Juwita Hati part 14

imagen28Brian Kusuma Wardhana sudah kembali ke rumah kost yang berbentuk bangunan joglo dengan beberapa sangkar perkutut milik Si empunya kost, setelah tadi berpisah dengan para sahabatnya di kampus.

Kicauan yang didendangkan makhluk lucu bersayap itu begitu merdu meski terkurung didalam sangkar. Perkutut berparuh lancip itu pun seakan turut memberikan ucapan selamat suka cita kepada Bre yang telah berhasil melewati ujian sidang skripsi dengan sukses dan lancar.

Saipul yang tahu Bre sudah pulang dari kampus langsung bergegas untuk nyamperin teman satu kost-annya itu.

“Gimana Bre sidangnya? Sukses kan?” tanya Saipul menggebu-gebu.

Hmm.. Berkat do’a lu juga, Pul. Gue akhirnya lulus..” jawab Bre sambil mengembangkan senyumannya.

Wajah ganteng Bre yang tadi pagi sebelum berangkat begitu tegang sekarang terlihat sangat santai. Beban di pundak yang begitu berat kini telah lenyap dan berganti dengan kebahagiaan.

“Mantaap, Prend!!” ujar Saipul ikut merasa senang dan langsung memeluk Bre.

“Dapat nilai apa?” tanya Saipul lagi.

“A..”

“Waah hebat banget lu, Bre!! Besok kalo gue maju sidang tolong do’ain juga yaa biar gue juga dapet nilai A..” lanjut Saipul.

“Ga usah lu minta, pasti gue doa in kok, Pul. Lu sahabat baik gue. Yaa ngga?? Hehehee..” bilang Bre sembari ketawa pelan.

“Hahahaa.. Siip dah!” kata Saipul.

Bre terdiam sejenak karena tiba-tiba teringat dengan kerikil hias pemberian Keysha yang harus segera di hitungnya. Tapi, Bre juga inget bahwa dia harus ke kantor Ibu Dini untuk mengambil hadiah Galaxy Tablet hasil dari kesuksesannya membawakan lagu Nirvana kemarin.

Setelah menimbang-nimbang sebentar, akhirnya Bre memutuskan untuk mengambil hadiah itu terlebih dahulu sebelum ntar menghitungkerikil warna merah dan kerikil warna hijau dari Keysha Luna Djatmiko.

“Pul, lu sibuk ga hari ini? Ada kelas ga lu?” tanya Bre pelan.

“Gue ga ada kelas Bre, so today gue nyantai aja kok di kost-an. Emangnya kenapa?” tanya Saipul sambil merogoh saku celananya untuk mengeluarkan sebungkus rokok.

“Gue mau minta anter sebentar neh, ke kantor provider telekomunikasi..”

“Siaap deh Bre. Kapan? Sekarang??” tanya Saipul tapi langsung dijawabnya sendiri.

“Yuhuu, sekarang, Pul..”

“Oke gue nyiapin motor dulu..” kata Saipul langsung ngeloyor nyiapin motor kesayanganya.

Ndrheeen!!.. Ndrheenn!!!.. Ndhreennn!!..

Ibu Dini, I’m cominggg . . .!!!!

Bre dan Saipul telah sampai di depan kantor Ibu Dini yang berdiri kokoh dan tampak indah dengan beberapa tumbuhan di halaman depan, sehingga tampak asri dan teduh.

“Lu tinggal aja, Pul..” kata Bre seraya merapikan rambut dreadlocknya yang semakin panjang.

“Ntar pulangnya gimana lu?” tanya Saipul.

“Gampanglah. Naik angkot juga bisa..”

“Okee deh kalo gitu, Bre. Gue cabut dulu yaa..”

“Thanks banget ya Pul. Elu hati-hati dijalan..” pesan Bre kepada temen satu kost-annya itu.

“Beres!!”

V2Saipul pun berlalu dari tempat dimana Bre masih berdiri didepan kantor salah satu provider telekomunikasi yang berkantor pusat di ibukota negara tercinta ini. Akhirnya, Saipul pun menghilang ditelan keramaian jalanan di siang hari sabtu itu.

Dengan langkah yakin karena akan mendapatkan sebuah gadget canggih, Bre memasuki ruangan front office dan bertanya kepada salah seorang yang seang incharge disitu.

“Siang, Mbak. Nggg.. Bisa bertemu sama Ibu Dini Amalia?” tanya Bre dengan ramah.

Mbak yang ada di front office sedikit kaget dengan memicingkan kedua matanya, ketika ada cowok dengan penampilan eksentrik bertanya kepadanya.

“Udah janjian belon, Mas?” tanya balik Mbak resepsionis kepada Bre.

“Iyaa, tadi pagi sudah janjian kok..”

Sebelum Mbak resepsionis itu memencet nomor telephone extensi ke ruangan Boss nya, tiba-tiba terdengar suara yang merdu tapi dengan desibel yang rada keras.

“Hi.. Brian kan?” tanya suara merdu itu dari arah samping Bre.

Bre langsung menolehkan kepalanya kesamping untuk mencari sumber suara yang memanggilnya.

“Siang Ibu Dini. Iya, saya Brian..” sapa cowok ganteng itu langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Ini saya mau makan siang, kamu sekalian aja ikut saya menemani makan. Lagian ini udah time for lunch kan? Hehee..” ajak Ibu Dini ramah dan langsung tampak akrab dengan Bre.

“Iyaa, Mas ikut makan makan aja pasti ditraktir kok gasah khawatir. Hihihiii..” timpal Mbak resepsionis sembari tertawa.

Kampreettt!!! Emang tampang gue, tampang ga punya duit apa?? Pake kalimat ‘pasti ditraktir kok’ segala . . Huufttt!!!

“Hahahaaa!!”

Sang Manager Area langsung tertawa demi mendengar celotehan anak buahnya itu.

“Hehehee.. Iyaa deh, Bu. Mari..” ucap Bre ikutan tertawa dan langsung mengikuti Ibu Dini dari belakang kearah parking area dimana Audi kesayangannya menunggu dengan setia.

“Brumm!.. Bruummm!!.. Bruummm!!”

“Enaknya mau makan dimana neeh, Bre??” tanya Ibu Dini membuka percakapan.

“Terserah Ibu Dini aja deh yang milih. Saya mah manut aja gitu, hehee..” jawab Bre poloosss.

“Dini..”

“Maksudnya..? tanya Bre bingung.

“Just call me, Dini..” tegas cewek cantik yang sedang mengemudikan mobil sedan kesayangannya itu.

“Gue kan masih muda, Bre. Masak dipanggil Ibu siih? Emang dah kaya ibu-ibu yaah?” imbuh Ibu Dini sembari cembeyuut manja.

“Hehehee.. Iya deh Din. Siap!” sahut Bre dengan kekehan magisnya.

“Tapi kamu yang traktir yaa Bre? Dompet gue ketinggalan neeh..”

“Hah! Apa Din? Eeh. Ngg.. Gimana yaah. Gu.. Guee.ee….” ucap Bre gugup sambil menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.

“Kenapa emangnya?” Dini menyunggingkan senyum mautnya seraya melirik Bre yang tampak bego.

“Ngg.. Gue bawa dompet siih, tapi duitnya yang ketinggalan..” balasnya lugu.

“HAHAHAAA!!” Dini yang cantik itu tergelak-gelak demi mendengar alasan Bre yang begitu konyol menurutnya. Busungan toked indahnya pun ikut tertawa dengan bergerak-gerak lembut dibalik kemeja kerjanya yang tipis.

images (2)

Hari sabtu yang indah ini, Dini mengenakan kemeja kerja warna putih tipis dengan renda-renda yang menghias dibagian krah dan lengan.Half cup bra dengan warna biru tinta terlihat jelas membungkus dan mencetak lekukan profil dari daging buah payudaranya yang tampak semakin membusung.
Untuk bawahannya, cewek penggemar berat Kurt Cobain ini mengenakan rok mini rada longgar.

Rambut indahnya yang panjang dibiarkan tergerai dengan kacamata hitam yang nangkring diatas kepalanya berfungsi sebagai bando. So cutee!!

Sejuknya ac yang menyelimuti didalam mobil sangatlah nyaman untuk melawan terik mentari yang menyengat galak. Mata elang Bre pun segera piknik menjelajahi tubuh cewek cantik yang sedang berkonsentrasi memacu mobilnya membelah jalanan kota.

Mata bersorot tajam Bre mulai merayap turun kearah leher jenjang Dini. Mengamati sejenak kemulusannya, sebelum mengarah ke gundukan sepasang toked besar yang terlihat begitu menyembul.

Padat, berisi, dan begitu kencang sedang terbalut kemeja kerjanya yang tipis. Bre pun bisa melihat sebagian kulit putih di sembulan toked Dini yang mengintip nakal terlihat diantara kancing kemeja yang dikenakannya.

Tangan yang sedang menyetir juga tak lupa untuk disantapnya. Putih, lembut, dan sedikit ada bulu-bulu halusnya.

Nafas Bre semakin cepat, ketika dia melongokkan pandangannya kebawah karena disitulah sepasang pahanya terpampang tanpa tedeng aling-aling alias terlihat jelas.

Balutan rok mini longgar yang dikenakannya terangkat tinggi sampai sedikit ke pangkal paha. Tenggorokan Bre pun tampak menelan ludah demi melihat pesona yang ditunjukkan oleh sepasang tungkai kaki Miss Dini.

“Busyeeet.. Mulus banget nih kaki. Shitt!! Mana pahanya ke buka lebar banget..” gumam Bre dalam hati.

“Ehemm!.. Eheemm!!” Dini berdehem. Senyum manjanya tersungging saat tahu kelakuan nakal mata seorang mahasiswa yang suka membagi-bagikan tanda tangannya kepada Bik Sumi.

Brian pun kaget mendengar deheman merdu dari mulut mungil manager area provider telekomunikasi ini.

“Perasaan kalo naik mobil pandangannya kedepan deeh. Tapi yang ini kok malah kebawah yaa?? Kaya mau nyari jangkrik..” gumam kalem cewek bertubuh semampai sambil menahan tawa seraya tangan kirinya memutar cd player.

“Hehehee.. Siapa tahu ada jangkriknya..” jawab Bre ber-alibi garing.

“Hahahaa! Bree.. Bree.. Bisa aja lu..” balas Dini sembari menggeleng-gelengkan kepala mendengar alesan Bre.

Diiringi lagu cadas dari BurgerKill, akhirnya mobil sedan berkelir hitam mengkilat itu memasuki sebuah restoran. Mereka berdua berjalan beriringan sambil masih senyam-senyum dengan kejadian didalam mobil barusan.

“Disini??” tanya Bre menunjuk ke sebuah meja dan langsung duduk di kursi yang mengelilingi meja.

“Okee kalo kamu mo duduk disitu yang terlalu deket dengan parkir. Gue didalem sebelah samping aja..”

Dini langsung ngeloyor melangkahkan kaki belalangnya ke bagian dalam resto dan membiarkan Bre yang terduduk bengong sendirian seraya memandangi pantat bohay yang bulet kencang milik Dini. Tak berapa lama, Sang DonJuan pun ngibrit menyusul Dini.

“Disini aja. Gimana? Asyiikkan?” tanya Dini dengan senyum manis menggoda, sambil memasuki sebuah saung gazebo lesehan.

“Waah siip banget, Din. Pilihan yang tepat..” jawab Bre dengan acungan jempol menyetujui cewek ber-bando kacamata hitam.

Dini duduk dengan menekuk kedua lututnya seperti seorang pertapa. Sehingga, batang paha putih mulus itu kembali terlihat nyata didepan mata Bre. Cowok bertubuh tegap itu segera menyusul duduk berhadapan dengan nona cantik ini.

Bre dan Dini mulai membaca menu, kemudian menimbang, dan memilih, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk memesan menu makan siang yang lezat-lezat kepada waiter restoran tersebut.

“Padahal saung ini terbuka gini tapi kok masih pengap dan gerah yaa..” celetuk kekasih Reno sambil mengibas-kibaskan telapak tangannya kearah leher jenjang dengan bulu-bulu lembut ditengkuknya.

“Ga begitu gerah juga kalee, Din.”

“Itu kan menurut elu, Bre..” sahut Dini cepat.

“Gue kipasin gimana?” tawar Bre sembari mengambil daftar menu untuk meng-angin-i cewek bertubuh seksi yang duduk dihadapannya.

“Ga usah Bre. Emang gue sate apa? Pake dikipasin?”

“Hehehee..”

Layaknya seorang exib yang sudah profesional, Sambil berpura-pura membaca buku menu yang tergeletak diatas meja ber-anyam rotan itu, Dini dengan santai dan seakan-akan tanpa sadar dia pun mulai melepas 1 kancing kemejanya bagian atas.

shannyn9Gerakannya sangat perlahan tampak dibuat sensual olehnya. Kulit dadanya yang putih semakin terekspos jelas dengan sedikit gelembungan buah tokednya yang sebelah atas. Dan Bre pun langsung memandangnya tak berkedip.

Setelah melepas kancing pertamanya, jemari lentik berkulit lembut itu pun merayap turun lebih kebawah lagi untuk melepas kancing kemejanya yang kedua.

“THAASH!!”

Terbukalah kemeja kerja itu begitu lebar. Sembulan sepasang buah tokednya yang besar dan putih pun tampak semakin membusung indah menantang cowok ganteng berambut dreadlock itu, yang sekarang mata elangnya malah berkedip-kedip menjelajahi buah berharga punya Dini tanpa bilang permisi.

Dengan pemandangan yang sangat merangsang didepannya itu, maka tak ayal lagi batang kelelakiannya yang gemuk tampak mulai menggeliat dan akhirnya menegang.

Kombinasi dan perpaduan wajah cantik dengan sembulan susu segar 36B Dini mampu menyilaukan kontienya Bre hingga menangis tersedu mengeluarkan air ajaib dari celah lubang kemaluannya.

Aroma wangi yang terpancar dari setiap lekukan tubuh seksi kekasih Reno itu juga mampu membuat cuping hidungnya Bre kembang-kempis memalukan.

Brian, gitaris yang juga merangkap sebagai vocalis itu tanpa malu lagi memandang frontal kearah dada Dini yang sudah terbuka sedemikian lebar. Dilihatnya gundukan yang terlihat kenyal dan sekel itu bergerak-gerak lembut tapi begitu menggoda, seiring tarikan nafas cewek cantik berbando kacamata hitam itu.

Dini Amalia juga tampak melihat kearah Bre dengan pandangan nakal. Tanduk iblis itu mulai muncul diatas kepalanya.

Lidah lancipnya yang merah basah disapukannya melingkar kearah bibir tipisnya sendiri beberapa kali, kemudian bibir ranum itu di gigit-gigit kecil dengan ekspresi wajah yang memancarkan getaran birahi.

Sesekali pula cewek yang pernah memberikan kepuasan kepada Paidi semasa kuliah dulu itu menegakkan tubuhnya rada kedepan, membusungkan dada, dan mengangkat kedua tangannya keatas untuk merapikan rambutnya setelah di kibaskan kekanan dan kekiri terlebih dahulu.

Otomatis, dengan gerakan yang sangat sensual itu maka sepasang toked besar yang terbungkus half cup bra warna biru tinta semakin membusung dan menyembul.

Samar-samar pula mata elang Bre bisa menangkap pergerakan puting mungil kemerahan yang menyeplak menembus kemeja Dini.Ouugh!! Dekatkanlah aku dari godaan manis iblis cantik ini yaa Tuhan..

Brian pun memerah wajahnya. Tenggorokan berjakun itu pun tampak bergerak menelan ludah untuk yang kesekian kalinya.

Sedangkan Dini yang menjadi objek fantasi Bre pun sedikit menyunggingkan senyum kemenangan, setelah mengetahui bahwa cowok yang duduk didepannya mulai limbung oleh racun mematikan yang dikeluarkan oleh tubuh sintalnya.

Lonjoran batang kontie Bre sudah menjendol membentuk sebuah tenda di celana panjang kain yang dipakainya. Hmm.. Tampak menjadi sesak dan menyempit.

Ketika masih asyik dengan sosok menarik didepannya itu, pelayan resto datang dengan membawa masakan yang tadi telah dipesan oleh Dini. Segera Bre beranjak berdiri untuk menerima makanan dari pelayan resto itu.

Dengan posisi berdiri didepan Dini, Brian tidak menyadari kalo jendolan dari batang kontienya itu menodong, mengacung keras keras mengarah ke wajah Dini yang tetap duduk manis.

Wajahnya yang putih itu segera saja berubah menjadi merah demi melihat kejantanan cowok berpostur tegap yang sedang menerima makanan. Gejolak birahinya pun mengayun kesana kemari. Nafasnya tampak sedikit cepat.

Lunch together in togetherness pun menjadi ajang Dini untuk membakar nafsu syahwat Bre. Seperti ketika sudah menyendokkan makanan dan kemudian akan menelannya, Dini sedikit meleletkan lidah basahnya yang berwarna merah segar itu untuk menjilat-jilat bagian bawah sendoknya, menyentil-nyentilkan lidahnya, sebelum akhirnya memasukkan sendok tersebut kedalam mulut mungil berbibir tipis dengan ekspresi sedikit memercingkan mata beningnya.

Brian Cuma terbelalak dengan aksi nakal Bidaari Badung itu. Telapak tangan sebelah kirinya pun mulai mengusap-usap kontienya sendiri sambil menikmati gesture tubuh sang manager area.

“Bre, Galaxy Tabletnya lupa ngga aku bawa neeh..” kata Dini tiba-tiba.

“Hah!! uhukK!.. uhukkK!!..” Bre yang masih asyik menikmati tontonan menarik pun tersedak.

“Nhaah tuuh!! Makanya ati-ati, Bre. Ngeliatin apa siih? Kok tegang gitu? Hihihiii.. Minum dulu, Bre..” ucap gadis seksi sambil tersenyum karena tahu kalo cowok aktivis kampus itu terpana dengan aksi nakalnya.

“Hehehee.. Makanannya enak banget neeh, jadi tersedak deeh..” timpal Bre mengeluarkan jurus ngelesnya.

“Lha terus gimana dong, Din..” tanya Bre setelah meneguk es soda gembira.

“Kamu abis ini ikut aku dulu ngambil tuuh barang yaa..” ajak Dini Amalia, cewek high class itu sambil mengambil buah pisang sebagai makanan penutup.

Sambil terus berceloteh ceria, Dini kembali menunjukkan keahliannya mengombang-ambingkan nafsu birahi Brian.

Dini menjilat dan mengecup ujung buah pisang yang sudah terkupas kulitnya itu. Berdecap-decap seksi.

Kemudian, pisang itu ditelannya separoh didalam mulut dan mendiamkannya sesaat. Dini tidak segera menggigit pisang yang tengah menyumpal mulut mungilnya, melainkan dia malah sengaja mengeluarkan pisang tadi dengan gerakan perlahan, sebelum memasukkannya lagi kedalam mulutnya.

Ouughh!! Gerakan mengoral kontie itu dia praktekkan dengan sangat lihai dihadapan Bre. Kalo seandainya pisang itu tiada kulit, niscaya kemampuan deepthroath yang sempurna akan ditunjukkan pula kepada Bre.

16c48e18402b163683b49d8a3c6405b0

Keseluruhan dari gerakannya itu sungguh sempurna. Begitu halus, menggoda, dan tentunya menghanyutkan.

“DOORRR!!!!” teriak Dini.

“GLEEKK!! uhukK! Uhuuukk!!” Bre tersedak puding dan langsung terbatuk-batuk karena kaget oleh suara pistol yang terdengar menggelegar keluar dari mulut cewek cantik itu disaat dirinya tengah asyik melihat opera hot yang diperankan oleh Dini.

Hihihiii.. Udah yuuk cabut, Bre.” ajak Dini seraya berdiri dari duduknya.

Ooh Shitt!! Ketika Dini membungkukkan tubuh sebelum berdiri, kedua toked besarnya langsung saja tampak berayun-ayun menggemaskan.

Dua bongkahan daging segar itu saling menghimpit satu sama lain, seakan-akan berlomba untuk menyentuhkan diri ke muka blo’onnya Bre.

Puting imut kemerahan yang selama acara lunch tampak nyeplak malu-malu, seketika itu juga, dia menampakkan diri yang sesungguhnya. Begitu mungil tapi tampak menegang. Begitu memerah tapi tampak bergairah.

Dini berjalan mendahului Bre yang juga tampak mengikuti dirinya. Kedua jemari tangannya yang lentik dengan lincah segera mengancingkan 1 buah kancing saja dari 2 kancing yang dibukanya.

Dari sudut matanya yang bening, tampak Bre sedang sibuk membetulkan posisi ular naga miliknya yang terselip dibalik celana panjang. Seulas senyum genit tersungging di bibir manis Dini.

Setelah membayar sejumlah rupiah, mereka berdua pun segera meluncur ke tempat Dini untuk mengambil Galaxy Tablet.

“Bruuum!!.. Bruuumm!!.. Bruummm!!”

Pedal gas merk Momo diinjak oleh Si empunya kaki belalang berkali-kali sebelum..

“CHIEETTTTHH!!!.. CHIIEETH!!”

Dengan menekan setengah kopling dan injakan pedal gas yang dalem, Michellin itu berputar sliding sebentar dengan mengeluarkan asap putih sebelum melontarkan body yang disangganya. WHUUUSSSS!!!

New Text Message

To: Telur^^Asin^^Lovely

Gue meluncur, Beibh! Lu siap-siap yaah.. Hihihiii..

Send Message Delievered.

Bersambung . . . .

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s