Juwita Hati part 8

CSO7AdSW0AAWL0ZSeminggu sudah setelah kejadian olah kontie dan meki bersama Ibu Carissa. Sinar matahari di hari minggu pagi bersinar cerah memasuki jendela kamar kost. Tidak secerah hati Bre ataupun tidak seredup hati Bre. Semuanya datar-datar aja nothing special. Bre terlihat sedang memandangi sebingkai foto antara dirinya yang sedang berpelukan dengan Karen, tentunya ketika masih berpacaran.
Tersenyum simpul ketika mengenang kebersamaan mereka, terlebih saat-saat terakhir dimana Karen merengek-rengek minta married. Bre terlihat menggeleng-gelengkan kepala berambut dreadlocknya ketika mengingat itu semua.

Sekarang Karen sudah bersama Andi dan dirinya mengikhlaskan, karena bersama Andi, Karen lebih bahagia. Diambilnya sebatang rokok dan segera disulutnya dengan sebatang korek api. No lighter he has.

Bre beralih menuju jendela kamarnya. Dia melihat burung perkutut sang empunya kost sedang sarapan jagung, sesekali minum dan kemudian mendendangkan kicauan merdu, yang ga tau kenapa kicauan makhluk lucu bersayap itu begitu menenangkan hati dan jiwanya.

Bre tersenyum kecil ketika perkutut itu terlonjak kaget dan langsung terdiam dari kicauannya ketika dikejutkan oleh suara mangga yang jatuh dari pohon tak jauh dari sangkarnya.

Bre kembali menerawangkan pikirannya. Kali ini mengenai sosok Ibu Carissa. Sekarang Ibu dosen cantik itu sudah mempunyai tambatan hati seseorang yang tampak perlente, dan ganteng walaupun rada berumur.

Ibu dosen yang awalnya sangat membencinya itu akhir-akhir ini menjadi begitu hangat terhadap dirinya. Tapi itu pasti hanyalah sementara, semuanya pasti akan ada titik akhirnya dan tidak akan ada koma lagi. Bre merasa tidak pantas untuk mendambakan Ibu Carissa, begitu jauh level yang memisahkan antara dirinya dengan dosen cantik itu. Tak Mudah Menggapaimu.

Kalo sekedar teman atau sahabat masih memungkinkan. Yang terpenting dan terutama, mata kuliah yang diampu Ibu Carissa sudah lulus dan menjadikan dirinya segera menyusun skripsi untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya.

Bre melemparkan puntung rokok yang sudah habis dihisapnya ketempat sampah dengan gaya seolah-olah dirinya adalah seorang Karl Malone sedang melakukan free throw ke keranjang basket.

Lemparannya tepat masuk kedalam tempat sampah dan Bre pun tersenyum sambil mengepalkan tangannya, seakan-akan dia sedang dalam sebuah pertandingan basket dan lemparan free throw yang dilakukannya itu adalah lemparan penentu kemenangan teamnya.

Brian, cowok ganteng yang selalu menjadi panutan di BEM maupun HMJ kampusnya menyulut rokok yang kedua kalinya kemudian menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Kasur yang pernah menjadi Silent Witness ketika dirinya bercengkerama dengan penuh kehangatan sewaktu masih bersama Karen.

Masih tampak ada bercak darah ditengah kain sprei walaupun sudah tampak pudar. Yaah.. Itulah darah mahkota Karen yang dipetik Bre dengan atas nama cinta dan nafsu.

“Keyshaa.. Hmm..” gumam Bre perlahan.

Bre tersenyum ketika pertama kalinya mendatangi rumah ber-cat cokelat itu. Bre ingat ketika melihat acara seni teater membaca puisi di hall kampus, Bre pun masih merekam jelas dalam ingatannya ketika menonton bioskop dengan Keysha, Karebet juga Santi.

Waktu itu dengan gaya nya yang kocak, Bre bilang bahwa kita kaya seperti rombongan sirkus, waktu berjalan kearah TwentyOne. Dan kata-kata spontan yang keluar dari mulut Bre itu membuat Keysha Luna Djatmiko tertawa ngakak terus-terusan.

Bahkan ketika sudah berada didalam gedung bioskop dan film telah diputar, Keysha selalu tertawa keras ketika dengan tak sengaja bertatap mata dengan Bre. Itu membuat sebagian besar penonton bioskop terheran-heran karena adegan di bioskop sedang menampilkan adegan sedih.

Sudah sekian kali dirinya menyambangi rumah Keysha untuk sekedar ngobrol dan sesekali mencoba untuk ber-romantis ria dan itu sudah berhasil dilakukan Bre.

Keysha merasa sangat kesepian ketika Bre tak kunjung jua menyambangi rumahnya. Ujie, sang tunangan yang sikapnya begitu dingin terhadap Keysha pun sedikit demi sedikit terhapus luruh dari perasaannya seiring kehadiran Bre. Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta..

Tapi ada sesuatu yang membuat dirinya merasa rikuh ketika melihat tatap mata yang mengisyaratkan tidak suka akan kedatangan dan kehadirannya dirumah ber-cat cokelat itu. Yaah.. Mamanya Keysha.

“Gue sudah mulai suka dengan Keysha. Hmm.. Moga aja bisa gue perjuangkan.” Batin Bre dengan sorot mata penuh keyakinan yang kuat.

Ketika masih asyiik dengan lamunannya yang sepertinya tak akan berujung itu, tiba-tiba terdengar bunyi ringtone dari handphone kesayangannya. Sebuah reff lagu dari BonJovi “Blaze of Glory” bergema keras stereo.

“Nomer siapa yaa??” batin Bre sambil ketika mendapati handphonenya di telpun oleh nomor yang tidak tersimpan di list contactnya.

“Hallo..” sapa Bre.

“Maaf apa ini dengan sodara Brian?” tanya suara cowok dengan nada berat diujung telepon.

“Betul, ini Brian. Maaf dengan siapa saya bicara?” tanya Bre penasaran.

“Saya Burhan Djatmiko, Papanya Keysha.”

DEEGGG!!! Ada apakah gerangan sampai Papanya Keysha nelpun gue????

“Iyaa Pak, ada yang bisa saya bantu?” jawab Bre menebak-nebak soal apakah yang akan dibicarakan bapaknya Keysha.

“Hmm.. Begini anak muda. Saya sudah mendengar tentang perihal anda dari istri saya, kalau anda sering bermain kerumah kami untuk bertemu Keysha. Benarkah begitu?” tanya Papanya Keysha terdengar berwibawa.

“Benar, Pak. Ngg.. Kenapa yaa?”

“Begini.. Saya yakin anda adalah cowok baik-baik. Cowok baik-baik itu akan selalu menghormati ketika tahu bahwa cewek yang sering dikunjunginya itu sudah mempunyai tunangan dan tidak akan merusak hubungan diantara keduanya. Paham? Jadi saya minta baik-baik pada anda, agar anda tidak usah berhubungan dengan Keysha lagi, meskipun anda akan menjawab pertanyaan saya dengan kalimat, kami Cuma temenan aja kok Pak, itu nonsense buat saya. Keysha akan bahagia dengan tunangannya itu, masa depannya akan lebih terjamin dimasa mendatang. Jadi saya mohon, jauhi Keysha apapun alasannya.”

Brian hanya terpaku terdiam mendengar celotehan orang tua yang sangat meremehkannya. Darahnya mendidih, giginya gemeletukan, raut wajahnya memerah marah, emosinya menggelegak demi mendengar pernyataan Papanya Keysha seolah-olah Keysha akan merana jikalau berhubungan denganya.

“Anak muda, anda tidak mau kan dikatakan sebagai perusak hubungan orang lain? Saya yakin seorang idealis seperti anda pasti tahu harus bersikap bagaimana. Oke, itu aja yang ingin saya sampaikan.” imbuh suara berat Papanya Keysha dari seberang telepun.

“TUT.. TUT.. TUUT” suara sambungan telepon terputus.

Bre bahkan tidak sempat membalas ucapan Papanya Keysha. Dia Cuma syok dan terpaku. Sekarang, jalan untuk mendapatkan Keysha sangatlah terjal, meski seandainya Keysha juga suka padanya.

“Brengseekk!!! Baj*ngaaannn!!!!” umpat Bre penuh emosi.

“Hmm.. Gue harus berkepala dingin. Dalam hal ini Keysha tidak bersalah. Orang tuanya pasti yang menekan dan menjodohkan dia dengan tunangannya. Kasian Keysha selalu kesepian dirumah, tiada teman tiada kawan. Makanya dia selalu merajuk dan ngambek kalo gue ga main kerumahnya. Keysha, gue akan berjuang buat lu.” Gumam Bre lirih tapi terlihat kilat semangat membara diwajah gantengnya.

“Aku pasti bisa!!” kata Bre yakin sambil mengepalkan tangan seraya menatap sebuah foto.

Yuupz.. Sebuah foto Super Hero Superman yang kepalanya sudah diganti dengan kepala Bre, dan dada yang bertuliskan huruf S juga sudah diganti huruf B. BreeMan!! Hahaha Mantap Jackk!!!

Bre membuang puntung rokok keduanya kedalam tempat sampah, kali dengan gerakan ala Hakeem Olajuwon sedang melakukan SlamDunk. Bre melemparkan puntung rokok itu dengan telak tapi sayang nya hanya mengenai bibir keranjang dan meleset keluar.

Bre masih terlihat berbaring di kasur kamarnya. Waktu sudah beranjak siang. Waktunya makan siang sudah menjelang. Cacing dalam perutnya sudah mulai berteriak-teriak melalui mikrofon, ada juga yang sudah mulai membakar ban. Cacing-cacing itu mulai turun ke jalan menuntut hak yang harus segera dipenuhi oleh pemimpin pemerintahan perut, Si Bre.

Bre segera beranjak keluar kamar, kemudian celingak-celinguk mencari sebuah kehidupan yang lain di kost-kost-annya.

“Kok sepi banget yaa? Apa masih pada molor?” batin Bre.

“Waah hari minggu gini pasti pada pulang kampung neeh temen-temen.” imbuh Bre sambil menggaruk-garuk kulit kepalanya sendiri.

Bre berjalan menuju kamar Saipul yang lebih akrab di sapa Ipul. Tanpa mengetuk pintu kamar Ipul, Bre langsung masuk danmendapati Ipul lagi ngotak-atik handphonenya.

“Woiii!!!” Bre ngagetin Ipul sampe Ipul terperanjat kaget.

“Sialaan lu, Bre!! Ngagetin aja. Bisa mati jantungan gue, tau gak!!” sembur Saipul gahar sambil mata melotot galak.

“Iyaa-iya sorii Pul.. Wuih handphone baru neeh. Kereen Pul, beli dimana?”

“Lewat online, Bre. Bagus yaa, hehee..” jawab Saipul bangga handphone nya dibilang keren sama Bre. Padahal ada maksud tersembunyi dari pujian Bre itu.

“Waah Pul, lu kudu musti syukuran neh punya sebuah handphone canggih kaya gitu. Sebagai perwujudan syukur nikmat biar rejeki lu tambah lancar..” kata Bre memberi umpan.

“Mmm.. Bener juga kata lu Bre. Tumben pinter. Gue traktir mau ga neeh?” tawar Saipul.

Tuuh beneerrr kaann.. Tadi itu Cuma kalimat pancingan dari Bre, dan Sang korban pun berjatuhan..

“Waah gimana yaah Pul.. Gue udah kenyang neeh, udah makan tadi..” sahut Bre sok jual mahal.

“Dosa lu nolak rejeki, Bre..”

“Hmm.. Iyaa juga yaa. Yaudah deh boleeh, yuukk..” ucap Bre sambil tersenyum penuh kemenangan.

Brruuuuummmmmm . . . . . !!!!!!

Mereka berboncengan naik sepeda motor menuju ke salah satu warung steak terkenal di tengah kota. Bener-bener nasib Bre lagi mujur di traktir full oleh Saipul.

Mereka berdua, Saipul dan Bre memilih tempat duduk yang menghadap kejalan biar bisa melihat orang-orang yang lalu-lalang, siapa tau ada cewek cakep nyasar dan bisa diajak kenalan juga tukeran nomor handphone.

Ditengah menunggu pesenan datang, Saipul dan Bre asyik ngobrolin kecanggihan handphone baru punya Saipul. Gila jackk!! Kameranya 12megapixel, video recordernya juga sudah HD.

Waiter warung steak itu sedang meletakkan minuman pesenan dari Saipul dan Bre, bersamaan itu sebuah mobil Pajero Sport Dakkar warna hitam berhenti di depan warung steak. Bre mengamati mobil mewah tersebut dan berdecak kagum. Hmm.. Mobil yang ga akan pernah bisa ia beli.

Mata elang Bre membelalak ketika tahu siapakah para penumpang di mobil mewah itu. Keysha terlihat tampak cantik dengan balutan baju ketat yang seksi dengan tonjolan sepasang buah dada yang kencang membusung indah. Belahannya menyuguhkan sedikit sembulan dari daging payudaranya yang putih mulus bagian atas.

Rok jeans setengah paha yang dipakai begitu meng-explore keindahan tungkai kakinya yang putih mulus lagi jenjang. Bando berwarna biru menghias cantik diatas kepala berambut indah miliknya. Kemudian disusul Mama Keysha yang sudah sering Bre lihat sewaktu Bre menyambangi Keysha.

Mata elang Bre membelalak semakin lebar ketika Papa Keysha juga turun dari mobil SUV itu. Bre mengucek matanya dan dilihatnya Papa Keysha. Tetep sama. Dikuceknya lagi matanya supaya lebih yakin kemudian dilihatnya lagi Papa Keysha. Tetep sama juga. Waah berarti ini kenyataan.

Gilaa!!! Bener-bener gilaa!!! Saipul pun terbengong melihat tingkah aneh Bre, tapi dia tak menghiraukannya. Saipul lebih asyiik mengarahkan kamera handphonenya untuk nge-zoom sepasang toked ranum yang terlihat bergerak-gerak lembut seiring langkah kakinya dan kemudian dipotretnya.

“Tapi tunggu dulu, siapa tau lelaki itu Paman atau saudaranya..” kata hati Bre berbicara.

Bre langsung serta merta mengambil topi model cowboy yang nangkring diatas kepala Saipul dan langsung memakainya. Tak lupa kacamata hitam model pilot juga langsung dikenakannya, sehingga Bre sekarang tampak mirip dengan Slash, gitaris GnR.

Ini semua dilakukan Bre agar Keysha dan Mamanya tidak mengenalinya. Karena Keysha, Mama dan lelaki itu duduk tak jauh dari tempat Bre dan Saipul.

“Apa-apaan sih lu? Mana topi gue!” kata Saipul jengkel dengan kelakuan Bre.

“Alaah pinjem bentar napa? Demi keselamatan gue neeh Pul..”

“Keselamatan lu? Maksudnya?” tanya Saipul bingung.

Brian memutar otaknya sebentar, dari yang awal mulanya ada didalam kepala, sekarang dikeluarkannya dan ditaruh didengkulnya agar bisa ngasih alasan yang tepat ke Saipul mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

“Gini Pul.. Lu tau kan rombongan sirkus yang barusan dateng dan anak ceweknya lu potret tokednya yang begitu ranum itu?”

“Hehe.. Tau aja lu Bre, gue sedang motret toked cewek cantik itu..” jawab Saipul sambil cengengesan.

“Kenapa emangnya dengan mereka?” kata saipul menambahkan.

“Gini Pul.. Lelaki itu pernah maki-maki gue, ketika gue sedang asyik godain cewek cantik itu di mall bersama Andi temen satu kampus gue, beberapa waktu yang lalu. Makanya gue pinjem topi lu bentar untuk penyamaran, gitu. Eeh tapi apa bener yaa lelaki itu Bokapnya si cewek cantik yang lu potretin tokednya tadi?” jelas Bre ngasih penjelasan palsu sekalian menanyakan perihal lelaki itu terhadap Saipul.

“Ooo gitu, Bre. Tapi, mana gue tau lelaki itu Bokapnya cewek cantik yang duduk disebelahnya.”

“Coba deeh lu potret mereka dengan beberapa jepretan pake kamera canggih lu..” pinta Bre.

“Beres dah, orang gue juga pengen motret mereka kok, hehehe..” sahut Saipul meng-iyakan perintah Bre.

“Siip.. Gue beli rokok dulu di kasir, Pul.”

“Marlboro Black Menthol yaa..”

“Okeey!!” jawab Bre sambil menuju kasir.

Terlihat Keysha dan Mamanya saling bisik ketika melihat Bre berjalan melewati tempat dimana mereka sedang duduk. Sudah jelas pasti mengomentari penampilan eksentrik Bre.

“Mas, Marlboro Black Menthol satu yaa..” pesan Bre.

Petugas kasir segera mengambilkan rokok yang diminta Bre di sebuah etalase kecil. Bre iseng memperhatikan daftar Bill pesanan makanan para tamu yang terletak diatas meja, dan matanya pun terbelalak lagi. Dikerjap-kerjapkannya sekali lagi mata elang itu lalu kembali melihat kearah Bill yang disitu tertera sebuah nama yang membuat matanya mengerjap-kerjap.

“CEKRHECK!!” bunyi foto yang terdengar begitu tombol shutternya dipencet.

Yuupz.. Bre telah mengambil gambar Bill yang tertera nama seseorang yang membuat matanya membelalak dan mengerjap.

“Sekalian ke toilet aahh..” gumam Bre setelah mendapatkan rokok yang dipesannya dan sebuah foto Bill.

Bre melangkahkan kakinya menuju toilet. Pintu toilet tertutup. Tapi dia mendengar seseorang berbicara melalui telepone dari dalam toilet.

“Besok aja sayang ke Toko Berlian Semarnya yaa, sekarang mas lagi sibuk meeting mendadak dengan klien..”

“Apa sih yang enggak buat pujaan hati, hahaa.. Okey, bye honny!!” terdengar suara lelaki dari dalam toilet.

“KLEEK.. KRIEETT!”

Pintu toilet terbuka dan keluarlah sosok lelaki yang tadi juga keluar dari pintu mobil mewah Pajero Sport Dakkar. Sosok lelaki yang tadi duduk bersama Keysha dan Mamanya. Bre langsung pura-pura menghadap westafel untuk mencuci tangannya.

Demi mendengar telepone dari lelaki itu yang katanya sedang meeting, yang katanya akan ke Toko Berlian Semar, membuat degup jantung Bre semakin berdentam keras. Aliran darahnya mengalir lebih cepat. Adrenalinnya terpacu sedemikian hingga.
Bre langsung menuju ketempat duduknya dimana Saipul terlihat sedang melihat-lihat hasil jepretannya.

“Gimana hasilnya Pul? Nih rokoknya..” kata Bre ikut memperhatikan hasil kerja Saipul.

“Nih liat aja sendiri..” ucap Saipul seraya menyerahkan handphone kemudian mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.

“Gimana Bre? Baguskan?”

“Perfect Pul. Lu jago juga yaa ngambil gambar-gambarnya. Bakat jadi photographer lu..” sanjung Bre sambil serius mengamati foto-foto di handphone Saipul.

Beberapa foto yang menge-zoom wajah lelaki itu dan beberapa foto yang menampilkan mereka bertiga ditandai Bre dan langsung di bluetooth ke handphonenya sendiri. Hmm.. Senjata Pamungkas sudah didapatkan..

Nama seseorang yang tertera di Bill yang membuat mata elang Bre berkejap-kejap, juga raut wajah lelaki yang membuat mata elang Bre terbelalak lebar tak lain dan tak bukan adalah BURHAN DJATMIKO!! Papa dari Keysha, yang terlihat oleh Bre bersama Ibu Carissa sewaktu dia mengantar Andi kesebuah Mall.

Bener-bener baj*ngan!! Sok meng-khotbahi gue, tapi ga taunya dia sendiri yang memakai topeng kebusukan. Semua kartu truff sudah ditangan, tinggal menjalankan rencana selanjutnya..

Setelah membayar Bill, Bre dan Saipul pun langsung ngacir keluar dari warung steak dengan perut kenyang. Mereka berdua putar-putar kota ditengah teriknya sinar matahari siang yang sedang getol-getolnya memancarkan panas sehingga bisa membakar apa saja yang ada di bumi.

Saipul terus berkicau disepanjang perjalanan mereka Rolling Thunder mengelilingi kota. Sedang Bre tampak berdiam diri. Otaknya yang tadi ditaruh dengkul tapi sekarang sudah dikembalikan kedalam kepalanya itu sedang berlari-lari mencari solusi terhadap apa yang dilihatnya tadi di warung steak.

“Hmm.. Pertama Gue harus memancing Ibu Carissa dulu untuk mendapatkan info yang maha valid, sebelum bertindak lebih jauh. Siip!!”

Wajah ganteng Bre yang dari tadi terus-terusan terlihat kacau sekarang sudah tampak lega dan terlihat plong. Fyuuhhh!! Senyum mautnya yang sanggup meruntuhkan kokohnya tembok berlin pun sudah mengembang dan siap untuk meruntuhkan kuatnya tembok china. Mauuttt jack!!!

Sekarang Bre dan Saipul sudah kembali ke kost. Mereka berdua sedang santai dikamar Bre.

“Bre, lu ada koleksi film dewasa ga? Gue minta dong, sekalian buat nge-reyen handphone gue neeh..” pinta Saipun langsung menyalakan komputer Bre.

“Ambil aja sendiri di drive Z. Sekalian kalo lu punya di copy ke komputer gue untuk nambah referensi..”

“Jiaahh!! Referensi buat apaan Bre??”

“Adaa deech, hahaha!!” jawab Bre ngakak.

Sedang Saipul terlihat mulai serius membuka satu demi satu film-film koleksi Bre.

Bre mulai berpikir untuk nge-sms-in Ibu Carissa, untuk lebih meyakinkan bahwa apa yang didapatkannya tadi memang bener-bener kenyataan, bukanlah sekedar prasangka buruk. Brian mencoba memikirkan rangkaian kalimat yang akan dia kirimkan kepada Ibu Carissa. Kalimat sederhana yang santai tapi mengandung umpan. Bre mulai mengetikkan jarinya diatas keypad handphonenya..

New Text Message
Hallo Bu dosen cantik ^..^ Lagi ngapain Neeh? Godain Brian dong, hehe!!
Klik send, dan massage delievered.

Tak berapa lama, terdengar suara ring tone handphone berbunyi menandakan ada sms..

New Message Recieved
Dosen^^Cantik^^Carissa
Hallo juga ganteengg.. Twink 😉 mauw dunk godain Brian.. ada apa neeh tumben sms? Minta jatah preman yaah? Hihiii 

Bre tersenyum sambil geleng-geleng kepala setelah membaca sms dari dosen cantikknya itu. Uughh!! Begitu gemesin deech.

New Text Message
Hahaa.. Ibu bisa aja. Btw, kemarin Bre melihat Ibu sedang berjalan dengan lelaki ganteng berumur dan tampak mesra banget di salah satu Mall. Itu lelaki yang pernah Ibu Carissa ceritakan tempo hari yaa? Duuch jadi iri deh  .. Udah jalan-jalan kemana aja cantik?

Klik send, dan message pun delievered.

Terdengar nada dari handphone Bre, bahwa sms balesan dari Ibu Carissa telah tiba..

New Message Recieved
Dosen^^Cantik^^Carissa
Ooh.. Kamu lihat yaa Bre? Gimana, cocok ga hehe..? Iya Bre, itu cowok emang yang pernah aku ceritain kemarin. Udah jalan kemana aja yaa?? Hmm.. Mauw tauuu ajaa 😛 .. Besok mau ke Toko Berlian, Bre. Udah dulu ya ganteng, Carissa cantik mo mandi dulu, mandiin dunk.. 

Bre terbelalak dengan jawaban Ibu Carissa. Berarti semua data yang diperolehnya di warung steak tadi benar adanya. Burhan Djatmiko telah nge-gombalin merpati cantik itu. Hatinya tak rela Ibu Carissa ditipu oleh Papanya Keysha. Bre pun juga sedikit ngac*eng setelah membaca kalimat terakhir yang nakal menggoda dari dosennya itu.

New Text Message
Yee Ibu teh godain terus. Met mandi yaa.. Jangan slulup ntar gelagepan lhuw 
Klik send, dan pesan pun delievered.

Keesokan harinya, dengan topi cowboy yang menutupi rambut dreadlocknya, Bre mencoba melakukan pengamatan dan investigasi diseputaran Toko Berlian Semar. Kacamata model pilot pun melindungi sepasang mata elangnya yang untuk saat ini semakin ia tajamkan, pun demikian juga dengan telinganya.

“Waah dah pukul 14.00wib neh, kok mereka belum pada nongol? Jangan-jangan batal dan mereka malah pergi ke Toko Berlian Bagong. Mana gue dari pukul 10.00wib tadi nongkrong disini sampai satpam pada curigation ma gue. Sialaan dah kalo gagal..” rutuk Bre kesal.

Bre menyapukan pandangannya keseluruh area lantai2 tempat dimana dia melakukan penyamaran demi tugas maha mulia. Dikejauhan tampak sepasang lelaki berumur sedang menggandeng mesra sosok cewek cantik mengenakan blazer dan rok span.

Mereka bercanda begitu mesra. Mereka tak lain dan tak bukan adalah pasangan terlarang, Burhan Djatmiko dan Carissa Adell Gayatri. Bre pun bersiap dengan kamera digitalnya dan bersiap pula dengan degupan jantungnya.

Burhan dan Ibu Carissa sedang memilih-milih sesuatu yang terpajang di etalase toko. Bre pun dengan sigap mengambil posisi disamping mereka berdua dengan lagak juga ingin membeli. Dia sudah mempersiapkan kamera digitalnya untuk meng-shoot pasangan yang tampak mesra itu.

“Bagus ga sayang?Hmm?” tanya lelaki pasangan Ibu Carissa.

“iiiih bagus banget. Pas dijari manis Rissa neh mas..” jawab Ibu Carissa dengan manja dan,

“CUUPPH!” ciuman mesra dari bibir tipis Ibu Carissa kearah pipi kiri lelaki itu

“CKREEKKH!” *silent mode. Kamera Bre menangkap momment itu.

“CUUPHHH!!” ciuman dikening Ibu Carissa oleh lelaki itu diiringi belaian lembut rambut indah Ibu Carissa.

“CKREEKHH!!” *silent mode. Kamera Bre kembali momment-momment special yang dilakukan pasangan beda usia dan beda status itu.

Setelah mendapatkan apa yang Bre inginkan berupa foto-foto bukti, ia langsung beranjak pergi bergegas pulang ke kost nya meninggalkan mereka berdua yang masih saja terlihat mesra dan romantis. Akan tetapi hal tersebut semakin memuakkan bagi Bre.

Bre tidak menyalahkan Ibu Carissa yang memang kering akan kasih sayang dari seorang cowok, tetapi kelemahan yang dimiliki Ibu Carissa itu sengaja dimanfaatkan lelaki brengsek itu untuk mengumbar kata cinta, rayuan, dan hal-hal romantis.

Sementara itu kehidupan lain di rumah ber-cat cokelat juga sedang berlangsung di jam dan waktu yang sama. Kalau Burhan Djatmiko sedang duduk tertawa bahagia berdampingan dengan Ibu Carissa sambil tangannya memainkan jemari dosen cantik yang lembut itu di sebuah cafe setelah dari Toko Berlian Semar, sedangkan saat ini Keysha lagi duduk termenung penuh kegalauan di sofa ruang tamunya.

Dia rindu akan kehadiran Bre. Sementara itu tunangannya jarang-jarang untuk sekedar ngasih kabar. Hmm.. Ujie memang orang yang berwatak dingin meskipun dirinya dirindukan oleh Keysha yang cantik dan begitu menggairahkan.

“Apa yang akan terjadi kelak jika gue bener-bener married dengan Ujie? Pasti akan terasa hampa. Tapi gue ga kuasa untuk menolak keinginan Mama-Papa yang sudah menjodohkan gue semenjak gue masih kecil.. Huuftt!!” Keysha meratapi nasibnya yang sangat tidak beruntung, meski kelak dia akan bergelimangan oleh harta.

“Seandainya gue bisa dan dapat memilih, tentunya Mas Brian adalah sosok yang tepat bersanding dengan gue. Ganteng, mandiri, cerdas, kocak.. Aahh.. Tapi semua itu jauh panggang dari api..” Keysha tetap dalam keluh kesahnya.

“Gue tahu, pasti Mama sudah menceritakan kedekatan gue sama Mas Brian ke Papa. Makanya Papa sering nyindir gue walau beliau sedang ngobrol dengan Mama. Seakan-akan omongannya itu diucapkan ke gue. Hiks.. hiks.. hiks.. Gue benci Papaaa!!”

Keysha memang seperti burung yang berada didalam sangkar emas. Terkurung kemewahan tapi terbelenggu kebebasannya. Mata beningnya tampak berkaca-kaca dan perlahan air mata itu mengalir melalui sudut matanya.

Ooh God.. Jika Engkau sayang padaku, tolong berikan jalan keluarnya. Aku ga akan sanggup bertahan dengan kondisi seperti ini. Jika Engkau ingin aku bahagia, izinkan aku untuk memilih jalan hidupku sendiri, bukan oleh Papa ataupun Mama.

“Breee!!!!”

Terdengar suara teriakan membelah seantero kawasan taman kampus. Mahasiswa yang berada disana tampak serempak menolehkan kepala kearah suara teriakan yang baru saja mereka dengar. Tentunya mereka semua tidak bernama Bre. Hanya ada satu nama Bre diantara mahasiswa yang sedang menikmati waktu di taman kampus itu.

“Ngapain seh kudu teriak segala?? Gue kan ga budeg!” omel Bre kesal dengan teriakan Karebet.

“Hehehee.. Sorry deh Bre, ga sengaja kok gue teriak. Ni mulut aja yang langsung spontan monyong teriak ketika ngeliat lu..” terang Karebet.

“Ada apa emangnya lu teriak-teriak? Pak SBY mo ketemu sama gue yaa?” tanya Bre asal.

“Yeee, emang siapa lu sampe Pak SBY nyariin lu? Yang ada tuuch, lu dicariin Keysha diperpustakaan kampus..”

“Masak siih?”

“Iyee bener, buruan sana samperin..”

“Oke deh, Bet. Thanks yaa..” ucap Bre seraya beranjak pergi ke perpustakaan kampus.

“Oke Bre, sama-sama..”

Keysha Luna Djatmiko.. Hmm, nama yang cantik dan memang secantik orangnya. Keysha duduk sambil menggoyang-goyangkan tungkai kakinya yang terbalut celana jeans ketat sehingga kakinya yang jenjang itu semakin terlihat elok dipandang mata. Tapi diwajahnya terlihat ada gurat kesedihan.

“Hai cantik, kok cembeyut siih? Ntar cantiknya diambil orang lhoh..” goda Bre dan langsung duduk disamping Keysha.

“Aah Mas Bre gitu deeh..” jawab Keysha merajuk manja.

“Ada apa Key? Kata Karebet lu nyariin gue yaa?” tanya Bre denganmenggarukkan tangan di kulit kepalanya seperti biasa.

“Mas Bre harus tanggung jawab dengan semuanya ini, karena sudah membuat keysha jatuh hati sama Mas Bre..” kata Keysha. Tapi sayangnya kata-kata itu hanya didalam hatinya saja..

“Iyaa neh Mas Bre.. Keysha lagi suntuk. Pengen ngobrol-ngobrol banyak sama Mas Bre. Ke gerai Cappucino yuuk Mas..” ajak Keysha tanpa menunggu persetujuan Bre sambil memakai kacamata hitamnya dan beranjak pergi menuju mobil sedan Volvo kelir hitam mengkilat.

“Eeh tunggu.. Tunggu!!” teriak Bre tergopoh-gopoh mengikuti jalan Keysha.

Gerai Cappucino itu terlihat lenggang, hanya ada beberapa pasang pengunjung. Ruangan ber-ac itu terasa sangat nyaman cocok untuk nge-date bagi pasangan yang baru aja jadian atau cocok juga sebagai tempat untuk katakan cinta. Setelah memilih tempat duduk yang sedikit pojok, Bre dan Keysha memesan 2 ice cappucino, banana fried with cheesse on top, dan french friess.

“Suasananya enak yaa Mas. Sejuk dan santai..” kata Keysha membuka pembicaraan.

“Bener banget Sha. Cocok untuk pacaran. Yaah.. Kaya kita ini hehehehee..” celetuk Bre.

“Aaaahh, Mas Bre bisa aja neeh godain Keysha terus dari tadi..” jawab Keysha dengan rona merah menghias pipinya yang putih. Didalam hatinya menyetujui ucapan Bre. Aah seandainya kita bener-bener pacaran.

“Abisnya Keysha cantik gitu kok, siapa coba yang ga jatuh hati hehehe..” sahut Bre berkelakar.

“Well, apa yang bisa gue bantu Sha??” imbuh Bre dengan wajah santai memandangi wajah cewek cantik dihadapannya itu.

“Mas Bre, yang menentukan jalan hidup kita harus begini kek, harus begitu kek, itu diri kita sendiri ataukah orang lain. Papa Mama kita misalnya.” tanya Keysha dengan mimik muka serius.

“Maaf, Mas Mbak.. Ini ice cappucino sama banana fried with cheese on top sama french friessnya..” kata seorang waitress memotong pembicaraan antara Bre dan Keysha.

“Ooh iyaa.. Makasih Mbak..” jawab Bre dan Keysha bersamaan.

“Hmm.. Begini Sha. Sebenarnya yang menentukan jalan hidup itu yaa orang yang menjalani kehidupannya itu sendiri dan tidak bisa diwakilkan. Tapi, hanyalah paksaan yang membuat seseorang yang tadinya harus menentukan jalan hidupnya sendiri menjadi ditentukan oleh orang lain karena paksaan. Banyak banget contohnya seperti perjodohan yang tidak kita ketahui sebelumnya tiba-tiba saja kita harus menjalaninya. Nggg…….” jelas Bre dengan gamblang dan tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika dia menyadari bahwa apa yang dikatakannya itu menyinggung apa yang Keysha alami.

“Maaf..” imbuh Bre polos.

Keysha hanya tersenyum getir mendengar Bre bertutur dihadapannya. Yang dikatakan Bre memang benar adanya. Dan dia adalah salah satu korbannya.

“Gapapa Mas. Terus bagaimana caranya keluar dari permasalahan tersebut, Mas. Yaah seperti yang Keysha alami sekarang ini. Tunangan Keysha kayanya sudah mati rasa Mas, tidak seperti orang berpacaran. Ujie seakan tidak peduli dengan Keysha. Mau Keysha senang kek, sedih kek, kesepian kek, dia ga peduli. Dia seperti robot, dan robot itu pilihan Papa-Mama Keysha. Keysha bingung harus bagaimana lagi. Keysha sudah mencoba untuk berusaha mencintai Ujie tapi dia sendiri ga berusaha untuk mencintai Keysha. Dia orang yang introvert, kadang Keysha takut sendiri kalo Ujie ternyata juga seorang psikopat karena ada tanda-tanda kalo perilakunya mengarah kesana. Keysha ga kebayang married dengan Ujie dan keadaannya tetap seperti ini bahkan akan lebih buruk lagi. Keysha bingung Mas, Keysha bingung.. hiks.. hiks.. Keysha benci Papa Mama, Keysha benci Ujie.. Tapi entah kenapa, sewaktu Keysha bersama Mas Bre, hati Keysha jadi tenang. Merasa seperti ada payung raksasa yang melindungi Keysha dari sengatan panas matahari dan derasnya ujan.” Keysha mengeluarkan semua uneg-uneg hatinya.

Diseruputnya ice cappucino untuk menyegarkan tenggorokannya.

Bre terlihat mendengarkan tuturan Keysha dengan serius. Dari tatap mata Bre terlihat ada rasa prihatin yang mendalam mengenai apa yang Keysha rasakan.

“Keysha.. Apa yang kamu alami sekarang ini Mas Bre ikut prihatin. Cobalah ajak Papa Mama kamu bicara lagi mengenai hal ini pelan-pelan sebelum terlanjur sampai di jenjang pernikahan. Katakan kepada Beliau mengenai sikap Ujie selama ini, dan berterus teranglah kepada beliau bahwa Keysha berhak menentukan jalan hidup sendiri. Keysha sudah dewasa, sudah selayaknya memilih pacar sesuai dengan hati nuraninya sendiri tanpa adanya intervensi dari Papa-Mama. Keysha juga sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.” Ujar Bre penuh perhatian.

“Andai ada cara lain yang lebih mudah. Yaa Tuhan berilah sedikit jalanMu walaupun sempit agar hambaMu ini bisa meraih kebahagiaan..” harap Keysha.

“Pasti akan ada jalan kok Sha. Mas Bre yakin itu. Terus berdoa dan memohon padaNya biar diberi kemudahan dalam setiap hal, Keysha.” Sahut Bre.

“Iya Maas. Keysha sekarang jauh lebih tenang daripada tadi. Keysha akan terus berdoa dan berusaha sampai Tuhan memberikan secercah harapan dan sedikit jalan..” harap Keysha.

“Nhaah gitu dong. Itu baru namanya Keysha..” kata Bre sambil membelai rambut Keysha.

“Eeh liat kearah samping, Sha. Ada pasangan mesra banget tuuh. Yang cowok nyuapin ke ceweknya dan ceweknya meraba pipi cowoknya dengan lembut..” bisik Bre.

Keysha menolehkan wajahnya kesamping. Sontak mata beningnya menyala merah, tangannya langsung mengepal demi melihat apa yang ada didepannya. Dengus nafas emosinya mendadak naik…

“Keysha, lu kenapa?? Sakit yaa??” tanya Bre khawatir demi melihat perubahan pada diri Keysha. Bre juga ikut menolehkan kepala kearah Keysha memandang.

“Ujie.. Bangsat lu Jie.. Bener-bener baj*ngan!” kata Keysha dengan sorot mata sadis.

“Ujie? Maksud lu tunangan lu itu yaa? Katanya dia ada di perancis??” tanya Bre bingung.

“Iyaa.. Berarti dia pulang ga ngasih tau Keysha, malah pacaran sama cewek lain. Bener-bener baj*ngan!” ujar Keysha seraya berdiri hendak menghampiri pasangan yang lagi mesra disamping tempat duduk Keysha dan Bre.

“Hei!!! Tunggu.. Tunggu Keysha jangan gegabah kaya gitu. Kalo lu ga suka sama Ujie jangan main labrak aja..” sergah Bre sambil memegangi lengan keysha.

“Terus diem aja gitu??” tanya Keysha ketus.

“Pake otak dong. Jangan kaya gitu. Sekarang mereka lu potret sebanyak-banyaknya pas adegan mereka saling mesra. Setelah selesai baru lu gampar si Ujie. Kalo besok-besok dia nyangkal, lu tinggal kasih liat foto-foto itu. Ini juga mungkin sebuah jalan dari Tuhan biar lu bisa terlepas dari Ujie..” Bisik Bre cepat.

“Bener juga Mas Bre..” sahut Keysha dan dia langsung mengeluarkan ponselnya untuk segera bereaksi jeprat-jepret.

“Sekarang Ujie biar Keysha samperin, Mas Bre bayar ke kasir dan tunggu di parkiran yaa..” usul Keysha sambil menyerahkan uang seratusan ribu kepada Bre.

“Oke..” Bre segera beranjak pergi.

Keysha dengan wajah dibuat se-emosi-emosinya dan tampak sangat sadis, dia langsung menggertak Ujie.

“Heh!! Dasar cowok baj*ngan lu yaa!!”

“PLAAKK!!” pipi Ujie kena gampar.

Semua pengunjung gerai capuccino memandang kearah arena pertempuran itu. Tidak ada yang berusaha memisah. Sedangkan cewek yang bersama Ujie ternganga melihat itu semua. Dia sangat syok melihat kedahsyatan amarah dari Keysha. Dia juga Cuma terdiem kaku diatas kursinya.

“Eeh, Shaa.aa..” Ujie tergagap super duper grogi ketika melihat Keysha didepannya.

“Ga usah Sha.. Sha segala deeh?!!! Ooo.. ternyata ada cewek lain??!!! Dasar brengseekkk!!! Pulang dari perancis ga kasih kabar ternyata main kucing-kucingan kaya gini?! Hahh!! Kita putus!!! Makan neeh cincin!!” kata Keysha sadis sambil melemparkan cincin tunangan kearah Ujie.

“Shaa.aa dengg.. Dengerin gua dulu..” pinta Ujie gelagapan.

“Denger apa!! Hahh!!!.. Ga ada yang perlu didengerin dari cowok brengsek macam lu!!”

“PLAAKKK!!!” pipi Ujie tergampar keras.

“CUIHHH!!”

Keysha meludah kebawah disamping Ujie dengan ekspresi jijik dan segera berlalu beranjak pergi menuju parkiran dimana Bre sudah menunggunya. Dan mereka pun langsung cabut dari gerai capuccino yang barusan dihebohkan oleh aksi maut seorang Keysha.

Bersambung . . . . .

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s