Cinta Terlarang Aku Dengan Mama Tiriku

bercinta-pagi-hariKetegangan meliputi seluruh keluarga besar Papa saat ia memutuskan untuk menikah lagi. Mama dan ketiga orang kakakku menentang keputusan Papa. Masalahnya, perempuan yang mau dinikahi Papa, sebut saja namanya Selen, seusia dengan kakak perempuanku yang kuliah semester 2. Aku yang waktu itu baru lulus SMP belum begitu paham dengan urusan orang tua. Apalagi aku jarang bertemu Papa karena ia kerja di kota lain. Tapi Papa tetap pada keputusannya, ia menikah lagi tanpa dihadiri oleh anak-anaknya. Ia dan istri barunya tinggal di kota Jakarta dimana ia selama ini bekerja, sedangkan kami anak-anaknya tinggal bersama Mama. Meski tinggal berjauhan, Papa tetap rajin mengunjungi kami seperti biasanya. Hanya saja ia tak pernah mengajak istrinya karena mungkin khawatir akan menimbulkan konflik. Begitu juga soal biaya hidup, Papa tidak pernah terlambat mentransfer ke rekening Mama.

Waktu lulus SMA, karena tidak diterima di perguruan tinggi negeri, Papa menawariku untuk kuliah di Jakarta karena ia punya kenalan rektor di salah satu perguruan tinggi swasta disana. Semula aku ragu, apalagi Mama dan ketiga kakakku tak setuju, mereka tidak ingin aku berjauhan dengan Mama. Tapi ketika kemudian ada kabar kalau Papa masuk rumah sakit, aku akhirnya menerima tawaran Papa. Aku dan kakak perempuanku, sebut saja namanya Kak Lisa, berangkat ke Jakarta untuk menengok Papa. Aku terenyuh saat melihat Papa terbujur lemah di tempat tidur. Saat itulah untuk pertama kalinya aku bertemu Selen. Kak Lisa tidak saling bertegur sapa dengan Selen. Kelihatan sekali kalau ia sangat tidak suka pada istri baru Papa itu. Aku pun sebetulnya juga menyimpan rasa marah karena Selen telah merebut Papa dari Mama, tapi karena merasa jengah dengan suasana yang begitu kaku, sedikit-sedikit aku mau juga diajak bicara oleh Selen.

Karena kasihan pada Papa itulah aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Kak Lisa marah saat kukatakan itu padanya, tapi aku bersikukuh pada pendirianku. Menurutku, paling tidak ada satu anak Papa yang menemaninya di Jakarta, karena tak ada satupun kerabat di kota Metropolitan itu. Akhirnya Kak Lisa pulang sendirian, sedangkan aku menjaga Papa di rumah sakit sampai Papa diperbolehkan pulang. Setelah beberapa hari tinggal di rumah Papa, aku pulang untuk mengambil dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran di perguruan tinggi.

Sesampainya di rumah, aku diomeli oleh kakak-kakakku dan sementara Mama hanya bisa menangis. Tapi aku kukuh pada pendirianku, lagipula Selen tak seburuk yang mereka kira.
Kakak-kakakku menganggap kalau Lisa mau dinikahi Papa hanya karena Papa kaya. Tapi selama beberapa hari bersamanya aku punya penilaian sendiri. Justu Selen orang yang bersahaja dan ramah, tidak galak seperti ibu tiri dalam film. Bagiku, Mama Selen adalah sosok yang menyenangkan dan juga cantik. Seharusnya kakak-kakakku bersyukur ada Selen yang merawat Papa di kota Jakarta. Mungkin juga Mama salah, kenapa dulu menolak pindah ke kota Jakarta. Kakak-kakakku pun akhirnya menyerahkan keputusan padaku, hanya saja mereka berpesan agar aku kos saja di dekat kampus. Kalau itu aku setuju karena rumah Papa dengan perguruan tinggi yang aka kumasuki sangat jauh.

Di Jakarta untuk sementara aku tinggal di rumah Papa sampai urusan administrasi pendaftaranku selesai. Selen lah yang mengantarku ke kampus, mulai dari awal sampai tes penerimaan, karena Papa sibuk dengan pekerjaannya. Dan jika ada waktu senggang, ia mengajakku ke tempat-tempat wisata yang ada di Jakarta dan makan siang bersama. Begitu juga ketika aku dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru, Selen yang menenmani mencari tempat kos.

Namun hal yang tak terduga terjadi padaku, kebersamaan selama beberapa hari dengan Selen menumbuhkan perubahan pada diriku. Selain aku mulai terbiasa memanggilnya Mama Selen, muncul rasa aneh dalam diriku. Aku berusaha sekuat tenaga menepis perasaanku itu, karena merasa tak sepantasnya perasaan itu ada, tapi tak pernah bisa. Entah kenapa ada semacam rasa suka saat berduaan dengan ibu tiriku itu. Aku takut mengakui kalau aku jatuh cinta padanya, tapi memang itulah yang terjadi. Aku merasa kesepian saat mulai tinggal di tempat kos, apalagi saat menjelang tidur.
Ingatanku selalu pada Mama Selen yang suka memakai baju ketat tanpa lengan kalau di rumah. Satu kakinya ditumpangkan ke kaki lainnya hingga menampakkan pahanya yang mulus. Diam-diam aku ereksi membayangkan Mama Selen, kerinduanku padanya terasa sangat menyiksa.

Untungnya rinduku pada Mama Selen terobati, setidaknya seminggu sekali Mama Selen datang bersama Papa dan kadang sendirian menjemputku di tempat kos agar hari Sabtu dan Minggu aku bisa tinggal di rumah Papa. Perasaan yang kupendam makin memburuk saat muncul ketidaksukaanku pada Papa, semacam cemburu begitulah. Aku lebih suka jika hanya Mama Selen sendiri yang menjemputku dan Aku tak betah tinggal di rumah jika ada Papa. Dan rasa cinta pada Mama Selen yang usianya 5 tahun lebih tua dariku makin tumbuh subur. Gejolak darah mudaku menggebu-gebu setiap kali melihat Mama Selen, aku mulai berkhayal tentang dia dan membayangkan nikmatnya mencumbui bibir indahnya. Sadar atau tidak, aku telah terobsesi pada Mama Selen.

Saking besarnya obsesiku pada Mama Selen hingga timbul hasrat isengku. Diam-diam kupinjam handycam milik Papa yang tersimpan di laci ruang keluarga, lalu kubeli kaset kosong. Saat aku mandi kuletakkan handycam itu di tempat tersembunyi dan kuaktifkan mode perekamannya. Sudah kuperhitungkan waktunya dengan kebiasaan Mama Selen mandi. Kurasakan debaran jantungku ketika melihat Mama Selen masuk kamar mandi. Di ruang keluarga aku menunggu dengan pura-pura nonton TV. Selama menunggu, aku gelisah tak karuan. Tak sabar ingin segera melihat hasilnya.

images

Begitu Mama Selen selesai mandi dan masuk ke kamarnya, bergegas kuambil handycam itu. Di dalam kamar yang telah kukunci kuputar ulang rekamannya.

Aku menahan nafas menyaksikan adegan demi adegan mulai Mama Selen masuk kamar mandi, membuka baju dan mulai mandi. Panas dingin rasanya melihat tubuh telanjang Mama Selen yang begitu indah. Kedua mataku tak berkedip menikmati setiap gerak-geriknya. Begitupun ketika ia selesai mandi dan mengenakan BH dan celan dalam sexy berwarna hitam. Rekaman itu kemudian kutransfer ke komputer sehingga aku bisa memelototi lekuk tubuh Mama Selen lebih jelas.

Tak puas dengan rekaman kamar mandi, aku pun mengalihkan sasaran ke kamar tidur Mama Selen. Saat ia mandi aku menyelinap ke kamarnya, kuletakkan handycam di tempat tersembunyi dan kuarahkan ke tempat tidurnya. Tapi cara ini kurang efektif, aku harus menunggu esok hari saat Mama Selen tak di kamar untuk mengambil handycam. Kutelepon Papa minta ditransfer sejumlah uang yang kukatakan untuk beli buku, padahal kubelikan kamera mini yang terhubung ke komputer. Dengan begitu aku bisa mengamati langsung gerak-gerik Mama tiriku di tempat tidur dan sekitarnya.

Aku hanya mengaktifkan kamera mini saat Papa tidak di rumah. Aku tak mau melihat ia dan Mama Selen bercumbu di tempat tidur. Yang kuinginkan hanya Mama Selen dalam keadaaan sendirian, hingga suatu ketika ada satu adegan yang membuat nafsuku meronta dan berujung pada onani. Betapa tidak..Saat itu siang hari, usai makan dan ngobrol di ruang keluarga, Mama Selen minta diri mau tidur “Ngantuk” katanya. Papa sedang mengunjungi Mama, sehingga praktis hanya ada aku dan Mama Selen serta pembantu rumah tangganya. Begitu ia masuk kamar, aku pun ke kamarku dan langsung menghidupkan komputer. Di monitor kusaksikan Mama Selen merebahkan dirinya di ranjang. Mulanya kulihat ia tenang dan kupikir sudah tidur. Tapi beberapa menit kemudian ia tampak gelisah, tidurnya berubah-ubah posisi yang membuat baju tidurnya tersingkap. Beberapa menit kemudian tangannya mengelus-elus “miliknya” yang tertutup celana dalam putih. Aku menahan nafas dengan mata tak berkedip melihat ke layar monitor. Tak lama setelah itu tangan Mama Selen menyusup ke celana dalamnya disertai goyangan pinggul yang membuat birahiku naik ke otak. Aku jadi tergerak untuk melakukan hal yang sama, kuremas lembut “milikku” sambil mengamati gerak-gerik Mama Selen.

Adegan berikutnya, Mama Selen melepas baju tidurnya. Ternyata ia tidak pakai BH, tubuhku panas dingin menyaksikan aksinya. Kemudian pelan-pelan Mama Selen melepas celana dalamnya dan mulai memainkan “miliknya” dengan penuh gairah. Sayang suaranya tak terdengar, andai terdengar pasti makin asyik. Tubunya menggelinjang merasakan kenikmatan yang dibuatnya.

Beberapa saat kemudian Mama Selen memiringkan tubuhnya dan membuka laci yang ada di samping tempat tidurnya. Jantungku berdegup kencang ketika melihat benda yang diambilnya, benda mirip kemaluan laki-laki. Dengan ekspresi penuh perasaan, Mama Selen menggesek-gesekkan benda itu di “miliknya”. Lagi-lagi pinggulnya mengelinjang, aku sudah menduga adegan selanjutnya. Ya, Mama Selen mulai memasukkan benda itu ke “miliknya”. Mulutnya menganga akibat nikmat yang dirasakannya. Tak mau kalah dengan Mama Selen, aku pun menelanjangi diriku sendiri dan makin asyik memainkan “milikku”.

Mama Selen mengangkat kedua kakinya dengan posisi mengangkang sambil memainkan benda itu di “miliknya”. Matanya terpejam, mungkin sedang membayangkan Papa yang menyetubuhinya. Setelah itu Mama Selen tengkurap, pantatnya ditunggingkan sementara tangan satunya memegangi “mainannya” yang diberdirikan di ranjang. Begitu sudah pas, ia mulai menggoyang pantatnya naik turun dengan posisi duduk. Sesekali alat itu terlepas dan Mama Selen membetulkannya.

Puas dengan posisi duduk, Mama Selen menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Kedua kakinya dibuka lebar-lebar saat “mainannya” dikocok-kocokkan dalam “miliknya”. Seiring dengan itu, aku pun mengocok “milikku” makin cepat dengan genggaman yang makin erat. Beberapa menit kemudian Mama Selen berguling-guling di ranjang. “Mainannya” dicabut, diganti dengan tangannya yang membekap “miliknya”, sementara kedua kakinya menjepit erat. Nafasnya memburu, terlihat dari perut dan dadanya yang naik turun tak beraturan. Tampaknya Mama Selen sudah mencapai orgasme, aku mempercepat kocokanku hingga akhirnya cairanku tumpah ke lantai. Aku terengah-engah, sama seperti Mama Selen.

Beberapa saat kemudian Mama Selen memasukkan kembali “mainannya” ke dalam laci, lalu rebah lagi di ranjang. Wajahnya terlihat puas, ia pasti kelelahan setelah melakukan masturbasi hingga akhirnya tertidur dalam keadaan telanjang bulat. Kubaringkan tubuhku di ranjang setelah kubereskan cairanku yang berceceran di lantai dengan tisu, nikmat sekali rasanya. Setelah kejadian itu, obsesiku pada Mama Selen makin dalam merasuki batinku.

Aku bukannya tak mau berusaha menjauhkan perasaan yang tak pantas itu dari lubuk hatiku. Menjelang akhir semester pertama aku menjalin hubungan khusus dengan teman sekampus, sebut saja namanya Hani. Aku berharap berpacaran dengan Hani akan membuat obsesiku pada Mama Selen bisa teralihkan, tapi nyatanya tidak. Meskipun aku berpacaran dengan Hani, tapi yang selalu hadir dalam khayalku menjelang tidur tetap saja Mama Selen.

Ketika aku mudik libur semesteran pun bukan Hani yang kurindukan, tapi Mama Selen. Aku benar-benar bingung menghadapi kenyataan ini. Sudah berkali-kali kutekankan pada diriku sendiri, bahwa tak mungkin aku bisa mendapatkan cinta Mama Selen. Tapi sulit sekali, seperti menghapus noda tinta di baju seragam. Makin digosok, nodanya makin melebar. Bahkan saking rindunya, diam-diam kutelepon Mama Selen. Basa-basinya adalah menanyakan kabarnya dan kabar Papa, padahal itu hanya sebagai modus untuk mengobati kerinduanku meski hanya mendengar suaranya.

Suatu hari Mama Selen memintaku menemaninya ke Bogor untuk menengok orang tuanya. Saat itu Papa sedang ke Singapura untuk keperluan bisnis. Dengan bermobil kami berdua meluncur kesana. Tapi kami tidak menginap, sorenya kami kembali ke Jakarta. Aku tak menolak ketika Mama Selen menawariku menginap di rumah, karena hari sudah malam. Justru itu yang kuharapkan, karena terus terang, selama bermobil dengan Mama Selen nafsuku meletup-letup melihat kemulusan pahanya. Apalagi ketika ia condongkan sandaran jok ke belakang dan kemudian matanya terpejam. Ingin rasanya kusisipkan jari-jemariku ke sela-sela roknya yang tersingkap setiap kali ia bergerak menggeser posisi berbaringnya. Tapi aku tak cukup nyali untuk berbuat senekad itu, walaupun keinginaku begitu kuat. Aku tak sabar ingin segera sampai di rumah dan berharap ia melakukan masturbasi lagi.

Hingga hampir jam 10 malam mataku tak letih memandangi monitor, dengan menggunakan mode infrared keadaan kamar Mama Selen tetap bisa terlihat dengan baik. Hanya saja tampaknya harapanku tak terkabul. Mama Selen sepertinya sudah tidur, walaupun ia kadang bergerak berganti posisi tidur. Aku hampir putus asa menunggunya melakukan “adegan spektakuler” seperti sebelumnya dan berniat untuk tidur juga. Saat aku hendak beranjak dari kursi, kulihat Mama Selen bangun. Sesaat ia duduk di tepi ranjang, lalu berjalan menuju pintu. Mungkin ia hendak ke kamar kecil, seketika kantukku sirna. Kutunggu Mama Selen kembali ke kamarnya. Benar saja, beberapa menit kemudian ia masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Selimutnya dibiarkan teronggok di sampingnya, jantungku berdebar meunggu ia “beraksi”. Ia tampak gelisah, terlihat dari gerakan tubuhnya. Kadang miring, kemuadian kembali terlentang, setelah itu miring lagi sambil memeluk guling. Tak sampai lima menit, ia beranjak lagi dari tempat tidur, membenahi rambutnya, lalu keluar lagi. Aku menunggu dengan sabar di depan monitor.

Jantungku hampir copot saat terdengar bunyi “klek”, gagang pintu kamarku bergerak. Tapi karena terkunci, tidak bisa terbuka. Aku yang sedang tegang menunggu Mama Selen kembali ke tempat tidurnya bukan main kagetnya. Kuamati gagang pintu kamarku, bergerak lagi. Aku diam terpaku di tempat dudukku, menduga-duga. Kalau bukan hantu, pasti Mama Selen yang melakukannya.

“Mau apa dia malam-malam ke kamarku?”, hatiku bertanya-tanya. Jantungku berdetak makin tak beraturan. Seketika terbersit dalam pikiranku untuk membuka pintu dengan satu harapan, ia menginginkan hal yang sama denganku. Begitu kubuka pintu kamarku, kulihat Mama Selen hendak masuk lagi ke kamarnya. Ia tampak kaget melihatku tiba-tiba muncul.

“Oh, kukira kamu sudah tidur Van”, ujarnya. Ia urungkan niatnya masuk ke kamar.
“Belum, ada apa Ma?, jawabku sambil balik bertanya dengan nada agak gagap.
“Mama nggak bisa tidur, mungkin tadi sempat ketiduran di mobil kali ya”.
“Kalau kamu belum ngantuk, temani Mama nonton TV di kamar yuk”, ajak Mama Selen.

Karuan saja aku gugup, keringat dingin menetes di dahiku. Buru-buru kututup pintu kamarku, takut kalau Mama Selen tiba-tiba nyelonong ke kamarku dan mendapati kalau aku mengamati kamarnya melalui komputer.

“Kok bengong? Ayo sini, kita nonton di kamar Mama aja”, ajak Mama Selen sambil melambaikan tangan.

Dengan pikiran berkecamuk, kumasuki kamar Mama Selen. Mama Selen meraih remote dan menyalakan TV, sementara aku berdiri saja di depan pintu. Mama Selen menoleh ke arahku sembari berkata, “sini Van”. Tangannya sigap membenahi bedcover lalu menepuk-nepuknya sebagai isyarat agar aku naik ke ranjangnya. Kubuang jauh-jauh kecanggungan yang kurasakan dan kulangkahkan kaki menuju ranjang. Begitu kubaringkan tubuhku, Mama Selen berbaring di sebelahku sambil menyelimuti tubuh kami berdua. Udara di kamarnya memang dingin sekali, entah karena AC-nya atau efek dari debaran jantungku saja.

Baru sesaat aku rebahan, Mama Selen yang postur tubuhnya mungil seperti Yuni Shara itu mencecarku dengan pertanyaan yang membuatku kelabakan.

“Tumben pakai ngunci pintu segala, emangnya lagi ngapain Van?”.

Disaat aku mencari jawaban yang tepat, Mama Selen ngomong lagi dan ku jadi salah tingkah.

“Lagi onani ya? Nggak usah malu lah. Mama kan juga pernah muda. Tahu lah kebiasaan cowok seusia kamu”, tandas Mama disertai senyuman penuh arti.

Entah kenapa, ucapan Mama yang terakhir itu membangkitkan keberanianku untuk bicara.

“Iya Ma, habis lagi kepingin sih”. Sengaja kukatakan itu untuk memancing reaksinya. Aku sangat berharap ia bilang “Sini, Mama kocokin”. Jantungku berdebar menunggu jawabannya, tapi ia hanya tertawa renyah.

“Nggak apa-apa, itu hal biasa kok. Asal jangan keseringan aja”, tukas Mama masih disertai tertawa kecil. “Nanti jadi cepat keluar lho”, lanjutnya.

Pembicaraan blak-blakan itu membuat kekakuanku mencair, aku mulai berani mengimbangi obrolan panas Mama Selen.

“Ah, masa sih Ma?”, aku bertanya asal saja dan tak butuh jawaban ilmiah.
“Kata orang sih, Mama sendiri mana tau? Kamu kan cowok harusnya tau”.
“Emangnya hanya cowok yang onani Ma? Cewek emang nggak pernah?”, cecarku mulai menjurus.
“Iya juga sih, tapi cowok yang paling sering”, kata Mama. Tampaknya ia mulai gerah juga.
“Mama sendiri pernah nggak?”, pancingku.
“Idih, kamu apaan sih tanyanya kok aneh-aneh gitu? Ya enggak lah”, tandas Mama.

Sekilas wajahnya bersemu merah, ia mengalihkan pembicaraan sambil memainkan remote TV. Sambil nonton TV, kami ngbrol tentang banyak hal. Meskipun begitu, debaran jantungku tetap saja menghentak tak karuan. Apalagi saat kakiku bersenggolan dengan kaki Mama Selen. Kurasakan darahku berdesir, ada semacam rasa nikmat yang menjalari sekujur tubuhku. Ingin rasanya kurengkuh tubuh Mama Selen dalam pelukanku dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi. Tapi aku takut ia marah dan melaporkannya ke Papa. Aku hanya bisa diam menahan gejolak nafsuku.

Tak terasa sudah jam 12 malam, kulihat Mama Selen beberapa kali menguap.

“Mama ngantuk ya?”, tanyaku.
“Iya, kamu sudah ngantuk belum?”, Mama Selen balik bertanya.
“Iya juga sih. Ma, boleh nggak aku tidur sini?”, tukasku spontan.
“Emang kamu mau tidur sama Mama?”, Mama Selen menoleh ke arahku. Aku tak ingin kehilangan momen berharga dalam hidupku, buru-buru kujawab.
“Kalau Mama ngijinin ya mau aja, Ma”.

Mama Selen tersenyum dan berseloroh, “Boleh aja, tapi jangan ngompol ya”, aku nyengir kuda. Dalam hati aku girang sekali dapat kesempatan langka seperti itu. Aku beringsut dari ranjang dan bilang pada Mama Selen kalau mau buang air kecil. Begitu aku kembali, cahaya dalam kamar sudah berganti redup. kusibak selimut dan sekilas terlihat olehku paha mulus Mama Selen akibat baju tidurnya tersibak. Aku menghela nafas dalam-dalam dan kubaringkan tubuhku di sebelah Mama Selen sambil membenahi selimut yang cukup besar untuk kami pakai berdua.

Dalam keadaan seperti itu aku tak bisa tidur. Kuamati Mama Selen yang berbaring memunggungiku. Aku tak tahu ia sudah tidur atau belum, tapi nafsuku tak henti-hentinya bergejolak, menggodaku untuk melampiaskannya. Aku bertahan untuk tidak tergoda karena takut resikonya. Tapi gumpalan birahiku yang tertahan terus saja meronta-ronta, hingga membuat mata hatiku gelap. Bodoh rasanya jika tak kumanfaatkan kesempatan emas itu. Dengan berpura-pura sudah tidur, kugeser tubuhku hingga menempel ke punggung Mama Selen. Aku diam menunggu reaksinya. Karena Mama Selen bergeming, kumiringkan tubuhku hingga sejajar dengan tubuhnya. Rasa nikmat tiba-tiba saja menghentak saat “senjataku” menempel di pantat Mama Selen. Aku diam lagi, menunggu. Karena tak ada reaksi, kulingkarkan satu tanganku ke tubuh Mama Selen seolah dalam keadaan tak sadar dan menganggapnya sebagai guling. Harum rambut Mama Selen merebak ke rongga hidungku.

Sesaat kemudian kudengar Mama Selen menggumam lirih dan darahku berdesir ketika tangannya memeluk tanganku yang melingkar di tubuhnya. Gempuran nafsu birahi yang begitu kuat tak lagi mampu kubendung. Kuciumi rambut Mama Selen, kemudian turun ke lengannya. Gairahku makin menjadi-jadi saat kudengar Mama Selen mendesah. Satu tanganku menjalari pahanya dengan beberapa kali usapan lembut sebelum menyusup ke balik baju tidur dan mulai memainkan jari tengahku di sela-sela bagian bawah tubuhnya.
Aku melakukannya dengan selembut mungkin dengan harapan Mama Selen akan terangsang. Harapanku terkabul, pelan-pelan Mama Selen membuka kedua kakinya. Tak terlalu lebar, tapi sudah cukup buatku untuk lebih leluasa memainkan jariku.

Mama Selen kembali mendesah lirih, kusibak lebar-lebar selimut yang menutupi kami berdua karena aku ingin melihat langsung permainan jariku. Aku harus bersabar melakukan itu dan kesabaranku membuahkan hasil. Bukaan kaki Mama Selen makin lebar dengan satu lututnya terlipat sedikit. Pelan-pelan kususupkan jariku ke celana dalam Mama Selen hingga kurasakan bulu-bulu halusnya. Begitu jariku menyentuh “miliknya” yang lembut, langsung kumainkan jariku. Mula-mula kuusap bibir kemaluan Mama Selen, kemudian pelan-pelan usapanku beralih ke bagian tengah. Kulihat perut Mama Selen mengempis seperti sedang menahan nafas, “miliknya” kurasakan mulai basah.

Mama Selen yang terlihat pasrah membuatku makin berani. Kulorot celana dalamnya dengan hati-hati sampai lepas. Aku ingin mempraktekkan adegan yang kulihat di film biru. Kutelungkupkan tubuhku di atas kaki Mama Selen dan mulai menjilati organ sensitifnya. Sekali lagi Mama Selen mendesah disertai dengan gerakan mengangkang. Aku tak tahu apakah Mama Selen sadar melakukan itu atau hanya refleks saja. Tapi kulihat matanya masih terpejam, kulanjutkan jilatanku dengan penuh perasaan. Ternyata memang mengasyikkan, ada sensasi tersendiri melakukan itu. Apalagi saat pinggul Mama Selen bergerak-gerak, seolah merespon kenikmatan yang kuberikan.

“Van, ngapain kamu?”, ujar Mama Selen tiba-tiba sambil bertumpu di kedua tangannya dan menatapku. Aku sedikit kaget dan balas menatapnya. Kutunggu reaksinya marah atau tidak. Tapi begitu Mama Selen berbaring lagi, kulanjutkan lagi permainan lidahku dengan lebih agresif. Sesekali pinggul Mama Selen bergerak mengikuti irama permainanku.

“Oohh, sudah Van. Nanti keterusan…Ohh”, desis Mama Selen. Tangannya mencengkram kuat rambutku, tak kuhiraukan permintaannya. Makin kuat ia mencengkramku, makin dahsyat jilatanku hingga lidahku masuk ke “miliknya”. Dengan dorongan yang agak kuat pada kedua paha Mama Selen ke arah berlawanan kuisyaratkan agar ia lebih mengangkang lebih lebar lagi. Agaknya Mama Selen makin terangsang dengan aksiku, ia pasrah saja “miliknya” kuhujani dengan lidah dan bibirku habis-habisan.

apa-yang-terjadi-di-otak-anda-saat-orgasme

Puncaknya, pinggul Mama terangkat disertai goyangan yang makin kencang, seolah mengimbangi tarian lidahku. Desahnya makin tak terkendali, kedua tangannya mencengkram erat seprai tempat tidur. Goyangannya melemah saat desah panjang keluar dari mulutnya.

“Sudah Van, Mama sudah orgasme…Ohhh…”, desisnya seraya menahan kepalaku agar tak bergerak lagi. Pelan-pelan pinggulnya turun lagi.

Ciumanku pun kemudian beralih ke perut dan berakhir di dadanya. Kusibak belahan dasternya agar bisa kucumbui dua bukinya yang indah. Mama Selen melingkarkan kedua tangannya di punggungku pertanda ia menikmati cumbuanku. Sambil mencumbui dadanya, tanganku menjelajahi selangkangannya. Tampaknya Mama Selen tergoda untuk mengimbangiku, satu tangannya beralih ke celanaku.

Tak puas dengan meraba bagian luar, tangan Mama Selen pun kemudian menyusup ke dalam celanaku dan mulai menggenggam “milikku” yang sudah berdiri tegak. Saat itulah cumbuanku beralih ke lehernya yang jenjang. Kubungkukkan tubuhku sedikit hingga “milikku” bisa kugesek-gesekkan ke “milik” Mama Selen. Mama Selen mendesah dan mendesis yang segera kubungkam dengan pagutan di bibirnya. Kami pun berciuman dalam balutan nafsu birahi yang menggelegak. Mama Selen mencengkram T-shirt yang kukenakan dan menariknya ke atas. Aku pun berhenti sejenak untuk melepas T-shirt. Kuminta Mama Selen untuk duduk di ranjang, sementara aku berpindah posisi di belakangnya. Kusibak rambut Mama Selen dan kucumbui lehernya, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua bukitnya. Mama Selen menoleh ke arahku hingga kami bisa saling berpagutan lagi.

Beberapa saat kemudian aku rebah di ranjang. Mama Selen melepas dasternya sebelum melucuti celanaku, lalu mengulum “milikku” dengan gerakan lembut. Begitu nikmat hisapannya hingga aku telentang seolah tanpa daya. Sampai sejauh itu aku masih merasa seperti mimpi, telanjang berdua dengan Mama Selen dalam panasnya api birahi. Rasanya sulit dipercaya kalau peristiwa yang selama ini hanya ada dalam khayalku, saat itu benar-benar terjadi. Aku sadar kalau itu salah. Tapi dalam keadaan seperti itu, siapa yang bisa berhenti?

Kubiarkan Mama Selen menikmati “milikku” sesuka hatinya. Hangatnya mulut Mama Selen melambungkanku dalam sebuah perasaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Setelah puas melakukan oral, Mama Selen duduk di atasku. Aku menunggu detik-detik mendebarkan saat “milikku” menembus “miliknya”, tapi tak terjadi. “Milik” kami berdua hanya saling bergesekan saat Mama Selen merebahkan tubuhnya di atas tubuhku sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya ke depan dan ke belakang. Kami saling berpagutan untuk melengkapi nikmat gesekan itu.

“Milik” Mama Selen terasa telah demikina basah, hingga tak heran akhirnya “senjataku” amblas ke dalam “miliknya”. Mama Selen mendesis dan menelungkupkan wajahnya di leherku. Kupegang erat-erat pantat Mama Selen saat aku mulai menggoyang pinggulku karena Mama Selen tak kunjung bergoyang. Lama-lama ia pun mengimbangi gerakanku. Mula-mula masih dengan telungkup sebelum kemudian bangkit dan mulai bergerak naik-turun dengan ritme lambat. Tanganku leluasa menggerayangi payudaranya yang bergerak kesana-kemari. Untuk beberapa saat kubiarkan Mama Selen bergoyang di atasku. Setelah itu aku bangkit karena tak tahan untuk mencumbui kedua payudaranya. Gara-gara itu goyangan Mama Selen melambat. Tak lama setelah itu ia mendorongku agar rebah lagi. Agaknya ia kurang bebas bergerak. Begitu aku rebah, Mama Selen langsung tancap gas. Ritme goyangannya makin kencang, kemudian tubuhnya meregang disertai desahan panjang dari mulutnya yang indah. Ia rebahkan lagi tubuhnya di atasku. Nafasnya memburu, sementara kedua tangannya mencengkram kuat-kuat bahuku.

“Udah orgasme, Ma?”, tanyaku mesra di telinganya.
“Iya, sayang…Ohh..”, jawab Mama Selen terengah-engah.

Terbesit rasa bangga dalam hatiku, aku berhasil membuat Mama Selen orgasme. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya beberapa saat. Setelah nafasnya kembali tenang, kuminta ia untuk menungging. Tanpa diminta dua kali, Mama Selen beringsut menuruti permintaanku. Begitu ia sudah siap, kutancapkan “milikku” ke dalam “miliknya”. Mama Selen langsung mendesah lirih, “Oohhh…” saat “milikku” tertanam dalam-dalam di “miliknya”. Aku pun mulai melakukan gerakan maju-mundur pelan-pelan. Kunikmati betul-betul momen yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku. Kuusap lembut pantat Mama Selen, merasakan kelembutannya. Setelah itu tanganku turun ke dadanya, meremas-remasnya dengan penuh perasaan. Kemudian, gerakanku kupercepat. Beberapa kali Mama Selen memekik tertahan saat “milikku” menghunjam dalam ke “miliknya”. Tangannya mencengkram kuat-kuat seprai tempat tidur.

Gerakanku makin cepat ketika kurasakan “laharku” dalam “kawahku” akan meledak. Aku tak bisa menahannya lagi, segera kucabut “milikku” dan kutumpahkan spermaku ke pantat Mama Selen. Mama Selen merebahkan tubuhnya di ranjang, sementara aku masih bertumpu pada kedua lututku, merasakan detik-detik puncak kenikamatan hingga tetesan spermaku yang terakhir. Setelah itu aku turun dari ranjang untuk mengambil tisu.

Mama Selen masih tertelungkup di ranjang, meski tubuhnya sudah kubersihkan dari spermaku. Kubaringkan tubuhku di sampingnya, mataku memandang ke langit-langit kamar dengan pikiranku melayang. Aku telah memulai satu babak baru dalam kehidupanku, kenikmatan seks. Meski terasa sebentar, tapi aku yakin efeknya akan sangat panjang. Apalagi aku melakukannya dengan Mama Selen yang notabene Mama tiriku, istri kedua Papa.

Saat tengah melamun, kudengar Mama Selen menghela nafas. Kumiringkan tubuhku dan memeluknya.

“Mama marah ya?”, ujarku memecah kesunyian. Mama Selen tak menjawab, kupalingkan wajahnya ke arahku. Kulihat kedua matanya basah, ia menangis.
Aku jadi merasa bersalah, kudekap erat tubuhnya.

“Maafin aku ya, Ma”, ucapku lirih.

Mama Selen tak menjawab. Bahkan kemudian ia melepaskan pelukanku, membenahi selimut dan berbalik memunggungiku. Tentu saja hal itu membuatku salah tingkah. Setelah diam beberapa saat, Mama Selen kupeluk dari belakang sambil menciumi rambutnya. Mama Selen bergeming, sesekali kudengar isaknya tertahan. Keheningan yang merebak dan Mama Selen yang masih saja membisu membuatku kikuk.
Memang aku semakin bersalah, tapi mau apa lagi? Semuanya sudah terjadi, percuma disesali.

To Be Continue….(Bersambung) 😀

Advertisements

About Lili

i'm just ordinary human :)
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s