Juwita Hati part 3

making-a-girl-horny-is-super-eas-520x293Bre membaca sms dari Pak Baroto dan langsung mengarahkan langkah kakinya menuju perumahan dosen yang terletak tak jauh dari seputaran kampus dan kampung Sidomukti. Rumah Pak Baroto sudah terlihat jelas beberapa meter dari tempat Bre melangkah.
“Tok!.. Tok!.. Tok..!”

“Selamat malam, Pak..” ucap Bre pelan.

“Brian Kusuma.. Mari, mari silahkan masuk..” jawab Pak baroto dengan suaranya yang berat.

“Ada apa Pak?”

“Begini, Brian. Tadi siang, Ibu Carissa meminta para dosen untuk melakukan sidang, membicarakan perihal tentang dirimu. Ada berita katanya kau telah menghina Ibu Carissa? Saya pengen dengar langsung dari kamu, makanya kamu Bapak undang kemari.”

Bre terkaget-kaget mendengar informasi dari Pak Baroto. Mata nya membelalak melihat raut wajah Sang dekan fakultas.

“Sampai segitunya Pak?” ucap lirih Bre.

“Benar . Ibu Carissa meminta tentang hal ini untuk di masukkan dalam agenda rapat bulanan para dosen. Nampaknya dia sangat tersinggung, dan memberikan opsi, kau yang keluar atau dia sendiri yang mengundurkan diri sebagai dosen di kampus kita.

“Kau paham maksud saya,Brian??” tanya Pak Baroto dengan wajah serius.

“Iyaa, Pak..”

“Sekarang ceritakan lah apa yang sebenarnya terjadi, Brian. Biar semuanya clear tanpa harus melakukan sidang dewan segala. Saya sangat menyukai kamu. Saya ga mau kamu mengalami kesulitan di fakultas kita, karena jasa yang pernah kau perbuat untuk fakultas.”

“Semuanya bermula ketika saya menanyakan kepada Ibu Carissa tentang mata kuliah yang beliau ampu. Saya sudah mengulang keempat kalinya pak, dan keempat kalinya pula saya gagal lulus. Padahal, bukannya sombong, saya sangat yakin dapat mengerjakan ujian dari mata kuliah Ibu Carissa baik lisan, tertulis, ataupun berbagai kuis yang diberikan Ibu Carissa terhadap saya.”

“Kamu bener-bener yakin bisa mengerjakannya??” tanya Pak Baroto memotong ucapan Bre.

“Yakin bisa Pak! Bapak tahu sendiri kan saya itu termasuk mahasiswa yang bagaimana?”

“Ya.. yaa.. yaa.. saya tahu, kamu termasuk salah satu mahasiswa yang cerdas dan brilian.”

1e0ec39c00affa8377aa4020250e6bf4“Ketika saya tanyakan kepada beliau, katanya nilai saya jelek sehingga tidak bisa mengatrol kelulusan saya. Saya sendiri heran Pak, masak mengulang sampai empat kali tapi gagal semuanya. Makanya tadi saya meminta kepada Ibu Carissa untuk menghadirkan para saksi ketika saya maju ujian pada mata kuliahnya. Terus terang saya bingung Pak, kalo ga lulus tahun ini, dana kuliah dari orang tua akan di stop karena saya sudah molor kuliah yaa gara-gara mata kuliah Ibu Carissa itu. Huuh!!” ujar Bre menggebu-gebu.
Brian menghela nafas panjang. Mengandung keprihatinan dan kegelisahan yang mendalam, dalam hatinya. Gelisah Hati..

Pak Baroto mendengarkan ucapan Bre dengan serius sambil mengusap-usap botak dikepalanya.

“Maka dari itu saya meminta adanya saksi dalam ujian saya, Pak.”

“Disitulah rumitnya, Brian. Kalangan dosen biasanya saling tenggang rasa dan tidak mau menyinggung koleganya.”

“Demi menutupi kebenaran? Oh God!! Saya tidak mengira di dunia ilmu, di kampus yang banyak melahirkan menteri, pejabat, dan orang-orang penting ini masih punya pandangan yang bisa merugikan mahasiswanya.

“Ilmu Cuma alat, tapi pelaksananya teteplah manusia.”

“Jadi saya harus bagaimana Pak? Terus apakah riset yang diadakan oleh fakultas ini tetap memilih saya sebagai leadernya meski sedang ada kasus seperti ini??”

“Dekatilah Ibu Carissa secara psikologi. Biarkan Beliau mereda emosi nya dulu, sehingga semuanya akan berjalan lancar kembali dan kamu bisa ujian secara wajar. Mengenai riset, kamu tetaplah menjadi Leader team. Ga ada pengaruhnya dengan peristiwa ini.” Kata Pak Baroto penuh kebapakan.

“Kalo saja mata kuliah Ibu Carissa lulus, saya udah jadi sarjana dari tahun kemarin.. Terima kasih Pak. Saya akan senantiasa melaksanakan petuah Bapak. Saya mohon pamit Pak..” ucap lirih Sang DonJuan.

“Oke Brian. Jangan sampai kehilangan kepercayaan diri.”

“Baik Pak, saya mohon pamit.”

Bre berjalan dengan kepala tertunduk di jalan berdebu. Sementara itu lampu-lampu merkuri sudah menyala terang, tapi tetaplah tak bisa menerangi hati dan jiwa Brian Kusuma Wardhana. Pikirannya kosong. Benaknya melayang menuju lorong tak berujung.

Kerumunan mahasiswa semakin menyemut di pelataran hall kampus gedung B. Panasnya terik matahari tidak menyurutkan minat para mahasiswa yang sedang asyik melihat pertunjukan seni yang tengah berlangsung. Suasana acara pembacaan puisi itu sangat meriah, penuh hiruk pikuk.

Bre terlihat melongokkan kepala untuk mencari tempat yang pas untuk menikmati acara tersebut. Dia juga celingukan mencari sosok Karen, siapa tahu dia juga ikutan nimbrung di acara seni itu.

tumblr_nlo4mdjSGN1qb139no1_1280Para pembaca puisi silih berganti membawakan karya nya. Pelaku teater pun terus beraksi. Sungguh sangat luar biasa penjiwaan yang mereka suguhkan dalam setiap lontaran kata dalam puisi tersebut. Riuh sorak dan tepuk tangan langsung membahana jikalau sang penyair telah selesai membawakan puisi nya.
“Sekarang kita memberikan kesempatan kepada sosok aktivis kampus untuk membacakan puisi secara spontan. Kita panggil, Brian!!!” seru MC dadakan acara seni itu.

Kontan seluruh penonton menolehkan wajahnya kearah Bre dan berteriak koor diiringi tepuk tangan..

“Brian!.. Briann!!.. Brian!!!”.. Brian!!!”

“Kampret!! Kenapa jadi gue yang kena sasaran sih?? Apakah ini acara untuk ngerjain gue? Padahal kan gue ga ulang tahun. Aah rese banget dah MC nya!!” rutuk Bre, dengan langkah kaki maju kedepan.

Dengan berbagai pengalamannya, Bre tetep terlihat tenang dan tetep cool, meski dia didapuk membawakan puisi secara spontan.

“Oke temen-temen semuanya, terima kasih telah menunjuk saya untuk mengisi acara ini. Meski saya mungkin terlihat tolol dihadapan kalian..”

“Hahahaa..”

“Huuuuuu!!”

“Suit.. suit!!”

“Ayo Bre!! Kamu bisa!!”

“Assololee, Bree!!”

Dan berbagai kata penyemangat untuk Bre.

Bre terdiam sejenak memikirkan puisi apa yang akan dibawakanya. Dia teringat pernah membaca sebuah puisi cinta yang ditulis oleh seorang fisikawan yang ditujukan kepada sang kekasih.

“Hmm.. Itu aja yang mau gue bawain.” Batin Bre.

“Oke, Saya akan membawakan sebuah puisi cinta dari seorang Fisikawan untuk sang kekasih..”

“PLOKK!.. PLOOK!!.. PLOOKKK!!!”

Tepuk tangan langsung membahana menyambut aksi Bre..

“Semenjak bertemu denganmu, energi statik benih cintamu telah mengejutkan gaya pegas jantungku, sehingga jantungku berdetak tak beraturan bagaikan gelombang bunyi gendang yang tak beraturan saat aku berada beberapa meter darimu. Refleksi cahaya cintamu telah membunuh urat mataku sehinga membiaskan bayangan wajahmu yang selalu di otakku.

Pancaran Radiasi Pesonamu membuat otakku tidak bisa berpikir rasional, sehingga elektromagnet dalam hatiku terpengaruh gelombang magnet cintamu. Sejak Saat itu, atom-atom penyusun cinta ini kian mengumpul karena gaya listrik statik dan energi Potensial di hatiku.

Saat jauh darimu, partikel-partikel cintaku tidak bisa diam sehinga melakukan tumbukan-tumbukan lenting sempurna dan menghasilkan energi rindu dengan rumus E = MC2, yang mana M adalah Masa waktu dimana semakin lama semakin jauh darimu maka energi rinduku semakin bertambah besar. Sedangkan C adalah Cintaku padamu yang berbanding lurus dengan Energi rinduku.

Usaha untuk memberikan gaya lorenzt-ku padamu telah kuberikan dengan FL = i B Sin ØØ. Mudah-mudahan dengan penurunan rumus cintaku padamu dapat memahami pemuaian cintaku padamu dan peningkatan massa jenis cintaku agar tekanan cinta dalam hatiku bisa setimbang setelah bereaksi dengan cahaya cintamu. Dimana bila FL adalah gaya cintaku padamu akan berbanding lurus dengan i (arus listrik cintaku) dan B adalah besarnya medan magnet dalam hatiku dan arah sudut refleksi cinta dengan Sin.”

I intensitas

L listrik
O optik
V kecepatan
E energi

U usaha

“Saya Bre, sekian dan terima kasih..”

“PLOKK!!.. PLOOK!!.. PLOOKK!!!”

“Waah keren, Bre!!”

“Bisa aja lu!!!”

Tepuk tangan membahana pun terdengar meriah di akhir aksi maut Sang Flamboyan.

“Mas Bre!! Teriak seorang cewek cantik.

Bre menolehkan wajahnya dan tersenyum, ketika melihat Keysha melambaikan tangannya. Bre berjalan mendekat kearah gadis yang membutakan hatinya itu. Bre
juga melihat Karebet bersama Santi didekat Keysha.

“Wah mas Bre hebat banget. Keysha suka dengan gaya, mimik wajah, dan intonasi suara mas Bre ketika membawakan puisi tadi. Cool banget juga kereeenn!!!” sanjung Keysha senang tanpa tedeng aling-aling seraya memegangi lengan Bre dan menggoyang-goyangkannya.

“Hehehe.. Padahal biasa aja kok Key..” sahut Bre sambil mengedipkan mata kearah Karebet.

B-HuLg7CYAAf8CwKarebet pun memelototkan matanya mengetahui Bre telah berhasil menundukkan Keysha dengan pesona yang dimiliki aktivis kampus itu.
“Hi Bet, Santi. Ternyata suka acara kaya gini juga ya? Eeh by the way, ada film bagus neeh di Twenty one. Bruce Willis.”

“Hi juga Bre.. Wah asyik tuh film nya..” sahut Karebet dan Santi.

“Iyaa, pasti keren aksi Bruce Willis. Yuuk nonton yuuk, mas Bre mau khan nemenin Key??” ujar Keysha merajuk manja kepada Bre.

Bre pun dengan senang hati menyetujui ajakan Keysha.

“Hebat lu Bre. Hebat..” bisik Karebet di telinga Bre.

“Rapalan apa yang lu gunakan sih? Sampe Keysha kebat-kebit gitu sama lu??” tanya Karebet penasaran.

“Biasalah Bet, rapalan dari Kitab Sakti Delapan Sabda Dewa..” jawab Bre singkat

“HAHAHAHAA!!!”

Mereka tertawa kompak.

Bre pun tersenyum dengan penuh kepuasan setelah mampu merobohkan benteng hati dan jiwa Keysha.

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s