Juwita Hati part 9

images (3)“Gimana tadi?” tanya Bre sambil mengemudikan Volvo hitam membelah keramaian jalanan kota.

“Beres Mas. Tadi Ujie dah Keysha gampar dan maki-maki. Keysha dah putus sama dia..” jawab Keysha lega dengan sedikit senyuman dibibir tipisnya.

Bre melihat wajah cantik Keysha yang terlihat sudah tanpa beban setelah meluapkan emosi terhadap Ujie. Tapi ada satu hal berat lagi yang harus Keysha tahu. Soal Papanya yang selingkuh dengan dosen cantik Ibu Carissa.

Bre berpikir apakah persoalan Papa Keysha dengan Ibu Carissa harus dikatakan sekarang juga? Hmm.. Sekarang apa nanti sama saja, malah kalo semakin lama akan semakin lebih menyakitkan.

“Sha.. Sebenernya ada hal penting lagi yang harus lu ketahui..” kata Bre dengan ragu-ragu.

“Apa itu Mas?” selidik Keysha penasaran.

“Begini Keysha, gue berpikir setelah kejadian dengan Ujie tadi mending lu juga segera tahu sesuatu yang penting bagi keluarga lu. Gue ga mau menunggu besok-besok untuk mengatakannya karena itu akan membebani pikiran lu lagi yang sekarang udah terlihat lega. Semuanya demi kebaikan lu juga keluarga lu..” jelas Bre sambil mengarahkan pandangan kedepan.

“Apa sih Mas?? Penting banget yaa?” tanya Keysha dengan nada khawatir.

“Iyaa, penting banget..” sahut Bre datar.

“Emangnya apaan??”

“Gue harap ntar lu bisa……. Oke kita ke kost an dulu, kita obrolin disana.” Kata Bre menggantung kalimatnya dan segera mengajak Keysha ke kost annya.

“Oke mas..” bilang Keysha menyetujuinya.

20 menit mereka berdua lalui bersama didalam mobil sedan yang nyaman dengan air conditioner yang berhembus menyejukkan kalbu hingga akhirnya Bre dan Keysha telah sampai di kost yang tampak asri dengan berbagai pohon dan tanaman hias itu.

“Silahkan masuk, sorry berantakan.. Maklum belum ada sosok makhluk cantik yang mau menata kamar ini hehehe..” ujar Bre mempersilahkan Keysha memasuki room sweet room kebanggaan Bre.

“Aah Mas Bre bisa aja deh.. Mau ga kalo Keysha yang bantu ngerapiin kamarnya? Hihihiii..” kata Keysha menawarkan diri diiringi tawa yang manja.

“Mauu bangeetttt!! Yuuk mariii.. Hehehee..” jawab Bre genit dan berlogat bencis.

“Iiiih Mas Bre jangan kaya bencong gitu aah. Geli ngeliatnya..” sahut Keysha sambil mencubit pinggang Bre.

“Hahahahaaa!!!”

Tawa mereka berdua memecah keheningan kamar kost.

Bre segera beranjak menyalakan komputernya. Menunggu loading beberapa saat sampai komputernya* itu siap digunakan.

“Keysha apapun yang lu tahu nantinya, gue harap lu tetap tenang dan masih bisa berfikir logis.” Pinta Bre sambil tangannya mengarahkan mouse menuju folder yang diberi nama ‘top secret’.

“Iyaa Mas..” jawab keysha terlihat grogi.

“Silahkan dibuka dan dilihat-lihat.” Perintah Bre.

Keysha mulai membuka folder ‘top secret’ itu. Mata beningnya seketika membelalak lebar tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.

“Pap.paa..aaa..” suara Keysha tercekat lirih bergetar.

Dari sudut matanya mulai mengalir dan meneteskan air mata demi melihat bahwa Papanya yang dimata Keysha adalah sosok pengayom keluarga ternyata telah berselingkuh.

Jemari lembut Keysha masih membuka satu demi satu foto Papanya dengan cewek cantik yang tampak sedang asyik bermesraan.

“Papaa jahaatt!!!” teriak Keysha mulai tersedu dengan kedua telapak tangan menangkup sepasang matanya yang mengeluarkan airmata kesedihan yang semakin deras. Kepalanya digeleng-gelengkannya. Keysha tampak sangat terpukul dengan apa yang dilihatnya.

Bre dengan sigap merebahkan kepala keysha di pundaknya. Tangannya mengusap lembut rambut sunsilk Keysha untuk memberikan ketenangan kepada cewek cantik yang sedang tergonjang batinnya ketika mengetahui Papanya sedang main gila dengan cewek lain, dan melupakan Mamanya dirumah yang senantiasa menunggu kepulangannya dari kantor.

“Kenyataan itu memang pahit Keysha. Tapi percayalah, dengan mengetahui ini semua akan membuat lu lebih dewasa dalm mensikapi segala sesuatu.”

“Kenapa Papa tega mengkhianati Mama, mas Bre? Kenapaaa??” tanya Keysha masih tetap terisak dipelukan Brian.

“Hmm.. Godaan Keysha. Papa mu tergoda dengan bujuk rayu setan. Dan itu semakin membuatnya mau melakukan disaat Papamu memasuki masa puber kedua, dimana letupan hormon-hormon didalam tubuhnya memancar kuat..” Bre menjelaskan seraya tetap mengelus rambut kepala Keysha dan sesekali jarinya menyeka air mata Keysha yang meleleh dipipinya.

“Keysha ga nyangka Papa bisa berbuat seperti ini..”

“Semuanya bisa terjadi di kehidupan ini, tinggal bagaimana kita berusaha mempertebal pertahanan diri biar tidak tergoda oleh keindahan sesaat yang pada akhirnya akan menjerumuskan kita untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.”

“Mas Bre dapat darimana semua foto-foto ini?” tanya Keysha lirih dan tangisnya mulai mereda dengan kemampuan Bre menenangkan gejolak emosi jiwanya.

“Semua ini gue dapatkan disebuah mall di Toko Berlian..”

“Pasti Papa membelikan perempuan itu berlian. Iyaa kan Mas Bre..??”

“Benar Keysha, Papamu telah membelikan perempuan itu berlian..” jawab Bre ringan.

Bre pun menjelaskan semua perihal tentang perempuan cantik yang terlihat mesra dengan Papa Keysha yang ternyata adalah dosennya yang kering akan siraman kasih sayang dari seorang pria.

Bre tak lupa juga untuk menjelaskan peristiwa pertama kali dia melihat Papanya Keysha jalan dengan dosen cantik itu, menceritakan peristiwa di warung steak, sampai mendengar percakapan Papa Keysha didalam toilet warung steak yang janjian dengan seseorang di Toko Berlian.

Keysha terlihat serius mendengarkan info dari mulut Brian Kusuma Wardhana. Sesekali dia mengusap sisa-sisa air matanya. Sekarang mata bening itu terlihat sembab memerah, semerah hatinya yang dibalut kemarahan akibat ulah Papanya sendiri. Untung nya, kemarahan Keysha sudah mereda.

“Apa yang akan lu lakukan, Sha? Lapor sama Mama?” tanya Bre sambil menarik tubuh Keysha keatas dipan berkasurnya.

Seandainya situasinya normal, Bre mungkin akan sedikit ngaceng, karena baju yang dikenakan Keysha tersingkap sampai hampir setengah punggung.

Hamparan kulit putih nan mulus sangatlah menggoda iman, ditambah mengintipnya karet celana dalam dari sela-sela celana jeans yang dipakai Keysha yang bermodel dibawah pinggul. Hmm.. Celana dalam model g-string warna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.

“Mama punya gejala jantung Mas, Keysha takut kalo setelah mendengar berita ini Mama bisa kolaps. Besok, Keysha akan menemui Papa aja, minta penjelasan dan pengakuan dia.” Jawab Keysha pelan.

“Bagus Sha. Cara berpikir yang dewasa.” Puji Bre.

“Semua juga berkat Mas Bre yang selalu membimbing Keysha kok. Hehehee.. Sekalian ntar Keysha akan beberin kebusukan Ujie. Maaf Mas, Keysha jadi malu. Keburukan keluarga Keysha Mas Bre ketahui semua..” Ucap Keysha dengan raut muka yang tampak galau.

“Kalo itu akan menjadikan semua lebih baik lagi kenapa enggak? Iyaa kan?” tandas Bre terus memberikan semangat kepada gadis cantik itu.

“Hmm.. Makasih yaa Mas. Tanpa Mas Bre, Keysha ga tahu harus gimana lagi menghadapi ini semua..” balas Keysha langsung memeluk erat Bre. Kepalanya disusupkan dileher Bre seakan meminta cowok berambut dreadlock itu untuk senantiasa menjaganya.

“Sama-sama Sha. Berbagi itu indah. Benar bukan?” ujar Bre sambil menepuk-nepukkan telapak tangannya di punggung Keysha memberikan rasa tenang.

Keysha mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sadar, Bre pun mencium lembut kening Keysha. Tanpa nafsu disana hanya seuntai rasa sayang terhadap Keysha.

Keysha kaget dan menatap sejenak wajah ganteng yang baru saja mengecup keningnya itu. Tersenyum manis, dan langsung memeluk lebih erat pada sosok tegap yang selalu memayungi setiap arah dan gerak langkahnya.

“Papa!! Apa-apaan ini!? Haahh!!!” teriak Keysha di hadapan Papanya yang sedang duduk di kursi Direkturnya.

“GraasaakkK!!”

Foto-foto antara Burhan Djatmiko dan Carissa Adell Gayatri berserakan diatas meja, dihadapan Papanya.

Wajah Burhan Djatmiko tergaket-kaget dan segera berkerut tajam memandangi foto-foto yang baru saja dilempar oleh Keysha, putri semata wayangnya. Keringat dingin mulai tampak dikeningnya. Wajah yang senantiasa tenang itu terlihat panik.

“Kenapa Papa melakukan ini semua?? Kenapa Paa?” kata Keysha dengan mata mulai berkaca-kaca.

“Papa telah mengkhianati Mama dan pasti juga membohongi perempuan ini dengan mengatakan bahwa Papa belum ber-istri. Benar kan??* Kenapa Papa tega? Apa kurang Mama coba, Paa?! Apa?? Mama dengan setia selalu nungguin Papa pulang dari kantor sampai larut malam sekalipun, demi berbakti pada suami dengan menyiapkan makan malam. Tapiii Papa malah main gila dengan perempuan lain..?!!” kata Keysha berapi-api dan begitu geram.

Suasana ruang direktur hening sesaat setelah Keysha mengamuk..

“Maaf.. Maafkan Papa, Keysha..” bilang Burhan Djatmiko lirih dengan menundukkan kepala tak berani bertatapan mata dengan Keysha.

“Maaf?? Cuma kata maaf, Paa??! Enak bener jawabnya setelah melakukan perselingkuhan.” sahut Keysha sengit.

“Sayang Papa khilaf. Papa bener-bener minta maaf, sayang..”

Keysha Luna Djatmiko menatap tajam kearah Papanya yang masih terduduk dikursi direktur seperti seorang pesakitan..

“ Apa yang Keysha katakan tadi bahwa Mama selalu nungguin Papa pulang kantor meski sampai larut malam, telah membuka mata hati Papa, telah menyadarkan Papa yang terbutakan oleh keindahan sesaat. Papa minta maaf, Papa bener-bener bodoh!” lanjut lirih Burhan Djatmiko dengan nada menyesal dan sambil memberanikan diri memandang putrinya itu.

“Oyaa? Apakah itu tulus permintaan maaf ataukah hanya sekedar bualan kosong untuk menipu Keysha??” jawab Paa, jawaaab!??” tanya Keysha dengan raut muka campur aduk.

“Bener sayang, bener. Papa tulus minta maaf dengan apa yang telah Papa lakukan selama ini. Papa sadar bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga, sayang. Sekali lagi Papa minta maaf, Papa khilaf dan ga akan mengulanginya lagi..” kata Burhan Djatmiko langsung mendekap putri cantiknya yang sedang bermuram durja itu.

Keysha melihat ketulusan dari sorot mata Papanya yang juga tampak memerah karena tersadar dengan perbuatannya.

Tatap mata Papanya telah mengakui segala kesalahannya, tidak terpancar kebohongan disana dan air mata yang membentuk kaca di kedua matanya mengisyaratkan kalo Papanya tidak akan mengulanginya lagi. Terlihat begitu tulus dan berjiwa besar mengakui semua kesalahannya.

“Maaf sayang..” ucapnya sekali lagi.

“Kamu ga ngasih tahu Mama kan, sayang??” imbuh Burhan Djatmiko.

“Keysha memaafkan Papa, asal Papa bener-bener ga akan mengulanginya lagi. Tapi kalo sampai terjadi lagi, Mama dan Keysha lebih baik MATI..”

“Mama ga tahu perihal ini. Keysha takut jantung Mama akan kolaps kalo mendengar kebusukan ini..” tambah Keysha.

“Ooh sayaaangg.. Kamu bener-bener masih bisa berpikir panjang ketika tahu akan hal ini dengan tidak ngasih tahu ke Mama. Terima kasih sayang, terima kasih. Papa berhutang banyak hal kepadamu..” kata Burhan Djatmiko lega mendengar istrinya tidak mengetahui akan hal ini. Dia segera menciumi pipi putri tunggalnya itu dengan penuh berjuta kasih sayang.

“Iyyaaa Paa.. Tapi ada satu hal lagi yang perlu Papa ketahui.” Bilang Keysha.

“Apa itu sayang?” tanya lelaki paruh baya itu penasaran.

“Ini Paa. Lelaki pilihan Papa Mama yang ternyata, brengsek!!” jawab keysha mantap berusaha tanpa emosi sambil memberikan foto-foto Ujie dengan cewek lain selain dirinya.

“Kamu sudah bertemu dengannya sayang?” tanya Papanya Keysha sedikit geram setelah mengetahui dan melihat foto, bahwa lelaki tunangan Keysha juga berselingkuh seperti dirinya.

Oleh sebab itu kenapa Burhan Djatmiko tidak mencak-mencak marah karena kasusnya memang mirip dengan apa yang dialaminya sendiri. Dari dalam hatinya Burhan merasa sangat malu..

“Keysha sudah minta putus!! Cincinnya juga udah Keysha balikin. Dasar lelaki brengsek!!” jawab keysha seolah merasa merana padahal tidak sama sekali. Kata-katanya juga menyindir Papanya.

“Hmm. Maaf sayang. Papa Mama telah salah menjodohkan kamu dengan dia. Kalo kamu minta putus dan kamu akan mencari lelaki pengganti dirinya yang pantas untuk mendampingi kamu, lakukanlah Papa mendukung 100%. Papa yakin kamu bisa membedakan mana yang baik untuk dirimu dan mana yang buruk untuk dirimu..” terang Burhan Djatmiko dengan nada menyesal karena telah menjodohkan putrinya itu *dengan Ujie.

Burhan Djatmiko sebenernya juga merasa dilema kalo harus marah dan mengolok-olok Ujie karena telah selingkuh dengan cewek lain, karena semua perbuatan Ujie itu sama persis dengan yang dilakukannya.

“Terima kasih Paa. Keysha sudah ada calon pengganti yang jauuh lebih baik dari pada si brengsek Ujie..” kata Keysha dengan tersenyum manis.

“Oooh yaaa?? Siapa tuuh? Boleh dong dikenalin Papa Mama..” sahut Burhan Djatmiko tampak antusias, dan sebenernya dia sudah bisa menebak siapa lelaki yang begitu dicintai oleh putrinya itu.

Siapapun pilihan kamu nak, Papa akan mendukungnya. Papa juga akan meminta maaf karena telah lancang merendahkan Brian lewat telephone tempo hari.

“Haloo Mas Bre, met siang.. Lagi dimana neeh??” tanya Keysha lembut lewat handphonenya.

“Iyaa hallo.. Ni lagi di warung Bik Sumi, Sha. Biasa ngasih upeti cacing didalam perut. Hehehe.. Eh gimana? Dah bicara sama Bokap belum?” jawab Bre diujung telepon sekalian memberi pertanyaan balik.

“Nge-bon lagi ga Mas? Hahahaa!!” ejek Keysha setelah tahu kebiasaan Bre suka nge-bon diwarung makan Bik Sumi.

“Aaah jangan ngeledek gitu dong. Ga lucu tau ga lu!” sahut Bre kesal.

“Hehee.. Iya deh maap. Abis Mas Bre suka nge-bon gitu kan kasian Bik Suminya..”

“Kan menolong orang yangmenderita itu dapet pahala gede, yaa ga, Sha??”

“Wah kasian Bik Sumi dong Mas. Ntar belanjanya gimana kalo semua pada ngutang?” tanya Keysha seakan turut prihatin dengan keadaan warung makan Bik Sumi.

“Hehehee.. Iyaa-yaa. Paling Bik Sumi belanjanya di pasar juga ngikut nge-bon.. Hahahaa!!” jawab Bre ngasal.

“Emang belanjanya dipasarmana sih Mas??” tanya Keysha lugu.

“Nhah lhoh!! Kenapa jadi ngomongin warung Bik Sumi sih??” jawab Bre bersungut-sungut.

“Oohh.. Eeeh.. Kenapa juga yaa? Hahahaa!” Keysha terkekeh mengetahui arah pembicaraannya yang melenceng dari tujuan semula.

“Hahahaa..!!” Bre pun ikutan tergelak.

“Mas.. Keysha sudah bertemu Papa dan menyelesaikan permasalahan ini. Papa terlihat sangat bersalah telah melakukan tindakan bodoh yang ga bermoral itu. Dia juga telah meminta maaf dengan tulus dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi..” terang Keysha.

“Hmm.. Baguslah kalo begitu, Sha..”

“Terus gimana dengan Ujie?”

“Keysha juga dah menjelaskan sejelas-jelasnya disertai bukti otentik yang berupa foto-foto Ujie dengan cewek lain, dan Papa Keysha langsung berbalik 360 derajat, Mas. Yang tadinya sangat keukeuh dengan perjodohan ini sekarang Papa menyerahkan sepenuhnya ke Keysha untuk urusan cinta.” Beber Keysha.

“Waah siip banget tuh Shaa.. Hmm, ada peluang ga Sha buat gue untuk ngegantiin posisi Ujie? Yaah meski seakan seperti pemain cadangan yang ngegantiin pemain utama. Hahahaaa!!” kelakar Bre norak.

“Hehehee! Hmm.. Gimana yaah? Auuk aahhh gelap. Weekzz..” goda Keysha dengan hati berbunga-bunga.

“Yeee malah ngeledekin lagi. Awas yaa!!”
“Awas kenapa neeh?? Ngancem?”

“Gue cium baru tahu rasa lu, Sha..”

“Iiiiihh mau dong di cium. Pengeeen.. Hihihiii” Keysha memulai flirtingnya.

“Eeh Mas Bre, udahan dulu yaa. Keysha mo pulang dulu coz ntar si Ujie pasti dateng kerumah ngerengek-rengek minta maap..”

“Iyaa deh, Sha. Selamat menghabisi Ujie yaa..” ucap Bre menyemangati Keysha.

“Okee Mas.. Daaaghh!!”

“Daaghh juga, Shaaa!”

Disaat Keysha bertelephone ria dengan Bre, Burhan Djatmiko pun menelepon istrinya yang tak lain adalah Mama Keysha untuk menjelaskan duduk perkaranya. Tentang perbuatan Ujie yang telah mengingkari jalinan pertunangannya dengan putri tunggal mereka.
Mamanya Keysha pun bersikap seperti Papa memberikan kebebasan putrinya untuk menentukan pilihannya sendiri tanpa berusaha merecokinya. Papa Mama Keysha terlihat sangat menyesal telah menunangkan Keysha dengan Ujie.

Malam harinya dirumah ber-cat cokelat..

“Pergi kamu!! Gue ga butuh lu lagi!!! Sudah cukup lu nyakitin hati gue selama ini!” teriak Keysha.

“Sayang dengerin dulu.. Sebenerr……….”

“Apa yang perlu didengerin dari mulut buaya seperti lu?! Haahh!! Apa bukti-buktinya kurang kuat?? Gue bukan anak kecil yang gampang ditipu-tipu oleh rayuan mulut manis lu yang sebenernya pahittt banget!! Gue sudah eneg ngeliat muka lu lagi. Udah pergi-pergi, jangan pernah ganggu gue lagi!!” kata Keysha berapi-api.

“Asal lu tahu yaa, Jie? Sebenernya gue ga pernah suka sama lu. Sikap yang lu tunjukin ke gue itu sudah merupakan suatu pencampakan terhadap diri gue. Mana peduli lu disaat gue sakit??!, mana rasa kangen lu ke gue disaat gue merasa kesepian dan sendiri??! Dasar cowok brengsekk!!” tambah Keysha dengan nada sinis mengiris hati.

Suasana terdiam beberapa saat ketika Papa Mama Keysha menusul menemui mereka berdua untuk menengahi segala permasalahan antara Keysha dengan Ujie.

“Oom, tante.. Tolongin Ujie Oom. Bantu Ujie untuk membujuk Keysha..” pinta Ujie dengan penuh harap.

“Hahahaa.. Cemen lu aahh, Jie!! Minta bantuan Bokap Nyokap gue segala. Mana pribadi lu yang katanya mandiri, yang katanya sanggup menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain. Manaaa???? Bullshitt!!” sembur Keysha sangat galak.

“Sayang.. Udah sayang.. Udah. Biar Papa ngomong sama Ujie..” kata Burhan Djatmiko seraya mengelus kepala Keysha.

“Gini Nak Ujie.. Oom sebenernya juga kaget dengan bukti berupa foto antara Nak Ujie dengan wanita lain…” Burhan Djatmiko terdiam sebentar seakan tercekik karena menyadari bahwa sebenarnya antara dirinya dan Ujie ber-kasus sama. Maafkan aku duhai istriku..

“Tapi bukti itu sangat valid sehingga Oom sama Tante tidak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan ada ditangan Keysha. Dan melihat Keysha yang begitu murka maka sebaiknya Nak Ujie pulang saja. Mungkin ini adalah jalan terbaik buat kalian berdua. Masih banyak wanita yang lebih dari Keysha, Nak Ujie. Dan untuk Keysha, masih banyak pula pria yang lebih dari Ujie.” Lanjut Burhan Djatmiko dengan bijak.

“Baiklah Oom Tante kalo demikian adanya, Ujie pamit pulang. Maaf telah mengecewakan Oom sama Tante.. Keysha, Maafin Ujie yaa. Selamat maleem..” pamit Ujie segera melangkahkan kakinya cepat-cepat biar tidak semakin merasa malu karena telah ditolak mentah-mentah oleh Keysha dan keluarganya.

Sementara itu, Bre sedang termenung didepan meja belajarnya sambil memandang lekat-lekat slide show yang disuguhkan HP nya. Ini slide show bukan sembarang slide show, sebuah pertunjukan foto singkat mengalir silih berganti setiap 7 detik sesuai timer yang ia setting.

Foto ketika masih bersama Karen, foto ketika berlibur di parangtritis, foto riset bersama teman-temannya dan tentunya jugga bersama Bu super multiple jutek bin putri es Carissa yang kini telah sembuh dari ‘sakit’ juteknya, foto ‘konyol’ berdua bersama Karebet di studio foto* dengan berdandan ala Wiro Sableng dan Sinto Gendeng (Karebet yang berdandan model nenek-nenek lengkap dengan kebaya dan tusuk konde perak khas Sinto Gendeng hehe…susah ngebayanginnya kalau Karebet berdandan model begitu…hehehe).

Menyusul foto suami istri bersama seorang anak gadisnya yang tentu saja foto Burhan bersama istri dan anak semata wayangnya, Keysha yang beberapa hari yang lalu berhasil di blututkan oleh si saipul ke HP Bre. Beberapa foto yang terakhir tampil membuat dahi Bre mengkerut. Nampak disana sepasang manusia beda kelamin dan beda usia tengah asyik bermesra-mesraan di sebuah toko berlian.

“Hemm..hemm….jika aku berhasil mendapatkan Keysha…berarti…pria dalam foto ini…akan jadi bapak mertuaku….Waaaaaa !!!” Bre menggumam dalam lamunnya, teriaknya menyeruak memecah keheningan kamarnya.

Nun jauh disana…

#Bunyi nada dering SMS received,

“Dik Carissa…malam ini kan malam minggu…kita jalan ke taman kota yukk !!” Sebuah SMS dari Mister Pramudya atau lebih biasa dipanggil Pak Pram muncul di layar HP Bu Carissa.
“Aduhh sekali lagi maaf Pak Pram…badan saya kurang sehat…!!” Jemari lentik halus Bu Carissa nampak menari cepat menekan keypad HP nya saat membalas pesan dari Pak Pram.

#Bunyi nada dering SMS delivered

#Bunyi nada dering SMS received

#Bunyi nada dering SMS received…lagi

Dua SMS sekaligus masuk ke Inbox Bu Carissa…

“Banyak istirahat….kalau butuh ke dokter, saya bisa temani Dik..!!” isi pesan balasan dari Pak Pram terlihat gigih tanpa mau menyerah untuk bisa bertemu dengan Bu Carissa.

“Nanti saya hubungi lagi ya Pak jika memang saya mau ke dokter, terimakasih..” Balas Bu Carissa dengan kalimat penolakan halus agar tak menyinggung perasaan si penerima pesan.

#Bunyi nada dering SMS delivered

Jemari lentik Bu Carissa kembali menari untuk melanjutkan membuka SMS kedua,

“Bu dosenku yang cantik, malam minggu pukul tujuh aku apel ke rumahmu…boleh??” sebuah pesan dari Bre bernada kelakar dengan meniru bait lagu Alm.Gombloh membuat sudut bibir Buu Carissa terangkat dan mengembang. Senyumnya terbit tatkala membaca isi SMS Bre tersebut.

“Saya takut premannya minta jatah, saya lagi kurang enak badan…jadi mending kita ketemu di warung wedang ronde dekat patung…sang preman ganteng pasti tak akan bisa macam-macam disana…sekaligus…menemani saya minum wedang hangat” Balas Bu Carissa Via SMS dengan tersenyum manis.

#Bunyi nada dering SMS delivered

Sakjane wis suwe, aku naksir kowe
ning ora kewetu…yo nduk yo..

Sak ayu-ayune jelas milih kowe,
dadi inceranku..yo nduk yo..

Dino setu wage, las-lasan tanggale
tak nembung bapakmu…yo nduk yo..

Yen kowe meneg wae, ra ono jawab e
tak anggep setuju…yo nduk yo…

Sewu siji kenyo koyo kowe
eman-eman…yen kleru jodone..

Lagu karya Genk Kubro berjudul Genduk mengiringi langkah Bre menuju Meja yang telah ditempati Ibu Carissa. Bre duduk di meja paling pojok bersama Bu Carissa. Suasana santai, warung lesehan khas Jogjakarta, sampai-sanpai lagunya pun juga harus lagu made in Jogjakarta seperti lagu Genk Kubro-nya mahasiswa Institut Kesenian Jogjakarta yang sedang diperdengarkan saat itu. Selain wedang ronde dan wedang jahe, ada juga kopi joss. Taukah saudara-saudara pembaca apakah itu kopi joss ??

Kopi joss adalah kopi hitam (plain coffee) yang disajikan dalam sebuah gelas kayu namun di Joss (baca:dicelupkan) dahulu dengan sebuah bara menyala (arang menyala) sebelum disajikan. Rasanya menjadi unik dan menggelitik. Aroma gosong nan gurih dan sedap senantiasa akan menusuk hidung hingga tetes terakhir kopi.

“Ehm…saya pesan kopi joss pahit…gulanya dikit aja mas…sama nasi kucing ikan teri…eh mas …nasinya dibakar dulu ya biar mantap…!!!” Ucap Bre tanpa malu-malu kepada mas pelayan yang sedari tadi siap siaga dengan sebatang pensil HB dan seikat kertas pesanan.

Bre melirik kearah Bu Carissa. Dilihat olehnya bahwa si Ibu cantik itu sedang sibuk meniup wedang rondenya yang sepertinya masih panas dengan diliputi kepulan asap beraroma jahe yang wangi.

Disamping mangkuk wedang ronde Bu Carissa tergeletak sebuah piring berisikan 3 potongan besar tempe bacem dan 3 tusuk sate usus pedas. Tanpa permisi, Bre mencomot satu potong tempe bacem anget itu dan langsung di gigitnya.

“Bu…jangan ditiup begitu…katanya ibu sedang sakit, kalau ditiup begitu…apa ga malah tuh penyakit masuk ke mangkuk trus diminum lagi oleh Ibu…sama juga gondrong…eh…sama juga bohong Bu…!!!” Ucap Bre sok berpetuah bijak sambil mulutnya sibuk mengunyah tempe.

“Iya juga ya…uhh kamu tuh ya…udah ganteng…pinter lagi…!!!” Sambut Bu Carissa sembari tersenyum simpul.

“Ah Ibu…jangan begitu ah…kepala Brian bisa membesar nanti !!!” Jawab Bre sambil menggaruk kepala.

“Yee…Ge-Er…belum juga Ibu selesai ngomong udah di potong…!! Udah ganteng…pinter…tapi sayangnya….Mesummm !!! Hahahaha..” Bu Carissa tertawa girang menandakan kemenangannya ber adu kata bersama mahasiswa brilian bernama Brian Kusuma Wardhana.

“Bu…aku mau ngomong penting…!!!” Ucap Bre membuka pembicaraan setelah ia menghabiskan nasi kucingnya.

“Apa Brian ???” Tanya Bu Carissa sambil mengerutkan Keningnya yang licin mulus.

“Ibu…saya kok kayaknya lebih suka jika Ibu bersanding bersama Pak Pram ya Bu…daripada jika Ibu bersama lelaki buncit yang saya lihat di mall itu !!” Lanjut Bre serius.

“Brian…tolong…pliss ya…jangan rusak suasana hatiku malam ini…aku sudah cukup nyaman ngobrol dan becanda sama kamu disini malam ini…aku tak mau semuanya berubah menjadi bad mood !!” Terdengar kata-kata tegas Bu Carissa. Sebuah ketegasan yang pernah dirasakan Bre saat dahulu kala meminta ujian lesan ke Bu Carissa.

“Ibu…saya tidak suka melihat lelaki buncit iitu Bu…Lagian kayaknya dia terlalu tua buat Ibu !!” Cerocos Bre tanpa memperdulikan wajah Bu Carissa yang semakin berubah menuju bentuk menakutkan, sebuah wajah jutek nan dingin seperti es.

“Brian !!! Cukuppp !! Tolong hargai privasiku Brian !! Lebih baik kita bahas topik yang lain saja..” Bentak Bu Carissa dengan marah. Wajahnya bersemu merah. Darahnya begitu cepat mengalir ke kepala dan membunuh pekertinya.

“Buncit…Buncit…Buncit !!!” Bre membalas kegalakan Bu Carissa dengan mendelik dan berkali—kali mencibir.

“Brian…Diam kamu !!!” Ibu Carissa menyalak dengan nada tinggi. Beberapa pengunjung warung sempat terkaget oleh lengkingan suara Bu Carissa.

“Ibu yang diam !!!” Bre tak mau kalah dan memainkan wajah super dungu. Ia sengaja bertingkah santai dan tengil meski Bu Carissa berkali-kali membentaknya.

“Ya sudah…aku pulang saja kalau begitu !!!” Bu Carissa dengan kasar berdiri dan hendak melangkah pergi meninggalkan Bre. Namun dengan sigap, Bre menarik lengan halus Bu Carissa. Langkah Bu Carissa menjadi terhenti sejenak.

“Si Buncit BURHAN DJATMIKO !!!” Ucap Bre sambil melotot kearah Bu Carissa.

Kini Bu Carissa yang sebaliknya ikut melotot. Terjadilah aksi saling melotot diantara mereka. Bre menarik Bu Carissa untuk duduk kembali. Bu Carissa pun menurut saja karena merasa heran dan penasaran pada ucapan Bre yang terakhir tadi.

“Kamu kok tahu nama dia???” tanya Bu Carissa dengan dibarengi kerutan di keningnya.

“Aku juga tahu kalau Ibu habis beli Berlian ditemenin si Buncit !!!” Imbuh Bre dan semakin membuat Bu Carissa heran.

“Aku juga tahu kalau Ibu mencium pipinya* saat itu !”

“Aku juga tahu seberapa mesranya Ibu dengan si dia !”

“Aku juga punya foto lengkap Ibu dan si Buncit saat beli Berlian…uhh mesranya…!!”

Bre terus saja nyerocos tiada henti. Bu Carissa yang duduk didepan Bre menjadi heran dan uring-uringan. Terlihat mulut Bu Carissa ngedumel sendiri tiada henti.

“Brian…tolong ceritakan ke Ibu…apa yang kamu ketahui tentang mas Burhan ???” Tanya Bu Carissa dengan super penasaran.

“Males ah…katanya aku ga boleh ikut campur ??!! pulang yuk…!!” Balas Bre enteng.

“Brian !!! Ayo cerita sekarang juga atau aku anulir nilai B mu !!!” Bentak Bu Carissa dengan melotot.

“Iya Bu…ampun…ampun…!!!” Sahut Bre cepat dengan nada panik.

“Ibu tarik nafas yang dalam dulu lalu hembuskan !!!……begini….ehhmm…begini Bu….aduh gimana ya menjelaskannya…!!” Ucap Bre kebingungan.

“Aduhh Briann !! Jangan bikin Ibu jadi tambah penasaran dong…begina begini apaan sih ???!!” Bu Carissa mendelik sambil tangannya mencubit keras lengan Bre.

“Aduhh ampun Bu…ini deh Ibu lihat sendiri fotonya…biar fotonya yang ngomong !!!” Teriak Bre kesakitan sambil tangannya menyorongkan HP ke arah Bu Carissa.

Dilayar HP Bre tengah terpampang foto tiga orang yang sedang makan bersama. Suami Istri dan anaknya.

“Yang ini si Buncit Burhan kan Bu…Burhan Djatmiko tepatnya….dan yang ini anaknya…namanya Keysha Luna Djatmiko…Kalau wanita yang Ibu-ibu ini ya pastilah Ibunya Keysha Bu…kebetulan saya cukup kenal dengan Keysha !!” Ucap Bre sambil menunjukkan jari kearah foto yang sedang dibicarakan.

Bu Carissa mendadak seperti terlihat gemetar. Tubuhnya menggigil keras. Matanya tajam memandang layar HP yang disodorkan Bre. Nafas Bu Carissa terdengar memburu dan menderu.

Sejenak kemudian Bre dibuat kaget setengah mati, tiba-tiba tubuh Bu Carissa ambruk ke samping. Untungnya tempat duduk warung bermodel lesehan sehingga tidak menimbulkan benturan terlalu keras saat Bu Carissa limbung. Pingsan nampaknya.

Bre panik, ia panik pada keadaan Bu dosen cantik yang sekarang tengah tersungkur lemah tanpa daya. Lebih panik lagi Bre mengingat bahwa isi dompetnya tak cukup untuk membayar pesanan makanan dan minuman. Namun keberuntungan sedang berpihak pada Bre, dibalik lipatan kecil dompetnya ia temukan satu lipatan uang kertas warna biru.

Bre tiba di IRD rumah sakit dengan bantuan mobil salah satu pengunjung warung lesehan yang iba memandang Bu Carissa yang pingsan. Bu Carissa masih pingsan saat dibawa menuju ruangan IRD, satu tas wanita berwana maroon milik Bu Carissa ditenteng Bre.

Langkah Bre terhenti sejenak, dengan perlahan ia masukkan tangannya ke dalam tas Bu Carissa, mencari-cari dan akhirnya menemukan. Sebuah HP milik Bu Carissa telah ada digenggaman Bre sekarang. Terlihat sejenak ia sibuk mengayunkan jemarinya di keypad HP Bu Carissa.

Sementara itu, nun jauh disana…

#Bunyi nada dering SMS received

“Permisi Bapak/Mas/Saudara, pemilik HP ini sedang pingsan dan sekarang dirawat di IRD Rumah Sakit ‘SehatMedika’. Saya adalah warga setempat yang menolong ybs. Saya menemukan no HP anda dari beberapa inbox SMS received di HP ybs. Segera datang, HP dan tas ybs saya titipkan security Rumah Sakit. Terimakasih” tertulis SMS mengejutkan dengan nama pengirim Carissa.

Si penerima SMS begitu terperanjat, dengan gerakan cepat ia segera berbenah dan secepat kilat kemudian meluncur menuju rumah sakit yang dimaksud dalam SMS.

30 Menit berselang, Bu Carissa nampak mulai menggerak-gerakkan jemarinya. Tak lama kemudian dengan berat ia buka kelopak matanya. Kepalanya terasa begitu pusing, perutnya mual.

Mata Bu Carissa langsung berputar ke segala penjuru ruangan IRD mencari seorang Brian Kusuma Wardhana. Namun Bu Carissa tak menemukan pria mudanya itu. Dari pintu muncul seorang pria, Bu Carissa melirik pada pria yang baru datang itu. Sejurus kemudian Bu Carissa tersenyum lemah.

“Dik Carissa tidak apa-apa ? Tadi kan saya sudah bilang, kalau perlu ke dokter bisa sama saya…!!” Sebuah suara penuh ketenangan terlontar dari bibir pria yang sekarang ada disamping ranjang Bu Carissa. Suara itu adalah milik Pak Pram.

“Maaf…hemmfh” Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Bu Carissa yang masih lemah. Namun kesadarannya masih mampu mengingat pada kejadian terakhir di warung. Dalam hati, Bu Carissa seperti sedang meng-iya-kan pernyataan dan saran Bre mengenai keberpihakan Bre kepada Pak Pram.

“Saya menerma SMS dari seseorang yang menolongmu dik, ia menyatakan sebagai warga setempat…sepertinya ia sudah pulang sekarang..!!” Lanjut Pam Pram menjelaskan pada Bu Carissa sambil celingukan mencari seseorang yang sekiranya adalah misterious message sender yang tadi meng-SMS nya.

Bu Carissa tersenyum kembali. Sebuah senyuman yang ia tujukan pada Bre dan akal bulusnya. Seorang jenius macam Bu Carissa tentu tak sulit untuk mencerna ide pokok dari sutradara yang mendatangkan Pak Pram di tempat itu. Senyuman Bu Carissa juga sebuah senyuman kegembiraan.

Dalam hatinya tiba-tiba merasa sangat tenang dan nyaman saat Pak Pram datang. Sebuah ketenangan yang pernah ia dapatkan ketika ada di dalam pelukan Brian Kusuma Wardhana.

Malam minggu yang cerah. Tak ada mendung yang menggelayut di langit. Bintang gemintang berkelip indah menyuarakan keriangan. Seiriang hati Bu Carissa hari itu, tepat tiga minggu setelah peristiwa kepingsanan Bu Carissa.

Ibu Carissa adalah seorang jenius yang berwawasan luas. Ia cukup adaptif pada keadaan setelah beberapa waktu yang lalu melihat foto si buncit yang ternyata telah beristri dan beranak. Namun ia tak lantas main labrak mirip para pemain antagonis di tivi jika menemukan penyelewengan cinta.

Ia berusaha bijak menyikapi semuanya itu. Selama tiga minggu ini ia berusaha menghindar dari sosok Burhan. Tatkala ia menerima SMS dari Burhan berkaitan dengan perubahan sikapnya, ia hanya tersenyum dan membalas SMS,

“Rawat anak istrimu, cintai mereka sepenuh hati…jika ternyata kau masih saja ngotot mempertanyakan ini, maka tepatlah sudah jika aku memilih untuk meninggalkanmu !”. Sebuah SMS lugas, tegas, namun juga bernuansa cinta yang dalam dengan dibaluri unsur logika yang dahsyat.

Sebuah mobil warna putih seperti yang pernah dilihat Bre di kampus kala itu, kini terlihat sedang parkir di pelataran rumah Bu Carissa.

“Dik…kita jalan yuk, aku paling suka ke taman…suasananya indah dan romantis hehe…” Ucap si pemilik mobil putih yang ternyata adalah Pak Pram.

“Kok romantis ?? emang situ siapanya aku??” Sambut wanita cantik lawan bicara Pak Pram dengan melemparkan senyum manjanya. Sebuah senyuman yang selama ini belum pernah tampil mewarnai bibir milik Bu Carissa.

“Situ kan teman dosenku….yang spesial tentunya hehe !!” Jawab Pak Pram asal namun bermuatan politik cinta yang pekat dan kuat.

“Pesan jagung bakarnya dua mas, manis pedes ya….oya mas…minta tolong nanti diantar ke kursi taman yang diujung sana ya…makasih !!!” Suara Pak Pram sedang memesan camilan kegemarannya sambil menunjuk kearah kursi di ujung taman.

“Lihat tuh dik bunga melati…mekar harum berseri…kan kupetik untukmu…simpan dalam hatiii…” pak Pram berkelakar dengan menirukan bait lagu Grup band Naif . Bu Carissa mencubit pelan lengan pria yang ada di sampingnya dengan gemas akibat kekonyolan yang dilihatnya.

……………………………………………. ….
Lantun jiwa membahana,
suarakan dentang-denting lonceng hati,
yang tersaput mendung dan hujan,
namun tak lekang dimakan waktu untuk terus merindui,
setangkai indah bunga melati.

Karya pribadi tercetak dalam sukma,
membungkus indah maghligai cinta,
Teramu bersama seribu bunga dan ceria,
Mendekam diam menanti masa,

T’lah kusiapkan BINGKISAN HATI,
terbungkus indah maghligai cinta,

Duhai Carissa yang kucinta,
sediakah engkau menerimaku menyatukan sayap cinta?
……………………………………………. …………….

Pak Pram datang membawa setangkai melati nan putih suci. Lantunan puisi yang nampaknya telah ia persiapkan sejak lama kini mengalir lancar di bibirnya. Carissa yang melihatnya menjadi tertegun tiada mampu berkata. Mata Bu Carissa berkaca-kaca. Keharuan dan kegembiraan silih berganti menghujam hatinya dan membetot seluruh perhatiannya.

“Bagaimana Dik Carissa yang cantik?” Tanya Pak Pram memperjelas permintaan dalam puisi yang tadi diucapkannya. Nampak ia sekarang sibuk menyelipkan melati ke atas telinga kanan Bu Carissa.

Bu Carissa hanya tersenyum seakan mengiyakan semua permintaan Pak Pram. Hati Bu Carissa sepertinya sudah demikian merasa melambung dibuatnya. Kali ini ia merasakan cinta yang benar-benar cinta merasuk dalam jiwa.

“Bagaimana Dik ???” Pak Pram tak sabar menunggu jawaban Bu Carissa meski secara tersirat telah nyata bahwa wanita ayu yang duduk disampingnya telah menunjukkan signal-signal cinta.

“Permisi mas..mbak..ini jagung pesanannya !!” Sebuah suara memecah suasana romantika diamor yang baru saja dibangun oleh Pak Pram. Nampak pak Pram bersungut sambil memberikan beberapa lembar uang ribuan kepada penjual jagung.

CUPPP…

“I Love you….!!!” Sebuah kecupan tiba-tiba meluncur cepat ke pipi Pak Pram setelah mas penjual jagung berlalu.

Pak Pram kaget dan dengan tersenyum menikmati kekagetannya itu. Begitu juga Bu Carissa, nampaknya ia tersenyum malu-malu setelah secara spontan ia mencium pipi Pak Pram. Mereka saling berpandangan lama. Mata dan mata bertemu, hati dan hati bersatu, tak ada lagi ruang bagi kehampaan jiwa.

“Aku akan menikahimu sayang…secepatnya…!!!” Ungkap Pak Pram dengan mantap.

“Aku ikut saja mas…pokoknya ikut saja !!” Ucap Bu Carissa menimpali, matanya yang genit mengerling manja pada kekasih barunya itu. Senyuman penuh kecintaan menyemprot dengan deras dan menetes hingga di pelataran sukma.

 

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s