mereka kembali mendekap tubuh Agnes. Bajuku yang dipakai Agnes untuk menutupi tubuhnya telah direbut dan dibuang salah satu lelaki bejat itu. Dengan badan penuh memar, aku masih berusaha bangkit, dan menolong Agnes, aku merangkak naik dari sawah, dan terhuyung-huyung berjalan ke arah mereka. Pandangan ku sudah kabur, mata ku mungkin sudah bengkak akibat pukulan tadi yang pas mengenai mata sebelah kananku. Aku berusaha melerai mereka, mereka sepertinya kesal karena merasa terusik. Satu pria kemudian bangkit dan memukulku, yang satunya lagi mencari sesuatu di baju-baju mereka yang terletak di tanah. Ternyata pria itu mengambil pisau, ia menuju kemari, aku yang sudah tak mampu melakukan perlawanan langsung ditusuk dari depan, pas ke arah perutku. Aku lihat darahku terus mengalir ketika pria itu menarik pisau tersebut, ku pegangi lukaku, kakiku tak bertenaga lagi, dan akupun tersungkur. Aku lihat Agnes menangisi keadaanku dan memohon, “Jangan bunuh dia…”

Aku terbaring di tanah basah, tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan, mungkin inilah ajalku. Aku sudah siap mati, ini mungkin akibat dosa-dosaku. Dengan mata yang masih terbuka, aku melihat Agnes digarap mereka tanpa perlawanan. Tak mampu melihat itu, kesadaranku pun hilang. Entah apa yang mereka lakukan pada Agnes selanjutnya aku sudah tidak tahu. Saat terbangun, aku melihat Agnes masih tergeletak di tanah, tubuhnya penuh lumpur yang mengering, tanpa kedua lelaki itu. Kaki Agnes mengangkang lebar, dan vaginanya ditancapkan dengan sebuah senter yang sedang menyala. Aku menyeret kaki ku, berusaha merangkak ke arah Agnes, mungkin ini sudah subuh, langit masih gelap. Ku cabut senter yang tertancap di vagina Agnes dan ku matikan, khawatir lebih banyak pria bejat lain yang menemukan kami. Ku peluk tubuh Agnes yang telanjang bulat, penuh lumpur dan berbau sperma, aku terus meminta maaf sambil memeluk erat dirinya. “Maafkan aku…” aku pun menangis meratapi keadaan kami, “Maafkan aku… Maafkan aku… Maafkan aku…” aku terus memohon maaf sambil menangis, sampai akhirnya aku kembali tertidur.

Saat aku tersadar, aku sudah berda di sebuah ruangan yang asing, tubuhku masih lemas. Aku hanya melihat Tono duduk di samping tempat tidurku, “Di mana ini?”, tanyaku. “Rumah sakit, man.. Kamu sudah tak sadarkan diri selama seminggu”. Aku ingat kembali kejadian itu. Ku pegang perutku, sudah ditutup perban. “Perutmu sobek, jadi harus dijahit…” Tono terlihat kasihan dengan keadaanku. “Lalu bagaimana dengan Agnes?”, tanyaku. “Dia sudah terbang ke Singapore, orang tuanya memilih membawanya ke sana untuk direhabilitasi, dia juga sudah menyelamatkan kita, dia mengaku pada kepolisian bahwa dia telah diperkosa orang yang tak dikenal, dan engkau, Herman, yang telah berusaha menyelamatkannya…”, jawab Tono. Mendengar cerita Tono tersebut, aku langsung menangis, aku terus menyalahkan diriku sendiri, Agnes yang telah ku sakiti malah membelaku.

Satu bulan lamanya aku di-opname di rumah sakit. Di hari terakhir akan meninggalkan rumah sakit, teman baik Agnes menemuiku, ia memberikan buku harian milik Agnes yang ketinggalan di rumahnya. Aku segera membukanya. Apa yang ku temukan di dalamnya? Aku menangis semakin jadi ketika membaca catatan hariannya, Agnes ternyata juga mencintaiku, tiap lembar buku hariannya menuliskan itu. Dia hanya dipaksa bersama Alex, dia dijodohkan secara paksa oleh kedua orang tuanya. Dari catatannya, dia tidak pernah mencintai Alex, hanya saja ia terpaksa karena orang tua Agnes mengalami kesusahan ekonomi, dan banyak berhutang kepada orang tua Alex. Aku semakin merasa bersalah. Ingin diriku menyudahi hidupku, bahkan setelah keluar dari rumah sakit, aku sudah berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri.
Sampai akhirnya aku kembali terjemus ke dunia hepi-hepi, mungkin karena beban ku yang sudah terlalu berat, hanya dengan bersenang-senang lah aku bisa menghilangkan rasa frustasiku. Hampir setiap hari aku dan teman-temanku, Tono, Iskandar, Marwan, Budi dan Eko berpesta seks dengan cewek yang kami kenal, Ayu, Lisa dan Widya. Kehidupan kami terus diselimuti awan gelap hingga hari ini.

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s