Cinta Terlarang Aku Dengan Mama Tiriku (part 2)

sexy-cleavage-gallery-7-e1304925399796Karena merasa tak dihiraukan Mama Selen, aku beranjak dari ranjang dan kukenakan bajuku. Saat itulah aku baru ingat kalau komputerku masih menyala. Artinya, yang kulakukan dengan Mama Selen terekam disitu. Kuputar ulang rekaman itu, kupandangi tak berkedip adegan ranjangku dengan Mama Selen yang berdurasi sekitar 23 menit terhitung sejak aku mulai mengusilinya. Kusimpan file rekaman itu dalam folder yang kusembunyikan dengan file yang lain.

Aku merebahkan tubuhku dan mencoba terpejam, tapi aku tak bisa tidur. Pikiranku berkecamuk, antara bangga bisa membuat Mama Selen orgasme dengan rasa bersalah. Mungkin Mama Selen juga merasa bersalah telah melakukan persetubuhan denganku dan ia menyesalinya. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana saat bertemu Mama Selen esok paginya, yang jelas pasti akan canggung.

Entah kenapa, tiba-tiba muncul rasa kesal pada Mama Selen ketika aku bangun tidur pagi harinya. Jika memang tak ingin itu terjadi, seharusnya ia tak mengajakku masuk ke kamarnya. Bagaimana pun juga, aku laki=laki dewasa dan Mama Selen adalah orang lain yang kebetulan dijadikan istri kedua oleh Papa. Mungkin saja ia malu telah kutiduri, dan menutupi rasa malunya dengan menangis. Kekesalanku kemudian malah melunturkan rasa bersalahku. Aku bertekad untuk membuang jauh-jauh kecanggungan pada Mama Selen. Justru sebaliknya, akan kutunjukkan pada Mama selen kalau aku benar-benar menyukainya. Kekesalanku pada Mama Selen membuat semangatku menyala lagi.

Bergegas aku bangkit dari tempat tidur. Saat sayup-sayup kudengar gemercik air dari kamar mandi, kuraih handukku. Dengan langkah ringan kumasuki kamar Mama Selen yang terbuka lebar. Kuketuk pintu kamar mandi dari dalam kamar tidurnya.

“Ma, ikutan mandi dong”, ujarku begitu Mama Selen membuka pintu sedikit dan menampakkan wajahnya. Sebuah handuk ia tutupkan di tubuhnya yang basah. Mama Selen tampak kaget mendengar permintaanku yang tiba-tiba itu.

“Boleh ya, Ma? Aku pengen sekali-sekali dimandiin Mama”, rayuku dengan wajah memelas. Mama Selen menatapku dalam-dalam, ia seperti sedang berpikir. Mungkin sedang menimbang-nimbang, apakah memperbolehkan atau tidak. Aku mematung tepat di depan pintu kamar mandi menunggu jawabannya.

tumblr_nj9h2uCYNn1qdo22go1_1280

Hatiku girang bukan kepalang ketika Mama Selen mundur sambil membuka pintu kamar mandi. Tanpa sungkan aku nyelonong masuk, menggantung handuk di hanger, lalu melepas baju dan celanaku. Tak kuhiraukan Mama Selen yang mematung di depan pintu kamar mandi. Kuguyur tubuhku dengan air yang mengucur dari shower. Tanpa beban, kutoleh Mama Selen dan kuajak untuk bergabung di bawah pancuran air, tapi Mama Selen bergeming. Kuhampiri ia, kuambil handuk yang ia pegangi untuk menutup sebagian tubuhnya dan kugantung di hanger, lalu kugamit tangannya dan menggandengnya menuju shower.

Saat itu sebetulnya aku sudah terangsang. Aku yakin Mama Selen tahu aku terangsang karena jelas-jelas “senjataku” mulai membesar, tapi belum berdiri. Aku berharap ia pun terangsang melihat “milikku”, tapi aku menahan diri agar Mama Selen merasa nyaman dulu. Aku tak ingin terlihat grusa-grusu. Aku menjauh dari shower untuk menggosok gigiku, sementara Mama Selen mulai membasuh tubuhnya dengan sabun cair. Usai menggosok gigi, aku kembali ke bawah shower, meminta sabun dari Mama Selen dan menyabuni diriku sendiri. Setelah itu aku berpindah ke belakang Mama Selen untuk menyabuni punggung sampai ke kakinya. Sejauh itu Mama Selen masih diam membisu. Tapi aku tak peduli, aku terus saja menyabuni paha dana betis belakangnya sebelum kemudian beralih ke betis dan paha depan. “Miliknya” yang tepat berada di depan hidungku membuatku tergoda untuk memagutnya. Aku bertahan untuk tidak melakukannya.

“Gantian, Ma”, ujarku sambil berdiri dan memunggunginya. Mama Selen menuruti permintaanku. Sambil berlutut, ia sabuni punggung hingga betisku, persis seperti yang kulakukan padanya. Kuputar tubuhku hingga Mama Selen bisa beralih menyabuni betis dan paha depanku. Tak hanya itu, tanpa kuminta Mama Selen menyabuni juga “senjataku”. Mau tak mau “senjataku” pelan tapi pasti makin mengeras dan berdiri. Agaknya Mama Selen juga menahan diri. Buktinya, setelah itu ia bangkit dan menghidupkan lagi showernya. Berdua kami menguyur tubuh dari busa sabun. Semerbak wanginya membuatku makin bergairah.

Sesaat kemudian Mama Selen berjalan menuju hanger dan mulai membersihkan tubuhnya dengan handuk, sementara aku masih mengguyur tubuhku dengan air shower. Saat Mama Selen mulai memakai baju, aku menyusulnya dan menghanduki tubuhku. Saat itulah kupeluk Mama Selen dari belakang. Ia tampak kaget dan berusaha menyingkir dariku. Kupererat pelukanku sambil mencumbui rambutnya yang basah, sementara satu tanganku bergerilya di dadanya dan satu lagi di pahanya. Tak lama kemudian kuputar tubuh Mama Selen agar menghadap ke arahku. Mama Selen memandangku dengan tatapan yang tak kumengerti maknanya. Tapi aku sudah kepalang nekad, dengan lembut kucium bibirnya. Mama Selen diam saja tak membalas ciumanku. Masa bodo, pikirku. Kuhujani bibirnya dengan ciuman lembut, kemudian turun ke lehernya, “senjataku” menempel ketat di perutnya. Sedikit demi sedikit kudorong Mama Selen sampai ke dinding dekat pintu kamar mandi. Dengan begitu aku lebih mudah mencumbui Mama Selen tanpa khawatir ia terdorong lalu jatuh. Dari leher, cumbuanku beralih ke kedua bukitnya.

“Sudah, Van…sudah…”, desisnya lirih disertai dorongan di bahuku. Aku tak menggubrisnya, kumainkan lidahku di kedua putingnya bergantian melalui belahan dasternya. Setelah puas “menyusu”, pelan-pelan ciumanku beralih turun ke perutnya dan berakhir di “miliknya” yang tertutup celana dalam. Satu tanganku menyibak dasternya. Mama Selen merapatkan kedua pahanya, tapi aku pantang menyeraj. Kujulur-julurkan lidahku di sela-sela pahanya.

“Sudah, Van..jangan lagi..”, sekali lagi Mama Selen mencoba mendorongku ke belakang. Tanganku menggenggam kuat-kuat pinggulnya sambil terus memainkan lidahku. Saat dorongannya melemah, kulepas celana dalam Mama Selen.

“Jangan, Van”, cetusnya sambil menahan celana dalamnya yang sudah melorot sampai ke paha. Aku tak memaksa, kulanjutkan jilatanku di “miliknya” yang sudah tak tertutup celana dalam. Pelan-pelan kuisyaratkan pada Mama Selen untuk membuka kedua kakinya. Semula ia bergeming, tapi sedikit demi sedikit mulai merenggang. Kesempatan itu tak kusia-siakan, gempuran lidahku di “miliknya” makin gencar hingga membuatnya tak bisa menahan desah. Genggaman di celana dalamnya pun melemah yang membuatku dengan mudah melepas celana dalamnya sampai ke kakinya.

Mama Selen berhasil kubuat terangsang. Kedua kakinya makin terbuka lebar. Tangannya mencengkram kepalaku, tapi tidak bermaksud mendorongku. Justru seolah memintaku untuk tak menghentikan jilatanku. Desahannya terdengar begitu merdu di telingaku. Desah perempuan yang terbakar birahi. Pinggulnya bergoyang seirama dengan permainan lidahku. Tak lama kemudian, kedua kakinya menegang dan agak gemetar, ia orgasme.

Tak perlu menunggu lama untuk babak berikutnya. Mama Selen ganti jongkok di depanku, sementara aku bersandar di dinding. Saat ia menghisap “milikku”, kubuka dasternya. Kami telanjang lagi, kunikmati setiap hisapannya seakan itu adalah yang terakhir.

Selesai melakukan oral, Mama Selen berdiri dan langsung menciumku. Kuputar tubuhnya ke arah dinding. Sambil berciuman, kuangkat satu kakinya dan kubungkukkan sedikit tubuhku agar aku bisa menghunjamkan “milikku” ke “milik” Mama Selen. Ia memekik lirih, disusul dengan desahan panjang saat “senjataku” mentok di dalam “miliknya”. Kubalikkan lagi tubuh Mama Selen menghadap ke arahku dan kuminta Mama selen untuk berpegang erat di bahuku. Dengan begitu ia bisa bergelayut di tubuhku dan aku bergoyang maju-mundur.

lovers-hands-romantic-bed-hold-love-affection-deep

Setelah beberapa genjotan, aku keluar dari kamar mandi dengan Mama Selen masih menggelayut. Gerakan saat berjalan menuju ranjang ternyata tak kalah nikmat, karena sama juga dengan bergoyang. Sampai di ranjang kurebahkan Mama Selen dan kami lanjutkan pertarungan babak kedua sampai tuntas.

Tak seperti kemarin, Mama Selen terlihat lebih rileks usai percintaan itu. Ia rebahkan tubuhnya di atas tubuhku yang masih terengah-engah, sehingga sperma yang kutumpahkan di perutnya menempel di perutku juga. Tapi ia sama sekali tak terlihat risih, bahkan ia pun tak pelit bicara.

“Van, sebetulnya apa sih maksudmu?”, tanyanya membuka percakapan. Aku bisa menebak arah pembicaraannya.

“Terus terang aku jatuh cinta sama Mama waktu pertama kita bertemu”, jawabku.

Mama Selen yang semula merebahkan kepalanya di dadaku berpaling menatapku.

“Tapi itu kan nggak mungkin, Van. Bagaimana pun juga aku Mama kamu”, tukas Mama Selen.

“Memang nggak mungkin sih. Tapi orang kalau sudah terlanjur cinta gimana hayo?”, cetusku. Aku senang dengan percakapan ini, karena merupakan kesempatanku untuk mencurahkan perasaanku pada Mama Selen.

“Aku suka cemburu kalo liat Mama mesra sama Papa”, lanjutku. Mama Selen mencubit mesra lenganku.

“Mama pikir kamu cuma nafsu aja”, kata Mama Selen dengan tatapan mata penuh selidik.

“Nafsu itu kan timbulnya dari cinta, Ma. Mana mungkin nafsu kalau nggak ada cinta”, kilahku.

“Kalo cowok sih bisa aja Van”, sergah Mama Selen.

“Yang namanya cowok tuh seperti kucing. Asal liat ikan asin langsung deh diembat”, lanjutnya.

“Ya, tapi kan nggak semua cowok”, aku tak mau kalah.

“Iya deh, Mama ngalah”, ujar Mama Selen.

“Jadi boleh ya Ma, aku cinta sama Mama?”.

“Kok balik nanya? Tadi katanya terlanjur cinta, gimana sih?”, tutur Mama Selen dengan nada manja. (Aku nyengir)

“Terima kaih ya, Ma. Daripada aku onani terus hayo..”, selorohku. Lagi-lagi Mama Selen mencubitku.

“Oh iya, tadi Papa telepon. Katanya minta dijemput jam 11”, kata Mama. Spontan wajahku kecut, Mama Selen melihat perubahan raut wajahku.

“Kok gitu? Bukannya seneng kamu ketemu Papa?!”, ujarnya menanggapi responku. Aku tak menjawab. Kuusap lembut rambut Mama Selen sambil melihat jam dinding, jam 8 pagi.

“Lagi yuk, Ma”, ajakku spontan. Mama Selen menengadahkan wajahnya dan menatapku dengan tatapan heran.

“Memangnya masih bisa apa?”

“Coba aja”, tantangku. Kubimbing tangan Mama Selen ke kemaluanku. Ia tanggap maksudku. Ia remas dan kocok “milikku”, sementara ia geser maju tubuhnya hingga kami bisa saling berciuman. Dalam waktu singkat “senjataku” siap tempur lagi. Apalagi ketika Mama Selen mengulumnya beberapa saat. Sekali lagi kami tenggelam dalam lautan birahi yang memabukkan.

Tepat jam 11 aku dan Mama Selen sudah berada di bandara. Sekitar 15 menit kemudian kulihat Papa di antara para penumpang keluar dari gate kedatangan. Memang tampak kalau Mama Selen berusaha menjaga perasaanku. Tapi tak urung aku melengos buang muka saat Papa mengecup bibir Mama Selen begitu mereka bertemu. Aku tak bisa menyalahkannya, bagaimanapun ia istri sah Papa. Aku tak berhak cemburu walaupun tubuhku dan tubuh Mama Selen sudah menyatu dalam panasnya bara birahi. Ibarat kata, meski sudah kunikmati tubuh Mama Selen, tapi bukan berarti aku memilikinya. Aku sadar betul akan hal itu.

Sekeluar dari bandara kami singgah di restoran untuk makan siang. Usai makan, aku minta langsung diantar ke kos, tapi Papa keberatan. Katanya ia capek sekali, kalau harus mengantarku akan butuh waktu lama karena jauh. Ia berjanji malam harinya akan mengantarku.

Setiba di rumah Papa, aku langsung tiduran di kamar. Tapi aku tak bisa tidur karena pikiranku melayang membayangkan apa uang dilakukan Papa dan Mama Selen di dalam kamar mereka. Isengku pun kambuh, kunyalakan komputer. Aku ingin memastikan dugaanku, ternyata benar. Di layar komputer aku melihat Papa dana Mama Selen berciuman sambil melepas baju masing-masing. Artinya mereka baru mulai. Dengan jantung berdebar kusaksikan adegan percintaan mereka. Diam-diam aku terangsang melihat mereka bercumbu di ranjang dalam keadaan telanjang bulat. Hanya saja tak berlangsung lama. Dari timer yang tertera di layar monitor, tak sampai 5 menit Papa sudah terkapar di sisi Mama Selen. Saat Papa terbaring kelelahan, Mama Selen beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah itu Mama Selen mengenakan daster dan berbaring di sebelah Papa.

Aku pun kemudian mematikan lagi komputerku dan kembali rebahan di ranjang. Otakku terus berpikir, mungkin Mama Selen melakukan masturbasi karena merasa tak puas dengan Papa. Mungkin hal itu pula lah yang membuatnya tak menolak saat aku mulai mencumbuinya. Ada sepercik rasa bahagia telah memberi Mama Selen kepuasan batiniah.

Entah berapa lama aku melamun, hingga tak menyadari kalau Mama Selen membuka pintu kamarku. Ditangannya ada sesuatu.

“Ngelamun aja, Van. Mama kirain sudah tidur kamu”, ujar Mama Selen sambil menutup pintu kamar lalu melangkah menuju ranjangku.

Aku menoleh ke arahnya seraya bertanya, “Apa itu, Ma?”

Mama Selen tersenyum penuh arti, “Ini oleh-oleh dari Papa buat kamu”. Ia sodorkan benda yang ternyata HP model terbaru saat itu.

Seketika aku bangkit dari berbaringku dan duduk di sebelah Mama Selen, kubuka kardus pembungkus HP dan kuamati isinya.

“Gimana, Van? Suka nggak?”, tanya Mama Selen.

“Suka, Papa mana Ma? Aku mau bilang terima kasih..”, aku pura-pura tak tahu.

“Lagi tidur, sayang. Entar sore aja ngomongnya ya”, kata Mama Selen sambil mencolek hidungku yang kembang kempis karena dipanggil “sayang”. Wajahnya begitu dekat denganku, hingga aku terdorong untuk memagut bibirnya. Mama Selen menyambut pagutanku dan kami berciuman sebentar dan kemudian Mama Selen berdiri.

“Udah ya, Mama balik ke kamar”, katanya. Dengan berat hati kubiarkan Mama Selen berlalu dari kamarku. Ingin rasanya kucegah ia lalu mengajaknya bercinta lagi saat kupandangi tubuh mungilnya yang terbalut daster tipis dan sexy berjalan menuju pintu, tapi tak kulakukan. Tak etis rasanya menidurinya di saat Papa ada di rumah. Toh masih banyak waktu dan kesempatan di kemudian hari. Aku pun kembali tenggelam dalam kesunyian.

Obsesiku pada Mama Selen berpengaruh pada hubunganku dengan Hani. Aku jadi mengabaikannya. Malam minggu pun aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah Papa daripada mengapelinya. Tak heran jika kemudian kami putus. Sebaliknya, hubungan gelapku dengan Mama Selen makin menggelora. Setiap ada kesempatan dan Mama Selen tidak sedang menstruasi, kami memadu kasih dalam balutan penuh birahi kenikmatan. Karena aku ingin “dikeluarkan di dalam”, kubeli kondom. Rasanya memang berbeda, aku tak perlu terburu-buru mancabutnya saat akan “keluar”.

Dalam sebuah kesempatan, Mama Selen menceritakan padaku ihwal hubungannya dengan Papa yang notabene usianya dua kali usia Mama Selen. Mama Selen adalah anak sulung dari sahabat Papa waktu kuliah, sebut saja namanya Pak Dicky. Pak Dicky yang tahu kalau usaha Papa sukses minta tolong pada Papa untuk mencarikan kerja buat Mama Selen yang baru lulus SMA. Sayangnya waktu itu tidak ada lowongan di perusahaan Papa. Tapi Papa membantu Pak Dicky, Papa tetap menerima Mama Selen dan menjadikannya sebagai asisten pribadi.

Kisah klasik antara Papa dan Mama Selen pun terjadi. Papa jatuh cinta pada Mama Selen dan bilang kalau ingin menikahinya. Karena merasa berhutang budi, Mama Selen menerima pinangan Papa yang akhirnya menimbulkan kehebohan di keluarga besarku. Mama Selen tahu kalau istri Papa yang tak lain adalah Mama kandungku tak setuju. Sebetulnya Mama Selen sempat merasa ragu, antara melanjutkan pernikahan atau membatalkannya, karena selalu diliputi rasa bersalah pada Mama. Tapi Papa bersikeras ingin menikahinya dan berjanji akan berlaku adil pada kedua istrinya.

Terkait dengan hubungan gelap kami, Mama Selen bilang kalau ia kerap dihantui rasa bersalah pada Papa. Tapi, sambil terisak ia mengatakan kalau ia juga jatuh cinta padaku ketika pertama kali bertemu di rumah sakit. Postur tubuhku yang tinggi besar membuatnya mengira kalau aku adalah anak sulung Papa. Tapi meski kemudian ia tahu aku anak bungsu dan usiaku lebih muda darinya. Ia tak bisa mengusir perasaan cinta itu, walaupun ia menyadari kalau itu salah.

Setelah hubungan intim malam itu sebenarnya Mama Selen bertekad tak ingin mengulanginya lagi. Tapi, seperti pengakuan Mama Selen. Ia tak mampu menghalau hasratnya setiap kali berdekatan denganku. cintanya padaku lah yang membuatnya pasrah padaku.

Aku termenung lama memikirkan curhat Mama Selen. Tapi seperti halnya dia, aku pun sudah terlanjur jatuh cinta padanya dan tak ingin hubungan kami berakhir begitu saja.

Suatu sore, setahun sejak hubunganku dengan Mama Selen. Papa meneleponku saat aku dalam perjalanan pulang kuliah. Katanya, Mama Selen hamil. Ada nada gembira dari ucapannya, aku sempat kaget. Tapi aku yakin itu bukan benihku, karena aku pakai kondom. Kalaupun tidak, selalu kukeluarkan di luar. Hanya saja, yang membuatku was-was, jangan-jangan Mama Selen tak bisa lagi kuajak bercinta karena sedang hamil.

Kekhawatiranku memang tak terbukti. Mama Selen masih mau memberiku “jatah”, tapi aku diminta untuk tidak terlalu “heboh” menggoyangnya, karena takut akan berdampak buruk pada janinnya. Aku bisa memaklumi itu. Kami masih aktif melakukannya di malam minggu, saat Papa tak di rumah tentunya, sampai kandungan Mama Selen berusia 6 bulan.

Bulan ketujuh kehamilan Mama Selen, Papa memintanya untuk tinggal di rumah orang tua Mama Selen di Bogor. Penyebabnya karena Papa makin sering melakukan perjalanan ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Ia khawatir pada kondisi Mama Selen.

Aku merasa sangat kehilangan ketika Mama Selen akhirnya ke rumah orang tuanya. Walaupun hanya sementara sampai bayinya lahir, rasa kehilanganku tak dapat kupendam. Memang Mama Selen masih sering meneleponku, menanyakan kabarku. Tapi aku tak sanggup jauh darinya. Di sisi lain, aku tak punya keberanian untuk sendirian mendatanginya ke Bogor, karena takut akan menimbulkan kecurigaan orang tua Mama Selen.

Ketika anak Mama Selen lahir, Papa yang sudah ada di Bogor seminggu sebelumnya, menyuruhku datang ke Bogor untuk menengok adik baruku. Setiba di rumah sakit, Mama Selen terlihat lebih gemuk dari sebelumnya. Ia tampak ceria dengan bayi mungil dalam gendongannya, Papa pun terlihat sangat bahagia.

Aku makin tak berharap bisa mengulang kebersamaan bersama Mama Selen ketika Papa memutuskan untuk pindah ke Bogor. Rumah yang biasa ditempatinya dikontrakkan. Papa berpesan padaku untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliahku, karena ia ingin aku meneruskan kepemimpinan di perusahaannya. Aku tak terlalu memikirkan hal itu. Yang kupikirkan hanya Mama Selen. Sudah jelas bahwa hubungan kami harus berakhir karena tak ada lagi kesempatan.

Tak dapat kupungkiri, kalau aku masih menyimpan hasrat pada Mama Selen. Karena setiap kali mengunjunginya di Bogor, gairahku muncul. Begitu kuatnya hasrat itu hingga ketika ada kesempatan berdua saja dengan Mama Selen, terucap kata kalau aku ingin melakukannya lagi. Ada sepercik harapan saat Mama Selen menjawab “Gimana caranya? keadaan kan nggak memungkinkan”, berarti Mama Selen pun masih membuka pintu kesempatan untukku. Hanya saja memang tak mungkin melakukannya, karena ada orang tua dan adik Mama Selen. Saat itu Papa sedang mengunjungi Mama di Surabaya. Aku cuma bisa menunduk lesu. Tapi aku tak putus asa, kucoba sebuah cara walaupun aku tak yakin ia bersedia.

“Mama mau nggak ketempatku?”, pintaku. Maksudku adalah hotel tempat aku menginap, Mama Selen tak segera menjawab. Ia cuma tersenyum sambil menimang-nimang bayi perempuannya yang tak lain adalah adik tiriku.

Di hotel, sepulang dari rumah Mama Selen. Kuhabiskan waktu dengan melamun dan berharap Mama Selen datang. Tapi hingga aku ketiduran siang itu, harapan tinggal harapan. Yang kutunggu hadirnya tak kunjung datang sampai aku bangun lagi sore harinya.

Wajahku berubah ceria campur berdebar-debar ketika suara pintu kamarku diketok. Waktu itu aku habis mandi bersiap turun ke restoran hotel untuk makan malam. Aku nyaris meloncat kegirangan saat kulihat Mama Selen di depan pintu. Spontan kuminta ia masuk ke kamar, Mama Selen bilang ia mau belanja susu untuk bayinya dan minta aku menemaninya. Tentu saja aku bersedia, tapi tak serta merta kami berangkat. Kami bercumbu lebih dulu, menyalurkan birahi yang lama terpendam. Tampaknya Mama Selen pun menyimpan hasrat yang sama. Permainannya lebih hot dari sebelumnya, seolah tak ingin setiap detik terlewati sia-sia.

Dari pengalaman itu, hidupku kembali bergairah. Aku yakin telah menemukan cara lain untuk tetap berhubungan dengan Mama Selen. Tapi ternyata dugaanku salah, tak ada kesempatam yang sama terjadi dua kali. Beberapa kali setelah itu aku rajin mengunjungi Mama Selen di Bogor, tapi harapanku untuk bisa menikmati kebersamaan di kamar hotel tak pernah kesampaian. Bukannya Mama Selen menolak, tapi keadaan yang tak memungkinkan. Aku harus menelan kekecewaan demi kekecewaan. Aku kembali terpuruk dalam kesendirian. Celakanya, hal itu mengganggu prestasi belajarku. Beberapa nilai mata kuliahku jeblok. Mama dan kakak-kakakku menegurku atas kemerosotan kuliahku.

Dalam kegamangan, aku belajar untuk menerima kenyataan. Sulit memang, tapi dengan niat yang kuat, akhirnya aku bisa menemukan sebuah jawaban. Ya, aku menyadari hikmah dari semua ini. Sejak awal memang sudah kusadari kalau aku tak akan punya peluang untuk memiliki Mama Selen seutuhnya. Mata hatiku dibutakan oleh bayang-bayang kehangatan tubuh Mama Selen. Cinta dan birahi yang berbaur jadi satu bagaikan anggur kenikmatan yang begitu sulit kutepis, hingga pada akhirnya aku tahu kalau itu semua hanya fatamorgana.

Dengan susah payah, aku pun berhasil menyelesaikan studiku, meskipun lebih lambat 1 tahun. Dan sesuai janjiku pada Papa, aku bekerja di perusahaannya mulai dari bawah, dengan perlakuan yang sama seperti pegawai lain. Ini Papa maksudkan agar aku memahami hal-hal mendasar sebelum tiba saatnya bagiku memegang kendali perusahaan.

“Masa lalu kita biarlah berlalu”, kata Mama Selen waktu itu.

“Tak boleh lagi ada cinta diantara kita berdua. Sulit, tapi memang itulah seharusnya, oke?”

Aku mengangguk setuju, walaupun dalam hati merasa berat juga. Kenangan kebersamaan kami menggapai puncak kenikmatan, desahnya, gelinjang tubuh mungilnya masi saja terbayang di benakku. Aku tak tahu apakah Mama Selen masih ingat itu atau sudah melupakannya. Seiring dengan kesibukannya merawat anak yang saat ini sudah 2 orang. Yang jelas, aku tidak. Sampai saat ini pun terus terang aku masih merindukan Mama Selen dalam pelukanku, apalagi saat bertemu dengannya. Tatapan matanya yang teduh sulit membuatku melupakannya. ( SELESAI )

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s