Juwita Hati part 7

Hot_girlBurung-burung bersahutan menyambut pagi nan suci. Kepak sayap lemah kupu-kupu membelah dan menembus kabut tipis di remang antara gelap pagi buta dan berkas dari ufuk. Matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya dibalik awan. Sisa-sisa kejayaan sang rembulan belum sepenuhnya hilang. Berkas temaram sinarnya yang indah tadi malam sejenak kemudian akan hilang seiring dengan memudarnya gelap pagi ini.
Pagi buta di hari minggu. Tidak seperti biasanya, disaat orang pada umumnya masih sibuk dengan selimut dan bantal bernoda liur, Bre terlihat sudah berbenah mengenakan setelan kaos polos putih bertuliskan ‘Fender’ dan celana pendek berwarna hitam. Tak lupa sepatu sport putih melekat manis di kakinya yang berbulu.

Jogging…sebuah kebiasaan baru bagi Bre setiap minggu pagi selepas perpisahannya dengan Karen. Bre beralasan bahwa jogging ini untuk mengisi kesenggangan waktu yang tersisa karena tak ada lagi kesibukan dengan Karen. Tapi diluar itu semua, yang pasti Bre jelas sedang ‘membelokkan’ hasrat seksuilnya kearah pengurasan fisik yakni lari pagi agar tidak ‘senut-senut’ karena lepas dari Karen tanpa menemukan pengganti yang bisa memuaskan libido rutinnya.

Taman kota menjadi pilihan yang tepat bagi Bre untuk ber-jogging ria. Tempatnya yang bersih dan asri menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelaku olahraga hari minggu.

HOSHH..HOSHH….(suara nafas Bre yang sedang ber-jogging).

“hoshh…hmm…lari pagi…badan sehat…hhhuhh hahh..” Teriak Bre dalam hati memberi semangat pada dirinya sendiri.

Di sisi kiri dari posisi berlari Bre, terlihat dua orang cewek cantik nan sekseh sedang berjalan santai. Ayunan kaki Bre melambat, signal seorang DonJuan menyala menandakan ada target yang masuk di dalam area serang DonJuan. Begitu posisinya telah sejajar dengan kedua cewek tersebut mendadak Bre menarik gagang hand rim dan menghentikan kaki seketika.

Bruukk…“Aduhh…!!!” teriak Bre nyaring dan menjatuhkan diri di samping si cewek cantik. Spontan membuat kedua cewek tersebut kaget.

“Eitss…ada apa mas..???” sambut salah satu cewek yang paling dekat dengan posisi Bre dan merupakan target bidik Bre. Bidikan Bre tak akan meleset, dengan hanya melihat buatan buah pantat, tatanan rambut dan bentuk tumit, Bre sang DonJuan sudah bisa memastikan apakah si cewek bidikan layak serbu ataukah jangan dahulu.

“Aduhh…maaf mbak…terkilir…uhh !!” lanjut Bre sambil beringsut ke arah bibir trotoar namun dengan gerakan menghalang langkah kedua cewek tersebut.

“Uhh kacian…sendirian mas ?…” ucap si cewek teman target Bre sambil menarik tangan temannya untuk mendekat ke arah Bre dan menolong Bre.

Kejadian berikutnya tentu sudah dapat ditebak para pembaca semuanya. Aksi terkilir Bre akan di barengi dengan hembusan ucapan manis dari DonJuan. Ujung-ujungnya pasti diakhiri dengan permintaan no HP oleh Bre.

“Mbak punya perban ?…kain kasa itu lho mbak…!” Ucap Bre pada si cewek target.

“Buat apa mas?? kan kakinya gak berdarah…lagian aku ga punya…ngapain aku bawa perban segala!!” Balas si cewek bingung.

“Buat membungkus hatiku buat kamu…cieeehh….Kalo No HP punya mbak ???” Rayuan maut karya DonJuan cap kadal Brian Kusuma Wardhana.

Kebiasaan baru Bre setelah lari pagi di taman kota adalah mampir sejenak ke pasar rakyat di sisi timur taman kota. Bukan untuk belanja, hanya untuk lirik sana lirik sini melihat para ibu-ibu muda yang masih cukup singset untuk dinikmati ‘tongkrongannya’.

Selagi Bre sedang asyik menikmati kerumunan ibu muda yang sedang antre di sebuah stan jajanan pasar, tiba-tiba datang seorang wanita berjalan ketempat dimana Bre sedang berdiri ‘konak’.

“Hei…!!! lagi lihat apaan ?” Bentak wanita tersebut, dan saat Bre menoleh ke arahnya ternyata…

“Lho…Bu Carissa…!!! Belanja Bu ??? tumben-tumbenan..hehehe..” Sambut Bre pada wanita yang membentaknya.

“Ganteng…nanti siang saya undang makan yah di rumahku…jarang-jarang lho aku masak sendiri…cobain ya…!!!” Ucap Bu Carissa setelah mereka saling bertegur sapa satu sama lain.

“Buat Ibu…apa sih yang enggak !!! Ok deh Bu…” Balas Bre meyakinkan.

16 - 1Setelah pertemuan pagi itu, Bu Carissa pun pulang. Sedangkan Bre segera meluncur ke arah kampus namun bukan untuk ngampus, melainkan mampir ke warung Bu Sumi seperti biasa. Sudah waktunya sarapan.

“Bik Sumi, Nasi Pecel sambel tumpang seperti biasa bu…sama es jeruk manis…” Ucap Bre begitu sampai di warung langganannya yang sangat ‘bersahabat’ itu.

“Bre Gondrong….tunggakan kamu sudah hampir 2 bulan…nih lihat…2 lembar bolak-balik buku tulisku cuman penuh sama tandatanganmu…sekarang….bayar dulu…Ibu perlu buat belanja lagi….baru kamu boleh makan disini…!!” Bentak Bik Sumi dengan galak namun penuh canda.

“Hari ini Ibu ga masak..ndronggg !!!…modal Ibu habis buat ngutangin kamu !!” Lanjut Bik Sumi lagi dengan nada serius.

“Yahhh Ibu…maaf banget ya…hari ini aku blum ada uang…Bre usahain besok deh lunas Bu…Ya udah Bre pamit dulu…sekali lagi maaf lho Bu…” Balas Bre dengan salah tingkah dan diliputi perasaan tidak enak pada Bu Sumi.

Langkah gontai Bre menyusuri tepian kampus dengan lesu karena rasa lapar yang demikian menyeruak. Kepalanya begitu berat, susah sekali digunakan berpikir. Langkah Bre semakin lemah tanpa daya akibat terkuras waktu jogging. Namun, sekali lagi Bre teringat pada sosok Karebet yang jenaka.

“Oh ya…kenapa aku tidak kerumah Karebet saja untuk meminta sedikit makan…tanggal 30…uh…lama sekali tanggal 1 nya….” batin Bre sambil berusaha menguatkan langkahnya menuju rumah sahabatnya.

“Permisi kakang Bima..!”

“Owh…selamat datang adikku Arjuna…ada angin apakah hingga membuatmu datang di kerajaanku sepagi ini…??”

“Iya kakang Werkudoro…aku tak tahu lagi harus kemana…”

“Lho lahdalah…Apa penyebabnya adikku Janoko ?…apakah Srikandi meninggalkanmu ?”

“Bukan itu kakang…kerusuhan yang terjadi di padang Kurushetra telah membuatku gundah kakang..”

“Gundah ? Apakah Itu adik Arjuna??, apakah pasukan kurawa masih saja mengganggu hidupmu ?”

“Tidak…Duryudana dan pasukannya sudah lama tak terlihat…namun…sebentar kakang Bima…apakah kakang Yudistira ada disini?”

“Iya…kakangmu…Puntadewa ada di sini…sebenarnya ada apakah gerangan adiku Arjuna?”

“Aku ingin kita bertiga berbicara kakang….Nakula dan Sadewa hilang !!!”

“Apa…???!!”

“Hahaha….lu apaan sih Bre pakai acara ber-mahabharata segala…!!! Ade ape lu..??” Ucap seseorang yang ternyata adalah Karebet.

“Hehehe…lu juga ngapain main ikut aja hahh !!!” Sambar Bre.

Derai tawa terdengar menyeruak di ruang tamu Karebet. Ibu Karebet yang sedang libur kerja dan sedang duduk santai di ruang tengah menjadi ikut tersenyum mendengar celoteh kedua pemuda konyol itu.

“Bet…ehmmm gue laperr…belum dapet kiriman dari ortu…!!” ucap Bre sambil malu-malu kucing.

“Jangan malu-malu…..kucinggg !!” teriak Karebet demi melihat sahabatnya yang sedang kebingungan itu.

“Udah sono kebelakang…ambil sendiri sesuka hati lu dah…gitu aja pakai sungkan !!!” Lanjut Karebet sambil tertawa geli.

victoria-irouleguy-nude-h-magazine-1Pertemanan Bre dan Karebet memang sudah seperti saudara sendiri. Ibu Karebet pun juga sudah sangat terbiasa dengan kehadiran Bre. Masalah memberi makan pun juga bukan hal susah bagi mereka, Bre diberikan kebebasan disana layaknya di rumah sendiri.

Hari belum beranjak terlalu siang. Terik pun juga tak begitu terasa menyengat. Perut Bre gondrong sudah terasa begitu keroncongan. Namun waktu untuk makan siang seperti yang sudah dijanji Ibu Carissa belum juga tiba. Untuk mengisi kekosongan waktu, Bre mengambil gitar bolongnya yang sedang bertengger di sudut kamar kosannya.

Nun jauh disana, Bu Carissa sedang membaca SMS dari Pak Pram.

“Dik Carissa, jika tidak ada kesibukan..bolehkah saya mengajak untuk nonton siang ini…Action si Iko Uwais di film laga The Raid membuatku penasaran….bisakah?” Isi SMS Pak Pram yang dibaca Bu Carissa.

“Aduh maaf Pak…saya sudah ada janji makan dengan keponakan saya siang ini…ehmmm lain kali saja yah…” Tampik Bu Carissa dalam SMS nya, sepertinya Bu Carissa masih cukup enggan membuka hati untuk yang lain sejak berkenalan dengan pria di jejaring sosial itu. Meski dalam hati sebenarnya Bu Carissa memiliki kekaguman tersendiri pada sosok Pak Pram yang gagah beracun.

Kembali pada permainan gitar Bre, Berbagai lagu ia nyanyikan….seperti lagu power-nya helloween..

……………………………….
We’ve got the power

We are divine

We have the guts to follow the sign

Extracting tensions from sources unknown

We are the ones to cover the throne
……………………………………….

Kemudian lagunya Dream Theater berjudul : Strange de Javu

…………………………………
Subconscious Strange Sensation
Unconscious relaxation
What a pleasant nightmare
And I can’t wait to get there again

Every time I close my eyes
There’s another vivid surprise
Another whole life’s waiting
Chapters unfinished, fading

…………………………………

Dan diakhiri oleh lagu gahar milik Kaisar berjudul : Kerangka Langit

………………………………………..
Dan cerita manusia perlu berganti
Dan layar pun sudah mulai dikibarkan kawan
Genggam tangan penuh keyakinan
Mulailah melangkahkan kaki baru
Menelusuri jalan penuh kerikil kawan
Itu jalan menjadi dewasa

………………………………………

Selesai di lagu ketiga, jam sudah menunjukkan bahwa Bre harus segera beranjak menuju kerumah Bu Carissa.

TOK..TOK.TOKKK..
CEKLEKK..KRIEETT…

“Oh Brian…silahkan masuk…” Suara merdu mendayu khas suara milik Ibu Carissa menyambut kedatangan lelaki muda itu.

Acara makan siang segera berlangsung dengan meriah. Meriah bukan karena ramainya tamu, tapi karena suara berisik Bre yang seperti kesetanan saat melahap makanan yang tersaji. Berkali-kali mulutnya terlihat mendesis menahan pedas. Namun Sepertinya ia sangat menikmati sajian makan gratis itu. Setelah acara makan siang selesai, Bre diminta oleh Bu Carissa berpindah ke sofa di ruang santai.

Sofa Gajah teronggok indah di sudut ruangan santai. Nyala televisi yang sedang menayangkan aksi demo BBM di berbagai penjuru negeri menimbulkan pancaran sinar terang menyilaukan di seputar ruangan karena ruangan tersebut hanya dilengkapi sebuah lampu duduk yang berdaya tak lebih dari 5 watt. Apalagi bohlam yang berwarna hijau semakin menambah temaramnya ruangan jika tanpa ada cahaya televisi.

Baru beberapa detik Bre duduk di sofa gajah itu, mata Bre sudah disuguhi pemandangan memukau. Ibu Carissa berdiri di depan Bre yang memisahkan pandangan Bre kearah televisi. Otomatis sinaran cahaya televisi membuat terawang kain daster Ibu Carissa yang memang berbahan tipis. Lamat-lamat lekukan siluet tubuh Bu Carissa membayang indah. Terlihat oleh Bre laksana sedang menikmati sebuah tubuh dengan balutan CD dan Bra saja karena begitu terawangnya kain daster itu.

Digapainya jemari tangan Bu Carissa. Serrr…aroma kelembutan spontan menjalar di sepanjang lengan Bre dan terus berjalan mengikuti kelak-kelok sarafnya dan membentur di otak. Respon rangsang dari otak Bre memerintahkan hormon testosteron untuk mengambil peran. Bre sercekat, baru memegang tangan saja sudah demikian ‘ihir’ rasanya, apalagi setelah melakukan tindak lanjut program?.

tt0nunxBre berusaha mengendalikan gelegak nafsunya yang terasa semakin membuncah dan mendesak untuk melakukan tindak kenikmatan yang lebih menggelora. Ditariknya Putri Es hingga terjatuh dalam pangkuannya. Ia belai lembut rambut panjang Bu Carissa dengan penuh penghayatan.
Menyusul ia gelitik lembut bagian tengkuk dan telinga Bu Carissa sehingga membuat si empunya menjadi kegelian dan menggeleng-geleng tak jelas. Terlihat bibir Bu Carissa agak terkembang, udara hangat terhembus dari bibir itu meniupkan muntahan gairah yang lambat namun pasti telah menghinggapi kerongkongan jiwa Bu Carissa. Jiwa yang haus akan belaian dan kasih sayang.

Perlahan Bre mendekatkan katupan bibirnya ke arah bibir Ibu Carissa yang masih saja menghembuskan nafas hangat buah dari getaran nafsu. Kecupan lembut mengawali pertemuan dua jiwa yang sedang memadu kasih. Nampak Bu Carissa memejamkan mata. Bre semakin berani mengobrak-abrik rongga mulut Bu Carissa dengan ciuman nepsong khas DonJuan.

“Emmhh…” Desahan lirih terlontar dari bibir Bu Carissa yang masih tersumpal oleh lidah dan teman-temannya. Mata Bu Jutek menunjukkan reaksi aneh, kelopaknya sedikit terbuka menunjukkan sebahian bola mata putihnya seperti orang sedang mengigau. Ia sangat menikmati arungan nafsu membara itu.

Bibir Bre semakin menjalar turun menyusuri leher jenjang Bu Carissa yang putih laksana pualam. Mungkin jika ia sedang meminum teh atau kopi akan terlihat alirannya di leher itu. Lidah Bre menjilati setiap inci leher hingga membuat kegelian Bu Carissa semakin membuncah menyeruak. Kepala Bu Carissa terdongak menikmatinya.

Bre meminta Bu Carissa untuk berdiri sejenak. Dengan penuh kelembutan ia buka daster penutup tubuh Bu Carissa. Dengan sekali tarik pada ikatan tali di bahu Bu Carissa, meluncur turunlah daster itu hingga ke lantai meninggalkan tubuh indah Bu Carissa cantik yang hanya tertutup Bra dan CD warna ungu.

Demi melihat tubuh indah tanpa ccacat dihadapannya, Bre melangkah mundur beberapa jangkah. Bukan untuk menghindari Bu Carissa, bukan juga takut, namun hanya untuk melihat secara close-up sekujur tubuh indah itu.

Dua meter dihadapan Bre sedang berdiri sebuah keindahan yang tiada tara. Wajahnya cantik bak putri keraton solo. Rambutnya yang tergerai panjang menyokong wajah cantik itu menjadi lebih anggun dan berkelas. Balutan Kulit putih pualam menghiasi setiap inci tubuhnya mulai dari kening hingga jari kaki. Senyum manisnya diiringi jajaran gigi bersih yang tertata rapi sungguh memabukkan.

Semampai tubuhnya laksana bagai landasan tebing bagi onggokan gunung-gunung montok dengan ujung yang merah gelap menggemaskan. Perut rampingnya mengingatkan Bre pada datarnya perut petenis Martina Marthatilova. Dan sepasang paha yang padat berisi tengah berdiri sempurna mendukung gugusan buah pantat yang terlihat demikian proporsional dan ‘njentit’ laksana buritan mobil sedan sport yang aduhai.

Tak tahan melihat semua itu, Bre mencoba kembali melangkah maju untuuk menggapai keindahan yang tengah terpampang. Namun tangan kanan Bu Carissa terangkat sebatas dada dan mengisyaratkan kepada Bre untuk berhenti melangkah. Bre kembali tercekat. Dalam benak Bre berusaha merangkai-rangkai jawaban atas tindakan stop yang di instruksikan sang Ibu dosen cantik.

“Kamu Brian…tetap ditempatmu ! Jangan lakukan apapun sebelum aku perintahkan !” Ucap Bu Carissa galak tepat seperti saat bertengkar dengan Bre kala itu. Bre menjadi bergidik takut. Ia takut amarah si jutek datang kembali.

Dengan liukan tubuh yang erotis, Bu Carissa melepas sisa pakaian yang masih melekat pada tubuhnya. Mula-mula ia berlenggok dan berputar sebelum akhirnya ia tanggalkan Bra ungu penutup gundukan indahnya. Tubuhnya kembali bergoyang dan meliuk dibarengi dengan senyuman ‘nakal’ menggoda membuat Bre kelojotan seperti cacing kepanasan di tempatnya berdiri. Bre berusaha melangkah kearah Ibu Carissa dan mengacuhkan tata tertib yang sudah dicanangkan Ibu dosen seksi itu.

“STOPP !!! Melangkah sekali lagi atau kupakai lagi semua pakaianku !!” Bentak Ibu Carissa dengan galak sambil melotot mengerikan. Bre akhirnya dengan sangat terpaksa mundur kembali ke tempat semula.

Beberapa detik dalam keheningan, Bu Carissa melanjutkan kembali liukan aduhainya. Kali ini dengan posisi membelakangi Bre. Goyangan buah pantatnya yang sintal membuat jakun Bre turun naik. Sessat kemudian terlihat sang dosen seksi sedikit nungging kearah Bre dan berusaha melepaskan CD penutup mahkota kewanitaannya. Lagi-lagi Bre dibuat blingsatan. Nun jauh dibawah celana Bre sepertinya telah keluar cairan pelumas Bre akibat tindakan sensual Bu Carissa.

“Hei…kamu…lepas pakaianmu satu persatu dengan mengikuti gaya liukanku yang tadi !” Tunjuk jari Bu Carissa setelah kembali menghadapkan tubuh ke arah Bre. Bre menjadi terkaget setengah mati. Dia menjadi bingung sendiri dengan ulah aneh Ibu Carissa. Jika seseorang pernah merasakan enaknya mendapatkan sesuatu, pasti ia akan memintanya lagi, bahkan dengan memaksa sekalipun.

victoria-irouleguy-hombre-02Mau tak mau Bre akhirnya menuurut saja diperlakukan layaknya cecunguk yang haruus mengikuti perintah majikannya. Namun dalam hati Bre merasa senang.

“Kucing….. dikasih ikan asin…hehehe…” Gumam Bre dalam hati.

Setelah Bre terlihat bugil sempurna, Ibu Carissa melangkah maju. Ia terlihat berjongkok dan mengikuti nalurinya. Dipegangnya batang kontie Bre dan secara perlahan dijilatnya. Bre menjadi terkaget sekaligus menikmati.

“Ohh…terus sayang…ehhmm..diemut dong cantikk !!!” gumam dan lenguh Bre tak tahan dengan semua rangsangan yang datang dari tangan dan lidah Ibu Carissa.

Ibu Carissa menuruti saja permintaan Bre. Namun perlakuannya terhadap batang tegak Bre masih dirasakan kaku oleh Bre. Gigi Bu Carissa yang main selonong boy di kontie membuyarkan konsentrasi kenikmatan di ‘burung’ Bre. Bre hanya bisa meringis menahan sakit di batangnya.

Jangan sebut Bu Carissa sebagai dosen jenius bila tak bisa cepat belajar. Hanya berselang 1-2 menit setelah gigitan mautnya, Bu Carissa sudah mampu memberikan layanan appetizers yang memukau bagi Bre. Kini Bre dibuatnya merem—melek keenakan.

Sekian mmenit berselang, nampaknya Bu Jutek ingin meminta balas budi atas perlakuan baiknya pada kontie Bre. Bre mengetahui itu dari kilatan mata Bu Carissa yang menyiratkan permintaan. Dibopongnya tubuh Bu Carissa dan ia dudukkan di bibir sofa gajah. Dengan gerakan lembut ia buka kedua paha Bu Carissa dan ia belai paha bagian dalam dengan rabaan merangsang. Benar saja, nampak pipi Bu Carissa merona merah menikmati rangsangan di area paha itu. Mungkin disitulah letak titik kejutnya.

Bre berlutut dilantai dan mendekatkan bibir serta hidungnya menggantikan kerja tangan yang sedang asyik membelai dan meraba. Potongan bulu kumis Bre menusuk-nusuk lembut lipatan paha bagian dalam Bu Carissa membuat sang dosen seksi kegelian bukan kepalang. Bibir Bre semakin menjalar keatas menggapai sebuah gundukan yang memiliki hutan halus dan belahan jurang ditengahnya. Hutan itu begitu indah. Rerumbainya tertata rapi dan tidak terlalu ‘gondrong’. Jurangnya juga tidak menganga terlalu terjal dan curam. Warna indah bak daging muda begitu merekah indah menyilapkan mata.

Mendadak Bre menghujamkan lidah semata wayangnya kearah pusat jurang itu. Lelehan lahar hangat sedikit demi sedikit menghampiri lidah Bre seakan ingin bertemu dan bercengkrama bersama.

“Auhh Bree..ee” Bu Carissa melenguh tertahan. Nampak matanya mengerling manja seperti meminta sesuatu yang lebih dari apa yang sudah diberikan Bre.

Bre meladeni kerlingan itu dengan menghujamkan semakin membabi-buta lidahnya ke arah lubang buaya yang ternyata adalah vegie Ibu Carissa. Bu Carissa semakin hanyut dalam desahan dan kenikmatan yang tiada tara. Kepalanya terlempar ke kiri dan ke kanan seakan mengikuti irama permainan lidah Bre di meki nya.

“Tee..teruuss Bre..hh” Bu Carissa tanpa malu-malu melontarkan erangan dan rengekan manja kepada Bre.

Tiba-tiba Bre menghentikan seketika permainan lidahnya. Ibu Carissa nampak kecewa sekali. Namun bukan Bre sang DonJuan jika tak bisa mempermainkan seorang wanita. Dengan senyuman penuh misteri Bre merangkak naik sejajar tubuh sang Bu dosen. Ia arahkan kontie kebanggaannya ke bagian meki Bu Carissa dan disambut dengan tangan Bu Carissa yang sedang membantu memperlebar mekinya dengan menariknya ke samping kanan dan kiri.

Dua hingga tiga hentakan tak kunjung juga mampu membuat kontie Bre masuk. Mungkin karena meki Bu Carissa masih bau perawan dan baru pula dua kali ini merasakan ‘tonjokan’.

Tusukan dirangkai dengan goyangan intensif dengan penuh usaha dan perjuangan akhirnya menghasilkan buah kesuksesan. Perlahan meki Bu Carissa ‘menelan’ kontie Bre dengan lahap. Bu Carissa mendelik namun menikmati semua itu. Ia merasakan sebuah kenikmatan yang pernah dirasakannya beberapa hari yang lalu juga bersama dengan Bre.

Bre mencoba tehnik baru yang dibacanya dari cerita di forum semprot. Cerita itu berjudul -Bayangan Senja, karya:FigurX-. Sesuai petunjuk dalam cerita itu, Bre menggoyang pendek-pendek atau setengah kontie sebanyak tiga kali. Pada tusukan ke empat diakhiri dengan tusukan 1 kontie penuh dan dihujamkan sedalam mungkin. Berulang kali dilakukannya tehnik itu dan semakin lama ritme nya bertambah semakin cepat. Tehnik itu bernama 3:1.

“Uwhh..auuww Bree” Bu Carissa terlonjak dan meronta nikmat merasakan gempuran dan hujaman kontie 3:1 milik Bre.

“Bre..Bree…ahhh” Teriakan Bu Carissa semakin gencar dan penuh dengan gelak kenikmatan yang menggelora.

“Iya Bu…aa..apa Bu…enakk Bu..??” Ucap Bre di sela genjotannya yang telah membikin Bu Carissa ‘kelabakan’.

“Ahh awwh Brr..Bree..aku..aaaa” Bu Carissa berteriak melengking. Gigitan meki pada kontie Bre menyempit dan merapat. Gesekan menjadi semakin sensitif. Bre merasa semakin melambung dibuatnya. Menyusul kemudian seperti sebuah semburan lemah mengucur ke kulit kontie Bre dan melumasi rongga nikmat itu sehingga semakin licin. Bu Carissa mencapai klimaks nya dengan penuh kenikmatan dan erangan penuh penjiwaan.

‘Gigitan’ ketat meki di kontie Bre membuat Bre tak mampu bertahan lebih lama lagi. Denyutan dirasakan Bre seakan memperbesar kepala kontienya. Kedutan semakin merebak dan saat itulah waktu bagi Bre menarik sekujur kontie nya untuk keluar dari lubang yang menggiurkan itu.

Dengan gerakan mengocok yang sangat cepat, Bre ‘memaksa’ kontie nya untuk segera menyemburkan magma kenikmatan ke arah dada Bu Carissa yang saat itu sedang di tindih oleh kedua paha Bre.

“Ahh ahh Buu…saya..ahhh” Bre menyalak dan mendesah diiringi letupan berkali-kali cairan magma dari kepala kontienya. Sesaat kemudian keduanya beradu mata saling memandang dan tersenyum. Kepuasan dalam kebersamaan.

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s