MY DIARY [001] Dendam Gagal Interview

12744338_589559217867322_4170604678860667142_nCerita ini berawal dari kebencian saya terhadap seorang manager marketing sebuah bank swasta ternama, sehingga saya harus melakukan hal-hal yang belum pernah terpikirkan oleh saya ini. Sebelum menceritakan pengalaman saya ini, perkenankan saya memperkenalkan diri, nama saya Satorman, umur 22 tahun, tinggi 170cm, dengan berat 56kg. Ya, seperti yang Anda pikirkan, perawakan saya memang dengan tubuh yang sedikit kurus, dengan kulit yang cukup gelap dan rambut yang kribo, seperti halnya perawakan orang NTT. Saya telah hampir 5 tahun meninggalkan kampung halaman saya ke kota ini, kota yang terkenal dengan pendidikannya yang lebih baik. Empat tahun saya menyelesaikan kuliah saya di sebuah universitas yang cukup terkenal di kota ini, bahkan se-Indonesia . Tetapi saya tidak merasa bangga menyandang gelar sarjana ini. Setengah tahun setelah wisuda, saya telah coba melamar kerja di banyak perusahaan di kota ini, dan tidak ada satu pun kabar panggilan.

Kecewa dan putus asa semakin menjadi karena 6 bulan sudah saya menunggak pembayaran sewa kamar kost. Walaupun tidak begitu mahal, karena saya memang memilih tempat kost yang murah meriah, pemilik kostnya pun baik hati, mungkin karena saya telah ngontrak di sini sejak saya menjejakkan kaki di kota ini, makanya sang pemilik kost agak longgar pada pembayaran saya akhir- akhir ini. Keterlambatan ini pun karna ulah saya sendiri yang sedikit sombong setelah mendapat gelas sarjana, saya telepon ke kampung halaman agar orang tua tidak perlu mengirimkan uang lagi, karena saya bermaksud mencari kerja dan hidup lebih mandiri. Awalnya mereka menolak, tapi karena tidak mau merepotkan kedua orang tua saya lagi maka dengan terpaksa saya membohongi mereka bahwa saya telah mendapatkan pekerjaan. Awalnya saya pikir dengan gelar sarjana yang saya peroleh, saya akan lebih muda mendapatkan pekerjaan, nyatanya tidak demikian. Mungkin karena saya yang belum pernah bekerja, baru kali ini merasakan bagaimana susahnya mencari kerja, sehingga saya berjanji pada hati saya, apa pun pekerjaan yang akan saya dapati nanti maka akan saya geluti dengan serius. Tujuh bulan sudah berlalu, walaupun sang pemilik kost tidak menagih, tapi saya sangat tidak enak hati.

Untungnya suatu pagi ada berita yang sangat baik, hp saya bunyi dan dengan senang saya mengangkatnya berharap ini adalah panggilan interview. Harapan saya menjadi semakin nyata setelah mendengar suara seorang perempuan yang sangat lembut,

“Hallo, ini dengan Satorman ya? Satorman ada masukkan lamaran ke perusahaan kita ya? Besok diharapkan Satorman untuk datang ke perusahaan kita jam 9 pagi, kita akan ada kan interview. Harap Satorman datang tepat waktu. Selamat pagi. Terima kasih.”

Senangnya hati saya mendengar berita ini, dengan riang saya berteriak “Yes!”, setidaknya ada harapan saya untuk mencabut gelar pengangguran ini. Malamnya pun saya tidak mau ngembun lagi, segera saya untuk coba terlelap di kamar kost yang kecil dan sumpek ini, berharap besok saya bisa terbangun lebih pagi dan lebih segar. Pagi nya dengan pakaian yang rapi, saya pun segera berangkat ke perusahaan itu. Tepat pukul 8 pagi saya keluar dari kost, berharap tidak telat nantinya, walaupun saya tahu ini masih sangat awal, yah wajar saja, ini panggilan pertama dan yang sangat saya tunggu. Sementara saya masih naik angkot, karena rencana saya adalah setelah dapat pekerjaan barulah coba kredit motor. Tepat di perusahaan yang dimaksud, saya turun dari angkot, memang tak begitu jauh dari tempat kost saya. Hmm, sebuah bank swasta yang cukup ternama di kota ini. Dalam benak saya terbayang, saya yang berpakaian rapi bahkan berdasi duduk di sebuah kursi depan komputer di ruangan ber- AC.

Sesampai di depan pintu, langsung security yang membuka pintu menyambut saya, “Selamat datang pak”. Ya biasalah, bank profesional memang seharusnya begitu. “Maaf pak, saya ke sini karna ada panggilan interview”, saya memberitahukan kepada security tersebut tentang maksud kedatanganku. “Oh, silahkan naik ke lantai 2 pak, di sana ada resepsionis, tanya saja di sana ya pak”, jawabnya sambil menunjuk ke arah tangga. “Terima kasih pak” saya memberikan kesan yang sopan walaupun terhadap seorang security, dan saya berjalan menuju tangga dan menaikinya. Tepat di lantai 2, sebelah kanan tangga ada meja resepsionis, saya coba melangkah ke sana, dan seorang gadis yang sedang duduk di sana segera berdiri dan menebarkan senyuman, “Ada yang bisa saya bantu pak?”. Wow, gumam saya di dalam hati, senyumnya sangat manis, kulitnya putih dengan rambut lurus sampai punggung, tingginya mungkin 173cm karena lebih tinggi sedikit dari saya. Vera namanya, saya liat ID Card yang terjepit di baju nya, gadis yang sangat sesuai dengan tipeku, dan terbesit dalam pikiran jika saya berhasil masuk di perusahaan ini, saya akan coba menggaetnya, maklum lah saya yang belum pernah pacaran ini juga sangat mendambakan seorang pendamping hidup. “Saya dapat panggilan interview mbak”, jawab saya yang masih terkagum. “Oh iya, silahkan tunggu ya pak, nanti saya panggil”, kata gadis itu menunjuk ruangan depan yang seperti ruang tamu. Saya pun masuk dan duduk di kursi sofa yang melingkar itu.

Ada seorang lelaki juga yang duduk bersama saya, pakaiannya rapi, tapi kulitnya kurang lebih dengan saya, walau kelihatan dia lebih hitam dengan kulit yang tidak terawat, namun dia memiliki tubuh yang berisi dan tegap layaknya orang yang sering fitnes. Agar suasana tidak tegang, saya coba menyapa orang tersebut, “Hai, dapat panggilan interview juga?”. “Iya nih, mas juga ya?” jawabnya sambil tersenyum dan menjulurkan tangan kanannya bermaksud bersalaman denganku, “Namaku Andi”, dia memperkenalkan diri padaku. Tangannya terasa sangat kasar, “Namaku Satorman, sudah lama mas tunggu di sini?” jawabku sambil melayangkan sebuah pertanyaan. “Ga juga, lebih cepat datangkan lebih cepat pulang, tuh di ruangan sebelah ada yang sedang diinterview”. Kelihatannya orangnya ramah banget, dengan berbincang sedikit saja kami pun jadi akrab. Sambil menunggu kami pun terus melanjutkan pembicaraan kami. “Mas Andi asal mana?” “Saya asli Bandung, mas sendiri?” “Wah, kebetulan sekali, ayah saya juga orang Bandung, tapi ibu saya NTT, maklum bapak saya perantau”. Banyak sekali yang kami bicarakan bahkan sampai bertukaran nomor hp. Dari pembicaraan ini lah saya baru tahu bahwa cari kerja itu susah, Andi menceritakan semua kisahnya padaku. Dia sudah 3 tahun menyandang gelar sarjana, tetapi tak satu pun pekerjaan yang layak dia dapatkan. Dia pernah menjadi cleaning service di sebuah restoran, tetapi dia dipecat hanya karna tidak sengaja memecahkan sebuah gelas minum. Setelah itu dia juga pernah menjadi tukang bangunan dan kuli angkut di pelabuhan. Ya, tak heran tangannya agak kasar. Bahkan dia pernah jadi kurir ganja demi bisa bertahan di dunia yang dia katakan fana ini. Dan sekarang ini, dia hanya bantu di kios temannya yang hanya menjual premium eceran dan melayani tambal ban. Tak sadar di sela pembicaraan kami, Vera sang resepsionis memasuki ruangan dan memanggil Andi untuk segera ke ruangan sebelah. Berpapasan itu juga saya melihat seorang pria yang berjalan melewati pintu, sepertinya dia baru keluar dari ruangan sebelah. Prediksi saya, dia adalah orang yang baru diinterview tadi, mukanya terlihat sedih dan seperti suram sekali, mungkin dia telah dikecewakan dengan hasil interview barusan. Tanpa Andi, ruangan ini menjadi sepi, saya hanya duduk terdiam dan merasa sedikit tegang. Saya coba menghibur diri agar tidak begitu tegang, saya semangati diri saya sendiri dan berkata dalam hati “Ya, setidaknya yang diinterview pertama sudah mungkin gagal, berarti saya punya peluang semakin besar”.

Tiba-tiba Vera masuk keruangan, “Pak Satorman, boleh ke ruangan sebelah untuk interview”. “Oya, terima kasih”, saya kaget dalam lamunan saya dan segera melihat arloji saya, ternyata sudah 40 menit saya menunggu tanpa ditemani Andi. Saya pun segera bangkit dan keluar dari ruangan, tapi pas di depan pintu, Andi dengan mimik muka yang kelihatannya marah, bergumam “Brengsek” sambil berjalan menuju tangga. Kelihatannya dia juga gagal diinterview, ini malah membuat saya berbalik pikir, apakah para calon karyawan yang tak sesuai dengan kriteria perusahaan, atau interview ini yang lumayan sulit? Saya berusaha menggapai gagang pintu dengan perasaan saya yang sangat gugup. Saya membuka pintu tersebut, “Selaamat pagii”, saya coba menyapa orang yang berada dalam ruangan itu. Apa? Ada 2 orang wanita di dalam ruangan itu, mungkin mereka yang akan menginterview saya? Jantung saya pun berdebar kencang, ini adalah pertama kali saya mengalami interview kerja. “Silahkan masuk”, salah satu wanita yang duduk berdampingan itu menyapaku dengan senyuman yang menurut saya betul-betul indah. Sambil berjalan menuju ke meja bundar tempat mereka duduk, wanita tersebut menjulur tangannya untuk berjabat tangan denganku, “Susi, manager HRD” dia tetap melayangkan senyumnya yang manis kepada saya. “Satorman”, balas saya menjabat tangannya. Sedangkan wanita yang satunya lagi duduk diam saja, mukanya kelihatan judes sekali, walau face-nya lebih cantik dibandingkan wanita yang tadi. “Satorman”, saya coba berjabat tangan dengan wanita judes tersebut. “Viany, manager marketing”, jawabnya sambil menjabat tangan saya masih dengan muka judes tanpa senyuman.

“Silahkan duduk”, perintah wanita yang tersenyum tadi. Saya pun segera duduk, dan berpikir kalau kedua wanita ini yang akan mewawancarai saya. Kedua wanita ini masih muda, prediksi saya, mereka masih berumur 30- an, mungkin tak lebih dari 35 tahun. Tubuh mereka pun kurang lebih sama, dengan bodi yang masih sexy dan tinggi badan yang sama, kira-kira 165- 168cm, mereka menggunakan rok yang cukup mini, sangat mempesona di balik usia mereka yang bukan lagi gadis remaja. Bu Viany lumayan cantik, wajahnya mulus terawat, dengan rambut terurai panjang di punggungnya, mungkin kalau di umurnya yang masih remaja, dia adalah gadis incaran teman- teman pria sekelasnya, cuma sangat disayang, pandangannya terlalu sinis, jujur saja saya agak muak melihat gaya juteknya tersebut. Sedangkan Bu Susi, mukanya tidak terlalu cantik, biasa-biasa saja menurut saya. Namun senyumnya telah mengalahkan segalanya, dia terlihat sangat manis jadinya. Bisa saya tebak kalau Bu Susi ini adalah seorang yang periang. Kalau mereka berdua digabungkan mungkin akan menjadi sedikit sempurna, dengan penampilan luar yang cantiknya Bu Viany digabung dengan inner beauty-nya Bu Susi. “Satorman, kamu tahu ada lowongan darimana?”, tanya Bu Susi dibarengi senyumannya setelah membolak-balik surat lamaran saya. “Saya cuma coba taruh saja bu”, jawab saya, karna saya sudah pasrah mencari kerja sehingga saya pun memasukkan lamaran ke mana saja walaupun tak jelas adanya informasi lowongan. “Jadi, kamu tidak tahu kamu sedang melamar bagian apa?”, sambung Bu Viany dengan judesnya, dan saya pun terdiam semakin gugup dan tak tenang. Mukanya sangat masam, seperti tidak senang dengan jawabanku. “Kami lagi butuh staff marketing, kira-kira Satorman berminat ga?”, sambung Bu Susi sambil tersenyum seolah dia tak mau saya sampai gugup dan kehilangan pembicaraan.

4e21851fc4_sarahardheliabugil-blogspot-com00100102111

415x55-1

Setiap pertanyaan Bu Viany sangatlah menjatuhkan mental saya, dan Bu Susi yang selalu menjadi malaikat pendamping yang membantu menenangkan ketegangan saya. Saya hanya sesekali memandang ke arah Bu Viany karena wajahnya yang judes itu bisa menciutkan nyaliku. “Kamu belum berpengalam kerja loh, bagaimana nanti kamu bisa yakin kerja di sini?” tanya si ratu sinis itu, sungguh kesal saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Dilihat-lihat, wajah ratu sinis ini hampir mirip dengan Pricil master chef, sayangnya yang ini kurang enak dipandang karena pengaruh judesnya. “Satorman kan sudah sarjana, pasti sudah banyak belajar dong di kuliah… ” senyuman Bu Susi sangatlah manis, dia selalu terlihat menjadi penolongku. Mungkin karena gugup dan tegang saya menjadi tidak konsentrasi dan banyak pertanyaan yang sulit saya jawab. Apalagi tatapan Bu Viany yang bagai ratu iblis itu, dengan pertanyaan yang bertubi-tubi menjatuhkan mental saya, dan menghilangkan harapan saya untuk diterima bekerja di bank ini. Apa karena pengaruh jabatannya? Di usia 30- an dengan status seorang manager apalagi dengan penampilan yang menawan, itu yang membuat dia menjadi sombong seperti itu.

“Sekarang coba kamu praktekkan, coba tawarkan ini di depan kami” kata Bu Viany dengan melemparkan spidol ke arah saya, tatapannya tidak berubah sama sekali, tetap sinis. “Gini Satorman, anggap saja Satorman adalah seorang salesman spidol, dan kami ini calon konsumen, santai saja, tak perlu tegang.. ” sambung Bu Susi si malaikat penebar senyum. Dengan perasaan gugup saya mencoba menawarkan spidol itu dan agak sedikit terbata-bata. Dan kelihatannya, Bu Viany sangat tidak puas dengan presentasi saya. Tetapi Bu Susi tetap tersenyum dan memberi kesempatan kepada saya, “Coba Satorman ulangi sekali lagi dari awal, tak perlu tegang, anggap saja kami ini tidak tahu mengenai spidol tersebut, seolah-olah kami tidak tahu sama sekali apa itu yang namanya spidol”, belum sempat saya memulai, Bu Viany langsung memotong, “Saya mau kamu mempraktekkannya dari luar ruangan, bagaimana kamu ketemu kami, kamu harus masuk dan mempromosikannya”. What the hell is it? Gumam saya dalam hati. Kenapa tuh iblis seolah-olah tidak menghargai saya, dia mau saya mengemis padanya? Tapi apa boleh buat, saya sangat membutuhkan pekerjaan. Dari luar saya mengetuk pintu dan permisi masuk, memperkenalkan diri kemudian menjelaskan produk yang sedang saya promosikan ini. Tak terasa hampir 1 jam saya diwawancarai, dan di akhir interview, Bu Viany cuma bilang “Kalau kamu beruntung, nanti kami hubungi lagi” dia tidak mau memandang saya seolah saya tak pantas bekerja di perusahaan ini. “Satorman tunggu kabar dari kami ya paling lama 1 minggu, kalau tidak kami hubungi berarti kita belum jodoh ya… ” kata Bu Susi memberi sedikit harapan pada saya. Walaupun saya tahu bahwa harapan saya tak sampai lima persen. Saya pun menjabat tangan mereka dan mengucapkan terima kasih. Setidaknya saya sudah mencoba, dan sekarang akan meninggalkan ruangan seolah tempat berkumpulnya si hitam dan si putih.

Sampai di kost, saya langsung mengistirahatkan badan, dan mencoba terlelap agar apa yang terjadi ini segera saya lupakan. Karna kekesalan di hati ini sangatlah berat, dan mungkin ini juga yang Andi dan calon karyawan sebelumnya rasakan. Nada dering lagu Ruang Rindu nya Letto di hapeku mengusik tidurku dan membangunkanku. “Halo, gimana interview tadi?” ternyata telepon dari Andi. Saya pun menceritakan semuanya, dan ternyata nasib kami hampir sama. “Kita ngobrol di warung kopi aja yuk, biar saya yang jemput kamu saja” ajak Andi. Karna tidak ada kegiatan, saya pun menyetujuinya. Bergegas saya segera mandi dan menunggu jemputan dari Andi. Bunyi klakson pun tak lama terdengar dari luar tempat kost. Saya sedikit kaget karena mengira Andi akan menjemput saya dengan sepeda motor, ternyata dia membawa mobil Suzuki APV warna hitam dengan kaca film hitam. Yang menyupir bukan dia, tetapi seseorang yang sepertinya saya kenal. Andi duduk di bangku kedua dan membukakan pintu untukku. Dia segera menyambutku dan memintaku segera naik ke mobil.

Saya dan Andi duduk di bangku ke dua, di belakang saya lihat ada dua orang dan di depan ada dua orang termasuk sang supir. Andi pun kemudian memperkenalkan saya dengan mereka. Yang duduk, di belakang, mereka adalah Syamsul dan Mamat, mereka berperawakan layaknya preman, tangan penuh tatto dan brewokan. Saya menjadi sedikit takut untuk bergabung dalam kelompok ini. Tapi dua orang di depan sedikit menenangkanku, mereka lebih kelihatan rapi dan seperti orang berpendidikan. Yang duduk di sebelah sang sopir, namanya Tono, dengan memakai kacamata, dia terlihat seperti seorang kutu buku. Sedangkan sang sopir bernama Herman, wajahnya seperti tidak asing bagi saya, kulitnya putih dan terawat layaknya seoarang anak toke yang kaya raya. Baru ku sadari kalau si Herman ini adalah calon karyawan yang lebih dulu diwawancarai sebelum kami tadi padi. Andi pun menjelaskan semua, Syamsul dan Mamat adalah temannya, dan Tono adalah teman si Herman, Andi memperoleh nomor hp Herman saat mereka menunggu di ruangan tunggu di bank tempat kami diinterview, seperti kami, Andi dan Herman pun banyak membagi cerita sambil menunggu interview. Herman ternyata memang anak orang kaya, tapi dia sebenarnya orang yang mandiri dan tidak mengharapkan bantuan orng tua nya dalam bekerja, dia lebih milih berusaha sendiri mencari pekerjaan yang setidaknya tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Sedangkan si Tono ternyata adalah orang yang jorok dan sangat mesum, sepanjang perjalanan dia selalu membahas masalah bokep, dan saya sebenarnya sedikit risih. “Jadi, kita mau ke mana nih?” tanya saya kepada Andi. “Kita mau pergi bersenang-senang, ikut aja, pasti ga nyesal deh”, jawab Andi yang sepertinya dia mempunyai sebuah idea yang cemerlang.

Dalam perjalanan Andi pun memceritakan semuanya, ternyata mereka merencanakan sesuatu hal yang buruk, mereka akan balas dendam karena hal sepele hasil dari interview tadi pagi. “Loh, kalau kita memang tak masuk kualifikasi, ya apa boleh buat? Lagian mereka kan juga melaksanakan tugas mereka? Bu Susi pun sepertinya sangat terbuka dengan saya”, saya coba menenangkan mereka, karena saya takut mereka membunuh kedua wanita itu, apalagi Andi membawa kedua temannya, Syamsul dan Mamat yang berlatar belakang berprofesi sebagai preman di pasar. Kami pun memasuki komplek perumahan elit, kondisinya sangat sepi, mungkin karena yang tinggal di sini adalah rata-rata orang kaya yang selalu sibuk dengan bisnis mereka. Saya coba memandang sekeliling, seperti tidak adanya tanda-tanda kehidupan, kalaupun ada mungkin mereka sudah melepas lelah di kamar. Sampai di ujung komplek, mobil kami berhenti pas di depan rumah bernomor 18CC . Andi segera turun dan membunyikan bel yang ada di samping pagar. Tak lama saya melihat seorang wanita membuka pagar pintu, dan betapa kagetnya saya melihat bahwa wanita itu adalah Bu Viany. Andi dengan cepat langsung menodongkan pisau lipat yang telah dia siapkan dalam saku celananya. Bu Viany kelihatan sangat pucat, Andi segera memberi aba-aba menyuruh kami masuk. Herman pun memasukkan mobil hingga ke dalam garasi yang sedang terbuka.

Saya melihat Tono yang segera bergegas turun seperti orang yang kehilangan kesabaran, dengan membawa sebuah tas jinjing dia pun berlari langsung ke arah Andi dan Bu Viany. Saya sangat takut sekali dengan semua ini, dan saya bepikir, apa yang telah saya lakukan? Kenapa bisa sampai ikut gerombolan ini. “Kamu jangan diam saja, cepat tutup tuh pagar!” perintah Herman yang sontak mengagetkan saya. Dengan reflek cepat segera saya langsung pergi menutup pagar pintu depan rumah, saat itu juga saya melihat mereka semua sudah menggotong dengan paksa tubuh Bu Viany ke dalam rumah. Dengan segera saya berlari ke arah mereka, Bu Viany yang tadi pagi terlihat sombong, kini tak berkutik, dia hanya bisa terdiam karena takut dengan pisau yang dibawa Andi. “Cepat bawa ke kamar, dan ikat dia!” perintah Andi. Rumahnya cukup besar, ruang tamu nya terlihat mewah sekali, dengan sofa yang elit dan tv LCD yang besar, mungkin ukuran 52 inchi dengan sound system yang lengkap. “Jangan bengong aja, ayo bersenang-senang”, ajak Andi menarik tanganku menuju sebuah kamar. Setelah mengikat Bu Viany, Syamsul dan Mamat segera keluar dari kamar dan berkata kepada Andi, “Kami gasak hartanya dulu boss, biar tuh perek boss yang kerjai aja dulu, selamat bersenang- senang”. Bu Viany yang diikat seperti huruf Y terbalik di atas tempat tidur mulai memelas, “Ampun, biarkan saya pergi, kalian boleh ambil harta saya, tapi jangan apa-apa kan saya”, Bu Viany pun mulai meneteskan air mata. “Saya tak perlu hartamu!” teriak Herman mendekati Bu Viany dan menamparnya. Bu Viany malah semakin keras menangis dan meminta ampun, “Akuu mo mohon maa af kan ak akuu.. .” Dengan kuat Herman menarik baju yang dikenakan Bu Viany hingga terkoyak dan payudara berbalut bra hitamnya menyembul keluar, “Maaf? Itu ga cukup beib… Kau telah mempermalukanku, dan aku pun akan mempermalukanmu..” kata Herman diikuti senyuman yang sangat menakutkan. Saya hanya terdiam, walaupun sedikit terangsang, tapi saya coba menahan, saya ke sudut ruangan dan duduk di kursi yang tersedia. “Santai saja dulu, liat dulu dengan permainan kami” kata Andi kepadaku sambil melemparkan sebungkus rokok Marlboro dan sebuah pemantik apinya. Saya menyalakan rokok dan mencoba menenangkan diri dan melihat aksi mereka. Sebenarnya saya sangat takut dengan perbuatan seperti ini, tapi apa boleh buat, ini sungguh adalah pemandangan yang sangat memacu gairah. Saya pun melihat Tono membuka tasnya, ia mengeluarkan sebuah handycam, gila, dia pikir ini mau dijadikan film. Sempat saya intip isi tas nya, ternyata banyak sekali alat sex. Baru saya sadari bahwa Tono adalah seorang yang hypersex, mungkin otaknya sudah sedikit tak normal, ada sedikit kelainan pada nafsu birahinya.

Cerita-Dewasa-Perempuan-Masturbasi-300x300

150x300Tono, Andi dan Herman, mereka mengerjai Bu Viany secara bersamaan, sangat brutal menurut saya. Saya coba tenang, tapi sesuatu yang ada di balik celana saya malah tidak tenang, dia tegang terus dari tadi. Saya melihat Herman menindih Bu Viany, duduk tepat di atas dadanya dan terus menerus menampar pipi kanan dan kirinya. Sedangkan Andi sedang sibuk melorotkan celana Bu Viany dengan paksaan. Aksi itu terus direkam oleh Tono sambil sesekali ia pun ikut menampar pipi Bu Viany. Herman pun membuka resleting celananya, dan mengeluarkan penis nya yang sudah mengacung tegak, “Cepat kulum! Puaskan saya, atau kau ku bunuh!” ancam Herman. “Jaa angan.. . Saayaa mo hoon… ” pinta Bu Viany dengan air mata yang terus mengalir dan telah membasahi pipi nya yang kemerahan akibat tamparan. Herman terlihat sangat marah, ia pun berdiri dan terus melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Melihat demikian Tono dan Andi tidak mau kalah, mereka pun melepaskan pakaian mereka masing-masing hingga tak tersisa sehelaipun. Bu Viany terus meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan tersebut, celananya sudah melorot sampai batas lutut, terlihat cd nya yang berwarna merah muda, sedangkan bagian atas, pakaiannya sudah sobek, payudara tampak bergoyang-goyang dibalik balutan bra hitam ketika ia coba meronta lebih kuat. Sebatang rokok sudah saya habiskan, saya belum cukup nyali untuk ikut nimbrung walau pun nafsu saya terus bergejolak. Ah, nanti saja saya nikmati sendiri, pikir saya dengan tenang, toh, saya sudah terjerumus dalam keadaan seperti ini.

Saya nyalakan rokok yang kedua, kemudian kembali memandang ke arah mereka, ternyata Bu Viany sudah telanjang bulat, Herman dan Andi mengoyak semua pakaian Bu Viany dengan cutter dan gunting yang dibawa di dalam tas Tono. Sedangkan Tono yang sedari tadi mengambil video, bergerak mundur, dia meletakkan handycam di meja belakang dan menghadapkannya ke arah tempat tidur, mungkin dia bermaksud mengambil video secara otomatis agar dia bisa melakukan kesibukan lainnya. Jantung saya berdetak dengan kencang melihat mereka berempat yang telah telanjang bulat. Saya segera mematikan rokok saya, saya buang ke lantai dan menginjaknya. Saya segera bangkit dan melepaskan semua pakaian, saya sadar bahwa gairah saya sudah tak tertahan lagi melihat tubuh bugil Bu Viany yang sexy. Jeritan minta ampunnya semakin membuat hatiku bergejolak. “Ayo kita bersenang”, teriak Andi. “Sabar donk kawan, sebelum kita nikmati kue ini, sebaiknya kita test dulu kandungannya, takut mengandung racun atau bahan tak bermutu sejenisnya”, ejek Tono sambil membongkar tas nya dan mengeluarkan beberapa peralatan. Yang satu seperti model penis tapi ada kabelnya, Tono langsung melemparkannya ke arah Herman. Satunya lagi dia pegang, seperti sejenis jepitan jemuran berkabel yang dihubungkan ke semacam accu battery. Tanpa aba-aba, mereka langsung mengerjakan tugas mereka. Tanpa belas kasihan, Tono langsung menjepitkan kedua jepitan tersebut kedua belah puting susu Bu Viany. Terlihat Bu Viany tersontak, karena jepitan tersebut mengalir aliran listrik. Dari mana Tono bisa dapat barang beginian, tanya saya dalam hati, benar-benar seorang yang mengidap kelainan sexual. Sedangkan saya lihat yang dipegang Herman, terus bergetar, benda bulat panjang yang sepertinya terbuat dari karet itu bisa bergetar dan bergerak meliuk-liuk seperti ular. Bu Viany tidak mampu melakukan perlawanan, bahkan rintihannya pun sudah tak kedengaran karena bibirnya sedang dinikmati Andi. Terlihat Andi sangat bergairah menciumi bibir Bu Viany. Saya sendiri bingung, mau menikmati apa lagi? Susah sekali berbagi dengan pria-pria yang sudah kesetanan ini. Herman sedang asyik menyodokkan sextoy yang ia pegang tadi ke dalam lubang memek nya Bu Viany. Saya hanya bisa memandang, walaupun kali ini dalam jarak yang sangat dekat. Tubuh Bu Viany sangat seksi, tak kalah dengan gadis remaja, kulitnya betul-betul mulus.

Teringat saya dengan kejadian tadi pagi membuat kekesalan saya kembali muncul, sehingga saya juga ingin sekali mengerjai wanita sombong yang sekarang tak berdaya ini. Segera saya bongkar tas milik Tono, berharap saya mendapatkan sebuah mainan yang menarik. Belum sempat menemukan barang yang menarik, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Kami terdiam dan masing-masing menghentikan kegiatan kami. Sialan, siapa yang datang? Pikir saya dalam hati, jangan-jangan suaminya yang pulang? Kenapa tak kepikiran oleh saya dari tadi? “Jangan-jangan suaminya pulang?”, tanya saya yang telah memecahkan keheningan. Sambil berbicara pelan, Andi menjawab, “Bukan, suaminya lagi bertugas di Sulawesi, saya sudah minta Syamsul dan Mamat mencari informasi tadi siang”. “Lalu, ini siapa? Apa tetangganya? Apa yang harus kita lakukan?” tanya saya kritis. Perasaan saya sangat tidak enak, jantung saya pun kembali berdetak kencang, lulut pun seakan tak mampu bergerak lagi, mungkin kami akan kepergok. “Sebelah rumah kosong, lagian ini rumah sangat besar, tak mungkin suara kita kedengaran oleh tetangga”, jawab Andi yang juga was- was. Saya benar-benar ketakutan, saya menyesali apa yang telah saya lakukan, apa saya yang baru mendapat gelar sarjana harus nantinya mendekam di penjara karena ulah tak senonoh ini? Saya liat sekeliling, mereka bertiga pun sudah kelihatan tegang. Bu Viany tidak berani berteriak, mungkin karna kami menaruh benda tajam berserakan di lantai, ada cutter, gunting, dan pisau lipat, mungkin dia tidak berani mengambil resiko untuk berteriak. “Mana koncomu si Syamsul dan si Mamat? Jangan sampai mereka buka pintu. Seharusnya tadi kita mematikan lampu agar rumah keliatan seperti tak ada orang”, protes Herman kepada Andi.

Samar-samar kami mendengar suara pagar terbuka, saya pun meraih pakaian saya dan bersiap-siap kabur jika sesuatu terjadi. Sialan, gumam saya dalam hati, belum mulai saja sudah diganggu kayak gini. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, berjalan menuju kamar ini. Dari suara tersebut sepertinya tidak satu orang. Herman segera meraih pisau lipat, dan Andi mengambil cutter yang berserak di bawah kakinya. Tono hanya terdiam, sepertinya dia adalah seorang yang penakut. Dua sosok pria mendekati kamar, dari jauh sangatlah tidak jelas, saya dan teman- teman sudah siap-siap bertindak apa saja agar kami selamat. Sosok tersebut semakin terlihat jelas ketika mereka telah mencapai pintu, ternyata mereka adalah Syamsul dan Mamat. “Bos, lihat apa yang kami temukan di depan pintu?” sahut Syamsul yang sedang merangkul seorang anak kecil. Anak itu saya perkirakan berumur 7- 8 tahun, dengan mulut yang dibekap dengan tangan si Syamsul, gadis kecil itu tak bisa berteriak. Rambutnya diikat seperti ekor kuda, gadis kecil itu juga mengenakan tas di punggungnya, mungkin saja dia baru pulang dari les. “Ini Veronica, anak perempuannya Bu Viany”, jelas si Mamat. “Saya mohon lepaskan anak saya. ..” pinta Bu Viany dibalik isak tangisnya. Saya tak habis pikir apa yang terjadi selanjutnya. “Hahahaha, ikat anak itu, biar saya yang tangani”, minta Tono kepada Syamsul dan Mamat. Tono terlihat senang sekali, senyumnya seperti serigala kelaparan yang menemukan seonggok daging segar, astaga, apa Tono akan mengerjai gadis kecil ini juga? Saya tahu kalau Tono adalah orang yang punya kelainan, tapi apa dia sungguh tega? Syamsul dan Mamat pun mengikatkan gadis kecil itu ke kursi rotan yang terletak dekat tempat tidur. Gadis kecil itu menagis sekencang-kencangnya dan meminta tolong pada ibunya, seakan dia tidak tahu derita apa yang terjadi pada ibunya. Tono mendekati gadis kecil itu, “Gadis kecil yang malang, saya tidak tega sampai dia melihat mamanya bersenang-senang”.

Tono pun menutup mata gadis kecil itu dengan penutup mata yang dia bawa di dalam tasnya. Sedangkan Herman meneruskan kesibukkannya, ia terus menusukkan sex toy yang terus bergetar di memek Bu Viany. “Apa kamu tega melihat anakmu kami siksa? Lebih baik kamu layani kami dengan senang hati”, bisik Tono di telinga Bu Viany. “Tolong lepaskan dia..” mohon Bu Viany dan seketika ia pun berteriak ketika Tono dengan paksa menarik jepitan di putingnya. “Kalau mau anakmu selamat, layani kami baik-baik” ancam Tono. Saya juga tidak melihat Syamsul dan Mamat lagi, mungkin mereka meneruskan mencari harta yang bisa mereka bawa. Dengan bringas Tono langsung mengulum puting susu Bu Viany, tanpa berperasaan dia mengulum bahkan mengigit puting susu sebelah kiri Bu Viany, sambil tangannya meremas-remas payudara sebelahnya dengan keras. Andi pun tak mau kehilangan kesempatan, dia kembali mendekatkan penis nya ke muka Bu Viany, dengan menjambak rambut Bu Viany, Andi memaksa memasukkan pahlawan kecilnya itu ke mulut Bu Viany. Saya lihat Bu Viany sudah tak dapat menolak, mungkin dia lebih memikirkan keselamatan anak perempuannya itu. “Bagus… Anak pintar.. .” ejek Andi dengan senangnya merasakan hangat penis nya di dalam mulut Bu Viany. Saya tidak dapat jatah sama sekali, mereka bertiga sangat bringas, susah sekali untuk berbagi, mungkin saya mesti antri, dan saya hanya bisa memainkan penis saya sendiri dengan tangan saya sambil menunggu giliran. Sedangkan Herman sudah melepaskan sextoy yang dia pakai, dicabutnya sextoy itu dan dilemparkan ke lantai, dan menggantikan kerja sextoy tersebut dengan penis nya. Bu Viany yang sombong tadi pagi sudah tidak berkutik, kini dia adalah milik kami. Andi yang sedang memasuk keluarkan penisnya di mulut Bu Viany , melepaskan ikatan tangan Bu Viany yang terikat ke atas di ranjang, mungkin Andi pikir Bu Viany sudah tak mungkin berontak lagi. Dan ternyata benar, Bu Viany malah menggengam penis milik Andi dan memberikan pelayanan terbaik. “Sudah, jangan sibukkan tanganmu kepadaku, cukup mulutnya saja yang aku perlu, tanganmu biar untuk teman aku saja yang kasihan tuh manyun sendirian”, kata Andi sambil meledek saya. Saya pun ingin merasakan bagaimana nikmatnya dilayani, saya pun mendekat, dan Bu Viany pun langsung memegang Mister P saya dan mengocoknya, walaupun dia juga sedang sibuk melayani 3 pria lainnya. Anak malang yang duduk terikat di dekat kami terus menangis, dia tidak bisa melihat apa-apa dan tidak tahu apa yang sedang dialami ibunya.

azusa-akane-5

450x100Sambil menampar-nampar pipi Bu Viany, Andi terus menusukkan penisnya ke mulut Bu Viany, bahkan ia memaksakan hingga penisnya bisa sampai ke kerongkongan Bu Viany. Dan sekali-kali saya melihat Bu Viany seperti tersedak. Saya sudah tak peduli, tangannya yang hangat dengan jari-jari yang lentik membuat penis saya merasakan nikmat yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Sedangkan Herman sepertinya sudah akan mencapai klimaks, gerakannya sudah dipercepat dan dia sedikit bergumam “Perek ini biarpun sudah berkeluarga, tapi masih sempit, ga sia-sia kita membayar mahal, hahaha”. “Jangan! Jangan keluarkan di dalam!” teriak Bu Viany yang segera mengeluarkan penisnya Andi dan melepaskan genggaman tangannya di penis saya. Dia kelihatan panik dan mendorong Herman agar tidak melepaskan cairan sperma di dalam rahimnya. Tapi usahanya gagal, Herman akhirnya mencapai klimak, dan Bu Viany pun pasrah merasakan cairan hangat mengalir ke dalam rahimnya. Andi kelihatan kesal karena Bu Viany berhenti mengulum penisnya, dia pun kembali menampar pipi Bu Viany yang terus menerus tak henti mengeluarkan air mata. Setelah Herman mencabut penisnya, saya lihat dengan jelas indahnya memek milik Bu Viany yang mengalir sedikit cairan berwarna putih seperti lelehan lahar yang meletus dari gunung berapi. “Hahaha, payah sekali kau man, masa sebentar saja sudah KO?” ejek Tono kepada Herman yang mundur dan duduk di kursi yang sebelumnya saya duduki. Sepertinya dia cape dan butuh istirahat, dia menyalakan rokok sambil memandang ke arah Tono, “Yang penting alami, ga buatan seperti punyamu”. Tono hanya terdiam dan tersenyum kecil, dan kemudian meneruskan kesibukannya menikmati payudara Bu Viany. Saya mungkin bisa menebak kalau Tono mengunakaan obat untuk keperkasaannya. Baru saja saya terlengah memandang ke arah Herman, ternyata Andi sudah merubah posisi, mungkin dia sudah bosan dengan mulut Bu Viany. Andi melepaskan ikatan kaki Bu Viany agar lebih leluasa menggagahinya. Mulutnya yang sedang nganggur menjadi kesempatan bagi penis saya beraksi. Saya segera mendekatkan penis saya ke arah muka Bu Viany, menggantikan posisi Andi sebelumnya. Nikmat tiada tara saat penis milik saya menancap di mulut Bu Viany yang indah, apalagi kalau sempat merasakan hangatnya memek Bu Viany. Saya harus sabar, walaupun akan mendapatkan giliran terakhir, saya tetap menikmati. Yang dilakukan Andi seperti halnya Herman, terus memompa, menggoyangkan tubuh Bu Viany maju mundur di atas tempat tidur. Tono yang hyper masih menikmati payudara Bu Viany seperti layaknya anak bayi, sambil sesekali, Tono berdiri dan mundur ke meja untuk memeriksa handycam yang sudah standby dari tadi, Tono hanya memastikan handycam itu merekam semua aksi kami. Goyangan Herman mulai kuat, kini gilirannya yang bakal ejakulasi, ia merangkul paha Bu Viany dan menariknya agar penis nya dapat tenggelam lebih dalam di lubang hisap itu, dan cairan kental berwarna putih pun sedikit mengalir keluar ketika Andi mencabut kejantanannya. Bu Viany yang masih terus menangis hanya bisa pasrah dengan perlakuan seperti ini, sudah dua lelaki yang menyemprotkan cairan benih kehidupan di dalam rahimnya, apa yang akan terjadi jika dia nanti hamil? Mungkin itu juga yang sedang dipikirkannya. Melihatnya sebenarnya saya sedikit iba, tapi nafsu saya sudah tak terbendung, apalagi mengingat sikapnya terhadap saya tadi pagi, membuat saya sedikit kesal.

Saya sudah tidak mendengar suara anak perempuan Bu Viany, gadis kecil itu tak bergerak, mungkin dia tertidur karena kecapekan karena dia dari tari meronta dan menangis. Tono kemudian meminta saya menggantikan posisi Andi, “Kamu duluan saja, bukan apa nanti kalau saya yang duluan, mungkin kamu bakal bete nungguin giliran”. Saya sangat tahu maksudnya, dia ingin bercinta lebih lama dengan Bu Viany, dan dia ingin membuktikan manfaat obat kuat yang telah dia konsumsi. Saya pun beranjak dari tempat saya, menarik keluar Mister P milik saya, walaupun saya masih berpikir sayang belum ada yang berhasil menyemprotkan benih-benih cinta haram ini di mulut Bu Viany.
“Bagus banget perek ini, kalau kita jual kepasaran pasti laku banget ya?” sindir Andi sambil berjalan menuju kursi sebelah Herman. Andi dan Herman pun beristirahat dengan ditemani sebungkus rokok yang tadi sempat saya hisap juga. Tak disangka saya yang termasuk “goodboy” bisa menjadi seperti ini. Saya masukkan dengan perlahan batang keperkasaan saya, terus melesap masuk, tidak begitu sulit karena memek Bu Viany telah basah dengan cairan sperma. Hangat sekali, rasa yang tiada tara, tubuhnya harum, sungguh saya sudah terperangkap dalam nikmatnya hubungan sex terlarang ini. Tono sudah mulai bosan mencumbui payudara Bu Viany saja, ia pun mundur dan memeriksa handycam nya. Kebosanan Tono memberikan saya kesempatan merangkul tubuh Bu Viany, sambil meneruskan aktivitas. Saya peluk tubuh Bu Viany, sungguh luar biasa merasakan kulit menyentuh kulit, dada saya menyentuh payudara Bu Viany. Saya tindih badannya dan segera melumat bibirnya. Bu Viany sedikit menolak, dia selalu memalingkan wajahnya dan berusaha agar saya tidak bisa menciumnya, tapi apa daya? Sekarang dia adalah milik kami seutuhnya, dia tak bisa berkutik lagi, kami dapat memaksanya bahkan bisa menyakitinya bila ia menolak kemauan kami.

Astaga, Tono kemudian menggenggam kameranya dan mengambil adegan kami dari dekat. Saya merasa semakin mengebu-gebu, saya di syuting dari arah yang dekat, bagaikan seorang bintang film panas yang bercerita sedang bercumbu dengan kekasihnya. Saya alihkan perhatian saya menuju lehernya, ku cium bahkan ku cupang. Sampai saya bosan dan beralih lagi ke payudaranya. Payudaranya memar-memar akibat perlakuan Tono, bekas cupangan ada di mana-mana, terus di sekitar putingnya tampak bercak merah, saya rasakan ini adalah darah, mungkin akibat jepitan di puting yang Tono tarik cerata brutal. Tapi saya tidak peduli lagi, saya tetap melakukan kesibukan saya, menjadi seorang aktor blue film walaupun masih amatir, tapi saya tidak mau menunjukkan kekuarangan saya yang belum pernah melakukan hubungan badan ini. Saya menikmati pergulatan ini dengan sabar, tidak brutal seperti mereka, dan tidak ingin lebih cepat berejakulasi dibanding mereka yang lebih berpengalaman. Batang berganti batang, Herman dan Andi merokok sambil bergosip ria, saya tidak mendengar jelas apa yang mereka rundingkan lagi, karna saya lagi fokus pada kesibukkan saya ini.

Namun, tiba-tiba Andi menawarkan sebuah idea pada saya, “Besok kita kerjain Bu Susi yuk?” Ternyata itu yang sedang dibahas mereka. “Orang lagi sibuk, jangan diganggu..” ujar Herman seolah mengejek saya. Bukan saya tak mendengar karna kesibukan saya, tapi saya kurang setuju, Bu Susi termasuk orang yang cukup baik, kurang tega sepertinya kalau saya harus mengerjainya. Saya terus menggenjot, hingga tubuh Bu Viany bergoncang naik turun, dalam pikiran saya malah tidak ada niat mengerjai Bu Susi, melainkan terlintas pada pikiran saya sosok Vera sang resepsionis yang sangat menarik. Ah, selesaikan ini dulu, baru nanti bahas masalah selanjutnya. Selang beberapa lama dalam aktivitas membara ini, saya rasakan penis milik saya ini sudah mulai bergetar tidak tahan ingin muntah, saya kemudian memeluk erat tubuh Bu Viany yang sudah terlalu capek untuk berontak, terus saya genjot dan saya percepat irama genjotan hingga akhirnya penis milik saya berhasil menyemprotkan cairan kenikmatan yang membuat saya seperti terbang ke langit. Nikmat sekali, sungguh luar biasa menurut saya, rasanya tidak ingin melepaskan pelukan ini, dan saya biarkan penis saya tertancap di lubang memek Bu Viany untuk sementara waktu. Tono masih mengambil video, dia tidak mengusik saya, jadi saya biarin dulu, dengan keadaan yang belum berubah, saya hanya melepas lelah dengan tidur menindih Bu Viany. Saya rasakan penis saya mulai menciut di dalam lubang vagina Bu Viany.

“Sudah selesai bos?”, tiba- tiba terdengar suara dari depan pintu ruangan. Syamsul dan Mamat sepertinya sudah mendapatkan yang mereka mau. Mereka memasuki kamar dengan membawa sebuah tas yang penuh terisi entah apa. Mamat langsung berjalan menuju ke lemari dalam ruangan, dibukanya dan diacak-acaknya . Sedangkan Syamsul mendekati saya, sudah bisa saya tebak apa mau nya. Terpaksa saya cabut penis saya yang sudah mengecil dan meninggalkan tubuh Bu Viany yang sedang menarik nafas panjang karena sesak tertindih oleh saya. “Sorry ya bos, kita gantian…”, kata Syamsul meminta ijin pada saya. “Wah, kalau begini, giliran saya kapan?” sindir Tono yang masih memegang handycam. Syamsul sudah tak mau menghiraukan sindiran Tono, dia langsung melepas semua pakaiannya. Wah, batang penis milik Syamsul besar sekali, mungkin bukan asli menurut saya, soalnya sungguh tidak masuk akal ukurannya. Jadi penasaran melihat aksi Syamsul dan bagaimana tanggapan Bu Viany.

Saya kemudian duduk berkumpul dengan Herman dan Andi, saya nyalakan sebuah rokok untuk menemani saya melihat aksi Syamsul. Sedangkan Tono keliahatan kesal, sampai dia tidak mau mengambil video lagi. Dia benar-benar ngambek, handycam langsung ditaruhnya di atas meja, dan dia bergabung dengan kami dan menyalakan rokok. Melihat temannya kesal, Herman merasa tidak enak, dia ambil handycam Tono dan menyoroti Tono. Herman coba menghibur Tono yang lagi menghisap rokok dengan muka cemburut. Sedangkan Syamsul sudah menancapkan penis jumbo nya ke liang vagina Bu Viany. Bu Viany terlihat kesakitan dengan ukuran jumbo yang mencoba mengobrak-abrik daerah kewanitaannya itu. Saya rasa batangnya terlalu panjang, kalau dipaksakan mungkin hanya bisa masuk 80% saja. “Aah, saakiiiittttttt… …” rintihan Bu Viany terdengar jelas.
“Wah, bisa kaya nich kita..” terlihat Mamat mengeluarkan banyak perhiasan emas dari lemari yang dari tadi diobrak-abriknya. Mamat mulai memasukkan semua perhiasan dalam tas besarnya itu, sempat saya lihat dalam tas tersebut banyak uang kertas pecahan seratus ribu dan beberapa buah telepon genggam. “Terlihat dilayar monitor, model majalah playboy, bernama Tono, badannya yang gagah dengan wajah ganteng…” goda Herman yang masih menyorot muka Tono saja. Akhirnya Tono tersenyum kecil, dibuangnya rokok yang baru dua kali dihisapnya ke lantai, terus diinjaknya agar padam apinya. Sepertinya dia kembali bersemangat karna godaan Herman. Tono bergerak ke arah anak Bu Viany yang masih tertidur dengan penutup mata menutupi matanya. Tono menyingkap rok gadis kecil tersebut dan kemudian menarik turun celana dalam gadis kecil tersebut. “Hahahaha, datang deh kumatnya”, kata Herman yang terus menyorot Tono, walau sesekali dia juga menyorot aksi Syamsul yang lagi hot. “Jangaan apa-apa kan anaak saaayyyaaa…”, Bu Viany memelas.

Syamsul sepertinya sangat brutal, ia langsung memberikan bogem mentah ke perut Bu Viany, hingga Bu Viany melonjak dan tak sadarkan diri. Syamsul tidak perduli itu, ia ingin menikmati tubuh Bu Viany tanpa gangguan. Saya hanya bisa melihat aksi mereka walaupun tak habis pikir dengan kelainan yang diderita Tono tersebut. Sepertinya gadis kecil itu tersadar dari tidurnya ketika Tono mulai melepaskan semua ikatan tali di tubuhnya. Gadis kecil itu berterik “Mama… ” meminta tolong walaupun matanya masih tertutup dan tidak tahu bahwa mama nya juga sudah tak berkutik. Tono mulai melepaskan semua pakaian yang dikenakan gadis kecil yang malang itu. Saya lihat susu anak kecil itu bahkan belum tumbuh, hanya sedikit saja tonjolan yang tak berarti, sedangkan memek gadis kecil itu mulus tanpa bulu sedikit pun, mungkin lubangnya pun tak bisa ditembus jari karena saking sempitnya.

Sepertinya Mamat sudah selesai mengemas semua perhiasan yang ada, dan dia segera bergabung dengan Syamsul. Dia melepaskan semua pakaiannya juga, hingga telanjang bulat. Penis milik Mamat kurang lebih sama ukurannya dengan milik Syamsul, besar dan panjang, dengan penuh urat-urat di sekitarnya. Mamat kemudian menampar-nampar pipi Bu Viany dengan penisnya yang besar panjang. Mereka terlihat seperti dua bersaudara, tubuh mereka juga relatif sama, kekar, berkulit hitam, dan penuh dengan tatto. Sambil menunggu giliran, Mamat menancapkan penisnya ke mulut Bu Viany yang belum juga tersadar. Sedangkan Tono, masih mengelus tubuh putih bening bersih gadis malang tersebut.

Sambil melihat aksi mereka, saya bersama Andi dan Herman saling berbagi kisah dan cerita, sambil melepas lelah. Dari sini lah kami menjadi akrab, bahkan hingga sekarang. Hingga sekarang pun kami masih memiliki pengalaman yang sangat mengasyikkan, jika saya tidak berhalangan waktu, saya akan terus membagikan cerita saya kepada pembaca semua.
Tono mengambil sextoy yang terletak di lantai, kemudian ia coba masukkan ke lubang kecil milik anak Bu Viany. Kelihatannya sextoy itu terlalu besar, dan tak bisa di masukkan. Gadis kecil itu ketakutan sekali, dan mencoba berontak, bahkan berusaha melepas tutup matanya. Tono yang sedikit tak fokus sehingga gadis kecil itu dapat lepas dari cengkraman Tono. Gadis kecil itu berlari keluar ruangan. Tapi apa daya, Tono lebih cepat, tak sempat berlari jauh, gadis kecil itu pun berhasil disambar kembali oleh Tono. Tono menggendongnya kembali ke kamar dan melemparkannya ke lantai. Astaga, brutal sekali. Tono sudah kelihatan kesal sekali dengan gadis kecil malang itu. Gadis kecil malang yang akan rusak masa depan nya sebentar lagi telah tidak memakai penutup matanya lagi, rambutnya pun sudah acak-acakan di mana pita ikatan rambutnya sudah terlepas. Pandangan Tono sungguh bringas, tatapannya sangat mengerikan, seolah-olah liurnya akan menetes keluar dari mulutnya dan segera dijilati lagi dengan lidahnya agar sekitar mulutnya kering dari liurnya. Gadis kecil itu kemudian menangis sekencang-kencangnya, matanya sudah mulai bengkak, pipinya penuh dengan air matanya. Tono mendekati gadis itu dan mengangkatnya ke atas kursi yang tadi digunakan untuk mengikat anak itu. “Kamu bisa diam ga? Atau kamu dan mama kamu, kami bunuh?”, ancam Tono yang kemudian mengambil tangan gadis kecil itu untuk disentuhkan ke penisya. Gadis kecil itu masih tidak bisa menghentikan tangisnya, tapi gadis kecil itu pun tidak bisa menolak perintah Tono, badannya terlalu lemah untuk melawan. Dia pun diajarkan Tono untuk memainkan penis dan mengulumnya. Mulutnya kecil sekali, batang penis milik Tono tak bisa masuk dengan penuh, jadi anak itu hanya mampu menjilati dan mengkocok-kocoknya dengan tangan mungilnya. Tubuhnya gemetaran, sangat takut dengan semua perlakuan ini.

Tono masih berdiri di depan gadis kecil yang sedang melayaninya. Mungkin ini sedikit brutal dan tak seharusnya pembaca membacanya. Tapi ini hanyalah sharing dari saya, tidak perlu ditanggapi serius. Sedangkan nasib Bu Viany masih belum sadarkan diri, dia masih terus digenjot oleh Syamsul, dan Mamat juga sedang menggagahi mulut Bu Viany. Sepertinya saya, Andi, dan Herman, telah selesai men-charge kembali tenaga kami. Penis saya kembali eraksi, namun saya hanya bisa menunggu, dan saya yakin Herman dan Andi pun sudah tak sabar menunggu giliran. Setelah berhasil menyemprotkan sperma di dalam tubuh Bu Viany, Syamsul segera mencabut penisnya, karna dia juga mengerti dengan keinginan Mamat yang tak sabar ingin juga menikmati lubang kewanitaan Bu Viany.
Daripada menunggu kelamaan, kami pun beranjak dari kursi, saya segera mengambil posisi didekat muka Bu Viany, seperti adegan sebelumnya, mulutnya masih menjadi target nikmat. Sedangkan Herman mengulum payudara Bu Viany, disedotnya dengan kuat dan digigit-gigitnya puting yang sudah terlanjur cedera tersebut. Hanya Andi yang mempunyai ide lain, dia meminta kami sedikit pengertian untuk menghentikan aktivitas kami. Ternyata dia menemukan minyak angin di dalam tas yang dibawa Tono, ia segera menggosokkan minyak angin itu di area bawah hidung Bu Viany agar tersadar. Kami yang lebih tertarik menyetubuhi Bu Viany secara sadar, sangat mendukung aksi Andi. Hanya Syamsul yang lebih tertarik menyetubuhi pasangannya yang dalam keadaan tak sadarkan diri.

azusa-akane-8

415x55Syamsulpun hanya duduk di kursi tempat sebelumnya kami duduk, sebenarnya dia kelihatan tidak begitu capek, mungkin dia hanya sedikit bosan dengan permainan tadi. Akhirnya Bu Viany pun tersadar dari pingsannya, dan dia kemudian kembali menangis ketika melihat anak perumpuannya sedang mengulum batang kejantanan milik Tono, “Tooloongg, lepassskaaannnn anaakkkkk sayaaa…” pinta Bu Viany. “Tenang saja, teman saja cuma menyuruhnya hisap, tak lebih, tapi kalau kamu tidak menuruti perintah kami, mungkin kami yang akan bertindak, mungkin saja anak kamu akan kami perkosa bergantian, bahkan kami bunuh”, ancam Andi. Bu Viany yang masih meneteskan air mata langsung terdiam, dia tidak mau terjadi hal yang lebih mengerikan terhadap anak perempuannya. Sedangkan anaknya sendiri tidak memperhatikan lagi keadaan ibunya, matanya sudah bengkak penuh air mata, tubuhnya masih gemetaran, hanya sedikit tenaga saja yang masih tersisa padanya untuk mengulum penis milik Tono. Andi pun menyuruh kami semua turun dari tempat tidur, kemudian dia memerintahkan Mamat untuk membaringkan diri dengan terlentang.

Diapun memerintahkan Bu Viany untuk segera menaiki kasur dan bergaya WOT (Woman On Top). Awalnya Bu Viany menolak, tapi Herman dan Andi segera memapahnya ke atas, dan meletakkan dia di atas Mamat, dengan pas penis Mamat yang berdiri tegak menancap “blezzz” ke lubang vagina nya Bu Viany. Kemudian Andi mendorong punggung Bu Viany hinnga tubuhnya bersentuhan dengan Mamat. Mamatpun segera memeluk erat tubuh Bu Viany. “Nah, ada tambahan satu lubang lagi yang nganggur, siapa mau?” Andi menawarkannya kepada kami. Saya dan Herman hanya diam saja. Kalau saya sendiri sich merasa jijik kalau sampai harus merasakan lubang anus, mungkin karna saya belum pernah mencobanya, atau bagi mereka yang doyan, mungkin itulah sensasi menarik bagi mereka. “Jangan , tolong jangan di sana, saya belum pernah” kata Bu Viany yang ketakutan. “Makanya… Dicoba dulu…”, ujar Andi menanggapi Bu Viany. Saya bergerak ke arah depan agar Bu Viany bisa mengulum penis milik saya, dan Herman menarik tangan Bu Viany untuk mengocok kejantanannya. Melihat demikian, Andi langsung menancapkan penis nya ke lubang anus nya Bu Viany. “Akhhhhh……….” teriak Bu Viany yang kesakitan ketika lubang anusnya yang sempit dipaksa dengan keras oleh batang Andi yang mengeras, badannya tersentak dengan mata yang membelalak, seperti orang yang tersambar petir secara tiba-tiba. Karena kesakitan, hampir saja Bu Viany menggigit kemaluan saya, untung dengan cepat saya jambak rambutnya dan menjauhkan mulutnya dari penis saya. Saya tampar pipinya agar dia mengerti apa yang hampir dia lakukan, emangnya dia pikir kemaluan saya adalah sosis yang tinggal digigit saja? Sialan banget, bikin saya jantungan saja.

“Wuih, terjepit dengan kuat, kalian yang ga coba, jangan nyesal ya…”, goda Andi. Saya belum berani menancapkan kembali “sosis” saya hingga Bu Viany mulai terbiasa dengan cumbuan di lubang anusnya. Beberapa menit telah berlalu, kamipun belum sempat ada satupun yang berejakulasi. Saya lihat Tono masih dikulum oleh gadis kecil yang sangat-sangat kelelahan itu. Semakin dilihat bukannya saya semakin kasihan, tetapi malah sebaliknya, saya malah sangat terangsang. Astaga, apa penyakit hypersex Tono bisa menular? Kuluman mulut Bu Viany terhadap penis saya malah tidak saya hiraukan, melainkan saya membayangkan gadis kecil itu yang mengulumnya. Dengan fantasi seks itu malah saya mencapai klimaks, saya pun mencengkram kepala Bu Viany dengan kuat, saya pun mendorongkan batang saya hingga sedalam mungkin, sampai Bu Viany kehilangan napas, dan saya berhasil membasahi kerongkongannya dengan air mani saya.

Saya pun mundur menjauhi Bu Viany, tetapi saya tidak beristirahat, pandangan saya tidak lepas dari tubuh sang gadis kecil. Saya pun mendekatinya, saya coba mengusap tubuh gadis kecil itu. “Wah, ente maniak juga ya bro…”, ejek Tono yang masih memaju mundurkan pinggangnya di depan wajah gadis kecil ini. Saya coba menciumi susu gadis kecil malang ini yang belum tumbuh, saya sedot kuat di bagian putingnya. Rasa capek saya seolah hilang begitu saja, betul-betul obat mujarab penghilang rasa capek. Merasa sedikit bosan, saya dan Tono pun meraba paha hingga selangkangan gadis kecil itu. Jari-jari kami pun mencoba menerobos ke dalam lubang memek milik gadis kecil itu. Perebutan kami akhirnya dimenangkan Tono, dia berhasil menusukkan jari telunjuknya ke dalam kemaluan anak perempuan Bu Viany hingga gadis kecil itu berteriak kesakitan. Sedangkan di atas tempat tidur, perduelan Bu Viany dengan Andi dan kawan-kawan masih berlangsung, bahkan Syamsul telah bersemangat kembali dan ikut nimbrung di sana. Beberapa menit kemudian, kami sudah tidak hanya menjamah dengan tangan saja di tubuh gadis kecil ini, Tono sudah berhasil memperbesar lubang kemaluannya dengan jari, dan Tono sudah siap menancapkan batang kejantanannya.

Berjam-jam telah kami kerjai ibu dan anak ini secara bergantian, sudah tidak tahu berapa kali saya menggagahi mereka berdua. Sampai pagi tiba, tepatnya pukul 4 pagi, kami akhirnya terpaksa menyudahi kegiatan kami. Tubuh Bu Viany dan anaknya penuh dengan cupangan dan cairan air mani di mana- mana. Tetapi sebelum itu, kami masih sempat membawa mereka ke kamar mandi. Anak dan ibu yang ngos-ngosan itu kami bopong, dan kami mandikan di kamar mandi. Tak terlewatkan oleh kami untuk melakukan satu ronde lagi di bawah guyuran shower dan dalam bak mandi. Setelah puas, kami kembali memakaikan busana ke tubuh mereka. Syamsul dan Mamat mengemas hasil curian mereka, Tono pun kembali memasukkan peralatannya. Setelah berkemas-kemas, dan kembali berpakaian, kamipun siap meninggalkan mereka. Tetapi sebelum itu, kami mengancam Bu Viany agar tidak mengadukan hal ini, karena kami tidak akan segan-segan untuk menyebarkan video adegan permainan sexs ini, bahkan kami juga tidak akan membiarkan keluarganya tenang apa bila dia berani macam-macam. Bu Viany yang terduduk di atas tempat tidur sambil memeluk anaknya, hanya bisa mengangguk, dia juga tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi, cukup ini pengalaman terpahit yang tidak boleh lagi terulang.

Sebelum beranjak dari ruangan, saya mendekati Bu Viany yang sudah harum, saya cium keningnya dan mengucapkan “Terima kasih bu…” Kami pun masuk ke APV dan meninggalkan rumah Bu Viany. Dalam perjalanan Andi dan Herman membahas masalah ingin mengerjai Bu Susi, tapi saya menolak, “Lain kali saja dibahas, saya capek, ingin segera pulang dan beristirahat”. Mereka malah mempunyai ide lain, mereka malah ikut ke kost saya dan membahas rencana berikutnya di kamas kost saya. Syamsul dan Mamat pun membagi hasil curiannya. Saya sudah tidak perduli apa yang mereka bahas, saya segera mengistirahatkan badan karena sudah capek sekali. Yang penting saya sudah mendapatkan pembagian hasil curian yang setidaknya bisa menutupi hutang sewa kost saya yang tertunggak enam bulan, bahkan bisa untuk membayar enam bulan berikutnya. Video hasil syuting disimpan baik-baik oleh Tono, saya tidak berani meminta copy-an nya, karna saya takut lalai dan mejatuhkannya. Hingga sekarang saya belum tahu apakah film itu ada diplubikasikan atau tidak. Mungkin Tono juga menyimpannya dengan baik karena Bu Viany tidak pernah menggugat kami, malahan dia telah pindah ke luar kota, dia memilih untuk tinggal di kota tempat suaminya bekerja. Setelah kejadian ini, kami masih meneruskan hobi baru kami ini, dan saya akan membagikan ceritanya kepada para pembaca, bahkan kisah-kisah teman saya yang lebih seru lainnya.

TAMAT

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Berita, Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s